Games » Inazuma Eleven »

White Canvas
Author:
Kuroka PM
[discontinued] Dua pemuda, anak desa dan mantan idola; satu cerita. Kisah pertama dari dua kisah: Satintail. [Interlude I] "Nii-san," "…Ya, Kyousuke?" "Aku…takut. …Aku takut, jika aku belum mampu menyelesaikan mahakaryaku sebelum aku—" #Dedicated for (belated) KyouMasa Day
Rated: Fiction T - Indonesian - Kariya M. & Tsurugi K. - Chapters: 2 - Words: 3,387 - Reviews: 7 - Favs: 5 - Follows: 3 - Updated: 11-17-12 - Published: 11-06-12 - id: 8678509
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Disclaimer:

Inazuma Eleven © Level-5

Warning:

Pemakaian istilah tidak umum. Kekacauan struktur penulisan & gaya bahasa. Penyalahgunaan fungsi tutup kurung dan garis pemisah secara berlebihan. Genre yang tidak jelas. Lalu lirik-lirik lagu picisan di bawah tentu saja adalah karangan saya sendiri. Kemudian masih tak bisa lepas dari AU, OOC, typo, dan gerombolannya. Kejanggalan masih meraja lela.

Important Note:

Saya meler parah.


[flashback]


"Di antara semak dan rerumputan hijau

Serta di bawah kanopi pohon yang rindang

Angin bertiup dengan lembut

Menyebarkan nyanyian alam yang merdu

.

Sinar matari bersinar hangat

Seperti senyummu yang menghangatkan hatiku

.

Ketulusanmu, kebaikan hatimu

Lebih putih dan bersih dari awan yang dinaungi oleh langit biru…

.

Oh..

.

Sebening embun yang membasahi dedaunan

Sosokmu senantiasa menyejukkan perasaanku

Jika hujan telah reda dan pelangi telah tiba

Izinkanlah aku menemukan semanggi berdaun empat

.

Untukmu…"

.

Bait-bait tadi meluncur dari bibir seorang pemuda yang tengah menyenandungkan lagu tersebut sambil menggoreskan sebatang charcoal pada sebuah kanvas berukuran 35x50 senti.

Kanvas yang tadinya putih itu perlahan-lahan mulai tertimpa oleh warna hitam yang timbul dari permukaan kanvas dan arang yang saling bergesekan; sedikit demi sedikit mulai menunjukkan goresan yang timbul membentuk sebuah lukisan.

"…Kyousuke?"

Sebuah suara (yang sangat singkat) menginterupsi kegiatan yang sedang pemuda itu—Kyousuke—lakukan.

Ah, rupanya kalimat barusan dilontarkan oleh sesosok laki-laki yang memiliki ciri fisik menyerupai pemuda yang sedang sibuk menggambar ini. Sosok itu kini sedang menatap ke arah Kyousuke dengan tatapan terperangah.

"Kau belum pergi tidur…?" tutur laki-laki itu kemudian, menyambung kembali kalimatnya yang sempat terpotong oleh jeda singkat barusan.

Kyousuke membalas pertanyaan laki-laki itu dengan sebuah gelengan lemah sebelum Ia membuka mulutnya, "…Belum, aku masih belum mengantuk." Jawab Kyousuke lugas.

Mendengar jawaban yang baru saja dilontarkan oleh Kyousuke, laki-laki yang satunya lagi—yang ternyata adalah kakak kandung dari pemuda ini—menganggukkan kepalanya pelan lalu menatap lembut sosok adik semata wayangnya itu. "Kau ini… jika sudah serius, selalu saja jadi gelap mata…" tuturnya sambil tersenyum simpul sambil membawa kedua kakinya untuk berjalan mendekati sang adik. Setelah itu, Ia menepuk pelan ubun-ubun Kyousuke dan mengusapnya penuh kasih sayang, kemudian berbisik, "...Tapi jangan sampai terlalu memaksakan diri. Bagaimana pun juga, kau harus memperhatikan kondisimu dengan baik…" ujar laki-laki itu sambil tersenyum, di mana dalam interval suaranya terdapat gurat kekhawatiran yang tak begitu tersirat.

Kyousuke mengangguk pelan. "Ya, nii-san…" jawabnya singkat, "terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku dan terus merawatku selama ini…" katanya Kyousuke lirih, kali ini charcoal di tangannya sudah berhenti berdansa di atas kain berbahan kanvas.

Seketika, suasana berubah menjadi sedikit sendu.

.

.

"Nii-san,"

"…Ya, Kyousuke?"

"Aku…takut."

Deg.

(Hati sang Tsurugi kakak mencelos seketika.)

"…Aku takut, jika aku belum mampu menyelesaikan mahakaryaku sebelum aku—"

"—Kau pasti bisa, Kyousuke." Ucap Yuuichi—sang Tsurugi sulung—dengan mantap seraya meletakkan kedua telapak tangannya di pundak sang adik. "Kau pasti bisa segera menemukan objek gambarmu dan menyelesaikan mahakaryamu—segera,"

Kyousuke tersenyum tipis. Bola matanya berputar, bergerak ke menatap lantai kayu yang tengah mereka pijaki.

"Tapi..."

.

"—Lautan langit biru..

Hamparan rumput hijau…

Mentari bersinar hangat,

Tersenyum pada dunia…"

.

Seketika, kedua mata milik Kyousuke terbelalak sedikit. Ia mengangkat wajahnya yang semula tertunduk, menghadapkannya ke arah sang kakak yang tengah menyenandungkan bait pertama dari salah satu lagu kesukaannya dengan suara yang begitu merdu, indah, dan juga penuh dengan perasaan.

.

"..Kicau burung bernyanyi,

Riak air mengalir,

Menceritakan kisah tentang

Sebatang dandelion…"

.

Tsurugi kakak yang semula menyanyikan bait-bait lagu tersebut sambil menutup mata, kini mulai membuka kedua matanya secara perlahan sambil menatap sosok sang adik dengan tatapan hangat.

.

"Walaupun Ia kecil,

Walaupun Ia rapuh,

Namun asanya luas,

Melebihi…

Samudera biru..."

.

Hati Kyousuke terenyuh. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tersenyum menahan haru, lalu memutuskan untuk ikut bernyanyi bersama sang kakak.

.

"Ketika angin datang,

Menyapa dandelion,

Benih-benih harapan

Mengangkasa ke udara…

.

Dandelion pun,

Beterbangan di angkasa,

Dengan membawa,

Sejuta cita dan asa…"


[end of flashback]


A/N:

"ONAJI YUME WOOO MITERUUUNDAAAA...~"

#stress sorangan

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .