Reviews for Futari Nara
Ryu chapter 1 . 9/13/2013
Campuraduk rasa
Orihara psyce chapter 1 . 6/29/2013
Keren
skyesphantom chapter 1 . 7/26/2012
ceritanya keren kak, menarik. Near itu... Keren.

Izin fav story yap.

Lanjut terus kak.
La Rikou chapter 1 . 12/3/2011
izin fave v
heylalaa chapter 1 . 7/21/2011
saya kira saya udah review fic ini. ternyata belum toh. maaf banget sanich ;A;

yaampun. hubungan mello-near yang sanich deskripsikan di fic ini bagus banget. indah banget, seindah yang digambarkan di canonnya aasksfhjkk. apalagi di bagian ini:

["Dari dulu saya selalu ingin bermain puzzle bersama Mello… saya yakin pasti akan sangat menyenangkan."

Dan akhirnya saya bisa mewujudkannya, meskipun "puzzle Kira" ini menjadi puzzle pertama dan terakhir yang kami susun bersama.]

ASSAJFDGJGKJDJGH OH NEAR ;A; ;A; /meluknear

makasih udah mau bikin fic ini, sanich. suka bangetbangetbanget bacanya huhuhuhu. kenapa fic DN semuanya berkualitas semua ya jasgjdkhfghs ;A; ;A;

/faveee
Hoshi Yamashita chapter 1 . 7/5/2011
Ga bisa bilang apa2. Persahabatan nearmello di sini bner2 bikin saya tersentuh.

Saya fave ya,
Eszett del Roya chapter 1 . 6/14/2011
Sacchaaaaaaaaan~ saya datang meripiu. 8D #siapaelo

.

Seperti karya Sacchan yang biasa. Ditulis dengan deskripsi yang apik (meski lebih banyak dialognya). Ini Sacchan banget. XD Dengan dialog yang banyak namun tetap asyik untuk dibaca hingga akhir. Udah gitu saya suka pas bagian ekspresi Near melembut mengingat Mello dan bagaimana cara dia memeringati hari kematian Mello.

.

Ini keren. Saya jadi iri sama Eila-nee. ToT #bah

Saya setuju soal ramblingan di akhir itu. Canon DN itu emang terlalu indah dan epic, jadi ga bisa seenak udel. ;A; #bah

.

Saya fave ya. ;D

Dan saya mau juga dibuatin fic sekeren ini... #ngek

Maaf kalo hanya ripiu gaje...

.

.

Sincerely,

Eszett del Roya
altereis chapter 1 . 6/9/2011
Owalah, ternyata saya belum review fic ini padahal kirain udah ;_;

Meskipun telat (banget), saya mau bilang: Selamat datang di FDNI, Sanich-san _

.

.

["Salah seorang anggota penculik terpaksa ditembak mati karena mengarahkan senjata kepada para pengawal Takada-sama…"]

asdfgghjkl Huwaaaa, Maaattt TTATT #galau. Uuh, saya seneng banget Matt nyempil dikit. Dan terutama saat Sanich-san menggambarkan persahabatan Matt dan Mello hanya dalam satu kalimat. [Dan Near sendiri yakin bahwa Matt telah sadar betul risiko yang mungkin dihadapinya ketika memutuskan membantu sahabat lamanya melawan Kira.] Uuh, Matt setia banget deh ;_; Hal yang paling saya sukai dari seorang Mail Jeevas.

Bah, saya jadi kelepasan fangirling Matt _a

Friendship Near dan Mello di fic ini pun keren. Bagaimana Near memandang Mello bukan hanya sebagai rivalnya saja, tetapi juga sosok yang dikagumi (dan saya rasa Mello pun pasti merasa demikian, bukan sekedar 'benci' belaka).

[Dan akhirnya saya bisa mewujudkannya, meskipun "puzzle Kira" ini menjadi puzzle pertama dan terakhir yang kami susun bersama.]

uuuuhh ini ngenes bangeeet ;_; #galauseasondua. Ironis. Tapi ironi yang indah (?). Kalo gak ada kasus Kira, entah kapan Mello dan Near bisa bekerjasama :/

.

Gaya penulisan Sanich-san yang ringan bisa dinikmati kapan saja, baik di saat santai maupun di saat serius(?) :9. Enjoy banget membacanya. Semoga di kemudian hari, Sanich-san membuat fic Matt XD #maunya

Keep writing in this fandom~ XD
Shiazen chapter 1 . 5/26/2011
Sanich-saaaaaan! Saya dataang(?)

O.O Bagus, setiap-kata2 yg Sanich-san tulis menghanyutkan bgt, saya sampe ga kedip bacanya *oke, lebay*

Aduh, apa ya?

Saya comentless karena takjub *halah*

Habisnya saya sendiri ga bisa bikin cerita sedemikian rupa.

Biasanya nongolnya jadi humor *nahlho* - curcol

Saya setuju bgt ama Azureila dan semua poin-poin dan komentarnya. Ga bisa nambahin lagi DX

Bagus, aku suka! Aku fave! (nahlho berubah dari saya ke aku)

Bikin lagi di FDNI ya Sanich-san!

Keep writting,

Intan/Shia Zen!
Azureila chapter 1 . 5/20/2011
*tarik nafas* Sebelum mulai rambling, aku mau bilang... SANICH, SELAMAT DATANG DI FANDOM DEATH NOTE INDONESIA! \(o)/

Ya ampun, senang banget karena Sanich akhirnya nulis fanfic juga, terlebih lagi di fanfic pertama ini karakter utamanya adalah Near dan Mello! Padahal tadinya aku mengira kalau Sanich buat fanfic DN, karakter yang pertama kali dipakai adalah Ryuk atau Matt. Ternyata malah duo hitam-putih kesayangan kita semua... aku BAHAGIA, BAHAGIA BANGET! Bukannya sok dramatis atau apa, tapi 2-3 hari sebelum Sanich publish fanfic ini, aku lagi keranjingan nonton ulang anime DN, dan berkali-kali mengulang adegan sewaktu Near mengucapkan, "Dengan berdua, kami bisa disejajarkan dengan L." Gak lama kemudian, Sanich muncul membawa Futari Nara. Lengkaplah kebahagiaan ini ;_; *nangis haru*

Oke, apa yang kukatakan di atas cuma sebagai appetizer aja, hehehe... sekarang, mari kita lanjut ke santapan utama: REVIEW! XDD

Kesan pertama yang kurasakan saat membaca baris-baris pertama fanfic ini adalah "familiar". Selain karena Sanich menggunakan dialog-dialog dari komik, Sanich juga memakai salah satu adegan paling membekas di canon sebagai awal cerita. Sembari membaca, aku kembali membayangkan bagaimana ekspresi Near dan Mello waktu itu; Near yang berkabung dalam diam, dan Mello yang meradang karena terluka. Entah kenapa, line [... tapi Near tidak berharap banyak] itu menusuk banget. Seolah-olah Near tahu bahwa meskipun ada harapan, yang dipunyainya hanyalah harapan yang lemah.

Cara Sanich menggambarkan kepergian Mello dari Wammy's House yang disaksikan Near dari jauh sangat... pedih. Sederhana, tapi tajam. Aku sampai berkali-kali membaca line [Malam itu, dari jendela kamarnya Near melihat punggung Mello keluar dari gerbang Panti Asuhan Wammy's House, menyandang tas menantang hujan.] IC dan sangat, sangat Near. Di satu sisi, dia menyayangkan kepergian Mello, namun di sisi lain, Near gak akan berkata apapun untuk mencegah, karena dia pasti tahu, jika Mello sudah membulatkan tekad maka bujukan gak akan banyak berguna. Lagipula, Near bukan tipe karakter yang sudi membujuk *uhukitumahMisauhuk* sehingga dia pun merelakan Mello pergi. Tapi tapi bagian [menyandang tas menantang hujan] itu... benar-benar deh, aku berkaca-kaca membacanya :-((

Jujur, aku sempat kaget karena setelah adegan di Wammy's House, Sanich langsung melompat ke tanggal 26 Januari 2010. Lompatan yang menurutku cukup drastis, tetapi segera dikompensasi karena setelah itu Sanich menyisipkan pendalaman karakter Near dan bagaimana dia selalu mengagumi L dan Mello, serta tekadnya untuk 'menyelesaikan apa yang telah Mello tinggalkan untuknya'. AAAAAA Sanich kejam~ aku paling lemah sama sentimen yang ini, nih... sebab aku selalu merasa bahwa Near adalah tokoh DN yang paling kesepian, harus menanggung sisa hidup tanpa seorangpun yang setara dengannya untuk diajak berbagi. Jempol buat Sanich yang jeli menyelipkan gestur Near saat mendengar kabar kematian Matt dan Mello ;)

Near memang gak seekspresif Mello, namun ada beberapa momen dimana Ooba-sensei mengizinkan kita untuk melihat Near dalam kondisi terkejut di manga, salah satu caranya dengan menunjukkan pupil Near yang membesar. Hints perasaan Lidner terhadap Mello juga terasa di sini, ditampilkan dengan halus tanpa merusak fokus cerita, sama seperti interpretasi Sanich bahwa Matt pasti menyadari risiko yang harus dihadapinya ketika dia memutuskan untuk membantu Mello. Sesuai dengan penafsiran Sanich, aku setuju kalau ada kekaguman tersendiri yang Near simpan untuk Mello. Selama ini, Near adalah pihak yang realis. Near-lah yang lebih cepat mengakui ketidaksempurnaan yang ada pada diri mereka masing-masing, dan menggunakan pengetahuan itu untuk mencari jalan agar mereka bisa bekerja sama. Hehehe... menurutku pribadi ya, ada kalanya rasa iri itu adalah kekaguman yang pahit, kekaguman yang sangat enggan diutarakan. Mungkin rasa iri mereka terhadap satu sama lain rasakan itu jatuh dalam kategori ini, ya? XD

["…dengan berdua, kami bisa disejajarkan dengan L. Dengan berdua, kami bisa melampaui L."] Sumpah, berapa kalipun aku baca line ini gak akan ada bosan-bosannya! Inilah kebenaran yang harus dihadapi Raito, yaitu Mello dan Near itu gak terkalahkan jika bersatu. Yang paling aku sesali cuma satu: kenapa mereka berdua baru bisa 'bersatu' di akhir, itupun dengan cara yang ironis seperti itu? Tetapi seperti yang Sanich katakan di A/N, canon DN terlalu indah, meskipun menggiriskan, huhuhu... Mendadak aku teringat deh sama penggalan lagu Trust You milik Ito Yuna (yang sekarang sedang kudengarkan :D) yang artinya kira-kira begini: "I hold on tightly to the fragments of you, eventhough I feel hurt, we're still connected." Kok sepertinya pas banget dengan kondisi Near ya :(( kalau ingat ending DN, aku mau marah selamanya sama Raito, tapi diam-diam aku juga bersyukur karena berkat Raito-lah Mello dan Near mau menyingkirkan perbedaan yang ada di antara mereka, lalu berjuang bersama. DN memang indah karena dualismenya, ya ;_;

["Kematian itu adil"] Ada anime lain yang juga mengusung konsep ini lho. Kalau nanti Sanich punya waktu lowong setelah UAS, cobalah nonton anime Shiki. Salah satu karakter utamanya pernah berkata, "Kematian itu menakutkan karena ia tidak pandang bulu. Kematian itu tidak memihak." Sekedar info, Shiki itu anime horor yang diangkat dari novel best-seller karya Ono Fuyumi di tahun 1990-an. Seperti DN, moralitas yang terdapat di Shiki juga abu-abu, dan semakin ambigu ketika mencapai puncak cerita. Sanich bakal tahu kenapa aku bilang begini setelah menyaksikannya sendiri, hehehe :D

Ah... akhirnya sampai di penghujung cerita, yang juga merupakan bagian favoritku. Aku punya soft spot untuk fanfic yang mengulas SPK pasca kekalahan Kira. Lidner begitu perseptif di sini; aku tersenyum sendiri membayangkan dia melihat kelembutan yang Near tampilkan, meskipun hanya sejenak. Ada sesuatu yang... berbeda dalam komentar Gevanni ["Mungkin dia sedang melihatnya, dari atas sana"], karena seingatku Gevanni (dan Rester) bersikap antipati terhadap Mello, mengingat lewat kawanan mafianya, Mello telah banyak menewaskan rekan-rekan mereka di SPK. Mungkin ada pertimbangan lain di kepala Sanich saat menuliskan adegan ini? Apa karena Gevanni dan yang lain telah menyadari seberapa besar pengorbanan yang telah Mello lakukan, ya? Silahkan kemukakan alasannya, soalnya aku masih penasaran

Gak puas rasanya sebelum mengutip penggalan-penggalan cerita yang sukses membuatku menitikkan air mata:

["Saya berkabung atas kematian Mello, tapi di sisi lain… saya senang. Mello, walaupun secara tidak langsung, telah melengkapi kepingan puzzle terakhir yang hampir hilang karena luput dari penglihatan saya, yaitu bahwa buku pertama yang saya manipulasi adalah buku palsu. Dia membuat saya bisa menyelesaikan teka-teki ini sampai akhir sehingga saya tidak menjadi pecundang. Karena dialah kita menang."] NEAR~ MELLO~ *peluk mereka erat-erat* kalianlah pemenangnya. Kalianlah yang mencapai posisi nomor satu, bersama-sama, walaupun Ooba-sensei gak memberi Mello waktu untuk berada di sisi Near setelah semuanya berakhir :(( Kata-kata ["...sehingga saya tidak menjadi pecundang"] itu benar-benar menohok, apalagi kalau dikaitkan dengan ucapan Near ["Kalau tidak bisa memenangkan permainan dan tidak bisa memecahkan teka-teki, berarti hanya seorang pecundang"]. Mello, dengan caranya sendiri, memastikan bahwa Near gak akan mengalami nasib yang sama dengan L. MELLO~! *nangis guling-guling*

Aku belum selesai, hiks. Setelah paragraf killer itu, masih ada yang ini: ["Dari dulu saya selalu ingin bermain puzzle bersama Mello… saya yakin pasti akan sangat menyenangkan." Dan akhirnya saya bisa mewujudkannya, meskipun "puzzle Kira" ini menjadi puzzle pertama dan terakhir yang kami susun bersama.] SUMPAH SANICH KEJAM, KEJAM, KEJAM! :(( Bagian ini, bagian ini... *nangis lagi* membayangkan Near mengucapkannya langsung malah lebih menyedihkan lagi. Aku terdiam lama~ banget setelah membacanya, mengumpulkan kekuatan dulu untuk mencapai akhir fanfic ini. Sanich memang gak mengungkapkan kesedihan Near dengan terlalu emosional, tetapi kekuatan permainan kata Sanich justru di situ! Lewat kalimat-kalimat yang lugas, aku bisa merasakan keinginan polos Near untuk membagi dunianya yang sukar dimasuki bersama Mello. Aku bisa merasakan rasa sayang yang lembut dari Near untuk Mello, sekaligus kebenaran hakiki bahwa baginya, Mello adalah sosok yang berarti. Aku yakin pembaca lain juga merasakan hal yang kurang-lebih sama. Dan lagi-lagi, seperti di 'The Biggest Duty', line-line terakhir merangkum semuanya dengan apik:

["Rester."

"Ya, Near?"

"Bisa tolong belikan saya piyama hitam? Besok saya mau memakainya seharian."]

Aku menyerah. Aku takluk. Aku pasrah.

Menyentuh sekali, Sanich. Kesedihan yang dibalut keindahan, yang pada akhirnya menggiring pembaca pada satu kesan: bittersweet. Aku bersyukur sekali diberi fanfic yang menyentuh hati seperti ini. Fanfic ini benar-benar hadiah yang indah; hadiah yang tanpa Sanich minta pun, pasti kuterima sepenuh hati. Aku tahu Sanich bukan penggemar slash, tetapi itu bukan masalah, sebab dari kacamata pembaca netral seperti Sanich pun, kekuatan ikatan Near dan Mello tetaplah terlihat jelas. Semoga suatu saat Sanich mau kembali aktif dan menulis fanfic-fanfic manis lainnya untuk FDNI, ya :)

Terima kasih sekali lagi, untuk kebahagiaan yang telah Sanich berikan. Aku bahagia, benar-benar bahagia :')

With love,

Eila
Nasaka chapter 1 . 5/16/2011
Hai~ numpang spamming dikotak ripiumu :D

Aaaaa Neaaaar Y U Soooo cuteeee?

Ah, friendshipnya gw suka. Gw suka fic ini dah.

Bye

Author Madesu
Musim Gugur chapter 1 . 5/11/2011
oh Tuhaan. . . .

Kata2 Fic ini lembut sekali. . T_T

saya bener2 tambah sayang Near, hueeee. . T.T

bu-buat lagi. . . Please. . .

A-aku fav ya,

Thanks. . TT
Kirarin Ayasaki chapter 1 . 5/10/2011
HUWAAA... hiks... hiks...

MelloNear nya kentara banget (TT_TT) #dor

eh anoo... yang terakhir... (pokoknya paragraf terakhir) itu ditambahin sama nee-chan atau memang canon? saya soalnya di komik ngga liat percakapan itu...

jujur lo, saya ngerasanya disini Near nganggep Mello sebagai sosok seorang kakak yang udh lama ngga ditemuin.

ehehehe... soal Ryuk, mudah-mudahan hari kamis bisa saya aplod bareng sama Matt.

oke, general Kirarin Ayasaki undur diri!

salam damai dari Siberia,

Kisa-chan

p.s: Fave ya
anonim13 chapter 1 . 5/10/2011
hiks T.T, keren air mata saya nyaris keluar
lumutness chapter 1 . 5/9/2011
Hiks. ;_;

Hal kedua yang saya sesali setelah membaca Death Note adalah kematian Mello dan Matt. yang pertama adalah kematian L.

Saya juga percaya kalau Near pasti sedih -sangat- dengan kematian Mello. Lama tidak nemu fic yang membahas ini. Menarik dan mengharukan sekali. Disini saya merasakan aura friendshipnya. :D

.

keep writing!

.

sign, Luthfi.
17 | Page 1 2 Next »