Reviews for Generasi
denayaira chapter 1 . 9/9/2011
...demi apa Megu lagi nulis review malah matlam di warnetnya? ;A; *ambil tali, siap-siap gantung diri* *dikepruks ambu*

.

Baca ini bikin Megu nyadar seberapa banyak Megu ketinggalan CoAD. Bikin patah hati. Kenapa pula pas di cari di toko buku sini seri CoAD-nya gak lengkap? orz

.

Ya sutra, cukup curcolnya.

Pendapat Megu untuk fic ini, simple: Ambu hebat seperti biasa. #dor

Gimana nggak, ambu bisa menunjukkan kalo si Fin-Kedinn sedang sangat galau hanya dengan menekankan kata adalah di dalam kalimat 'ia adalah pemimpin Klan Gagak' yang ditulis berulang-ulang.

.

Terus, kalimat ini:

/Dan tak ada yang harus menyimpan rasa. Tak ada yang harus memendam pahit.

Tak boleh ada yang seperti ia lagi./

Aih, line yang sempurna untuk fic yang sederhana tapi sangat menyentuh hati ini. :)

.

Keep Writing, dear ambu. Pembacamu selalu menunggu. ;)

.

Salam sayang,

Megu
Azureila chapter 1 . 8/24/2011
Aaah, Ambu! Fanfic ini sukses membuatku bernostalgi(l)a dengan Torak, Renn, Serigala, dan terutama.. Fin-Kedinn! Aku baca fanfic ini pelan-pelan, sambil sesekali menggali ingatan dan mengangguk-angguk senang karena dapat bocoran XDD #kumat Dari buku kedua CoAD, aku memang condong ke TorakRenn sih, tapi aku gak menyangka akhirnya mereka gak saling 'memendam pahit' lagi, seperti yang Ambu jabarkan di sini.

"Sesal tak pernah datang lebih awal." Aku SUKA kalimat itu! Penyesalan adalah pemahaman yang hadir belakangan. Kesadaran yang timbul saat semua tak mungkin kembali seperti semula. Aku suka cara Ambu menggambarkan emosi Fin-Kedinn, terutama bagaimana dia menghadapi penyesalan di dalam hatinya. Ambu melukiskannya dengan lugas, jernih, tanpa pretensi, dan yang paling penting: REALISTIS. Selipan angst terasa tanpa harus terkesan berlebihan sampai merusak karakter. Oh, yang lebih aku suka lagi: penekanan Fin-Kedinn sebagai pemimpin Klan Gagak! Meskipun dia punya penyesalan, namun alih-alih larut dalam kepahitan yang egois, dia memilih melakukan yang terbaik, demi kebahagiaan orang-orang yang berada di bawah naungan kedua sayapnya. Menyentuh banget, mbu. Aku selalu punya soft spot untuk karakter yang tegar seperti Fin-Kedinn. Tegar bukan berarti gak pernah merasakan sesal, tegar justru tentang bagaimana kita mencoba berdamai dengan kenyataan, tanpa harus kehilangan harapan. Intinya, Fin-Kedinn di sini lovely banget deh! d(o)b

Agak random nih, mbu. Jadi ingat sewaktu beberapa hari lalu nonton Kultum, ustadz yang mengisi acara bilang kalau pemimpin dan rakyatnya itu ibarat ayah dan anak angkatnya. Keberadaan Fin-Kedinn bagi Torak terasa seperti itu bagiku~ XDD

Pokoknya aku SUKA fanfic ini, terutama paragraf terakhirnya yang bikin jatuh hati! Uh, gak tahu kenapa dadaku jadi sesak dan mataku langsung berkaca-kaca saat baca endingnya ;_; GREAT JOB, mbu! :D

Sanich pasti senang banget deh diberi hadiah semanis ini. Selamat ulang tahun, Sanich! Dan terima kasih banyak, Ambu, telah menyertakan namaku sebagai salah satu penerima karya yang menyentuh hati ini. Pagi ini terasa lebih cerah karenanya :D

Salam hangat,

Eila
Sanich Iyonni chapter 1 . 8/24/2011
Ambu-saaaaan~! Makasih banyak atas kadonya. Ya ampun, ini pertama kalinya saya dapet fanfic sebagai kado ultah. Biasanya mah saya yang ngasih kado fanfic buat orang lain. _

Hatur nuhun, hatur nuhun! m(_ _)m

/coret/btw saya malu ngeliat angka 19 itu dipajang, bolehkah dihapus sajahh? ;;/coret/

.

Akhirnya... fanfic CoAD! \(o)/

...dan tidak Angst. Hehe.

Saya suka cara Ambu-san portraying Fin-Kedinn. Singkat, padat, jelas. Kalo dipikir-pikir, karakternya sedikit mirip Snape ya - yang memendam cinta begitu lama kepada seorang wanita. :) Tapi cuma "sedikit mirip", soalnya pada perjalanan selanjutnya mereka beda banget. XP

Dan penekanan "ia adalah pemimpin Klan Gagak" yang diulang-ulang itu bikin feelnya jadi dapet banget. Tugas-tugas Fin-Kedinn sebagai "pemimpin Klan Gagak" diulas Ambu-san satu per satu... dan saya paling senang yang "Dan ia punya kewajiban untuk menjaga orang-orangnya tetap bahagia." :D

Endingnya, saya suka banget. Fin-Kedinn berusaha menemukan solusi agar Renn dan Torak tidak, seperti yang Ambu-san tulis, "tak ada yang harus menyimpan rasa. Tak ada yang harus memendam pahit.", karena dia nggak mau mereka seperti dia dulu. Rasanya seperti... dia pengin "membayar" kesalahannya pada Fa dan ibu Torak, ya. :')

Ah, pokoknya saya suka banget deh gimana Ambu-san menjabarkan perasaan Sang Pemimpin Klan Gagak di sini. XD

.

Terus... hm, setahu saya "Fa" itu bukan nama kan yah? Cuma panggilan untuk ayah. Sebenernya gapapa sih Ambu-san menuliskannya seolah-olah "Fa" di sini adalah nama bapaknya Torak, toh nama asli Fa emang nggak pernah disebutkan di mana pun.

Oya, ada satu nama "Renn" yang kurang N, di kalimat "Menyuruh Ren menemui Durrain, yang menanyakan keberadaannya."

.

Makasih banget sekali lagi, Ambu-san. Semoga kapan-kapan saya juga bisa nulis fic untuk Ambu-san. Hatur nuhun very much! :D