Orange and Green

(kuroko no basuke X shingeki no kyojin crossover)

Disclaimer: Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.

Pairing: Furihata Kouki/Sasha Braus. Genre: Friendship/Romance. Rating: K+. Other notes: knb!setting.


"Furihata, bolanya!"

Dengan sigap, Furihata, yang berdiri paling dekat dengan pintu pun keluar, mengejar si kulit bundar oranye yang memantul keluar ruang latihan. Diambilnya, dilemparkannya kembali pada Hyuuga yang sedang bermain 3-on-3 bersama senior yang lain. Dia kembali pada posisinya di ambang pintu gym khusus basket milik Seirin itu, mengamati bagaimana permainan senior untuk kemudian selanjutnya bisa ia pelajari.

Dia mengamati sampai tak menyadari sekeliling sampai pemilik kepala yang menyembul dari balik pintu itu menyapanya, "Furihata-kun~"

Jantung Furihata nyaris melompat. "Sa-Sasha!"

Gadis itu tertawa. Dia tengah memakai kaos longgar putih dan celana selutut yang kedodoran, tampaknya dia juga latihan sore ini. "Ternyata klub basket dan tenis punya hari latihan yang sama, ya, aku baru sadar."

Furihata tersenyum kecil, sambil menggaruk kepalanya. "Iya ... Sasha sudah selesai?"

"Belum, sih. Tapi diberi istirahat dua puluh menit. Furihata-kun tidak ikut main?"

"Tadi sudah ..." Furihata melirik sebentar pada Sasha, gadis itu tampak berkeringat. "Giliran senior main 3-on-3. Yang junior istirahat dulu."

"Oo," Sasha mengangguk-angguk. Dia pun bersandar pada pintu, tepat di samping Furihata. "Kelihatannya basket menyenangkan sekali, ya."

"Itu karena rasa senior suka sekali basket. Mereka mencintainya, jadi, menyenangkan sekali melihat mereka bermain."

Sasha mengangguk lagi, dan Furihata langsung menyambar dengan suatu perkataan, "Oh, ya, Sasha, aku mau tanya sesuatu ... tapi maaf, ya ..."

"Tanya saja-ah, jangan malu-malu dan merasa bersalah. Bertanya itu wajar, kok."

Furihata tersenyum canggung, "Um ... namamu sama sekali bukan orang Jepang. Apa kau asli Jepang?"

"Oh~" Sasha memandang Furihata dengan senyum yang masih terkulas, "Aku lahir di Swiss. Ayahku orang Jerman dan ibuku campuran Irlandia-Jepang. Nenekku orang Osaka dan kakekku asli Irlandia. Kalau kakek dan nenek dari ayahku asli orang Jerman. Aku tinggal di Swiss selama lima tahun, lalu ke Jepang. Ayahku punya perusahaan di sini, dan ibuku memang diminta untuk menjadi dosen bahasa Inggris oleh Universitas Tokyo, hehe. Kadang jadi penerjemah Inggris-Jepang juga, makanya aku bisa bahasa Jepang dengan lancar."

Furihata melongo. Pertanyaannya dijawab dengan sebuah esai, rupanya. "Keluargamu sangat rumit, ya ..."

"Aku juga merasa begitu, hehe. Keluarga besar kami jarang berkumpul karena kami berada di negara yang berbeda-beda. Tapi kalau sekali berkumpul, wow, seperti warna-warni, banyak orang dari berbagai negara menjadi satu tetapi kami masih sedarah, masih satu keluarga. Asyik sekali. Paman dan tanteku ada yang menikah dengan orang Iran, Indonesia, India, dan Spanyol, jadi aku merasa makin takjub."

Tak Furihata sadari bahwa dirinya masih mempertahankan senyum kekaguman sepanjang cerita Sasha dituturkan.

"Aku mau ... dikenalkan dengan keluargamu ..."

Ups. Furihata baru menyadari apa yang dikatakannya beberapa kemudian, dan wajahnya pun mulai memerah.

"Boleh, boleh! Akan kukenalkan kau pada Ayah dan Ibu, nenekku juga sekarang tinggal di dekat rumahku, kapan-kapan kuundang kau ke sana, nenekku suka membuat kue dan kakek pintar membuat smoothie. Ya?"

Di lain sisi di dalam hati Furihata, dia merasa makin dekat dengan keluarga Sasha. Ah, entahlah, yang jelas itu membuatnya senang. Lucu, ya? Apa dia telah jatuh hati?

"A-aku akan senang menerima tawaran itu. Terima kasih, Sasha."

"Kapan-kapan kenalkan aku pada keluargamu juga, ya?"

"Aku hanya dari keluarga biasa—"

"Jangan minder. Setiap keluarga itu keren, Furihata-kun."

"W-wa, terima kasih."

"Mm, kapan-kapan, ya. Nanti kita atur saja janjinya. Aku ke tempat latihan dulu, sampai ketemu nanti, Furihata-kun!"

"Yeah ... sampai jumpa," Furihata memandang kepergian Sasha. Sejenak, dia tertegun. Segera dia panggil Sasha kembali, "Sasha!" ketika gadis itu menoleh, Furihata segera mengambil tasnya.

"Ada apa, Furihata-kun?"

Furihata mengambil handuk yang terlipat dari dalam tasnya. Dengan sedikit tertunduk, dia menyerahkan handuk itu. "Kau berkeringat sekali, Sasha. I-ini, bersihkan dulu. Ini handuk bersih, kok, aku belum memakainya."

"Ooh, astaga, aku tidak sadar," Sasha mengelap keningnya dengan punggung tangan. "Jangan, Furihata-kun. Nanti kau pakai apa? Rasanya aku bawa, kok, di tasku."

"Aku tidak keberatan meminjamkannya untukmu. Pakailah. Y-ya, supaya kau tidak terlihat berkeringat di sepanjang jalan menuju tempat latihanmu. Perempuan itu lebih baik jika terlihat rapi ..." tangan Furihata masih terulur dan selembar handuk putih masih diarahkan pada Sasha.

"Kalau begitu baiklah," Sasha berbalik, mengambilnya, lalu tersenyum sambil memakai handuk itu. "Tapi kubawa dulu, ya? Nanti kucuci di rumah."

"Baik!"

"Sampai jumpa, Furihata-kun! Besok makan di atap lagi, yuk? Kalau mau, kita bertukar bento lagi."

"Boleh—aku akan memasak lagi—ah, ya, ya, sampai jumpa!"

Furihata memandang punggung Sasha, dan dia melihat dengan amat jelas bahwa gadis itu mendekap handuk pemberiannya.


A/N: saya suka banget pas bagian pendeskripsian keluarga Sasha llllll keluarga multikultur itu keren! lllll