For ES21 Awards: Kasih Sayang. Rice Bowl, turnamen dua tahunan tingkat universitas sudah di depan mata. Ini kesempatan pertama dan terakhir bagi Hiruma untuk memenangkan turnamen ini bersama timnya. Tapi... 'Kalian tidak mendengarku? Bukan, suaraku yang tidak keluar.'/ 'Manajer Sialan... Izinkan aku mengucapkan ini... untuk pertama dan terakhir kali...'. Most friendship, slight (or more? let's see) HiruMamo.


Disclaimer for Inagaki Riichirō & Murata Yūsuke

Character: Hiruma Youichi, Anezaki Mamori, Anggota Saikyoudai Wizards yang lain

Timeline: Tahun kedua di Universitas Saikyoudai, saat Rice Bowl

~oOo~

Limited Time
by Little Hatake

.

.

Terlihat puluhan orang memakai jaket seragam olahraga yang berbeda berlalu-lalang memasuki sebuah gedung. Terdapat pula belasan kendaraan stasiun televisi yang sedang bersiap dengan reporter dan kamera. Di depan gedung tersebut terpampang jelas spanduk besar 'RICE BOWL, THE SEMI-PRO AMERICAN FOOTBALL TOURNAMENT'. Yap, hari ini adalah hari pembukaan resmi sekaligus pengundian enam belas tim universitas yang akan bertanding di turnamen paling bergengsi tingkat universitas, Rice Bowl di gedung Asosiasi Olahraga Jepang.

"Di mana sih, Manajer Sialan itu?!" Hiruma menggertakan giginya kesal. Sudah lima belas menit, Mamori belum juga menampakkan batang hidungnya.

"Mungkin Anezaki-san sedang ada urusan dulu, Hiruma. Tenang saja, seorang manajer teladan seperti dia pasti tidak akan melewatkan pengundian ini." Yamato menepuk pundak Hiruma, mencoba menenangkannya. Seperti yang kita tahu, Hiruma sangat tidak senang jika ada sesuatu yang tidak sesuai jadwal.

"Berisik kau, Rambut Liar Sialan!" Hiruma masih menunjukkan gestur tidak tenang. "Anak-anak Sialan, kalian masuk ke dalam!" Hiruma menembakkan Carbine M-16-nya ke arah anggota Saikyoudai Wizards yang lain. Anggota yang masih sayang nyawanya pun segera masuk ke dalam gedung, mereka tidak berani membantah perintah dari maniak senjata ini, apalagi ia sedang gusar seperti ini. Bisa-bisa peluru karet berubah menjadi timah panas sungguhan. Tinggalah tiga orang yang masih di sana, menunggu manajer tim mereka.

"Tampaknya kapten kita ini tidak dapat tenang jika tidak ada manajer kesayangannya di sampingnya," ujar seseorang yang berambut lurus keperakan dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasa.

Seperti granat yang siap meledak, Hiruma menodongkan ujung senapannya di dahi Taka. "Kau sudah tidak sayang nyawamu hah, Rambut Lurus Sialan?!" Tetapi Taka tidak terpengaruh dengan gertakan Hiruma, matanya masih fokus membaca tiap kata di buku yang dipegangnya.

Yamato mencoba mendinginkan suasana yang mulai memanas. "Sudahlah Taka, jangan memperkeruh suasana, kita tunggu Aneza—"

"Minna! Maaf aku terlambat!" Terdengar suara riang seorang gadis yang baru turun dari sebuah taksi, ia melambai-lambaikan tangannya.

"Kemana saja kau, Manajer Sialan?! Kau tahu kau sudah terlambat hampir tiga puluh menit?! Ini rekor terbaikmu merusak jadwal!" Moncong senjata Hiruma pun berubah direksi menghadap Mamori, tentu saja tidak sampai karena Mamori berada di jalan yang bersebrangan.

"Maaf, Hiruma... Aku diminta tolong oleh ibuku untuk mengantarkan titipan dulu ke rumah temannya..." Gadis berambut auburn itu tersenyum melihat tingkah Hiruma yang seperti anak kecil jika kesal dengan dirinya.

"Ck! Cepat masuk, Manajer Sialan, Rambut Liar Sialan dan Rambut Lurus Sialan!"

Yamato tertawa pelan melihat pertengkaran kecil setan dan malaikat ini. "Ayo, Anezaki-san kita masuk!"

Hiruma, Yamato dan Taka pun berbalik badan hendak memasuk gedung Asosiasi. "Tunggu aku!" Mamori berlari menyebrang jalan, mengejar mereka bertiga. Tetapi ia tidak memperhatikan jalanan, sehingga ia tidak sadar bahwa ada truk besar yang sedang melintas cepat dari arah kanannya. Sopir truk tersebut tidak sempat mengerem untuk menghindari Mamori yang tinggal beberapa meter.

TIIIIIIINNNNN! TIIIIIIINNNNN!

Telinga Hiruma yang amat sensitif mendengar lebih cepat bunyi klakson dari arah belakang. Ia segera menoleh dan matanya terbelalak lebar.

"MAMORI!"

DUAAKK!

Sesosok tubuh terpelanting cukup jauh, darah segar segera mengucur deras dari belakang kepalanya yang terbentur aspal. Tubuh itu terhempas sangat keras, cukup untuk mematahkan sebagian besar tulang-tulangnya. Tubuh itu tidak bergeming.

"HIRUMA!"

Apa yang terjadi begitu cepat. Semua terjadi begitu saja, hanya sekian detik di depan mata Mamori. Ia mendengar bunyi klakson yang amat nyaring dan melihat Hiruma berlari ke arahnya dan mendorong dirinya menjauh, hanya beberapa detik yang lalu. Lalu sekarang, ia melihat tubuh Hiruma terbaring di tengah jalan tak berdaya dengan cairan merah pekat mengotori rambut kuningnya.

Mamori hanya terduduk di trotoar, masih terkejut. Ia mengumpulkan potongan-potongan adegan itu di otaknya, menyimpulkan sesuatu dan seketika juga sebuah kristal bening mengalir turun dari ekor matanya. Tubuhnya bergetar mengetahui kenyataan. Ia akhirnya menyadari bahwa Hiruma berlari dan mendorong dirinya dengan cepat begitu mendengar bunyi klakson. Hiruma menyelamatkan dirinya...

dengan mengorbankan nyawanya sendiri.

'Cih, ada apa ini? Mengapa tubuhku tidak bisa bergerak tapi aku juga tidak merasakan sakit?'

Tubuh Hiruma terbujur kaku, diam sama sekali. Pandangan matanya mulai mengabur, namun ia masih dapat melihat running back-nya, receiver-nya dan beberapa orang lainnya mengelilinginya. Ia masih dapat mendengar beberapa langkah orang berlari menghampirinya. Dan beberapa saat kemudian, terdengar suara sirine ambulans yang mulai mendekat.

'Cepat masuk ke dalam, Rambut Liar Sialan dan Rambut Lurus Sialan! Anak-anak Sialan di dalam tidak akan bisa mengurus sendirian!'

Yamato dan Taka yang selalu terlihat tenang kali ini menunjukkan raut wajah amat panik ketika melihat dirinya. Orang-orang di sekelilingnya berteriak histeris dan menyuruh agar petugas medis bergegas. Ia merasakan tubuhnya diangkat ke atas tandu dan dibawa ke dalam ambulans.

'Kalian tidak mendengarku? Bukan, suaraku yang tidak keluar. Ah iya, aku tadi berlari untuk menyelamatkan Manajer Sialan itu agar tidak tertabrak truk. Dan ternyata aku sendiri yang tertabrak. Lucu sekali, kekekek!'

Kekehan itu hanya menggaung di pikiran pria jabrik itu.

'Ah, sial! Apakah hidupku akan berakhir seperti ini? Sebelum aku memenangkan turnamen sialan ini? Sebelum aku me... membahagiakan Manajer Sialan itu? Sialan!'

Orang yang terakhir ditatap oleh kedua emerald itu sebelum menutup adalah seorang gadis cantik berambut auburn dan beriris shappire yang tengah menahan tangis.

'Heh, Manajer Sialan! Jangan menangis seperti itu, nanti wajahmu jelek! Kekekek! Biarkan aku ucapkan untuk terakhir kali meskipun aku tahu bahwa kau tidak bisa mendengarku...'

Terlihat gerakan lemah dari jemari kurus Hiruma. Mamori yang menyadari hal itu menyuruh Yamato dan Taka yang ikut masuk ke dalam ambulans untuk memperhatikan gerakan jari tersebut. Sang komandan dari neraka itu mengerahkan seluruh tenaga terakhirnya untuk menyampaikan pesannya kepada kedua pemain terbaiknya dan manajer... kesayangannya. Jari-jarinya yang jenjang membentuk kode-kode jari yang hanya dimengerti oleh Mamori.

"Apa yang Hiruma katakan, Anezaki-san?" Taka tidak mengerti dengan kode-kode itu.

Sembari menahan isak, Mamori menerjemahkan kode dari Hiruma. "Untuk... Rambut Liar Sialan dan... Rambut Lurus Sialan... Aku titip Saikyoudai Wizards... kepada... kalian... Kita harus memenangkan... turnamen... sialan ini... apapun yang terjadi..."

Yamato dan Taka mengangguk lemah mendengar pesan terakhir dari kapten terbaik mereka, walaupun mereka sangat tidak ingin saat ini adalah saat terakhir mereka mendapatkan instruksi dari kapten bernomor punggung satu itu.

Mamori melihat beberapa gerakan lagi dari tangan yang selalu lembut menyentuhnya itu meskipun sang pemilik tidak pernah berkata lembut kepada dirinya.

"Dan untuk... Manajer Sialan... Izinkan aku mengucapkan ini... untuk pertama dan terakhir kali... Aku... Mencintaimu... Anezaki Mamori..."

Tangan yang selalu dapat melempar passing dengan cepat itu akhirnya jatuh seiring hembusan napas terakhir sang komandan. Mamori menutup mulutnya dengan kedua tangan, tidak percaya. Dan tangisan Mamori akhirnya meledak, tersedu-sedan.

.

Hitam.

.

TBC

.

~oOo~

rgrds, LH


Fanfic ini didedikasikan untuk Eyeshield 21 Award 'Reborn' Bulan Februari-Maret: Kasih Sayang. Pertama kali looh saya ikut award beginian, maklum siih saya masih nubi jadi author, hehehe *garuk-garuk belakang kepala*. Sekalian meramaikan FESI. Penasaran dengan lanjutan ceritanya? Keep following my story, ok? A good reader is always giving a review, so hit the REVIEW button below and help me to write a better story for you :D

Mumpung si setan jabrik itu belum keluar, sebaiknya saya segera kabur sebelum dia sadar kalo saya bikin cerita dia mati lagi, hehehe... Arigatou ne, minna-san~ :3