Disclaimer : Tadatoshi Fujimaki

Warning : Typos, OOC, Daiki's PoV.

To whom love AoMomo. Enjoy
.

.

"Dai-chan! Kau itu, Wakamatsu senpai sudah marah-marah karena kau bolos latihan terus … mou Dai-chan! Tidak usah pura-pura tidur begitu!"

Ck, gadis itu lagi.

"Berisik tau, Satsuki!"

Menguap, sejak kapan menguap merupakan hal yang terasa sangat menyenangkan? Ah, basket lagi, aku bosan.

"Satsuki, kalau aku latihan, aku malah jadi makin kuat. Percuma saja latihan,tidak juga aku pasti akan menang."

Angin segar berhembus pelan, aku tidak mendengar suara teman kecilku yang biasanya tidak akan berhenti sebelum aku bangkit. Bahkan sekarang aku malas membuka mata.

"Ya sudah Dai-chan, aku ke lapangan dulu," baguslah.

Tunggu, apa tidak salah? Satsuki berhenti mencoba memecahkan gendang telingaku dan menyerah begitu saja? Akhirnya dia bosan juga.

Kulanjutkan kegiatan tidur-tiduran malas di atap sambil menunggu waktu istirahat selesai, kalau beruntung aku bisa melanjutkan sampai bel terakhir berbunyi tanpa interupsi dari Momoi. Ya, hanya aku dan bayangan Mai-chan yang ukuran dadanya F cup.

Mataku sudah terpejam lama, kukira sekitar sepuluh menit. Bayangan Mai-chan sedari tadi kabur berkejaran digantikan oleh gambaran Satsuki hari ini. Sebenarnya kenapa si Momoi itu, seharian ini dia lebih pendiam, sangat berbeda dari biasa. Rasanya tidak enak juga dibegitukan.

Tak kusangka, aku bergegas lebih cepat untuk kembali ke kelas lebih awal dan melewatkan acara tidur siangku.

Kulihat surai-surai sewarna permen kapasnya melambai saat dia berjalan di koridor membawa roti dan susu kotak.

"Oi Satsuki, kau kenapa hari ini? Sedang PMS ya?"

Aku bersiap menerima pukulan kecil dari gadis itu, yang ternyata tidak aku terima. Sedikit lega tapi malah menambah rasa penasaran.

"Tidak apa-apa, eh?"

"Aku minta, aku belum sarapan dari pagi," setelah kusambar roti dan susu rasa strawberi dari teman kecilku yang terlihat lesu.

"Dai-chan, kau kan bisa beli."

Mungkin jika dia mengatakan hal itu seperti biasa dengan lengkingannya aku tidak heran, nyatanya suara Momoi hanya bisikkan lalu dia berjalan pelan masuk ke kelas. Apa dia benar-benar sedang PMS ya? Pelit benar sih Satsuki itu, baru roti saja sudah marah-marah tidak karuan.

Kuletakkan roti dan susu yang baru kubeli di hadapan wajahnya dengan sedikit tekanan, tampaknya Satsuki terkejut karena mata pink-nya membesar lalu menatapku.

"Haaah, benar-benar menyebalkan, tidur siangku terganggu."

Mejaku berubah menjadi bantal, kutatap Satsuki di mejanya terpaku melihat susu dan roti itu. Apa dia seterkejut itu mengetahui aku punya uang?

Dia tiba-tiba menoleh, tatapan iris fushia-nya tajam, "Aomine-kun, maaf sepertinya aku tidak bisa pulang bersamamu."

"He? Kau marah Satsuki?" apa-apaan sikap tidak bersahabat begitu? Berterima kasihpun tidak. Oke, memang sih itu roti dan susu miliknya, tapi biasanya Satsuki rela-rela saja jatahnya kuambil. Wanita yang PMS memang menakutkan.

"Aomine-kun? Kau mau pulang bersamaku?"

Seorang gadis yang tak kukenal menampakkan tubuhnya di arah pandanganku terhadap Momoi, apa-apaan panggilan sok akrab begitu?

"Ha? Aku maunya pulang dengan Horikita Mai."

.

.

Hari ini sangat damai tanpa teriakkan Satsuki, terlalu damai malah. Aku tidak mengerti perasaan macam apa ini, tapi aku merasa terganggu melihat tingkah Momoi yang menganggap aku tidak ada. Apa mungkin dia marah karena kemarin aku bolos seharian? Cih, masa begitu saja marahnya sampai sekarang, wanita benar-benar mendokusai.

Aku tidak peduli kalau Satsuki marah di hari lain, tapi jangan di minggu-minggu dimana tes bakat menjadi ritual sakral! Siapa nanti yang akan membuat catatan singkat materi penting yang bisa dihafal dalam semalam?

Kalau bukan minggu-minggu ini, mungkin Satsuki bebas marah-marah padaku seperti biasa, tapi jika dia sedang menguji coba metode baru untuk marah padaku di minggu ulangan, aku tidak bisa terima!

Kukesampingkan egoku untuk tetap diam, sekarang aku mendatangi rumahnya yang hanya berjarak tiga rumah dari rumahku.

"Eh Satsuki, kenapa lama sekali angkat telepon hah? Aku di depan rumahmu tau! Ayo cepat keluar!"

"Aku ada kencan dengan Tetsu-kun!" teriaknya dari kamar atas.

"Pembohong, kau tidak tahu tadi di jalan aku bertemu Tetsu sedang bermesraan dengan anjingnya?"

"Um …," mau mencari alasan payah lagi?

"Sudah cepat turun Satsuki!"

Bahkan dia tidak mengapresiasi kedatanganku yang membawa cokelat sebagai tanda berbaikkan. Dari tampangnya dia kelihatan lesu.

"Ini, sudah aku rangkum semua yang penting, Aomine-kun tinggal membacanya, nanti juga paham."

Setengah malas dia menyodorkan buku tipis dan menungguku mengambilnya. Untuk alasan yang tidak aku mengerti, aku merasa tertohok.

"Aku tidak ke sini menginginkan itu, Satsuki! Dan lagi kenapa memanggilku begitu? Kau masih marah?"

"Marah apa Aomine-kun? Namamu memang Aomine-kun kan? Apanya yang salah?"

Angin malam yang dingin menambah kebas jari-jari tanganku, saat Satsuki mengatakan hal begitu, dadaku terasa panas. Kau benar-benar! Sebenarnya kau kenapa Satsuki?!

"Hanya karena kau teman kecilku, tidak berarti aku punya batas kesabaran yang besar padamu, aku salah, kau sudah bukan temanku lagi Satsuki."

Kuinjak sebatang cokelat yang kubawa lalu melemparkannya tepat memasuki tong sampah. Aku berlalu sambil merapatkan jaket dan memasukkan tangan ke saku jaket supaya kebas tadi hilang. Perasaanku malah lebih kacau-balau daripada sebelum ini. Ahaha, dan persetan dengan tes bakat! Memang kenapa jika aku sesekali mendapat hasil jelek?

Tetap saja tim basket membutuhkanku untuk menang.

.

.

Aku makan, tidur, membaca majalah Mai-chan tanpa selera. Bertengkar dengan Momoi memang menyebalkan, tapi memikirkan kenapa aku bisa begitu marah hanya karena Momoi Satsuki tidak bicara denganku sehari membuatku lebih marah. Memang siapa Momoi Satsuki? Cuma seorang gadis cengeng yang selalu menangis saat roknya kuintip dulu.

Ulangan pertama. Lumayan mudah, tanpa bantuan Satsuki-pun aku bisa. Heeh? Sejak kapan aku jadi bergantung padanya?

Ulangan itu membuat kandung kemihku terasa penuh. Entah kemana perginya Satsuki semenjak bel berbunyi, tetapi dia tidak kelihatan di kelas atau di kantin. Tapi, siapa peduli?

Ah, melegakan.

"Kau bertengkar dengan Momoi-san, Aomine?" Imayoshi mencuci tangannya sama sepertiku.

"Hah? Bukan urusanmu," jawabku malas pada si kacamata.

"Kulihat tadi dia bersama teman-temannya ke kamar mandi, jika kau ingin tahu." Senyum penuh arti si megane itu aneh.

Satsuki bersama teman barunya ya? Sejak kapan Satsuki punya teman wanita?
.

.

To be continue

Can you guess why Satsuki angry?