Cerita ini terinspirasi dari komik 'Misunderstanding Princess and the Liar Servant' karya Takamiya Satoru. Sebenarnya saya suka sekali dengan komik karya Takamiya Satoru, apa lagi yang saya sebutkan tadi. Saya jadi membayangkan bagaimana jadinya kalo charanya SebaCiel. Jadi terciptalah cerita ini meskipun saya harus merombak sana-sini. Uyeeeyyy! XD

Kuroshitsuji © Yana Toboso

~Arrogant Master and Lunatic Servant~

Typo maybe happens.

Please enjoy the story…

Chapter 1:

.

.

.

Sekolah putra Grey adalah sekolah SMA berasrama terbaik dimana murid-murinya sangat disiplin dan di didik dengan pendidikan tinggi. Tidak heran jika para orang kaya memasukan anaknya ke sekolah ini meskipun biaya yang mahal. Sekolah ini juga menerima murid beasiswa penuh sesekali, itu pun kalau mereka lolos dengan ujian tertulis yang bisa di bilang sangat susah. Dan perlu dicatat bahwa sekolah ini memiliki peraturan sangat ketat.

Pagi hari sekolah itu tampak kembali ramai setelah liburan kenaikan kelas. Para siswa yang pulang, hari ini telah kembali untuk memulai bersekolah. Hanya saja hari ini cukup istimewa karena mereka kedatangan penduduk baru. Sebut saja mereka adik kelas pertama.

Siswa tahun pertama diwajibkan untuk berkumpul di aula untuk menerima sambutan-sambutan dari pihak sekolah tentunya. Tujuan lainnya juga adalah pihak sekolah memperkenalkan diri siapa dan apa kedudukan mereka di sini. Tradisi yang sungguh membosankan.

Ciel Phantomhive merupakan salah satu murid baru yang akan menginjakan kaki di sekolah ini. Dan ia juga merupakan murid beasiswa penuh yang beruntung itu. Ya setidaknya beruntung untuk saat ini.

Ciel sangat bosan mendengar kata sambutan yang berulang-ulang ia dengar ketika masuk sekolah, ia memutuskan untuk tidur sejenak melepas lelahnya dikarenakan perjalanan yang cukup jauh untuk sampai dari kotanya ke sekolah ini yang dimana siswa lainnya bisa tidur pulas sebelum keesokkan harinya pindah ke sekolah dengan mobil mereka yang keren-keren. Ciel yang mulai tertidur pulas tidak sadar akan seringai dari seseorang yang menatapnya dari podium yang seakan menemukan mangsa.

ϮϮϮ

Sekolah dimulai 3 hari lagi, Ciel yang tidak mungkin pulang kerumahnya yang jauh ingin langsung membereskan kamar asramanya. Bersama teman barunya, Alois dan Soma, ia menelusuri koridor-koridor mencari nomor kamarnya yang sedari tadi tak ia temukan.

"Kamarku disini bersama Soma. Kau masih belum menemukan kamarmu?" Tanya Alois sedikit khawatir pada Ciel yang masih bingung celingak-celinguk kesana kemari mencari nomor. Ciel mengangguk sedikit. "Nomor berapa kamarmu?"

"302."

"Ummm…setahuku ya, kamar nomor 300 keatas bukan kamar anak kelas 1. Soalnya kakakku sekolah disini beberapa tahun lalu dan memberi tahuku soal pembagian kamar."

Ciel menatap kertas ditangannya. Ia yakin sekali bahwa tulisan itu 302. Dengan berat hati akhirnya ia mencoba mencarinya lagi dan meninggalkan Alois dan Soma. Remaja berambut kelabu itu mulai kelelahan menggendong ransel besarnya dan menggeret koper dari tadi di koridor asrama yang luas.

Setelah menelusuri koridor-koridor, ia melihat lumayan banyak siswa yang berlalu lalang, hanya saja itu bukan wajah-wajah siswa baru yang ia lihat sebelumnya. Orang-orang berbisik sambil melihatnya dengan sorot mata tajam. Sungguh bukan suasana yang menyenangkan.

"Kau anak kelas 1?" Seseorang dengan rambut pendek dengan jepitan rambut menghampiri Ciel yang terlihat kebingungan. Ciel mengangguk. "Ada apa kau datang membawa koper di asrama kelas 2?"

"Kamar 302 dimana ya, kak?"

"Eh? Kau akan tinggal di kamar itu? Aku baru tahu anak kelas 1 bisa sekamar dengan anak kelas 2." Ciel terdiam. "Itu kamar ketua OSIS. Mari ku antar."

Ciel mengikuti seniornya itu di belakangnya. Beberapa kali seniornya itu menawarkan bantuan membawa kopernya tapi ia tidak mau. Mereka pun berkenalan, Finnian itu namanya.

xxx

"Nah ini kamarnya." Ujar Finnian.

"Terima kasih, kak." Jawab Ciel singkat.

"Jangan sungkan. Aku tulus kok. Aku pergi dulu ya."

Finnian pun pergi. Ciel menghela nafas panjang lalu mengetuk pintu namun tak ada jawaban. Ia sangat kesal karena kelelahan. Dengan kesal ia merogoh saku celananya mengambil kunci lalu membukanya. Betapa terkejutnya ia melihat seekor kucing hitam berkeliaran di kamar barunya di pangkuan seseorang laki-laki yang mempunyai rambur dengan warna senada dengan kucing itu.

Baru saja ia ingin berteriak, laki-laki itu dengan cepat menarik Ciel dan membekapnya lalu mengunci pintu kamarnya, membanting Ciel ke kasurnya.

"Hei itu sakit!" Jerit Ciel.

"Maaf Ciel. Habisnya kau berteriak sih." Laki-laki serba hitam itu duduk di pingir kasur Ciel dengan wajah menyesal.

"Bagaimana tidak? Asrama ini kan tidak boleh memelihara binatang. Apa lagi aku alergi kucing!"

"Kau tak suka? Baiklah."

Laki-laki itu mengangkat tubuh kucing hitam itu dan memasukannya kedalam sangkar hewan dan menaruhnya jauh dari Ciel. Ciel tampak cemberut melihat teman sekamarnya itu bukannya membuang jauh-jauh kucing itu malah menaruhnya di tempat lain.

"Aku tidak bisa sekamar denganmu! Aku bisa stress bila disini ada kucing. Aku pindah saja dan lapor pada sekolah." Ujar Ciel melengos.

Orang itu bersimpuh depan kaki Ciel dan sukses membuat Ciel kaget.

"Kumohon jangan pindah. Tolong biarkan aku disisimu, jadi pelayan pun boleh."

Hati Ciel tergerak. Pelayan? Oh sunguh Ciel belum pernah memiliki pelayan karena ia hanya orang biasa. Bukanlah pelayan itu adalah orang yang bisa ia suruh-suruh seenaknya dan patuh? Sepertinya menyenangkan.

"Baiklah."

"Terima kasih." Jawab laki-laki itu senang.

"Siapa namamu?"

"Ah, kau kan anak yang tidur ketika acara penyambutan berlangsung kan? Wajar kalau tidak tahu. Hehe…" Jawaban tak terduga ini membuat Ciel merona malu. Ia ketahuan tidur! "Aku Sebastian Michaelis."

Ciel merasa sangat senang memiliki orang yang akan disuruh-suruh. Dia benar-benar beruntung sekali. Perintah pertamanya adalah menyingkirkan kucing itu dari kamar yang dengan berat hati dilakukan Sebastian.

ϮϮϮ

3 hari berlalu dan semua memulai aktivitasnya. Namun sekolah itu geger ketika melihat kejadian aneh di ruang makan. Bagaimana tidak? Pagi itu mereka di suguhkan pemandangan yang spektakuler. Ketua OSIS yang terkenal seantero sekolah mereka sedang duduk sebangku dengan anak kelas 1 dan bersikap seperti pelayan. Mulai dari menawarkan minuman apa yang hendak ia ingin minum dan juga mengambilkan makanan. Bukan hanya itu, mereka juga heran mengapa anak miskin itu dilayani oleh Sebastian. Karena bukan rahasia lagi bahwa Ciel Phantomhive merupakan murid beasiswa penuh yang artinya miskin dan cuma berbekal kepintaran saja.

"Ayo makan saladnya."

"Aku tidak suka sayuran."

"Hehehe…beragumentasi memang menyenangkan. Tapi untuk soal ini tidak boleh! Ini bagus untuk kulitmu." Ujar Sebastian sambil menyuapi paksa Ciel.

Begitulah permainan majikan-pelayan dimulai.

xxx

Hari-hari dilalui Ciel dan Sebastian sebagai majikan-pelayan. Ciel sangat senang dan menyukai Sebastian dalam hal mengurus keperluannya. Seperti contoh kali ini, Sebastian ternyata sangat pintar soal sastra, awalnya Ciel enggan meminta bantuannya menganalisis drama. Tapi ini benar-benar terdesak, otaknya buntu sama sekali dengan sastra. Ciel benar-benar tidak tahu bahwa di sekolah ini sangat menjunjung tinggi karya sastra yang ia pikir tidak penting. Untuk apa di era modern seperti ini masih saja harus belajar sastra yang berkutat pada puisi, prosa dan drama? Sastra jadul pula! Hellowww~~ ini jaman modern, untuk apa susah-susah melihat masa lalu lagi? Move on cuy! Setidaknya itulah yang ia pikirkan.

"Judul paper pun kau belum dapat?" Tanya Sebastian heran. Ciel hanya mengangguk pelan. Meskipun ia jenius, orang jenius pun punya kelemahan kan? "Jadi drama apa yang ingin kau analisis?"

"Karya Shakespeare, 'The Tragedy of Hamlet, Prince of Denmark'." Ciel mendesah pelan.

"Kau sudah membaca drama itu kan?" Ciel mengangguk. "Biar ku beri tips. Untuk menemukan judul yang sangat gampang, biasanya kau harus melihat apa yang menonjol dari cerita itu. Lalu kau temukan fakta dari buku itu yang berhubungan dengan judul berserta quote yang memperkuat fakta." Sebastian tersenyum. "Jadi apa yang menonjol dari cerita itu?"

"Dendam Hamlet."

"Nah, itu bisa dibuat judul."

Ciel tersenyum senang setelah ia mendapatkan pencerahan dari Sebastian. Begitu pun Sebastian. Ia berharap Ciel semakin menyukainya.

"Lalu?"

"Lalu bab pertama kau harus menulis latar belakang, itu diisi dengan tema yang di ceritakan disitu dan asal mula perasaan Hamlet. Lalu di bab kedua, kau mulai menganalisisnya, caranya dengan membuat paragraf yang kau tulis awal kenapa Hamlet balas dendam sampai apa akibat balas dendamnya diikuti quote yang memperkuat fakta. Paragraf dan quote harus selang seling. Lalu bab tiga, kesimpulan cerita itu. Itu diisi dengan tanggapan-tanggapanmu tentang Hamlet." Jelas Sebastian panjang lebar.

"Aku tidak suka mengatakannya, tapi…terima kasih!"

Dengan petunjuk Sebastian akhirnya Ciel dapat mengerjakannya dengan sukses dan mendapat nilai yang memuaskan!

.

.

Di kelas ia di puji berkat nilainya yang bagus dalam tugas sastra. Namun tak beberapa juga yang berbisik-bisik tentangnya. Entah itu curang karena dibantu Sebastian maupun tentang status sosialnya yang miskin itu. Tapi Ciel tak peduli, baginya mendapat nilai sempurna tak harus orang kaya yang bisanya cuma seenaknya dan menyogok sana-sini. Toh ia hanya minta pencerahan saja, bukan menyuruh Sebastian mengerjakan tugasnya.

Alois dan Soma—teman Ciel ketika pertama masuk—menghampiri meja Ciel. Seperti biasa mereka mengobrol-ngobrol sebelum guru datang.

"Kak Sebastian memperlakukanmu seperti majikan saja. Kok bisa?" Tanya Alois penuh tanya. "Ahhhhh kau beruntung sekali. Aku sangat ngefans dengannya!"

"Dia pelayanku." Kata Ciel tersenyum sombong.

"Whooo…bagaimana bisa?" Kali ini giliran Soma yang bertanya.

"Itu ra-ha-si-a."

"Pelit! Ah pokoknya kau beruntung sekali Ciel! Kak Sebastian itu, sudah jenius, paling kaya, tampan, tanpa kekurangan sedikit pun! Kepopulerannya tak tertandingi sedikitpun! Itu seperti Tuhan sangat mencintainya sampai ia sesempurna itu!" Ujar Alois dengan lebay.

"Itu berlebihan."

Soma dan Alois tertawa sedangkan Ciel hanya tersenyum kecil. Ciel berpikir mungkin ia memang sedang dilanda keberuntungan bertubi-tubi. Di statusnya yang orang miskin dan berbekal otak jenius, ia dapat beasiswa masuk sekolah ternama di London, kemudian mempunyai pelayan yang jenius dan tampan secara tidak sengaja, lalu memiliki 2 teman yang menerima ia apa adanya. Apa mungkin ini adalah awal kebahagiaannya? Oh siapa tau!

"Tapi di perlakukan seperti itu oleh orang hebat apa kau tidak berdebar?"

Mata Ciel membulat. Berdebar? Orang hebat? Ah…ia mengerti, Sebastian memang tampan dan pintar. Dia juga tahu bagaimana melayani orang dengan baik sampai-sampai Ciel berpikir apa Sebastian adalah mantan butler jika dilihat dari status sosialnya yang tidak memungkinkan melakukan itu.

.

.

Jam makan siang, seperti biasa Sebastian melayani Ciel makan siang. Namun kali ini mereka makan di atap sekolah dimana tak ada satu siswa pun ada. Pertahanan Ciel tentang 'tak peduli' agak mencair karena setiap hari di tatap dengan aura membunuh dari orang-orang yang iri dengannya. Sebastian pun nurut saja. Mereka juga jarang bicara jika Sebastian tak bertanya apapun. Karena itu Sebastian selalu yang memulai percakapan.

Setelah selesai makan, mereka pun turun dari atap melewati tangga. Ciel membaca buku sambil berjalan, padahal sudah Sebastian ingatkan dari tadi jika itu berbahaya tapi Ciel tak mendengarkan. Karena kecerobohan itu, Ciel terpeleset dan kehilangan keseimbangan. Dengan sigap Sebastian memeluk Ciel dan menjadikan punggungnya tameng menghantam lantai. Untung saja tangga itu tidak terlalu tinggi, tapi tetap saja berbahaya apa lagi mengingat tubuh Ciel yang begitu mungil untuk ukuran seusianya.

Ciel membuka matanya yang sempat terpejam karena takut kemudian matanya terbelalak ketika Sebastian ada di bawahnya. Itu pasti sakit sekali!

"Kau tak apa?" Tanya Ciel panik.

"Iya."

Ciel bangun dari atas Sebastian dan membiarkan Sebastian berdiri. Ia sungguh tak merasa enak telah berbuat ceroboh. Apa lagi melihat Sebastian tadi sempat meringis ketika bangun. Tiba-tiba Sebastian terlihat kaget setelah melihat luka di dengkul Ciel.

"K-kau terluka! Ayo ke UKS." Jerit Sebastian.

"Tak apa. Kau yang harusnya ke UK—Hei apa ini!"

Sebastian menggendong Ciel dan berlari menuju UKS. Ia tak menghiraukan orang-orang menatap mereka dengan pandangan heran. Dalam pikiran Sebastian, mengobati Ciel adalah prioritas utama.

"Pegangan yang erat."

.

.

Di UKS, entah mengapa tak ada dokter sama sekali. Mungkin mereka juga sedang makan siang, itu pasti mengingat ini masih jam makan siang. Mau tidak mau, Sebastian menurunkan Ciel di ranjang UKS dan mencari sendiri alkohol berserta perban.

Sebastian mencuci luka Ciel dengan air dan kapas, melumuri pelahan alkohol pada lukanya lalu memberi perban. Wajahnya terlihat sangat khawatir. Ciel semakin tidak enak dibuatnya. Semua setelah selesai, Sebastian duduk di samping Ciel dan meminta maaf.

"Itu bukan salahmu." Ujar Ciel.

Tadinya Sebastian ingin tersenyum sambil mengangkat bahu, hanya saja ia meringis ketika ia merasakan sakit di pundaknya. Sebastian memijit-mijit pelan pundaknya yang semakin sakit jika di sentuh.

"Itu sakit?" Tanya Ciel. Pertanyaan bodoh memang mengingat Sebastian terlihat tidak baik-baik saja. Tapi karena pertanyaan Ciel, jelas saja Sebastian yang tak mau terlihat lemah mengatakan tidak sakit. "Aku akan mengobatimu!"

"Ta-tapi—!"

Terlambat. Ciel turun dari tempat tidurnya dan mencari es batu diruangan itu. Untung *lagi-lagi untung* ada kulkas. Ciel segera mengambil handuk kecil dan membungkus es batu itu. Dan mengambil perban tentunya.

"Ayo lepaskan." Pinta Ciel.

"Ta-tapi—"

"Tidak ada tapi-tapian!"

Dengan berat hati, Sebastian membuka jas dan kemejanya. Tampaklah tubuh putih pucat dengan bentuk yang sangat bagus. Jelas, Sebastian kan sering berolahraga. Ciel merona melihat bentuk tubuh Sebastian yang indah, ia teringat dengan gendongan Sebastian tadi. Pantas saja ia sangat kuat, lihat saja tubuhnya itu. Jika Ciel yyang terjatuh mungkin ia sudah patah tulang. Ciel segera menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir pikiran aneh. Ah! Ini semua gara-gara Alois bicara aneh-aneh. Ciel jadi kepikiran deh.

Ciel mendekati Sebastian lalu mengompres pundak Sebastian dengan es yang tadi ia bawa.

'Ahhh….bodoh! kenapa aku mengompresnya dari depan? Lihat kan dia menatapmu sekarang sambil tersenyum!' Batin Ciel.

Dengan menguatkan hati dan menahan debaran di dadanya, Ciel berhasih membebat pundak Sebastian. Mengetahui itu sudah selesai, Sebastian memakai kembali kemeja dan jasnya.

ϮϮϮ

"Lain kali jangan kau lakukan itu ya!" Tegas Ciel ketika mereka sudah di kamar asrama mereka. Ciel berdiri menghadap Sebastian yang duduk di pinggir kasur.

"Makanya jangan ceroboh dong." Sebastian tertawa. Berbeda dengan Ciel yang cemberut karena mengetahui salahnya.

"Kenapa mau repot-repot menolong?"

"Aku gak akan membiarkan majikanku terluka. Pelayan memang harus ada di saat-saat itu kan?" Jawab Sebastian dengan senyum.

"Arrgghhh! Aku harus pindah kamar!" Jerit Ciel tak tahan. Bagaimana mungkin seorang tuan kaya bisa seperti ini!

"Hahaha…gak mungkin."

Ciel mengerutkan dahi menatap Sebastian. Kenapa gak mungkin? Bukannya itu mudah? Karena wajah Ciel seakan mengatakan 'kenapa bisa?' membuat Sebastian melanjutkan kata-katanya.

"Aku yang mengatur supaya kau sekamar denganku. Itu gak mudah lho, aku harus meminta kepala sekolah langsung untuk menempatkanmu di kamarku dalam waktu beberapa jam. Yahhh…untung saja mereka kerabatku. Jadi di izinkan. Hohoho…"

"A-apa?!"

"Kau pasti tahu, orang yang memiliki uang akan sangat mudah melakukan apa pun, 'kan?"

Sebastian hanya tertawa senang melihat Ciel yang shock. Menurtnya pemandangan yang sangat manis dan langka mengingat Ciel itu sosok yang sok dan nge-bossy.

"Dari pertama melihatmu di upacara penerimaan siswa baru, aku sudah jatuh cinta padamu. Kau yang tertidur saat penyambutan itu sangat manis!"

Pernyataan Sebastian membuat Ciel semakin shock. Ia berpikir bahwa orang dihadapannya ini benar-benar tak punya otak. Apa lagi dia sama-sama laki-laki. Apa setelah jatuh dari tangga otaknya bergeser?

"Argh! Jangan bercanda! Itu tidak lucu!"

"Aku tidak bercanda. Aku akan menuruti semua kata-katamu, jadi kemarilah dan peluk aku." Sebastian membentangkan tangannya lebar-lebar.

"Itu tidak akan terjadi!"

"Pasti terjadi."

Sebastian menarik pergelangan tangan Ciel dan mencium bibir kecilnya. Ciel yang menerima perlakuan itu memejamkan mata takut. Wajahnya merona dan jantungnya berdebar. Apa ini pertanda sesuatu?

"Karena kau milikku."

.

.

.

Gimana-gimana? Apakah bagus? Atau jelek?

Yah, saya sudah berusaha semaksimal mungkin membuatnya, semoga saja kalian senang. *berharap*

Apa harus dilanjutkan? Saya mengharapkan review kalian lho. *nunduk-nunduk*