LAST CHAPTER

WARNING! SEBELUM MEMBACA MOTHERFUCKER, SEBAIKNYA MEMBACA WELCOME TO OUR MADNESS UNTUK MENGETAHUI TITIK MULA SEMUA KONFLIK TERJADI.

.

Chapter 12: THE END

.

Motherfucker

An Action Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Are you ready to kill?"

A sequel of Welcome to Our Madness

.

.

.

Dan dia adalah Xiumin.

Jantung Luhan seolah ditusuk dua kali lipat, melihat adiknya terkapar di jalan dan anaknya berada di pangkuan orang tidak di kenal. Salahnya menghawatirkan Sehun dan sama sekali tidak memikirkan Xiumin yang ia tinggal di rumah.

Jongdae mendekat dan merengkuhnya. Tapi Luhan menjauhkan pelukan itu, meratap melihat Xiumin dan Sehun dalam ketakutan.

Daehyun segera keluar dari mobilnya. Dirinya masih panik akan bagaimana kondisi Junhong sekarang. Berusaha untuk melihat dari kejauhan apakah pemuda yang berlumuran darah itu masih bernapas atau tidak.

"A-apapun yang adikku lakukan… tolong maafkan dia. Jangan sakiti mereka… tolong…"

Mungkin Jongdae sudah melakukan sesuatu jika ia bisa. Namun ia tidak bisa memikirkan apapun untuk saat ini. Kondisi Sehun menghawatirkan—Jongdae tidak tahu apakah dia masih sadar atau tidak dalam kondisi tubuhnya berlumuran darah.

"Uhuk…" terdengar suara lemah salah satu dari tiga yang terbaring lemah di atas aspal. Namun suara itu lebih kentara untuk Daehyun, jadi ia yakin itu berasal dari Jungkook.

Dalam situasi ini hanya suara tangis memilukan Luhan yang terdengar, beserta tangis ketakutan dari Xiumin. Sedangkan lawan bicaranya masih tidak mau beranjak dari posisinya.

Jongdae memberanikan diri melangkah maju ke arah Sehun, dan pada detik itu juga suara Himchan terdengar. Membentaknya dan mengatakan bahwa Xiumin akan celaka jika ia berusaha mendekat.

Seketika Jongdae menghentikan langkahnya.

"Kumohon... a-apa salah kami? Tolong j-jangan libatkan a-anak kecil... kumohon... apapun dosa y-yang sudah adikku dan Jungkook perbuat sudah berlalu. M-mereka sudah dipenjara dan itu adalah balasan y-yang setimpal!" Luhan memohon keras hingga suaranya serak bercampur dengan tangisan. "Tolong hentikan semua ini!"

Himchan kembali tidak bergeming atau memberikan timbal balik dari percakapan tersebut. Xiumin menangis semakin keras, menyayat hati Luhan yang menginginkan anak itu kembali dalam pelukannya. Sementara disamping Himchan, Daehyun ketakutan setengah mati.

Pikirannya buntu. Yang ia inginkan adalah semua kegilaan ini berhenti. Jadi tubuhnya bergerak, berlutut perlahan dalam kesedihan. Jongdae memintanya untuk berdiri namun segera ditepis oleh pemuda cantik itu.

"Bunuh... saja a-aku jika memang k-kesalahan adikku sudah tidak bisa dimaafkan..."

Saat tubuhnya merendah untuk bersujud, suara parau dari Sehun terdengar. Samar, tergantikan oleh batuk yang menyakitkan.

Luhan melihatnya. Sehun berusaha untuk bangkit dari posisi tengkurap tetapi dengan semua luka di tubuhnya, ia kesulitan bahkan tak sanggup. Sehun terbatuk darah. Dengan kondisi yang sangat hancur itu, Sehun masih tidak mau menyerah.

"J-jangan berani kau... uhuk! J-jangan berani kau rendahkan h-harga dirimu untuk mereka! Uhuk..."

Pemuda yang memiliki ikatan kandung dengannya itu tidak peduli dengan segala omong kosong tentang harga diri. Yang ia butuhkan adalah keselamatan semuanya. Disaat ia bersikeras untuk tetap bersujud, suara Sehun yang terdengar menyakitkan kembali begeming.

"Jangan berani! Uhuk! J-jangan berani kau... uhuk..."

Sehun berusaha menguatkan seluruh otot tubuhnya untuk bangkit, tetapi yang terjadi tidak sesuai harapan. Ia terlalu lemah untuk melakukannya.

Luhan mengalihkan perhatiannya dari Sehun ke arah Himchan. Masih dengan menangis dan berlutut, ia bertanya pada sosok yang berwajah dingin itu.

"Apa m-maumu... hiks, apa yang kau mau," Luhan menelan ludah dengan susah payah. "Siapa kau..."

Tangisan Xiumin yang menjawab dalam keheningan dan ketegangan itu.

"K-kumohon kasihani kam—"

"B-Berhenti! Uhuk!" suara serak Sehun menginterupsi tangisan putus asa dari Luhan. Sehun bersikeras untuk tidak menurunkan harga dirinya maupun harga diri kakaknya dalam keadaan yang menyedihkan ini.

Lalu lenguhan lemah terdengar. Daehyun terkesiap, meliriknya dan suara Jungkooklah yang terdengar. Jungkook masih berada di dekat ban mobilnya, walau perhatian Daehyun sejak tadi berada pada tubuh Junhong yang terkapar tak jauh dengan Sehun, yang berada sekitar sepuluh meter dari dirinya dan Himchan beserta Xiumin dan lima meter dari Luhan dan Jongdae.

Lima belas meter jarak Himchan, Daehyun, Xiumin dan Jungkook terasa jauh dengan Luhan dan Jongdae beserta Sehun dan Junhong yang tak jauh dari mereka berdua.

Jungkook melenguh kembali. Namun ia mendapati pengelihatannya kabur. Tidak banyak yang bisa ia lihat. Berusaha mengerjapkan matanya perlahan dan keadaan masih sama.

Daehyun menghampiri Jungkook perlahan untuk menariknya dari kolong mobil tetapi Jungkook menolak untuk dibantu. Ia menggusur perlahan tubuhnya sendiri hingga berada pada sisi luar kolong mobil tersebut sambil mencoba menahan rintihannya.

Daehyun memilih untuk kembali diam dan memikirkan tentang kondisi Junhong disana yang sampai saat ini belum bisa diketahui. Pemuda itu tidak melenguh maupun bergerak sama sekali! Fuck, Daehyun benar-benar tidak tahu akan kondisinya sekarang.

Himchan melirik Jungkook yang kini sedang terbatuk beberapa kali sambil berusaha menumpu tubuhnya yang kini tengkurap. Suara dinginnya kemudian terdengar kembali, "Apa yang kau mau?"

Jungkook mendecih namun terkesan sarkatis. Tangisan Luhan semakin pilu dan hal itu membawa kebahagiaan besar pada diri Jungkook. Walau pandangannya buram, Jungkook masih tau apa yang terjadi disana.

"Aku ingin Luhan." ucapnya licik.

Yang seharusnya Jongdae gunakan dalam situasi yang tidak membuat dirinya diperhatikan adalah menghubungi polisi melalui ponsel di saku celananya. Tetapi saat ia akan melakukannya diam-diam, ekor mata Himchan yang selalu sigap itu berhasil menemukannya.

Dorr!

Satu tembakan mulus di paha Jongdae dari pistol yang Himchana keluarkan dari saku celananya.

Luhan menjerit dan hampir semua yang berada disana terkesiap. Tangisan Xiumin semakin keras bersama dengan gerakannya yang memberontak. Tetapi kekuatan orang dewasa memang tidak sebanding dengan seluruh tenaga yang anak kecil itu kerahkan.

Jongdae terjatuh. Luhan mau menghampirinya namun ia dalam kondisi yang lebih memilukan. Ketakutan. Ia berteriak, berseru dalam keadaan panik. "Okay, okay! Ambil saja aku tapi jangan sakiti Xiumin dan siapapun! Hiks!"

Sehun yang terluka parah disana masih belum bisa membawa tubuhnya bangun, seolah-olah ada ototnya yang putus dan membuatnya mati rasa dan sakit di bagian yang berbeda. Mata Sehun panas, sakit dan amarah menyatu dalam dirinya. Dan ia membentak kakaknya mati-matian agar tidak memohon.

Tawa dari Jungkook terdengar, walau terkesan pelan dam lemah. Namun tawa itu berhasil membuat Sehun geram. Mencoba merangkak melawan seluruh sakit fisik di tubuhnya.

Kemudian Himchan menghampiri Daehyun dan memberikan Xiumin yang meronta padanya. Daehyun menggendongnya, sama seperti Himchan tanpa berusaha membuat anak itu diam. Hanya menggendongnya. Dan dihampirinya Jungkook oleh pemuda berwajah dingin itu.

Dirinya masih dalam kondisi berlutut, memohon kembali agar mereka tidak melakukan apapun pada Xiumin. Sehun mencoba marah dan membentaknya lagi, walau darah terus keluar dari mulutnya di setiap usaha ia melakukannya.

"K-kemarilah." Suara Jungkook kembali terdengar, dilapisi dengan senyumnya yang mengerikan. Oh, Jungkook bangkit dari segalanya dalam segala situasi ini. Seolah ia sudah menang melihat Luhan memohon dan Sehun berusaha untuk tidak menyerah.

Luhan tahu permintaan itu untuk dirinya. Sehun meliriknya dan meminta untuk tidak melakukannya namun semua pergelutan itu terjadi di dalam diri Luhan. Ia tidak tahu mana hal yang harus dilakukan atau bukan. Yang ia utamakan adalah keselamatan semuanya, bukan dirinya.

Ia melirik Jongdae, merasa bersalah atas luka yang kini sedang Jongdae rasakan. Ia berucap pelan, memintanya untuk melindungi Sehun.

Jongdae pun tidak setuju dengan pilihan Luhan untuk mengikuti permintaan mereka. Namun Jongdae tak bisa melakukan hal lain selain diam dan mengikuti permintaan Luhan.

"Kemarilah, dan kubiarkan anak ini padamu." Jungkook kembali berucap.

Sehun membulatkan kedua matanya di tengah usahanya untuk bangkit. Pandangannya beralih dari Jungkook menuju Luhan.

"Gege! Itu jebakan! Uhuk! Jangan l-lakukan!"

Tapi pemuda itu berdiri perlahan. Tidak berniat untuk menyeka seluruh airmata yang membanjiri wajahnya, ia beranjak maju.

Himchan merendahkan tubuhnya dan mendengar apa yang Jungkook bisikan untuknya. Menerima permintaannya, Himchan memundurkan tubuhnya tanpa sepengetahuan siapapun. Semuanya hanya terfokus pada Luhan, Sehun dan Xiumin.

"Gege, berhenti! Berhenti! Uhuk..." Sehun membentak kesulitan. Menggeram lalu mengutuk tubuhnya yang tidak mau bergerak sesuai keinginannya, lalu membentak lagi. "Berhenti!"

Luhan tetap berjalan maju dengan semua ketakutan dalam benaknya. Apa yang ia lakukan mungkin bukan jawaban yang benar, namun ia tidak dihadapkan pada pilihan yang lain. Ia harus menyelamatkan Xiumin. Sehun berada di dekat Jongdae, ia bisa dikatakan selamat di sisi ini walau hal itu tidak menjamin. Yang kini harus direngkuhnya adalah Xiumin.

"Itu jebakan! Berhenti!" Sehun bahkan merasa seperti seluruh isi tenggorokannya dicabik keluar. Sakit yang teramat menyiksanya di kala ia berusaha berteriak.

Dan langkahnya kini membawa ia ke tengah-tengah posisi mereka.

Jungkook yang sudah bisa membawa tubuhnya bangun perlahan. Terduduk, melipat kakinya dengan gerakan pelan dan berhasil membawa dirinya dalam posisi duduk bersila sekarang. Sakit di sekujur tubuhnya ia tahan, walau sempat ia meringis. Dan kemudian menatap ke depan walau pandangannya kabur.

Disana Sehun sangat takut sehingga ia memaksa tubuhnya bergerak walau hanya berhasil sedikit. Jongdae menghampirinya dengan terseok, berhasil meraih ponselnya yang terlempar tak jauh darinya dan mencoba membantu Sehun. Tapi Sehun menepisnya dengan lemah.

Dia benar-benar tipe orang yang tidak mau kalah dan lemah.

Junhong yang tak jauh dari Sehun tetap tidak bergerak.

Luhan terisak, hampir tersedak oleh tangisannya sendiri. Daehyun pun menurukan Xiumin perlahan. Xiumin berontak namun di tahan oleh Daehyun pada bahunya.

"Mommy... hiks Xiumin takut..."

Sehun menjerit seperti orang putus harapan. Airmatanya turun tanpa bisa dibendung. Ia ketakutan. Pertahanannya hancur, ia lemah akan kakak yang sangat dicintainya. Ia takut semuanya terenggut kembali dari hidupnya.

Dan kakaknya sama sekali tidak menoleh ke belakang. Luhan berpikir Sehun sudah aman disana. Ia hanya tidak boleh mengalihkan pandangannya dari Xiumin yang kini berjarak sekitar tujuh meter darinya.

"T-tolong lepaskan Xiumin... hiks... a-aku sudah disini..."

Jungkook tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Dahinya mengerut saat sakit itu lebih besar dari pertahanannya namun ada kekuatan lain yang datang pada dirinya. Yaitu ketakutan dan tangisan Sehun.

"Kemarilah..." permintaan mengerikan Jungkook kembali terengar.

Jujur Luhan ketakutan, tapi ia membutuhkan Xiumin dalam dekapannya. Jadi ia kembali menurunkan tubuhnya. Sehun berteriak meminta berhenti namun tak berhasil menghentikan Luhan.

Luhan berlutut untuk segalanya.

"Tolong, lepaskan Xiumin dan ambil saja aku sebagai tebusannya."

Suara parau menyakitkan dari seseorang yang tersiksa melihat semuanya terluka. Melihat semuanya hancur setelah bertahun-tahun ia berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak ia pedulikan akan keselamatan dirinya selain orang-orang yang dicintainya.

Sehun merasa hancur melihat kakaknya memilih untuk bersujud pada orang-orang yang brengsek dan ingin dibunuhnya disana. Hancur. Tubuhnya bergerak perlahan walau belum bisa membawa perubahan banyak pada posisinya sekarang.

Jungkook tersenyum licik, memberikan isyarat pada Daehyun untuk melepaskan Xiumin. Daehyun menangkap sinyal itu dan melepaskan cengkraman tangannya pada bahu Xiumin perlahan.

Waktu seakan berjalan lambat saat Xiumin berlari ke arah Luhan. Luhan mengangkat tubuhnya yang semula bersujud untuk melihat apa yang terjadi. Sehun membulatkan matanya dan tawa Jungkook terdengar. Semuanya dalam waktu yang sangat lambat.

Bagai seluruh suara terenggut keheningan.

Bagai seluruh kegilaan terenggut kemarahan.

Bagai seluruh waktu terenggut kehidupan.

Dan semua waktu yang berjalan lambat terbanting dengan keadaan yang berbalik menjadi cepat. Himchan mengendarai mobilnya—berhasil masuk ke dalam mobil disaat semua tidak memperhatikannya—dan melajukannya cepat sampai menabrak Xiumin disusul oleh Luhan.

Menabrak.

Menggilas tubuh Xiumin dan Luhan yang setengah bersujud.

Jantungnya berdegup kencang melihat apa yang terjadi di hadapannya. Sehun berteriak tanpa suara untuk pertama kalinya. Lalu berteriak dan menjerit berdarah. Mencakar aspal. Menancapkan seluruh kukunya kesana seolah dapat menyalurkan sakitnya pada benda mati.

Tapi tidak.

Ini menyakitkan.

"TIDAK!"

Jongdae menjerit tak jauh seperti yang Sehun lakukan. Tangannya terasa dingin dan tubuhnya bergetar tidak karuan. Memikirkan apa yang harus ia lakukan, mungkin hanya menghubungi polisi.

Sehun merangkak, membawa tubuhnya, menjerit dan menangis. Jarinya terluka akan semua cakaran pada aspal yang kasar.

Jungkook suka.

Jungkook tertawa.

Apalagi ketika Himchan memundurkan mobilnya dan menggilas kedua tubuh itu lagi.

Suara tulang patah terdengar, entah milik siapa.

Hanya saja banyak sekali darah dan organ dalam yang terurai keluar.

"Memohonlah." Suara itu seperti setan dalam tubuh Jungkook yang gembira dengan semua ini.

Sehun merangkak mati-matian. Mencoba mendekatkan tubuhnya pada kedua tubuh yang hancur itu. Berusaha marah dan membunuh Jungkook saat itu juga.

Jongdae berhasil menghubungi polisi dan Himchan berhasil menembaknya tepat di kepala saat ia keluar dari mobil.

Ada banyak kemarahan disana. Sehun melihat bagaimana Luhan dan Xiumin masih hidup dalam kondisi itu, dan Himchan mengikuti arah pandangan Sehun.

Sehun menjerit. Marah. Menangis. Menggerakkan lututnya kasar agar mau menumpu beban tubuhnya, tapi reaksi lain dari tubuh itu menolak.

Jungkook mencoba bangun dan merangkak. Tertawa lagi lalu mencoba sekuat tenaga untuk berdiri. Hanya berhasil melakukannya beberapa detik dan kemudian kembali terjatuh. Tapi ia tertawa. Puas. Ia merasakan kemenangan seluruhnya padanya. Jungkook merangkak lagi mencoba mendekat ke arah Luhan dan Xiumin.

"Gege! Gege! Maafkan aku! Gege bangun!"

Jeritan Sehun menggila. Dia berhasil merangkak walau kembali jatuh. Mengutuk seluruh otot tubuhnya yang tidak mau mengikuti rasa sakit hatinya untuk menyelamatkan Luhan.

Jungkook terjatuh lagi saat ia mencoba untuk berdiri.

Tapi hal itu tidak memberi kegundahan pada dirinya.

Jadi Jungkook berhenti, meresapi sakitnya sedikit walau rasa menang lebih menguasai dirinya.

Himchan melempar sebuah pemantik pada Jungkook. Terjatuh di dekat tangan Jungkook yang menumpu tubuhnya dalam posisi merangkak. Jungkook tertawa lagi. Membawa tubuhnya dalam posisi duduk sedikit demi sedikit lalu memainkan pemantik itu.

Rintihan kecil terdengar dari Luhan, di bawah mobil itu. Semuanya tahu Luhan masih hidup, namun entah pada Xiumin.

Sehun menangis hingga seluruh airmata bercampur dengan darah, air liur dan ingusnya. Semuanya berantakan. Sehun hampir membawa tubuhnya mendekat kesana.

Dan Jungkook yang menyaksikannya memutuskan untuk menyusul Sehun.

Dia memaksa tubuhnya kembali untuk merangkan mendekat.

Sehun tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia hanya perlu merengkuh kakaknya. Mengetahui rasa sakit yang di deritanya.

Dan Jungkook sampai lebih dahulu.

Jemari Luhan terlihat bergerak, menggenggam lengan kecil Xiumin dengan lemah. Jungkook akan tersentuh jika ini terjadi pada orang lain. Karena dalam dirinya ia bukan seorang pembunuh. Tapi Sehun yang memaksanya melakukan hal ini. Sehun yang membuatnya menjadi monster setelah semua kegilaan bertahun-tahun yang lalu.

"Memohonlahh padaku." Jungkook berucap, menarik rambut Luhan yang berlumuran darah.

Luhan terluka parah, bisa Jungkook lihat. Namun lebih parah pada anaknya.

Sehun tidak tahu apa yang Jungkook akan lakukan sekarang. Ia hanya perlu kakaknya. Membunuh Jungkook sekarang jika ia sanggup.

Sehun tidak mau menyerah.

Dan keangkuhan itu membunuh diirnya perlahan.

Ia menyaksikan Jungkook menyalakan pemantik dan mulai membakar ujung rambut Luhan yang berlumuran darah. Sama seperti yang Sehun pernah lakukan dahulu kepada teman-temannya.

Jungkook melemparkan pemantik itu pada kedua tubuh hancur yang tergilas itu lalu menggulingkan tubuhnya sekuat tenaga ke samping agar tidak terkena api yang dalam hitungan detik membesar itu.

Tubuh Luhan terbakar bersama Xiumin.

Sehun merasakan hidupnya hancur saat itu juga. Tubuhnya melemah tak sanggup untuk kembali merangkak. Seluruh tubuhnya mati rasa, melihat dengan kedua matanya bahwa kakak yang sangat ia cintai terbakar hidup-hidup dalam kondisinya yang sekarat.

Jungkook tidak peduli dengan luka dan sakit dari tubuhnya. Tawanya menghiasi seluruh kekejaman itu. Walau pengelihatannya masih samar, walau batuknya terdengar menyakitkan, walau tubuhnya terasa remuk, namun ia merasakan kemenangan yang tidak terbendung lagi.

"Semuanya sudah berakhir, Sehun! Kau!" Jungkook tertawa. "Kau kalah dari semua sakit dan kesedihan yang kau mulai!"

Setelah kalimat itu terlontar, suara sirene mobil polisi terdengar dari kejauhan. Daehyun melirik Himchan, dan segera ia masuk ke dalam mobilnya sendiri. Ia melajukannya ke arah Junhong yang masih tidak diketahui kabarnya, turun hanya untuk mengangkut tubuhnya ke dalam mobil, lalu memutar balik dan menghampiri Himchan yang masih berdiri di samping mobilnya yang mulai terbakar bersama Luhan dan Xiumin. Himchan masuk ke dalam mobil dan Daehyun melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan lokasi itu.

Hanya Jungkook dan Sehun yang masih bernapas disana.

Sehun yang menjerit dan menangis bagaikan orang kehilangan akal sehat. Dan Jungkook yang tertawa seperti orang kesetanan.

Polisi datang mengepung dalam jumlah yang banyak.

Hanya saja, Sehun dan Jungkook ambruk dalam kondisi yang berbeda.

ooo

JUNI 2

Bunga-bunga mulai bermekaran untuk menyambut musim panas. Hangat menyentuh permukaan kulit terasa nyaman di awal musim ini. Begitupula dengan suasanya yang berada di sekitar. Anak-anak bermain dengan gembira. Canda tawa berasal dari siapapun, tidak peduli seberapa muda atau tua usia mereka. Karena kebahagiaan sesungguhnya muncul saat kau berada bersama orang-orang yang kau cintai.

Tidak seperti yang terjadi pada sisi yang berbeda.

Mungkin apa yang terjadi dari seluruh kegilaan ini memberi hasil yang berbeda untuk semua pihak.

Tidak ada lagi kebahagiaan sejak semua kemarahan ini terjadi. Tidak ada ketenangan dan kenyamanan seperti dahulu.

Daehyun tersenyum kecut sambil menggenggam setangkai bunga liar yang ia petik di jalanan. Badman bukanlah kelompok yang manja, sekalipun hal seburuk ini terjadi. Ada perasaan bersalah dari Daehyun walaupun kelompoknya tidak menunjukan rasa benci padanya. Begitu pun dengan Yongguk.

Junhong meninggal di rumah sakit setelah sebelumnya Youngjae berusaha untuk menyelamatkannya. Namun semuanya terlambat. Sudah tidak ada kesempatan bagi Junhong untuk melanjutkana hidupnya.

Hal itu memberikan Daehyun kesedihan.

Junhong adalah tipe orang yang tidak ingin kalah, mengikuti segala egonya dan terkadang ceroboh. Tapi Daehyun yakin, masih ada bagian kecil dari Junhong yang baik di matanya. Ia hanya ingin diperlakukan sebagai seseorang yang hebat. Ia hanya ingin orang-orang mengakui semua usaha dari pahitnya semua yang telah ia lalui dahulu.

Begitupula dengan sikapnya pada Jungkook.

Jungkook adalah salah satu orang yang bisa mendorongnya hingga sejauh ini. Walau ia bersikukuh bahwa Jungkook kini berada di bawahnya, Junhong tidak akan pernah melupakan apa yang berhasil Jungkook lakukan padanya.

Seperti sebuah skateboard kesayangan Junhong. Tertempel sebuah note berisi tulisan tangan dari pemuda jangkung tersebut. Daehyun tahu Junhong berniat untuk memberikannya pada Jungkook setelah semua berakhir. Sebagai salam perpisahan atau kemenangan? Entahlah. Yang pasti disini adalah Junhong tidak akan mungkin bias memberikannya seorang diri.

Oleh sebab itu, kemarin Daehyun datang ke rumah sakit dan menyamar. Menyelinap masuk dan berhasil berbicara dengan Jungkook—yang keadaannya sangat buruk. Bukan dari fisiknya saja, mungkin mentalnya agak sedikit tertekan.

Jungkook sering tertawa sendiri lalu menangis. Dan saat Daehyun memberikan skateboard tersebut, Jungkook menangis membaca note yang tertempel itu. Bisa kau jaga ini untukku?

Hal menyedihkan yang Daehyun tahu lagi bahwa tepat hari ini Jungkook memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri di rumah sakit. Tidak tahu bagaimana pastinya, tetapi Daehyun mengerti akan karakter Jungkook sejauh ini.

Ia hanya melakukan pembalasan dendam untuk teman-temannya.

Dan semua kemenangan ini membuatnya merasa kosong. Hanya puas sesaat yang ia rasakan. Ia kehilangan semuanya. Terlebih bahwa satu-satunya yang kini tertinggal—Junhong—sudah pergi mendahuluinya.

Keadaan tak jauh berbeda untuk Sehun sendiri. Sehun kehilangan hal penting dari hidupnya. Kematian kakak tercinta di depan kedua matanya dan akal sehatnya.

Kakaknya meninggal di tempat beberapa saat setelah yang lainnya melarikan diri, beserta Xiumin maupun Jongdae. Dan mental Sehun tidak bisa menerimanya.

Ia masih berada di rumah sakit untuk waktu yang tidak bisa diperkirakan sampai saatnya untuk dipindahkan ke rumah sakit khusus untuk perawatan gangguan mental serius.

ooo

Tidak ada kemenangan yang dihasilkan dari membalaskan dendam.

THE END

. MOTHERFUCKER .

ooo

Hellow~

Mungkin diantara Zelo, Sehun dan Jungkook, akulah yang paling jahat wkwkwk karena membiarkan kalian penasaran dalam waktu yang cukup lama

Yes! This is the ending! Tidak ada pemenang yang sesungguhnya.

Well, yang mau cuap cuap lebih banyak contact me at:

Ask . fm : littlerape

Facebook : Yuri Mamasochist

Twitter : littlerape

Maaf karena pergi untuk waktu yang cukup lama

Terima kasih telah menunggu :)

Love and kiss, Yuri Masochist