Feeling

Disclaimer: Harry Potter © J.K Rowling

Author: VJMalfoy

Rated: T semi M

Genre: Romance (sedikit ragu memastikan Hurt/Comfort)

Pair: Dramione

Warning: Typo, OOC, Muggle World

Tidak ada keuntungan apapun yang saya ambil dalam pembuatan fic ini.

Summary: Hermione Granger adalah model terkenal yang sensitif dan rumit dalam masalah percintaan. Sementara Draco Malfoy adalah pemuda yang santai dengan banyak teman, dikelilingi perempuan-perempuan seksi, pemuda yang menggantungkan hidupnya pada dunia malam, bekerja sebagai seorang DJ. Mampukah Draco menjaga perasaan Hermione? Mampukah Draco mengerti posisi Hermione? Mampukah Hermione menjelaskan tiap detail perasaannya? Apa hubungan mereka bisa berlangsung dengan baik? Paparazzi terus mengejar! Bad summary.


Chapter 11

HERMIONE GRANGER

Kukerahkan seluruh tenaga yang kumiliki untuk segera tiba. Thank god karena Draco berada di lokasi yang tidak jauh dari The Burrow. Jantungku berdetak dalam ritme yang tak teratur, berdebar keras seolah dia ingin keluar dari dalam dadaku. Pikiranku dipenuhi dengan hal-hal yang kutakutkan, hatiku terisi dengan rasa khawatir yang rasanya ingin membuatku menangis.

Aku berlari secepat yang aku bisa, tak mempedulikan orang-orang yang secara tak sengaja harus kutabrak bahunya. Hatiku bergemuruh, sama sekali tak tenang. Jaga dia, Merlin. Jaga dia. Tak ada yang bisa kulakukan selain terus mengucap doa dalam hati.

Lingkar kerumunan di depan mata menjadi tanda bahwa disanalah Draco berada. Aku memelankan laju lariku ketika aku hampir sampai dan membelah kerumunan, membuat celah bagiku sendiri agar mampu mendekat.

Mataku membulat tak percaya, jantungku berdetak menggila, tak perlu menunggu beberapa detik untuk membuat air mataku jatuh turun menangis. Aku berlutut. "Draco…." Aku tak menemukan kata yang tepat untuk diucapkan. Aku kehilangan seluruh kata-kata.

Darah mengucur dari kepala dan hidungnya, wajah pucatnya semakin pucat, tatapan matanya meredup. Oh Tuhan, tolong dia. Tolong dia, tolong. Aku mengambil tangannya, menggenggamnya erat. "Stay with me, Draco."

Sirene ambulans yang terdengar memecah kerumunan, terlebih ketika petugas paramedic datang memberi pertolongan. Mereka memindahkan Draco ke atas bangkar dan aku ikut masuk ke dalam mobil ambulans ketika Draco telah dibawa masuk ke dalam.

Sepanjang perjalanan aku berusaha menghentikan tangis, memegang tangannya sambil terus menatapnya. Matanya terpejam, sesekali dia membukanya dan menatapku. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya, namun aku bisa mengerti arti pandangannya.

Ketika ambulans akhirnya tiba di rumah sakit, mereka segera membawa Draco turun, aku mengikuti dari belakang, ikut memegang bangkar yang membawa Draco masuk ke unit gawat darurat. Langkahku terhenti ketika seorang suster menghentikanku, melarangku masuk.

Dan aku hanya bisa dengan bodoh berdiri di depan pintu, jatuh terduduk sambil menekuk lutut, menangis ketakutan. Bahuku bergetar keras, bibirku gemetar. Tangisku tak mereda, mengekspresikan rasa takut dan khawatir yang melandaku dengan hebat. Aku tak ingin kehilangannya, aku tak ingin sesuatu terjadi padanya.

Untuk sesaat aku tenggelam dalam kesedihanku. Bayangan Draco yang berdarah dan terluka menghantui kepalaku. Itu menakutkan, sungguh. Terlebih sorot matanya yang tak bisa kulupakan. Oh Tuhan, jaga dia untuk tetap baik-baik saja.

Aku menggeleng kecil, menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku berusaha mengusir bagaimana bayangan Draco tergambar jelas di benakku.

Tenanglah, Hermione.

Tidak, Draco terluka. Parah.

Hermione, Draco sudah berada di tangan yang tepat.

Bagaimana jika terjadi sesuatu?

Dan aku hanya bisa menenggelamkan kepalaku lebih dalam pada lututku, menekuk diri serendah yang aku bisa, berusaha menghalau pikiran-pikiran burukku, meski aku tahu aku tak bisa mengatasinya. Mereka terus datang ke dalam kepalaku.

Untuk beberapa menit aku berada dalam pikiranku yang kacau. Aku berusaha mengendalikan diri, menenangkan diriku dengan menganggap semuanya akan baik-baik saja ─nanti. Ketika aku sudah cukup tenang, aku memiliki tindakan yang tepat untuk kulakukan. Aku menghubungi Elle dan memintanya untuk menghubungi keluarga Draco. Elle berjanji akan datang secepat yang dia bisa. Dan itu sungguh melegakanku, membuatku semakin tenang dan menghilangkan kecemasanku.

Menunggu Elle datang terasa begitu lama bagiku. Aku tak henti-hentinya melirik ke arah pintu ganda kaca di depanku. Dan nafas lega langsung terhembus begitu aku melihat Elle datang dengan tergesa bercampur panik. "Hermione." Elle memelukku.

Aku memeluk Elle dengan bergetar, melepaskan ketakutan yang melandaku. "Sshh, tak apa, sayang. Draco pasti baik-baik saja. Serahkan semuanya pada dokter, ya?"

Dan aku hanya bisa mengangguk, tak ada kata yang keluar dari mulutku. "Orang tua Draco dalam perjalanan, mereka akan tiba sebentar lagi. Ayo, 'Mione. Jangan buat mereka semakin panik dengan tangisanmu."

Elle melepaskan pelukannya sehingga aku bisa mengusap wajahku yang basah. Dia memberikan tisu untuk membantuku. Lalu benar saja, orang tua Draco datang. Mereka berlari menghampiri kami. "Dokter sudah keluar?" Tanya Mr. Malfoy.

Aku menggeleng. "Belum. Mereka masih di dalam."

"Terima kasih sudah menolongnya, Miss Granger." Mrs. Malfoy menggenggam tanganku, dia terlihat khawatir namun tetap berusaha tenang.

"Ya, Mrs. Malfoy. Sama-sama. Kita hanya bisa menunggu sekarang." Jawabku berusaha tersenyum. Kami berempat menunggu sembari duduk di kursi yang tersedia. Masing-masing dari kami tak ada yang bersuara, seolah ketenangan adalah apa yang begitu penting bagi kami. Sesekali aku mendengar gumaman Mrs. Malfoy yang jelas begitu gelisah dan khawatir, sementara Mr. Malfoy berusaha menenangkan.

Menit-menit terasa merangkak begitu lambat karena dokter tak kunjung keluar. Aku berulang kali melirik ke arah pintu, berharap dokter segera keluar dan memberi tahu kami sesuatu. Tapi harapanku masih belum terjawab. Dan justru hal lain terjadi, satu hal yang menurutku memperburuk keadaaan.

Paparazzi.

Kabar sungguh menyebar begitu cepat. Oh Tuhan, bisakah mereka membaca situasi sekarang? Saat ini bukanlah saat yang tepat untuk mencari informasi! "Paparazzi sialan!" Kudengar Mr. Malfoy mengumpat kesal. Aku sendiri tak mengerti bagaimana bisa secepat itu mengetahuinya.

Mr. Malfoy berdiri, berjalan menghampiri mereka dengan langkah lebar dan menghentak. Ini bukan hal yang baik jika Mr. Malfoy menghadapi mereka secara emosional. Melihat itu, aku langsung berdiri menyusul Mr. Malfoy, mencegahnya sebelum dia berbuat sesuatu yang salah. "Mr. Malfoy, tolong tahan kemarahanmu. Aku tahu anda sedang kesal, tapi menunjukkannya di depan publik akan merusak citramu. Situasi juga tidak akan membaik."

Mr. Malfoy yang semula begitu tegang kini mencoba untuk mendinginkan kepalanya. Dia mengambil nafas dalam-dalam dan menghelanya, memejamkan matanya sebentar mencoba untuk rileks. "Terima kasih, Miss Granger."

Aku memasang senyumku sebagai jawaban. "Akan kuminta Elle memanggil petugas keamanan untuk menghalau mereka. Jangan katakan banyak hal pada awak media, Mr. Malfoy. Atau mereka tidak akan berhenti untuk bertanya."

"Ya, Miss Granger." Mr. Malfoy menjawabku diiringi anggukan kepala. Setelahnya aku membiarkannya pergi menghampiri para awak media sementara aku kembali ke tempat dudukku dan meminta Elle untuk mendatangkan para petugas keamanan. Elle selalu bisa diandalkan, itu yang membuatku menyayanginya.

Dari kejauhan, aku melihat para paparazzi mengerumuni Mr. Malfoy, tak sabar melontarkan pertanyaan mereka sembari mengambil gambar. Kilatan cahaya kamera berulang kali menerangi sekilas pintu masuk unit gawat darurat. Mrs. Malfoy menoleh kesana dengan harap-harap cemas.

"Petugas keamanan akan segera datang, Mrs. Malfoy. Anda tak perlu khawatir." Kataku menenangkannya.

"Ya, Miss Granger. Terima kasih. Kau berbuat banyak untuk keluarga kami malam ini."

Aku menggeleng mendengar ucapannya. "Ini bukan apa-apa, Mrs. Malfoy."

Suara yang lebih gaduh kembali datang dari pintu masuk unit gawat darurat. Sekali lagi aku menoleh dan ternyata para petugas keamanan telah datang untuk mengatasi situasi. Mr. Malfoy kembali masuk setelah para petugas keamanan mengambil alih situasi di depan.

Mr. Malfoy datang dan kembali duduk di samping istrinya. "Mereka banyak bertanya." Dia bercerita.

"No wonder, Mr. Malfoy. Anda tidak banyak menjawab mereka, kan?" Elle menjawab.

"Tentu tidak."

Obrolan kami kemudian terinterupsi dengan keluarnya dokter. Oh Tuhan, terima kasih. Akhirnya yang ditunggu-tunggu telah datang. Kami semua bangkit berdiri dengan segera dan menghampiri beberapa tim dokter yang menangani Draco.

"Dia kehilangan banyak darah, tapi untunglah bahwa persediaan darah di rumah sakit ini cocok dengan Mr. Malfoy. Lalu Mr. Malfoy mengalami patah tulang pada bagian selangkanya dan kami telah melakukan operasi padanya. Kondisi vitalnya stabil, jadi dia akan segera membaik. Sebentar lagi kami akan memindahkannya ke ruang rawat. Namun tolong jangan biarkan pasien dijenguk oleh terlalu banyak orang. Dia sangat membutuhkan istirahat saat ini."

Aku menahan nafas selama dokter menjabarkan keadaan Draco pada kami. Detak jantungku berdetak cepat mendengar setiap kata yang keluar. Satu-satunya hal yang ingin kulakukan saat ini adalah melihat bagaimana keadaan Draco, itu akan sangat melegakan bagiku. Membayangkan apa saja yang barusan dia lalui selama berada di dalam membuatku penuh dengan kekhawatiran.

"Terima kasih dok." Elle berucap pada dokter sambil merangkulku. Sementara aku tak bisa berkata apa-apa. Rasanya lidahku kelu untuk mengucapkan sebuah kata. Mrs. Malfoy di sebelahku menangis di dada suaminya, dia sangat terpukul.

Dokter pergi meninggalkan kami untuk melanjutkan tugasnya. "It's okay, Hermione. Kau sudah dengar tadi, Draco berhasil melalui semuanya. Tolong jangan cemas lagi. Aku begitu sedih melihatmu begini." Elle kembali mencoba menenangkanku. Dia menggiringku kembali untuk duduk, menunggu hingga Draco dipindahkan ke ruang rawat. Kedua orang tua Draco kini pergi untuk mengurus perpindahan ruang rawat Draco dan menangani administrasi.

Oh, Draco.

Aku menunduk dan membiarkan satu lagi tetes air mataku jatuh turun.


the end of chapter 11

sebelumnya saya minta maaf, author notes kali ini mungkin akan sedikit panjang. tapi kalian boleh melewatinya kalo mau. saya minta maaf karena menghilang berbulan-bulan. Jadi, kenapa saya menghilang lagi? ini karena ... begini awalnya. Feeling saya ketik di masa-masa sukar saya. dalam jatuh-bangun dan perubahan diri saya. apa yang terjadi di dunia nyata saya begitu menyita konsentrasi. saya harap saya tidak harus menjelaskan detailnya. sebenarnya saat itu, begitu saya mengupdate Feeling chapter 10, saya sudah langsung mempersiapkan chapter 11. saya ketik apa ide saya. Memang belum semua, baru separuh karena saya sempat terhambat alur. saya bingung dan tidak nyaman dengan tulisan saya di bagian akhir dari separuh itu. berulang kali saya ketik, tapi kemudian saya hapus kembali karena saya merasa tidak tepat, tidak suka, dan tidak 'srek'. saya berpikir berulang kali apa yang harus saya tulis, bagaimana caranya, ide apa yang cocok. sesuatu hilang pada saat itu. tulisan saya tidak menyenangkan untuk dibaca. saya tidak menyukai gaya menulis saya. jadi saya putuskan untuk menunda hingga saya dapat ide yang cocok dan tepat. saya tidak mau hanya sekedar menulis dan membagikannya pada kalian. karena saya harus menulis dengan hati, sehingga saya bisa mendapatkan kepuasan itu. dan baru sekitar 2/3 hari yang lalu saya dapat ide yang cocok. sungguh waktu yang lama (saya minta maaf untuk masalah waktu) dan akhirnya begitu saya memiliki waktu, saya langsung kembali melanjutkan ketikan saya. dan beginilah hasilnya. maaf kalau ini masih tidak cukup untukmu, tapi buat saya untuk chapter 11, ini cukup. ini sedikit lebih panjang dari biasanya.

balasan review:

eluciusm6: hai, salam kenal juga. hahah sengaja di-cut biar penasaran terus kepo deh sama lanjutannya. hahah xD

yellowers: semoga pertanyaanmu terjawab di chap ini ya :D maaf ngga ASAP

Guest: hehehe masih kepo?

ZeZorena: hehe sengaja biar pada penasaran :D

swift: oh darling, i'm so sorry saya nggap fast update huhu :(

raneydhr: haiii makasih ya sudah suka dengan cerita ini :) maaf ngga asap :(

ElectraMalfoy: haiiii maaf baru next :(

frisca: jadi lindsay itu siapa? :D hehehe. maaf ngga cepet update ya :(

Lippy Candy: baru update niii

tania: ini udah dilanjut :)

kyoko: hai kyoko maaf ya baru next :(

ujichan: sudah baca tuntas? hehe

Arinamour036: sibuk di dunia nyata ya? hehe sudah update nih

Mega Malfoy: hahah betull. Dramione adalah perjuangan :D