Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. We don't own anything except our stories.

Author : charlottecauchemar'14

ID : 1733740


Aiai Gasa

Sasuke menggerutu pelan begitu matanya menangkap pemandangan tetes air turun beriringan di halaman sekolah. Hujan lagi. Boneka teru teru bozu yang dipasangnya di beranda kamar tidak berguna.

Sasuke benci hujan. Rambut yang sudah susah payah ia tata sepagian pasti berantakan.

Sambil memanyunkan bibir, bocah itu mengambil payung biru di dalam tas. Itachi yang menyuruhnya. Anikinya itu bilang hari ini pasti akan hujan.

Bahkan kakak laki-lakinya lebih hebat dari teru teru bozu.

Ia membuka payung itu kemudian berjalan dengan langkah lebar menyusuri halaman. Baru sampai di depan gerbang, sebuah suara nyaring memanggilnya, diiringi cipakan kaki yang semakin mendekat.

"Teme~ aku ikut sampai rumah, ya?"

Sasuke hanya mengangkat bahu, tidak peduli. Toh, Naruto tidak membutuhkan jawabannya. Anak laki-laki itu seenaknya bernaung di bawah payung Sasuke dan berjalan di sampingnya.

Naruto tidak bisa berjalan dengan tenang. Langkahnya selalu disertai dengan loncatan dan pekikan kecil. Bibir mungilnya tidak berhenti bercerita tentang Iruka-sensei yang memberinya bintang di kelas, Tsunade-baachan yang hobi memberikan PR banyak kepadanya, dan payung oren kesayangannya yang patah gara-gara Sakura—anak perempuan itu memukul Naruto dengan payung karena berusaha kabur dari tugas piket.

Mata Sasuke memandang lurus ke depan, memperhatikan rintik hujan yang tidak menunjukkan tanda akan berhenti dalam waktu dekat. Meski sesekali, dari ujung matanya, ia melirik Naruto yang masih asyik mengoceh.

Naruto memang berisik, tapi Sasuke tidak pernah keberatan dengan hal itu.

Ah. Ia tidak ingin cepat sampai di rumah.

.

.

"Nah, sudah sampai!"

Sial. Memangnya 15 menit bisa berlalu secepat ini, ya?

Naruto menepuk-nepuk pundak Sasuke, pelan. "Terima kasih atas tumpangannya, Teme!"

Lagi-lagi, ia tidak menjawab karena Naruto keburu berlari menuju pintu rumah dan membukanya diiringi suara nyaring. "Aku pulang~"

Bahu Sasuke merosot.

.

.

Hal yang pertama dilakukan olehnya ketika masuk ke kamar adalah membuka jendela—sama sekali mengindahkan angin kencang dan tetes hujan yang menerpanya—kemudian menarik putus sebuah boneka teru teru bozu di beranda.

Sasuke berjalan menuju tempat sampah dan melempar boneka itu dengan pasti.

"Semoga besok hujan lagi."