Good Reading, Minna :)

1∇Conqueror Of Darkness∇1

Ketika Gerbang Kekacauan Terbuka

Prologue #1 :

Diatas menara emas yang paling tinggi, di pusat kota itu...Berdirilah sebuah sosok yang memakai jubah dan penampilan serba hitam. Matanya yang merah darah berkilat penuh misteri dan tipu muslihat ketika ia menunduk menatap pemandangan kota di bawahnya dengan tatapan misterius. Dia tahu, yang diinginkannya ada di bawah sana, yang sudah dia awasi sejak lama, sampai prosesnya telah matang...

Sosok itu tersenyum lebar, bahkan mungkin lebih tepatnya menyeringai.

"Akhirnya Sang Kepompong telah menetas menjadi kupu-kupu...Sang Gerbang..." bisiknya.

Setelah berdiam diri selama beberapa saat, sosok hitam itu melompat bagai tanpa bobot dari menara itu, menuju kota yang diselimuti kegelapan malam di bawahnya...

Kebangkitan Sang Penghancur

Tidak akan dibiarkan

Sang Ancaman tanpa pendirian

Pasti akan dihapuskan

Pertahankanlah keberadaan kita

Dari kekeraskepalaan murni Sang Kejahatan

Jika jiwa kita goyah

Maka Kita akan menghadapi Altar Sang Iblis.

Chapter 1

"Crimson Eyes"

Ichigo

—Ichigo POV—

Pandanganku terpancang pada cermin besar yang ada di hadapanku. Kudapati sepasang bola mata yang sangat kukenal balas menatapku. Tidak seperti mata manusia pada umumnya, kedua mata itu beda warnanya, berwarna ungu gelap pada sebelah kiri dan hijau terang pada sebelah sang pemilik bola mata yang aneh itu masih muda. Belum dewasa, tapi sudah jelas bukan anak-anak lagi. Remaja berumur belasan itu memegang kerah jaket—yang mirip jubah—hitam yang ia kenakan. Terlihat amat gothic. Jari-jarinya yang putih menarik tudungnya sampai kedua matanya yang ganjil pun terhalang dari pandangan. Rambutnya yang oranye seperti warna jeruk sekarang setengah tertutup, hanya poninya yang panjang yang terlihat dari celah tudung jubahnya.

Ya, sudah cukup gayanya.

Kualihkan pandangan dari cermin itu, dan kulirik bagian dalam kantong jaketku. Semua yang harus kubawa sudah lengkap.

Kulirik arloji hitam di tangan kananku. Masih belum waktunya untuk pergi, tapi aku sudah siap. Aku masih punya seperempat jam sebelum pergi...Ah, apa salahnya bersantai sejenak?

Kuputuskan untuk segera berangkat. Segera kusambar tas soren hitamku dan bergegas keluar pagi yang segar menyambutku ketika aku berjalan keluar, sungguh sambutan yang menyenangkan dari dunia ini. Matahari belum terlalu tinggi, namun bagian utara dari kota Karakura ini, kotaku, sudah cukup ramai dari yang seharusnya. Orang-orang, baik para pekerja kantoran, pelajar ataupun orang tak jelas sudah berlalu-lalang di jalan, mengurusi urusan mereka sendiri.

Kota kelahiranku yang tercinta, di sebuah pulau kecil yang dikelilingi pantai berpasir putih, bernama Ruino, satu-satunya kota disana, juga ibukotanya. Pulau ini berada tak terlalu jauh dari Jepang. Nah, konon katanya, pulau ini merupakan pecahan dari pulau Jepang. Kenapa bisa begitu, sebab, menurut sejarah dunia, berabad-abad yang lalu, dulu sekali, pernah terjadi suatu bencana alam yang amat dahsyat, dinamakan Gempa Darkcrack. Karena saking dahsyatnya, terjadilah pulau ini.

Sekarang soal kotanya. Kota Karakura ini dijuluki sebagai Kota Modern Amerika. Sebab, di kota ini banyak sekali unsur budaya yang berasal dari negara Paman Sam tersebut, seperti perkelahian antar geng mafia, klub malam untuk mabuk-mabukan, kasino untuk judi, dan masih banyak lagi macamnya. Aku malas mengingatnya lagi, terlalu merepotkan.

Dulu, pendiri kota ini berasal dari bermacam-macam suku, bangsa, dan negara. Seperti Spanyol, Jerman, Inggris, dan tentu saja, Jepang. Karena itu jangan heran jika bisa ditemukan beragam bahasa dan budaya di pulau ini.

Oh, aku lupa satu hal. Tentang salah satu pihak pendiri kota ini yang paling berpengaruh. Aku lupa darimana asal mereka, tapi mereka menamakan diri mereka "HIKARI", padahal mereka bukan orang Jepang. Yaa, mungkin karena mayoritas penduduk di pulau ini orang Jepang...Seakan untuk menanamkan pengaruh mereka, mereka mendirikan sebuah menara emas tinggi dengan ujung runcing di pusat kota. Entah apa niat mereka melakukan itu, dan entah kenapa juga tak ada yang protes. Well, apa itu sudah cukup banyak?

Aku menghentikan langkahku dan menatap langit yang menaungi Kota Karakura. Matahari masih belum sepenuhnya bangkit. Kulirik lagi arlojiku. Masih ada sepuluh menit sebelum waktunya aku pergi.

Mataku memperhatikan sekeliling. Campuran dari berbagai macam bangunan dari gedung megah sampai rumah yang sederhana tampak memenuhi alun-alun Kota Karakura bagian utara. Meskipun modern, tapi disini selalu dibiarkan pohon-pohon dan tumbuhan tumbuh secara natural. Ini salah satu yang kusuka dari kota ini. Semuanya berusaha menekan polusi seminimal , jika ada yang sengaja mempolusi alam secara berlebihan, bisa jadi akan dihukum dengan berat. Itu hukum di kota tanaman yang menjalar dibiarkan tumbuh begitu saja, merambat pada dinding-dinding gedung. Burung-burung berkicau dengan merdunya, dan banyak lagi makhluk kecil lainnya dimana-mana. Pemandangan yang menyejukkan.

Di antar pemandangan-pemandangan itu, salah satunya berhasil menarik perhatianku. Sebuah papan kayu bertuliskan "MAGNOLIA" besar dengan tulisan yang lebih kecil dibawahnya : Menu Spesial Hari Ini—Nasi Goreng Magnolia+++. Dan tak jauh dari papan kayu itu tergantung, ada plang yang dipaku dengan ukiran yang bertuliskan "Magnolia".Orang-orang tampak berlalu-lalang dan memenuhi tempat itu, mau pagi, siang, sore, malam selalu saja ada pengunjungnya. Magnolia, nama kedai itu sekaligus nama pemiliknya, adalah salah satu tempat makan paling populer di Kota Karakura. Tidak hanya di bagian utara saja, di bagian selatan, timur, barat pun ada cabangnya.

Kruuuuk~

Ugh, perutku memberi sinyal.

Aku memang belum sarapan hari ini. Aku bangun lebih pagi daripada adikku yang biasanya memasakkan makanan untuk kami berdua, dan bodohnya aku, pergi tanpa makan dulu. Kalau begitu...Tercetus dalam pikiranku untuk mampir. Bukan ide yang buruk... sepiring Nasi Goreng Magnolia kurasa cukup untuk membuat perutku berhenti protes, sebelum aku dibuat kesal dengan rutinitasku yang menyebalkan.

Ini bukan kali pertamaku makan disini. Malah, tempat ini favoritku kalau adikku tidak biasa, aku duduk di tempat favoritku di pojok ruangan. Kenapa di pojok? itu urusanku...

Aku menatap orang-orang yang keluar masuk kedai Magnolia, memperhatikan tingkah laku mereka. Memang kelihatan tidak ada kerjaan, tapi menurutku ini cukup menghibur sebagai pengisi waktu luang...Sembari melihat-lihat, aku melepaskan tudung jaketku dari kepalaku.

Mataku masih memperhatikan sekeliling ketika seorang pelayan bertubuh sintal datang menghampiri mejaku. Bagus aku datang saat gadis berambut merah muda ini giliran jaga, soalnya dia favoritku. Ia menyodorkan selebaran menu kedai ini padaku, sambil tersenyum ramah :

"Selamat datang, Tuan. Apa yang akan anda pesan?" sapanya lembut.

Sengaja aku berlama-lama menatap mata hijaunya sebelum menjawab :

"Menu Spesial Hari Ini, Sakura-chan. Dan teh manis hangat." Aku tersenyum.

Aku sudah mengenal gadis ini. Sudah akrab malah. Tapi disini dia harus profesional sebagai pelayan, makanya dia memanggilku "Tuan" seperti pada pelanggan lainnya. Yah, aku tak ambil pusing sih...

"Baiklah, Tuan. Mohon ditunggu..." Sakura tersenyum manis.

Saat dia berbalik dan berjalan menjauhiku untuk memberitahu pesananku, seorang pemuda jangkung dan kekar memasuki Magnolia. Pemuda dengan rambut pirang yang berantakan itu melihat sekeliling, lalu berhenti saat ia menyadari kehadiranku. Ia kemudian berjalan ke arah tempatku duduk.

"Hey, Ichigo!" sapanya dengan penuh semangat. "Makan disini juga rupanya. Sengaja ulur waktu supaya tak usah dengar pidato si paman,ya?"

Pidato si paman. Ya, itu adalah sebutanku dan temanku ini untuk kegiatan yang menguras habis kesabaran kami ini, Yaitu pidato pembukaan oleh kepala sekolah kami. Ya, hanya tersenyum mendengar sindiran temanku ini. Dia memang selalu pintar melucu, dimanapun dan kapanpun. Naruto Uzumaki. Salah satu orang yang kuanggap sebagai sahabat. Pemuda yang tingginya sampai 180 sentimeter ini adalah teman sekelasku. Bahunya bidang dan badannya lumayan atletis, membuat beberapa wanita muda di kedai itu berbisik-bisik melihatnya.

Temanku sejak SD ini adalah orang yang kelewat riang dan sifatnya memudahkan semua masalah dengan gayanya yang ribut, seringkali membuat orang jengkel karenanya, termasuk aku. Dia juga keras kepala. Dulu—waktu SD—kuingat-ingat dia itu anak yang gendut, dan sering diejek anak-anak berandalan karena itu. Dan dia juga tidak takut untuk membalas ejekan mereka, bahkan sampai menantang mereka. Tapi lihat sekarang... sejak SMP, dia sering fitness dan latihan karate, efeknya adalah tubuhnya yang atletis sekarang ini.

Saat kami sedang berbincang-bincang tentang hal tak penting, Sakura kembali dengan membawa sepiring nasi goreng yang harumnya menggoda selera makan. Perutku, kalau dia punya mulut, kurasa ia akan menjerit kesenangan. Aku memasukkan suapan nasi pertama ke mulutku saat Naruto juga memesan Nasi Goreng Magnolia pada Sakura. Dan bukan hanya itu saja, dia juga...

"Hey...senyum dong..."

"Memangnya kenapa, Tuan?"

"Soalnya di pagi hari yang cerah ini, serasa mendung tanpa senyumanmu..."

...Menggombali pelayan itu. Kebiasaannya. Bukan dengan Sakura saja, melainkan juga dengan banyak gadis yang dia kenal maupun yang tidak. Kelewat edan.

"Tumben kau makan disini, Ichigo." Kata Naruto sambil melirik nasi gorengku. "Ada angin apa?"

Dia berusaha menciduk nasi gorengku dengan tangannya yang kekar, tapi aku yang sudah hafal kebiasaannya dari dulu itu secepat kilat menjauhkan piringku dari jangkauannya.

"Hidak aha. Ahu hanya hupa hakan." Kataku tak jelas sambil mengunyah nasi di mulutku.

"Kalau bicara jangan sambil makan."

Kutelan nasi di mulutku.

"Tidak ada. Aku hanya lupa makan." Ulangku.

"Ooh..."

"Sok peduli, kau." Desisku, sambil menyuap sesendok nasi lagi.

"Tidak sih, sebenarnya."

Sudah kuduga. Aku sudah kenal dia bertahun-tahun. Aku sudah kenal wataknya. Kapan dia akan melucu, kapan dia serius, dan kapan dia akan jadi idiot. Kalau kubuat persen, kira-kira hidupnya itu 70% melucu, 20% idiot, dan 10% serius. Bisa dibayangkan bagaimana kacaunya dia. Saat nasi gorengku sudah tinggal separuh, Sakura datang mengantar pesanan Naruto. Pemuda itu cengar-cengir tak jelas saat gadis pelayan itu menyodorkan piringnya padanya.

"Terima kasih, manis..."

"..."

Profesionalitas Sakura pun terbungkam. Aku tak bisa menyalahkannya. Aku hanya bisa tersenyum minta maaf pada Sakura sebelum ia beranjak pergi dengan salah tingkah.

Kuperhatikan tingkah Naruto yang menatap gadis pelayan itu berjalan pergi dari belakang.

"Aku suka gadis itu dari dulu. Bagaimana denganmu, Ichigo?" celetuknya tiba-tiba. "Badannya mantap juga."

Mata biru Naruto memperhatikan bagian belakang tubuh gadis pelayan itu. Memang tubuhnya terlihat high-class untuk seorang pelayan, ataukah memang itukah kriteria seorang pelayan disini?

"Lihat badannya..."

Aku tidak mengacuhkan celetukan mesum aku tak tertarik, tapi aku tidak terlalu peduli pada hal seperti itu.

"Hmph, untukmu saja." Aku menghentikan kegiatan makanku sejenak. "Kau gombali saja sampai dia mau jadi pacarmu. Aku tidak suka repot-repot."

Naruto malah tertawa.

"Kau ini, Ichigo Kurosaki yang tidak pedulian dan cuek. Gadis mana sih yang tidak perlu repot untuk didapatkan, menurutmu? Bisa-bisa kau tidak akan dapat pacar selamanya."

Aku hanya angkat bahu mendengar aku bisa menjadi kekasih orang kalau aku tak menyukainya? Jika aku ingin menjadi kekasih seorang wanita, tentunya wanita itu haruslah orang yang bisa merubah hatiku. Saat ini belum ada wanita seperti itu, itu saja.

Temanku sering salah mengartikan ini sebagai ketidaknormalan. yah, aku tak pernah memedulikan kata-kata orang lain terhadapku, bahkan sahabatku sendiri, karena itulah aku. Buat apa mengikuti keinginan orang lain? Itu hanya membelenggumu saja.

Aku terus menggasak nasi gorengku dalam diam, malas bicara. Diam itu lebih baik daripada bicara yang tidak penting, menurutku.

"Jadi..." Naruto memulai percakapan. "Apa kau sudah dengar berita hari ini?"

"Berita apa?" tanyaku.

"Berita buruk."

"Apa itu?"

"Kau tentu sudah dengar mengenai—"

Pembicaraan kami terpotong sesaat. Seorang pelayan wanita mengantarkan minuman pesananku, teh manis hangat. Kali ini bukan Sakura yang manis tadi, melainkan seorang wanita bertubuh kurus kerempeng. Wow, bahkan Naruto tidak ada minat untuk melihatnya. Ya ampun. Aku sudah tahu seleranya sejak dulu, dan kalau dia saja sudah malas melihat wanita ini, tak perlulah aku menjelaskan bentuk wanita ini lebih lanjut. Naruto mulai serius rupanya, kelihatan dari tampangnya saat ia bicara.

"Kau sudah dengar mengenai pembunuhan berantai yang terjadi belakangan ini, kan?"

"Oh...itu rupanya."

Kota kami sebenarnya sedang dilanda oleh sebuah kasus pembunuhan yang mengerikan, dimulai dari dua bulan yang lalu. Pembunuhan berantai ini telah memakan banyak korban, sudah ada sembilan belas orang yang telah kehilangan nyawanya di tangan sang pembunuh. Tak ada yang tahu siapa dia. Kurasa pembunuh ini super psikopat. Karena korban dari pembunuhan ini kondisinya selalu sama : Mulutnya terbuka lebar-lebar dan matanya membelalak shock, seakan tak percaya apa yang telah membunuhnya.

Dan selalu—di leher sang korban—ada dua lubang yang besar seperti bekas gigitan taring hewan buas. Bajunya compang-camping berlumuran darah. Mengerikan. Apa pembunuh ini sedang berusaha melakukan ritual ilmu hitam? Aku tak ingin percaya hal itu, tapi kulihat hal serupa di film tentang ilmu hitam, seperti itu. Aku hanya bisa berharap itu hanya binatang buas atau orang gila...

"Ada orang yang terbunuh lagi." Ujar Naruto. "Di gunung belakang sekolah, kemarin."

Aku nyaris tersedak.

"Yang benar?"

"Kau sama sekali belum dengar?"

"Eh...belum."

"Coba lihat ini."

Sahabatku mengulurkan sebuah koran ke depan wajahku.

"...! Ini..."

Mengerikan.

Orang yang terbunuh itu adalah salah satu dari guru yang mengajar di sekolah kami, guru fisika yang namanya Rizec Sanchez. Kondisi kematiannya tak jauh berbeda dengan korban-korban sebelumnya, wajah mati yang penuh horor dan luka bekas taring di leher. Pembunuh ini lagi.

"Bagaimana menurutmu? Mengerikan, kan?"
"Tidak terlalu..." Aku berusaha tak terpengaruh. "Tapi apa polisi tidak bertindak melihat ini? Sudah banyak korban. Apa mereka sudah punya petunjuk siapa pelakunya?"

"Justru itu. Polisi tidak dapat apapun..."

"Susah juga, ya..."

"Hey, apa menurutmu yang melakukan ini benar-benar manusia?"

"Entahlah...menurutku sih binatang buas atau psikopat..."

Hening. Aku iseng-iseng melirik arlojiku dan langsung terkejut.

"H-hey! Kita sudah terlambat lima menit!"

Sudah jam tujuh lebih dua puluh menit. Kelas kami dimulai lima menit yang lalu. Dalam ketergesaan, kami segera menghabiskan makanan dan minuman kami. Aku dan Naruto segera bangkit dan meninggalkan sejumlah uang di atas meja. Aku menarik tudung jaketku menutupi kepalaku lagi, meninggalkan Magnolia yang makin ramai seiring meningginya matahari dan bergegas menuju sekolah kami di Kota Karakura bagian utara.

Pelajaran kelas kami adalah fisika, dan gurunya, seperti yang tadi kusebutkan, adalah korban pembunuhan. Jadi otomatis tidak ada yang mengajar di kelas kami. Aku ingin bilang ini keberuntungan, tapi rasanya tak pantas bilang begitu kalau gurunya -siswi yang lain berkeliaran kesana kemari, dan beberapa malah asyik berdiskusi tentang pembunuhan itu, seperti yang dilakukan Naruto dan beberapa anak lain. Aku? Aku sih tidur siang di bangkuku, sedikit terganggu karena diskusi anak-anak itu yang begitu hebohnya. Aku paling benci diganggu saat tidur, tapi apa boleh buat...

"Hey,bagaimana kalau nanti sepulang sekolah kita cari pelakunya sama-sama?"

"Tidak! Aku takut, ah! Bagaimana kalau nanti kita terbunuh juga?"

"Tenang saja! Kita keroyok saja, dia pasti kalah!"

Tidak mungkin. Apa mereka serius?

Telingaku mulai panas.

"Betul kata Kiba!"

"Masa?"

"Tentu saja! Kalau—"

Aku tak tahan lagi.

"Tidak lah! Bodoh kalian, apa mau gali kuburan sendiri?"

Seruan terakhir itu berasal dariku. Aku bangkit dan berdiri dari bangkuku, menatap orang-orang yang ngerumpi itu dengan tajam. Mereka langsung diam, keheranan. Soalnya aku terkenal jarang bicara pada siapapun di sekolah ini, kecuali seperlunya. Diantara orang-orang itu ada Naruto juga. Dia memang sangat ahli dalam bersosialisasi dengan orang lain, tidak sepertiku. Tapi kurasa dia heran juga melihat tingkahku yang di luar kebiasaan ini.

"Hey, Ichigo, kenapa sih kau—"

"Sudah cukup! Tenang semuanya!"

Kami semua menoleh mendengar seruan berwibawa itu. Pemuda berambut coklat, yang adalah Ketua Kelas kami, Naito, telah memasuki kelas setelah sebelumnya ia dipanggil ke ruang guru.

"Ada pengumuman penting." Katanya tegas. "Karena semua guru akan rapat untuk memutuskan sekolah akan dihentikan sementara atau tidak, hari ini kita pulang lebih awal!"

Biasanya, ada pengumuman pulang lebih cepat seperti ini akan membuat semua orang berseru kegirangan. Tapi khusus kali ini, karena ketegangan yang mencekam, tak ada yang berkomentar. Semuanya dikuasai kengerian.

"Jangan mampir kemana-mana, sekarang keadaan bahaya!" Nasihat ketua kelas kami. "Dan semuanya, hati-hati di jalan!"

Keluar dari gerbang sekolah, aku dan Naruto bercakap-cakap tentang masalah mengerikan yang meneror kota ini. Karena jalan menuju rumah kami masing-masing searah, kami bisa mengobrol dulu sebelum berpisah.

"Kau aneh sekali, di kelas tadi." Ujar Naruto memulai percakapan.

"Aneh apanya?" tanyaku, walau tahu apa yang ia maksud.

"Tidak biasanya kau sudi menyahut obrolan orang."

"Jangan salah paham. Aku sedang kesal tadi."

"Oh, begitu..." Naruto angguk-angguk. "Ngomong-ngomong..."

"Apa?"

"Apa kau tertarik untuk menyelidiki kasus itu juga?"

Aku langsung menoleh padanya.

"Ya ampun, tidak." Aku menggelengkan kepala spontan. "Aku tidak mau cari mati. Lagipula, menyelidiki seperti detektif itu sangaaaaat merepotkan." Kataku dengan enggan.

"Hah, sudah kuduga." Naruto menghela nafas. "Tapi, apa kau tidak khawatir?"

"Tidak. Asalkan aku dan Yuzu baik-baik saja, aku lebih baik tidak melakukan apa-apa."

"Justru itu. Bagaimana kalau misalnya pembunuh itu mengincar adikmu?"

DEG!

Spontan aku berhenti melangkah.

Gagasan itu sama sekali tak terpikirkan sebelumnya olehku. Setelah keterkejutan, kengerian mulai melanda diriku. Benar, bagaimana kalau...?

"Hey, kenapa malah diam? Ayo jawab." Tanya Naruto yang sudah beberapa langkah meninggalkanku seakan tanpa dosa.

"Itu...benar juga...katamu..."

Keheningan yang tak enak melanda kami. Sampai...

"Hai, Kakak~!" Sebuah suara yang kedengarannya manis menyapa kami.

"Oh, Yuzu." Aku berbalik.

"Baru pulang, ya?"

"Begitulah."

Gadis berambut coklat, adikku yang masih mengenakan baju sekolah itu—di sekolah kami, murid SMP dan tingkat kebawahnya wajib mengenakan seragam sekolah, sedangkan murid SMA bebas mengenakan baju apa saja, asal sopan—mendekatiku. Bajunya adalah kemeja dalaman berwarna putih bersih dan sweater luar berwarna hitam tanpa lengan baju, sementara roknya yang berwarna ungu hanya sepanjang sepertiga paha, yang kukhawatirkan akan terbuka kalau ada angin kencang, tapi ia sendiri tak ada masalah dengan itu (Oh, tapi awas saja, kalau ada yang berani mengganggu adikku, akan kuhajar mereka).

"Pulang bareng yuk, Kak~"

"Tentu saja."

Yuzu Kurosaki, adalah nama gadis manis nan imut ini. Dia adalah adik perempuanku, sekaligus satu-satunya keluargaku yang masih ada.

Ibu kami sudah meninggal lama sekali, dan ayah kami menghilang entah kemana setelah pemakamannya. Kami yang masih kecil, dulu diurus oleh teman keluarga kami... sampai umur tiga belas tahun, aku memutuskan untuk hidup tanpa uluran tangan orang lain.

Meskipun ada harta warisan dari keluarga, tapi aku tak berpangku tangan saja. Bagaimana kalau harta itu habis? Karena itulah aku mencari pekerjaan. Bekerja sambilan di kafe, jadi tukang antar barang, sampai jadi tukang pukul di sebuah kasino, semua pekerjaan serabutan kujalani demi hidup kami kelak. Itu cukup melatihku menjadi orang yang mandiri. Sedangkan Yuzu, ia yang mengurus semua pekerjaan rumah tangga. Memasak, mencuci, membersihkan rumah ia lakukan. Sementara aku membawa pulang uang untuk biaya hidup. Uang warisan akan kami gunakan saat perlu saja. Hidup yang aneh bukan? Tapi begitulah hidupku, hidup seorang Ichigo Kurosaki.

Kami berjalan bertiga, mengobrol tentang hal-hal yang jauh dari topik pembunuhan yang mengerikan itu. Tak ada yang mau merusak suasana yang nyaman ini dengan membicarakan hal itu. Tak ada yang tahu kalau dalam hati aku sudah bertekad untuk menemukan pelaku pembunuhan itu apapun caranya.

Demi Yuzu. Dia harus tetap hidup...dia satu-satunya harapanku.

"Bye, Aku duluan ya!"

Kami berpisah dengan Naruto di sebuah pertigaan. Ia melambai kepada kami dengan antusiasme yang berlebihan. Yuzu membalasnya dengan riang, sementara aku hanya melambai seperlunya.

Selepas Naruto, kami melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah.

"Nanti di rumah, kali ini biar kakak yang cuci pakaiannya ya." Kataku tiba-tiba.

Yuzu mengerutkan alisnya.

"Kenapa kak? Tumben..."

"Nggak apa-apa. Kakak kasihan saja melihatmu capek terus."

"Biasanya kakak nggak mau kalau kuminta tolong...aneh deh kakak hari ini."

"Masa?"

"Pasti ada maunya!" Cetus Yuzu kesal. "Nanti pasti mau—"

Wajah adikku itu, sungguh manis dan imut. Aku membelai kepalanya.

"Nggak kok. Biasanya kakak kamu suruh kalau lagi capek sih. Sekarang kan kakak kosong, jadi biar kakak saja..."

Yuzu terdiam, tapi setelah beberapa saat ia bicara lagi.

"Kalau kita cucinya sama-sama saja, bagaimana?" tanyanya, dengan wajah yang agak merona merah.

"Ahaha, baiklah, baiklah..."

"Janji ya?"

"Iya, kakak janji." Aku tersenyum.

Yuzu mengaitkan lengannya pada lenganku sementara kami terus berjalan. Seperti orang pacaran saja, kami ini. Orang yang tak kenal kami bisa berpikiran begitu.

Kami itu...yah, bisa dibilang kami ini kakak beradik yang mesra. Begitulah menurut orang-orang yang mengenal kami dengan baik.

Memang, Yuzu adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa kuajak bicara tanpa canggung, dan bisa tertawa lepas bersamanya.

Aku takkan membiarkan siapapun merenggutnya dariku.

Dialah satu-satunya yang kumiliki.

Harapanku...Cahayaku.

Lagi mesra-mesranya begitu, serentetan teriakan dan jeritan terdengar dari tempat yang jauh.

"Tolong, ada yang dibunuh!"

"Disini ada mayat!"

"Panggil ambulans! Polisi!"

Bulu kudukku mendadak merinding.

"Apa?"

"M...mayat?"

Ini bukan lelucon, teriakan itu terdengar sangat meyakinkan. Ditambah lagi, terdengar banyak langkah kaki yang menuju tempat itu. Aku merasa takut sekaligus penasaran, maka aku juga berlari menuju sumber suara itu, Yuzu mengikutiku. Kami berlari-lari melewati dua belokan, mengikuti beberapa orang yang juga mendengar teriakan tadi dan datang untuk menghampiri tempat itu, akhirnya aku menemukan sebuah kata 'mayat' sebelumnya, aku berjalan didepan Yuzu, memastikan ia tak melihat apapun yang tak pantas dilihatnya.

Firasatku tidak salah. Saat aku mendekati kerumunan itu, gumaman orang-orang yang disuarakan dengan suara rendah membuat perasaanku makin tidak enak, apalagi setelah beberapa dari mereka menjauh dari kerumunan itu dan muntah di pinggir jalan.

"Maaf, tolong beri jalan..." Ucapku pelan.

Setelah berhasil menyeruak melewati kerumunan yang diselimuti ketakutan itu, pada akhirnya aku bisa melihat pemandangan mengerikan macam apa yang membuat banyak orang di sekitarku mual dan muntah. Secara otomatis aku menutupi mata Yuzu dengan tanganku, hal seperti ini akan terlalu mengerikan tragis lelaki itu tersandar di sebuah tiang listrik, darahnya yang sudah mengering menodai warna metal tiang itu. Kondisinya begitu mengerikan...

Lehernya tidak berlubang seperti digigit taring...malah lebih tercabik seperti digigit binatang, bahkan aku mulai merasakan sensasi tak enak di perutku. Luka di leher, tapi agak berbeda dari yang ini sang pembunuh yang sebelumnya? Kalau iya, kenapa kali ini berbeda?

Apa mungkin ia memutuskan untuk sedikit mengganti gayanya? Ataukah yang melakukan ini bukan dia? Tapi siapa?

Awan gelap tiba-tiba menyelimuti langit di atas kami, seakan langit pun merasa takut akan kejadian ini. Sinar matahari pun terbendung, dan tiba-tiba saja petir pun menyambar.

Jantungku serasa nyaris copot saat itu, namun bukan petirnya yang sebenarnya membuatku kaget. Dalam sekilas sinar kilat yang menerangi gelapnya langit, aku bisa melihat seseorang...Atau sesuatu.

'Sesuatu' itu sedang merayap seperti cicak di dinding sebuah gedung. 'Sesuatu' yang berada di bawah bayangan gedung itu berkulit pucat kehijauan, matanya merah seluruhnya dengan rambut kelabu dan darah menetes dari mulutnya yang bertaring. Pandanganku terpancang pada 'sesuatu' itu, dan diapun memandangku. Tapi itu hanya sekejap. Saat aku memejamkan mata, 'sesuatu' itu lenyap tanpa bekas, seakan ditelan kegelapan.

Apa...itu?

"Hey, kalian tahu ada orang yang terbunuh lagi kemarin?!"

"Aku tahu, menakutkan sekali!"

"Kudengar lehernya tercabik-cabik!"

"Masa? yang kemarin-kemarin cuma lubang di leher!"

"Iya, kali ini beda!"

Esoknya di sekolah, topik hangat, kalau harus kukatakan, mendidih, ini tak henti-hentinya dibicarakan. Banyak orang berspekulasi tentang siapa yang melakukan pembunuhan itu, tapi tak seheboh saat yang terbunuh adalah salah satu guru kami.

Ada yang berpendapat kalau pembunuhnya adalah iblis atau setan, hewan buas seperti serigala atau macan, atau orang gila. Pokoknya berbagai teori gila dan tak masuk akal keluar dari imajinasi mereka.

Di bangkuku, aku kembali berdiam diri sendirian. Tapi kali ini aku sama sekali tak niat tidur, sebab aku masih terbayang dengan 'sesuatu' yang kuihat kemarin, mata merahnya yang menakutkan itu.

Sebenarnya apa itu? Siapapun atau apapun...aku yakin itu bukan manusia.

"Oi Ichigo, katanya mayat yang kemarin itu ditemukan di dekat rumahmu ya?"

Tiba-tiba saja Naruto mendekati bangkuku dan bertanya. Tapi aku, yang sedang sibuk berpikir, sama sekali tak menggubrisnya. Kuanggap suaranya itu suara parade semut, alias tak kedengaran.

"OI!"

"Eh, apa katamu?"

"Kau ini! Kalau ada yang tanya, jawab dong!" seru Naruto. "Makanya punya kuping itu dipasang!"

Eh, berani juga kata-kata anak ini. Buat kupingku panas.

Aku bangkit dari bangkuku.

"Coba, ulang lagi yang tadi."

Lihat, dia mulai takut...

"Eh, nggak kok, bro..."

"Ulangi. Yang Keras." Aku mengertakkan kepalan tanganku.

"Cuma bercanda, kawan...sori..."

"Ulangi." Aku memasang senyum jahat. "Kau bisa dengar aku, kan? Ulangi kata-katamu yang tadi..."

Ini tidak akan berakhir dengan mudah, Naruto...

"He...Hey...ampun..."

"Ooo, tidak bisa..."

Kejadian yang terjadi sesudahnya, dengan amat disayangkan, harus disensor karena serangkaian bahasa kasar dan tindak kekerasan yang tidak pantas untuk diceritakan.

Sore harinya, kudapati diriku berjalan sendirian di jalan dimana aku biasanya pulang. Matahari sudah hampir terbenam, hanya sedikit semburat merahnya yang masih terlihat di ufuk barat. Kebanyakan orang sudah pulang ke rumah mereka, mau anak sekolah atau pekerja, semuanya sudah menyelesaikan aktivitas mereka. Kali ini, entah kenapa aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Entah sebabnya apa, aku ingin segera bertemu dengan Yuzu. Perasaanku luar biasa tidak enak saat ini.

Tapi saat aku sampai rumah, pintunya terkunci. Hari ini aku pulang telat, jadi harusnya adikku itu sudah ada di rumah. Pergi kemana dia? Ah, iya, aku punya kunci cadangan. Yuzu pasti lupa tidak membuka kuncinya, jadi pasti dia ada di dalam...

Tapi ternyata, rumah kami gelap gulita.

Hatiku mencelos, dan mulai berdebar kencang dengan kecemasan yang tak dapat dijelaskan. Firasat buruk mulai merayapi diriku, apalagi saat melihat notes berupa kertas kecil diatas meja mengambil kertas itu dan kubaca apa yang tertulis disana.

Kak, aku ada kerja kelompok sama teman dan guru, aku mungkin pulang agak malam. Kalau kakak mau makan, tinggal ambil saja di kulkas.

Entah kebetulan atau apa, suara petir menyambar terdengar tepat saat aku selesai membaca tulisan dari adikku itu. Padahal sebelumnya tidak ada awan hitam sama sekali. Bayangan 'sesuatu' yang kemarin kulihat kembali terlintas di benakku. Mata merah bagaikan darah menghantui pikiranku, hingga tanpa kusadari tubuhku gemetar ketakutan. Tanpa kupikir lagi, aku segera keluar rumah, kukunci lagi, dan mulai berlari dengan panik ke jalanan yang sudah mulai gelap karena matahari telah lenyap sepenuhnya ke peraduannya di barat.

Yuzu...dimana kau?

Kalau adikmu keluar malam-malam ketika ada SESUATU yang mengerikan berkeliaran bebas di luar sana, apa yang akan kaulakukan? Mencarinya dengan panik seperti orang kebakaran jenggot? Kalau kau melakukan itu, berarti kau sama denganku, karena aku juga sedang melakukan itu. Aku bertanya pada orang-orang yang kutemui di jalan dan para tetangga, nihil. Kucari disana-sini, hasilnya pun tak jauh beda. Yuzu tak terlihat dimanapun. Ugh, kenapa saat begini saja kau sulit untuk ditemukan, Yuzu?

Setelah menyerah mencari di kota, aku memutuskan untuk mencarinya di hutan belakang sekolah. Kini, aku sedang berkeliaran di tengah pepohonan yang lebat, sambil terus memanggil adikku. Kau bisa bayangkan, seorang pemuda berambut oranye berantakan berteriak-teriak tak jelas di tengah hutan. Aku bisa dikira penunggu hutan kalau begini terus...ah, masa bodoh lah!

"Yuzu! Yuzuu! Yuzuuu! Dimana kau?!"

Aku teriak-teriak sampai tenggorokanku serak, tapi tak ada jawaban. Aku semakin cemas saja...

Oh, iya...! kalau di hutan, ada kemungkinan mereka memakai tenda...dan biasanya disekitar tenda itu ada asap api unggunnya. Aku baru sadar sekarang...

Aku memanjat pohon cemara yang paling tinggi disana dengan tangkas. Di atas, aku bisa melihat sekeliling hutan dengan mudah.

Itu dia. Aku menemukannya...di dekat sebuah sungai.

Segera, aku turun dari pohon dan berlari lagi. Aku sadar hari sudah malam dengan cepat, dan malam ini bulan purnama. Sinarnya begitu terang sampai menerangi jalanku. Ini sedikit membantu, tapi sekali lagi perasaanku tidak enak. Kupercepat lariku seraya sesekali menoleh ke belakang, untuk jaga-jaga.

Segera, aku sampai di tenda itu. Sambil terengah-engah kehabisan nafas, aku melihat sekeliling untuk mencari tanda-tanda ketidakwajaran apapun. Dengan kelegaan yang luar biasa, aku melihat Yuzu di tepi sungai itu...ia sedang membasuh mukanya.

Ia dengan cepat menyadari kehadiranku.

"Kakak? Sedang apa disini?" tanyanya saat melihatku datang.

"Yuzu!"

Aku berlari mendekatinya. Langsung kupeluk adikku yang beda tiga tahun dariku itu, sungguh leganya perasaanku sekarang. Kau tak bisa bayangkan...

"Eh...kak?"

Aku memeluknya semakin erat, sampai yang dipeluk pun heran dibuatnya.

"Kakak kenapa sih?"

"Tidak apa-apa. Aku kesini mau menjemputmu. Mana guru dan temanmu? Kita pamit dulu, setelah itu kita pulang..."

Mataku memandang tenda beberapa meter di belakang Yuzu, dan saat itu juga aku tersentak kaget.

Di balik celah di pintu masuk tenda, sepasang mata balas memandangku.

Sepasang mata yang merah darah.

Chapter 1 END

To be Continued...

Minna, Please Review :)