Fairy Tail by Hiro Mashima

Natsu X Lucy

Adventure/Romance

All standart warning applied

.

.

.


Prolog

Darah.

Darah. Darah yang sangat banyak.

Dimana-mana, saat ia mengedarkan pandang, semuanya berwarna merah. hanya warna itulah yang terlihat. Belum lagi bau amis pekat yang tercium di udara.

Pemuda itu merasa mual dan rasa itu semakin kuat saat obsidiannya melihat cairan merah itu juga ada di tangannya. Maniknya membola. Tentu, ia sangat terkejut dengan apa yang ia lihat.

Darah, di tangannya?

Kenapa?

Apa yang terjadi?

Bagaimana bisa?

Pertanyaan-pertanyaan itu semakin membuatnya pusing. Pemuda itu menatap sekeliling.

Dimana dia? Kenapa ia bisa ada disini?

Pikirannya berkabut. Ia berusaha mengingat, namun usahanya sia-sia. Ia sama sekali lupa.

"Ekh."

Suara rintihan menyentuh indra pendengaran. Sang pemuda menoleh dan seketika itu juga wajahnya berubah pucat pasi saat menatap objek di hadapannya.

"Na-natsu."

Sosok itu memanggil, suaranya terdengar familiar ditelinganya.

Merah. Merah kehitaman. Kenapa seluruh tubuhnya dipenuhi warna itu?

Pemuda yang dipanggil Natsu perlahan mendekat, badan bergetar hebat. Pemuda itu bersimpuh di samping sosok berlumuran darah itu.

Tenggorokannya terasa kering, berbeda sekali dengan matanya yang basah.

"Lu-Lucy. Kau 'kah itu?" tanyanya. Sang gadis mengangguk lemah. Rasa kebas dapat ia rasakan disekujur tubuhnya.

"Ba-bagaimana bisa?" Tanyanya lagi, kali ini dengan suara tercekat. Hatinya ngilu saat melihat luka yang di derita Lucy di bagian dada. Terlihat parah dan dalam. Ia tidak sanggup melihat. Dengan hati-hati Natsu mengangkat kepala si pirang dengan lengannya, ia tidak ingin membuat gadis itu kesakitan.

"Lucy, apa yang terjadi?"

Natsu bahkan kaget dengan suaranya sendiri. Terdengar lirih dan penuh luka. Si gadis menjawab dengan senyum tipis dan menggeleng lemah.

"Ja-jawab aku, Luce! Siapa yang berani-beraninya melukaimu?!"

Tidak ada balasan dari sang gadis, perlahan sinar di manik karamelnya merdup dan... dan senyum yang biasa Natsu lihat setiap harinya perlahan luntur dan hilang.

"Luce?! Hei, jangan bercanda kau! Bu-buka matamu."

Natsu memeluk sang gadis stellar. Erat. Pemuda Dragneel itu terisak, air mata pun mengalir dengan deras. Tapi, tetap saja tidak mampu membuat gadis yang ada di dekapannya kembali.

"Arrghhh!"

Keras. Natsu berteriak dengan keras. Ia tidak peduli pita suaranya rusak.

"ARRRGGHHH!"

Teriakannya semakin menjadi. Ada rasa aneh yang menjalar dari ujung jarinya. Merambat perlahan-lahan, menyelimuti sepertiga tangan Natsu.

Panas. Panas. Seluruh tubuh Natsu terasa panas. Ia tidak tahan lagi.

Kenapa? Apa yang terjadi pada dirinya?

Natsu melihat kulitnya memerah dan terkelupas. Matanya memicing saat melihat sesuatu tumbuh dari balik kulitnya.

Sisik naga. Satu-persatu sisik itu bermunculan. Perlahan. Ya, dengan perlahan menyelimuti seluruh tubuh Natsu. Awalnya dari ujung jari, kemudian naik... terus naik.

'Ap-apa ini?' batinnya dengan tatapan tak percaya.

.

.

Kenapa dengan dirinya?

.

.


Haloo semuanya... Saya mampir lagi setelah berbulan-bulan meninggalkan fandom ini.

Ini hanya sebuah prolog singkat. Terimakasih sudah membaca. Saya butuh tanggapan anda tentang cerita ini :)