The Adventure of Team Hebi

By Chiha YaFuu

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Adventure, Humor, Romance

Warning: Typo(s)—maybe / OOC / GaJe / Canon / Cover—editing by me[Chiha] /

.

Uchiha Sasuke, Hozuki Suigetsu, Uzumaki Karin, Juugo

.

[Uchiha Sasuke X Uzumaki Karin]

.

.

.

DLDR

.

.

.

Chapter 5 : Hanami

.

.

.

Musim semi. Musim yang identik dengan cuaca yang masih dingin tapi sejuk. Udara yang sangat nyaman bagi orang-orang yang sudah lelah menghadapi musim dingin.

Musim semi adalah saat terlahirnya kembali daun-daun dan bunga-bunga yang sempat menghilang karena cuaca ekstrim di musim dingin. Musim ini digunakan beberapa orang untuk menikmati keindahan bunga paling di tunggu kemekarannya dalam setiap tahun, bunga sakura.

"Sasuke ayo kita merayakan hanami!" teriak pemuda berambut putih dengan semangat.

"Apa itu hanami?"

"Ternyata kau bodoh Karin!"

Karin memutar bola matanya. Baru saja gadis berkacamata itu ingin membalas perkataan rekannya, tiba-tiba sebuah suara terdengar.

"Itu sebuah perayaan untuk menikmati bunga sakura," jawab Sasuke datar.

"Perayaan? Menikmati bunga sakura? Memang ada yang seperti itu?"

"Kau memang murid kesayangan Orochimaru, mau saja dikurung di dalam markas dan tidak tahu dengan dunia luar."

Perempatan siku muncul di dahi mulus milik gadis yang memiliki nama dari klan Uzumaki itu. Karin menunjuk wajah Suigetsu dengan kesal.

"Kau sendiri tahu darimana masalah hanami? Tidak masuk akal!"

"Tentu saja karena aku—"

"Hanami itu sebuah perayaan sebagai bentuk rasa syukur karena musim dingin sudah berlalu dan digantikan dengan bunga-bunga yang akhirnya mulai mekar. Perayaan ini biasanya dilakukan setiap tahun dengan berkumpul bersama keluarga atau teman di bawah pohon sakura," Sasuke menjelaskan.

"Cih Sasuke, padahal aku kan mau menjelaskannya tadi," Suigetsu cemberut sambil melipat kedua tangannya.

"Oh ada yang seperti itu, lalu? Kita akan merayakan hanami?" tanya Karin polos.

"Tidak, aku tidak suka bunga sakura."

"Heeeee? Yang benar saja Sasuke! Kau sudah menjelaskan panjang lebar aku kira kau mau pergi!"

"Hn."

Karin dan Juugo menatap datar kedua orang di hadapan mereka. Akhir-akhir ini Sasuke dan Suigetsu memang sering terlibat percakapan tidak penting dan menakjubkannya seorang Sasuke membalas Suigetsu. Benar-benar hal langka yang sekarang malah dilestarikan.

.

"Mau pergi tidak?"

"Tidak"

"Ya sudah, Juugo kau mau pergi?"

"Aku hanya mengikuti Sasuke, kalau Sasuke tidak pergi aku juga tidak pergi."

Suigetsu memutar bola matanya, bosan dengan jawaban Juugo yang pasti selalu sama.

"Dan kau, mau pergi?" tanya Suigetsu malas-malasan sambil menunjuk Karin.

"Hmm..."

Karin berpikir keras mau pergi ke perayaan hanami atau tidak. Sejujurnya ia sangat ingin melihat bagaimana cara orang-orang merayakan hanami tapi Sasuke-nya tidak ikut. Karin tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau ia dan Suigetsu saja yang pergi—maksudnya, Suigetsu pasti akan menjahilinya setiap waktu.

"Ayo jawab..."

"Bo-boleh juga, tapi hanya sebentar ya. Aku hanya penasaran," kata Karin sambil memalingkan wajahnya.

"Che— dasar gadis aneh!"

.

Sasuke menatap kepergian Suigetsu dan Karin dari ekor matanya. Firasatnya buruk. Sangat buruk.

.

.

.

Karin terpesona melihat hamparan pohon sakura yang berjejer manis di sepanjang jalan yang ia dan Suigetsu lewati. Beberapa pedagang berjualan di sekitaran pohon sakura. Rata-rata pedagang di sana menjual berbagai macam makanan dan minuman.

Sejak awal mereka masuk ke desa tersebut, Karin memang tahu kalau bunga sakura sedang bermekaran. Tapi, tidak pernah terpikir olehnya kalau berdiam diri dan memandangi pohon sakura seperti itu bisa membuat hatinya damai.

"Mau sampai kapan berdiri seperti itu? Seperti orang bodoh saja."

Karin melirik kesal orang di sampingnya.

"Cih, cerewet!"

"Tapi kau benar-benar terlihat seperti orang bodoh, berdiri sambil tersenyum sendiri. Mengerikan."

"Terserah apa katamu, sekarang ayo pulang. Hanya sebentar 'kan?"

"Heee... yang benar saja Karin! Kita belum merayakan hanami tahu!"

"Hah? Maksudmu?"

"Bukankah kau mau merayakan hanami?"

"Tapi bukankah itu hanya untuk memandangi bunga sakura?"

"Yang namanya hanami itu, kita harus duduk di bawah pohon sakuranya tahu!"

"Memangnya seperti itu?" tanya Karin sambil menyipitkan matanya, takut kalau-kalau itu hanya akal-akalan Suigetsu.

"Lihat ke sana!" tunjuk Suigetsu pada taman di sebelah kiri Karin. "Nah itu baru merayakan hanami."

Karin melihat betapa banyaknya orang-orang yang menggelar tikar, duduk bersama teman dan keluarga sambil memakan camilan dan bercanda ria. Terlihat sangat menyenangkan bagi Karin.

"Nah sekarang ayo, kita juga cari tempat."

"Oh, oke," Karin ikut saja dengan Suigetsu yang sekarang membawanya ke tengah taman sambil mencari-cari tempat kosong untuk mereka duduk.

.

.

.

Sasuke membolak-balikkan gulungan ninja yang ada di hadapannya saat ini. Entah apa maksudnya, Juugo pun tidak paham dengan gerak-gerik Sasuke yang menurutnya tidak biasa alias aneh.

"Kau kenapa Sasuke?"

"Hn."

Juugo diam saja mendapat balasan seperti itu dari Sasuke.

Juugo bersandar di dinding sambil terus memperhatikan Sasuke yang bergerak gelisah. Ingin bertanya lagi tapi Juugo sadar kalau Sasuke tidak akan pernah menjawabnya dengan -tiba ia merasa sangat ngantuk dan akhirnya tertidur.

Sasuke melihat Juugo melalui ekor matanya, Bagus! Sudah tidur—pikir Sasuke.

Sasuke berdiri dan menghilangkan keberadaan chakranya, lalu pergi keluar dari penginapan, meninggalkan Juugo sendirian yang sedang tertidur. Rupanya Juugo terkena genjutsu Sasuke.

.

"Suigetsu, beli makanan dulu."

"Kau saja, aku mencari tikar."

"Oke."

Karin berjalan menyusuri penjual makanan dan minuman. Akhirnya, gadis berkacamata itu menemukan makanan kesukaannya. Okonomiyaki. Karin memesan empat porsi, walau ia tahu ia hanya akan merayakan hanami berdua dengan Suigetsu, entah kenapa mulutnya mengatakan empat pada penjual okonomiyakinya.

Saat menunggu pesanan okonomiyaki, Suigetsu kembali. "Oy, okonomiyaki?" tanya Suigetsu.

"Iya... kau sendiri sudah menemukan tikarnya?"

"Pasti, coba lihat!" Suigetsu memamerkan tikar bergambar ikan hiu.

"Err... kenapa harus ikan hiu?"

"Hanya ada ini," kata Suigetsu santai. Karin bergeser sedikit untuk melihat pedagang tikar yang tidak jauh dari tempat Karin dan Suigetsu berada. Karin melihat ada banyak jenis tikar yang di jual sana. Karin pun menatap Suigetsu dengan tatapan intimidasi. "Iya-iya , itu karena aku suka ikan hiu," kata Suigetsu sambil tertawa.

"Seperti Kisame saja," kata Karin malas.

"Eh?!"

Karin dan Suigetsu pun terdiam sambil bertatapan, setelahnya mereka tertawa bersama hanya karena teringat Kisame, rekan dari kakak ketua kelompok mereka yang memang mirip ikan hiu.

.

Sasuke berdiri di balik pohon, ia melihat Karin dan Suigetsu yang tertawa lepas berdua. Agaknya ada perasaan aneh yang merasuki dirinya. Kesal mungkin.

Karin tersentak karena merasakan chakra Sasuke. Suigetsu yang melihatnya pun bertanya, "Kenapa?"

"Entahlah, aku merasakan chakra Sasuke, tapi hanya sebentar, sekarang sudah tidak ada."

"Mungkin hanya perasaanmu, karena kau terlalu menyukai Sasuke."

"K-kau bicara apa sih!"

"Che— mengaku saja."

"TIDAK!"

.

"Sasuke..." panggil Juugo.

Sasuke kaget saat tiba-tiba Juugo ada di belakangnya, bisa dibilang Juugo memergokinya yang sedang mengintai Suigetsu dan Karin.

"Bukankah kau seharusnya..."

"Hm?"

"Hn, tidak apa-apa."

"Jadi, buat apa kau menyusul Suigetsu dan Karin, bukankah kau bilang kalau kau tidak ingin pergi?"

"Hn."

Juugo memiringkan kepalanya bingung dengan jawaban Sasuke. "Kalau begitu, ayo kita susul mereka."

"Hn."

.

.

.

Suigetsu dan Karin menggelar tikar di tempat yang sepi. Mereka sengaja, karena bergabung dengan penduduk desa akan membuat mereka sangat tidak nyaman. Mereka duduk sambil menengadah memandangi helaian bunga sakura yang berjatuhan secara slow motion. Bagi Karin hal itu terlihat sangat indah.

"Hey Karin..."

"Iya?" Karin menoleh ke arah Suigetsu.

"Hmm..."

"Apa?" tanya Karin ketus.

"Kalau sebenarnya aku su..."

"Eh Sasuke? Juugo?" Karin kaget karena melihat Juugo dan Sasuke yang sedang berjalan mendekati tikar mereka.

"Orang itu... bukankah tadi bilang tidak mau datang! Che— pembohong!"

"Kenapa kalian bisa ke sini?" tanya Karin saat Sasuke dan Juugo sudah sampai di depan tikar mereka.

"Tadi aku melihat Sasuke sedang—"

"Aku lapar, mau cari makan," potong Sasuke cepat.

"Oh kebetulan Sasuke, ini ada okonomiyaki," sahut Karin kesenangan karena Sasuke-nya sudah ada di hadapannya."

"Hn."

Jadilah sekarang Karin, Sasuke, Suigetsu dan Juugo duduk dalam satu tikar yang sama sambil menikmati okonomiyaki. Setelah selesai, Karin mengumpulkan bekas makanan ketiga rekannya dan membuangnya ke dalam tong sampah yang berada seratus meter dari tempat tikar mereka berada.

"Jadi Sasuke, benar kau hanya mencari makan?" tanya Suigetsu saat Karin sedang membuang sampah.

"Hn."

"Kau pasti bohong! Kau menguntit ya?"

"Hn."

"Che— lama-lama jawaban ambigumu itu bisa membuat kepalaku botak karena stress memikirkan artinya."

"Hn."

Perempatan siku muncul di dahi Suigetsu, pemuda itu benar-benar sudah muak dengan jawaban ambigu Sasuke.

"Heh Sasuke! Dengar ya, aku benar-benar sudah muak denganmu."

"Muak apa?" tanya Karin sambil mendeathglare Suigetsu.

"Che— menyebalkan!"

Akhirnya Suigetsu diam. Hening beberapa saat, semua larut dalam pikiran mereka masing-masing sambil memandangi bunga sakura yang berjatuhan. Akhirnya Suigetsu kembali memecah keheningan. "Mau main sesuatu?"

"Hee?"

"Aku serius, daripada begini saja kan membosankan."

"Main apa?" tanya Karin.

"Putar botol!"

"Putar botol?" sekarang Juugo yang bertanya.

"Begini peraturannya, pertama, botol diputar sampai berhenti, orang yang ditunjuk oleh tutup botol harus menjawab pertanyaan dari orang yang memutar botol, kalau tidak mau menjawab, harus minum satu botol sake!"

"Apa-apaan itu? Lagipula kita belum diperbolehkan minum sake!" Karin membentak Suigetsu.

"Makanya, jawab setiap pertanyaan dengan jujur!"

"Dan kita tahu dari mana kalau jawaban orang itu tidak bohong?"

"Jangan meremehkanku," Suigetsu menyeringai.

"A-apa-apaan senyummu itu."

"Mau main atau tidak?"

Tidak ada yang menyahut. Suigetsu menyipitkan matanya menatap ketiga rekannya bosan. Dengan cepat Suigetsu memegang pundak Sasuke, Karin dan Juugo.

"A-apa yang kau lakukan?" tanya Karin yang merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya saat Suigetsu menyentuh pundaknya.

"Aku sudah memakaikan jurus 'tidak bisa berbohong'. Kalau kalian bohong, maka kalian akan disambar petir." Suigetsu tertawa puas setelah mengatakan hal itu.

Karin memutar bola matanya. "Memang sejak kapan kau bisa jurus seperti itu?" Karin tidak percaya.

"Che— coba perhatikan lidahmu, sudah ada segelnya sekarang."

Karin, Sasuke dan Juugo mencek lidah mereka masing-masing dan benar saja memang ada simbol aneh di lidah mereka yang berbentuk bulat dan segitiga.

"A-apa ini? Lidahku bertato!" Karin histeris.

"Tenang, setelah permainan berakhir aku akan menghapusnya, sekarang ayo mulai!"

Suigetsu terlihat sangat bersemangat, berbanding terbalik dengan ketiga rekannya yang malah memasang tampang serius, seakan-akan mereka akan melawan seorang jinchuiriki.

"Aku yang putar pertama!" Karin merebut botol di tangan Suigetsu. Botol pun diputar Karin dengan cukup ganas sampai-sampai mereka harus menunggu beberapa menit sampai botol berhenti berputar.

Akhirnya tutup botolpun berhenti ke hadapan Juugo. Karin menyeringai, karena memang sasaran pertanyaannya ada pada Juugo. "Juugo! Jawab dengan jujur, apa betul alasan utamamu mengikuti Sasuke hanya karena Kimimaro? Kau yakin kalau kau sebenarnya tidak me-menyukai Sasuke?" Karin sampai terbata menanyakan hal itu pada Juugo.

Suigetsu yang sedang meminum teh tiba-tiba menyemburkan kembali tehnya karena pertanyaan konyol dari Karin. Sasuke sampai menatap Karin dengan mimik wajah yang tidak bisa diartikan.

"Iya, aku mengikuti Sasuke demi Kimimaro dan aku akan selalu menjaga Sasuke," jawab Juugo lancar.

"Ka-kau yakin bukan karena kau menaruh perasaan pada Sasuke? Mungkin saja kau ho-homo."

Suigetsu melotot karena pertanyaan Karin. Sasuke sampai memijat pelipisnya, sedangkan Juugo kembali menjawab Karin dengan lancar. "Tidak, aku tidak homo."

Karin memberikan tatapan menyelidik pada Juugo dan menunggu petir, kalau-kalau Juugo memang berbohong. Tapi ternyata memang tidak ada, Juugo jujur.

Karin duduk sambil menghembuskan napas dari mulutnya, ia lega. Sedangkan Suigetsu dan Sasuke memijat pelipis mereka masing-masing.

"Dasar gadis aneh!"

"A-apa kau bilang?!"

"Berikutnya Juugo yang memutar."

Juugo mengambil botol yang berada di tengah mereka dan mulai memutar botol dengan kecepatan yang biasa. Tutup botol pun berhenti di arah Sasuke.

"Nah, Juugo silahkan bertanya pada Sasuke."

"Hmm... Sasuke, apa kau yang menghabiskan minyak rambutku? Karena tadi aku mencium baunya dari rambutmu."

Suigetsu dan Karin langsung menatap Sasuke tajam. Sasuke yang ditatap pun hanya menunduk.

"Hn."

"Souka! Apa kau suka? Aku bisa membelikannya lagi untukmu."

"Ti-tidak usah, aku bisa beli sendiri," jawab Sasuke sambil menundukkan kepalanya lebih dalam.

"Tidak apa Sasuke, setelah ini aku memang akan beli lagi karena kau sudah memakainya sampai habis jadi biar sekalian aku saja yang beli."

"Hn."

Suigetsu dan Karin pun sweatdrop berjamaah.

"Baik-baik, sekarang Sasuke yang putar."

Sasuke mengambil botol dan memutarnya dengan sekuat tenaga sampai botolnya pecah. "Ya ampun Sasuke!" teriak Suigetsu.

"Hn."

"Terkadang kau memang bodoh Sasuke, jangan-jangan hanya aku yang pintar di kelompok ini," kata Suigetsu sambil memasang pose berpikir. Tiba-tiba sebuah tendangan mengenai kepalanya yang langsung berubah menjadi air.

"Berisik! Cepat ambil botol baru!" kata Karin, sang pelaku penendangan.

Suigetsu mengambil botol baru dan melemparnya ke arah Sasuke. Sasuke menangkapnya dengan sukses. Kali ini pemuda tampan itu memutar botolnya secara normal. Ujung tutup botol pun berhenti pada Karin.

Sasuke berpikir sejenak memikirkan pertanyaan yang bagus. Ini kesempatan bagus untuknya tapi ia benar-benar bingung. Jantung Karin pun sampai berdetak dua kali lebih cepat hanya karena gugup dengan jenis pertanyaan apa yang akan ditanyakan oleh Sasuke. Suigetsu sampai meneguk air liurnya dan Juugo terlihat biasa-biasa saja.

"Karin..."

"I-iya?"

Glek~ Karin gugup.

"Benda apa yang berbungkus putih di ujung kamar penginapan kita tadi?"

Gubrak! Karin dan Suigetsu terbaring bersamaan. Juugo memandang bingung Suigetsu dan Karin.

Suigetsu bangkit sambil menunjuk wajah Sasuke. "Pertanyaan macam apa itu?"

"Kenapa? Aku bisa menanyakan apapun 'kan?"

"Ta-tapi itu kan..."

"I-itu pembalut Sasuke. Maaf aku lupa memindahkannya," jawab Karin dengan wajah yang memerah sempurna.

Suigetsu menutup wajahnya dengan tangan kanan, ia pun sampai ikut memerah. Sasuke mematung beberapa detik.

Beberapa menit pun berlalu dengan sangat canggung. Hanya Juugo yang masih memasang wajah datar, ia tidak paham dengan kondisi yang sebenarnya sedang terjadi.

"Karin aku min—"

"Tidak apa Sasuke, aku yang salah," Karin tertawa canggung sambil mengambil botol di hadapan Sasuke. "Sekarang aku yang putar ya," Karin memutar botolnya dengan kecepatan biasa.

Tutup botol pun berhenti di arah Suigetsu. Karin berpikir sejenak dan Suigetsu menguap menunggu pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Karin.

"Baiklah, Suigetsu bodoh—"

"—siapa yang kau sebut bodoh hah?"

"—apa kau menyukai seseorang?"

"Pertanyaan macam apa itu!"

"Bukankah bebas untuk menanyakan apapun, dan kau harus jujur!" kata Karin sambil menjulurkan lidahnya.

"Iya! Kau puas?" jawab Suigetsu tegas.

"Siapa? Siapa? Siapa?" tanya Karin antusias.

"Kau hanya boleh bertanya satu kali," kata Suigetsu sambil menyeringai.

"Ah sial!" Karin mendengus kasar. "Aku hanya mau bilang, kasihan sekali gadis yang disukai oleh orang sepertimu."

"Iya, dia memang kasihan sekali," kata Suigetsu santai pada Karin. Sasuke memandang datar Suigetsu dan Karin. "Sekarang giliranku!"

Suigetsu memutar botol dengan semangat. Ujung tutup botolpun akhirnya berhenti pada Sasuke. Suigetsu menyeringai sampai-sampai Karin bisa merasakan kalau makhluk bergigi runcing itu sedang merencanakan sesuatu.

"Ne, Sasuke..."

"Hn."

"Jenis pertanyaanku sama dengan Karin, jadi Sasuke, siapa orang yang kau sukai?"

Blush~ semburat merah tipis muncul di pipi Sasuke. Karin kelabakan mendengar pertanyaan Suigetsu, takut mendengar jawaban Sasuke.

"Aku..."

"Ingat Sasuke, kalau kau bohong kau akan disambar petir," kata Suigetsu sambil menyeringai.

Sasuke terdiam sambil menatap kesal Suigetsu yang masih saja menyeringai.

"Ayo jawab..."

Sasuke masih saja diam. Karin memainkan tangannya gugup menunggu jawaban Sasuke. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, gadis itu berdoa agar Sasuke menyebut namanya.

"Aku..."

"Ya?"

"..."

"Ayo cepat jawab!"

"Tidak akan menjawab."

Suigetsu dan Karin melongo. Sasuke benar-benar sukses mempermainkan mereka.

"Sial kau Sasuke! ini, minum satu botol sake sampai habis! Aku tidak mau tanggung jawab kalau kau mabuk!" Suigetsu benar-benar dibuat kesal.

"Hn." Sasuke meneguk semua sake dalam botol ukuran tanggung. Setelah habis, kepalanya benar-benar pusing. Ini pertama kalinya bagi Sasuke meminum sake. Bagi Sasuke, rasanya sedikit menjijikkan.

"Sekarang ayo lanjut."

"Hn." Sasuke mengambil botol dan memutarnya dengan susah payah, botol tersebut malah menggelinding keluar dari tikar tempat mereka duduk.

"Che— Sasuke kau mabuk rupanya." Suigetsu berdiri dan mengambil botol yang keluar dari tikar mereka. "Ini, putar yang benar!"

"Hn." Kali ini Sasuke dapat memutarnya dengan benar. Ujung tutup botol akhirnya mengarah pada Juugo.

"Nah Sasuke, cepat bertanya," kata Suigetsu yang melihat kepala Sasuke maju mundur tidak jelas.

"Hn."

Krik.

Krik.

Krik.

"Demi apa Sasuke! Cepat bertanya!"

"Cukup Suigetsu, Sasuke sudah mabuk, kita hentikan saja permainan ini."

"Argh! Membosankan!"

Karin mendekati Sasuke dan mencoba menyadarkannya. Sasuke benar-benar sudah mabuk berat, wajahnya memerah dengan kepala yang bergoyang tidak jelas.

"Sasuke ayo kembali ke penginapan," kata Karin sambil memegangi pundak Sasuke.

"Hn."

"Sasuke, ayo."

"Ka~rin~"

"Iya Sasuke, kita harus pulang."

"Karin~~"

Sasuke tiba-tiba memeluk Karin dengan erat. Karin kebingungan dengan wajah yang sudah berubah menjadi kepiting rebus. "Sa-sasuke kau kenapa?"

Mimpi apa aku semalam?! Sasuke sedang memelukku! Seandainya tidak ada Suigetsu dan Juugo sudah aku serang balik Sasuke saat ini! —batin Karin kesenangan.

"Che— Sasuke kau kenapa?" tanya Suigetsu malas.

"Ka~rin~"

"I-iya Sasuke?"

Sasuke menatap Karin. Tidak lama kemudian Sasuke mencium bibir Karin dengan lembut sambil memejamkan matanya. Karin shock! Matanya mengerjap berkali-kali.

"Apa-apaan ini!" teriak Suigetsu.

Bukannya melepaskan ciumannya, Sasuke malah memperdalam ciumannya dengan Karin. Karin sendiri masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Sasuke. Juugo pun hanya menggaruk belakang kepalanya yang jelas tidak gatal.

"Sasuke!"

Tidak ada respon, Sasuke terus saja mencium Karin seakan-akan tanpa bibir Karin, Sasuke bisa mati. Karin sampai tidak berdaya dan tidak bisa menopang tubuhnya lagi dan akhirnya Karin jatuh terbaring dengan Sasuke di atasnya yang masih setia mencium bibirnya.

Suigetsu dan Juugo mematung melihat adegan di hadapan mereka. Tubuh mereka membeku, mau memisahkan kedua orang di hadapan mereka juga tidak bisa. Kaki mereka seperti tertancap lem dan mata mereka tidak bisa tidak memperhatikan kedua orang yang sedang bergumul itu.

Tidak lama kemudian...

Karin pingsan...

Namun, Sasuke masih saja menciuminya. Suigetsu akhirnya dapat menggerakkan kakinya. Dengan perempatan siku yang tercetak jelas di dahinya, Suigetsu mengepalkan tangan kanannya dan menampar Sasuke sampai makhluk tampan itu terpelanting beberapa meter.

Dan akhirnya juga pingsan.

.

.

.

"Urgh." Sasuke bangun dengan kepala yang masih sangat pusing disertai bibir yang membengkak dan pipi kanan yang juga bengkak.

Belum lagi tatapan membunuh Suigetsu dan tatapan datar Juugo padanya, Sasuke benar-benar dibuat bingung.

"Apa yang terja—"

"—jangan tanya! Sekarang ayo kita pindah dari desa ini!" Suigetsu menyeret Sasuke dengan kasar. Sasuke sendiri pasrah saja karena kepalanya benar-benar dilanda sakit yang luar biasa.

.

Karin mundur teratur saat melihat Sasuke, Suigetsu dan Juugo yang datang menghampirinya. Wajahnya memerah melihat Sasuke.

"A-aku pergi duluan!"

"Hey!"

Sasuke tidak terlalu memperdulikan, tangannya terus saja memijat pelipisnya untuk mengurangi pusing yang ia rasakan.

"Ini gara-gara kau Sasuke."

"Aku?" tanya Sasuke polos.

"Sudahlah... kau itu kalau suka dengan Karin bilang saja dengan jelas!"

"Hah?" Sasuke terkejut karena perkataan Suigetsu. Suigetsu pun akhirnya berjalan mengikuti Karin.

Jalan yang mereka lalui dipenuhi dengan bunga sakura yang berjatuhan dengan lambat. Meninggalkan banyak kejujuran yang akhirnya terungkap.

.

.

.

FIN

.

.

.

a/n: Hallo~ sorry lama update. Sibuk sekali dengan RL hehe

Semoga masih banyak yang nungguin fic ini ya :D

Btw HAPPY SASUKARIN MONTH _

Juni adalah festival SasuKarin. Tumblr dan facebookku penuh SK. Sungguh menyenangkan XD

Ayo SK lovers, ramaikan juga SK month 2015 ini :D

Jangan lupa reviewnya, semakin banyak reviewnya semakin semangat nulisnya XD