::The Dark Legacy— First Quarter::

By: Morning Eagle

Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::

Just to warn you all :: AU, OOC, misstype...for this story


Scene 16: Wreak Havoc

~0*0~

.0.

.

.

.

.

.

.

.

Rukia terduduk di sofa yang menghadap jendela, memaparkan keindahan Sungai East di tengah hari yang terik. Dia menunggu sementara Ichigo sedang berbicara dengan salah satu werewolf yang berpatroli. Memberikan laporan, sebutnya. Sudah hampir lima menit dan Rukia semakin merasa tak nyaman. Sebagian karena kejengkelannya akibat kejadian tempo hari belum memudar. Duduk di sofa, di dalam kamar Sang Beta adalah pilihan terburuk yang membuat otaknya mendidih panas.

Sikap protektif Ichigo semakin menjadi sejak pagi hari. Diawali ketika Rukia baru saja terbangun dan Ichigo mengetuk pintu kamarnya lebih dari lima kali. Sekadar mengecek keadaan, katanya. Lalu berlanjut di ruang makan, ketika mereka menyantap sarapan pagi. Ichigo tidak mau membiarkan Rukia menjauh darinya. Mata Sang Beta selalu memerhatikan sudut ruangan, dan beberapa werewolf dibuat takut olehnya.

Sekarang, Rukia hanya bisa tertunduk masam ketika Ichigo kembali menyeret gadis itu masuk. Ke dalam kamarnya.

"Kau tidak perlu menjagaku dua puluh empat jam seperti ini," ungkap Rukia, ketika Ichigo sudah menutup teleponnya.

Ichigo mendesah, terduduk di sampingnya. Rukia bisa merasakan sofanya bergerak dan tertekan semakin dalam.

"Aku tidak ingin Kokuto menimbulkan masalah lagi."

"Dan menjadikanku objek tahananmu?" tanya Rukia sarkastik.

"Aku sedang tidak menahanmu," balas Ichigo sengit. "Kau bebas melakukan apa pun."

"Di dalam kamarmu?" Alis Rukia berkedut semakin dalam.

"Ya. Anggap saja kamarmu sendiri. Aku tidak masalah dengan hal itu."

"Kamarku hanya berjarak kurang dari satu meter dari pintu depanmu," tunjuk Rukia dengan telunjuknya, pada pintu kayu yang meredam emosinya dari lorong luar. "Apakah Kokuto akan berjalan di depan kamarku dan masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu?"

Ichigo terdiam sesaat, tangannya terlipat di depan dada. "Ya, bisa saja, bukan? Aku tidak bisa menebak apa yang akan terjadi."

Rukia menyerah, mengerang kesal dan membiarkan emosinya mengambil alih. Dia berjalan ke sisi ruangan lainnya, di mana kasur Ichigo dibiarkan berantakan tanpa melipat rapi selimut juga seprainya. Rukia merebahkan tubuhnya, kepala lebih dulu jatuh di atas kasur.

Gadis itu berteriak teredam, sebelum berhenti karena sulit mengambil napas.

"Ada apa denganmu?" tanya Ichigo, setelah keheningan berlalu di antara keduanya.

"Melepaskan emosiku." Kata-kata Rukia terdengar samar. "Biarkan aku tenggelam dalam kesendirian … selimut … entahlah—aku tidak bisa berpikir."

Rukia merasakan tangan Ichigo menyentuh bahunya, perlahan membelai lembut kepalanya. Rasanya hangat juga nyaman.

"Aku tidak akan membiarkan kau jatuh sendirian, kautahu itu," bisik Ichigo tepat di sebelah telinga Rukia.

Rukia merasakan rasa panas mulai menjalar dari telinga hingga wajahnya. Begitu cepat, seperti tersiram oleh air mendidih. Dia tidak mau bangun dari posisinya, sekadar melihat wajah Ichigo yang berada dekat di sebelahnya, lalu menambah rona sipu yang mengubah cara berpikirnya. Menjadi lebih berbunga-bunga juga terasa manis.

"Kau tidak mau melihatku?"

Rukia menyerah. Dia menggerakkan kepalanya ke samping, melirik Ichigo dari sebelah matanya.

Seringai Ichigo berhasil membuat jantungnya berdetak tidak karuan.

"Apakah bersama denganku sepanjang hari akan semembosankan itu?" tanya Ichigo, mengulurkan jari-jarinya untuk membelai pipi Rukia.

Rukia tidak bisa berpikir. Hanya bisa merasakan kelembutan yang kini menyibakkan rambutnya, lalu membelai lehernya.

"Kau membisu."

"Aku tidak—" Kemarahannya perlahan menghilang tanpa jejak. "Jangan lakukan itu!"

"Melakukan apa? Aku hanya bertanya."

"Tapi itu membuatku ragu … dan aku tidak suka itu…"

Ichigo tidak menjawab. Dia menarik tangannya dan beringsut bangun dari posisinya. Sang Beta duduk di sisi ranjang dengan tangan saling bertaut, bertumpu pada kakinya.

Rukia menyesali apa yang sudah dikatakannya. Ketika tangan itu tidak lagi membelai kulitnya lembut.

"Baiklah, apa yang ingin kauketahui?" tanya Ichigo. "Aku akan berusaha menjawab apa pun itu, asalkan kau tidak menolakku lagi."

Rukia sedikit terkejut, ketika mendapati sedikit kegetiran di suara Ichigo. Rasanya seperti mendengar sosok serigalanya yang merajuk. Terabaikan.

Gadis itu bangun dan duduk menyamping, melihat kerutan di wajah Sang Beta semakin kentara. Percampuran antara kesedihan juga kebingungan.

"Itu yang kaupikirkan?" Rukia balas bertanya. Dia menggigit bibirnya ragu. "Apa yang membuat Senna melindungimu begitu kuat dibandingkan kakaknya sendiri?"

Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Rukia. Ichigo mendengus geli.

"Aku pun tidak tahu pasti mengenai hal itu. Senna adalah pribadi yang sedikit rumit, dia memang suka mencuri perhatian dengan bertindak gegabah tetapi tak lebih daripada itu. Dibesarkan oleh keluarga yang tidak begitu memerhatikannya juga menekan kekuatan werewolf-nya, mungkin itu yang membuatnya sedikit memiliki jiwa pemberontak. Kokuto yang mengajaknya keluar pertama kali, menyadarkannya bahwa kekuatan werewolf bukan sekadar sebuah kutukan. Senna sangat menyayangi kakaknya, tapi perlahan kedekatan mereka semakin menjauh. Dia bersifat lebih agresif ketika keselamatan kelompok diragukan oleh Kokuto."

Bila menyangkut dirimu, pikir Rukia. Tapi gadis itu tak sanggup untuk mengatakannya dengan lantang. "Kalian sudah lama saling mengenal," kata Rukia. Dia merasakan dadanya seperti ditusuk jarum kasat mata. Dingin juga terasa pilu.

"Kami tumbuh bersama sejak kecil. Senna sudah bergabung ke dalam kelompok sejak dia masih berumur tujuh tahun, dibawa Kokuto keluar dari keluarga angkatnya. Mereka dibesarkan di panti asuhan sebelum akhirnya diadopsi oleh keluarga baru yang merupakan keluarga setengah werewolf. Sebagian orang yang memiliki darah keturunan werewolf menolak untuk memercayai insting liarnya, termasuk keluarga baru Kokuto juga Senna.

"Kokuto tidak menyukai kekangan dan mencari kebebasan, mungkin itu insting werewolf-nya yang memanggil untuk dibebaskan. Ayahku sama sekali tidak menolak ketika dua werewolf yang masih di bawah umur mencari tempat perlindungan. Seorang Alpha memiliki jiwa pemimpin sekaligus ayah dari semuanya, itu yang dikatakan ayahku."

Rasa simpati tidak bisa ditolak Rukia begitu saja. Tumbuh bersama kakak satu-satunya juga pernah dirasakannya. Walaupun menyerang kakaknya sendiri masih menjadi perdebatan batinnya. Rukia tidak mengerti akan hal itu.

"Apakah mungkin karena kau adalah—" Kata-kata Rukia terhenti, ketika tenggorokannya tercekat, seperti menelan bongkahan batu. "Senna mengatakan kau adalah pasangannya…"

Ichigo melirik Rukia, ekspresinya tidak bisa ditebak. "Aku tidak percaya mengenai legenda tentang mate dan sebagainya. Kami adalah werewolf terkecil saat itu, jadi dia merupakan temanku satu-satunya yang bisa saling berbagi juga diandalkan. Aku lebih suka menyebutnya partner saat kami membagi tugas untuk berpatroli, juga ketika mengeluarkan emosi kami sebagai sesosok werewolf liar. Senna hanya teman bagiku, tidak lebih."

Rukia tidak bisa menyanggah hal itu. Dia hanyalah seorang yang asing, orang luar yang tidak akan bisa masuk ke dalam dunia di mana Ichigo tumbuh. Senna teman masa kecilnya dan kenangan itu tidak bisa tergantikan oleh apa pun.

Rukia merasa buruk dengan dirinya sendiri. Rasa iri membuat perasaanya buta juga kalut tanpa sebab.

"Tapi, terkadang sikapnya memang menyebalkan," lanjut Ichigo. "Werewolf perempuan tumbuh menjadi lebih sensitif, dua kali lebih cepat daripada werewolf laki-laki."

"Kau tidak bisa mengerti perasaannya," gumam Rukia. "Seorang Beta yang tidak peka terhadap instingnya sendiri."

Ichigo mendengus, wajahnya memberengut karena cibiran Rukia. "Hei, insting tidak selalu bisa menebak perasaan seseorang. Karena itulah aku juga tidak mengerti dirimu, Rukia."

"Aku?" tanya Rukia terkejut.

"Mengapa kau marah dan apa yang membuatmu tiba-tiba menghindar jauh dariku, juga tanganmu yang bergerak lebih cepat dari kepalamu."

"Apa?" Rukia memelototi Ichigo. Tangannya spontan bergerak dan memukul lengan atas Ichigo. "Itu karena kau yang bersikap menyebalkan!"

"Hei! Kau bertanya maka aku menjawab," protes Ichigo, mengelus lengan atasnya, walau tidak terasa sakit sedikit pun. "Tidak bolehkah aku mengatakan pendapatku?"

Rukia memutar bola matanya. Dia bermaksud berdiri dari ranjang, ketika Ichigo menahan dan mendorongnya kembali hingga terjatuh. Kini pria itu yang menghalangi posisinya, dengan tangan terentang di sisi tubuh Rukia.

Wajah gadis itu kembali terasa panas.

"Tapi, itu adalah sisi yang membuatku semakin tertarik kepadamu, Rukia. Mau tidak mau, kau seakan menarikku begitu kuat." Wajah Ichigo tertunduk, hingga kalung rantainya menyentuh kulit leher Rukia. Besi yang sedikit hangat. "Aku pun tidak mengerti apa penyebabnya."

Bibir Ichigo menyentuh rahang Rukia, mengantarkan panas yang berlebih berikut rasa kalut pada gadis itu. Kekhawatiran Rukia seakan lenyap, lagi-lagi oleh sebuah afeksi manis yang membuat jantungnya berdebar.

"Aku tidak ingin juga tidak bisa menjauh darimu, dan ini sungguh aneh," ungkap Ichigo. Napasnya memberikan belaian lembut pada wajah Rukia.

Rukia tidak bisa berpikir jernih.

"Lalu, bagaimana dengan ceritamu?" tanya Rukia, menggigit bibirnya untuk menahan kepanikannya.

Ichigo berhenti di sisi wajah Rukia, dengan bibir yang menyentuh ringan pipinya. Matanya dipenuhi dengan keingintahuan besar.

"Ceritakan tentang dirimu," lanjut Rukia, menahan napasnya.

"Apa yang ingin kauketahui tentangku?" bisik Ichigo, menggodanya.

"Um … tentang apa yang kaulakukan, hobimu… Atau keluargamu—bagaimana akhirnya kau bisa menjadi calon Beta terkuat seperti yang teman-temanmu selalu katakan?"

Ichigo tertawa kecil, ketika menyadari kegugupan Rukia terlihat manis di matanya. Wajah gadis itu berubah menjadi merah muda. "Itu lebih dari satu pertanyaan. Baiklah, bila itu bisa membuatmu puas."

Rukia menunggu jawabannya dengan mata yang hampir tak berkedip. Ichigo berbaring di sisinya, memberikan jarak agar Rukia bisa kembali bernapas normal. Juga memberinya waktu untuk berpikir.

"Aku tidak memiliki kebiasaan khusus. Sebagian waktuku dihabiskan dengan berpatroli juga menjaga kelompok agar tetap kondusif. Terkadang membaca buku seharian adalah pilihan terbaik bila ada waktu luang." Ichigo tersenyum ketika Rukia mengamatinya terlalu serius. "Dan soal Beta, karena aku yang selalu dilimpahkan tugas oleh ayahku—sebagai pengganti dirinya selama Alpha tidak ada di tempat."

"Kau tidak melanjutkan sekolah?" tanya Rukia. Dia bisa menebak kalau Sang Beta lebih tua darinya.

"Aku sedang menabung untuk yang satu itu," jawab Ichigo. "Ayahku tidak memberikan uang lebih hanya untuk biaya menuntut ilmu yang terlalu besar. Terkadang aku mengambil kerja part-time, sedikit menyisihkan uang walaupun membutuhkan waktu cukup lama."

"Itu aneh, ketika kau tidak terhambat oleh kesulitan finansial yang berarti. Apakah werewolf tidak begitu mementingkan pendidikan bagi keturunannya?"

"Bukan begitu, hanya saja—universitas yang menjadi tujuan utamaku sangat memakan biaya. Aku menabung untuk Harvard atau Oxford."

Rukia hampir tersedak napasnya sendiri.

Ichigo memelototinya tidak percaya, "Jadi kau pikir ini lucu? Aku serius."

"Tidak—hanya saja, aku tidak menyangka kalau kau memiliki target yang begitu … hebat?" Rukia tercekat kata-katanya sendiri.

"Sebenarnya tidak ada masalah untuk ujian masuknya, karena masih ada jalur beasiswa dan semacamnya. Biaya tambahan juga kehidupan di sana yang cukup sulit untuk kutanggung sendiri," ungkap Ichigo. "Kau terdengar seperti ayahku. Dia benar-benar lepas tangan ketika aku baru menyebutkan jurusan yang ingin kuambil."

"Jurusan apa yang ingin kauambil?"

Seringai Ichigo terbentuk, lambang kepercayaan dirinya. "Bahasa Inggris dan literatur."

Itu terlalu sulit untuk dipahami Rukia.

Rukia mengamati kamar Ichigo, terutama pada lemari yang memiliki beberapa deret buku tersusun rapi. Buku-buku yang luput dari pengamatan Rukia, karena terletak di sudut ruangan yang hampir tak tersentuh. Area pribadi milik Ichigo.

"Karena itu kau senang membaca," kata Rukia. Dia berjalan menuju rak di seberang ruangan, mengamati buku yang sedikit rumit untuk dipahaminya. "Sekarang aku sedikit mengerti." Tangannya mengambil salah satu buku.

Charles Dickens, itu judul yang tertera pada sampulnya. Buku tebal dan terasa berat dalam genggaman Rukia.

"Itu beberapa karya Dickens, walau hanya berupa kumpulan cerita singkat. Kau bisa membacanya kalau mau. Bahasanya mudah untuk dipahami."

"Bolehkah?" tanya Rukia ragu. Seakan menyentuh sampulnya sudah cukup untuk merusak keindahannya.

Ichigo mengangguk, terduduk di sisi ranjang. "Itu bisa mengisi waktu luangmu. Juga baik untuk melatih otakmu."

"Seakan kau sedang menyindirku."

"Aku hanya memberi masukan, Rukia. Tidak perlu sensitif seperti itu."

Rukia tersenyum, merasa satu langkahnya didapat dengan begitu mudah. Lebih dekat mengenal sosok Sang Beta. Ichigo sudah membiarkannya masuk ke dalam dunianya, di mana mimpi juga kebiasaannya terungkap tanpa paksaan.

"Ini akan membutuhkan waktu," kata Rukia, membawa buku itu dalam genggamannya. Dia memeluknya seakan buku itu akan rusak bila keluar dari tempat amannya. "Terima kasih, Ichigo."

"Tidak perlu. Kau bisa membaca semuanya kapan pun kaumau."

"Aku tidak begitu yakin dengan buku lainnya. Bahasa Inggrisku tidak sebagus itu, kau tahu," ungkap Rukia.

Rukia melihat sebuah foto yang terpajang di sisi rak, sedikit tersembunyi dari pandangan. Rukia memiringkan tubuhnya, mengamati foto itu yang terhalang bayangan. Sosok perempuan berambut panjang, memiliki warna yang sama dengan milik Ichigo. Secerah mentari sore.

Rukia tahu siapa sosok itu. Dia pernah melihatnya sebelum ini.

"Ini foto ibumu," kata Rukia. "Kau benar-benar mirip dengannya."

Ichigo tidak menjawab. Bibirnya membentuk garis lurus yang datar.

"Apa yang terjadi?" tanya Rukia ragu. Dia melihat Ichigo berubah murung. "Kau bisa menceritakannya kepadaku, bila kau ingin. Aku ingin mendengarnya—"

"Tidak perlu," potong Ichigo. "Tidak ada yang perlu dibicarakan mengenai masa laluku, Rukia."

Rukia tertegun diam. Dia tidak bisa merasakan apa pun selain rasa pilu yang menyayat hatinya. Kali ini lebih kuat.

Ichigo memejamkan matanya erat. Kedua tangannya terkepal di samping tubuhnya. Pertanda tidak baik ketika pembicaraan merubah suasana menjadi lebih buruk.

Suara telepon menyelamatkan mereka, atau hanya Rukia seorang. Gadis itu tidak perlu merasakan matanya yang nanar karena menahan penolakan. Ichigo sudah bangkit untuk mengangkat ponsel, berjalan ke sisi ruangan lainnya dengan punggung menghadap Rukia.

Rukia merasa ingin menghilang saat itu juga. Buku dalam genggamannya terasa sepuluh kali lebih berat, meneka kulit tangannya seakan ingin melukai.

.

.

…..~***~…..

.

.

Kelompok werewolf berkumpul di sisi ruang lapang, membentuk lingkaran besar dengan Sang Alpha yang berpusat di tengahnya. Sinar matahari bersinar melalui celah atap bangunan yang tidak tertutup beton. Para werewolves bersiap menunggu intruksi Isshin, diam dalam ketegangan yang tampak pada sikap tubuhnya.

Ichigo berdiri di sisi ruangan terdepan, hampir di dekat Isshin. Rukia berada di sebelahnya, tidak menjauh sedikit pun sejak Ichigo membawanya keluar menuju tempat pertemuan. Ini kedua kalinya Rukia berdiri di tempat persembunyian werewolves Manhattan, di sebuah gedung terbengkalai tanpa perabot dan berdinding beton tebal. Hanya cahaya matahari yang menjadi penerang ruangan.

"Kemunculan Quincy berikut hollow adalah suatu pertanda buruk yang mengancam keamanan kelompok," kata Isshin, suaranya menggema hingga ke ujung ruangan. Tegas dan penuh wibawa. "Quincy mulai menampakkan diri di Memphis, berhadapan langsung dengan Ichigo juga anggota kelompok lainnya. Dan seperti yang kalian ketahui, perbatasan bagian Barat diserang oleh hollow tempo hari, mengakibatkan Shuuhei terluka cukup parah karenanya."

Suara bisikan dan perbincangan mulai terdengar seperti kertas kusut. Para werewolves yang saling bertukar pendapat, penuh rasa ingin tahu.

Rukia merasakan beberapa pasang mata seakan menusuk punggungnya. Kini dirinya menjadi pusat perhatian sebagai pembahasan secara tak langsung.

"Diam!" geram Isshin, kembali menciptakan suasana tenang dalam sekali hentakan. "Masalah serius ini memberikan kesimpulan terakhir, yaitu menjaga keamanan para werewolves di Amerika Utara. Karena itu, aku meminta beberapa dari kalian kembali ke Montana. Akan ada rapat yang dicetuskan kelompok dari Utara, klan Shiba dari Kanada."

Rukia mendapati ketegangan di antara para werewolves. Tidak terkecuali Kokuto yang berdiri di sisi seberang. Calon Beta satunya yang berdiri tegap dan memerhatikan Sang Alpha seksama. Kokuto bersikap lebih tenang daripada yang biasanya dilakukan kepada Rukia.

"Aku akan membagi kelompok untuk menentukan urutan kepergian. Sebagian yang tidak terpanggil akan tetap menjaga tempat ini, melakukan rutinitas kalian. Hanya kelompok utama yang pergi untuk beberapa hari ke depan," kata Isshin. "Rukia akan pergi bersama denganku sebagai tindakan pengamanan yang kelompok berikan. Menjaganya dari strigoi juga Quincy sudah menjadi tugas utama kita."

Sebagian besar werewolves menyahut dengan anggukan dan suara persetujuan. Perintah Sang Alpha tidak bisa diabaikan begitu saja. Ikatan kuat yang mengikat mereka sedemikian kokoh.

Isshin menyebutkan beberapa nama yang akan ikut bersamanya berangkat ke Montana. Ichigo menjadi yang pertama disebut, berikut Kokuto sebagai Beta satunya. Rangiku, Kensei, Kira, dan Senna adalah nama-nama yang Rukia kenal diantaranya, termasuk ke dalam kelompok utama. Tersisih Chad dan Shuuhei, juga beberapa nama lainnya yang terdengar asing di telinga Rukia. Shuuhei harus menjalani proses pemulihan karena lukanya yang belum seratus persen pulih.

"Ini sungguh sebuah keputusan mendadak," kata Rangiku setelah rapat dadakan usai. "Aku tidak mau menyetir selama perjalanan ke Montana dalam jalur malam."

"Biar aku saja," kata Kira, mengajukan diri. "Perlu beberapa mobil untuk membawa rombongan ini sekaligus. Alpha sudah menentukan tempatnya bersama Beta satunya."

Beberapa pasang mata memerhatikan Kokuto yang setia berdiri di samping Isshin. Mereka sedang membahas sesuatu dengan tatapan serius.

"Dia mengambil peranmu, pal," kata Kensei kepada Ichigo. Sang Beta hanya terdiam dengan rahang mengeras.

"Aku bisa menyetir untukmu bila kau mau, Ichigo." Senna muncul entah dari mana, beringsut ke samping Ichigo dengan wajah tersenyum lebar. "Kau tahu aku sangat bisa diandalkan dalam menyetir di malam hari. Mataku lebih tajam darimu."

"Seperti biasanya kau tidak mau mengalah," celetuk Ichigo.

"Hei, itu sudah menjadi kebiasaan lama, kau tahu."

Rukia hanya bisa diam selama Ichigo berbicara dengan Senna, sesekali membahas masa lalu di mana Rukia tidak bisa ikut di dalamnya. Dia menjadi orang yang terasingkan dalam sesaat. Senna sangat pandai dalam menciptakan topik yang menarik lawan bicaranya.

"Di mana semangatmu yang membara itu?" tanya Kensei, dia beringsut ke samping Rukia. "Aku bisa melihat raut wajahmu yang begitu masam, gadis kecil. Bahkan, rasa cemburumu begitu kental terasa."

Rukia mengerjap panik. Tidak pernah menyangka ada werewolf yang lebih peka daripada Ichigo—Sang Beta yang terkadang sulit untuk diandalkan.

"Kensei benar. Kau kalah satu poin dari Senna kali ini," kata Rangiku, menepuk bahu Rukia untuk menyemangati.

"Apa aku bisa satu mobil bersamamu?" tanya Rukia kepada Rangiku. Susah payah dia berusaha menyembunyikan kekesalannya.

Rangiku terbelalak, tidak memercayai apa yang baru saja didengarnya. "Jadi kalian sedang bertengkar atau apa? Aku tidak ingin ikut campur, hanya saja ini benar-benar mengganggu."

"Karena kau tidak tahu harus darimana mencari sumber gosipmu itu? Tidak jera setelah Ichigo memarahimu?" sindir Kira.

Rukia hampir melupakan bahwa Rangiku adalah sumber biang onarnya. Dia tidak mementingkan hal itu selama dirinya bisa menjauh dari Ichigo. Untuk sekarang.

"Ichigo tidak akan membiarkanmu," kata Kensei kepada Rukia. "Dia Beta yang keras kepala, jadi kupikir merencanakan pengasingan diri seperti ini tidak ada gunanya. Mengapa tidak kau hadapi seperti biasanya? Kupikir kau cukup tangguh."

"Aku tidak bisa," kata Rukia, berbisik sendu. "Ini bukan duniaku. Tugas kalian melindungiku sudah cukup berat, bukan? Aku tidak mau menambah beban dengan masalah pribadi."

"Tidak ada yang perlu dicemaskan karena kau adalah pasangan Beta, Rukia."

Rangiku memelototi Kensei, berikut Kira yang tidak bisa menahan geraman peringatannya. Kensei tidak memedulikan kedua temannya. Tubuhnya berdiri tegap layaknya besi yang kokoh.

Tidak bisa dipungkiri Rukia terlihat seperti rusa yang tertangkap oleh lampu mobil. Wajahnya benar-benar panik.

"Apa maksudmu? Jadi kalian bermain 'mak comblang' di belakangku?" tanya Rukia memekik.

"Tidak perlu mengatakannya, Kensei. Beta tidak akan suka hal ini," cegah Kira.

"Kalian benar-benar dekat," ungkap Kensei, mengacuhkan Kira. "Tidak ada salahnya menyebut kalian sebagai pasangan. Lagipula, sudah sangat terlihat kalau kau adalah mate bagi Ichigo."

Rukia hampir tersedak napasnya sendiri. Apa-apaan ini?

"Aku mendengar apa yang kaukatakan, Kensei," tegur Ichigo, mengernyit. "Jangan berpikiran konyol!"

"Kau yang tidak peka," balas Kensei, berdiri tegap di depan Ichigo dengan sikap menantang. Jarang ada yang mau melawan balik Sang Beta, di sisi lain kekuatan Beta adalah yang terkuat setelah Alpha. "Mempermainkan perasaan seseorang dan terus menyangkal mengenai apa itu mate bagimu. Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapmu. Semua ini sudah mengalir dari darah nenek moyangmu, jadi terima sajalah!"

"Ya, seandainya mereka bisa membuktikan hal itu dengan tindakan nyata! Tidak tertulis secara jelas bagaimana seorang werewolf bisa menemukan pasangan hidupnya seperti dia adalah pusat dari segalanya. Itu hal terbodoh yang pernah kudengar." Ichigo menggertak balik.

"Lihat! Sekarang kau menyebut dirimu sebagai seorang calon Alpha?" sindir Kensei.

Ichigo menggeram marah dan mengepalkan tinjunya. Senna segera berlari dan mendorong tubuh Ichigo ke belakang. Pria itu bergeming; tubuhnya sekokoh batu.

"Hentikan Ichigo! Sampai kapan kau akan terus tersulut emosimu sendiri?" tanya Senna, berusaha menarik perhatian Ichigo. "Dan berhentilah menarik kesimpulan gegabah, Kensei. Jangan mempersulit Ichigo lebih dari ini!"

"Aku hanya berusaha menyadarkan otak tumpulnya dan berhentilah melindungi Beta yang lemah ini," balas Kensei, memiringkan lehernya untuk meregangkan otot yang terlalu tegang.

"Apa masalahmu, Kensei?" Rangiku beringsut mendekat, berusaha melerai pertengkaran yang akan segera terjadi.

Kensei menunjuk Ichigo dengan dagunya. "Dia membuatku kesal. Menyanggah apa yang leluhur sudah berikan sebagai warisan darah, namun melakukan yang sebaliknya. Tidakkah itu menyakiti perasaan Rukia sendiri? Apa karena gadis ini adalah orang luar, huh?"

Rukia merasa gugup, tidak tahu harus mengambil langkah apa. Tanpa disadari dia berdiri di samping Kensei, bersembunyi di balik tubuh kekarnya.

Mata Ichigo jatuh pada Rukia, memandang tidak percaya. Gadis itu berusaha menjauh darinya, dan memberikan sentakan kuat pada instingnya. Ichigo berjalan mendekat, berusaha menarik Rukia. Emosi yang masih membayang di wajah berikut gerak tubuhnya, tanpa disengaja menyakiti Rukia. Ichigo mencoba menariknya paksa.

Rukia terkejut, berusaha melepaskan tangan Ichigo yang mencengkram pergelangan tangannya.

Kensei melihat hal itu, spontan mendorong kuat bahu Ichigo. Sikap protektifnya mengambil alih.

Geraman rendah berlanjut pada gertakan tulang juga gigi yang bergesekkan. Ichigo kalah oleh amarahnya, berusaha berubah ke dalam tubuh werewolf-nya, namun terhalang oleh kalung rantai yang mencekik lehernya. Kensei masih bisa mengontrol dirinya, walau jari-jari tangannya sudah setengah berubah, menunjukkan cakarnya yang tajam.

"Ichigo!" Senna memanggil panik. Tangannya ditepis Ichigo ketika berusaha menyentuhnya. "Kendalikan dirimu!"

"Senna, mundur!" Kokuto muncul dan berusaha menarik adiknya menjauh. "Jangan mendekati werewolf yang tidak bisa mengontrol dirinya!"

"Tapi—"

Isshin berdiri di samping Ichigo, menggeram rendah dan menonjok bahu anaknya dengan tinju terkepal. Gigi taringnya terlihat sebagai ancaman keras. Alpha yang mengeluarkan peringatan kepada anggotanya yang membangkang.

Ichigo menggeram, sebelah tangannya memegangi kalung yang mencekik lehernya. Tubuhnya menunduk lebih rendah ketika Isshin berdiri tegap di hadapannya.

"Ichigo," panggil Rukia panik. Kensei menghentikannya dengan sebelah tangan.

"Jangan," ucap Kensei. "Werewolf yang hilang kendali bisa melukaimu tanpa ampun. Dia dalam situasi yang berbahaya."

"Sungguh bodoh," kata Rangiku, memandang Ichigo prihatin. Alisnya tertekuk di tengah dahinya. "Dia tidak perlu memaksa untuk melawan Alpha, tidak ada gunanya."

"Dan nyatanya dia masih berusaha." Kira memerhatikan Sang Beta yang berusaha disudutkan. Mata Ichigo sesekali mencari Rukia di balik tubuh Kensei. "Dia menginginkan Rukia. Instingnya sekarang adalah untuk melindungi."

"Tapi ini terlalu gegabah. Kensei hanya sedikit menggertaknya dan dengan cepat emosi Ichigo tersulut," kata Rangiku.

"Ini yang terjadi pada werewolf yang kehilangan akal karena pasangannya," jelas Kensei. Dia sudah bersikap lebih baik, dengan napas stabil yang menenangkan gerak tubuhnya. "Aku pernah mengalami hal ini, ketika Mashiro hampir diserang sekelompok pria mabuk. Aku hilang kendali dan emosiku memutus akal sehatku dalam sekejab, seakan kau tidak bisa mengendalikan tubuhmu sendiri. Bila Chad dan Shuuhei tidak ada di sana, mungkin hal buruk akan menimpa para manusia keji itu."

Rukia tidak bisa berkata apa pun, selain memerhatikan Ichigo yang berlutut dengan napas memburu. Isshin masih berdiri tegap, tidak kehilangan kendali seperti apa yang Kensei hampir lakukan. Sang Alpha berhasil menundukkan Beta yang melawan perintahnya.

"Kalian bisa pergi lebih dulu," kata Isshin, suaranya rendah hampir seperti menggeram. "Rangiku, tolong jaga Rukia. Aku akan menjaga Ichigo hingga emosinya stabil kembali."

Rukia merasakan tangan Rangiku merangkul bahunya. Dia hanya bisa menurut, melangkah menuju tangga ke lantai bawah. Matanya tidak bisa beralih dari Ichigo, mencari kehangatan yang tersisa dari sosok pria pelindungnya. Ichigo masih menunduk dengan alis berkerut, seakan sedang merutuki dirinya sendiri. Sebuah kesalahan fatal hampir dilakukannya.

Tidak bisa mencapai Ichigo membuat Rukia sedikit putus asa. Pria itu mengacuhkannya untuk pertama kali. Dan rasa sakit terasa di pergelangan tangannya. Rukia melihat bekas cengkraman merah muda di atas kulitnya. Bukti dari kekuatan Ichigo yang diluar kendali.

"Dia akan baik-baik saja," kata Rangiku. Hak sepatu boots-nya mengetuk aspal, memberikan ketukan berulang yang menyamai detak jantung Rukia. "Ichigo—mungkin dia menyesali apa yang sudah diperbuatnya telah menyakiti dirimu, Rukia."

Ichigo tidak akan pernah berbuat seperti itu, pikir Rukia. Sebuah ungkapan yang seharusnya disangkal oleh akal sehatnya. Giginya menggigit bibir kuat-kuat, menahan teriakannya untuk memanggil nama Sang Beta yang tertinggal di belakangnya.

.

.

…..~***~…..

.

.

Matahari hampir terbenam di ujung cakrawala, ketika mobil masih melewati jalan panjang melewati jalan bebas hambatan di sepanjang Minessota—jalan tercepat menuju markas utama kelompok werewolf Amerika Utara di Montana. Kira yang memegang setir kemudi, Kensei duduk di sebelahnya. Rangiku duduk di bangku belakang bersama Rukia yang masih membisu. Sepanjang perjalanan Rukia hanya terpaku menatap ke jendela luar, mengamati warna langit yang perlahan berubah memudar.

Warna jingga lembut mengingatkannya pada sosok Ichigo. Sang Beta yang tidak menjaganya kali ini, terpisah jarak yang membuat hati Rukia seakan tercabik. Rasanya sungguh pahit, menyadari dirinya sudah terlalu jauh terikat dengan Ichigo. Tenggelam dalam rasa manis ketika akhirnya perasaan mereka saling berbalas. Keraguan melonggarkan ikatannya menjadi saling menyakiti. Rukia tidak pernah mengira konsekuensinya bisa berubah buruk dalam sekejab.

Atmosfer hening yang canggung masih terasa begitu kental. Kensei memilih untuk menutup mata, berharap kantuk bisa membawanya pergi dari realita. Kira terlalu fokus pada jalanan di depan yang sudah berubah gelap. Rangiku sesekali memerhatikan Rukia di sisinya, memiliki tanggung jawab pengganti sebagai pelindung gadis itu.

Rukia menghela napas kesekian kalinya. Rasa dingin pendingin mobil membuat kulitnya kering. Bibirnya terkelupas karena kekurangan cairan lembab.

"Sudah berapa lama kalian tahu?" tanya Rukia, memecah keheningan dengan sebuah bisikan.

Rangiku yang merespon pertama kali, menatap Rukia antusias. Akhirnya gadis itu tidak lagi diam dan menyiksa dirinya.

"Mengenai hal apa, Rukia?"

"Kalian mengetahui sesuatu di belakangku, bukan? Kensei menyebut aku adalah pasangan Ichigo." Kata-kata Rukia tercekat di tenggorokannya. "—mate, itu yang kalian percayai."

Tidak ada yang menjawab, selain keheningan kembali terasa di antara mereka.

"Apa kalian bisa mengambil sebuah kesimpulan dari mitos yang kalian percayai begitu saja?" tanya Rukia, meninggikan suaranya.

"Mate bukanlah mitos belaka," ungkap Kensei. Ketenangan mewarnai sikap tubuhnya. "Memang tidak ada banyak sumber tertulis mengenai hal itu, karena apa yang dirasakan werewolf kepada pasangannya cukup rumit. Seorang mate ditentukan bukan dari penilaian fisik semata, atau mengenal pasangannya melalui kepribadian yang membutuhkan waktu lama. Perasaan setiap werewolf berbeda-beda, tergantung sifat juga masalah yang dialaminya saat bertemu dengan mate-nya. Yang kurasakan pertama kali saat bertemu mate-ku hampir sama seperti tersengat listrik."

"Karena itu kau sangat tergila-gila kepada Mashiro, huh?" tanya Kira. "Kau melindunginya dengan cara yang tak biasa, Kensei. Itu menakuti Tetsuzaemon."

Kensei mengedikkan bahunya. "Apa boleh buat, aku tidak punya pilihan lain. Siapa pun yang kulihat saat itu sangat memungkinkan untuk menyakiti Mashiro."

"Bahkan kawanmu sendiri?" Rangiku bertanya, menunjukkan kebingungannya.

"Kau akan merasakannya ketika bertemu dengan pasanganmu, Matsumoto."

"Dan apa yang membuatmu berpikir aku adalah pasangan Ichigo?" tanya Rukia lagi. Pertanyaannya belum terjawab sepenuhnya.

Kensei memerhatikan bayangan Rukia dari kaca spion depan. Kegugupan terlihat dari alis Rukia yang tertekuk tajam. "Aku pernah mengalaminya, jadi aku tahu apa yang terjadi bila seorang werewolf bertemu dengan pasangannya. Kepekaan, itu yang disebut Alpha sebagai salah satu kelebihan seorang werewolf. Sayangnya, Ichigo tidak memiliki kemampuan yang satu itu. Pada awalnya Ichigo berhasil menyembunyikan perasaannya dari orang luar. Namun, perlahan perasaan itu terbuka dengan sendirinya tanpa dia sadari, dan sekarang dia kembali meragukannya."

"Aku hanya menebak dari yang kulihat," ungkap Rangiku, tersenyum lebar. "Sangat kentara ketika Ichigo bersikap berbeda di sekitarmu. Dia memang mendapatkan tugas untuk menjagamu, tapi tidak pernah kulihat sebelumnya dia bisa bersikap begitu protektif. Bahkan tidak kepada Senna, Ichigo tidak suka terlibat lebih jauh dengan perasaannya sendiri."

"Dan tercium sesuatu yang berbeda," kata Kira, mengikuti ke mana arah pembicaraan ini mengarah. "Kau tahu apa itu, Kensei? Sepertinya Ichigo memunculkan bau yang khas, lebih manis atau seperti itu."

Rukia hampir tidak bisa menahan tawa gelinya. Pembicaraan personal werewolf selalu bisa membuatnya terpukau.

"Jadi, apa perasaanmu kepadanya, Rukia? Aku tidak bermaksud ikut campur, hanya saja hubungan kalian sedikit rumit dan bisa berakhir dengan saling menyakiti. Ichigo termasuk werewolf yang tidak peka dan itu kekurangan terbesarnya sebagai seorang Beta," kata Rangiku.

Rukia merasakan kulit wajahnya memanas cepat. Kegelapan membuatnya lega, karena bisa menyembunyikan rona pipinya yang semerah apel. Jantungnya berdebar tidak karuan, ketika merasakan perasaan yang pernah dirasakannya di dekat Sang Beta.

Kejujuran yang seakan merubahnya menjadi seseorang yang sama sekali berbeda. Kehangatan juga kelembutan yang terasa dari pribadi keras seorang Ichigo, dan kepercayaan yang diberikan untuk melindungi Rukia dari strigoi maupun hollow. Rukia menyukainya, bagaimana Ichigo bersikap di sekitarnya.

Seakan Ichigo memang benar-benar ada hanya untuk dirinya.

"Aku bisa melihat itu dari wajahmu," kata Rangiku, tersenyum girang. "Kalau begitu selamat untuk kalian berdua."

"Ichigo belum mengatakannya di hadapan kelompok. Hubungan mereka masih dikatakan perasaan satu pihak," sanggah Kira.

"Entah apa yang dipikirkan pria bodoh itu. Menutup diri dan menyangkal perasannya tidak akan menghasilkan apa pun selain kebodohannya sendiri!" Kensei menggerutu.

"Kau menyebut bodoh dua kali," kata Kira.

"Karena dia memang benar-benar bodoh! Memikirkannya saja bisa membuatku marah."

Rukia melirik Rangiku di sampingnya, ketika rasa panas tidak lagi terasa di kedua pipinya. Dua werewolf di kursi depan sedang membahas persoalan yang sedikit rumit, mengenai perasaan pribadi dan terutama Sang Beta.

"Apa maksudnya perasaan satu pihak?" tanya Rukia kepada Rangiku.

"Seorang werewolf yang sudah mendapatkan mate, harus mengikrarkan hubungan mereka di depan seluruh anggota kelompok. Dan melihat Ichigo adalah keturuan Sang Alpha, maka perlu diadakan pesta kecil untuk merayakannya."

Sekarang wajah Rukia berubah pucat. "Tapi, ini memang perasaan sepihak, bukan?"

"Maksudmu?" Rangiku menaikkan kedua alisnya tinggi.

"Ichigo tidak mau mengakui tentang mate, jadi belum tentu dia akan mengatakannya kepada kalian."

Perubahan di suara Rukia membuat Rangiku merasa simpati. Ada kegetiran terselip di sana.

"Dia akan mengakuinya cepat atau lambat, percayalah kepadaku!" Rangiku memberi semangat, dorongan. "Apalagi Alpha sudah turun tangan untuk masalah ini. Satu atau dua pukulan di kepala Ichigo mungkin bisa membantu menyadarkannya."

Rukia mengharapkannya demikian.

Dengan cepat dia membungkam pikirannya yang berubah haluan, ke arah cara Rangiku berpikir. Mengakui perasaannya sendiri. Rukia merasa dirinya setengah ceroboh juga bodoh. Rasa sukanya kepada Ichigo tidak bisa hanya diibaratkan sebagai ikatan mate semata.

Perasaannya terasa lebih jauh daripada itu. Berbahaya sekaligus menggoda di waktu yang bersamaan.

Dengan kata lain, tiga orang werewolves sudah menerima Rukia menjadi salah satu bagian di dalam kelompok. Dan Rukia merasa tidak tenang tentang hal itu.

Kira memperlambat laju mobil kemudian. Pegangan pada setirnya mengeras, menonjolkan buku-buku jarinya.

"Kalian lihat itu?"

Kensei membuka matanya dan memajukan tubuhnya ke arah dasbor. "Apa?"

Rangiku memerhatikan ke jendela luar, mengikuti ke mana mata Kira tertuju. "Aku tidak melihat apa pun, Kira. Apa mungkin rusa liar?"

Rukia merasakan tubuhnya menegang. Rasa dingin menggelitik tenguknya.

Ada sesuatu yang mengintai mereka dari balik bayang-bayang pohon dan rerumputan tinggi.

"Aku bersumpah melihat sesuatu yang bergerak," kata Kira lagi. "Dan di mana mobil yang lainnya?"

"Mereka tertinggal di belakang," kata Rangiku. "Kita mengemudi terlalu jauh dari kelompok."

"Ini jalur aman untuk dilalui. Beberapa kali aku melewati area ini, tidak ada hal yang mengganggu—"

Sebuah tabrakan keras menghantam bagian belakang mobil. Kira kehilangan kendali setirnya, tidak bisa mengontrol mobil yang terdorong ke sisi jalan. Rukia hampir menjerit, ketika hentakan kuat membentur sisi kaca jendelanya. Mobil keluar dari jalur, menabrak sebuah pohon besar.

Rukia merasakan kepalanya berdenyut nyeri. Seat-belt masih terpasang aman, menahan tubuhnya tidak terlontar dari kursinya.

Teriakan dan makian, lalu geraman terdengar di latar belakang.

Rangiku memegang bahu Rukia, memanggil nama gadis itu seraya menariknya keluar dari mobil.

Rukia melihat Kira berubah dari kaca jendela mobil yang sudah pecah. Wujud serigalanya menggeram kepada sesuatu, seseorang yang tersembunyi di balik bayang-bayang. Rukia menyipitkan matanya, berusaha menebak siapa sosok itu sebenarnya.

Ada dua, mungkin tiga orang mengintai.

Rukia merasakan udara dingin mengisi paru-parunya. Dia terbatuk saat punggungnya membentur tanah, kerikil menekan telapak tangannya. Rangiku menunduk di samping Rukia. Rambut emasnya membingkai wajahnya serupa seperti lingkaran halo di malam hari.

"Rukia, kau harus bersembunyi! Quincy datang menyerang—"

Tubuh Rangiku tertarik ke belakang dan membentur batang pohon. Rukia terbelalak, ketika sosok bayangan itu terlihat di depan matanya.

Quincy laki-laki berbaju putih dengan mata semerah darah. Taringnya ditunjukkan sebagai bentuk ancaman.

"Rangiku!"

Rangiku bergerak cepat, menerjang Quincy itu dengan sekali lompatan. Kedua tangannya mencengkram leher Quincy dan mulutnya menggeram marah. Taring yang tidak kalah mengancam keluar dari bibirnya yang semerah mawar segar. Matanya memicing tajam dengan warna abu sliver menyala.

Rukia tidak pernah mengira bahwa seorang werewolf wanita bisa berubah seanggun itu. Sekaligus mengerikan.

Rangiku berubah ke dalam wujud werewolf-nya lebih cepat dari kebanyakan werewolves, menyeret Quincy itu bersamanya ke sisi tanah lapang terbuka. Menyingkirkannya dari Rukia yang terluka.

Rukia mengamati bagaimana mereka bertarung, menggunakan tinju dan cakar. Gigi Rangiku setajam belati, berusaha menerkam musuhnya yang pandai berkelit juga menghindar. Si Quincy berhasil mengerahkan tinjunya pada moncong Rangiku, membuat werewolf itu mundur dan memekik sakit.

Bantuan datang, seekor werewolf yang lebih besar, berbulu abu tua di kegelapan malam tanpa cahaya bulan. Kensei menghantam tubuh Quincy itu dan langsung menerkam lehernya. Teriakan mengerikan berkumandang di udara, berikut lolongan pada langit malam.

Rukia bangkit berdiri dari duduknya, merasakan kepalanya kembali berdenyut dan sisi tubuh sebelah kanannya terasa lebam. Dia berjalan menjauh dari mobil yang sudah ringsek, melewati rumput liar panjang yang hampir setinggi betisnya.

"Manusia?" Seorang Quincy muncul dari belakang Rukia, dari arah depan mobil. Quincy wanita dengan wajah pucat dan mata merah. Dia terlihat geram, mengamati Rukia yang perlahan menjauh darinya.

"Bukan," desisnya. Dia mengamati lebih lekat dengan mata terbelalak. "Kau fairy?"

Rukia lari tanpa pikir panjang, masuk ke dalam hutan yang diisi pepohonan tinggi. Quincy itu berteriak dan memekik. Benturan keras terdengar kemudian.

Rukia melirik ke balik bahunya, melihat werewolf yang menarik kaki Quincy itu ke belakang. Rukia menebak itu Kira, tubuh werewolf-nya sedikit lebih besar dari Rangiku, berwarna coklat pucat. Si Quincy wanita menendang Kira dengan kaki satunya, membuat werewolf itu terpelanting ke belakang.

Rukia merasakan teror kembali mengintainya, ketika Quincy itu menggeram kepadanya.

Beberapa suara menggema dari balik bayangan, lebih banyak suara yang bukan sebuah geraman liar werewolves. Quincy berpakain putih berdatangan memenuhi area di sekitar mobil, hampir dari segala arah. Rukia merasakan kakinya melangkah lebih cepat. Lari menjauh dan masuk ke dalam hutan.

Derap langkah mengikutinya dari belakang. Seperti hentakan predator yang memberikan rasa dingin di sekujur tubuh. Bulu kuduk meremang, teror menarik bayangan kaki ke dalam kegelapan.

Rukia merasakan paru-parunya terbakar. Keringat dingin menggelitik lehernya. Kakinya tidak berhenti berlari, walaupun ototnya sudah terasa sakit menyiksa. Tidak ada yang bisa menolongnya selain dirinya sendiri. Ketika para werewolves berusaha bertahan hidup dengan taring juga cakarnya, Rukia hanya mempunyai dua kepalan tinju lemah tak berdaya.

Tiba-tiba jari tangannya seperti tergelitik oleh dinginnya es. Rukia merasakan rasa itu, ketika kekuatan memancar keluar dari dalam tubuhnya. Panas dan dingin menjadi satu. Ingatan akan kekuatan misteriusnya kembali menghantui seperti mimpi buruk.

Ketika Ichigo tidak ada di sisinya.

"Tidak," katanya terengah. "Jangan sekarang … kumohon!"

Rukia tidak tahu sudah berapa jauh dia berlari. Pepohonan perlahan menjadi lebih sedikit, menyisakan hamparan padang rumput luas yang mengarah kepada jalanan bebas hambatan.

Tubuhnya hampir ambruk, ketika Rukia berbelok ke sisi Timur, menubruk sesuatu yang keras.

Sepasang tangan memegang bahunya kuat, tidak membiarkan Rukia terjatuh ke atas tanah.

Mata Rukia terbelalak ketika mendapati seorang pria jangkung memandangnya tajam. Seorang pria asing yang memakai jaket denim menutupi kaos putihnya.

Rukia hampir memekik ngeri, berteriak dengan kepalan tinju siap di sisi tubuhnya.

"Kau manusia?" tanya pria itu, tidak membiarkan Rukia bicara lebih dulu. "Apa yang dilakukan seorang manusia di tempat ini?"

..~*(to be continued…)*~…..

.

.

.

.

.

.

.

Author's note:

Rusa yang tertangkap lampu mobil, istilah ini suka ada di dalam novel terjemahan (versi Bahasa Inggris), semacam ungkapan ekspresi terkejut seseorang hingga terbelalak.

Mak comblang, adakah istilah yang lebih baku? Hehe…

Karakter baru di akhir chapter. Sedikit bocoran, ini bukan Quincy.

Sosok Rangiku yang berubah itu terbayang benar-benar keren. Rambut emas bergelombangnya, juga wajah cantiknya berubah lebih garang. Seandainya ada referensi gambarnya… Mungkin hampir serupa seperti Victoria (Rachelle Lefervre) di serial Twilight, hanya saja dia vampire, bukan werewolf.

Ichigo tertarik dengan literature dan Bahasa Inggris, tidak aneh bila dia menyukai Shakespeare (tekankan hal satu ini pada author manga-nya yang asal nulis kesukaan Ichigo tanpa memasukkannya ke dalam cerita!). Ichigo suka hal-hal rumit terutama baca karya-karya klasik. Buku Charles Dickens di dalam cerita sebenarnya referensi dari buku yang kupunya, karya klasik Dickens bergambar dan didiskon murah di toko buku! Berbahasa Indonesia pula. Sayang stoknya banyak dan minat pembelinya sungguh kurang.

Yah, sudah terlalu lama aku tidak update, disebabkan berbagai kendala. Salah satunya karena tidak adanya wifi buat update fic, jadi harus cari wifi gratis atau beli kuota yang terhitung boros. Sedang bermasalah dengan provider wifi dan membuat aku jengkel buat terus berlangganan. Juga, karena peliknya kerjaan di dunia nyata yang menyita waktu lebih banyak. Aku mohon maaf untuk hal ini, dan juga tidak bisa update sesering sebelumnya. Tapi cerita ini masih berlanjut, aku masih ingin melanjutkannya walau terhalang kendala, seperti sumber info yang membutuhkan internet, juga mood yang terkadang berubah-rubah.

Mau mengucapkan terima kasih banyak bagi yang masih menunggu kelanjutan kisah ini. Aku sangat bersyukur masih ada yang bertanya dan menginginkan fic ini berlanjut. Terima kasih juga karena masih belum melupakan pair terhebat sepanjang masa, Ichiruki! Jujur aku masih susah move on, dan menonton kembali salah satu ending Ichiruki masih membuat aku menangis TAT…

Agak sulit kembali ke cerita yang agak lama sudah kutinggalkan. Jadi harus baca ulang plot, bingung, baca ulang chapter, bingung juga, bolak balik cari ide dan takut salah ketik karena lupa jalan cerita sebelumnya. Haha, maafkan kalau chapter ini feel-nya berbeda dari yang sebelumnya. Sudah lama tidak mengetik fic ini jadi gaya penulisannya agak berbeda.

Seperti yang kalian inginkan, HAHA, Rukia adalah mate Ichigo *garis bawahi*! Walaupun itu Kensei yang bilang, Ichigo-nya sendiri masih belum peka. Ichigo bukannya menyangkal rasa sukanya ke Rukia, tapi dia tidak suka dengan tradisi, mitos mengenai apa itu mate. Menurutnya itu hal sepele dan sulit dimengerti karena rasa suka kepada seseorang tidak bisa diibaratkan seperti cinta pada pandangan pertama atau pada kasus Kensei itu seperti tersengat listrik. Padahal Ichigo-nya aja yang ga peka.. wkwkwkw.. Aku suka menulis sifat bodoh Ichigo yang satu ini sekaligus benci, pingin rasanya lempar batu ke kepalanya xD

Dan mau membahas masalah review. Karena keterbatasan wifi, maka aku memutuskan untuk membalas semua review di sini (di bawah) dan HANYA bagi yang bertanya saja. Mohon maaf sebesar-besarnya karena tidak bisa membalas review kalian satu per satu, karena aku juga belum sempat membalas review dari fic-ficku yang sebelumnya. Kalau ada yang belum terjawab pertanyaannya atau ingin sekadar menyapa (adakah? xD) bisa lewat FB-ku langsung, lewat PM FB jg boleh, karena di sana aku bisa respon cepat. Terima kasih atas perhatiannya…

.

Balasan untuk pertanyaan reviewers:

Allen Walker: Halo, ya seperti yang kamu harapkan Ichiruki sudah terlihat resmi (official) di chapter ini ^^

Vryheid: Hai, soal Byakuya nanti dia akan muncul perannya, sebentar lagi. Dan ya, ada yang Byakuya rahasiakan dari adiknya.

ichigo: Halo, aku baik kok kabarnya. Maaf karena berbagai kendala baru bisa update sekarang. Boleh kok membayangkan kelanjutannya selama aku belum bisa update #gapeka ^^

citradewipratiewy: Hai, soal identitas Rukia terbongkar akan ada di 5 chapter setelah ini, menjelang akhir cerita.

Izumi Kagawa: Hai, Senna harus muncul buat adanya konflik… hahhaha… dan ya chapter ini ada penjelasan tentang masa lalu, sedikit sih.

Yuliita: Halo, nama Rukia sendiri berdasarkan manga-nya berarti Lucia, itu artinya cahaya (kata author manga-nya sih cahaya buat Ichigo, tapi jadi ga terwujud di akhir manga -_-)

amie haruno995: Halo, chapter ini ga didominasi Ichigo dan Senna kok. Cuman ada permasalahn yang melibatkan keduanya… hahhaha Soal kalung si Beta akan dijelaskan di chapter terdepan, juga tentang ibu Ichigo.

tiwie okaza1: Hai, sebenarnya Senna bisa dibilang baik, dia jahat karena Rukia dianggap mengganggu hubungannya dengan Ichigo. Simple tapi berujung konflik rumit.

saya orchestra: Halo, soal Senna kenapa dia ngotot karena perasaan sepihak aja. Di chapter ini diceritakan alasan Ichigo dekat dengan Senna sejak kecil. Ichigo melihat Senna sebatas teman yang bisa diandalkan saja, tapi Senna menganggap itu lebih dari sekadar teman. Simple aja, karena Senna suka sama Ichigo ^^ jadi kayak lupa pijakan alias lupa diri

ujichan: Hai, terima kasih buat sukanya ya ^^ dan ya, Kokuto dan Senna sayangnya tidak bisa dilepaskan.. hahahha… Senna karena dia bisa menjadi bumbu konflik ringan di beberapa chapter, sedangkan Kokuto ada peran penting (nantinya).

Thanks to Allen Walker, Azura Kuchiki, Vryheid, ichigo, rukichigo, Chizuru Mey, wowwoh. geegee, citradewipratiewy, Hakura Cherry, Izumi Kagawa, LastMelodya, costmick, Yuliita, amie haruno995, Damai, DeathBerry Lover, tiwie okaza1, Nafidah, Handayani807, saya orchestra, BlueberryPeanut, Kuromizukou Ryuuki, rury, nozakimalaslogin, Risma Andryyani, ujichan, Mey, aerkei, Ruichi15… Aku baca review kalian satu per satu dan maaf tidak bisa membalas semuanya TAT.. berkat review kalian, aku masih punya semangat 45 buat lanjutin kisah ini, jadi TERIMA KASIH BANYAK! #kissandhug

Playlist:

Fall Out Boy- Alpha Dog

One Republic- Kids

Lorde- Team, Royals

Foxes- Let Go For Tonight

The Script- Exit Wounds

Zedd feat. Matthew Koma- Spectrum

Jack Trammell- Stand And Become Legendary

These songs don't belong to me…