CERITA HORROR PENGANTAR TIDUR

.

Disclaimer : Kuroko no Basuke punya Tadatoshi Fujimaki. Kalau punya saya, pasti Nigou (?) yang jadi pemeran utamanya :v

.

Genre (s) : Horror

.

Warn : Drabble, OOC, Abal, beberapa chapter mungkin AU, Typo selalu jadi fans terberat saya, No Pairing pastinya dan pemeran utama selalu berubah-ubah. Serius, saya ga tau mesti nulis judul apa! -_-

.

.

.

SUARA JAM DAN PENUTUP MATA

.

Kuroko Tetsuya, mantan anggota Generasi Keajaiban yang ketenarannya menguar seantero Jepang, pemain bayangan basket SMA Seirin dengan hawa keberadaan tipis—sangat mendukung sebutan yang ia dapat semasa SMP, juga dikenal dengan wajah tanpa ekspresi serta berlidah tajam, memiliki kebiasaan yang sedikit unik. Menjelang pukul 10 malam atau lebih, saat dirinya beranjak tuk tidur, ia akan menutup pintu kamar dan mematikan lampu utama. Lalu menghidupkan lampu tidur berpenerangan bohlam oranye redup sebelum akhirnya mengenakan penutup mata dan tertidur pulas. Sejak masih bersekolah di SMP Teiko hingga masuk SMA Seirin, teman-teman satu klub basket bersamanya selalu menanyakan hal yang sama kepada lelaki bersurai biru muda; 'Kenapa tidak matikan seluruh lampu saja? Itu lebih baik daripada kau harus menggunakan penutup mata'.

Dan selanjutnya Kuroko akan mengedikkan bahu, memberi jawaban bisu atas pertanyaan yang bahkan ia sudah tak menghitung lagi berapa kali kalimat yang sama itu terlontar dari mulut tiap orang yang berbeda (untuk kasus Kise Ryouta, ia akan menjawab 'Kise-kun, kau menyebalkan'. Dan sang model dari Kaijo hanya bisa pundung di pojokan, menangis sambil mengais-ngais tanah).

Hari ini hari Minggu. Latihan basket berlangsung lebih lama dari biasanya; mulai saat sang surya masih mengintip malu-malu di ufuk timur hingga akhirnya berpulang di ufuk barat. Pemuda yang jarang sekali menunjukkan emosinya, kini mengerucutkan bibir dengan kedua alis bertaut jadi satu. Bagaimana tidak, seharian ini sang pelatih basket Seirin utusan kedua raja setan dari neraka (ia rasa dirinya tak perlu menyebutkan siapa utusan pertama, karena semua orang pasti sudah pada tahu) Riko Aida, memberi mereka menu latihan yang mengerikan tak terkira sampai-sampai Koganei Shinji pingsan di tempat, Hyuuga Junpei berganti kepribadian dan Izuki Shun mulai melawak—ralat, kalau yang terakhir sih selalu dilakukan tiap kali lelaki bermata elang itu punya kesempatan.

"Jangan banyak protes! Ini demi Kagami yang tak bisa ikut latihan basket seminggu kemarin karena nilai ulangannya yang dibawah rata-rata." Ujar Riko kala siang itu, seraya menarik kerah baju belakang pemuda bersurai api membara, Kagami Taiga, yang mencoba kabur tapi gagal.

Saat itu Kuroko langsung tutup telinga, tak ingin mendengar sang cahaya yang terus menerus memohon ampun kepada kapten mereka yang kini tingkat kesadisannya menyamai psikopat kakap kelas satu.

"Malam, Nigou. Maaf aku terlambat." Tangan mungil itu mengelus pelan bulu-bulu hitam anjing jenis siberian husky miliknya dengan penuh kasih sayang. Orang tuanya sedang dinas kerja di luar kota, jadi dirinya hanya sendirian bersama Nigou hari ini. Setelah memberi makan malam yang sedikit terlambat pada peliharaannya, membasuh diri dan berganti baju, ia mulai mengerjakan tumpukan pr yang diberikan masing-masing guru pada murid-murid tersayang. Serius, kenapa hari ini kesialan demi kesialan terus menimpa dirinya? Apakah itu karena ia tak mengindahkan nasihat Midorima Shintarou yang berkata bahwa Aquarius berada di peringkat terbawah dan menolak untuk mengenakan kaos putih bergambar kelinci merah muda sebagai item keberuntungan hari ini? Lagipula siapa yang ingin mengenakan pakaian perempuan seperti itu, huh?

(Ah, sepertinya Kuroko benar-benar lelah jika secara tak sadar ia sudah mengumpat beberapa teman terdekatnya).

Dengan sekali hembusan napas panjang, akhirnya Kuroko memilih untuk menyerah. Ditutupnya buku pelajaran sembari meregangkan otot-otot yang menegang, dan mulai melaksanakan rutinitas keseharian sebelum tidur seperti malam-malam sebelumnya. Kuroko menutup pintu kamar rapat-rapat dan menghidupkan lampu tidur setelah lampu utama kamar sudah sepenuhnya mati. Garis lengkung tipis terulas di wajah pucat saat Nigou ikut melompat naik ke atas ranjang dan mulai tertidur pulas. Kuroko pun melakukan hal yang sama; masuk ke dalam selimut, mencari posisi nyaman bagi punggung yang terasa kram di atas empuknya kasur berukuran satu orang miliknya, sebelum menutup mata dan berniat untuk mulai melakukan perjalanan menyenangkan di dalam alam bawah sadar.

.

DING DONG

.

Sebelum kesadarannya kembali naik ke permukaan saat membran timfani menangkup sebuah suara yang cukup keras—suara dentang jam dinding.

"Ah, sudah tengah malam, ya?" kelopak tipis yang menutupi manik berwarna senada dengan surai baby blue itu perlahan membuka. Namun yang ia dapat hanyalah kegelapan; hitam dan sunyi. Ia sama sekali tak melihat cahaya temaram lampu tidur meski di sudut terjauh visual pandangnya sekalipun. Kuroko hanya bergumam. Memang benar kata temannya, sebaiknya ia mematikan seluruh lampu daripada mengenakan penutup mata. Toh, hasilnya akan sama saja, gelap dan tak bisa melihat apapun. Tapi kebiasaan itu sulit untuk diubah, kalian tahu?

.

DING DONG

.

"Perasaanku saja kah, atau suara jam itu makin lama makin keras?"

Di dalam kesunyian malam itu, Kuroko mengedikkan bahu. Sudahlah, sebaiknya ia segera tidur atau dirinya akan diberi hukuman setimpal gegara terlambat masuk ke sekolah. Dirinya tak terlalu ingin mencari masalah dengan para pembimbing semenjak insiden 'teriakkan tekadmu sekeras mungkin' di atas atap yang direncanakan sang pelatih saat kali pertama Kuroko masuk tim basket Seirin. Mengingatnya, membuat pemuda mungil itu terkekeh kecil dan kembali menutup mata. Namun entah karena otaknya yang tak bisa diajak kompromi untuk segera terlelap atau karena pengaruh film detektif yang ia tonton seminggu lalu, sebuah pertanyaan melintasi pikirannya. Dan pertanyaan itu sangatlah menganggu, sungguh.

Bukankah saat ia menyelesaikan pr tadi, jarum jam masih menunjukkan angka sembilan? Lalu mengapa jam di rumahnya sudah berdentang kencang?

Dan detik berikutnya, sesuatu seperti memukul keras dirinya, membuatnya membuka mata tuk kedua kali dalam sekejab.

Gelap. Sekitarnya masih saja gelap. Tak ada satu cahayapun.

Di tengah berisiknya dentangan jam, samar-samar ia bisa menangkap suara mobil atau motor yang melintas, suara televisi tetangga sebelah yang menyiarkan berita malam, juga Nigou yang mulai mengeram parau meski kali ini geramannya agak lain; seolah ada yang menutup moncongnya dan menahan sang anjing untuk menggonggong. Meski pikirannya berkecamuk, itu tak menghentikan Kuroko untuk menarik satu kesimpulan pasti. Dan detik selanjutnya, dalam kegelapan malam yang mencekam, tubuhnya bergetar hebat. Ia ingat. Ya, ia ingat.

.

Kalau di rumah ini, tak ada jam dinding yang bisa berbunyi.

.

Dan lagi, malam ini dirinya sama sekali tak mengenakan penutup mata.


END


(A/N) :

Hola, hola. Saya kembali lagi membawa cerita horror ke fandom KnB! Kalau udah ada yang kenal dengan saya, pasti tahu kan tipe cerita seperti apa yang suka saya buat? Soalnya zona aman saya pas nulis itu, ya genre suspense, mystery ataupun horror. Kalo blum kenal, ya udah kenalan dulu. Hehe.

Sempet mampir ke fandom Haikyuu dan Beelzebub, tapi balik dulu lagi deh kesini. Soalnya KnB kekurangan fanfic misteri dan cerita penuh twist. Sekarang kebanyakan soal romance, saya jadi bosen. Makanya akhir2 ini saya ngunjungin fandom KHR mulu.

Btw, cerita kali ini berisi drabble horror, cerita yang langsung abis tiap chapternya. Dan cerita yang barusan itu pengalaman asli saya lo (dengan beberapa perubahan tentunya). Kalo aslinya, saya bukannya denger suara jam tapi denger suara orang yang berteriak 'AAAAAAA' dengan nada datar. Dan aslinya saya emang pake penutup mata (diceritanya, Kuroko ga pake). Serius deh, saya ga mau buka penutup mata malem itu, takut kalo2 pas dibuka ada 'sesuatu' di samping saya. Soalnya suaranya itu deket banget, atau memang suaranya bunyi tepat di telinga saya!

Kalo kalian punya cerita seram, boleh PM ke saya. Mungkin saya bisa mengubahnya jadi cerita yang menarik (mungkin ya. Inget, mungkin!). Oke deh, sampai jumpa di chapter selanjutnya. Ciao, ciao!

Don't forget to leave your review

Best Regards

Akabane Kazama