CERITA HORROR PENGANTAR TIDUR

.

Disclaimer: Kuroko no Basuke punya Tadatoshi Fujimaki. Kalau punya saya, pasti Nigou (?) yang jadi pemeran utamanya :v

.

Genre(s): Horror

.

Warn: Drabble, OOC, Abal, beberapa chapter mungkin AU, Typo selalu jadi fans terberat saya, No Pairing pastinya dan pemeran utama selalu berubah-ubah

.

(A/N): Ahahahaha sori, sori. Lama banget ya update chap terakhirnya? Saking lamanya jadi udah banyak lupa ama nama karakter di anime ini; mesti buka wiki. Belum setahun kan pastinya? Masih satu bulan lagi wkwkwk

Cuma keasyikan maen game dan nontonin orang maen game kok. Sekarang lagi tenggelam ama fandomnya Ace Attorney. Dangit, itu game keren banget sih! Nyesel g maen gamenya dari dulu TwT

Saya g bakalan kasih pendapat soal game itu, tenang aja. Maen Undertale aja saya cerewet minta ampun di salah satu fanfic saya; ngabisin hampir 300 kata cuma untuk kasih komentar wew! Bisa dua halaman penuh kalo saya cerita soal pengalaman menakjubkan maen Ace Attorney :'D

So without further ado….enjoy the last chap of Cerita Horror Pengantar Tidur~

.

.

.

TERTUKAR

.

"Sudah kubilang tidak ya tidak! Berhenti mengangguku terus, Izuki!"

"Ayolah, Hyuuga. Berhentilah menjadi penghancur acara dan ikut bersenang-senang."

Hyuuga Junpei, ketua pebasket sekolah Seirin, lelaki berkacamata dengan rambut hitam seperti landak dan memiliki kepribadian ganda—yang satu sebagai senior kelas baik hati dengan senyum menawan, yang satu bak iblis titisan langsung dari Satan—menggerutu kesal, kedua alis menyatu jadi satu. Tumpukan buku absen menjulang seimbang di kedua tangan kekar, sudut mata berkedut tuk sekian kali selagi perempatan kian perempatan muncul di sudut kening. Sudah lebih dari sepuluh menit teman sebanyanya mengikuti bayangan ia layaknya seekor anjing minta perhatian. Dan jujur saja, keinginan untuk mengubur anak satu ini dengan puluhan buku absen makin menguat. Mungkin dengan begitu ia akan berhenti berceloteh dan kehidupannya akan kembali tenang.

"Ujian sebentar lagi. Bukan saatnya untuk bermain-main."

"Eeeh, masih dua minggu lagi, masih lama." Izuki berucap, membanting tangan ke bawah seolah memberi isyarat bisu shooter terbaik Seirin untuk tak perlu khawatir, "lagipula kau sudah pintar."

Ia tak yakin itu sebuah pujian. Karena Hyuuga ingat betul di kala setahun lalu, ia dikalahkan oleh Kagami Taiga, junior bodoh—um clueless kesayangan klub basket di satu pelajaran yang tidak ia pelajari. Memang, Kagami mendapat bantuan dari pensil 'ajaib' Kuroko yang diberikan Midorima kala masih SMP. Tapi tetap saja harga diri tak menerima. Dia adalah senior, god dammit! Ia yang seharusnya memberi arahan pada junior dan menjadi tumpuan bagi mereka di kala susah, bukan sebaliknya!

"Dan dua minggu itu bukan waktu yang lama, kau tahu. Tunggu disini." Hyuuga mengetuk pintu masuk ruang guru sebelum memutar kenop pintu. Diberikan kumpulan absen kepada guru bersangkutan, memberi laporan sebentar akan siapa saja yang masuk, yang izin pulang lebih dulu juga yang tidak ada kabar sedari pagi. Sebelum Hyuuga mengangguk sekali atas tanda permisi dan kembali menghadapi si mendapat julukan eagle eyes, "kau ingin nilaimu turun lagi, huh? Riko akan marah dan memberimu latihan berpuluh-puluh ganda sebelum kau bisa ikut kelas musim panas, kau mesti tahu itu."

Mendengar ancaman tak langsung itu, Izuki berjengit, wajah berubah pucat. Bahkan Hyuuga merinding secara tak sadar, bagaikan angin musim dingin datang dua bulan lebih cepat. Riko mengerikan saat ia marah. Seramnya itu tidak sama dengan perempuan saat sedang datang bulan. Kalau harus diungkapkan dengan satu kalimat, Riko itu monster. Mungkin seperti inilah perasaan anak-anak basket dari sekolah Rakuzan ketika Akashi Seijuuro mendarat di gedung olahraga. Daripada memberi image menenangkan seorang malaikat seperti fans tersembunyi lelaki surai merah cerry kata, bagi mereka yang mengetahui sifat asli anak tunggal bangsawan Akashi ia terlihat seperti dewa kematian yang siap mengayunkan sabit bercorak tengkorak guna memenggal kepala para korban.

Ia yakin di suatu waktu Riko bertemu dengan Akashi di sebuah taman, mengenggam papan berisikan jadwal latihan klub member dengan senyum lebar melebihi batas normal manusia biasa.

(Hyuuga tak mau mengakui pemandangan terlalu menyeramkan mengalahkan film horror bintang satu, jadi secara tak sadar ia memblokir ingatan tabu di belakang ingatan sedalam mungkin. Sepertinya itu sebuah gerakan yang salah)

Wakil ketua basket menjentikkan jari, bola kaca imajiner seolah tumbuh diatas kepala. Hyuuga tetiba berharap ia sedang bermimpi buruk, "Kau tahu, Riko sendiri menyetujuinya! Bahkan Kiyoshi mau meluangkan waktu untuk ikut bersama. "

"Tidak ada hal yang lebih bodoh daripada ritual untuk memanggil setan!"

Itulah yang sedari tadi lelaki dengan matematika sebagai mata pelajaran terbaik usulkan tiga puluh menit setelah kelas usai. Pensil dan kertas yang ia akui adalah alat yang diperlukan agar ritual berjalan tergenggam, ia sodorkan sekali lagi ke wajah berkerut Hyuuga. Bibir dimajukan membentuk angka tiga, bola kaca hitam abu-abu memancarkan kilauan palsu guna memberi efek puppy eyes membuat wanita-wanita di sekitar ber-aww-ing ria. Sayang trik murahan tersebut tidak akan mempan terhadap diri berzodiak Taurus posisi three-pointer. Hyuuga sudah terlatih, mencoba menolak keingin adik lelaki tersayang (meski sering gagal. Tapi itu karena adiknya merupakan keunikan alam tersendiri. Kau tidak tahu betapa mengerikan tatapan lebar yang menyerupai boneka menawan ala bangsawan. Setidaknya ia tak menggunakan senjata mematikan tersebut kepada kedua orang tuanya, atau sekeluarga bisa bangkrut hanya tuk memuaskan hasrat sweet-tooth dengan permen mahal satu kilo seharga dua buah bola basket (yang tentu dapat dihabiskan dalam sekali duduk) Murasakibara pasti senang karena adanya teman seperjuangan). Jadi milik pemuda yang diandalkan dalam memberi arahan saat tanding basket itu bukan apa-apa.

"Ayolah, Hyuuga. Sekali iniiiii saja. Lagipula Kuroko dan Kagami juga ikut."

Kalau saja saat itu Hyuuga sedang minum, ia pasti sudah menyemburkan kembali cairan yang baru menyentuh permukaan lidah keluar; kalau bisa ke wajah menyebalkan point-guard satu ini. Jadi ia memilih untuk tersedak ludah saja, "K-Kagami? Kagami yang itu setuju dengan ide konyolmu ini?!"

Karena dia itu penakut. Berani-sumpah-anime-figure-sengoku-Basara-miliknya-yang-tinggal-sedikit-karena-si-monster-Riko-menghancurkan-setengah-dari-koleksinya, Kagami Taiga itu punya teriakan yang bisa berubah melengking bak penyanyi seriosa kalau-kalau sudah cerita mengenai makluk astral tak kelihatan dengan eksistensi masih dipertanyakan. Badan boleh kekar, wajah boleh garang, tenaga boleh mengagumkan, tapi mental masih dipertanyakan. Aomine Daiki juga. Padahal dua orang itu mendapat julukan "duo tank baja", dimana musuh akan hancur hanya dengan satu senggol bahu. Sayang teman dekatnya tak dapat menerima title tersebut mentah-mentah kalau satu singa dan satu jaguar itu sering bertingkah seperti perempuan bertemu kecoa.

Tapi Hyuuga mendecih. Paling-paling Kuroko terus menerus mendorongnya, seperti Izuki lakukan saat ini, muncul di hadapannya tiba-tiba bagaikan angin lewat—dengan 'ancaman' foto Nigou mungkin?—sehingga Kagami lelah dan menyerukan kalimat persetujan tanpa sadar. Hyuuga bisa membayangkan wajah pucat lelaki surai merah menyala gradasi hitam ketika takdirnya sudah terbelenggu, menangis di pojokan seraya menanam jamur kesuraman. Sementara si bayangan cahaya sendiri memancarkan bunga-bunga musim semi dan senyum tipis penuh kemenangan.

"Jadi? Bagaimana menurutmu?"

"No, thank you."

"Wooh! Jawaban yang sungguh internasional!" lalu Izuki terdiam sebentar, kelopak mata perlahan melebar persenti, "Mengapa orang luar hanya mau makan makanan mereka? Karena makanan milik mereka itu inter—nasi—onal! Ha!"

Itu…parah sekali.

Hyuuga ingin marah.

"Kalian sudah ada lima orang kan? Tak ada persyaratan anggota dalam permainanmu itu. Jadi jangan masukkan aku." Ia mengangguk sekali, memeberi tanda bahwa ia mengakui keberadaan Riko yang sedang mengawasi latihan anak baru yang berminat. Dimana ia balas sigap sebelum kembali mengamati pertumbuhan mereka; menarik kesimpulan akan apa yang harus dilatih lebih, kebiasaan buruk apa yang harus dihilangkan juga partnership mana yang menguntungkan. Ia mengetahui dalam sekilas bahwa satu-satunya perempuan dalam klub basket putra Seirin tersenyum puas dengan permainan Kagami-Kuroko, mengagumkan seperti biasa. Meski ia juga dapat menebak beberapa dari mereka belum terbiasa dengan jurus ninja pemuda surai biru langit; beberapa darinya mengernyit berlebihan. Dalam ruang ganti, dua pemuda bergolongan darah sama menukar baju seragam hari Senin dengan kaos longgar olahraga putih-merah-hitam khas, "atau kau ingin menggenapkan angka agar tak terjadi kesialan?"

"Meeh, bukan alasan bodoh seperti omongan mistis itu. Aku hanya ingin suasana lebih ramai saja~" Izuki berucap, meletakkan pensil dan kertas di atas kursi tunggu, "juga setidaknya dengan begini bisa sedikit meringankan beban Kagami."

Lucu, ia mengumpulkan anggota karena ingin perbincangan lebih meriah, bukan karena syarat standar yang berkata 'kalau angka ganjil, yang satu bisa saja adalah setan yang sedang menyamar'. Padahal apa yang ia sendiri ingin lakukan malam ini itu termasuk ke dalam kategori 'mistis' yang tidak ia percayai.

Mungkin ia sudah lelah.

"Kau tahu, aku menyerah." Wakil ketua basket melonjak, senyum berbariskan gigi putih bersih tersurat, "dan benar katamu. Aku tak ingin junior kita satu itu koma dan melewatkan lomba tanding satu bulan setelah ini."

Satu-satunya lelaki dari satu keluarga pecinta lawak meloncat, tangan terkepal ke atas dan bibir menyerukan teriakan lantang. Hyuuga hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum kecil. Mungkin ada benarnya juga. Lagipula ia sudah belajar penuh tiga hari berturut-turut ini, bahkan ayahnya menyuruh ia untuk istirahat. Tidur malam tak baik untuk atlit seperti mereka; dapat mengurangi kerja jantung dan paru-paru menipis, katanya. Hyuuga tak terlalu pintar dalam pelajaran sains Toh besok juga hari Sabtu. Mungkin tulang punggung keluarga Hyuuga ada benarnya; ia perlu bersenang-senang sedikit.

Jadi pergilah ia ke kelas tiga jam sembilan malam lewat tiga puluh menit.

And boy, ia menyesali tindakannya ini.

Izuki dan Kiyoshi bertingkah terlalu ceria untuk kegiatan yang diadakan pada jam lewat dari waktu tidur orang biasa; tertawa riang dimana pemuda yang berapa senti lebih pendek dari satunya melontarkan lelucon demi lelucon, pemain center mereka menuturkan tawa menggelegar setiap kali ia mengerti maksud dari kumpulan kalimat tersebut. Kagami bersembunyi di balik tubuh Kuroko yang lebih mungil, junior pecinta vanilla sake menepuk pundaknya seolah berusaha untuk menenangkan walau senyum tertahan berkata sebaliknya. Riko mengutak-atik ponsel merah muda miliknya yang, entah mengapa mengeluarkan aura hitam meragukan terlihat amat mengancam, dan senyum yang memiliki efek sama juga terulas di paras cantik itu.

Dia…tidak sedang mengobrol dengan Akashi dan sedang merencanakan siksaan selanjutnya kan?

Oke, satu lagi ingatan yang mungkin akan ia kubur sedalam-dalam indera pengingat berfungsi. Mungkin dengan begitu, pertemuan basket untuk minggu selanjutnya tidak akan terasa terlalu berat jikalau ia tak tahu kebenaran dari mana ia mendapatkan ide penyiksaan—uh, jatah latihan untuk meningkatkan kinerja kerja sama.

Karena inilah ia menyesal. Menyesal sangat, karena ia yakin akan bermimpi buruk; mungkin khayalan seperti monster dengan siluet manager Seirin membayangi mereka dari kegelapan neraka, peluit di tangan yang dapat mengeluarkan laser, digunakan untuk menembak klub basket member jikalau ada satu saja yang bergerak satu detik lebih lambat dari seharusya.

(Mimpi yang sungguh terlalu fiksional, tapi imajinasinya tak akan kemana-mana jikalau Hyuuga sendiri tidak mengalaminya di suatu malam)

"Yoosh, minna! Ayo berkumpul kemari!" kertas yang sedari tadi pagi Izuki bawa ia bentangkan di atas meja belajar, miliknya jikalau dilihat dari buku-buku lawak di dalam laci. Masih dipertanyakan bagaimana bisa tumpukan buku itu tak tertangkap basah sata terjadi razia, "kita akan memulai ritual memanggil Charlie!"

Charlie, Charlie. Hyuuga pernah mendengar permainan ini. Kalau tidak salah dari salah satu film horror yang ia tonton bersama adiknya; katanya filmnya menyeramkan dan, dirinya yang kala itu berusaha untuk bangun di satu malam guna mereview kembali pelajaran-pelajaran tuk ujian tambahan besok siang, setuju untuk menemani; walau akhirnya ia ketiduran juga. Filmya tidak seseram itu; hanya CG bodoh kelas empat, bahkan anak kecil pun tahu kalau hantu itu cuma boneka yang dipotong dan dijahit ulang. Adiknya masih tetap ketakutan sayangnya.

Cara bermainnya, kalau tidak salah ingat, cukup mudah. Peralatan yang diperlukan hanyalah sebuah kertas dan dua buah pensil. Selembar kertas itu dibagi menjadi empat bidang area, dua kuadran area diantara garis silang dibubuhkan kalimat 'ya' dan 'tidak' silang menyilang. Setelahnya, letakkan dua pensil secara rumpang tindih menyilang melintasi pada setiap sumbu bagian tengah. Dan setelah persiapan selesai, yang selanjutnya dilakukan adalah—

"Charlie, Charlie, apa kau disana? Charlie, Charlie, apakah kau nyata?" mengucapkan mantra untuk memanggil si makluk tak kasat mata.

Kalau berhasil, pensil akan bergerak ke kalimat yang telah ditulis.

Well, itu kalau hal tak masuk diakal ini memang benar adanya.

Lima menit berlalu, dan masih belum membuahkan hasil. Kuroko setia merekam kegiatan yang berlangsung namun dengan tambahan reaksi orang sekitar; Kagami mulai sedikit tenang dan beberapa kali menguap, buku 'trik pebasket nasional' ia baca guna tuk menghabiskan waktu. Kiyoshi menampilkan berbagai macam pose setiap kali junior kesayangan mengarahkan kamera handphone ke wajahnya, jika tidak ia akan memberikan pointer pada grafik latihan yang Riko telah gambar dalam waktu singkat itu. Dan Hyuuga sendiri? Ia jatuh terselungkup di atas kursi, manik hitam di balik kacamata bidang memandang langit-langit dengan bosan.

"Sudah hentikan, Izuki—"

"Sebentar lagi! Aku yakin pasti akan berhasil!"

Keras kepala sekali sih anak satu ini.

"Sabar, Hyuuga-senpai." Suara halus Kuroko yang biasanya hampir-hampir tak terdengar jikalau yang diajak bicara tidak berada dalam jarak dua meter kini bagaikan bergema dalam ruang kelas kosong, "sebentar lagi kok, aku yakin."

"K-kenapa kau berkata begitu?" Kagami berkata, paras mendadak memutih.

Member perpustakaan sekolah menarik bibir ke atas sedikit; senyum yang seharusnya menarik perhatian lawan jenis terlihat misterius dan sedikit menganggu, "karena aku mendengar mereka, Kagami-kun"

"Eeek!"

"Hahaha, nice one, Kuroko-kun!" Kiyoshi menepuk tangan terangkat si pemuda—menandakan kalau yang barusan itu kerjasama yang direncanakan—Kagami menggerutu. Riko hanya menggeleng-geleng kepala, surai coklat mengayun melawan gravitasi, lelah dengan tingkah laku mereka yang kekanakan. Memang benar kata orang, anak lelaki itu hanya fisiknya saja yang tumbuh.

"oh, OH! Lihat!" Izuki mendadak berseru, mengangetkan semua; Hyuuga hampir-hampir terjatuh darih kursi. Point guard andalan menunjuk-nunjuk ke arah kertas, senyum lebar terulas di wajah tirus itu. Ketika mereka mendekat—

—pensil itu terarah ke kalimat 'ya'

"Kau…tidak menggerakkannya kan, Izuki?"

"Hidoi, Hyuuga! Kau kira aku selicik itu?!"

"….ya."

"HIDOI!"

Sementara Izuki merengek dan mengguncang-guncang bahu sang kapten berkacamata, Kiyoshi menyeret Kagami—yang mulai ketakutan lagi, disaat keributan berniat untuk kabur—mendekat dan tersenyum, "Hei, Charley-san. Kau benar-benar ada disana?"

Pensil itu berputar perlahan sebelum lagi, berhenti di kalimat 'ya'

Bibir Riko dan Kuroko membulat pertanda kagum, Kiyoshi tertawa, Kagami ingin menangis, Izuki meloncat kegirangan dan Hyuuga menghela napas panjang. Malam ini akan menjadi malam yang panjang.


Satu jam berlalu, dan pertanyaan demi pertanyaan masih saja mereka lontarkan; kebanyakan dituturkan oleh Izuki dan Kiyoshi. Kuroko asyik merekam semuanya dan, katanya, akan ia unggah ke blog karena Aomine menantang bahwa hantu itu tak nyata. Riko menanyakan beberapa opini tentang latihan basket mereka—sepertinya Charlie yang dipanggil mantan pebasket? Karena ia tahu trik latihan mana yang bagus mana yang bukan—selain itu, Riko lebih memilih untuk menonton. Kagami menjauh dari kerumunan sebisa mungkin; saat ini ia sedang menyudutkan diri di ujung kanan kelas. Dan Hyuuga mulai kehabisan tenaga.

"Guys. Jam hampir menunjukkan tengah malam. Cepatlah selesaikan permainan ini."

"Kau tahu, Hyuuga benar, Izuki." Kiyoshi memotong kalimat teman seperjuangan yang bahkan belum terlontar dari bibir dimajukan itu. Ia mengacak rambut hitam lebat, membuat beberapa surai mencuat kesana kemari, "kita bisa memainkan permainan ini di lain waktu. Sudah waktunya untuk pulang~"

Izuki terlihat ingin protes untuk kali terakhir. Namun sekali lihat dari Kuroko dan mata sayu mulai menutup senti demi senti dan tatapan menusuk Riko, ia mengangguk walau ragu, "kalau begitu kalian bisa menungguku diluar. Aku akan mengakhiri ritualnya."

"Pastikan kau melakukan pengakhiran ritual dengan benar, Izuki-kun." Riko berkata, "aku dengar kalau tidak, salah satu dari kita akan diculik oleh Charlie dan kita harus tinggal di dunianya tuk selamanya"

"S-Senpai! Jangan bercanda!"

"Bukankah itu tidak buruk, Kagami-kun?" apa Kiyoshi sedang mencoba untuk menakut-nakuti juniornya lagi? "kau jadi tidak perlu kelaparan. Katanya di dunia hantu waktu tak pernah berjalan lo~"

"GAH!"

Yup. Ia memang benar menakut-nakutinya.

"Tunggu, aku ingin bertanya sekali lagi!" Kuroko berkata, atau lebih tepatnya bergumam. Bola kaca biru langit itu memandang kertas putih, jari telunjuk dan jempol menangkup dagu, memikirkan pertanyaan apa yang sebaiknya ia tanyakan (dari beberapa menit yang lalu, pertanyaan yang ia lempar adalah apakah ia pernah mencoba vanilla sake seumur hidupnya dan apakah minuman favorit ia juga merupakan kesukaan si hantu. Pertanyaan pertama dijawab 'ya', pertanyaan kedua dijawab 'tidak'—dimana Kuroko langsung kecewa—sebelum Izuki balik bertanya apakah ia suka kopi. Jawabannya 'ya'). Penyandangan teknik misdirection mengeluarkan kata 'oh' sekali, wajah mendadak sedih, sebelum kembali berkata, "sedari tadi kau sungguh akrab dengan kami. Apalagi saat Riko-senpai menanyaimu soal basket. Apa…"

"…apakah kau mengenal kami?"

Sunyi.

"K-Kau bicara apa Kuroko?!" pensil itu mendadak bergerak, "EEK!"

.

.

"Ya"

.

.

"Sudah, sudah! Sekarang waktunya kita untuk pulang!" Izuki mendorong dua dari temannya yang mengulas paras lebih putih dari biasa—kebetulan yang ia dorong adalah Hyuuga dan Riko—keluar kelas, "aku akan menghentikan ritualnya. Kalian tunggu sebentar ya!" sebelum kembali ke dalam.

Bahu Kagami jatuh kebawah terlalu berlebih, ia benar-benar lega semua tetek bengek makhluk astral tak nampak ini selesai dan ingin langsung pulang saja; berniat akan berlari secepat kaki jenjang kekar itu dapat membawa tubuhnya. Namun Kiyoshi sang senpai dengan tawa pembawa ketenangan berhasil menangkap kerah baju pemuda berzodiak Leo itu, lagi, "Kuroko-kun. Mengapa kau menanyakan pertanyaan tadi? Kau tahu, pertanyaan barusan itu sedikit…menganggu…"

Kuroko mengucek bola mata bercahaya redup, ia sangat mengantuk, "entahlah. Firasat?"

"Kau bukan perempuan, Kuroko-kun…" Riko bergumam.

"Tapi pertanyaanku barusan mendadak muncul saja di kepala, serius." Bibir mengerucut, ia mencebil, "seperti, kau tahu, saat kau masuk ke kamar ingin mengambil sesuatu, lalu lupa sesaat dan saat keluar kamar, kau ingat kembali? Seperti itu."

Hyuuga akui ia mengerti perasaan itu. Tapi tetap saja, pertanyaan pemuda yang pintar melakukan trik sulap itu serasa punya pengertian lebih yang mengerikan.

(Dan perasaannya sajakah atau ia merasakan…)

(Seseorang sedang mengawasinya?)

"Come on, ayo kita pulang! Lihat, Izuki-senpai sudah selesai tuh!" Kagami berseru, menunjuk ke arah pemuda setinggi 174 cm yang keluar dari dalam kelas sembari tersenyum, "dan bisakah kau lepaskan aku, Kiyoshi-senpai?!"


Malam itu Hyuuga bermimpi.

Ia mendengar isak tangis dalam kegelapan malam.

Juga suara familier namun entah mengapa terasa begitu jauh.

"…sini…"

.

.

"Aku disini…"

.

.

Dan Hyuuga pun terbangun.


"Kau terlihat murung, Kagami-kun."

"Ini semua salahmu, kono yaro!" Kagami melempar bola oranye ke wajah sang bayangan, dimana telapak tangan yang tersedia balik menghentakkan kembali ke si pelempar. Kagami mengelak dan junior baru yang malang menjadi korban, "aku bermimpi buruk! Aku jadi tidak bisa tidur nyenyak tahu!"

Percakapan mereka terdengar hingga ke ujung ruang ganti baju, terdengar oleh Hyuuga yang baru saja keluar dari sana, "kau hanya terlalu paranoid." Kuroko mengambil bola baru—mereka berdua seriusan tak peduli dengan teman seangkatan yang masih terkapar tak berdaya di seberang, sungguh keji—dan kembali latihan pass to pass pada partner terpercaya, "memang kau mimpi seperti apa?"

"Aku mendengar orang mendengkur tepat di sampingku" ia yang bertahan di posisi power forward menggerutu. Kalau dilihat-lihat kantung mata menanungi manik kaca yang biasanya secerah api kobar, "padahal ayahku sedang dinas luar dan tempat tidurku itu hanya muat untukku seorang."

"Kau yakin itu cuma mimpi?" Hyuuga dapat mendengar nada bercanda di balik paras poker-face tanpa ragu. Namun seperti biasa, Kagami yang lemah akan hal-hal mistis tersedak dan wajah memerah berkerut melebihi batas tanda kesal.

"Ja-jangan bercanda! Atau kubunuh kau!" dan mereka berdua kembali bersenda-gurau; atau tepatnya Kuroko mengucapkan kalimat menusuk dan Kagami balas dengan amarah berkali-kali lipat.

Hyuuga angkat bahu dan menghampiri Izuki untuk latihan seperti biasa.


"Wajahmu terlihat pucat, Riko. Kurang tidur?"

Hyuuga masuk ke kelas dan mendapati Kiyoshi sedang duduk di bangku kosong depan meja Riko. Lelaki umur 18 tahun tidak terlalu memperhatikan karena ia sibuk melatih jurus baru, namun benar kata satu dari sekian pemain andalan mereka, Riko nampak putih. Kerutan di dahinya makin kentara (namun tak ada dari mereka yang berani mengatakannya—mungkin Kagami, soalnya dia bodoh—karena secara tak langsung kau mengejeknya bahwa ia mulai terlihat tua) dan paras hampir menyetarai Kuroko.

"Yah…kemarin aku mengalami kejadian aneh.."

"Aneh?"

"Aku kira aku melihat seseorang yang kukenal saat pulang ke rumah semalam. Tapi, " ia menghela napas, satu tangan mengurut dahi dan menyangga kepala yang terasa berat, "saat mau kusapa mendadak dia hilang."

"Huh? Mungkin kau hanya tak melihat ia pergi? Seperti, berbelok di perempatan?"

"Jalan yang kulalui itu lurus, Kiyoshi. Dan gerbang rumah terkucni semua, yah sejauh mata memandang."

"Hmm…mungkin kau memang hanya salah lihat?"

"Mungkin…"

Hyuuga mengambil buku pelajaran dari loker sebelum kembali ke meja dan mulai mengerjakan beberapa soal untuk pelajaran berikutnya


Malam itu Hyuuga bermimpi.

Ia berada di rumah seseorang.

(Ia kenal tempat ini. Tapi mengapa ia tak bisa mengingat lokasi bahkan namanya?)

Hanya ada meja belajar dan kursi yang menemani di dalam kegelapan mencekam itu.

Dan seorang lelaki duduk disana.

Saat ia memanggil namanya (ia tak bisa mendengarnya. Mengapa ia tidak bisa mendengar nama lelaki yang keluar dari bibirnya sendiri?) lelaki itu menoleh.

.

Lelaki itu tak memiliki wajah.

.

(Ia tak percaya hantu. Ia seharusnya takut)

(Tapi mengapa yang ia rasakan saat ini adalah keputusasaan dan—)

(—kesedihan yang mendalam?)

.

.

.

Dan Hyuuga pun terbangun. Dengan keringat membasahi hampir seluruh figur.


"Kau kenapa Kuroko? Wajahmu merah."

"Entahlah, Kagami-kun. Aku merasa panas…"

Hyuuga mendapati kedua juniornya sedang berbicara di sebelah mesin penjual roti. Benar kata Kagami, pemuda umur 16 itu terlihat tak sehat; paras merah dan napas ngos-ngosan. Dirinya bagaikan telah berlari sejauh puluhan kilometer tanpa minum untuk melegakan dahaga.

Kagami meletakkan tangan yang tak sedang mengenggam roti isi mie ke dahi Kuroko, sebelum balik ditarik dengan kecepatan luar biasa, "Shit! Kau panas sekali, Kuroko!"

"Urgh…tapi aku tidak makan yang aneh pagi ini. Dan aku mandi pakai air panas…"

"Aku tak peduli alasanmu demam kenapa, tapi kau harus ke UKS sekarang juga!"

Mereka berdua pergi, Kagami hampir-hampir menyeret Kuroko dikarenakan teman satu itu amat tak berdaya, gerakan lemas. Hyuuga mengulum bibir bawah, ia khawatir. Bukan karena takutnya Kuroko tak bisa ikut latihan minggu depan sehabis ujian, tapi benar-benar takut demam yang ia jangkit merupakan pertanda penyakit yang lebih parah; soalnya dari yang didengar, Kuroko mendadak sakit begitu saja.

Ia berdiri disana, tak tahu apa yang harus dilakukan.


"Bagaimana keadaan Kuroko, Riko?"

"Demamnya sudah turun. Besok ia bisa mengikuti pelajaran seperti biasa." Riko berpaling dari papan berisikan lembaran grafik pemain basket Seirin, "kau sendiri, Kiyoshi? Kau tampak lesu."

Hyuuga melempar basket ke Koganei, yang mana pemuda tan bermulut kucing berhasil tangkap dan langsung ia lempar ke ring. Perlu diingat ia hanya pemain biasa (menurut Riko), jadi tak diragukan lagi jikalau lemparannya gagal. Seenggaknya Tsuchida berhasil menangkap rebound dan kembali melakukan serangan. Ia menghapus keringat yang bergulir di kening kiri, mendengar percakapan mereka berdua dari kumpulan celoteh anggota member.

"Naah, tenang saja. Hanya tidur terlalu malam kemarin. Hujan lebat membuat atap rumah bocor, jadi aku terpaksa membetulkannya. Jangan sampai kakek dan nenekku sakit karena angin malam, kau tahu."

Kiyoshi menggaruk kepala, membuat surai krem berantakan makin terlihat tak keruan, "aku melihat sesuatu yang aneh…"

"…kau juga?"

"Yeah. Aku kira dia juga sedang membetulkan atapnya yang bocor. Tapi setelah kulihat, ia sama sekali tak membawa apa-apa dan lagi…dia seperti sedang memanggilku. Seperti…orang yang sedang minta tolong."

"...kau yakin itu cuma salah lihat?"

Bahu Kiyoshi jatuh, "setelah kejadian yang aku alami kemarin? Aku tidak tahu..."

Hyuuga tak melihat kedatangan bola basket yang melaju sekencang angin, sehingga detik berikutnya yang ia ketahui tubuhnya jatuh dan kacamata bingkai melayang jauh.


"Hidoii mo, Hyuuga~"

"Itu salahmu, baka Izuki!" Hyuuga menggaruk kapas selebar setengah telapak tangan yang menempel di pipi kanan; perawat di UKS memberi ia disinfeksi sebelum merawat memar biru yang membuat Hyuuga terlihat seperti sedang sakit gigi, "untung setidaknya kacamatku tidak pecah."

"Tapi bukan berarti kau harus membunuhku, kan?"

Yah, dikubur hidup-hidup dengan kumpulan bola oranye yang Hyuuga ambil langsung dari keranjang biru mungkin sedikit kejam. Dan ironis. 'Seorang pemain basket mati kehabisan napas karena olahraga favoritnya', ia bisa membayangkan kejadian itu dijadian berita utama di berbagai koran. Setidaknya Kiyoshi, senpai baik hati, siap siaga menolong Izuki dari kemurkaan iblis yang bangkit dari neraka jahanam.

"Orang tuaku sedang tak ada, jadi bersenang-enanglah dan anggap rumah sendiri." Izuki berkata, kaki-kaki membawa pemuda mata elang itu ke dapur, menyiapkan snack guna pengganjal perut.

Hyuuga memutuskan untuk menginap di rumah teman satu klub juga sekelasnya ini. Kamarnya masih terlihat sama dari sebulan lalu ia berkunjung kemari; tempat tidur dengan seprai abu-abu pudar menempel pada dinding berbingkai kaca jendela, lemari baju di sebelah kiri berdempetan dengan meja belajar penuh buku pelajaran dan buku lelucon kelas empat (Izuki benar-benar harus berhenti membeli buku dari author yang sama. Ia sendiri tahu lawakan yang disuguhkan oleh si author sama sekali tak menarik tawa), sementara di sudut seberang terbaring alat-alat penguat otot yang Hyuuga sendiri juga punya, biasa digunakan jikalau minggu itu tak ada latihan namun mereka masih harus menjaga kesehatan tubuh (Riko dan Kagami amat sangat cerewet soal ini).

"Kau ingat, sebulan lalu?" Hyuuga menghirup jus jeruk, mengigit kue kering dan lanjut berkata, "saat kita menonton film horror dan kau berteriak seperti perempuan? Teriakanmu lebih parah daripada Kagami, kau tahu?"

"D-Diamlah! Aku hanya kaget, itu saja!" Izuki berseru, paras memerah karena malu dan bantal putih melayang langsung ke hadapan Hyuuga—tentunya ia berhasil menghindar dan melakukan serangan balik, dimana bantal tersebut ditangkap mantap oleh wajah tirus itu. Izuki jatuh ke belakang dan Hyuuga terkekeh.

.

(Ah ya….Kalau tidak salah—)

(—bukankah mereka menonton film Charlie, Charlie juga kala itu?)


Malam itu Hyuuga bermimpi.

Di kegelapan tak berudara, sebuah tivi menyala

Siaran mendadak berubah.

Bayangan terbentuk dibalik tirai statis.

(Ia kenal bayangan itu)

"…ri…"

"…ergi…"

"Pergi dari dari sini"

.

"HYUUGA!"

.

.

Dan Hyuuga pun terbangun, paras pucat pasi dan jantung berdegup kencang.


Ia duduk di atas kasur terpisah, satu tangan menopang kepala yang berdenyut berlebihan. Tubuh bergetar, napas tak beraturan.

Apa…yang barusan itu? Mimpi buruk?

Tidak. Ia tak yakin kalau yang barusan itu disebut mimpi buruk. Atau bisa disebut mimpi sama sekali. Entah mengapa suara (ia kenal namun tak bisa ia ingat) masih berdengung bak lebah marah di telinga, benar-benar mengacaukan indera pendengaran.

Aku butuh air.

Kaki telanjang bertemu lantai bata membekukan tulang menyapa pori-pori. Setidaknya dingin malam musim semi memberi ia setengah dari seratus persen energi yang menghilang semasa tidur. Kacamata kotak hitam terpaut di atas batang hidung mancung, sayang gelap rumah tak memberi cukup pandangan untuk dilihat. Rumah begitu sepi—jam dua pagi. Biasanya pada waktu segini satu dari orang tua Izuki masih asyik menonton movie tengah malam—yang dapat ia dengar hanya suara langkah kaki dari si dia; bahkan Hyuuga tak mendengar satu jangkripun berderik. Ketika sampai di dapur,

"Izuki?"

Pemuda surai hitam itu berdiri disana; berdiri di depan meja makan, punggung membelakangi Hyuuga.

Mendengar namanya dipanggil, ia menoleh.

.

(Mata yang begitu gelap. Wajah yang terlalu pucat)

(Mengapa ia terlihat seperti orang lain?)

.

"Oh, Hyuuga. Apa yang kau lakukan pagi-pagi buta begini?" ujar Izuki, tersenyum tipis (perasaannya sajakah atau suaranya juga terasa berbeda. Hanya beberapa oktaf lebih rendah, tapi tetap membuat bulu kuduk naik), "haus?"

"Begitulah…" yang ditanya mengambil langkah panjang menuju keran, mengambil gelas kaca dan diisi hampir penuh.

"Sou desu ka?" kepala terangguk, tanda mengerti, "Kalau begitu aku kembali ke kamar ya. Aku mengantuk sekali." Tanpa menunggu persetujuan Hyuuga, Izuki pun pergi.

Meninggalkan sebuah kertas dan pensil di atas meja.

Kertas yang mereka pakai untuk memanggil Charlie.

(Bukankah…Izuki sudah mengehentikan ritualnya? Mengapa—)

Tak jauh dari area pendengarannya, ia mendengar suara ketukan pintu.

Yang berasal dari lemari piring bagian bawah.

.

(Jantung Hyuuga berdetak menyakitkan)

.

Suasana rumah kian detik kian menggelap. Ia berjalan menghampiri asal suara. Ketukan pintu terdengar makin kencang.

.

"Kau ingat, sebulan lalu? Saat kita menonton film horror dan kau berteriak seperti perempuan?

.

Tangan gemetar memegang kenop pintu, perlahan menarik kayu pemisah.

.

"sedari tadi kau sungguh akrab dengan kami. Apalagi saat Riko-senpai menanyaimu soal basket. Apa…apakah kau mengenal kami?"

.

Di balik sana—

.

"Bukankah itu tidak buruk, Kagami-kun. Kau jadi tidak perlu kelaparan. Katanya di dunia hantu waktu tak pernah berjalan."

.

Izuki terikat, masih mengenakan baju sekolah, mata membelalak lebar penuh ketakutan.

.

"Aaah…ketahuan huh? Memang sebaiknya dia kukubur saja. Toh, walau di dunia ini pun, manusia tak bisa mati."

Sang kapten berputar kencang; memposisikan tubuhnya guna melindungi Izuki secara tak sadar—ia dapat mendengar temannya mengeluarkan suara tak jelas bagaikan hewan lemah sedang terpojok. Izuki berdiri disana, ekspresi terlalu tenang bagi seseorang yang ditangkap basah melakukan kejahatan. Senyuman yang seharusnya menenangkan apalagi dikala mereka sedang berada pada posisi sulit lomba basket, kini terasa mencekik leher menghabiskan oksigen.

"Padahal kalau kau bertingkah sebagai sandera yang baik dan tak mencoba untuk menghubungi teman-temanmu," tarikan bibir itu melebar, "semua ini tak akan terjadi"

.

Kagami, Riko, dan Kiyoshi melihat orang asing namun dikenal. Kuroko yang mendadak demam. Hyuuga yang mendapatkan…mimpi? Premonisi? Selama tiga hari berturut-turut. Semuanya mengalami kejadian aneh—

Kecuali Izuki.

Kecuali Izuki.

.

.

Dan semuanya menjadi jelas.

.

.

"Tenang saja, Hyuuga-kun. Aku tak akan menyakitimu dan teman baikmu." Wajah itu meleleh—wajah teman baiknya itu meleleh!—memperlihatkan makhluk hitam berparas hancur lebur, mata merah dengan pupil putih adalah satu-satunya tanda pengenal yang dapat ia deskripsikan dari entitas mengerikan memualkan perut. Hyuuga tak ingin melihat tubuh kelam penuh jahitan tak rapi, menampilkan setengah dari otot manusia yang terbakar dan tulang putih rapuh. Namun ia terlalu shock—terlalu takut—untuknya bergerak dan larilarilaribawaIzukikaburdarisini!

.

"Charlie hanya ingin mengumpulkan teman untuk bermain~"

.

Dunia pun berubah gelap.


"Charlie, Charlie?" Koganei mencuat, Mitobe mengedip.

Izuki mengangguk, "yup! Toh, ujian masih sekitar seminggu beberapa hari lagi. Kita bisa bersenang-senang sedikit?"

"Entahlah, Izuki…seminggu itu tidak lama lo…" Tsuchida berpikir, alis berkerut.

"Ayolah. Hyuuga juga setuju lo! Ya kan, Hyuuga?"

Hyuuga Junpei, ketua pebasket sekolah Seirin, lelaki berkacamata dengan rambut hitam seperti landak dan memiliki kepribadian ganda—yang satu sebagai senior kelas baik hati dengan senyum menawan, yang satu bak iblis titisan langsung dari Satan—yang sedari tadi sedang membaca kamus terjemahan Jepang-Bahasa Inggris, menghentikan kegiatannya, berbalik seraya tersenyum.

"Tentu. Tak ada yang perlu dikhawatirkan."

Mata merah tersembunyi oleh kacamata memantulkan cahaya matahari.

.

.

"Ayo kita bermain~"


END


(A/N):

Deskripsi adiknya Hyuuga itu cuma karangan ya. Jangan terlalu dijadiin canon :'D

Ga terlalu serem sih, lebih ke action. Tapi setidaknya wordnya banyak? #dikeroyok

Cerita diambil dari pengalaman Miyuuchi sang Capuccino

So, this will be the end of Cerita Horror Pengantar Tidur. Terima kasih para pembaca sekalian, baik yang setia menunggu dan juga silent reader. I have a good time~~ #sok nginggris #salahin fanfic inggris yang saya bikin akhir-akhir ini. Sampai jumpa semuanyaaah, aku akan selalu mengenang kalian #alay. Byee~~

Best Regards

Akabane Kazama