Balas Review! :D

Honey Sho: Yah, begitulah dan terima kasih Review-nya! :D

Happy Reading! :D


Sebelumnya di 'The Crazy Summer Camping'...

"Natz! Si Matt udah ketemu, belum?"

"Jad' k'u or'ng y'ng m'l'mpar 'nak b'rnama Matt 'tu, y'?"

"Lu yakin kagak mau balik ke Masion, Lance?"

"Betewe enewe beswe, ini kenapa -hoaaaam- disuruh ngumpul semua di sini?"

"Jadi kita beneran mau Training?"


Chapter 34: New Guest Again?


"Eh, Enzo! Lu tau, kagak? Kayaknya kita kedatangan penghuni baru lagi, deh!"

"Lu tau dari mana, Que?"

"Gue liat sendiri, lho! Cowok berambut pirang dengan kunciran di belakangnya dan mata hijau!"

Daren yang kagak sengaja nguping pembicaraan Dominique dan Enzo di depan kamar mereka pun langsung terkejut mendengarnya.

"Jangan bilang kalau dia..." gumamnya menggantung.


Di ruang tengah...

"Arrrgh, capek!" keluh Saphire sambil meregangkan tangannya dan duduk di sofa.

"Sama!" balas Thundy yang udah duduk duluan sambil menopang dagunya dengan bosan.

"Eh, lu berdua! Ada yang ngerasain sesuatu?" tanya Cowboy yang baru aja muncul dari dapur sambil meminum jus buahnya.

"Apaan, Mein Freund?" Thundy bertanya balik sambil menaikkan alisnya.

"Firasat kayak... Ada yang mau ke sini gitu!" jelas Cowboy.

Saphire dan Thundy pun saling berpandangan dengan bingung, kemudian menatap pemuda pirang berbaju serba coklat tersebut.

"Gue kagak yakin dia bakalan ke sini!" ujar Saphire dengan tampang cemas.

"Idem, kecuali kalau sampai nyasar aja! Lu sama Daren kan tau dia tuh kayak gimana!" balas Cowboy datar sambil mengangkat bahunya dengan cuek dan berjalan pergi meninggalkan kedua temannya.

"Kayaknya bakalan rame aja, deh!" gumam Thundy yang menatap kepergian temannya dari belakang. "Kemaren temennya Lance nyasar ke sini, masa iya ada orang nyasar lagi?"

"Mungkin asrama ini memang cocok dapat julukan 'Asrama yang Bisa Bikin Nyasar Orang' versi On The Spot!" timpal Saphire sambil tertawa garing.

"Ich bezweifle es (Aku meragukan hal itu)!" Thundy pun berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Saphire yang berteriak, "Oy, jelasin dulu lu ngomong apaan barusan! Lu lupa ya kalau gue kagak bisa bahasa Jerman?"


Di lapangan...

"Oy, kalian! Sudah siap?" tanya Ieyasu.

"Kapanpun!" balas Lance singkat.

"Jangan sampai kalian membentur pohon atau tiang listrik kayak kejadian Anko nancep di langit-langit!" peringat Lukas datar dengan kejadian di 'BTP' Chapter 'Class Meeting Gaje Part 4'.

"Hey! Jangan ingatkan aku tentang itu, Norge!" ujar Mathias agak sebal.

"Udah, udah! Cepetan mulainya!" seru Emil kagak sabaran.

Kalian mau tau apa yang mereka lakukan? Wah, itu tidak bisa aku jelaskan secara detail.

Kenapa? Itu karena...

"SEJAK KAPAN ADA TRAMPOLIN, MATRAS, DAN PAPAN JUNGKAT-JUNGKIT DI SINI?!"

Seperti biasa, mereka berlima suka melakukan aksi super nekat. Nah, kali ini mereka akan mencoba beraksi melompat-lompat di atas papan jungkat-jungkit. Soal trampolin dan matras? Kata Mathias sih, itu untuk pengamanan biar kagak ada yang patah tulang kalau mereka mendarat dengan tidak mulus.

"Biasalah, ide gila si Anko lagi!" jawab Lukas sambil menunjuk si jabrik yang malah nyengir lima jari.

"Apa salahnya kan olahraga sedikit?" balas Mathias watados.

"Yang kalian lakukan itu bukan olahraga, tapi NEKAT!" bentak (siapa lagi kalau bukan) Gerrard.

"Ya elah, paling kagak bakalan ada korban ini!" celetuk (baca: kecam) Emil dengan tatapan tajamnya.

Entah kenapa, kayaknya aku tidak tau harus bilang kalau si Emilikita udah kayak emak-emak di Pasar Tanah Atok (?). *Narator ditabok Emil.*

Gerrard pun hanya bisa bergumam 'terserah' dan pergi meninggalkan kelima makhluk sarap tersebut.

"Kapan mulainya?" tanya Lance antusias sambil lompat-lompat di trampolin.

"Oke!" Mathias pun tanpa peringatan langsung berlari ke arah papan jungkat-jungkit dan melompat ke arah papan yang terangkat melontarkan Ieyasu yang masih duduk di papan yang satunya.

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" teriak Ieyasu yang terlontar ke atas sampai menjadi bintang di langit.

"Udah! Kayaknya si Yasu kagak bakalan balik lagi, deh!" gumam Emil datar.


Di depan asrama...

Giro sedang berjalan di depan asrama dan langsung bertabrakan dengan seorang pemuda pirang sampai pemuda berkacamata itu jatuh terduduk.

"Ma-maaf!" kata pemuda itu sambil menolongnya berdiri.

"Tidak apa-apa!" balas pemuda hitam ponytail itu sambil membersihkan dirinya.

"Kau mirip seseorang, tapi siapa ya?" tanya pemuda itu dengan tampang mikir.

Giro pun hanya bisa mengangkat alisnya dengan bingung dan berpikir, 'Ini siapa, ya?'

"Oy, lu siapa?" tanya Elwania yang muncul dari depan pintu.

"Ini gue, lha! Masa kagak inget, sih? Lu kan temen adek gue, jadi gue tau banyak soal lu!"

"Memangnya adek lu siapa?" tanya Elwania dan Giro bersamaan.

"Dary!"

Webek, webek...

'Dary itu bukannya...' pikir Elwania yang langsung terpotong karena teringat sesuatu. "Oy, Daren! Abang lu nyamperin, nih!"

"Hah? Siapa yang lu maksud?" tanya Daren setengah berteriak karena berada di ruang tengah.

"Ini, si Vience! Masa lu lupa sama abang sendiri, sih?" jawab gadis merah twintail itu datar.

"Vience-pyon?" gumam Giro bingung.

Sontak, pemuda coklat ikal itu pun langsung menyelonong keluar dan...

"Fréré!" seru Daren kaget.

"Hay, Dary! Gimana kabarmu dan Saphire?" sapa pemuda yang bernama Vience itu ramah.

"Bagaimana kau bisa ke sini? Aku tidak pernah bilang tentang tempat ini di surat!" tanya Daren heran.

"Yah, ada burung elang ekor merah yang bisa bicara menuntunku ke sini!" jelas Vience sambil menggaruk kepalanya.

"Elang ekor merah yang bicara? Tobias-pyon maksudnya?" tanya Giro ragu.

("Hey, kenapa setiap kali kau manggil orang selalu pakai akhiran '-pyon'?") tanya seekor elang yang bukan elang sambil terbang rendah ke arah mereka berempat.

Memangnya kalian pikir elang biasa mana yang bisa bicara dan terbang ke arah manusia seolah mereka temannya? Itulah sebabkan kenapa aku menekankan kata 'yang bukan elang' tadi.

"Kebiasaan!" balas Giro datar.

("Siapa?") tanya Tobias.

"Yang nanya!" jawab pemuda hitam ponytail itu.

"Kita bukan mau syuting acara 'The Comment', blekok!" bentak Daren yang kesal dengan pembicaraan yang mulai melenceng tersebut.

"Oke, oke! Lupakan!" ujar Giro cuek dan berjalan pergi meninggalkan mereka semua.

("Aku hanya ingin mengantar Vience saja sejak kejadian Idham nyasar ke sini!") jelas burung bernama Tobias itu agar dia kagak berakhir dijadikan sate elang oleh Daren.

"Sejak kapan kau kenal Idham?" tanya Elwania datar tapi sedikit kaget.

("Sejak Negara Baltic bersatu menyerang Russia, ya sejak aku nyasar ke NNG lha!") jawab Tobias dengan garingnya.

Oke, deh! Pertama Giro yang notabene super perlente mendadak bisa melucu ala Danang-Darto, sekarang ada burung aneh yang sok melucu! Dunia udah mulai terbalik, ya!

"Eh, iya! Saphire mana, nih? Udah lama kagak liat dia!" kata Vience yang langsung nyelonong masuk sebelum dicegat oleh adiknya.

"Please deh, Fréré!" Daren menatap kakaknya dengan tampang capek. "Kelakuan lu kayak keponakannya Author yang pengen banget tengkurep, deh!"

Vience pun hanya bisa nyengir.

"Lebih baik aku masuk saja! Flamy pasti kalang kabut kalau tau aku kagak ada di kamar!" gumam Elwania sambil berjalan pergi.

"Ayo, Fréré! Kau juga harus masuk!" Daren pun langsung menarik (baca: menyeret) Vience masuk ke dalam asrama.

("Terus aku ngapain?") tanya Tobias yang bertengger di atas patung harimau duduk di depan teras.

"Lakukan sesukamu!" jawab pemuda coklat ikal itu berhenti sebentar sambil menengok ke belakang dan melanjutkan langkahnya ke dalam.

Tobias pun terbang menjauh dari teras asrama tersebut.


Di lapangan...

"¿Por qué no dejas Tobias unirse a nosotros (Kenapa kau tidak biarkan Tobias ikut kita saja)?" tanya Vience.

"Ne peut pas, mon frère! Elle oiseaux et les humains ne sont pas censés être ensemble (Tidak bisa, kakak! Dia burung dan burung tidak seharusnya bersama manusia)!" balas Daren datar.

"Al menos tenía la mente humana (Setidaknya dia punya pikiran manusia)!"

"Mais cela est une autre histoire, mon frère (Tapi itu lain cerita, kakak)!"

Tapi, kok bisa ya mereka ngomongnya nyambung padahal bahasanya lain banget? Ah, udahlah!

Sontak, kehadiran Vience di sana pun sukses membuat para Daimyo bisik-bisik tidak jauh dari mereka.

"Laisse les (Biarkan saja mereka)!" nasihat Daren sambil terus menarik kakaknya yang bingung kenapa dia jadi pusat perhatian sampai tak sengaja bertemu Saphire.

"Vie-nii?! Kenapa kau bisa berada di sini?!" tanya Saphire kaget.

"Tobias sacrément oiseau qui l'a amené ici (Tobias si burung sialan itu yang membawanya ke sini)!" umpat Daren sebal.

"Uno nunca cambia, Dary (Kau tidak pernah berubah, Dary)!" gumam Vience sweatdrop.

"Pourquoi? Fait le problème si je encore comme maudissant comme d'habitude (Kenapa? Memangnya masalah kalau aku masih suka mengumpat seperti biasanya)?!" balas Daren kesal.

Para Daimyo pun menjauh beberapa langkah dengan ragu. Mereka masih bingung karena dua hal. Pertama karena bagaimana Daren dan Saphire kenal Vience, kedua karena bahasa Daren dan Vience yang tidak dimengerti mereka semua.

"Dary!" Saphire menepuk pundaknya dan menunjuk ke arah para Daimyo yang masih menatap mereka dengan cengo.

"Eh?" Daren dsn Vience pun langsung menengok ke arah yang ditunjuk.

Menyadari telah jadi pusat perhatian, pemuda coklat ikal itu pun langsung menghela nafas pasrah.

"On dirait que nous avons à vous laisser dormir avec nous pendant un moment (Sepertinya kita harus membiarkanmu tidur bersama kami untuk sementara)!" usul Daren kepada kedua kakaknya.

"Estoy de acuerdo (Aku setuju)!" balas Vience dan Saphire menyetujui perkataan adik mereka.


Keesokan harinya...

Terlihat seseorang sedang memantau keadaan di asrama yang agak jauh darinya dengan teropong.

"Here we come!"


To Be Continue...


Preview for Chapter 35:

It's surprise!


Kenapa penjelasan untuk Chapter depan ditulis seperti di atas? Karena mungkin ada yang berbaik hati melanjutkan dengan versinya sendiri dan mau ku-publish dengan senang hati plus menambahkan credit aja gitu! Beneran, deh! ^^V

Review! :D