[Disclaimer has been completed: Thanks to reviewers yang sudah mengingatkan saya siapa pemilik asli Hanayori Dango. www)

Karena ini cerita anak orang kaya, banyak barang bermerek bertebaran—nggak ada maksud ngiklan. Saya tidak dapat keuntungan material apa-apa kok dari fanfic ini. Murni senang-senang.

Fic ini Cuma ambil setting sebagai base. Dan mungkin beberapa adegan yang diplesetkan (saya nggak inget juga ada adegan apa aja). Sisanya karangan saya yang mungkin tidak bermutu dengan typo di mana-mana. Pokoknya ini alay banget lah.

.

.

.

Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama

Hanayori Dango © Yoko Kamio

Meteor Garden, Boys Over Flower, dan Boys Before Flower all based on Yoko Kamio's work

Unprofitable Fanworks

.

Monster Garden

Chapter 1:

F4—Freedom Four?

.

.

Kaki berlapis sepatu kets warna hijau dekil itu menendang mesin motor sesekali. Lalu sang empunya kaki seksi tersebut, yang diketahui bernama Eren Jeager, menggerutu.

"Sialan. Tanggung banget sih. Kenapa mesti mogok sekarang coba?" diucapkan oleh remaja bermata hijau keemasan sembari membuka helm-nya yang berwarna hitam polos.

Terpaksa, sambil misuh-misuh, Eren mesti menarik motornya paling tidak sampai ke parkiran. Apa boleh buat, meskipun motor tua dan belinya second, ini satu-satunya kendaraan perjuangan yang dimiliki Eren. Kalau saja dia bisa, tentu dia juga mau punya satu motor besar yang bodinya seksi. Tapi apa daya, dia mahasiswa yang untuk membayar uang kuliah saja sudah engap setengah mati. Salahkan papa mama yang memintanya masuk Kampus bergengsi Sina sampai kini dia harus kerja sambilan sana sini, hemat tidak jajan ini itu, untuk bantu-bantu bayar uang kuliah yang—jujur saja—biayanya agak tidak mahasiswawi. Itu pun Eren sudah dibantu beasiswa karena otaknya lumayan cemerlang. Kalau tidak siapa sanggup membiayai kuliah kedokteran di kampus Sina? Ngeri banget detil biayanya.

Dalih orangtuanya sih supaya Eren punya masa depan cerah gilang gemilang, makanya mereka memaksakan Eren masuk ke kampus ini. Tapi Eren tahu mereka memasukannya ke sini supaya bisa menggaet calon menantu kaya. Dasar materialistis. Memang gampang apa menarik perhatian masyarakat yang tiap hari pakai outfit branded dari kepala sampai kaki cuma dengan modal Converse lusuh dan jaket kulit imitasi?

Eren lelah. Sudah bisa menjalani kehidupan kampus yang tenang dan bahagia saja dia sudah senang. Dia tidak berharap macam-macam. Apalagi bermimpi ada putri kaya yang mau meminangnya sebagai calon suami. Hah! Dia cukup tahu diri kok. Apalagi dia tahu benar tipe-tipe pria macam apa yang populer di kampusnya.

Tampan, kaya, dan ningrat. Parameter standar mahasiswa populer di kampus yang sayangnya tidak bisa dipenuhi pria standar.

Dan walau Eren dengan sedikit tidak enak hati mengakui dirinya tampan dan bohai, dua faktor terakhir membuatnya tidak bisa lolos filter para tuan putri. Para gadis di sini pasti melihat lekuk seksi kendaraan tunggangan seorang pemuda, bukan sekedar lekuk paha yang punya.

Begitu mencapai gerbang kampus dan melihat sekumpulan siswi dengan bau parfum merebak pada radius dua ratus meter dari lokasi mereka berdiri, Eren tahu dia terlambat hari ini. Ya, Eren suka datang lebih awal untuk bisa menyimpan motor tuanya lalu segera melesat ke kelas untuk beberapa menit tidur tambahan. Telat sedikit saja, jadwalnya buyar, seperti kali ini. Karena apa?

Karena walau kampus ini kampus selebritis, tetap saja ada kumpulan orang norak yang rela tersungkur di altar pemujaan populasi—yang katanya—terkeren di seluruh penjuru kampus.

Dasar sesat.

Sembari berusaha melewati barikade para siswi sambil menarik motornya, Eren berjinjit-jinjit penasaran juga sampai akhirnya dia bisa melihat sumber kehebohan. Yang sebenarnya sih tidak perlu ditebak lagi, Eren sekedar ingin tahu saja kok hari ini sumber kehebohan itu datang dengan riasan macam apa sampai para gadis sampai histeris.

Tiga mobil impor beragam merek dan warna berjajar rapi di parkiran. Lamborghini hitam, Mercedes indigo, dan Ferrari merah menyala.

Eren gigit jari. Shit. Ini dia yan membuat dia tidak bisa menang saing sekalipun Eren yakin secara tampang dia bisa banget diperhitungkan jadi rival para seleb lokal ini. Motor tua dan mobil impor yang harganya selangit, kompetisi yang sangat tidak fair.

Pintu Ferrari terbuka duluan ketika seorang Jean Kirschtein keluar dari dalam mobil dengan penuh gaya. Kacamata gaya berlensa coklat gelap dilepaskan sembari dia tersenyum dan melambai pada para siswi yang langsung meneriakkan namanya. Dengan kemeja licin coklat tua, syal kotak-kotak senada, jaket hitam yang terlihat mahal luar biasa, pemuda yang menurut Eren punya relasi dekat dengan mamalia bernama kuda itu terlihat bagai artis (gagal).

Eren jadi mual melihat gayanya. Serius deh mestinya para siswi itu teriak "Kuda! Kuda! Kuda!" bukannya "Kyaaa! Kirschtein-sama!". Bleh.

Pria pirang menyusul keluar dari kursi pengemudi Mercedes bercat indigo berkilat. Erwin Smith dengan gaya sederhana dan bersahaja, hanya tersenyum lembut pada para siswi pemalu yang menatapnya dengan wajah bersemu merah. Tangan melambai bak bintang red carpet. Senyum sejuta watt yang mengalirkan setruman gairah ke hati para mahasiswi (dan beberapa mahasiswa yang orientasinya belok) terukir senantiasa di wajah tampan pria yang katanya mirip Captain America.

Eren masih berusaha memarkir motornya ketika teriakan mahasiswi semakin riuh saja. Dia nyaris limbung jatuh menimpa jajaran motor lain ketika para gadis berteriak seolah mereka ada di arena konser band metal.

Oh ya. Masih ada yang terakhir.

Levi Ackerman, pewaris tunggal Ackerman Group yang dipimpin oleh sang tiran dunia bisnis; (papa) Kenny Ackerman yang katanya sedang mencoba merambah pasar industri bikini.

Yang terakhir ini tidak banyak gaya seperti yang bertampang kuda ataupun tebar-tebar senyum maut seperti yang mirip Captain America. Yang ini gayanya sengak dan sombong pangkat sejuta. Dengan kemeja putih polos, jaket hitam bahan kanvas dengan kancing ganda aksen perak, dan celana juga sepatu yang sama-sama berwarna hitam, gayanya memang seperti bangsawan.

Eren mendengus sebal. Dalam hati membatin: 'Pendek saja gayanya selangit. Gimana kalau tinggi coba?' dan hal-hal semacam itu.

Begitu ketiganya melangkah masuk ke dalam kampus dengan Levi berjalan paling depan bak raja dengan dua penasihat dan tumpukan dayang-dayang, Eren mencibir. Dia tidak suka golongan yang barusan. Sombong dan sok ganteng. Perasaan dia yang beneran ganteng aja santai, kok mereka nggak bisa biasa?

Eren mulai sombong sendiri dalam hati.

Dan sebelum ada yang bertanya, kelompok selebriti lokal yang barusan lewat itu adalah F4. F4 singkatan dari Freedom Four. Nama yang sok keren banget, menurut Eren. Katanya sih nama itu dipilih karena kebebasan yang diberikan pihak kampus pada mereka selaku anak-anak donatur terbesar. Rasanya memang pas. Eren sendiri menganggap Freedom Four merujuk pada sikap ugal-ugalan asal jadi mereka.

Lapangan parkir langsung sepi begitu tiga orang selebriti kampus berlalu. Eren menghela napas dan memarkir motor dengan setengah kesal. Karena standar motor mendadak macet. Cih. Sial banget pagi ini. Dia harus minta izin datang telat ke tempat kerja hari ini karena jelas motornya butuh penanganan bengkel segera.

Baru saja Eren akan berlalu, sebuah motor Ducati bercat silver—motor impian Eren—mengerem mulus sebelum parkir cantik di sebelah Lamborgini hitam. Area parkir yang sejatinya ditujukan untuk mobil itu kini menyisakan tempat amat luas karena hanya ditempati sebuah motor. Padahal motor Eren mesti berhimpit-himpitan di antara beberapa motor lain.

Helm silver dilepaskan dan kepala berambut coklat muda terlihat. Itu anggota terakhir F4, Farlan Church. Anggota yang katanya paling pendiam, low profile, dan misterius. Gaya berpakaiannya mirip Levi, sederhana tapi keren. Otaknya seperti Erwin, yang katanya brilian luar biasa. Wajahnya sedikit mirip Jean (dengar-dengar mereka ada hubungan saudara), buat Eren mendingan yang ini karena tidak membuatnya merasa kuliah di arena pacuan kuda.

Dia menyadari Eren menatapnya—atau lebih tepatnya motornya—dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah iri, entah kagum.

Eren yakin dia tidak sedang berilusi ketika Farlan melempar senyum tipis yang nayris tidak kentara bedanya dengan wajah kalemnya yang biasa sebelum mengunci motor dan berlalu ke dalam kampus.

Eren menggelengkan kepalanya beberapa kali ketika Farlan sudah menghilang dari jarak pandangnya.

Farlan Church. Anggota Freedom Four. Tersenyum padanya.

Eren meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia salah melihat.

.

.

.

Hitch Dreyse terlonjak kaget dan nyaris mencoreng pipinya sendiri dengan lipstik merah menyala ketika Eren membanting tas selempangnya ke atas meja dengan lelah. Pikirannya kacau hanya karena senyum seorang Farlan Church. Ugh, ayolah Eren. Terlalu pagi untuk bermimpi.

"Eren Jeager! Aku tahu kau ini bocah desa, tapi tolong, tidak bisakah tingkahmu sedikit saja lebih elegan?" tanya Hitch dengan penekanan pada akhir kalimat. Matanya menyipit mengejek, seolah berkata 'ah bodohnya aku, tentu saja kau tidak bisa kan? Dasar kampungan'.

Eren rasanya ingin menghantam kepala gadis centil itu dengan tas. Andai dia tidak telat datang dan tempat duduk terakhir yang tersisa di kelas bukan di sebelah Hitch, dia juga tidak mau dekat-dekat gadis itu. Pemuja Freedom Four paling fanatik, paling menyebalkan, dan paling bodoh yang dikenal Eren.

Iyalah bodoh. Masa Eren dibilang bocah desa? Yang benar kan kembang desa.

"Dosen belum masuk?" tanya Eren seraya merapikan posisi duduk. Hitch masih memperhatikan kaca kecil di tempat bedaknya sambil mencebikkan bibir yang kini ditambahkan gloss berkilat. Yang bersangkutan hanya mengangkat bahu sambil merapikan renda-renda norak di kerah.

Ah, salah memang bertanya sama cewek ini. Eren merasa bodoh. Padahal ini fakultas kedokteran di mana di dalamnya terdapat otak-otak brilian.

Hitch lalu balik bertanya, "Nah, Jeager. Walau kau kampungan, setidaknya kau laki-laki. Menurutmu bagaimana penampilanku hari ini?"

"Hm..." Eren begumam. Menumpukan dagu pada telapak tangan, dia memerhatikan wajah Hitch. "Seperti habis makan gorengan."

Hitch menyambit kepalanya dengan buku, Eren sigap menghindar.

"Sialan."

"Ini kenapa dosen tidak masuk-masuk sih?" Di belakang Eren mahasiswa berambut coklat bertanya pada teman pirangnya. Eren menajamkan telinga.

"Katanya sih F4 meminta mereka tidak mengajar hari ini..."

"Hah? Memangnya kenapa?"

"Biasa deh. Memo merah itu lho."

Bisik-bisik semakin ramai. Sebagai manusia kuper, Eren yang tidak tahu apa-apa bertanya pada Hitch. "Memo merah itu apa, Hitch?"

Gadis berambut coklat pendek beromak itu memutar bola matanya. Bisa sekudet apa sih teman sekelasnya ini?

"Kau tidak tahu?"

"Iyalah. Makanya nanya juga..."

Ih, rasanya Hitch ingin menggampar kepala Eren pakai botol aqua galon. "Memo merah itu memo peringatan untuk anak-anak yang menentang F4. Kalau dapat memo itu maka..."

Hitch membuat gestur memotong leher dengan tangannya. Eren mengrenyitkan dahi. "Maksudmu?"

Belum pertanyaan Eren terjawab, suara derap kaki ramai terdengar. Spontan kepala-kepala di kelas Eren menoleh. Bahkan beberapa segera membuka jendela yang menghadap ke arah koridor dan melongokan kepala. Eren yang kebetulan duduk persis di tepi jendela dekat koridor ikut-ikutan melakukan hal yang sama.

Seorang mahasiswa berwajah panik berlari dengan keadaan menyedihkan.

Eren terpana.

Mahasiswa itu dikejar puluhan orang lain yang melemparinya dengan telur mentah, dan sebagian lagi mengejarnya sambil melemparinya bola-bola dari plastik diisi air. Basah kuyup dan kepayahan karena kelelahan, mahasiswa itu jatuh tersungkur di depan kelas Eren.

Beberapa mahasiswa tertawa-tawa sebelum menendangi perutnya. Eren merasa marah melihat keadaan demikian. Belum lagi terdengar pula tawa Hitch dan orang-orang lain di kelasnya.

Jadi ini yang dimaksud Hitch. Menentang F4 dan mendapat memo merah rupanya sama artinya dihadapkan dengan penindasan tidak manusiawi. Eren mengepalkan tangannya keras. Giginya bergemeletuk menahan getar amarah.

Bagaimana bisa mereka menertawakan keadaan macam ini? Tidak manusiawi. Brengsek. Sebagai orang yang terlahir dengan sense akan keadilan yang tinggi, Eren tidak bisa tinggal diam. Dia memanjat jendela—terlalu tidak peduli untuk keluar melalui pintu dan mendarat di sisi sebrang kelas alias di koridor.

Berteriak kencang, "HENTIKAN!"

Semua spontan berhenti. Bukan karena takut, tapi karena kaget. Biasanya tidak akan ada yang berani menginterupsi acara penindasan legal mereka ini.

Kenapa legal? Ha. Tentu karena ini dilakukan untuk para dewa kampus, F4.

"Kalian ini apa-apaan?! Minggir semuanya!" Eren mengambil pemukul kasti milik salah satu mahasiswa dan menodongkannya tanpa ragu ke depan. Mengancam semua orang untuk menjauhi mahasiswa itu. "Manusia bukan sih? Atau kalian setengah alien? Apa kalian pikir kalian punya hak memukuli orang lain seperti itu? Tidak tahu ada institusi bernama kepolisian dan pengadilan ya?!"

Semua yang semula tercengang dengan aksi Eren kemudian mendenguskan tawa. Eren jadi sebal. Apa dia melakukan hal yang lucu? Kenapa sekarang dia ditertawakan?

"Hei, mahasiswa baru. Kau ini tidak tahu aturan ya?" tanya seorang senior bergaya sok jago. Satu tangan bertolak di pinggang. "Dia ini dapat memo merah?"

"Lalu kenapa?" tanya Eren menantang. "Apa kalian ini banteng dan F4 itu matadornya? Sampai-sampai karena kertas merah remeh itu kalian bereaksi seperti ini? Bego banget sih."

Tawa kembali mereda. Beberapa berbisik-bisik tidak percaya. Eren baru saja berkata jelek tentang F4 lho. Apa mahasiswa berambut coklat itu tidak sadar bahwa di kampus ini banyak CCTV dan F4 bisa melihat gerak-geriknya? Belum lagi kalau ada yang melapor. Dia bakal mati.

Di luar dugaan, mendadak jalanan terbuka. Orang-orang yang sebelumnya memenuhi lorong perlahan menyikir memberi jalan. Levi Ackerman dan dua anggota F4 lainnya melangkah mendekati Eren dan sang korban yang kini meringkuk kesakitan di atas lantai, menggeliat lemah dan mengerang-erang mengiba.

Mata abu-abu Levi Ackerman menyipit tajam menatap manik hijau sang Jeager yang sekilas tampak keemasan karena memendarkan emosi.

"Ada apa ini?"

Eren yang pada dasarnya mudah meledak, mengangkat tongkat kasti entah milik siapa yang kini ada di tangannya. Ujungnya terarah lurus pada hidung Levi yang mancung.

"Hei. Setan mini! Kau lihat akibat perbuatanmu? Kau hampir saja membuat anak orang terbunuh!"

Pelipis Levi berdenyut. Simpang tiga terbentuk di sana. Apa katanya? Setan mini?

Di belakang Levi, Jean sibuk menahan tawa dan Erwin sendiri sudah menyinggingkan senyum tipis. Ini akan menarik. Sudah lama tidak melihat ada yang melawan seorang Levi Ackerman.

Farlan Church terlihat menyusul berjalan di belakang dengan langkah malas-malasan. Tapi agaknya dia cukup kaget mendengar bentakan Eren pada Levi. Suara keras Eren membuat Farlan dapat mendengar kata-katanya dengan jelas sekalipun dia tidak berada cukup dekat dengan gengnya.

"Siapa yang kau panggil setan mini, bocah?"

"Tentu saja kau! Levi 'Mini' Ackerman!" ujar Eren menantang dengan penekanan pada kata mini. "Sudahlah, aku tidak punya waktu mengurusi dirimu..."

Tanpa ragu dan merasa jijik, Eren bantu memapah mahasiswa yang menjadi target penindasan. Bau amis telur menempel di pakaiannya juga dan membuat Eren sedikit mual tapi dia bertahan.

"Aku akan membawamu ke klinik..." ujar Eren meyakinkan pada mahasiswa itu.

Tapi alih-alih berterima kasih, mahasiswa itu membatu. Takut-takut dia menatap Levi.

"Kau tidak tahu apa yang kau lakukan, bocah..." ujar Levi sambil menyilangkan dua tangan di depan dada.

Eren berujar sombong, "Tentu saja aku tahu apa yang kulakukan. Aku menolong seseorang yang menjadi korban penindasan gerombolan paling sombong di sejagat raya Universitas Sina."

Dengan mengatakan hal sesuper itu Eren kemudian berlalu melewati para mahasiswa dan juga F4 yang masih menatapnya tidak percaya. Ternyata di kampus ini masih ada manusia yang insting bertahan hidupnya begitu tumpul sampai semasokis itu menantang Levi dengan kata-kata super nyolot dan menghina.

Eren Jeager mungkin bukan manusia biasa.

Melewati Levi tanpa melihat sama sekali, Eren berjalan dengan dagu terangkat. Tapi dia tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik sedikit ke arah Farlan yang ternyata memandangnya dengan tatapan tertarik.

.

.

Klinik kampus sepi. Eren merutuk. Dia berani bertaruh bukan hanya dosen yang diliburkan hari ini, tapi dokter kampus juga. Apa maunya sih F4 itu.

"Kau tidak apa-apa?" Eren menyodorkan air mineral pada mahasiswa yang menyedihkan itu. Kini dia sudah ganti pakaian dengan baju training darurat yang ditemukan Eren di lemari klinik. Lumayan. Tidak mungkin kan dia dibiarkan pulang dengan baju lengket dan basah.

"Ah, terima kasih. Kau..."

"Eren Jeager. Tidak usah merasa tidak enak. Aku sudah lama tidak suka pada gerombolan sok jago itu," Eren berkata seraya menyungingkan cengiran lebar. "Dan namamu?"

"Aku Marco. Marco Bodt."

"Uum... Aku bukannya mau ikut campur, Marco..." Eren menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi kenapa kau sampai bisa dapat memo merah?"

Marco ikut menggaruk kepalanya yang basah setelah dibasuh air. "Uum... aku sendiri tidak tahu persisnya. Tapi mungkin karena..."

"Karena?"

"...Aku sempat menabrak Jean Kirschtein dan membuat hotdog-nya jatuh mengenai kemejanya sendiri..."

Mata Eren melebar. "Hanya karena itu?"

Dasa muka kuda. Songong banget. Itu kan kesalahan kecil dan sepele. Melihat perangai Marco yang lembut dan panikan seperti ini, Eren yakin kok dia pasti sudah meminta maaf pada Jean.

Marco tersenyum lemah. "Di kampus ini, kalau membuat mereka berempat kesal artinya bukan 'hanya karena itu', Eren... Sekarang aku khawatir padamu..."

"Eh? Aku?" Eren menunjuk dirinya sendiri. Marco mengangguk.

"Aku hanya terluka biasa. Dan setelah penindasan beres, besok aku bisa masuk seperti biasa ke kampus. Tapi kalau kau? Aku tidak yakin..."

Nada bicara Marco terdengar prihatin. Eren jadi ikut was-was. "Me-memangnya kenapa?"

"Tadi yang kau tantang itu Levi Ackerman lho, Eren..."

Eren tertawa garing, mencoba menghibur dirinya sendiri. Sekarang kepalanya lebih jernih, ia bisa menilai tingkahnya bodoh sekali. Sayonara hidup tenang. Eren Jeager terlanjur masuk dalam sarang monster.

"Aku akan balas menolongmu, Eren. Jika... yah, kau tahu. Besok kau dapat memo merah atau apa..." Marco berkata menenangkan. "Tenagaku tidak besar. Aku juga bukan orang yang sangat kaya sampai bisa melawan F4 tapi aku bisa membantumu kabur. Kau mengerti kan?"

Ah, manis sekali Marco. Tapi Eren akan lebih menghargai andai kau tidak membicarakan mengenai kemungkinan dia mendapat memo merah.

"Yah, benar sekali. Aku pasti bisa mengatasi mereka. Hahaha..." Eren berujar sok yakin. Dia menepuk dada sok jago. "Tatakae!"

Marco tertawa pelan sebelum meringis karena luka memar di dadanya terasa bedernyut kala ia tertawa, "Yah, benar. Tatakae!"

.

.

Kepala merah Isabel Magnolia Jeager menyembul dari pintu ruang keluarga ketika ia mendengar langkah-langkah orang memasuki apartemen keluarga Jeager. Masih mengemut lolipop, dia bertanya, "Lho? Kakak sudah pulang? Tumben cepat"

"Iya. Kampus diliburkan karena dosennya tidak masuk... Toko juga tutup. Sir Erd hari ini menemani istrinya check up kandungan."

Eren menghempaskan tubuhnya ke atas karpet, bersandar pada badan sofa. Tangan meraih remot televisi yang dipegang adik perempuannya yang masih berusia sepuluh tahun itu. Kartun Attack on Titan diganti siaran berita.

Isabel protes. "Jangan diganti dong!"

Eren hanya mengacak kepala merah Isabel sayang. "Tukaran dong nontonnya. Habis televisinya cuma satu."

Isabel menggembungkan pipi dan kini memutuskan untuk tiduran di karpet berbantalkan paha kakaknya. Eren otomatis mengelus rambutnya persis seperti majikan dengan kucingnya.

"Kak?"

"Hm..."

"Sudah dapat pacar belum hari ini?"

Mendengar pertanyaan Isabel, gerakan tangan Eren mengelus rambutnya otomatis terhenti. Mahasiswa itu menatap adiknya. "Kenapa tanya begitu?"

Isabel mengedikan bahu, menatap kakaknya dari bawah. Dalam hati mengakui kakaknya ini cukup cantik untuk ukuran lelaki, walau masih kalah dengan teman kakaknya yang namanya Armin Arlelt.

"Kata mama dan papa kalau kakak berhasil dapat pacar kaya, aku akan dapat uang jajan tambahan tiap bulannya..."

Eren rasanya ingin face palm. Boro-boro dapet pacar. Hari ini dia baru saja dapat musuh. Salahnya sendiri sih sok pahlawan, tapi Eren tahu akan lebih salah lagi jika dia diam saja membiarkan Marco ditindas.

"Kakak kan lumayan cantik."

"Ganteng maksudnya?"

Isabel menggeleng. "Cantik. Istilah di animenya itu kakak bishonen. Tampang ukelah..."

Eren tidak mengerti. Adiknya ngomong pake bahasa apa sih ini. Isabel terlalu banyak membaca komik Jepang sampai kadang Eren merasa dia seperti berasal dari belahan negara lain. "Aku tidak paham."

"Yah, pokoknya begitu. Cari seme kaya ya, kak."

"Seme? Apa lagi itu?"

"Kekasih... Pokoknya gitu deh." Isabel mengulum senyum sok misterius sambil cengar-cengir nista.

Malas bertanya lebih jauh lagi, Eren setuju mengiyakan. "Semoga ya. Dapat seme yang hartanya segudang sampai tidak habis dimakan selama tujuh turunan."

Eren Jeager lelah lahir batin hari ini. Kembali melanjutkan mengusap kepala adiknya sampai jatuh tertidur bersandarkan sofa. Tidak sadar ketika Isabel berfangirling ria menonton anime yang seharusnya belum boleh ditonton anak gadis seusianya.

.

.

Eren menguap lebar. Pagi yang tenang. Di luar dugaan, Eren bisa masuk ke kampus dengan damai hari ini. Seolah insiden kemarin tidak ada. Semua orang memandangnya sebelah mata seperti biasa. Tidak dengan pandangan mengincar seperti yang kemarin Eren lihat di mata-mata para pengejar Marco.

Kunci loker diputar dua kali, Eren meletakan jas lab putih bersihnya yang baru saja dicuci ke dalamnya. Untuk dipakai saat praktikum siang nanti, Eren menepuk-nepuk benda putih itu. Beberapa mahasiswa di kiri dan kanannya curi-curi pandang ke dalam loker Eren. Mungkin berniat memastikan ada memo merah atau tidak di lokernya.

Loker Eren bersih. Sang pemuda Jeager tersenyum lega. Ha. Mungkin F4 tidak berani padanya yang bisa melawan mereka. Rupanya tingkah sok garang mereka selama ini hanya gertak sambal, pikir Eren.

Loker kembali ditutup. Ponsel Eren di dalam kantung celana bergetar. E-mail dari Marco. Kemarin dia dan mahasiswa hukum tingkat dua itu sempat bertukar alamat e-mail dan nomor telepon. Tapi Eren tidak menyangka Marco akan mengiriminya e-mail secepat ini.

"EREN! CEPAT KABUR! JANGAN LEWATI HALL UTAMA!"

Awalnya Eren salah fokus karena melihat tulisan yang menggunakan capslock semua. Sedikit tidak menyangka Marco yang kalem itu kalau kirim pesan heboh kuadrat.

Tapi dasar masokis. Isi pesan Marco malah membuat Eren penasaran.

Dia berlari ke hall utama. Tempat itu dipenuhi mahasiswa belalu lalang dari segala jurusan. Di ruang terbuka yang dapat dilihat dari lantai lima sampai dasar itu, sebuah banner besar menjuntai. Benar-benar persis dari lantai lima sampai satu. Lebar dan panjang, warnanya merah mencolok dan ada tulisan hitam besar-besar di atas banner: 'EREN JEAGER- FAKULTAS KEDOKTERAN TAHUN 1'.

Ini sudah bukan memo merah lagi. Ini banner merah super besar.

Brengsek! Eren mengumpat dalam hati. Menyesal dia tidak menuruti Marco untuk kabur langsung.

"Shit!"

Agaknya mulutnya ikut refleks mengumpat seperti hatinya. Semua mata kini tertuju ke arah Eren.

...

1... 2... 3... GO!

Eren berlari kencang ketika para mahasiswa dan bahkan mahasiswi mengejarnya. Dari lantai lima,Levi Ackerman bersandar pada pagar pembatas dan melihat ke bawah, ke arag targetnya yang kini lari sekuat tenaga keluar dari hall utama. Matanya memerhatikan gerak Eren sampai dia tidak lagi terlihat di hall utama.

Jean Kirschtein tertawa melihat Eren sementara Erwin hanya menyesap kopi paginya santai di kursi dekat pagar pembatas.

"Dimana Farlan? Sayang sekali dia melewatkan tontonan semenarik ini?" tanya Jean masih sambil tertawa. Levi tidak menjawab sementara Erwin tersenyum.

"Mungkin dia sedang tidur entah di mana. Dia tidak pernah suka terlibat dalam keributan."

Jean manggut-manggut tanda mengerti. "Ayo ke auditorium," ujar pemuda bermarga Kirschtein itu. "Aku mau lihat pengejaran Eren lewat layar LCD besar. Ini bakal menarik. Benar kan, Levi?"

"Hm..."

Di luar sana, Eren Jeager menyumpah-nyumpah sambil menghindari lemparan telur mentah yang mungkin diambil para mahasiswa dari dapur kantin.

.

.

TBC

.

.

Alay banget. Bodo ah. Wwww. Nggak mengira saya bakal ngeluarin benda yang nulisnya asal tabrak begini.

There will be NO fast update. Ini aja dikerjakan dengan saya mengabaikan Duda Durjana aka Delicious Daddy.

Gotta focus on original fiction after this, so yeah... ini benda iseng saja. Cuma untuk pelarian dari ide yang lari-lari di kepala tentang Meteor Garden!AU.

Hope you guys enjoy this.

-Yuki-