Beribu-ribu terima kasih kepada yang sudah mau mengikuti cerita ini sampai sekarang!

Bersamaan dengan selesainya cerita ini, penname saya diubah! Oh, nama itu memang selalu ingin kuubah. Karena terburu-buru dan tidak bisa memikirkan nama yang lain, saya pasang nama itu, tapi sekarang namanya sudah diganti!

Sekali lagi, terima kasih. Cerita ini sudah lama berhenti kalau bukan karena dukungan mina-san!

~o~o~o~

Disclaimer : I do not own Ao No Exorcist

~o~o~o~

Yukio menghela nafas untuk sekian kalinya malam itu. Di sekitarnya terlihat orang berlalu-lalang. Kebanyakan para wanita menggunakan yukata. Ada yang bersama dengan keluarga atau kekasihnya, tapi dia malah berdiri mematung di tengah kerumunan seorang diri.

Yang pertama mengajak menonton pertunjukan kembang api adalah Shima dan yang lainnya setuju untuk ikut, jadi kenapa Yukio-yang dipaksa datang-harus menunggu sendirian disini?

Besok, dia akan menembak laki-laki kepala merah muda itu tanpa ragu. Sudah lama Shima membuat kehidupannya terganggu.

"Yukio?"

Yukio berbalik. Lalu, kembali mematung.

"Nii...san?"

Kakaknya sedang memakai yukata berwarna biru dengan motif bunga-bunga yang indah.

Rin menunduk dengan muka memerah. "Ja-jangan tertawa!"

Sikap itu hanya membuatnya terlihat semakin imut. Muka Yukio ikut memerah. Dia mengalihkan pandangannya.

"A-aku tidak tertawa. Ka-kau terlihat cocok dengan yukata itu, Nii-san," ucap Yukio malu-malu. Bukan, bukan hanya cocok saja. Malam ini, Okumura Rin terlihat sangat menawan. Dia sendiri tidak menyangka wanita yang suka berpakaian seperti laki-laki ini akan cocok dengan yukata.

Rin masih tidak terlihat yakin. "Uh... Aku sama sekali tidak ingin memakai ini. Tapi, karena ini adalah permintaan Shiemi, aku tidak bisa menolaknya."

"Ngomong-ngomong, dimana dia?"

"Kami terpisah saat mau kesini. Kurasa dia tersesat..." Rin melihat kesana-kemari dengan ekspresi khawatir. Tidak ada tanda-tanda Shiemi dimanapun. "Bagaimana dengan yang lainnya?"

Alis Yukio berkedut. "Aku tidak melihat mereka sejak tadi. Mereka terlambat. "

Kalau tidak, Yukio tidak akan berdiri sendirian seperti orang idiot.

Rin tidak bersuara. Yukio baru menyadari dia sedang memperhatikan sebuah kios permainan lempar gelang tidak jauh dari mereka.

"Apa kau mau main itu, Nii-san?"

"Tidak, hanya saja boneka beruang merah muda itu imut sekali, ya..."

Benar juga. Meski dia bersikap dan berpakaian seperti laki-laki, Rin masih memiliki sisi feminim. Salah satunya adalah kecintaannya pada benda-benda imut.

Yukio tersenyum tipis. Dia menarik tangan Rin. "Ayo, akan kumenangkan boneka itu untukmu."

"Apa kau bisa memenangkannya?"

Rin sedang menantangnya. Tantangan itu akan diterima Yukio dengan senang hati.

~o~o~o~

"Wah... Kau benar-benar memenangkannya! Tidak hanya itu, kau memenangkan semua hadiahnya! Hebat sekali, Yukio!"

"Kau pikir aku ini siapa?"

Ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan setiap iblis yang harus dia tembak.

Yukio melihat keatas langit malam. Rin duduk di sebelahnya sambil memakan takoyaki. Di tangannya terdapat berbagai macam mainan yang sudah dia menangkan. Dia terlihat sangat senang. Sudah lama Yukio tidak melihat Rin tersenyum seperti itu.

Terakhir kali Yukio melihatnya adalah saat mereka masih anak-anak.

Semuanya belum berubah saat itu. Mereka masih bisa tertawa polos tanpa terlibat dengan iblis atau hal-hal lainnya.

Suara gemuruh membuat Yukio tersadar dari lamunannya.

"Lihat itu, Yukio!" Rin berdiri dan menunjuk pada titik-titik cahaya di langit. Di mata Yukio, cahaya-cahaya yang berjatuhan itu seperti mengelilingi Rin dan membuatnya terlihat bersinar terang. "Cantik sekali, ya!"

"Ya, cantik..." Yukio bergumam, tidak yakin lagi apa yang disebutnya cantik.

"Kita sudah tidak pernah melihat kembang api sejak kematian orang tua itu."

Nada sedih dalam kalimat itu membuat Yukio mendongak menatap kakaknya masih yang berdiri memunggunginya.

Rin terus menatap langit. "Hei, Yukio, kita masih bisa melihat kembang api bersama lagi, kan?"

Pikirannya terbaca jelas. Tanpa melihat ekspresinya pun, Yukio mengerti pesan dibalik kata-kata itu.

Jangan meninggalkanku sendirian.

Dibalik senyumannya, wanita berambut biru itu hanyalah anak kecil yang takut akan kehilangan.

"Tentu saja. Lain kali, akan ada Shiemi dan yang lainnya juga," Yukio bangkit dan berdiri di sebelahnya. Saat mereka masih anak-anak, mudah sekali untuk membaca pikiran satu-sama lain.

Kau sudah tidak sendirian.

Apa Rin masih bisa membaca pikirannya, ya?

"Apa mereka mau datang bersama kita?"

Apa mereka mau bersamaku?

"Ya, karena mereka adalah temanmu, Nii-san."

Yukio memegang tangan Rin. Tangan yang dipegangnya itu sudah biasa menebas iblis, tapi memakai yukata seperti ini tanpa menunjukkan sikap kasarnya yang biasa, Rin terlihat seperti... wanita normal.

Kalau dipikir-pikir, Yukio tidak tau banyak hal tentang kakaknya.

Apa masih ada lagi sisi dari Rin yang belum dia ketahui?

"Dan kau? Bagaimana denganmu?"

Tangan mereka berpegangan erat.

Yukio tersenyum. "Bukankah sudah jelas? Aku akan datang juga karena aku akan selalu melindungimu."

"Aku tidak butuh perlindunganmu, Yukio."

Rin melepas tangannya dan Yukio melihatnya berbalik pergi.

Kehangatan yang tadi dirasakannya menghilang begitu saja.

Kaki Rin berhenti melangkah.

"Kata-katamu tadi, aku akan memegangnya. Itu adalah janji antara kita berdua, oke?"

Rin kembali berjalan tanpa menoleh kearah Yukio. Tapi, itu sudah cukup.

"Ya."

Yukio berlari mengejar kakaknya. Mereka berjalan beriringan tanpa kata. Keheningan ini sangat menyenangkan.

Perasaan yang menghangatkan hatinya telah kembali.

~o~o~o~

"Kami tersesat saat mau ke festival! Ini semua gara-gara Bon!"

"Kenapa kau menyalahkan aku?"

"Padahal aku ingin sekali melihat Rin-chan memakai yukata!"

Shima mulai merengek dan Bon menutup telinganya. Konekomaru hanya tersenyum masam melihat tingkah kedua temannya.

"Tidak apa-apa," Rin tersenyum. Konekomaru harus mengucek matanya untuk memastikan bahwa, ya, wanita setengah iblis itu sedang tersenyum bahagia. "Kita bisa kesana bersama tahun depan."

"Bersama dengan kami?" Konekomaru bertanya memastikan. Dia selalu berpikir Rin mencoba menjaga jarak dengan mereka semua.

Diantara semua keributan tentang menjadi wanita, anak satan, dan semua masalah remaja itu, wajar saja Rin melakukan itu.

"Kalian tidak mau?" Rin bertanya balik. Konekemaru mendeteksi nada kekhawatiran di suaranya.

Ketiga laki-laki itu berpandangan.

"Tentu saja kami mau!" Mereka bertiga menjawab disaat bersamaan.

Bahkan jika Rin adalah anak satan atau seorang wanita, bagi Konekomaru, dia tetaplah seorang teman yang berharga.

Masa-masa bahagia ini tidak akan berubah. Konekomaru yakin sekali itu.

~o~o~o~

A/N : Ini adalah chapter terpanjang di fanfic ini. Yah, kalian mungkin tidak akan menyadarinya.

Banyak hal yang dikeluhkan dari fanfic ini. Chapternya yang pendek, kurang romance dan adventurenya, updatenya yang lambat, dan kalian mungkin akan mengeluh karena endingnya yang jelek dan menggantung. Tapi, kalian tetap membacanya, kan?

I love you, guys, even if you guys won't love me back.

Yah, dan-maaf saja-ini satu-satunya ending yang saya pikir cocok untuk cerita semacam ini. Kalau ada yang mau membuat sekuelnya silahkan. Dibuat jadi romance juga boleh. Don't forget to tell me!

Kesimpulan dari cerita ini : Meskipun Rin seorang wanita, anak satan, atau setengah monster sekalipun, teman-temannya akan menerimanya. Mereka hanya butuh waktu.

Jaa nee~!