Hero Bank (c) Sega

Warning: depression talk. Random thought. Implisit. Drabble.
*umebo (snack ringan khas Jepang): ume; enak / bo; batang = batang enak #PLAK #tapiserius


Luka Menjadikanku

.
by Ratu Obeng (id: 1658345)

.

.

.


Kalau tidak punya banyak kemampuan, untuk apa bermimpi terlalu tinggi?

—itu pikirku ketika menyadari ketidaksanggupan diri.

Aku berbeda dengan Kaito yang selalu positif, yang selalu melakukan segala sesuatunya tanpa berpikir panjang. Untuk seseorang yang tidak pernah menimbang serius perihal masa depan, dia sudah memiliki segala amunisi untuk maju berperang.

Berbanding terbalik denganku.

"Nagare, ayo ganti jalur kereta! Hari ini kita lebih baik main!"

"Besok kan ada ujian, Kaito. Tidak belajar?"

"Malas, ah! Walau dapat nilai jelek, aku tetap yakin pasti lulus."

Ujung mulutku membentang ke dua sisi berlawanan, namun hati kecilku memaki. Walaupun sekedar bercanda, kuakui setiap kalimat Kaito seringkali membuatku iri. Mungkin kalau keluarga—terutama ibuku—tidak begitu keras dengan urusannya akan nilai pelajaran, Hidup ini bisa kujalani dengan lebih santai.

Masalahnya aku terlanjur tumbuh bersama spekulasi seperti ini. Dan siapa yang harus kupersalahkan?

"Kau diam terus dari tadi, Nagare. Sakit perut? Kepala?"

Menggeleng, sekali lagi bibirku hanya mengukir senyum. Untunglah kacamata yang kupakai sengaja dibuat besar dan tebal, menyamarkan setidaknya pandanganku yang mulai disusupi rasa risih. Tautanku terjatuh pada garis kuning diujung sepatu, sembari menunggu kereta yang hendak melintas.

Sementara di samping, Kaito masih mengunyah umebo yang rasanya kontras. Dia memilih rasa manis, sementara lidahku mengecap asin. Kujejal potongan pertama akhirnya ke dalam mulut dengan tidak niat.

"Kau tidak akan mengerti..."

"Kalau kau tidak bilang apa-apa, mana mungkin aku mengerti."

Tapi itulah kapasitas otakmu. Diberitahu berapa kalipun tidak akan pernah cukup untuk bisa memahami setiap maksudku, sama seperti saat kau membuang sembarangan bungkus umebo-mu dan lagi-lagi aku terpaksa memungutnya untuk dibuang ke tempat sampah.

Karenanya aku memilih diam.

Memutuskan untuk mengikuti alur dominan karena tahu suaraku tidak pernah terhitung sebagai kontribusi yang patut dipertimbangkan. Sama sekali tidak ada kesadaran untuk memberontak maupun menolak, karena aku tidak suka memaksakan hal fasis meskipun emosiku menjadi barang taruhan.

Orang lain selalu membuat hidupku susah, sejak dulu hingga saat ini.

"Menyebalkan, ya...?"

Egois hanya perkara keinginan. Sepenggal kausa sementara yang tak berdasar, tak pernah terlihat ujungnya.

"Apanya?"

Kendatipun tangan-tangan mereka terjulur, tapi hanya rasa tidak puas yang lebih sering kudapat. Hanya kebahagiaan semu yang hinggap ketika mencoba meraihnya lagi, lagi, dan lagi.

"Semua..."

Kemudian saat berpikir seperti ini, otakku sekali lagi mengajukan penawaran menarik yang kali ini tidak mampu kutolak. Dan itulah yang sepertinya kubutuhkan untuk mengatasi tumpukan rasa lelah;

—istirahat.

"Oi, hati-hati! Jangan melewati garis kuning, nagare! NAGARE!"

"Kaito,"

"TUNGGU, NAGARE! ITU BAHAYA!"

Aku tidak ingin mendengar Kaito lagi meskipun dia meneriakkan namaku berulang kali. Lagipula percuma saja, suaranya jelas-jelas kalah oleh bising gesekan roda dan rel yang semakin dekat.

Lalu gravitasiku lenyap.


END