-kekosongan-

-o-

Hidup adalah sesuatu yang tidak pasti_ seperti kebahagiaan dan kesedihan yang datang dan pergi tanpa memberimu kesempatan untuk bersiap-siap. Seperti angin yang berhembus dimusim dingin atau salju yang turun perlahan-lahan. Dulu sekali natsume pernah menangis saat ayah dan ibunya meninggalkannya begitu saja_ tanpa persiapan apa-apa, ia ditinggalkan sendirian didunia. Ia pernah menangis saat semua orang tidak mempercayainya. Natsume juga menangis saat ia menerima uluran tangan touko-san dan shigeru-san_ baru setelahnya natsume bisa tersenyum.

Natsume tersenyum saat berangkat kesekolah. Natsume juga tersenyum saat bertemu teman-temannya_ ia tersenyum saat menghabiskan bekal buatan touko-san, ia juga tersenyum saat berpisah dengan teman-temannya diperjalanan pulang. Natsume juga tersenyum saat pintu terbuka dan touko-san menyambutnya dengan senyum hangat. Natsume juga tersenyum saat shigeru-san menanyakan bagaimana harinya, dan natsume tersenyum hingga ia menutup tubuhnya dengan selimut dan tertidur.

Hidupnya memang tidak mudah, kemampuannya melihat dan menyaksikan eksistensi dunia lain membuatnya beberapa kali terjebak dalam masalah. Ia terluka, demam bahkan beberapa kali hampir mati. Natsume tidak bisa menyalahkan takdirnya_ dulu ia sempat melakukannya tapi natsume tidak akan mengulanginya. Jika ia tidak bisa melihat siluman dan makhluk gaib, natsume tidak akan terkena masalah dan membuatnya hidup berpindah-pindah_ dari kerabat satu ke kerabat lainnya. Jika natsume tidak bisa melihat siluman_ ia tidak akan berakhir tinggal dikediaman fujiwara yang hangat. Natsume juga mungkin tidak akan bertemu dengan teman-temannya_ mereka yang menerimanya apa adanya. Teman-teman manusianya juga teman-teman silumannya.

Lalu_ saat akhirnya natsume mampu menjalani hidupnya dengan bahagia, takdir merenggut senyumannya sekali lagi. Kediaman keluarga fujiwara mengalami kebakaran hebat. Api menghancurkan semuanya hingga menjadi abu yang memenuhi udara. Natsume masih bisa mengingatnya dengan sangat jelas, suara mobil pemadam kebakaran yang mengaung diudara, teriakan orang-orang, tangan hangat touko-san yang mengusap air matanya untuk terakhir kalinya_ juga senyum terakhir shigeru-san sebelum menutup mata. Hari itu natsume menangisi takdirnya sekali lagi_ sebelum akhirnya jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.

Tidak ada seorangpun kerabat yang bersedia merawatnya kala itu_ tapi natsume memiliki teman-teman yang mengelilinginya, tanuma bahkan menawarkan untuk tinggal bersamanya dikuil mereka_ tapi natsume tidak ingin merepotkan, jadi ia menolak. Natori datang dan menawarkannya sebuah kehidupan baru. Natsume menyambut uluran tangan itu, bukan karena ingin_ tapi lebih karena ia tidak punya pilihan lain.

Natori membawanya pindah_ berniat mengembalikan lagi senyum hangat natsume yang dulu. Selama sebulan penuh ia tinggal bersama natori_ natsume menganggapnya sebagai kakak laki-laki yang baik. Meski sulit, natsume berusaha tersenyum untuk natori_ meski ia masih menangis diam-diam. Semua berjalan baik-baik saja sampai suatu ketika, natsume tidak sengaja mendengar pelayan matoba datang dan mengancam natori. Natsume tahu matoba menginginkannya sejak lama. Matoba seiji_ kepala klan matoba sendiri bahkan memintanya bergabung dengan klan matoba secara terang-terangan, dulu sekali saat mereka bertemu karena ketidaksengajaan. Natsume menolaknya bahkan tanpa berpikir. Ia tahu_ natsume bukannya tidak peka, lagi pula_ matoba seiji memiliki ketertarikan aneh padanya_ caranya bicara atau caranya tersenyum selalu membuat natsume tidak nyaman. Lebih dari itu_ sifat dan pembawaannya yang licik dan terbilang kejam menjadi satu lagi alasan natsume untuk menolaknya.

Keberadaan yuujinchou juga menjadi alasan lain untuknya menjauhi laki-laki itu. Natsume tidak mau_ bahkan ia tidak berani membayangkan_ matoba seiji mengetahui keberadaan buku peninggalan neneknya itu. Matoba seiji yang tidak punya rasa kasihan baik pada manusia atau pada siluman. Awalnya natsume berpikir matoba seiji menyerah padanya _ mengingat sikap dingin dan semua penolakan natsume disetiap pertemuan mereka_ tapi sepertinya hanya natsume yang berpikir begitu. Nyatanya matoba hanya menunggu saat yang tepat_ dan saat natsume berada di tangan natori, mereka hanya perlu menekannya agar menyerahkan natsume.

Satu hal yang mereka tidak tahu adalah_ natori sangat keras kepala. Bahkan setelah berkali-kali siluman suruhan matoba menyerangnya, natori masih mempertahankan natsume disampingnya. Laki-laki itu selalu tersenyum dan berkata, "semua akan baik-baik saja." Atau "tidak apa-apa, jangan khawatir." Tapi nyatanya, semua ucapannya justru membuat natsume semakin khawatir. Ia tidak bisa melihat natori diserang lebih dari ini_ natsume tidak ingin menyusahkan siapapun dan itu juga termasuk natori_ karena itu akhirnya natsume menyerah. Ia meninggalkan kediaman natori dan membiarkan pelayan matoba membawanya. Natsume sudah tidak mengharapkan apapun dalam hidupnya_ ia menyerah kalah pada takdir apapun yang akan dihadapkan padanya, tapi jauh didalam hatinya natsume bertekad, ia akan melindungi teman-temannya. Teman-teman manusianya_ juga teman-teman silumannya.

Bahkan jika itu berarti ia harus berada disamping matoba seiji.

Awalnya natsume merasa pilihannya salah. Sejauh yang ia tahu, matoba bisa menggunakan cara apapun untuk mencapai tujuannya_ natsume bahkan melihatnya sendiri beberapa kali. Natsume takut_ ia akan dimanfaatkan. Natsume takut, ia akan dipaksa melakukan sesuatu yang jauh dari keinginannya. Natsume takut_ suatu ketika ia akan dipaksa melukai atau bahkan mengendalikan teman-teman silumannya.

Tapi ia tahu, ia tidak bisa mundur lagi. Tidak setelah semua yang terjadi pada natori_ karena itu saat matoba seiji menyambutnya dipintu masuk kediaman matoba, natsume berbisik padanya_ "aku tidak akan selalu mengikuti apa yang kau katakan seperti mereka yang menjadi pelayanmu. Aku tidak akan memanfaatkan siluman seperti yang selalu kau lakukan_ jika kau keberatan dengan semua itu, kau bisa membunuhku kapanpun kau suka." Lalu matoba membalasnya dengan senyum licik yang biasanya, ia mengusap pipi natsume lantas menganggat dagunya_ memaksa mata mereka bertemu sebelum bicara, "lakukan apapun yang kau suka, natsume takashi-kun." Kemudian ia dibawa masuk ke dalam rumah.

Seperti kediaman-kediaman matoba yang lain_ yang pernah dikunjungi natsume karena ketidaksengajaan_ kediaman mereka adalah sebuah rumah besar dengan gaya jepang kuno. Lorong-lorong panjang dengan pintu-pintu geser berlapis kertas. Pelayan-pelayan yang mengenakan yukata putih dengan monstuki hitam_ juga siluman dengan kulit hitam legam berbalut yukata putih pucat yang proporsi tubuhnya tidak normal.

Natsume diantarkan kesalah satu kamar disebelah timur_ oleh matoba sendiri. Sebuah kamar dengan pintu geser yang langsung menghadap ke halaman dan pintu geser lainnya yang terhubung dengan lorong panjang. Ia melihat futon yang tertata rapi dengan sebuah yukata merah diatasnya dan sebuah meja kecil berlaci disudut ruangan. Natsume hanya berdiri didepan pintu saat akhirnya matoba seiji menariknya masuk, "mulai sekarang ini adalah kamarmu. Aku harap kau menyukainya." Ia melepaskan genggamannya dari tangan natsume lantas meraih yukata merah yang terlipat diatas futon. Matoba seiji melebarkan yukata itu diudara lantas menggunakannya untuk menutupi pundak natsume. Ia tersenyum sementara natsume memandangnya tanpa ekspresi_ seperti tubuh tanpa jiwa. Saat tidak mendapatkan jawaban apapun dari natsume, matoba bahkan masih tersenyum licik_ lalu ia berkata, "gantilah pakaianmu dengan ini_ jika kau tidak keberatan tentu saja." Laki-laki itu lantas melewatinya dan meninggalkan natsume sendirian.

Natsume masih tidak bergerak dari tempatnya saat pintu geser dibelakangnya tertutup_ lalu perlahan tangannya yang gemetar meranggak naik_ menyentuh dadanya yang entah kenapa terasa sesak. Yukata merah yang menutupi punggungnya merosot jatuh bersamaan dengan lututnya yang menghantam lantai. Tubuh kecil itu melengkung dan terisak dalam diam. Natsume menangisi takdirnya sekali lagi sebelum akhirnya jatuh tertidur.

Saat matahari terbit keesokan harinya, natsume mendapati dirinya terbangun diatas futon dikamar yang sama. Pintu geser disampingnya sedikit terbuka, menampakkan halaman yang dipenuhi guguran bunga sakura. Diantara suara angin dan gesekan daun_ natsume mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia memaksa tubuhnya bangun dan duduk diatas futon hanya untuk menemukan pakaiannya yang telah berubah. Ia mengenakan yukata merah yang dilihatnya kemarin, dengan obi putih yang terikat longgar ditubuhnya_ natsume mengabaikannya saat pintu geser lainnya bergerak terbuka. Matoba seiji berdiri disana_ dengan yukata putih dan monstuki hitam.

Laki-laki itu tersenyum_ tapi natsume tidak membalasnya dengan senyuman yang sama. Natsume tidak bisa tersenyum didepannya entah karena apa, jadi natsume hanya diam_ lagi-lagi, seperti tubuh tanpa jiwa. Meski begitu, matoba tetap menghampirinya seolah tidak ada apapun yang terjadi dengan mereka. Tidak dengan rasa bersalah karena menyerang natori_ tidak juga dengan alasan membawanya kemari. Natsume masih diam saja saat matoba menyentuh keningnya, "kau demam semalaman, tapi sepertinya sudah turun. Pelayan akan membawakan makanan untukmu, jadi istirahatlah disini."

Tangan kecil natsume bergerak menghentikan sentuhan itu, ia lalu mengalihkan perhatiannya pada apa yang tersaji dibalik pintu geser yang terhubung dengan halaman. "kenapa kau begitu ingin membawaku kesini? Bahkan sampai menyerang natori_" natsume bertanya, bahkan tanpa melihat wajah lawan bicaranya. Natsume tidak benar-benar mengharapkan jawaban untuk pertanyaannya, ia hanya ingin bertanya_ bahkan ketika angin menjawab pertanyaannya, natsume tidak berkomentar. Ia juga tidak mengatakan apapun saat akhirnya matoba meninggalkannya sendirian.

Hari itu dihabiskannya dengan duduk diam disisi pintu geser yang menghadap ke halaman, menyaksikan bagaimana bunga sakura berguguran atau bagaimana langit biru perlahan berubah gelap_ atau bagaimana pelayan-pelayan matoba melewatinya begitu saja. Seolah ia tidak terlihat_ seolah ia adalah makhluk kasat mata.

Saat matahari hampir terbenam_ seekor rubah dengan bulu putih bersih menghampirinya, lalu tanpa aba-aba menyamankan diri dipangkuannya. Awalnya, natsume kebingungan. Ia bahkan tidak tahu dari mana datangnya rubah kecil yang mengingatkannya pada wujud asli nyanko-sensei, kucing gemuk yang dulu menjaganya_ sebelum natsume memutuskan untuk mengembalikan namanya dan membiarkannya pergi. Ia bertanya-tanya, bagaimana rubah dengan warna yang tidak biasa ini bisa sampai padanya. Apakah ini rubah siluman_ atau hanya rubah biasa yang tersesat? Natsume tidak merasakan perasaan aneh saat menyentuhnya_ selain rasa hangat yang nyaman.

Rubah kecil itu hanya terlihat seperti rubah biasa bagi natsume_ selain warnanya yang seputih susu_ karena itu ia memutuskan untuk menggendongnya masuk kedalam kamar saat hari mulai gelap. Natsume tidak mendapatkan perlawanan apapun dari rubah kecil dalam gendongannya, selain geliat nyaman yang membuat natsume geli_ dan tanpa sadar membuatnya menyunggingkan senyum tipis. Disaat yang sama, matoba masuk kekamarnya_ menyaksikannya tersenyum saat meletakkan rubah kecil itu diatas futon. Senyuman dibibir natsume menghilang detik itu juga, seperti matahari saat gerhana.

Ia hanya melirik sekilas saat matoba tertawa kecil_ sebelum kembali mengusap lembut bulu putih susu rubah kecilnya. Tidak benar-benar peduli pada keberadaan laki-laki itu. "rubah yang cantik. apa itu juga salah satu siluman peliharaanmu?" matoba bicara_ dengan nada meremehkan yang biasanya. Laki-laki dengan rambut panjang yang terikat rendah dibelakang punggungnya itu melangkah mendekat, melihat lebih jelas rubah putih natsume. "dia pastinya siluman yang cukup kuat. Dia bahkan bisa menembus kekkai yang kupasang disekeliling rumah." Matoba berkomentar, ada ketertarikan yang jelas dalam suaranya_ tapi tidak cukup membuat natsume membalas komentarnya. Natsume baru bereaksi saat tangan-tangan besar matoba berniat menyentuh rubah kecilnya. Bola mata keemasan natsume memandangnya tajam, lalu pada matoba ia berkata_ "jangan menyentuhnya, matoba. Dia hanya rubah biasa."

Tangan matoba terhenti diudara selama beberapa detik sebelum laki-laki itu memutuskan untuk menariknya kembali_ menyembunyikannya dibalik lengan yukatanya. Masih dengan senyum dibibirnya, matoba berkata_ "kau tahu tidak ada hal biasa yang bersinggungan denganmu natsume-kun." Tapi natsume tidak membalasnya. Ia kembali menyibukkan diri dengan belaian-belaian lembut rubah kecilnya. "kudengar kau tidak menyentuh makan siangmu." Matoba berkata_ ia menghampiri pintu geser yang menghadap ke halaman lantas bersandar pada salah satunya, mengarahkan pandangannya pada langit tanpa benar-benar melihatnya. Kedua tangannya masih tersembunyi dibalik yukata, lantas ia bicara dengan nada datar_ "aku memang mengizinkanmu melakukan apapun yang kau suka, tapi setidaknya rawatlah dirimu sendiri. Aku tidak mengambilmu dari natori untuk membuatmu mati kelaparan."

"lantas kau akan membuatku menjadi bidak caturmu? Seperti yang kau lakukan pada pelayan-pelayanmu?" natsume membalasnya dingin_ masih dengan tangan membelai rubah putih yang kini berpindah kepangkuannya. Saat matoba tertawa pelan, natsume meliriknya penasaran. "kau membuatku terlihat kejam, natsume-kun."

Ada keheningan yang menyeruak saat tidak ada seorangpun yang bicara setelahnya_ keheningan yang dingin. Perhatian natsume kembali teralih saat rubah putih dipangkuannya menggeliat tidak nyaman. Kelopak mata mungilnya terbuka dan bola mata merah yang jernih menatap natsume bingung. Detik selanjutnya, rubah kecil itu berdiri dan melompat melewati pundak natsume, membuatnya memekik tanpa sadar. Natsume memutar tubuhnya cepat mengikuti pergerakan rubahnya_ lantas menghela nafas saat rubah putihnya melompat dan menghilang diantara rumput dihalaman. Matoba melihatnya dengan senyum geli, lantas berkomentar "teman kecilmu meninggalkanmu, hm?"

"aku bisa memerintahkan siluman-silumanku untuk menangkapnya jika kau mau, natsume-kun." Ia melanjutkan saat melihat gurat kecewa yang kentara diwajah natsume. Saat tidak mendapat jawaban apapun dari natsume, matoba seiji memanggil salah satu silumannya_ yang berkulit hitam legam dengan yukata putih pucat. "ada seekor rubah putih yang lari kehalaman_"

"TIDAK! JANGAN!" natsume berteriak_ menghentikan apapun yang akan dikatakan matoba. Mata hitam laki-laki itu memandangnya penasaran. "rubah itu bukan milikku_ ia hanya rubah kecil yang tersesat jadi jangan menangkapnya. Dia_ tidak akan berguna untukmu." Natsume melanjutkan_ dengan suara pelan yang terdengar menyedihkan. "bukankah kau menginginkannya? Aku hanya mencoba membantu." Matoba membalas_ mengatakannya seperti itu adalah hal yang wajar. Natsume memandangnya marah, ia bicara_ hampir berteriak, "dan membiarkan siluman-silumanmu menangkapnya_ merenggut kebebasannya?! Apa itu yang kau sebut membantu?!"

Siluman pelayan matoba yang berdiri dihalaman pergi hanya dengan satu kibasan tangan. Laki-laki itu lantas melangkahkan kakinya mendekati natsume. ia merunduk dihadapan natsume, meraih dagu pemuda itu dan memaksa mata mereka bertemu. "aku hanya menangkap seekor rubah liar, natsume takashi-kun. Tidakkah tuduhanmu terlalu berlebihan? Kau bicara untuk rubah itu_ atau untuk dirimu sendiri?"

Natsume menyingkirkan tangan matoba dalam sekali sentak. Ia beringsut mundur. Matanya masih memandang tajam pada matoba yang kini berdiri sempurna dihadapannya. Laki-laki itu kembali menyembunyikan tangannya dibalik yukata, "kau bersikap seperti aku merenggut kebebasanmu. Memenjarakanmu disini_ tapi aku tidak keberatan jika kau merasa seperti itu. Aku hanya perlu mewujudkannya." Ia mendekati natsume dengan langkah pelan, membalas tatapan tajam pemuda itu dengan sorot dingin. "kenapa kau begitu membenciku, natsume-kun. Aku bahkan tidak mencoba merebut yuujincho dari tanganmu."

"kau_ tahu tentang yuujincho?!"

tbc.

-o-

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa /A/) apa iniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii /A/)

/kabur