My Wish

Summary : hidup dengan seseorang yang mirip dengan mu tapi sebenarnya bukan kembaran mu melainkan seseorang yang muncul dari permintaan mu atau lebih tepatnya 'dibuat' dengan reaksi ilmiah? (maaf tidak bisa bikin summary).

Warning : gaje, typo, aneh, dan kesalah-kesalahn lain

Rated : T

Ganre : friendsip, famiy(?), action, supranatural

Boboiboy milik Animonsta studio saya hanya meminjam charanya saja

Jika berkenang silakan baca ^_^

"Hei Boboiboy kenapa kau melamun saja?" kudengar suara yang memanggilku, kulihat siapa yang memanggilku dan ku dapati temanku yang duduk disebelahku ini.

"Aku tidak apa-apa Gopal, aku hanya sedang memikirkan sesuatu" jawabku pada teman baikku ini

"Apa kau sedang memikirkan tentang makanan?" pertanyaan aneh yang dilontarkan oleh Gopal yang hanya bisa ku balas dengan senyuman kecil dan gelengan saja yang membuat Gopal tampak kecewa, terkadang aku takjub dengan pola pikirnya itu yang sepertinya tak punya beban apa pun dan membuatku bisa merasa santai dengannya

"Hei Boboiboy boleh aku main ke rumah mu sekarang?" tanya Gopal mendadak dan membuat ku terkejut hampir saja aku jatuh dari kursi karna pertanyaannya itu

"Jadi bagaimana Boboiboy apa aku boleh ke rumah kau?"

"Tapi kenapa kau mau ke rumah ku? Kalau mau main game di rumahmu juga bisa kan?" tanya ku sambil memberi saran agar Gopal tidak main dirumah ku

"Benar juga tapi aku ingin bertemu dengan saudaramu itu dan kita bisa main bersama" jawab Gopal sambil tersenyum penuh harapan yang malah membuatku ketakutan, aku pun berpikir untuk mendapatkan solusi terbaik dan mempertimbangkan masalah ini antara untung dan ruginya

"Jadi bagaimana Boboiboy? Boleh?" tanyanya sambil tersenyum penuh harap agar aku mengizinkan dia bermain ke rumahku

"Hah..baiklah kau boleh main kerumahku" Jawabku pasrah sambil menghela nafas dan mendapatkan sorakkan penuh kemenangan dari Gopal yang hanya bisa ku balas dengan senyuman kecil sebenarnya dalam hati dan pikiran aku ragu saat membawa teman ke rumahku tapi karna Gopal sebelumnya pernah datang ke rumahku jadi kurasa aku tidak keberatan membiarkan Gopal main di rumahku selain itu mereka juga pasti tidak keberatan jika aku membawa teman ke rumah, jadi apa yang membuat ku takut?

Dijalan Gopal tak henti-henti bicara akan game yang akan kita mainkan sedangkan aku hanya merespon dengan senyuman dan mendengarkan kata-kata Gopal

"Jadi Boboiboy apa saudaramu itu sekolah disekolah lain?" tanya Gopal yang membuat ku bingung harus menjawab apa

"Eh..itu...mereka bersekolah disekolah lain" jawab ku ragu dan berbohong

"Kenapa kalian tidak disekolahkan ke sekolah yang sama?" Gopal bertanya dengan wajah bingung yang membuatku tidak tahu harus menjawab apa, berbagai jawaban aku pikirkan untuk menjawab pertanyaan sederhana dari Gopal dan tampaknya Gopal menunggu jawaban dari ku ini, saat aku mau menjawab ku dengar teriakan yang memanggilku

"Hei Boboiboy" teriakan yang menyadarkan ku dari pikiranku sendiri, aku langsung melihat siapa yang memanggil diikuti oleh Gopal dan kulihat sosok yang mirip denganku hanya saja dia menggunakan jaket dan topi kuning dan memakai topi dengan menghadap ke samping

"Angin? Sedang apa kau disini?" tanya ku bingung saat melihat sosoknya yang tiba-tiba ada di depan kami

"Aku baru saja belanja barang untuk dirumah"Jawab dia dengan senyum dan langsung melihat ke arah Gopal

"Kau membawa teman?" aku langsung melihat ke arah Gopal dan Gopal pun melihat ke arah ku

"Iya, kau pernah bertemu dengannya kan, 2 minggu yang lalu" jelasku padanya diikuti oleh anggukan dari Gopal yang membuat Angin hanya tersenyum

"Iya aku tau, dia Gopalkan teman baik kau itu?!" jawab Angin yang dibalas anggukan dari ku dan Gopal, kami pun berjalan bersama menuju rumah untungnya rumahku sudah terlihat jadi tinggal beberapa langkah lagi, di sela-sela perjalanan tiba-tiba Angin membisikkan sesuatu

"Kau harus berterimakasih pada ku karna telah menolongmu disituasi tadi" bisiknya yang membuatku terkejut walaupun ini sudah biasa tapi aku masih kaget akan kehebatan mereka itu dan sejak awal memang aku sudah sedikit aneh dengannya yang tiba-tiba muncul dan bilang sedang berbelanja jika itu adalah orang lain aku masih akan berpikir normal tapi jika orangnya adalah mereka aku akan berpikir dua kali

"Iya terimakasih telah menolongku tadi" balasku dengan senyum tipis karena bersyukur karena aku tak perlu berbohong lagi pada Gopal dan dibalas anggukan dari Angin beserta senyum jailnya itu

"Hei kalian rumah kalian disinikan kenapa kalian malah jalan terus" sebuah seruan memanggil kami dan menghentikan kami saat kami melihat kebelakang kami melihat Gopal sudah berhenti didepan rumah kami sedangkan kami malah berjalan terus tanpa melihat ke jalan yang membuat kami malah lupa dengan rumah kami

"Hehehe tadi kami sedang asik berbicara sampai lupa rumah sendiri hehehe" Angin pun tersipu malu karena melewatkan rumah sendiri dan malah Gopal yang diam dirumah kami

"Kalian itu memangnya membicarakan apa?" Gopal bertanya pada Angin dan membuat Angin hanya bisa tersenyum jail dan dia langsung mengelak

"Itu rahasia antar saudara hehehe" jawabnya dengan senyum jailnya diikuti oleh gelengan kepala dari ku dan membuat Gopal makin bingung dengan sikap kami ini

"Sudah lah ayo kita masuk ke rumah dulu" ajak ku agar kami tidak terlalu lama di luar, Angin pun langsung mengangguk setuju pada ajakan ku dan diikuti oleh Gopal dibelakang

"Kami pulang" ucapku sambil membuka pintu, kulihat 2 orang yang menunggu kami di dalam rumah dengan wajah seperti menunggu sesuatu

"Ada apa Tanah? Petir?" tanyaku bingung akan kelakuan 2 orang itu dan langsung mendapat wajah lega dari mereka

"Tidak, bukan apa-apa" jawab Petir singkat walaupun wajahnya yang tampak lega dan aku merasa ada yang mereka cemaskan apa mungkin mereka mencemaskan saat aku ditanya Gopal tentang mereka itu sampai-sampai Angin menolongku atau ada hal lain? Yaa apa pun yang mereka cemaskan kurasa mereka sudah lebih lega sekarang

"Kau bawa teman ya Boboiboy?" tanya Tanah sambil melihat ke arah Gopal, Gopal yang dilihat langsung melihat kearah ku dengan senyum

"Iya dia Gopal, dia pernah kesini 2 minggu yang lalu" jelasku dan mendapatkan balasan anggukan dari Tanah dan Petir

"Salam kenal Gopal, kau sudah tau kami kan?!" sapa Tanah dengan hangat berserta senyuman diwajahnya

"Salam kenal, kalian saudaranya Boboiboy benarkan" jawab Gopal malu-malu karna ini pertama kalinya Gopal berbicara seperti ini pada mereka walau pun Gopal pernah kesini tapi waktu itu dia tidak berbicara langsung dengan Tanah, Petir, dan Angin jadi ini pertama kalinya buat dia

"Yaa kau bisa menganggapnya begitu" jawab Tanah jujur yang malah mebuat ku dan Gopal sedikit kaget akan jawaban yang keluar dari Tanah

"Eh apa aku salah menganggap kalian saudara?" raut wajah Gopal terlihat bingung sekaligus bersalah jika tebakannya itu salah

"Tidak kami memang saudara" jelas Petir tiba-tiba yang malah membuat Gopal makin bingung

"Sudah tak perlu dipikirkan lagi, lebih baik kau masuk kedalam dulu" tawar Tanah diikuti oleh Petir dan Angin, Gopal langsung melihat ke arah ku seperti wajah yang meminta jawaban akan apa yang terjadi tadi dan hanya bisa ku balas dengan kekehan kecil dan langsung masuk kedalam menuju ruang tamu diikuti oleh Gopal

"Kau mau minum apa?" tawar Tanah pada Gopal

"Terserah Boboiboy saja" jawab Gopal sambil melihat ke arahku yang membuatku langsung bingung dan sepontan ku jawab

"Es chocolat ada?" jawab ku dan langsung dibalas anggukan oleh Tanah, Tanah pun langsung menuju dapur dan dalam waktu beberapa menit dia membawa 5 gelas berisi es chocolat yang segar bersamanya

"Ini silakan dinikmati" Tanah pun langsung menaruh 5 gelas didepan kami dan kami langsung meminum es chocolat kami hingga aku teringat akan tujuan Gopal main kerumah ku

"Hei Gopal tadi kau bilang ingin main game dirumah ku apa kau bawa gamenya?" tanya ku dan langsung dilihat oleh Gopal, Tanah, Angin, dan Petir

"Tentu saja aku bawa, ini gamenya" Gopal langsung memberikan sebuah game yang akan kami mainkan ini

"Wahh Game Papa Zola 10?!" seruku kaget akan game yang ada dalam tangan ku ini

"Dimana kau mendapatkannya?" lanjutku dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat, karena Game Papa Zola 10 itu sangat langka dan bagaiman bisa game ini bisa dimiliki oleh Gopal

"Hehehe aku memenangkan lomba ditoko game dan mendapatkan Game Papa Zola 10 ini sebagai hadiah atas kemenangan ku ini" jawab Gopal dengan bangganya

"Terbaiklah Gopal, baiklah ayo kita main" seruku bersemangat dengan game ini dan langsung saja ku nyalakan tv dan alat pemutar game dan memasukan kaset Game Papa Zola 10 ke dalamnya dan langsung aku dan Gopal memainkannya sedangkan Petir, Tanah, dan Angin menonton kami yang sedang bermain ini

"Awas ada laser yang datang" seru Angin tiba-tiba dan langsung muncul laser di depan charakter game kami untung saja kami bisa menghindar

"Hati-hati disana ada jurang" diikuti oleh teriakan Tanah dan hampir saja membuat kami terpeleset di jurang itu

"Nanti keluar monster pasir dari dalam jurang itu" Petir pun ikut memperingati kami dan benar yang dikatakan Petir bahwa monster Pasir keluar dari jurang itu, aku dan Gopal langsung bertarung dengan monster itu dan untunglah kami menang saat istirahat Gopal langsung melihat ke arah Petir, Angin, dan Tanah mereka yang dilihat hanya menatap Gopal bingung

"Ada apa?" tanya Petir dengan nadanya yang sepertinya tidak nyaman dilihat dengan tatapan yang aneh dari Gopal

"Apa kalian ini pernah bermain game ini sebelumnya?" tanya Gopal langsung pada intinya, aku hanya bisa menutup muka ku dengan sebelah tanganku dan berpikir 'apa mereka tidak sadar dengan perbuatan mereka tadi' dan aku pun langsung ditatap oleh Tanah yang sepertinya bisa membaca pikiran ku ini

"Yaa begitulah" jawab Tanah singkat dan langsung dibalas oleh tatapan mengejutkan dari Gopal

"Benarkah setahu ku game ini baru saja keluar" Gopal makin bingung dengan keadaan tadi dan sepertinya Tanah kehabisan kata-kata

"Kami main dirumah teman kami hehe" Angin pun turun tangan dan memberikan alasan yang pas

"Tapi game ini baru akan dijual besok" jawab Gopal yang membuat Angin kehabisan kata-kata

"Tapi kau mendapatkan game itu" Tanah pun langsung bertanya akan hal yang sebenarnya sudah dijawab sebelumnya

"Kan aku memenangkan perlombaan dan mendapatkan game ini dengan gratis" jelas Gopal lagi, disela-sela ke heningan kami memikirkan jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan dari Gopal

"Kami memainkannya dirumah teman kami yang membuat game itu hehehe" jelas Angin yang benar-benar bohong dan langsung kulihat ke arah Gopal yang menampakkan wajah curiga 'bagaimaan jika ketahuan' batinku cemas

"Hm baiklah" jawab Gopal yang akhirnya percaya diikuti oleh helaan nafas yang lega

"Baiklah ayo kita main lagi" Gopal langsung mengajakku untuk melanjutkan permainan ini

"Baik, tapi di level ini kita butuh 3 orang untuk bermain" seru ku sambil menunjuk ke arah layar tv diikuti oleh pandangan Gopal yang tertuju ke layar tv

"Benar juga, kira-kira siapa yang bisa memainkannya" aku dan Gopal berpikir siapa orang yang akan membantu kami untuk menyelesikan permainan ini, saat kami berpikir kami mendengar sebuah perkataan yang membuat kami terkejut

"Bagai mana kalau aku saja yang membantu kalian" kami langsung melihat kearah Tanah yang dilihat pun hanya bisa tersenyum

"Benarkah Tanah? Jarang sekali kau mau bermain game biasanya kan Angin yang bermain" jawabku sambil melirik Angin yang dilirikpun hanya bisa terkekeh kecil dan langsung ku lihat Tanah

"Hehehe tidak apa-apa, aku hanya ingin coba main saja" jawabnya dengan senyum malu

"Baiklah, ini Tanah" jawabku sambil menyondorkan alat pengontrol game ke arah Tanah dan lansung diterima oleh Tanah

"Baik ayo kita mulai" seru Gopal dengan semangat berapi-api, saat bermain kami mendapat rintangan yang sulit walaupun itu masih level 5 tapi rintangannya sudah mulai susah kami hampir mati tapi masih selamat karena selalu diselamatkan oleh Tanah dan disaat permainan Tanah yang paling handal dan malah hampir seperti profesional

"Kau hebat juga Tanah" seruku sambil fokus ke arah tv

"Hehehe biasa saja" jawabnya sambil melihat kearah tv juga

"Kau sungguh hebat, seperti sudah profesional saja" puji Gopal pada Tanah

"Biasa saja kok" balas Tanah dengan tetap fokus ke tv, setelah beberapa level yang kami lalui kami sudah menempati level 15 dan sudah mau ke level 17 dan level itu ada lah level bos

"Ayo Boboiboy tinggal 2 level lagi sampai kita ke level bos" seru Gopal dengan semangat yang tak kenal lelah dan langsung ku balas anggukan yang tak kalah semangat

"Hei kalian ini sudah mau malam apa kalian tidak lelah?!" sebuah seruan yang membuat ku dan Gopal langsung melihat ke sumber suara itu dan ku dapati wajah Petir yang dingin dan terlihat kesal aku pun hanya bisa berdiam diri melihat ekspresi wajah Petir dan langsung ku lihat ke arah jam

"JAM 7?! INI BUKAN MAU MALAM LAGI, INI UDAH MALAM" seru ku kaget sekaligus teriak, Gopal pun hanya bisa benging sambil melihat ke arah jam dinding di ruang tamu sedangkan Tanah hanya menutup telinganya mungkin karena teriakan aku ini

"Kau baru sadar? Dari siang kau sudah main game ini apa mata mu tidak sakit?" tanya petir dengan nada dinginnya

"Setidaknya beritau kami kalau sudah jam 7" ujar ku untuk menjawab pertanyaan dari Petir

"Kami sudah memberi tau kau tapi kau tak dengar" balas Angin dengan wajah sedikit kesal

"Benarkah?" tanya ku yang dibalas wajah pasrah dari Angin

"Iya tadi mereka sudah memberi tau tapi kau tak dengar" bela Tanah yang di balas anggukan dari Petir dan Tanah, aku langsung memasang wajah bersalah

"Jadi Boboiboy mau dilanjutkan?" sebuah pertanyaan yang membuat kami berempat langsung mrlihat orang yang bertanya itu dan kami berempat melihat Gopal yang sudah bersiap untuk melanjutkan permainan kita dengan wajah tak peduli

"HEI KAU, KAU TIDAK LIHAT INI SUDAH JAM BERAPA?! KAU SUDAH BERMAIN GAME DARI TADI SIANG DAN SEKARANG SUDAH MALAM! KAU PULANG SANA" sebuah teriakan yang sangat hebat terdengar dari Petir dan membuat orang yang di teriakkan hany bisa menutup telinganya sambil bergetar ketakutan dan yang membuat ku cemas adalah kalo Gopal ke takutan dia akan berbicara apa pun yang terlintas di pikirannya seperti ini

"Ta-tapi...sa-sayang...kalo tidak dilanjutkan, i-ini...sudah mau menang" balas Gopal dengan badan yang bergetar ketakutan

"Kau masih ingin main ya?!" sebuah senyuman kejam muncul di wajah Petir yang membuat ku, Tanah, dan Angin hanya bisa menelan ludah kami karena merasa akan ada yang tidak beres sedangkan Gopal hanya terdiam dan langsung mengangguk cepat 'dia bodoh kah? Dia tidak tahu kah arti senyuman itu' batin ku sambil melihat Gopal dengan kasihan

"Kalau begitu ayo kita main" ajak Petir pada Gopal

"Main game?" Gopal hanya membalas dengan wajah polosnya

"Ya bisa disebut game"

"Game apa? Game Papa Zola 10?"

'Aduh Gopal kau itu polos sekali' batin ku sambil menutup muka dengan tangan kanan ku berserta gelengan kepala

"Bukan, kita akan main game lain" aura iblis memancar dari tubuh Petir yang membuat ku, Tanah, dan Angin langsung merinding sedangkan Gopal sepertinya tidak merasakannya

"Game apa?" tanya Gopal dengan wajah polos

"Kita main Game Petir" balas Petir dengan senyuman yang sangat menakutkan

"Game Petir? Bagaiman cara bermainnya" tanya Gopal dengan wajah tertarik

"Caranya ada lah 'mengenai target dengan sengatan petir' dan kau adalah targetnya" jawab Petir dengan senyuman yang masih menyeramkan diikuti dengan wajah kaget dari Gopal karena melihat ada percikan petir yang keluar dari tubuh Petir

"Tu-tunggu kau ingin membunuhku?" tanya Gopal dengan nada ketakutan

"Tidak aku hanya ingin kau pingsan saja" balas Petir dengan dingin sambil berjalan mendekat ke Gopal, saat aku ingin menghentikannya Petir sudah menyetrum Gopal dengan kekuatannya dan langsung pingsan

"Hei Petir kau tak perlu melakukan itu kan?" tanyaku sambil menahan emosiku karena kejadian ini

"Benar kita seharusnya melindungi Boboiboy dan membuatnya senang" Angin pun ikut membela ku

"Tapi kenapa kau malah melukai temannya?" Tanah pun ikut membela, kami bertiga langsung menatap Petir dengan serius dan kesal

"Aku hanya kesal padanya, tanpa sengaja aku malah menyetrumnya" balas Petir dengan wajah datar

"Tidak sengaja apanya? Kau itu kelihatan sekali sengaja" balas Angin dengan nada sedikit tinggi

"Iya kau harus minta maaf" Tanah pun sepertinya kesal dengan kelakuan Petir

"Kenapa aku harus minta maaf?! Dia yang salah" balas Petir tidak mau kalah sambil menunjuk ke arah Gopal

"Huh dasar penakut" ledek Angin yang langsung mendapat geraman dari Petir

"Apa kata mu? Kau ingin berkelahi ya" balas Petir dengan nada tinggi dan wajah kesalnya

"Coba saja" balas Angin sambil bersiap-siap seperti ingin bertempur

"Ho.. kau ingin berkelahi ya.. Halilintar" Petir langsung berubah ke mode siap bertempur yang dinamakannya 'Halilintar'

"heh.. kau ingin pakai kekuatan penuh yaa tak masalah Taufan" Angin pun ikut berubah ke mode 'Taufan'

"Hei kalian jangan berkelahi" lerai ku dan Tanah yang tidak di pedulikan oleh mereka berdua dan mereka langsung bersiap menyerang

"Rasakan pedang halilintar" teriak Halilintar sambil mengeluarkan pedang halilintarnya

"Gerugi taufan" Taufan pun langsung mengeluarkan gerugi taufan dari tangannya, mereka langsung berlari mendekat satu sama lain dan bersiap menyerang mereka

"Cengkraman tanah" namun dihentikan karena mereka di tahan oleh sebuah penahan yang terbuat dari tanah, kami langsung melihat orang yang mengeluarkan itu dan dia adalah Tanah lebih tepatnya dia sudah berubah ke mode 'Gempa'

"Gempa? Sejak kapan kau ikut berubah?" tanyaku pada Gempa

"Baru saja" jawab Gempa "Kalian harusnya tidak berkelahi apa lagi didalam rumah dan kalian harus urus Gopal dulu" lanjutnya dengan menahan emosinya

"Tapi Halilintar yang duluan" bela Taufan yang dibalas oleh tatapan tajam dari Halilintar

"Hei ini semua salah kau juga" balas Halilintar dan mereka langsung beradu pandang, aku dan Gempa hanya bisa menghela nafas

"Sudahlah kalin ini tidak perlu berkelahi lagi, lebih baik kita urus Gopal dulu" ajak ku dan akhirnya mereka menurut mungkin karena mereka melihat Gempa hampir marah

"Baiklah" jawab mereka bersama

"Tapi jika Gopal ingat kau punya kekuatan bagaimana?" tanya ku panik sambil melihat kearah Halilintar

"Tenang aku menyetrumnya di bagian yang bisa membuatnya hilang ingatan pendek tapi tidak akan lupa ingatan sekali" jelas Halilintar dengan tenangnya walau pun sebenarnya aku masih ragu tapi aku percaya saja padanya

"Jadi siapa yang mau antar Gopal pulang?" tanya Gempa

"Aku saja kalo Halilintar yang bawa takutnya Gopal dibuang dijalan" saran Taufan yang langsung mendapat jitakan dari Halilinta dan langsung Taufan meringis karena kesakita

"Baiklah hati-hati bawanya" kataku sambil memberi Gopal pada Taufan, Taufan langsung mengangguk dan mengeluarkan hoverboadnya

"Kalau begitu aku pergi dulu" pamit Taufan dan dia langsung pergi keluar rumah, aku langsung melihat Halilintar dan Gempa

"Kalian lebih baik kembali normal saja" saran ku pada mereka dan langsung mendapat anggukan dari mereka, mereka langsung kembali ke mode normal mereka

"Kalian itu cloning yang hebat" pujiku tiba-tiba pada mereka

"Kami bisa begini juga berkan kau" balas Tanah dengan senyumnya

"Iya kalau kau tidak berbuat aneh-aneh pada saat kami dibuat kami tidak akan seperti ini" Petir pun langsung membalas perkataanku dengan datarnya

"Tapi aku bersyukur kalian bisa selamat dari beberapa eksperimen waktu 'itu'" lanjutku yang langsung mendapatkan wajah kaget dari Tanah dan Petir

"Kau masih mengigat kejadian itu?" tanya Tanah heran yang ku balas dengan anggukan

"Itu sudah cerita lama, kau tak perlu mengingatnya" saran Petir

"iya juga apa lagi ada hal yang tidak mau aku ingat" ujar ku dengan wajah sedih, Tanah dan Petir melihat ku dengan wajah cemas

"Hei jangan di pikirkan, kan masih ada kami" hibur Tanah dengan senyum ramahnya

"benar kami sudah berjanjikan akan menemani mu" Petir pun ikut menghiburku

"iya terimakasih" balasku dengan senyum, Tanah dan Petir sepertinya sudah tdak mencemaskan ku dan mereka pergi ke dapur mungkin akan mengambil cemilan dan minum, saat mereka pergi aku membayang-bayangkan saat dimana masih baik-baik saja walau ada kesedihan dan kesepian tapi tidak sesepi sekarang tapi aku berterimakasih karena mereka masih ada bersama ku, mereka adalah kenangan terakhirku bersama dengan orangtua ku sekaligus mereka peninggalan sekaligus kunci dari rahasia terdalam kehidupan ku ini.

TBC?

A/N : Hai minna-san hehehe saya coba publish fanfic saya yang lain setelah saya publish "Yaya vs Ying" saya jadi pingin ngepublish fanfic ini hehehe, saya berterimakasih karena sudah ada yang mau membaca dan mereview fanfic saya. Disini saya nempati 4 Boboiboy yaitu Boboiboy yang asli, Boboiboy Tanah/Gempa, Boboiboy Petir/Halilintar, dan Boboiboy Angin/Taufan,. Teman-temannya juga ada tapi jarang.

Sekian dari sayap, akhir kata tolong review dan kasih saran lagi hehehe maklum author baru, sayonara minna-san ^^