Petinggi-petinggi kerajaan sudah sepakat untuk menikahkan pangeran dengan anak dari penasihat Raja. Tidak ada yang menyangka tentunya. Semua terjadi begitu cepat. Dalam pertemuan rahasia pembicaraan tentang perjodohan telah terlaksana. Raja dan penasihat yang merupakan sahabat lama tersenyum sumringah saat saling menyetujui. Jadwal segera ditentukan dalam kurun waktu singkat. Undangan sudah disebar luaskan. Sampai hari ke-dua dalam pembagian undangan pernikahan, kedua calon mempelai tidak tahu sama sekali.

Tidak tahu jika akan dinikahkan oleh kedua orang tua mereka.

Terkejut bukan main sudah pasti dirasakan Pangeran Takigawa Chris Yuu dengan calon istri sahnya, Sawamura Eijun. Dalam negeri dibawah naungan kerajaan Seido, bahkan dalam seluruh belahan dunia manapun, hubungan ikatan antara sesama jenis sudah tidak lagi menjadi permasalahan yang perlu dipusingkan. Sudah terlalu kolot, kata tetua. Anugerah Tuhan untuk memberikan kehamilan pada istri bergender laki-laki bukan lagi menjadi hal asing apalagi tabu.

Eijun sempat berdiam diri dan tidak mau banyak bicara satu hari menjelang pernikahan. Batinnya terasa diguncang kuat seperti kapal terombang badai dan ombak. Telapak tangan putih memucat, jantung berdegup kencang, dan keringat dingin menari di atas kulit. Pikirannya kalut. Seperti apa sosok Takigawa Chris Yuu? Eijun tidak pernah tahu. Masalah kedudukan dan tahta yang pria itu miliki,tentu Eijun tahu. Ia pangeran sekaligus kandidat calon Raja negeri di bawah kuasa kerajaan Seido. Namanya begitu harum dikenal masyarakat. Kala itu Harucchi sebagai sahabat terdekat sejak kecil, sempat mendatanginya tiga hari sebelum pernikahan besar terlaksana. Pemuda Sembilan belas yang bersurai merah muda itu berusaha menenangkan Eijun. Berkata bahwa maksud dari pernikahannya dengan anak Raja adalah salah satu rencana Tuhan yang sudah pasti tidak bisa dipungkiri. Ia juga memuji dan mengagungkan Pangeran Chris. Berkata bahwa Pangeran yang berumur dua puluh dua itu sangat gagah dan tampan sehingga Eijun tidak perlu khawatir—walau bukan itu yang menjadi penyebab mengapa Eijun murung dan tertekan. Eijun membantah kuat-kuat, ia malah semakin berkata bahwa ia tidak sanggup. Mungkin Eijun sebagai anak penasihat Raja disangka orang luar sudah sangat sering bertemu dan menjalin hubungan dengan Chris. Namun sebenarnya tidak. Eijun selalu tinggal di rumah bersama ibunya yang berlokasi diluar istana. Maka dari itu ia tidak pernah bertemu apalagi bercengkrama.

Penyebab lain yang membuat Eijun gelisah sampai berkeringat dan susah tidur adalah; ia masih berumur tujuh belas. Masih muda baginya dan ia masih ingin melanjutkan sekolah bersama Furuya dan Haruicchi. Tapi sekarang apa fakta yang menghampiri? Ia harus menikah. Itu juga berarti ia akan terisolasi dalam istana. Semakin memiliki waktu yang sedikit untuk bertemu orang tua dan sahabat lama. Ia tidak mau. Sangat tidak mau. Umurnya masih muda dan ia membutuhkan kebebasan!

Kemarin beberapa pihak istana membawanya ke dalam salah satu pavilliun megah. Perintah untuk tinggal di dalam sana sebelum hari pernikahan mau tidak mau Eijun turuti. Selama itu pula beberapa pihak istana akan hilir mudik keluar masuk pavilliun miliknya. Mengajari ini itu. A sampai Z tidak ada peraturan yang terlewat. Mulai dari tata karma hingga tetek bengek tanggal berbulan madu dengan pangeran sesuai ketentuan tanggal istana yang memiliki makna istimewa serta merta melegenda. Lebih tepatnya dibawah sinar cahaya bulan purnama. Saat itulah ia akan—Argh. Eijun tidak suka membahas yang satu ini lebih lanjut. Bahkan jijik.

Tak lupa tata krama dan apa saja yang harus dilakukan saat adat pernikahan yang pastinya dirayakan negeri sejagat. Tudung berwarna hitam dan cukup berat wajib Eijun pakai selama adat pernikahan. Tubuh Eijun sudah terlihat lunglai sebelum acara peresmian berupa pengakuan hormat dan janji depan penghulu Agama. Pendupaan mengelilingi dan bau-bauan yang Eijun cium dari sekitar membuat kepalanya terasa berat. Jika tidak ada Chris disampingnya, mungkin ia sudah terjatuh tepat di hadapan penghulu.

Acara belangsung sangat meriah. Suasana istana sangat mengharu biru karena akhirnya pangeran kerajaan mereka sudah menemukan pasangan sehidup semati. Di dalam ruangan yang menghadap para tamu dan hanya dilapisi korden tipis berwarna putih, Chris dan pemuda bersurai cokelat duduk bersebelahan. Udara sekitar tidak menangkap gelombang suara. Sunyi. Tidak ada di antara mereka berdua yang berniat untuk berbicara atau bahkan memulai. Eijun masih berusaha sabar dengan baju berwarna merah hati yang ia kenakan. Sangat berat karena dipenuhi ornamen-ornamen serta batu mulia yang sungguh membuat punggung nyeri dan pegal. Ditambah tudung kepala yang luar biasa berat. Sesekali dari ekor mata Eijun melirik 'suami'nya yang terlihat kalem dan santai. Baju yang pria dewasa itu gunakan berbahan tebal sama sepertinya. Tidak ada yang berbeda, dari ornamen yang menghiasi, sebagai baju pasangan mempelai, tentu sedikit mirip. Hanya saja pakaian pria itu lebih besar dan tidak memiliki ikatan rumit seperti ikatan pada baju yang dikenakan Eijun.

Sebelum acara pernikahan selesai, Pihak suami belum bisa untuk melihat wajah sang mempelai. Sungguh tetek bengek istana yang Chris akui sangat merepotkan dan kuno. Ia tidak bisa melirik barang sedikitpun pada wajah dibalik kain penutup berwarna hitam transparan. Cahaya remang semakin membuatnya kesulitan. Tapi pria itu terlihat tenang dan tidak terlalu terganggu. Toh, nanti malam ia bisa melihat wajah Eijun saat mereka tidur melepas penat.

Kembali kepada Eijun, dalam dada kecilnya masih terasa sesak oleh beribu pertanyaan.

Mengapa ia yang menjadi kandidat sempurna untuk sosok pangeran yang terkenal sempurna seperti Takigawa Chris Yuu?

Kenapa orang tuanya tega melakukan hal ini padanya?

Bagaimana perasaan Chris sendiri saat mengetahui rencana pernikahan mereka yang mungkin pria itu sendiri sangat tidak diharapkan?

Memikirkan beberapa poin saja, Kepala Eijun berdenyut sakit.

.

.

.

So Long, and Thanks For All The Love

TAKIGAWA CHRIS YUU | SAWAMURA EIJUN | MIYUKI KAZUYA

Ace of Diamond belongs to Terra-sensei

This fanfiction belongs to Anagata Takigawa

Takigawa Chris Yuu : 22 y.o

Miyuki Kazuya : 21 y.o

Sawamura Eijun : 17 y.o

WARN: OOC, T-M, Implisit, M-Preg!, Boys Love, Kingdom!AU, Prince!Chris, Bodyguard!Miyuki, (untuk bisa membayangkan setting, silahkan bayangkan Korean Empire yang dicampur dengan budaya Timur Tengah)

.

.

.

"Eh? Apa menurutmu Eijun-kun baik-baik saja?" Jujur saja Kominato Haruicchi tidak bisa tenang walau cairan kopi sudah beberapa kali ia teguk. Wajahnya terlihat murung. Sebagai terlahir dari golongan biasa, ia tidak bisa mendatangi pernikahan sahabat kecilnya. Satoru sebagai anak dari salah satu petinggi di istana tentu memiliki akses besar untuk mendatangi acara pernikahan. Bahkan dengan cantuman sebagai tamu terhormat seperti yang tertera dalam surat undangan. Namun pemuda berumur tujuh belas itu sangat peduli teman. Sehingga ia memilih untuk tidak mendatangi acara itu melainkan menemani Haruicchi yang tentu sangat merasa sedih dan kecewa.

"Tentu." Furuya mendesah. Dibawah bintik-bintik putih langit malam, ia menyamankan posisi duduk di atas bangku taman yang mereka duduki. "Kita sudah tahu Eijun itu seperti apa dan bagaimana. Apalagi kau, yang tahu luar dan dalam."

Dibalik poni yang memanjang kedua alis bertaut dan tertekuk dalam, "Aku khawatir. Sangat. Eijun-kun bukanlah orang yang sanggup menghadapi masalah yang ia alami hanya seorang diri. Aku yakin ia akan merasakan kesepian setelah ini. Karena sudah pasti seluruh sisa hidupnya akan diberikan pada genggaman tangan pangeran sehingga ia akan berpisah jauh dari kita, bahkan kedua orang tuanya sendiri."

Furuya melirik muka memerah Haruicchi. Seperti menahan bulir air mata untuk meluncur turun, "Benar juga." Pemuda itu menghela nafas pelan, "Tapi jangan terlalu dipikirkan. Itu hanya akan membuat Eijun akan semakin merasa tidak tenang. Bukannya itu akan membuatnya tambah tertekan?"

Haruicchi malah terlihat semakin gelisah, "Tapi Furuya-kun, kau tahu sendiri bahwa pangeran terkenal dengan sikap dinginnya. Tak sedikit pengawal pribadinya yang mengundurkan diri akibat ucapan pedas miliknya."

"Itu mungkin berlaku pada pengawal pribadinya saja, kan? Kita tidak tahu sikap apa yang ia tunjukkan pada Eijun."

"Tapi—"

Furuya menggeram kesal, "Sudahlah, Haruicchi." Jujur saja, mendapati dua temannya dalam keadaan yang sama terpuruk, membuatnya merasa terganggu dan ia yang menjadi merasa kelewat khawatir.

Anak bungsu dari keluarga Kominato itu bungkam. "Aku… "

Membalikkan badan untuk menghadap tubuh yang jauh lebih kecil darinya, Furuya mencoba untuk tersenyum—walau itu sama sekali bukan sikap yang mudah ia lakukan.

"Percayakan semuanya pada Eijun."

.

Satu jam setelah perayaan besar-besaran yang terlaksana, Keluarga besar Sawamura dan Takigawa melakukan makan malam bersama. Walau kerajaan Seido tidak lagi memiliki Ratu akibat kematian melawan penyakit, namun suasana yang tercipta masih berlangsung harmonis dan membahagiakan. Namun tidak untuk Chris dan Eijun. Mereka yang merasa berpuluh-puluh kali lipat merasakan lelah. Sampai detik itu pula mereka belum berbicara. Tapi sebagai pangeran yang memiliki tata karma kepada 'mertua' menjawab setiap pertanyaan yang tertuju padanya dengan senyuman. Termasuk Eijun sendiri. Namun tidak ada pembicaraan sedikit pun antara pasangan baru. Raja berambut pirang menggelengkan kepala menyadari hal tersebut.

Bahkan sampai mereka berdua dikawal beberapa penjaga untuk diantarkan ke pavilliun pribadi mereka menggunakan tandu yang besar dan dibawa beberapa orang.

Guncangan yang tercipta akibat daya orang-orang yang menggotong tandu, Eijun merasakan kepalanya berdenyut kuat. Terlebih saat ia masih diharuskan memakai tudung hitam super merepotkan itu. Bertahan dari pagi sampai malam dengan benda seperti itu di atas kepala sangat dibutuhkan pengorbanan. Chris juga pasti memakai atribut berupa topi yang besar namun pastilah tidak seberat yang Eijun pakai.

Dalam hati Eijun sedikit merasa jengkel. Bisakah Chris sekali saja menanyakan bagaimana keadaannya saat ini yang sedang naas?

Atmosfir diantara keduanya sangat tidak terasa nyaman. Eijun tiba-tiba teringat rumah. Suasana rumah yang hangat dengan dihiasi candaan bersama kedua orang tua. Biasnaya Eijun tak pernah lupa bercengkrama bersama ayah dan ibu sebelum tidur. Itulah tugas yang harus ia lakukan sebagai anak tunggal. Sekarang kondisinya sudah berbeda. Jarak rumahnya dengan istana terpisah jarak puluhan kilo meter. Walau sang ayah menjabat sebagai penasihat Raja, tapi permintaan untuk tinggal di salah satu pavilliun yang mewah dan sudah disediakan secara khusus ditolak dengan sopan dan senyuman. Keluarga Sawamura memiliki tradisi berkebun yang sudah sangat sulit dipisahkan. Jadi mereka memilih untuk tidak tinggal dalam ruang lingkup istana melainkan pada sebuah tempat yang sejuk dan asri dekat sungai dan rumah keluarga Kominato.

Lamunan membuat Eijun terhanyut pada pikiran yang kalut. Tak sadar bahwa tandu sudah mencapai tepi pagar pavilliun untuk dirinya dan pangeran. Chris sudah bersiap untuk turun. Sengaja tidak menyadarkan Eijun dan menyuruhnya untuk turun pula. Dengan santai Chris berjalan lebih dulu masuk pavilliun. Ia sudah sangat lelah dan butuh istirahat. Beberapa pelayan yang melihat Chris berjalan seorang diri terheran-heran. Kemana istri pangeran? Apa pingsan di dalam? Tapi kenapa pangeran tidak berupaya untuk menggendongnya?

Salah seorang pelayan bersurai cokelat madu menunduk dalam bersama pelayan yang lain saat Chris masuk melewati pintu utama. Aroma dari pendupaan dan acara adat sepanjang hari tadi tercium kuat. Dua orang temannya mengikuti gerak Chris masuk ke dalam dengan kepala tertunduk. Mengantar sampai ke depan pintu kamar dengan enam penjaga sudah bersiap mengawasi.

Hideaki Tojo, pelayan yang sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan istri pangeran di dalam. Ia melempar pandangan bertanya pada salah satu pembawa tandu yang balik membalas dengan mengendikkan bahu. Langsung mengerti maksud pandangan yang ia berikan. Tentu sebagai pembawa tandu bukanlah hal yang pantas jika ia mengintip ke dalam. Tapi ini sangatlah penting jika benar-benar terjadi sesuatu yang buruk dan tidak diinginkan.

Akhirnya Tojo menyerah dan berjalan mendekati tandu yang sudah menyentuh tanah. Perlahan dengan tata karma ia sibak kain korden penutup tandu.

"Y-Yang mulia!?"

Teriakan terkejut Tojo mengejutkan pelayan laki-laki maupun perempuan yang masih berdiri tepat di depan pintu utama. Pemuda bersurai cokelat madu dan berumur tujuh belas itu panic saat melihat Eijun duduk dalam keadaan memeluk kedua lutut dan terisak. Tudung yang ia pakai terlihat basah oleh air mata.

Tentu mendengar keterkejutan Tojo mengundang pelayan yang lain untuk turut mengecek Yang mulia istri pangeran.

Eijun sedikit mendongak. Namun tidak berniat sama sekali untuk balas menatap Tojo. Lagipula percuma saja. Karena Tojo tidak mungkin dapat melihat wajahnya. Sebelum penyatuan antara Chris dan dirinya dilakukan, wajah Eijun tidak boleh diperlihatkan oleh siapapun kecuali oleh Chris seorang.

Kehabisan kata-kata dan bingung berbuat apa untuk menenangkan Eijun, tentu mengaduk pikiran Tojo dan teman-temannya.

"Yang Mulia, anda harus segera masuk ke dalam dan beristirahat bersama Yang Mulia Pangeran…" Kali ini Tojo berusaha membujuk. Tidak perlu bertanya mengapa Eijun menangis, sepertinya Tojo sudah bisa menebak sebagai seseorang yang peka.

Selang beberapa detik Eijun tidak menjawab dan memilih untuk diam. Beberapa pelayan yang lain tampak iba saat mendengar isakan-isakan yang terus terengar. Namun pelan tapi pasti Eijun sudah mulai melangkah untuk keluar dari tandu. Bertepatan ketika kedua kaki menyentuh tanah berlapis batu mulia, kedua kakinya terasa mati rasa. Tubuh Eijun hampir saja ambruk jika saja Tojo tidak menahannya. Pandangan berupa 'berani sekali kau menyentuh istri Yang mulia, Tojo!' menghujam pemuda cokelat madu. Mau bagaimana lagi? Ia sebagai orang yang berdiri tepat di sebelah Eijun dan tidak mungkin membiarkan tubuh Tuannya ambruk ke atas tanah.

Tangan kanan Eijun terangkat—seakan memberi isyarat untuk melepas pegangan untuk menahan tubuhnya. Tojo menurut dengan buah adam bergerak akibat menelan ludah. Gugup karena benar saja, kenapa ia sampai berani menyentuh istri Yang Mulia pangeran jika mungkin pangeran sendiri belum menyentuhnya?

Seselang beberapa detik dua orang pelayan wanita dengan handuk bersih dalam genggaman datang keluar dari pintu utama. Dengan tergesa-gesa mendekati Eijun yang terlihat sangat lemas.

"Oh tidak." Pelayan bersurai hitam dengan kunciran satu khas pelayan istana, menatap Eijun khawatir. "Y-Yang Mulia… apa ada yang sakit?"

Melihat handuk putih bersih dalam genggaman dua pelayan wanita yang ia sungguh kenal, kepalanya mendekat untuk berbisik pada salah satu dari mereka, "Handuk itu untuk… ?"

Gadis yang ditanya memutar kedua bola mata, "Tentu untuk Yang Mulia. Ada acara—" Kedua pipinya memerah dan terlihat jelas dibawah penyinaran lampu, "Mandi air hangat bersama dengan Yang Mulia Takigawa sebelum tidur, bukan?"

.

.

.

TBC

(A/N)

Hai! Saya Author yang asalnya bernama AnagataOkita! Apa mungkin yang baca fik ini teringat fik 'Close Your Eyes' yang tiba-tiba raib? Tenang. Itu akan saya REPUBLISH dengan sekaligus tiga chapter yang diringkus dalam satu chapter. Karena sebelum raib, saya baru buat 2 chapter saudara-saudara.

Ha. Ha Ha /disate Miyuki/ Disini juga, fik ini merupakan MiyuSawaChris. Silahkan tebak kepada siapa jiwa dan tubuh Eijun pada akhirnya akan berlabuh? /dor

Fik ini punya tema yang berat. Sekarang saya sedang demen dengan cerita pernikahan-pernikahan. Sungguh menggelikan? Ya. Tapi ini adalah cerita yang bener-bener pengen saya ketik. Setelah baru nonton episode 72, liat Chris-senpai yang gentle kaya malaikat itu sumpah, buat saya terkagum-kagum. Tak lupa lihat wajah Eijun? Menurut saya waktu itu wajah dia cantiiiiiik banget ketika lihat Chris-senpai. Duh, OTP saya yang satu ini memang gemesin walau saya seringnya lebih notis MiyuSawa. Ha ha ha.

Oke, Mind to review? Karena kalau tidak akan disate Miyuki Kazuya. /run away/