Lagi galau sama tugas, mau tidur pun nggak bisa, terus inget perkataan Raditya Dika. Katanya "tuangkanlah kegalauanmu menjadi sebuah karya."

Akhirnya, aku nulis deh chapter 2 ini.

Terima kasih buat yang udah bersedia review di chapter kemarin ^^

Silahkan menikmati chapter ke 2 ini

Chapter 2: Civil War Second


Manusia adalah makhluk yang paling misterius yang ada di muka bumi ini. Mulai dari pola pikir, hingga kesukaan masing-masing orang berbeda-beda. Sehingga, nilai sesuatu hukumnya subjektif, tergantung dari pendapat individu.

IoI

Para kembaran Boboiboy meski memiliki wajah, tinggi, hingga bentuk badan yang sama namun ketiganya memiliki bakat yang berbeda-beda.

Gempa dengan bakatnya menjadi seorang pemimpin (yang kadang ia tidak lakukan sepenuh hati, tapi semua pekerjaannya pasti selesai). Tak lupa bakatnya memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, jadi sampai saat ini semua si kembar Boboiboy bisa bertahan hidup meski sering ditinggal orang tua mereka bekerja.

Halilintar dengan bakatnya dalam hal bela diri (atau yang dengan senang hati diartikan Taufan sebagai bakat menjadi seorang pembunuh). Kekuatan fisiknya masuk kategori mengerikan. Serta otaknya yang sangat encer dalam hal berhitung (namun lemah dalam pelajaran hapalan) membuat nilai akademisnya tak pernah buruk.

Dan si anak tengah, Taufan, yang mungkin tidak semenonjol kedua saudaranya di sekolah, namun sesungguhnya memiliki segudang bakat yang sulit disebutkan satu persatu. Ia memiliki bakat dalam menguasai teknik gerak tubuh dan juga seni. Keseimbangan tubuhnya menyaingi keseimbangan seekor kucing, tak lupa juga tubuh yang lentur dan lincah.

Sayangnya, bakatnya itu dituangkan ke dalam olahraga ekstrim.

Gempa dan Halilintar tidak terkejut saat melihat Taufan pulang ke rumah dengan sekujur badan penuh luka. Dan yang paling menonjol adalah lengan kanannya di topang dengan kain.

"Kak Taufan kenapa?" tidak terkejut bukan berarti Gempa tidak khawatir.

Taufan dibantu berjalan oleh Gempa, akhirnya duduk di sofa.

"Hehe, tadi aku jatuh, terus sendi bahuku geser lagi," ucap Taufan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan tangan kirinya.

Mungkin di dunia ini, hanya dia saja yang bisa tertawa sambil menceritakan bagaimana sendi bahunya bergeser. Bayangkan saja seseorang yang jatuh, kemudian lengannya tertekuk ke arah yang salah. Meski tidak ada darah, namun pemandangan macam itu salah satu pemandangan yang membuat siapapun merasa ngilu.

"Kok bisa jatuh?" tanya Gempa, wajahnya masih panik dan khawatir.

"Iya, aku kan lagi bike parkour..."

"Bike parkour?" untuk kali ini, Halilintar yang angkat bicara. Wajah maupun nada suaranya tidak panik atau khawatir seperti Gempa, karena jujur saja hal seperti ini memang tidak mengaggetkan.

"Kak Hali tahu parkour kan?" tanya Taufan, dengan wajah 'aduh capek deh'.

Halilintar memicingkan matanya. "Tahu lah."

"Yang bisa lompat salto di tangga, lompat dari gedung ke gedung itu kan?" tanya Gempa. Ia tahu, selain bermain skateboard, Taufan juga termasuk mahir dalam parkour. Ia bisa memijakkan satu kaki ke dinding kemudian salto ke udara, seperti gerakan yang ada di film.

"Iya, nah, aku lagi belajar bike parkour. Mirip kayak atraksi sepeda yang biasa aku pelajari itu, cuma ini jadi aku parkournya pake sepeda. Pas lagi nurunin tangga naik sepeda, aku jatuh," terang Taufan.

Kini Gempa dan Halilintar bisa membayangkan penjelasan Taufan dengan baik. Mereka berdua dalam hati bersyukur, semua teman olahraga ekstrim Taufan tahu pertolongan pertama bahkan mahir membentulkan sendi yang bergeser ke tempat semula.

"Kak Taufan harus ke dokter, takutnya kenapa-kenapa," saran Gempa, meski melihat bahu Taufan kelihatan normal, minus terlihat tegang dan tampak sakit untuk digerakkan, tapi ia takut ada sesuatu yang lebih parah terjadi di sana. Hanya karena tidak ada darah bukan berarti tidak berbahaya.

"Nggak apa-apa kok, udah biasa lagi. Paling nyeri sama agak bengkak aja," tolak Taufan.

Halilintar hanya mendengus. Sementara wajah Gempa masih dipenuhi ekspresi khawatir.

Ia memandang kakaknya yang sedang tertawa sambil menceritakan bagaimana reaksi teman-temannya saat sendinya bergeser, Halilintar mendengarnya dengan wajah datar. Namun, menurut Gempa, hal itu tidak lucu.

Sang adik tahu bagaimana Taufan sering sekali terluka karena olahraga ekstrim yang ia lakukan. Semuanya penuh resiko, bahkan ada kemungkinan bisa meninggal bila melakukan kesalahan.

"Kak Taufan, sebaiknya berhenti aja main olahraga ekstrim begitu."

Taufan berhenti bercerita dan Halilintar menoleh pada Gempa.

"Kalau kakak sampai kenapa-kenapa gimana? Emangnya nggak capek luka terus kayak gini?" protes Gempa.

Taufan tertegun, kemudian segera menyugingkan senyum tipis. "Ya ampun Gempa, nggak usah khawatir gitu. Aku nggak apa-apa kok, cuma gini aja," kata Taufan berusaha menenangkan.

"Mana bisa aku nggak khawatir!" seru Gempa, membuat Taufan membungkam mulutnya.

Gempa yang terkenal jarang marah, kini mulai meninggikan suaranya.

"Buat apa sih Kak Taufan ikut olahraga ekstrim kayak gitu? Nggak ada gunanya! Cuma bikin Kak Taufan luka aja!" tambah Gempa dengan nada berapi-api.

Mulut Taufan menganga, sementara Halilintar mengernyit mendengarkan perkataan Gempa.

"Apa katamu? Nggak berguna!?" seru Taufan balik, merasa tersinggung.

"Emang bener kan? Nggak ada gunanya! Kalau sampai Kak Taufan mati sia-sia gimana?" balas Gempa.

Halilintar memandang kedua adiknya yang kini sedang adu mulut dengan mulut melengkung ke bawah dan dahi mengernyit.

"Enak aja! Aku nggak bakal sebego itu! Kamu kenapa sih, Gempa? Bukannya dulu kamu udah janji mau support aku!?" tanya Taufan balik.

Gempa tertegun sebentar. Memang, ia pun masih ingat. Bagaimana reaksi orang tua mereka ketika Taufan minta dibelikan skateboard. Ibunya yang bekerja di bidang kesehatan pun marah. Namun, Taufan bersikukuh hingga orang tuanya tidak bisa berbuat apa-apa. Gempa dan Halilintar memutuskan untuk mendukung Taufan, memberikannya support yang ia butuhkan.

"Iya! Tapi aku capek khawatir terus sama Kak Taufan!" omel Gempa balik.

"Siapa yang minta kamu khawatir?" balas Taufan.

Gempa menggeretakkan giginya. Bila kakaknya itu tidak sedang terluka, mungkin ia sudah meninju wajahnya.

Karena tak bisa membalas perkataan Taufan, sang adik paling muda membuang muka dan berlari ke lantai atas.

"Ya udah kalau gitu aku nggak mau peduli sama Kak Taufan lagi!" serunya sambil berlalu cepat.

Taufan terdiam mendengarnya dan Halilintar hanya mendengus. Sang adik memandang ke lantai dengan perasaan kalut.

"Dasar bego," komentar Halilintar, akhirnya bicara. Taufan memandang kakaknya itu dengan wajah masam, kesal karena kakaknya bahkan tidak melerai dirinya dan Gempa.

"Dia kenapa sih?" tanya Taufan, marah namun juga bingung dengan sikap Gempa.

"Makanya kubilang, kamu bego," ulang Halilintar sama sekali tidak membantu.

IoI

Manusia adalah makhluk yang mudah sekali meninggal. Mulai dari penyakit berat macam kanker, hingga hal sepele seperti terpeleset di tangga bisa membuat nyawa seseorang melayang.

Karena itu, sejujurnya sejak dulu Gempa tidak pernah bisa menyukai hobi Taufan yang seakan menantang maut.

Kalau melihat video olahraga ekstrim, biasanya ada peringatan 'jangan melakukan ini di rumah' atau 'hanya boleh dilakukan oleh profesional'. Masalahnya, bagaimana seseorang menjadi profesional dalam olahraga ekstrim? Karena pastinya, selain bakat, tetap butuh latihan.

Dan proses latihan itu pun mematikan.

Bahu kanan Taufan, dimana ligamennya sudah putus, pernah diperingatkan dokter. Sendinya akan lebih mudah bergeser karena tidak ada penahannya sudah berkurang satu. Kemudian dokter tersebut menambahkan, bisa dibuatkan ligamen melalui operasi. Seperti atlit-atlit olahraga yang mengalami cedera serius.

Tentu Taufan menolak, karena lengannya dan bahunya masih bisa berfungsi dengan normal. Dokter tersebut mengingatkan, dengan kondisi tubuh Taufan, tidak akan bisa masuk ke dalam militer negara. Sang kembaran kedua hanya tertawa dan menjawab kalau ia tidak pernah bercita-cita menjadi polisi ataupun tentara.

Mendengar semua penjelesan itu dulu, membuat Gempa merasa sedih. Karena meski terlihat normal, tapi tubuh Taufan sudah tidak sempurna lagi. Alias cacat. Meski cacat tubuhnya tidak signifikan dan masih berfungsi dengan normal.

Tapi, seakan tidak kenal jera, Taufan tidak pernah berhenti belajar olahraga ekstrim. Pertama dari skateboard, lalu sepeda, lalu parkour dan sekarang, bike parkour.

Kapan kakaknya itu akan berhenti? Kenapa semakin lama justru melakukan hal yang semakin berbahaya?

Kenapa Taufan tidak mengerti kalau ia membuat Gempa sangat khawatir?

Sang adik memikirkan semua itu, sambil menenggelamkan dirinya di tempat tidur. Masih diliputi dengan perasaan khawatir dan ketakutan.

Karena, Gempa tidak mau kehilangan Taufan. Tidak akan pernah mau.

IoI

Taufan mendengus, tidak mengerti kenapa Gempa harus memilih untuk bertengkar dengannya ketika ia sedang terluka seperti ini. Kemudian ia baru ingat, sumber kemarahan Gempa justru karena ia terluka.

Taufan menghempaskan diri ke tempat tidur, sedikit mengaduh saat merasakan bahunya bergerak sedikit.

Ia merasa kecewa, Gempa tiba-tiba menentangnya seperti ini. Tidak semua orang senang dengan apa yang ia lakukan, Taufan paham akan hal itu. Ibu dan ayahnya masih belum setuju dengan hobinya itu, namun karena Taufan sangat keras kepala, mereka masih membiarkannya.

Karena itu, ia sangat membutuhkan dukungan dari saudara-saudaranya. Sebagai sebuah pengingat kalau yang ia lakukan ini sebenarnya bukan sesuatu yang salah.

Tapi, tiba-tiba saja Gempa...

Sang kembaran tengah tidak paham. Ia sudah sering terluka dan jujur saja, sendi bergeser ini bukan sesuatu yang parah. Ia pernah mengalami gegar otak ringan, itu lebih parah. Yah, ketika sendinya bergeser untuk pertama kalinya dan ligamennya putus memang termasuk parah sih. Tapi, sekarang sudah biasa.

Lagipula, kan dirinya yang terluka, kenapa Gempa yang marah?

Jadi, kenapa Gempa marah sampai seperti itu, Taufan tidak mengerti.

IoI

Halilintar memandang Gempa, yang kelihatan jelas moodnya sama sekali tidak bagus. Sejak pagi, belum ada senyum tersungging di bibirnya.

Jarang rasanya Halilintar melihat Gempa marah seperti ini, terutama ke saudaranya sendiri.

"Meski marah, kamu masih masak buat Taufan."

Gempa tidak merespon, kakinya hanya berjalan beraturan, mengarungi jalan menuju sekolah. Kali ini, Halilintar memutuskan untuk berangkat bersama adiknya itu.

Meski marah dan bilang tidak mau peduli lagi pada Taufan, kenyataannya Gempa masih sayang hingga tetap memasakkan untuk kakak keduanya, karena jelas Taufan tidak bisa memasak sendiri. Bahkan ia dilarang masuk sekolah oleh Halilintar karena kondisinya seperti itu.

"Kak Halilintar..."

Halilintar mendengar namanya dipanggil dengan lirih.

"Kakak nggak khawatir sama Kak Taufan?"

Halilintar terdiam mendengarnya. Wajah Gempa bukanlah wajah orang yang sedang marah, tapi wajah khawatir dan sedih. Matanya terlihat pilu dan bingung.

"Khawatir juga nggak bakal bisa merubah apapun kan?" tanya Halilintar. Gempa memandangnya dengan bingung.

"Khawatir juga Taufan nggak bakal berhenti," jelas Halilintar.

Wajah Gempa menjadi semakin masam.

"Buat apa sih Kak Taufan ikut olahraga ekstrim kayak gitu?" tanya Gempa.

Halilintar tahu itu sebuah pertanyaan kosong yang tidak perlu dijawab, maka ia hanya diam saja.

IoI

"Gempa kenapa?"

Halilintar mendongakkan wajahnya, melihat Yaya bertanya padanya dengan wajah khawatir.

"Lagi ngambek," jawab Halilintar singkat.

Yaya mengerjapkan mata, sementara Halilintar dengan cuek memandang ke luar jendela. Ia bisa membayangkan, bagaimana wajah masam Gempa membuat orang di sekelilingnya kebingungan. Berbeda dengan Taufan, Gempa tidak akan menyembunyikan moodnya yang sedang jelek atau saat ia marah.

Jadi, bisa dibilang, semua orang bisa merasakan mood yang Gempa rasakan.

"Sama siapa?" tanya Yaya.

"Bawel," tegur Halilintar, tidak suka ada orang ikut campur masalah keluarganya. Yaya cemberut padanya namun pemuda bertopi itu tetap bungkam.

"Terus Taufan kenapa nggak masuk?" tanya Yaya lagi, belum jera.

Halilintar mendengus keras. Ia curiga kalau gadis teman sekelasnya ini salah satu stalker Boboiboy bersaudara. Tapi, mungkin itu agak berlebihan, karena si kembar memang terkenal di sekolah jadi apapun yang terjadi, pasti akan langsung jadi gosip terhangat dan diketahui semua orang.

"Jatuh," jawab Halilintar akhirnya. Singkat, padat dan tidak jelas.

Sepertinya jawaban pendek Halilintar sudah cukup membuat Yaya puas, sehingga ia berhenti bertanya dan kembali ke bangkunya. Sementara si kembar yang tertua masih memandang ke luar jendela. Membayangkan, bagaimana keadaan Gempa dan Taufan selanjutnya.

Selama mereka berdua tidak mulai ikut menyeretnya dalam permasalahan konyol mereka, Halilintar tidak terlalu peduli.

Karena keduanya terlalu bodoh untuk mengerti hal-hal yang sudah jelas ada di depan mata mereka.

IoI

Taufan menonton acara televisi di depan matanya dengan berbinar-binar. Acara televisi "X games" memang acara televisi yang paling ia sukai. Menampilkan berbagai macam olahraga ekstrim kesukaannya dan membuatnya update dengan olahraga ekstrim tipe baru.

Tapi kemudian, ia teringat bagaimana Gempa menentangnya bermain olahraga ekstrim, membuatnya muram.

Saat seseorang meraba bahunya yang sakit, Taufan spontan melonjak di sofa dan berbalik, melihat Halilintar ada di belakang sofa.

"Kak Hali kapan pulang? Kok cepet banget, bikin kaget aja!" kata Taufan, dalam hati bersyukur ia merespon cepat waktu sebelum kakaknya yang terkenal sadis itu menekan bahunya yang sakit untuk mengecek sudah sembuh atau belum.

"Iya, belajarnya cuma setengah hari karena guru ada rapat," jawab Halilintar, dari tangannya bergerak tampaknya masih ingin mengecek kondisi bahu kanan Taufan.

"Kak! Masih bengkak nih, nggak usah dipegang segala!" omel Taufan, buru-buru menghindar jauh dari Halilintar.

Halilintar mendengus dan Taufan berani bersumpah ia melihat kekecewaan tertera di mata tajam kakaknya sebelum menghilang sedetik kemudian.

Kemudian Halilintar menengok televisi yang masih menyala, menampilkan acara X games. Sang kakak mendengus.

"Istirahat aja sana, jangan nonton tv terus," omel Halilintar. Taufan memeletkan lidahnya.

"Nggak apa-apa dong, yang penting kan nggak gerak," balas sang adik.

"Bahumu masih sakit?" Halilintar memutar pembicaraan.

"Sedikit," jawab Taufan lirih.

"Minum obat penghilang rasa sakit sana," saran Halilintar lebih seperti perintah.

"Ambilin dong," Taufan nyengir, Halilintar hanya memutar matanya.

"Yang sakit kan bahumu, bukan kaki, ambil sendiri sana," dan Halilintar berbalik ke lantai dua.

Taufan mendengus. Tadi katanya suruh istirahat tapi malah disuruh ngambil obat sendiri, dasar aneh.

Ia menyenderkan badannya di sofa, menatap langit-langit. Ia jadi kangen sama Gempa, entah kenapa. Biasanya, kalau lagi sakit begini, Gempa akan memanjakannya. Dibuatkan makanan kesukaannya, dirawat dengan telaten dan kadang melindungi Taufan dari cercaan Halilintar juga.

Tapi, sang adik paling kecil itu malah sedang marah padanya.

Sayang sekali...

Tapi, Taufan tidak mau mengalah. Ia tidak bisa menyerah dalam olahraga ekstrim. Matanya bergulir menatap televisi, dimana acara yang ia sukai hampir selesai.

Olahraga ekstrim adalah jiwanya, passionnya, dan meski Gempa akan menentangnya mulai dari sekarang, Taufan sama sekali tak ada niat untuk berhenti.

Sadar bahwa ada kemungkinan hubungannya dengan Gempa akan retak, sang kembaran kedua mendesah panjang.

Ia berharap itu tak akan pernah terjadi. Tapi, mungkin ia harus mulai mempersiapkan dirinya atas kemungkinan itu.

IoI

Gempa sebenarnya antara sadar dan tidak, ketika ia sedang bad mood, maka semua orang akan menjauhinya. Atau malah, semua orang menjaga perasaannya agar tidak bertambah buruk.

Tak ada yang marah saat Gempa dengan seenaknya pergi dari tengah rapat OSIS seusai pulang sekolah. Bahkan Fang pun tidak menegurnya.

Ia tidak mau memikirkan OSIS ketika kepalanya sedang penuh seperti ini. Tapi, sang kembaran termuda juga sedang tidak ingin pulang ke rumah.

Maka ia membiarkan kakinya melangkah tak tentu arah sambil membiarkan otaknya terus berpikir.

Separuh hatinya tahu, rasanya tak mungkin Taufan menyerah soal olahraga ekstrim. Tapi, Gempa juga lelah terus-terusan khawatir akan keadaan Taufan.

Tapi, agar pertengkaran ini bisa selesai, salah satu atau keduanya harus mengalah.

Dan, Gempa tidak mau mengalah.

Meski dengan paksa, ia ingin menemukan cara agar kakak keduanya itu berhenti terluka.

Sang Ketua OSIS tertegun saat sadar dimana ia sekarang. Ia memandang jalan tanjakan dan membiarkan kakinya melangkah mendakinya. Tanpa sadar ia sudah berjalan sejauh ini dari rumah dan sekolah.

Sudah lama ia tidak ke sini, Gempa merasa sedikit nostalgia.

Ia berada di sebuah bukit kecil yang bersebrangan dengan arah rumah dan SMP Pulau Rintis. Padahal, dulunya tempat ini adalah tempat bermain kesukaan dirnya dan semua saudaranya. Bahkan Gempa hanya bisa tersenyum getir melihat pohon tempat dia jatuh dan kepalanya jadi sobek, masih berdiri dengan kokoh.

Karena terlalu sibuk, Gempa jadi jarang sekali kemari.

Kakinya berjalan menuju tepi bukit yang dipagari, dimana ia bisa melihat rumah-rumah terbentang di bawahnya karena perbedaan tinggi lahan.

Angin berhembus dengan sejuk, membuat sang adik termuda kembali tenggelam dalam lamunannya.

IoI

Halilintar mengecek handphonenya dan mengernyit saat melihat tak ada pesan. Aneh rasanya, hari sudah sore tapi Gempa belum juga pulang.

Ia tahu Gempa ada rapat OSIS, tapi karena sekolah cuma berlangsung setengah hari, tidak mungkin rasanya rapat OSIS berlangsung 4 jam lebih.

Sambil mendengus, Halilintar mengetik SMS cepat ke adiknya. Dan kemudian menanti.

Gempa punya sebuah kebiasaan memberitahukan apa yang akan ia lakukan seharian kepada setidaknya salah satu saudaranya. Apakah ia akan pulang cepat, atau telat, bahkan kadang memberitahu akan masak apa ia hari ini.

Dan kalau ada perubahan mendadak, Gempa akan mengirimkan SMS.

Perubahan mendadak hari ini adalah sekolah selesai lebih cepat. Namun, sampai saat ini Gempa tidak kunjung mengabari Halilintar. Sang kakak berpikir, karena Gempa sedang marah dengan Taufan, jadi seharusnya dirinya yang dihubungi oleh adik terkecilnya itu.

Halilintar melihat ia mendapat SMS dan cepat-cepat membukanya.

Dari: Yaya

Rapat OSIS sudah selesai daritadi, lagian Gempa udah pulang duluan. Kenapa memangnya?

Halilintar mendengus, merasa sedikit puas setidaknya SMSnya pada Yaya sudah dibalas jadi tahu kalau rapat OSIS memang sudah selesai, namun juga makin khawatir karena keberadaan Gempa belum jelas.

Belanja kah? Biasanya dia akan bilang dulu.

Sang kakak akhirnya memutuskan untuk menelepon adiknya namun terkejut karena ternyata nomor adiknya tidak bisa dihubungi. Apa handphone Gempa mati?

"Gempa belum pulang?"

Halilintar mendengus, matanya masih terpaku ke handphonenya. Ia tahu, air mukanya yang biasanya tenang dan dingin pasti sudah berubah sehingga menarik perhatian Taufan.

"Belum."

Taufan tidak mengatakan apa-apa, namun matanya berpaling ke pintu depan.

"Emangnya dia nggak bilang apa-apa ke Kak Hali?" tanya Taufan.

Halilintar mendengus. Ia tahu kalau Taufan juga mulai khawatir. Sebenarnya tidak masalah Gempa pulang telat, tapi yang jadi masalah adalah ini diluar kebiasaannya.

"Nggak," jawab Halilintar, melemparkan handphonenya ke sofa dan menatap jam dinding.

"Udah coba telepon?" tanya Taufan.

"Hapenya mati."

"Hubungi temennya?"

"Kata Yaya, Gempa udah pulang dari tadi."

Taufan tertegun dan Halilintar mendengus.

Aneh rasanya, Gempa yang sopan, baik dan pengertian, paling tidak mau membuat orang lain khawatir, sekarang membuat kedua kakaknya merasa khawatir seperti ini.

Mau tidak mau mereka berdua kembali teringat, seperti apa Gempa waktu masih kecil.

Saat Ketua OSIS itu masih bocah, ia cukup cengeng dan hobinya melamun. Jadi, tidak jarang Gempa tersasar. Meleng sedikit, tiba-tiba anak itu sudah menghilang entah kemana. Jadi, saat pergi, baik orang tua mereka maupun Halilintar dan Taufan punya kebiasaan untuk memegang tangan Gempa. Supaya kembaran mereka itu tidak tiba-tiba menghilang. Saat ditemukan, biasanya kadang Gempa tidak sadar ia sudah terpisah dengan yang lain, kalau sadar ia akan menangis.

Tapi itu sudah lama sekali, waktu mereka masih awal masuk SD. Semakin bertambah usia, Gempa menjadi dewasa lebih cepat dari kedua kakaknya.

Kebiasaan melamun dan tersesatnya sudah menghilang hampir tanpa bekas.

Tapi...

Taufan dan Halilintar saling pandang, meski tidak mengatakan apapun tapi mereka tahu mereka berpikiran hal yang sama.

"Kamu di sini aja, biar aku yang cari Gempa," kata Halilintar.

"Nggak, aku nggak apa-apa, aku juga bantu cari," tukas Taufan. Masa bodoh soal bertengkar, ia tidak tenang kalau Gempa mendadak menghilang seperti ini.

Kedua kembaran itu pun keluar rumah dan berpencar, mencari sosok adik sementara matahari semakin condong ke barat.

IoI

"Kak Taufan, di sini tinggi banget, aku takut."

"Nggak, apa-apa, jangan takut, makanya pegangan sama aku."

Gempa memandang jalan turunan bukit yang cukup curam dan panjang. Sebenarnya ia sangat takut, tapi juga penasaran dengan permainan kesukaan kakaknya. Kakak keduanya itu suka sekali menanjak bukit ini dengan sepeda, kemudian turun lagi sambil tertawa-tawa bahagia.

Makanya, akhirnya sang adik memberanikan diri dan ingin tahu seperti apa rasanya. Taufan pun tak keberatan memboncengnya, jadi di sinilah mereka berdua sekarang.

"Hati-hati, jangan sampe jatuh," tegur Halilintar, memandang kedua adiknya.

"Iya, Kak Hali," jawab Taufan sambil memutar matanya.

"Siap ya Gempa," katanya lagi. Ia melepaskan rem tangannya dan menaikkan kakinya ke atas pijakan sepeda.

Gempa berusaha tidak menjerit saat ia dan kakaknya meluncur menuruni bukit dengan kecepatan mengerikan.

"Hahahaha!" Taufan tertawa sepanjang jalan. Sementara Gempa berusaha untuk tidak berteriak karena ketakutan.

Ia bisa membayangkan ia akan jatuh bersama kakaknya bila gagal mengerem sampai di bawah.

"Gimana? Asik kan? Rasanya kayak terbang!" seru Taufan sulit di dengar oleh Gempa karena deru angin.

Gempa menguatkan pegangannya pada kakaknya, mungkin bisa dibilang seperti memeluknya. Sebenarnya ia mengerti, bagaimana angin menerpa rasanya dan tubuhnya seperti tidak memiliki berat. Suara tawa Taufan membuatnya sedikit lebih berani, tapi masih takut untuk menikmati sepenuhnya.

Taufan mulai mengerem dan akhirnya berhenti tepat waktu setelah menuruni bukit. Gempa sedikit gemetaran dan kakaknya itu masih tertawa.

"Hahaha! Aku paling suka yang kayak gini!" serunya kelihatan puas.

Gempa segera turun dari sepeda, merasa aman berada di atas tanah dengan kedua kakinya.

"Untung nggak jatuh tadi," kata Gempa merasa bersyukur. Taufan tersenyum padanya.

"Kalau kamu pegangan sama aku, nggak bakal kubiarin kita jatuh," katanya.

Gempa hanya tertegun mendengarnya. Melihat kakak keduanya yang biasanya serampangan dan seenaknya, tapi bisa terlihat serius dan keren pada saat-saat tertentu.

Ia masih tidak terlalu mengerti, tapi ia merasa kakaknya paling kelihatan bahagia saat melakukan hal-hal seperti ini. Dan kalau kakaknya senang, maka Gempa juga ikut senang.

"Aku dukung Kak Taufan buat main skateboard," seru Gempa, membuat Taufan yang sedang memutar sepedanya ke arah sebaliknya berhenti.

"Eh, serius? Katanya kamu takut aku jatuh," komentar Taufan balik.

Gempa menggeleng. "Nggak apa-apa, soalnya kalau Kak Taufan pasti baik-baik aja. Tapi, Kak Taufan janji, harus hati-hati ya."

Sang kembaran kedua tampak terdiam kemudian senyum mengembang. "Iya lah! Makasih ya Gempa! Aku jadi makin semangat nih buat main skateboard! Hehehe!"

Gempa mendesah pelan, memandang jalan turunan bukit yang masih ada sampai sekarang.

Ia sampai sekarang tidak bisa mengerti dunia Taufan, dunia yang dipenuhi adrenalin, tantangan dan juga resiko cedera dan kematian yang besar.

Tapi, ia juga tahu, dari semua hal yang dilakukan Taufan (menari breakdance, bermain gitar, bermain game) ia paling kelihatan bahagia kalau sedang melakukan olahraga ekstrim.

Memang olahraga ekstrim bukan sesuatu yang salah, tapi...

"GEMPA!"

Gempa terkejut, menoleh dan melihat Taufan, yang lengannya masih dibalut dan ditopang arm sling. Ia melihat kakaknya penuh keringat dan wajahnya sangat khawatir.

"Kamu ngapain sih di sini!? Bukannya pulang ke rumah! Nggak bisa ditelepon lagi! Aku sama Kak Hali jadi panik, tau nggak!?" omel Taufan kelihatan sangat kesal.

Gempa terperanjat dan baru sadar kalau matahari sudah tenggelam. Langit sudah berubah menjadi gelap dan udara mulai dingin.

"Maaf... aku nggak sadar...," gumam Gempa merasa bersalah. Ia merogoh handphone di sakunya dan sadar kalau handphonenya sudah mati.

Taufan mengelap peluh di dagunya dan meringis saat bahu kanannya lagi-lagi bergerak.

"Aduh!"

Gempa makin bersalah melihatnya. "Kak Taufan nggak apa-apa? Sakit lagi bahunya?" tanyanya.

"Gara-gara lari-lari nyariin kamu nih," keluh Taufan. Mana bisa lari kalau bahunya tidak bergerak, kalau begini pasti bengkaknya akan makin parah.

Sang kembaran termuda menunduk ke tanah.

"Maaf..."

Taufan mengerjapkan matanya.

"Maaf ya Kak Taufan, kemarin aku berlebihan ngomongnya. Aku juga nggak bermaksud bikin bahu Kak Taufan jadi tambah parah," gumamnya.

Sang kembaran kedua terdiam sesaat. Meskipun Gempa sudah menjadi adik yang sangat bisa dibanggakan, tapi ternyata memang... Gempa itu adiknya.

"Aku juga yang salah, aku baru tahu rasanya, khawatir itu kayak gini. Soalnya, kamu sama Kak Hali jarang bikin khawatir sih," balas Taufan.

Gempa mengangguk dan Taufan tersenyum puas.

"BLETAK!"

Keduanya terkejut saat mendadak ada kedua kepalan yang menjitak kepala mereka berdua.

"KALIAAAN!"

Gempa dan Taufan terperanjat melihat Halilintar ada di depan mereka.

"Kamu kemana aja sih!?" seru Halilintar pada Gempa. "Kamu juga! Udah ketemu Gempa bukannya cepet-cepet kasih tahu aku!" sekarang pada Taufan.

"Aduh Kak Hali tega banget sih, aku lagi sakit gini masih dijitak, aku juga baru aja ketemu kok," keluh Taufan mengelus kepalanya.

"Maaf Kak Hali, aku melamun sampe lupa waktu," gumam Gempa lirih.

Halilintar mendengus, kelihatan masih kesal sekaligus lega.

"Ya udah ayo pulang, udah malem nih," serunya, berbalik pergi.

Taufan dan Gempa pun mengikuti langkah kakak mereka sambil tersenyum pada satu sama lain.

"Ngomong-ngomong, Kak Halilintar, kenapa kakak nggak khawatir sama Kak Taufan kalau main olahraga ekstrim gitu?" tanya Gempa, memecah keheningan di antara mereka.

Halilintar menoleh padanya kemudian melirik pada Taufan kemudian pada Gempa lagi.

"Kalau orang lain bikin dia luka, aku bisa bales. Kalau dia luka karena kebodohannya sendiri, mau gimana lagi? Gitu aja sih."

Sebenarnya itu sama sekali tidak menjawab apapun, dan jawaban gamblang itu membuat Gempa dan Taufan tercengang.

"Kok Kak Hali gitu sih!?" seru Taufan merasa terluka.

Gempa memandang kedua kakaknya yang lagi-lagi tengah berseteru, ia tersenyum tipis.

Ia sadar, mungkin Halilintar sebenarnya pun khawatir dengan Taufan. Tapi, dibandingkan dengan rasa khawatir itu, rasa percayanya jauh lebih besar. Menunjukkan, seberapa percayanya Halilintar pada kemampuan Taufan, yang semoga saja, tidak akan membunuh dirinya sendiri.

"Aku harus belajar dari Kak Halilintar nih...," gumam Gempa.

"Ha?" tanya Halilintar. Gempa hanya tertawa pelan.

"Ngomong-ngomong, Kak Hali kok nggak ngelerai kita berdua sih? Payah deh," gerutu Taufan.

"Ngapain? Kalau kalian sebego itu sampe nggak bisa baikan sendiri, berarti kalian berdua bukan adikku," tandas Halilintar.

Taufan dan Gempa saling pandang. Meski tidak dikatakan, tapi mereka berdua sepakat.

Halilintar kejam sekali...

Dalam hati, keduanya sepakat untuk tidak bertengkar seperti ini lagi. Karena, Halilintar sama sekali tidak bisa diharapkan untuk menjadi pelerai di antara mereka.

Memang, semua orang memiliki kesukaan yang berbeda-beda dan kadang sulit dimengerti orang lain. Manusia adalah makhluk yang senang melakukan hal-hal tidak berarti. Tapi, berarti atau tidaknya sesuatu itu subjektif, tergantung opini masing-masing. Perbedaan itulah yang harus dihargai. Selama manusia sadar setiap konsekuensi dari semua hal yang ia lakukan, sebenarnya tidak peduli itu salah atau benar, itulah yang namanya sebuah 'tekad bulat'.

Sayangnya, Halilintar mendengus, entah kedua adiknya paham akan hal seperti atau belum. Halilintar tidak tahu.

End of Chapter 2


Mungkin nggak sebagus chapter sebelumnya, pertengkarannya nggak heboh dan berdarah-darah (?). Tapi, ini adalah sesuatu yang sering terjadi, iya kan? Keluargaku nggak mendukung (atau sebenarnya nggak tahu) ku menulis. Menulis dan menggambar hanya bisa dijadikan hobi, jadi yah oke lah. Selama aku masih dibiarin nulis dan dibiarin ngehamburin uang buat beli peralatan gambar, nggak apa-apa.

Aku seneng ngeliat review, banyak yang curhat soal berantem antar saudara. Yah, kan emang lumrah banget. Makanya, kuangkat jadi tema fanfic ini.

Sori kalau Halilintar nggak terlalu berperan di sini. Tapi, dia karakternya emang kayak gitu. Hahaha...

Dan well... makasih buat banyak sarannya dari review. Tapi seperti biasa, aku punya rencana cerita fanfic ini mau kayak gimana aja. Aku juga memutuskan untuk nggak bikin bonus chapter, ngapain? Kalian semua udah cukup kenal dengan ketiga kembaran Boboiboy sekarang kan? Hahaha...

Dan akhirnya, tinggal satu chapter lagi dan fanfic ini kelar! XD

See you next time ^^

Please review, don't forget about it!