Sinopsis : Taufan tahu. Tidak selamanya cinta itu bertepuk bersama-sama. Pasti ada kalanya cinta itu bertepuk sebelah tangan saja. Ya, setidaknya itulah yang dipikirkan Taufan. Namun ia tahu, rasa sakit yang dirasakannya adalah hasil dari harapan ke seseorang yang tak mungkin baginya.

Disclaimer : Characters ©Monsta and Story ©ChuChocho

Genre : Romance, Hurt/Comfort, dan sisanya tambahkan sendiri

Warning : female!Taufan, female!Fang, no sho-ai, OOC, typo, de el el

.

.

.

Gadis beriris aquamarine itu mengacak surai hitam kecoklatan miliknya seraya berlari di tengah lorong sekolah yang telah sepi. Meski ia sudah tahu bahwa ia datang telat, namun tak ada sedikitpun rasa takut di wajahnya.

Langkahnya terhenti ketika sudah melihat sebuah pintu kelas yang ia yakini itu adalah kelas '8-B'. Tanpa ragu, ia langsung membuka pintu itu dengan bangganya yang membuat seisi kelas menatapnya.

"Taufan! Kau telat lagi?!" seorang gadis berhijab merah muda segera menghampirinya dengan sebuah buku kecil dan sebuah pulpen dengan kepala domba yang dapat bergoyang sebagai penghiasnya.

Sang pemilik nama Taufan itu menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Ah… iya, aku bangun kesiangan lagi. Hehehe…," bukannya merasa bersalah atau apa, ia justru tertawa kecil.

Dan anehnya, tawanya itu membuat beberapa kaum adam di kelasnya mimisan. Sementara itu, lawan bicara Taufan hanya menghela nafas seolah memaklumi. Dimasukkannya kedua benda menakutkan miliknya itu ke dalam saku, lalu ia langsung kembali ke tempat duduknya.

"Belum ada guru ya?" Taufan menengok kanan-kiri. Seorang gadis keturunan China dengan surai hitam yang dikepang dua tiba-tiba menariknya menuju tempat duduk Taufan.

"Haiya, sudah kubilang jangan main game sampai malam! Untunglah guru belum masuk!" ceramahnya membuat Taufan memutar bola matanya.

"Iya iya, aku tahu," Taufan lalu mencubit kedua pipi sahabatnya tersebut. Si korban dengan cepat menyingkirkan tangan Taufan dan kembali ke tempat duduknya.

~oOo~

Taufan yang terkenal dengan tawa serta candaannya yang terkadang menyakitkan itu berhasil menarik perhatian puluhan kaum adam di SMP Pulau Rintis. Meskipun nilainya tidak terlalu indah dan ada beberapa yang dibawah rata-rata, ditambah lagi dengan kebiasaan buruknya yaitu sering terlambat, namun semua itu dapat ditepis hanya dengan keimutan yang dimilikinya sejak lahir.

Fang, gadis bersurai biru kehitaman yang berasal dari negeri tirai bambu merupakan rival sejati yang dimilikinya. Nilainya yang menjulang tinggi melebihi Taufan, disertai sifat diamnya juga membuatnya menjadi pusat perhatian puluhan kaum adam. Jadi mereka bisa dikatakan mirip.

Ringkasnya, sebelas-dua belas.

"Hei Ying! Mau pulang gak?" Taufan menepuk pelan bahu sahabat sejatinya itu.

"Ta-Taufan!" Ying sedikit kaget. "Kau ini! Bikin kaget aja. Iya, aku mau pulang. Dan juga aku mau ngomong nih," Ying segera mengangkat tasnya dan melangkah keluar kelas bersama Taufan.

Taufan melirik ke arah Fang yang tengah membereskan buku-bukunya. "Fang, kau mau ikut?"

Sang rival menatapnya tajam lalu segera menggeleng dan kembali fokus merapikan buku-bukunya. Taufan menggembungkan pipinya, tanda kesal. Melihat itu, Ying cepat-cepat menariknya pergi.

"Eh Ying. Katanya kamu mau ngomong tadi," Taufan memecahkan keheningan diantara mereka setelah cukup jauh dari sekolah. Ying menepuk dahinya.

"Oh ya aku lupa! Jadi gini lho, kamu masih cinta- err… maksudku suka sama Hali?" pertanyaan Ying membuat Taufan berhenti melangkahkan kakinya, begitu pula Ying.

Iris aquamarine milik Taufan melirik sebentar gadis berkacamata bundar fullframe itu sebelum akhirnya menatap ke bawah. "Entahlah. Memangnya kenapa?"

Ying terlihat canggung mengatakannya. "Ehm…,"

~oOo~

"Ying! Ying!" seorang pemuda bertopi dinosaurus yang berwarna biru langit itu berlari menuju sesosok gadis berkupluk kuning.

Gadis yang diketahui namanya Ying tersebut langsung menengok. "Oh ternyata kau Air. Ada apa?"

Air menyodorkan sebuah amplop yang tersegel rapat. "Dari Kak Hali," ucapnya singkat, padat, dan jelas tanpa basa-basi.

Ying menerima surat itu dengan tatapan bingung. "Untuk siapa?"

Air memutar bola matanya. "Buatmu. Dari Kak Hali." Lalu Air segera pergi, meninggalkan Ying yang menatap dirinya bingung.

.

Sesampainya di rumah, Ying begitu penasaran dengan isi amplop yang ternyata dari Halilintar, lelaki yang dulunya pernah satu sekolah dengannya saat ia masih di SD. Ada apa gerangan sampai-sampai Halilintar mengiriminya sebuah surat untuk kedua kalinya? Seingatnya ia tidak pernah berurusan dengan sosok dingin tersebut.

Didukung oleh rasa penasaran, ia membuka isi amplop itu. Benar saja, sebuah surat terselip di dalamnya.

'Hei. Kenapa suratku belum dibalas?'

Ying terdiam. Sebelumnya ia memang pernah dikirimi surat, asalnya dari orang yang sama. Isi surat sebelumnya adalah 'Hai. Apa kau masih kesel denganku? Kau masih ingat kejadian pas kita masih sekolah dasar? Aku minta maaf. Aku gak mikir apa-apa waktu itu. Aku pengen kita jadi temen. Kamu mau gak?'

Kejadian? Kejadian apa? Ia benar-benar tak mengerti.

Tiba-tiba sesosok bayangan muncul di pikirannya. Ya, kemungkinan besar surat ini bukan ditujukan kepadanya. Hanya ada satu orang yang berkemungkinan besar dalam kasus –yang mungkin- salah kirim ini. Ialah Taufan.

~oOo~

Taufan mengangguk-angguk mengerti menyimak cerita, atau mungkin lebih tepatnya curhat, sahabatnya. Ia akui bahwa ia memang memiliki masalah dengan pemuda keren itu. Namun kenapa tiba-tiba Ying yang justru dikirimi surat?

Perasaan aneh yang sudah dikubur olehnya selama bertahun-tahun lamanya, sekarang mulai tumbuh kembali. Taufan merasa sedikit iri karena Ying menerima surat dari sang pujaan hati, Halilintar.

"Em… Taufan… kamu gak marah kan?" entah kenapa, Ying merasa harus meminta maaf. Rasa bersalah dapat terbaca dari raut wajahnya.

Taufan tersenyum lebar. "Gak mungkin aku marah sama sahabatku sendiri~"

Meski sejujurnya dalam hati, Taufan hendak menjerit. Tetapi dengan cepat ia tepis ide itu mengingat bahwa yang dikirimi surat itu bergantung kepada sang pengirim sendiri. Toh, Halilintar menginginkan mengirim surat kepada Ying. Lalu apa haknya untuk marah?

Ia tidak mau menjadi perempuan lebay.

Ying menghela nafas lega mengetahui Taufan tidak marah kepadanya. Namun tetap saja ada rasa aneh di hatinya. Rasa bersalah.

Keheningan sempat terjadi diantara mereka. Ying lalu memutuskan untuk mengusir keheningan dengan sebuah topik lain, tetapi masih ada hubungannya dengan topik sebelumnya.

"Kejadian itu tak akan terjadi… kalau saja Fang mengunci mulutnya rapat-rapat."

Taufan bergeming. Ia tak mau membahas masalah itu lagi. Sifat cerianya mendadak hilang, ya meski tidak hilang sepenuhnya.

"Aku sudah sampai. Aku pulang duluan ya, dadah~"

Sang empunya rambut hitam kecoklatan nan panjang itu melambaikan tangan dan segera berlari menuju rumahnya yang dominan dengan warna cream. Ying berdoa dalam hati supaya sahabatnya itu tidak meng-galau di malam hari memikirkan cerita tadi.

~oOo~

Bantal berwarna biru muda dengan motif yang indah kini berada di dekapan Taufan. Di pikirannya terus terngiang sesosok pemuda yang kembali berhasil mengambil setengah hatinya. Kenapa hanya setengah? Karena pemuda itu sendiri yang hanya ingin mengambil setengah. Membiarkannya hidup dengan separuh sisanya.

Rasa iri yang sedari tadi memenuhi dirinya tiba-tiba tergantikan oleh rasa amarah dan dendam kepada seorang gadis yang menjadi faktor utama permasalahan yang dialaminya. Fang.

"Argh! Aku pusing! Kenapa aku jadi kayak gini? Padahal jelas-jelas ia gak mau denganku. Terus kenapa aku malah bingung karena dia?" Taufan berguling-guling diatas kasurnya sampai-

BRUK!

-ia terjatuh. Taufan tengah meringis kesakitan ketika pintu kamarnya mendadak terbuka. Menampilkan seorang lelaki yang lebih muda setahun darinya. Cara berpakaiannya sama dengan Taufan. Perbedaannya hanyalah pada warna topi, serta posisinya, dan pakaian. Juga iris matanya.

"Kak Taufan kenapa?" sang pemilik iris jingga itu menatapnya. Tiba-tiba sebuah bohlam lampu 5 watt muncul diatas kepalanya. "Oh aku tahu! Pasti kakak lagi menggalau ya?"

Dengan muka cemberut, Taufan melempar bantal yang berada di dekapannya ke adiknya yang paling nakal itu. "Bukan urusanmu. Dan kenapa tiba-tiba kau kesini, Api?"

Api menangkap bantal itu dengan lihainya dan mencium bau mint yang menjadi ciri khas kakaknya melekat pada benda tersebut. "Hm… aku denger ada suara jatuh tadi. Aku kira kakak lagi ngelindur," jawabnya.

Taufan menghela nafas seraya membetulkan posisi topi dinosaurus yang dikenakannya menjadi ke samping. Lalu kembali menatap sang adik. "Hufft! Yaudah pergi sana. Kakak mau tidur!"

"Yaudah. Nih," Api melempar bantal itu kembali ke kakaknya dan segera keluar dari kamar sang kakak. Melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berseberangan dari pintu kamar kakaknya.

Taufan menangkap bantalnya kembali. "Kalau mau keluar, pintunya tutup dulu kek."

~oOo~

Sang empunya iris merah terang itu menatap malas makanan di hadapannya. Padahal ia biasanya akan makan sarapannya dengan nafsu. Apalagi menu sarapan hari ini adalah favorit-nya, nasi goreng dengan susu panas.

Tidak, coret susu panas itu. Ia lebih menyukai teh atau kopi.

Keanehan itu tak luput dari adik kembarnya, Air. Begitu pula orangtua mereka. Seisi rumah menatapnya heran. Sedari tadi si anak sulung hanya memainkan sendoknya tanpa memakan sesuap nasi pun. Bahkan susu panas yang mendingin itu tak diminumnya. Kalau tentang susu itu, itu sudah biasa karena ia memang tak menyukainya.

"Hali, ada apa? Kau daritadi gak makan sama sekali," tanya seorang wanita dewasa berparas cantik.

Halilintar menggeleng. Mengisyaratkan bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi. Sang penanya terdiam dan kembali melanjutkan makannya. Begitu pula anggota keluarga lainnya, yang makannya sempat terhenti karena pertanyaan tadi.

"Kak Hali lagi mikirin orang 'itu' ya?" sang adik terimut nan terpolos lagi termuda alias bungsu bertanya dengan pertanyaan yang jelas.

Halilintar menatap adiknya itu tajam-tajam. Wajah adiknya sangat imut, namun agak terlihat sedikit malas. Seakan tidak ada yang menarik dalam hidupnya.

Sang ayah dan ibu segera menatap Halilintar lekat-lekat, menyuruhnya untuk bercerita. Itu sia-sia karena mereka tahu bahwa Halilintar tidak mungkin mau bercerita masalah tentang hidupnya. Meski mereka adalah orangtuanya, si anak tertua ini lebih terbuka kepada adiknya.

"Aku berangkat duluan ya," si pemakai topi hitam yang menghadap ke depan tiba-tiba berdiri. Ia menyambar tas miliknya dan berpamitan kepada orang tuanya lalu segera pergi.

Air yang melihatnya cepat-cepat menyelesaikan sarapannya dan segera berangkat sekolah, mengekor kakaknya dari belakang.

~oOo~

Taufan yang tidak suka berlarut-larut dalam masalah, pada pagi harinya sudah melupakan alasan kenapa ia meng-galau hingga tengah malam. Dan akibat dari hal itu, ia-

"GYAAA! AKU TELAT BANGUN!"

-kesiangan.

Dalam waktu yang sangat cepat, ia sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Lalu kakinya melangkah ke ruang makan dan menyambar roti yang telah disiapkan ibunya.

"Aduh, Taufan. Kalau makan itu jangan buru-buru, nanti keselek lho," sang ibu memberi nasihat ketika melihat putrinya itu langsung memasukkan roti ke mulutnya.

Taufan hanya tersenyum lebar mendengar nasihat ibunya. Buru-buru ditelannya roti itu dan segera meminum coklat hangat yang tersedia di meja.

Ia lalu melirik arlojinya. Gawat, dia akan telat. Sudah pukul tujuh kurang sepuluh menit. Ia segera berpamitan kepada kedua orangtuanya dan berangkat sekolah. Api pun segera menyusulnya.

Di tengah perjalanan, Taufan dan Api masih sempatnya bercanda riang gembira padahal mereka tahu kalau mereka itu akan terlambat masuk. Prinsip hidup mereka sama.

Tidak peduli masalah apapun, kita bakal enjoy aja.

Ya, kira-kira seperti itulah prinsip hidup mereka. Selalu ingin bebas tanpa aturan.

Candaan mereka terhenti saat sudah melihat gerbang sekolah yang ditutup. Lalu mereka saling melirik satu sama lain, bertukar pikiran.

"Ayo lompat!" seru Api girang. Ia menaiki gerbang yang tingginya mencapai satu meter itu bersama dengan sang kakak. Begitu telah sampai diatasnya, keduanya langsung melompat ke bawah. Alhasil kini mereka telah memasuki kawasan sekolah.

Mereka kembali berlari riang gembira menuju kelas masing-masing, mengabaikan teriakan si penjaga gerbang yang mengomel-ngomel tidak jelas.

Taufan dan adik tercinta berpisah saat Api telah memasuki kelasnya. Tinggallah kini ia harus cepat menuju kelasnya, yang ia dapat pastikan sudah dimasuki oleh sang guru killer. Eh, killer?

Sial! Taufan lupa kalau pelajaran pertama diisi oleh guru killer!

Tetapi hal itu tidak dapat menurunkan satu persen pun semangat ceria yang dimiliki Taufan. Kalau dihukum berlari mengelilingi lapangan, ia akan terima dengan ikhlas dan bahagia. Toh, itu juga bagus buat latihan fisik.

~oOo~

Terkadang kita tak menyadari apa yang ada di sekitar kita. Bahkan mungkin kita sendiri tak tahu apa yang ada di diri kita sendiri. Apakah itu baik atau buruk. Abaikan perkataan orang lain, diri kita sendiri lah yang menentukan kebaikan atau keburukannya.

Dan Taufan baru merasakannya sekarang. Ketika Ying bercerita kepadanya saat mereka tengah pulang bersama. Biasanya ada Api yang selalu mengekor Taufan dari belakang. Namun baik hari ini maupun kemarin, Api disibuki oleh fansgirl-nya yang mendadak meledak jumlahnya.

"Jadi? Apa yang kau lakukan?" Taufan bertanya dengan curiga lalu menyeruput minuman yang berada di genggaman tangannya yang halus.

Ying tampak ragu untuk menjawabnya. "Aku membalas surat dari Hali."

DHEG

Taufan kembali menyeruput minumannya. Jujur saja, Ying merasa tak enak hati menceritakan hal itu kepada Taufan. Namun apa daya. Janji untuk tidak boleh menyembunyikan sesuatu diantara mereka yang memaksanya bercerita.

Ying sebenarnya tidak membalas surat itu dengan sesuatu yang aneh-aneh. Ia hanya membalasnya dengan pertanyaan tentang kejadian apa yang dimaksud oleh Halilintar. Namun sebelum Ying dapat menjelaskan apa yang isi balasan surat itu, Taufan sudah angkat bicara.

"Tapi aku masih ragu lho~" Taufan membuang bungkus minuman ke tong sampah begitu melihat salah satu benda penampung sampah itu di jalanan. "Sebenernya itu surat buat kamu atau aku?"

"Eh?"

Si pemilik iris aquamarine itu tiba-tiba tersadar akan apa yang baru diucapkannya. Dalam hati ia mengutuk kecerobohannya. "Ah, tidak! Lupakan saja."

Ying mengangguk dan kembali meminum es teh yang dibelinya. Suasana pasti akan hening apabila Taufan tak bercanda sepanjang perjalanan. Keduanya tertawa terbahak-bahak akibat candaan Taufan. Tetapi semua itu lenyap seketika bersamaan dengan Air, adik kembar Halilintar, melangkah menuju mereka berdua. Di tangannya ada sebuah surat yang sudah diketahui siapa pengirimnya.

Taufan menundukkan kepala dan menutup kedua matanya. Jujur saja, kau tahu pasti apa yang dirasakan Taufan saat ini. Jadi sudah tak perlu dijelaskan lagi.

Ying melihat sekilas wajah Taufan. Entah didorong atas rasa apa, ia ikut memejamkan matanya.

Sang pengirim surat menyodorkan surat yang digenggamnya ke salah satu gadis cantik di hadapannya. Keduanya secara bersamaan membuka matanya sedikit, penasaran siapa yang disodorkan surat oleh adik dari Halilintar.

DHEG

Seharusnya ia tak membuka matanya.

.

.

.

TBC~

.

A/N : Yaaaay~! Chu balik lagi sambil bawa Fic baru, ehehe… kalau boleh jujur, ini Fic keinspirasi dari kehidupan Chu sendiri T3T Ahueee—rasa suka Chu digantung mulu sama si 'dia' T^T Jadi sebagai pelampiasan /?/ terciptalah Fic ini! /kokmalahcurhat?/

70% (atau mungkin kurang) isi chapter ini menyerupai kisah hidup Chu. Ada beberapa bagian yang dirubah X3 Contohnya : Taufan suka telat, sementara Chu enggak XD. Dan satu lagi. Kejadian apa yang dimaksud di cerita ini? Ah, mungkin bakal Chu bocorkan /?/ di chap kedua X3 Oleh karna itu, tetap setialah menunggu Chu /dicekekparapembaca/.