Disclaimer: Detective Conan © Gosho Aoyama.
Genre: Romance, slight Tragedy.
Character: Shuichi Akai, Akemi Miyano.
Warning: Menjurus/? Canon.

.


.

Rintihan air hujan terdengar memekikkan telinga milik seorang lelaki dengan kepala yang terbungkus topi rajutan. Lelaki itu duduk berpangku tangan sambil menatap pemandangan luar jendela dari tempat dia duduk sekarang. Kopi kalengan dingin dihadapannya mulai sedikit berembun. Mata tajamnya menatap kosong hamparan air-air yang turun dari awan dengan deras.

Dalam pikirannya, berkecamuk berbagai hal yang terus mengganggunya.

Jika memang hidup ini adalah sebuah pilihan, maka dulu dia tak akan pernah memilih untuk menjadi seorang anggota FBI. Dia tak akan pernah memilih untuk mengiyakan perintah atasannya yang menyuruhnya menyusup ke organisasi hitam. Dan dia tak akan pernah memilih untuk membohongi identitasnya di hadapan wanita yang dikasihinya, sehingga wanita itu tak akan kehilangan nyawanya.

Ya.

Wanita itu.

Orang yang telah dia bohongi hanya untuk dia manfaatkan. Masih terekam dengan jelas apa yang wanita itu ucapkan ketika dia mengungkapkan identitas aslinya.

"Kau tak pandai berbohong, ya?"

Wanita itu mengucapkannya sambil tersenyum mengusap air mata. Terlihat sekali dia berusaha tegar.

Hujan mulai sedikit mereda. Tak sederas tadi. Lelaki itu mengambil kopi kalengannya di atas meja dengan tangan kanan, lalu mulai meneguknya. Seteguk, dua teguk. Dia teringat kembali. Pesan singkat yang dikirim wanita itu beberapa bulan yang lalu.

" Dai-kun,

Jika aku benar-benar keluar dari organisasi itu, apa kau mau menjadi kekasihku yang sesungguhnya?"

Lelaki itu meletakkan kopi kalengannya kembali ke atas meja. Dia menatap cangkir kopi itu dengan tatapan kosong.

Dasar wanita bodoh.

Dai, adalah sebuah nama samaran yang dia gunakan untuk menipu wanita itu. Dan walaupun dia sudah mengungkapkan nama aslinya, wanita itu tetap saja memanggilnya dengan nama samaran.

Dan sekarang, lelaki itu hanya bisa merutuki waktu. Kenapa wanita itu harus mati disaat dia belum membalas pesan yang dia kirim. Bahkan dia belum meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukan di masa lalu.

Sejujurnya, dia benci wanita itu. Wanita yang berpura-pura kuat ... tapi menangis di dalam. Karena itulah, dia membencinya.

Dan sekarang, dia ingin mengejar. Mengejar orang yang sudah membunuh wanitanya. Tak peduli dia seperti serigala, atau seperti burung gagak yang ingin dia cekik jika mendengar pekikannya. Apapun, siapapun, dia akan memusnahkan dan menghancurkannya. Dia bahkan memotong rambut panjangnya. Dalam pikirannya sekarang hanya ada dendam, dendam, dan dendam. Karena itulah—

"—Shuu. Aku dapat info baru tentang organisasi itu. Apa kau mau dengar?"

Seorang wanita berkacamata dengan wajah tak kelihatan seperti orang Asia memanggilnya. Dia pun menoleh ke arah suara. Wanita itu berdiri di depan pintu, sambil membawa sebuah compact disk di tangannya.

Lelaki itu memandang wanita yang kini tengah memandangnya tajam. Dia sudah bilang, 'kan? Dia akan melakukan apapun untuk balas dendam.

Dia berkata diiringi sebuah seringaian,

"Tentu saja, Jodie."

Dan kini tinggal menunggu waktu. Saat yang tepat untuk membalaskan dendam.

.

Tamat

.


.

A/N: Err... Apa ini? ._.

Bisa-bisanya buat fic kek gini. Gaje banget ._.