Disclaimer : Naruto punya Sasuke Titik. Mashashi Kishimoto? Siapa? Gak kenal *Plakk* (--")

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Gender switch, Gaje, Banyak typoㅠㅠ

"Sasunaru" talk

'Sasunaru' mind

Ini ep-ep gaje, idenya udah lama banget, tapi baru di ketik maklum blue pendatang baru, beru netes jadi authorㅠㅠ

Sampe sekarang pun masih belajar. Jadi mohon bantuannya senpai.

WARNING ! DON'T LIKE DON'T READ.

SENSEI! I LOVE YOU

By: BlueSky04

-Chapter 1-

Happy Reading

.

.

Secercah cahaya menerobos masuk kedalam sebuah kamar melalui celah-celah jendela yang tak tertutup rapat.

Sesosok mahluk kuning(?) terlihat masih begitu nyaman bersemayam di balik selimut tebalnya.

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiingggggggggg

"Nghh..BERISIK!" teriak mahluk kuning tersebut dari dalam selimut. Namun suara bising itu tetap tak kunjung hilang.

Hingga sebuah tangan mencoba menggapai meja kecil tempat tidurnya. Meraba-raba mencari sesuatu yang mengganggu tidurnya, hingga tangan itu berhasil menggapai sebuah jam weker dan.

Pranggkkk

Jam dengan bentuk rubah orange lucu yang tak berdosa itu kini tergeletak di sudut ruangan dengan konsisi yang mengenaskan setelah mendapat ciuman mesra dari dinding kamar.

Suasana di kamar itu akhirnya kembali tenang hingga beberapa 15 menit kemudian.

"HUAAAAAA HARI INI HARI SENIN!" Jeritnya. bak fansgirl yang menjerit-gila meneriaki idolanya.

Mahluk kuning yang ternyata rambut seorang gadis remaja 16 tahun itu terlihat acak-acakan. Iris mata gadis itu yang berwarna biru cerah bak langit musim panas menyapu pandang hingga menangkap jam yang baru saja ia beli kemarin sudah tak bernyawa di sudut kamar.

"Ugh~ tidak lagi" gadis itu meratapi nasib jam barunya. Itu sudah yang ke 36-kalinya jam yang bertugas membangunkanya setiap pagi malah berakhir dengan mengenaskan.

Gadis pirang itu menyibakkan selimutnya dan bergegas pergi ke kamar mandi dan kemudian bersiap dengan semua peralatanya untuk berangkat ke sekolah.

.

.

'Ku harap masih sempat' do'a si-gadis pirang dalam hati dan terus merapalkannya berharap terkabul sambil terus mengayuh sepedanya cepat.

Dari kejauhan terlihat seorang pria paruh baya dengan rambutnya yang sudah memutih dan cukup panjang.

Pria itu menghela nafas melihat si-gadis melaju dengan kencang dan terlihat semangat yang menggebu-gebu di wajah manis berwarna karamel dengan tiga garis halus di kedu pipinya yang merupakan tanda lahirnya.

"Naruto~~...lagi-lagi bocah itu." Jiraiya mendesah malas.

"KAKEK-MESUM JANGAN TUTUP GERBANGNYA!" Teriak naruto yang kini sudah berada 7 meter dari pintu gerbang.

Jiraiya meringis mendengar panggilan dari siswi yang selalu datang terlambat itu.

Dengan seringai licik, jiraiya segera menutup pintu gerbang sekolah.

CKITTTTTTTTTTTT

Naruto menghentikan sepedanya mendadak untuk menghindari tabrakkan antara pintu gerbang dan sepedanya tercinta.

"Kakek! Apa yang kakek lakukan?! Cepat buka pintunya nanti aku terlambat." Eluh naruto kesal.

"Kau memang terlambat naruto." Kata jiraiya datar.

Naruto mendengus sebal. "Tapi akukan hanya terlambat enam menit KAKEK-MESUM. Hanya enam menit!"

"Tetap saja kau terlambat."

"Argghh.. aku mohon ijinkan aku masuk~." Naruto mengeluarkan jurus puppy eyes no jutsu terbaik miliknya. berharap pria kepala lima yang ada di depanya ini akan iba padanya.

Jiraiya melirik naruto dengan ekor matanya. Sementara kedua tanganya masih tetap bersedekap di depan dada.

Naruto masih mempertahankan jurusnya. Kedua matanya yang bulat dan besar terlihat berkaca-kaca seakan begitu rapuh dan akan hancur walau hanya sentuhan kecil.

"Please..."

Jiraiya kembali menghela nafas kali ini terdengar lebih berat. "Baiklah baiklah.." Jiraiya akhirnya menyerah, 'jurus naruto memang mematikan, dan aku selalu terjebak' lirih batin jiraiya.

"Yatta!"

"Arigatou" mendapat anggukan kecil dari jiraiya, naruto berlalu senang. Dia segera memakirkan sepedanya lalu bergegas menuju kelasnya.

Lorong-lorong koridor sekolah terlihat sudah sepi. Ini sudah pukul 08.15 itu artinya semua siswa dan siswi sudah masuk kedalam kelas 15 menit yang lalu.

'aku harap nenek sihir itu belum masuk. Bisa mati aku. Kami-sama ku mohon kabulkan do'a ku kali ini saja'

Naruto terus merapalkan do'a-do'a nya dan berjalan tergesa-gesa hingga tanpa sadar dia menabrak seseorang.

"Ughh..." ringis naruto saat bahunya bersenggolan dengan dengan seseorang cukup keras.

Natuto merutuki dirinya 'Hari senin memang hari yang sial'.

"Kau tidak apa-apa?." Tanya seseorang.

"Kalau jalan pakai mata! Di mana matamu sampai aku yang sebesar ini kau tabrak TEME!" Sembur naruto.

"Hn."

Natuto mengerutkan keningnya lalu mendongakkan kepalanya menatap seseorang yang ternyata seorang pemuda berusia sekitar 22 tahun bermata onyx, berambut biru donker dengan gaya mencuat kebelakang nyaris melawan gaya gravitasi, berkulit alabaster bertubuh tinggi dengan badan cukup bersisi mengenakan kemeja biru malam dan celana hitam.

"Kecelakaan ini tidak sepenuhnya karena kesalahanku Dobe." Suara baritone itu terdengar datar, sedatar wajah pemuda itu.

Wajah naruto tiba-tiba merenggut masam. "Itu salahmu Teme! Apa kau tidak lihat sekarang aku sedang buru-buru."

"Aku juga sedang buru-buru Dobe"

"Berhenti memanggilku Dobe. TEME" kata naruto kesal.

"Hn. Kau yang mulai duluan Dobe" Balasnya dengan wajah stoic.

"Arrghh! Lupakan meladenimu hanya akan membuang-buang waktuku. Aku terlambat." Erang naruto frustasi. Cepat-cepat ia meninggalkan si-pemuda emo itu berdiri di sana.

"Semoga kau beruntung Dobe. Kau sudah telat 25 menit."

"AARGHHH!" Jerit naruto kesal. Dengan segera ia berlari menuju kelasnya, syukur-syukur kelasnya tidak di letakkan di lantai dua atau tiga. Jadi naruto tidak akan pergi cape-cape karena jauh juga harus menaiki tangga.

Tok..Tok..Tok..

3 Ketukan itu mendapat perhatian se-isi kelas. Kemudian di susul dengan pintu masuk terbuka dan munculnya seorang gadis berambut pirang panjang yang di kuncir dua.

"Naruto kau terlambat!."

Glup...

'Ugh~ benar-benar sial' rutuk batin naruto.

Seorang wanita berambut merah dengan kemeja yang senada dengan rambutnya serta rok hitam yang hanya sebatas lutut memperlihatkan kakinya yang putih dan mulut.

Kedua irisnya berwarna merah di bingkai oleh sebuah kacamata yang bertengger di wajah guru Matemakita tersebut.

"Gomen. Aku tadi kesiangan sensei." Jelas naruto seadanya.

"Kau selalu saja datang terlambat. Apa kau tidak muak tiap hari berurusan dengan kakek tua di depan itu?! Belum lagi hukuman-hukuman yang sama sekali tidak membuatmu jera!?."

"Akukan sudah minta maaf sensei. Aku juga lelah setiap hari harus merayu Kakek-mesum itu. Tapi mau bagaimana lagi jam weker yang seharusnya membangunkanku malah harus lagi-lagi bernasib naas." Naruto menghela nafas di akhir ceritanya tentang nasibnya pagi ini.

"Gah! Percuma bicara denganmu Nona Namikaze-san. Sekarang cepat pergi kebangku mu dan kita lanjutkan pelajaran." Titah Karin.

Naruto menurut lalu mendengus sebal. "Dasar nenek sihir."

"Aku mendengarmu naruto!." Kata karin cepat.

"Sial." umpat naruto pelan.

Dia segera duduk di bangkunya, melipat kedua tanganya di atas meja lalu melirik teman-teman sekelasnya. Beberapa di antara mereka ada yang lebih memilih untuk tidur dari pada mendengarkan celotehan karin di depan. Contohnya saja pemuda yang memiliki kuncir seperti nanas itu.

Nara Shikamaru, siswa itu terlihat lebih memilih tidur dan menganggap penjelasan karin di depan sebagai nyanyian pengantar tidur yang cukup bagus.

Naruto menguap lalu meletakkan kepalanya di atas meja. Mungkin melanjutkan tidur tadi pagi yang terganggu gara-gara jamnya bisa ia lanjutkan lagi.

.

.

Namikaze Naruto. Putri dari pasangan dari Namikaze Minato dan Namikaze(Uzumaki) Kushina seorang siswi kelas 1-2 Konoha High School (KHS). Di kenal sebagai seorang gadis periang (baca:Cerewet), keras kepala, pemarah juga agak tomboy karena itu teman-temanya memberi gelar 'kyuubi' pada naruto. Menurut mereka naruto memang mirip dengan rubah berekor sembilan itu. Selain itu naruto juga tercatat sebagai murid yang paling sering datang terlambat, karena itu teman-temanya hanya akan diam jika si kyuubi mereka mendapat ocehan karin atau guru lainya dan di hukum karena terlambat mereka sudah menganggab hal itu lumrah untuk naruto.

"Ku dengar hari ini guru pengganti Hatake sensei akan datang dan akan mengajar setelah jam makan siang." Hinata membuka pembicaraan. Seorang gadis berambut indigo dengan mata yang seolah tak berpupil pada teman pirangnya yang duduk di sampingnya saat mereka berada di atap gedung sekolah.

"Benarkah? Jadi Sensei-Mesum itu benar-benar pindah ya..?." Tanya naruto.

"Naru~ kenapa kau selalu memanggil Hatake sensei dengan sebutan sensei-mesum? Namanya Hatake Kakashi naru~ Ha-ta-ke Ka-ka-shi." Koreksi hinata.

"Kenapa memangnya? Tapi memang benarkan jika kakashi itu mesum." Bela naruto.

"Dia selalu membaca buku aneh yang aku yakini itu buku yang sama dengan buku yang Kakek-Mesum itu koleksi. Icha Icha apalah itu aku tidak peduli yang jelas dia mesum. Setidaknya aku bisa tenang ada mahluk mesum yang berkurang di sekolah ini." Tambah naruto.

Hinata mendesah lelah, temanya ini selalu saja memberi julukan nyaris pada setiap orang. Seperti julukan Jidat lebar untuk seorang siswi yang bernama Sakura, si-alis tebal untuk siswa yang bernama Lee, Rambut nanas/prince sleeping untuk Shikamaru, Nenek sihir untuk karin-guru-matematika mereka dan masih banyak lagi. Dan jangan lupakan di juga mendapat julukan dari teman-temanya.

"Ku dengar orang yang akan menggantikan Hatake sensei itu masih sangat muda, dia seorang lulusan Universitas terbaik di Amerika tahun lalu, dia juga anak dari seorang pengusaha konglometat. Aku bisa membayangkan jika sensei baru kita ini akan sangat sempurnya.." entah karena apa tiba-tiba kedua pipi hinata memunculkan gurat-gurat merah yang timbul karena efek setelah membayangkan jika sensei pengganti Hatake kakashi itu mungkin akan terlihat seperti seorang malaikat, mendengar desas-desus yang beredar sekarang membuat para siswi semakin tak sabar ingin melihat langsung bagaimana wajah asli sang-Sensei.

Naruto memicingkan matanya menatap hinata aneh, tapi detik selanjutnya dia sudah merangkul bahu temanya itu akrab.

"Ayo kembali ke kelas." Ajak naruto.

Baru beberapa menit yang lalu mereka tiba, suara bel langsung berbunyi menandakan istirahat makan siang sudah selesai dan para siswa-siswi harus kembali ke kelas masing-masing.

Seperti sekarang di kelas 1-2 suasana sedang cukup bising karena para murid saling memisah dan membentuk beberapa koloni yang terdiri dari beberapa orang. Ada kelompok para siswi yang terlihat sibuk menggosip, sekedar bercanda, meyombongkan perhiasan atau hal lain yang patut di sombongkan dan kelompok yang memilih diam tak menghiraukan semua kebisingan itu dengan menyibukkan diri dengan dunia sendiri. Hal yang tak jauh berbeda juga terjadi pada para siswa. Naruto hanya memilih utuk menjadi salah satu kelompok yang diam, dia sedang malas atau membuat ke usilan dengan teman-temanya. Pikiranya menerawang jauh ke atas langit yang membiru cerah.

Kegaduhan itu terus berlanjut hingga seseorang mengetuk pintu dan melangkah masuk. Sepertinya tidak ada yang menyadari pemuda raven itu, dia berdehem sekali tapi murid-murid itu masih terlalu sibuk dengan dunia kereka hingga saat dia akan berdehem suara jeritan mendahuluinya.

"KYAAAAAAAAAAAAA~~~!" Jerit beberapa orang siswi lalu di ikuti jeritan-jeritan lainya.

Kegaduhan di kelas itu semakin parah, pemuda raven itu menghela nafas lalu menepuk tanganya cukup keras dan itu berhasil mencuri nyaris seluruh penghuni kelas. Ya~ ada mahluk kuning yang masih terlalu sibuk dengan dunia khayalannya.

Setelah cukup tenang pemuda itu menarik senyum kecil, namun hal itu malah membuat para siswi menjerit dalam diam dan mereka mulai berbisik-bisik satu sama lain.

"Astaga dia sangat tampan"

"Ugh~ apa dia sensei baru kita? Aku tidak rela dia hanya jadi senseiku aku mau dia jadi kekasihku."

"Apa dia sudah punya pacar? Aku harap belum."

"Pangeran! Aku yakin dia seorang pangeran dia tampan."

"Kira-kira apa dia mau memberi nomer telponya?"

"Dia tampan dan terlihat sexy~~".

"Menurutmu berapa ukuran celana dalamnya?." Oh astaga bahkan ada siswi yang menanyakan hal aneh tentang dalaman si-raven.

Tidak ingin medengar kalimat-kalimat aneh lainya pemuda yang sedang menjadi topik hangat itu akhirnya bicara.

"Namaku Uchiha Sasuke." Kata sasuke sambil menuliskan namanya di papa tulis.

"Kurasa kalian sudah tau tentang hal ini. Aku adalah guru bahasa inggis dan sejarah kalian yang baru-menggatikan Hatake kakashi, apa ada yang ingin kalian tanyakan padaku sebelum kita memulai pelajaran kita hari ini?." Tanya sasuke menatap ke seluruh murid-muridnya.

"Sensei berapa umurmu?." Tanya seorang siswi.

"Umurku 22 tahun."

"Sensei apa makanan favoritmu?."

"Sensei apa kau sudah punya pacar?."

"Sensei kau suka nonton?."

"Sensei." "Sensei.." "Sensei.."

Kegaduhan kembali terjadi para sisiwi menghujami berbagai pertanyaan pada sensei tampan yang kini jadi rebutan para gadis yang ada di kelas ini mungkin tidak juga mungkin yang lebih tepatnya seisi sekolah sensei dengan gaya emo itu akan jadi rebutan para kaum hawa.

Para siswa yang ada di sana terliat tidak senang dengan guru baru itu.

"Hei shika menurutmu bagaimana dengan Uchiha itu?." Tanya kiba pada shikamaru yang masih bermalas-malasan di atas mejanya.

"Menurutmu? Mendengar teriakan itu membuat telingaku berdengung sakit." Eluh shikamaru.

"Dari semua siswi apa cuma si-Kyuubi pirang itu yang bertingah waras? Tumben sekali." tanya kiba lagi sambil menunjuk naruto dengan dagunya.

" Entahlah. Dia belum bereaksi kiba, menurutku sekarang dia masih melamun sampai-sampai tidak menyadari mahluk emo itu, aku yakin jika dia sudah sadar naruto akan mengalahkan fangirl baru Uchiha sensei itu."

Kiba mengerutkan keningnya mencoba menebak-nebak apa yang sedang gadis pirang itu pikirkan.

kegaduhan yang terdengar beberapa menit yang lalu kini sudah tenang karena sesi pembelajaran sudah di mulai.

Sasuke menaikkan alisnya saat kedua onyxnya menangkap sesuatu yang berwarna pirang di pojok paling belakang dekat jendela.

Sejak pertama masuk hingga sekarang gadis itu terlihat terus menatap keluar jendela. Kaki sasuke melanglangkah mendekati mahluk pirang itu hingga kedua kakinya berhenti tepat di samping meja naruto.

Kedua tangan sasuke di masukkan ke dalam saku celananya.

"Namikaze-san." Suara baritone itu membuyarkan lamunannya, pandanganya segera mencari sosok yang memanggilnya. Hingga matanya menangkap sesosok pria tampan berdiri di sisi kiri mejanya.

Onyx bertemu shappire keduanya begitu kontras seperti malam dan siang namun entah kenapa karena hal itulah yang se akan menjadi maghnet bagi keduanya.

Mata naruto menyipit hingga beberapa saat kemudian matanya terbelalak lebar.

"TEME!." jerit naruto berdiri dari tempat duduknya dan menunjuk tepat di depan wajah sasuke.

"Apa yang kau lakukan di sini Hah?!." Tanya naruto ketus tidak menyadari seluruh pasang mata kini tertuju padanya.

"Ini adalah waktu ku untuk mengajar Dobe."

"HEEHHH?."

"Dobe. Kemana saja jiwamu saat aku menerangkan di depan jika aku adalah guru pengganti Hatake Kakashi." Jelas sasuke masih dengan nada dan wajah datarnya.

"HEEEHHHHHHHH?." Naruto terlihat cengo mendengar fakta bahwa sasuke adalah sensei baru itu.

"Lihat dia benar-benar penuh kejutan. Mendokusai." Kata shikamaru lalu kembali bermalas-malasan.

Kiba masih tak kalah terkejut dengan sikap naruto yang jauh di luar dugaan mereka semua.

"Hentikan tingkah konyolmu Dobe, kau terlihat seperti benar-benar Dobe saat ini."

"TEME! Berhenti memanggilku Dobe, aku punya nama TEME! Namaku Namikaze Na-ru-to!." Tegas naruto pada setiap namanya.

"Hn."

"Kalau begitu tolong anda juga berhenti Namikaze-san saya sensei ada di sini." Balas sasuke.

Naruto menghempaskan pantatnya ke atas kursi lalu membuang muka dengan sedikit mengembungkan pipinya dan mengerucutkan bibir mungilnya yang berwarna pink alami.

'Kawaii~~~~~...' iner para siswa yang ada sana serempak.

.

.

Bel kembali terdengar menandakan pelajaran telah usai. Naruto memasukan buku-bukunya dan barangnya yang lain kedalam tasnya. Setelah semua sudah beres dia segera bangkit dan meranjak pergi, tapi saat akan melewati pintu keluar dia di hadang oleh beberapa orang gadis. Sakura, Ino dan Ten-Ten ketiga gadis itu menatap naruto tajam.

"Apa yang kau lakukan jidat lebar? Minggir aku mau lewat." Ketus naruto.

Sakura menggeram kesal. "Apa hubunganmu dengan Sasuke-kun? Katakan?!."

"Maksudmu Sasu-Teme sensei itu? Tidak ada." Jawab naruto enteng.

"Jaga mulutmu itu Namikaze-san! Berani-beraninya kau memanggil Uchiha sensei begitu." Kata ten-ten.

"Uchiha itu memang Teme. Dia saja memanggilku Dobe! Sensei macam apa dia itu." Naruto mendengus sebal.

"Baiklah. Sepertinya kau memang tidak menyukai Sasuke. Itu bagus, setidaknya saingan kami berkurang satu." Kata seorang gadis yang juga berambut pirang bernama Ino.

"?" Naruto mengerutkan dahinya kurang mengerti ucapan ino barusan.

"Ah! Kau benar ino, meskipun alien aneh terlihat dekat, sepertinya dia tidak akan jadi saingan kita." Sakura kini terlihat menyeringai ke arah naruto.

"Maksud kalian?." Naruto masih telmi.

"Dengar Naruto. Kau sudah membenci Sasuke jadi kau tidak boleh berubah pikiran. Atau kau akan menghadapiku untuk memperebutkan Uchiha Sensei kita."

"Lagi pula meskipun kau berubah pikiran. Sasuke tidak akan tertarik pada gadis aneh, pembuat onar dan bodoh sepertimu." Lagi-lagi sakura menyeringai sinis pada naruto memperhatikan tubuh naruto dari atas sampai bawah lalu melenggang pergi.

"Ayo pergi Ino, Ten-ten." kedua antek-antek sakura itu pun pergi menyusul pemimpin mereka.

Tangan naruto terkepal kuat lalu dengan segera dia juga meranjak pergi.

.

.

Naruto duduk di salah satu meja kosong di sebuah cafe. Satu tanganya menumpu dagunya di atas meja. Pandangan terarah menuju jalan raya yang terlihat cukup ramai oleh manusia.

Pikiranya kembali menerawang, entah kenapa naruto jadi teringat pembicaraanya dengan sakura, ino dan ten-ten di sekolah tadi.

Uchiha Sasuke, sensei barunya itu benar-benar menyebalkan. Tapi meskipun begitu naruto akui Uchiha senseinya itu memang memiliki wajah yang tampan belum lagi tubuhnya yang tinggi dan cukup beriasi, bahunya yang lebar serta dada bidang yang kokoh terlihat meskipun tertutupi oleh kemejanya, sangat sempurna dan tampan.

Naruto segera menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memukul-mukul pipinya untuk segera sadar dan mengenyahkan Sang-Uchiha dari pikirannya.

"Tidak~ ini tidak boleh terjadi! Aku tidak boleh menyukainya tidak boleh tidak boleh!." Naruto menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.

"Memangnya apa bagusnya dia?! Dia menyebalkan, irit kata, irit wajah, menyebalkan, Teme, patat ayam."

"Suka tebar pesona, tampan...keren...Arrgghh apa yang aku pikirkan?!." Naruto menjerit frustasi.

"Oi~! Naruto." Seseorang menepuk bahu naruto, membuat si empu menoleh ke samping dan mendapati seorang lelaki berumur 30 tahunan dengan luka garis melintang di wajahnya.

"Kau sedang apa?." Tanya Iruka, nama lelaki itu.

"Bukan apa-apa." Jawab naruto.

Iruka menaikan satu alisnya. "Baiklah kalau begitu. Sekarang sebaiknya kau kembali bekerja dan selesaikan semua pekerjaanmu."

Naruto mentap iruka sekali lagi lalu megangguk dan kembali bekerja.

Sepulang sekolah bekerja menjadi salah seorang pelayan atau kadang-kadang bekerja di dapus di sebuah cafe adalah keseharianya. Diusianya yang masih sangat muda dia harus bekerja membanting tulang untuk kehidupannya dan kelurganya.

Hanya dialah harapan satu-satunya keluarganya. Ayahnya sudah cukup lama meninggal sekitar 6 tahun yang lalu, ibunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa, dan sejak 2 tahun yang lalu ibunya sering sakit sakitan. Tidak ingin ibunya semakin bertambah parah, naruto memutuaskan untuk segera mencari pekerjaan dan manjadi tulang punggung keluarga. Dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhan makan, sekolah, biaya untuk ibunya berobat, belum lagi adiknya yang masih kecil Namikaze Kurama.

Naruto menengok ke arah jam dinding yang menggantung tak jaug darinya. Ini sudah jam 8 malam, naruto menanggalkan apron yang melekat di tubuhnya dan kemudian mengambil tasnya.

"Apa kau akan pulang?." Tanya iruka.

"Umng...ada apa?." Naruto bertanya balik. Iruka menyodorkan beberapa kotak makanan pada naruto.

"Bawa ini, sampaikan salamku pada ibumu dan kurama." Iruka tersenyum lembut dan dengan senang hati naruto menerimanya.

"Arigatou." kata naruto dengan senyum lebarnya.

"Paman iruka memang yang paling baik. Kalau begitu aku pulang dulu jaa ne."

"Hati-hati di jalan naruto~." Pesan iruka namun naruto sudah keburu pergi.

Iruka menggeleng-gelengkan kepalanya menatap pintu yang baru saja naruto lewati.

Umino Iruka adalah adik kelas ayahnya naruto dulu, keluarga naruto dan iruka memiliki hubungan yang cukup baik, Iruka juga sangat dekat dengan naruto, dia bahkan menyayangi gadis itu seperti keponakannya sendiri.

Saat tau tentang naruto yang kebingungan mencari cara untuk mencari uang, Iruka segera menawarkan naruto untuk bekerja di cafe miliknya yang saat itu kebetulan memang membutuhkan tenaga kerja. Dengan girang naruto menerima penawaran iruka saat itu. Naruto yang masih kecil meskipun sudah remaja tapi dia tetaplah seorang remaja iruka memberi perlakuan khusus pada naruto dengan memberi kebebasan untuk naruto untuk masuk bekerja kapan saja. Meskpun begitu tetap saja naruto yang memang menurun sifat pekerja keras dan gigih seperti ayahnya tidak akan bermanja-manja dengan uluran tangan iruka. Sebianya dia bekerja selayakna pelayan lainya, naruto tidak ingin menyulitkan banyak orang karena dirinya. Cukup dirinya saja yang menghadapi sulitnya hidup di dunia.

Tanpa terasa kini naruto sudah tiba di sebuah apartemen kecil yang cukup untuk menampung dirinya ibu dan adiknya.

"Tadaima..." Naruto malangkahkan kakinya masuk.

"Okaerinasai." Seorang anak laki-laki berusia 7 tahun dengan rambut orange kemerahan dan iris merah menyambut kedatangan naruto.

"Kak naru baru pulang?." Kurama menghampiri naruto dengan antusias.

"Kak Naru bawa apa?." Kurama melirik sesuatu yang di bawa naruto dalam kantong plastik.

"Makanan. Paman iruka yang memberikanya. Mana ibu? Apa sudah tidur? Kalian sudah makan?." Tanya naruto.

"Ibu ada hanya sedang beristirahat. Kami belum makan." Jawab kurama.

"Kalau begitu, aku ganti baju dulu lalu kita makan bersama."

Kurama mengangguk cepat dan naruto segera mengganti bajunya dan berasiap menunyantap makan malamnya bersama keluarganya.

.

.

Pagi kembali menyapa. Lagi-lagi naruto bangun kesiangan dan sialnya ban sepedanya mendadak bocor terpaksa naruto harus berlari maraton agar bisa sampai dengan tidak merayu jiraiya lebih dulu.

Baru setelang jalan menuju sekolahnya naruto mendadak berhenti. Nafasnya putus-putus keringan membanjiri wajah manisnya kulit karamelnya terlihat semakin mengkilat di bawah sinar matahari. Jarak antar rumah dan sekolahnya cukup sekitar 4 km dan dia hari mengejar waktu benar-benar melelahkan.

Di saat naruto yang tengah kelelahan, sebuah motor sport mahal berwarna biru donker berhenti tepat di samping naruto.

Naruto menyipitkan matanya mencoba melihat wajah si pengendara yang tertutup kaca helem.

Hingga sosok itupun bergerak untuk melepas helemnya.

Mata naruto melebar saat melihat rambut raven mencuat kebelakang bak pantat ayam menyembul saat helem terlepas.

"K-kau...!"

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung...

.

.

.

.

.

.

Gimana? Menurut reders ff ini menarik gak?

Ini nulianya kepanjangan kah? Atau malah pendek? Alurnya rada pasaran ya sebenernya emang pasaran di tambah kegaje-an blue ff ini jadi absurd.

.

Mind to review?

Makasih buat yang udah baca^^