Disclaimer: One Piece bukan milik Little Chomper~


AN: Banyak typo, OOC, alur yang cepat. Penjelasan akan diberikan pada waktunya~

CHAPTER I

Luffy menggerakkan tangannya dan mencubit pipinya.

"Kelihatannya ini bukan mimpi." Luffy tersenyum kecil. "Artinya Franky dan Robin berhasil."

Luffy berdiri dan menatap sekelilingnya.

"Kami kembali ke masa lalu."

OoO

"Lu!"

Luffy menatap Ace yang berdiri dihadapannya.

"Oi, Luffy!" Ace memukul kepalanya.

"Awww!" Luffy memegang kepalanya. "Sakit Ace! Kenapa kau memukulku?"

"Kau menatapku dengan tatapan kosong! Kau membuatku takut!"

Luffy tersenyum. Meskipun ia sudah tahu ia akan bertemu dengan Ace lagi, tapi tetap saja ia sedikit shock saat melihat Ace berdiri dihadapannya tanpa lubang menganga di dadanya. Luffy menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak boleh mengingat hal itu kembali.

"Aku senang sekali melihatmu, Ace!"

Dan Luffy memeluk Ace yang hanya ternganga menatapnya.

OoO

Oke, Ace harus mengaku.

Dia saat ini khawatir.

Sesuatu terjadi pada Luffy.

Seharian ini ia bersikap tenang dan tidak melakukan sesuatu yang aneh atau berbahaya.

Oh, dia melakukan sesuatu yang aneh.

Luffy memeluknya. Dan berkata kalau ia senang melihatnya.

Ace menggeleng. Pasti Luffy hanya sedih. Besok adalah ulang tahunnya yang ke 17 dan Ace akan berangkat berlayar.

"Ace, jika suatu hari nanti kau bepergian bersama ikan paus, jangan percaya pada pai cherry, oke?"

Ace merinding. Luffy memang aneh hari ini.

OoO

Luffy tak bisa membiarkan semuanya terjadi lagi. Ia tak ingin kehilangan Ace dan Sabo untuk kedua kalinya.

Hanya ada satu cara untuk bergerak bebas dan menghancurkan semua yang ada di jalannya tanpa melanggar hukum. Meskipun jalan itu jauh dari 'kebebasan' yang selalu direncanakannya bersama Ace dan Sabo, Luffy tidak keberatan.

Ia akan membuang kebebasannya, selama kakak-kakaknya akan tetap hidup. Lagipula kali ini Luffy tidak sendirian. Ia memiliki nakamanya.

OoO

"Jicchan, aku akan menjadi angkatan laut."

"Eeh?" Garp bukannya tidak senang, tapi dia curiga. Luffy yang sejak berumur tujuh tahun selalu bercita-cita ingin jadi bajak laut tiba-tiba memilih untuk jadi angkatan laut saat Ace pergi? Apa yang sebenarnya terjadi?

"Kenapa?"

Luffy memberikannya senyuman khasnya. "Karena sesuatu dan lain hal." Ucapnya dengan ringan. "Tapi kau harus mengizinkanku mencari anggota tim ku sendiri. Aku tak ingin bergabung denganmu. Aku ingin mandiri."

"Te-tentu."

OoO

Luffy tahu dia egois jika ia melibatkan nakamanya dengan hal ini, tapi ia merasa lebih baik jika mereka bersamanya, lagipula ia juga tahu nakama nya saat ini sedang menderita. Ia tak akan meninggalkan mereka.

OoO

Begitu Luffy berkata akan menjadi Marine, Garp melatihnya dengan serius. Luffy diajari bermacam hal, mulai dari bertarung sampai teknik-teknik CP9. Luffy rasanya tak sabar untuk memperlihatkan pada Sanji kalau ia juga bisa berjalan di udara.

"Nah, Luffy! Hari ini kita akan belajar sesuatu yang baru!"

Garp memang jarang datang, tapi setiap kali ia datang, ia mengajari Luffy banyak hal sehingga saat Garp pergi Luffy bisa melatih apa-apa yang sudah diajarkan Garp padanya.

"Kau sudah menguasai semua yang kuajarkan terakhir kali bukan?"

Luffy mengangguk cepat.

"Nah, ini saatnya kau belajar tentang Haki."

Inilah pelajaran yang paling Luffy tunggu.

"Apa kau tahu apa itu haki?"

Luffy menggeleng. Ia yakin Garp akan curiga jika ia berkata kalau ia tahu apa itu Haki.

Maka Garp pun memberi penjelasan panjang lebar tentang Haki. Diakhir penjelasannya, ia bisa melihat Luffy tertidur nyenyak.

"LUFFY! Beraninya kau tidur saat kakekmu sedang mengajarimu?"

DUAKK!

OoO

Di hari ulang tahunnya yang ke 16, Luffy mendapatkan kejutan yang tak terduga saat dua orang remaja yang dikenalnya duduk di bar Makino.

"Zoro? Nami?"

"Yo, kapten."

OoO

Mereka duduk di rumah pohon yang dibangun Luffy bersama Ace dan Sabo.

"Bagaimana kalian menemukanku?"

Nami mengangkat alisnya. "Aku mencari Desa Fuusha."

Mereka kemudian menatap Zoro.

"Aku mencari begitu saja."

Luffy tertawa. Ia tahu Zoro akan menjawab pertanyaannya seperti itu. Sejujurnya, saat pertama kali dikirim ke masa lalu, Luffy tak yakin nakama nya akan tetap memiliki ingatan mereka dan Luffy sudah merencanakan untuk segera mencari mereka, tapi melihat Zoro dan Nami yang sudah menemukannya, mungkin saja yang lain juga tetap memiliki ingatan mereka.

"Bagaimana kabarmu, Nami?" Luffy berhenti tertawa dan menatap Nami dengan serius. "Apa Arlong masih menyusahkanmu?"

Nami memutar bola matanya. "Tentu saja. Tapi aku sudah mengumpulkan lebih banyak uang dari yang terakhir kali."

"Kau bisa membeli desamu sekarang?"

"Mana mungkin." Nami menyentuh lengan kirinya, dimana tato Arlong masih terlihat di kulitnya. . "Dia pasti akan menyuruh Nezumi untuk mengambil uangku lagi. Aku berpura-pura uangku masih belum cukup dan menyembunyikan sisanya di berbagai tempat."

Luffy terdiam. Ia tahu teman-temannya dalam masalah saat ini. Terutama Robin yang sedang kabur dari kejaran pemerintah dunia dan Brook yang sedang kesepian di Floridian Triangle sana.

"Apa rencana kita kali ini, Luffy?" Zoro bertanya saat melihat ekspresi serius Luffy.

Luffy menghela napas panjang. Nami dan Zoro menatap Luffy dengan khawatir karena mereka tak pernah melihat Luffy seserius ini sebelumnya.

"Jika aku berkata akan menjadi marine, apa kalian masih akan ikut bersamaku?"

Zoro dan Nami terperanjat. Mereka sama sekali tak menduga ini. Awalnya mereka mengira Luffy akan mengajak mereka berlayar lebih awal, tapi menjadi Marine? Itu benar-benar diluar dugaan mereka. Luffy yang sangat menjunjung tinggi kebebasan bersedia terikat?

"Kita akan berlayar lebih awal tentu saja. Kita jemput Sanji, Usopp, Chopper, Robin, Franky, dan Brook."

"Apa kau serius, Luffy?" Zoro bertanya.

"Un."

"Kalau begitu aku ikut."

Nami tak heran. Zoro selalu simpel seperti itu. Ia tak peduli apapun keputusan Luffy, ia hanya akan melangkah dibelakang Luffy, mengikutinya.

"Bisa kau jelaskan rencanamu, Luffy?"

Luffy mengerutkan keningnya, seakan berusaha memikirkan sesuatu yang sulit. "Aku tidak berencana untuk menjadi Marine selamanya. Paling lama hanya setahun atau dua tahun."

"Kenapa?" Nami tak mengerti.

"Aku harus membereskan masalah dengan Kurohige dan Akainu." Luffy menjawab pendek.

Nami mulai melihat rencana Luffy.

"Setelah itu?"

Luffy tersenyum. "Kita akan kembali berlayar dengan bebas sebagai bajak laut!"

Nami ikut tersenyum. Dia bisa bilang apa saat melihat senyum lepas kaptennya?

"Kalau begitu, aku juga akan ikut."

OoO

Setelah dua hari berada di Gunung Colubo dan menyusun rencana, Nami akhirnya berangkat kembali ke Desa Cocoyashi. Ia tak bisa tinggal terlalu lama, karena Arlong bisa saja curiga dan melakukan sesuatu pada orang-orang di desa.

Sementara itu Zoro memutuskan tinggal bersama Luffy. Nami berkata ia tak ingin Zoro tersesat dan menurut Nami, mencari dua orang yang tersesat bersama akan lebih mudah daripada mencari dua orang yang tersesat di tempat yang berbeda-beda.

"Bertahanlah Nami. Kami akan datang sebulan lagi." Luffy menepuk bahu Nami saat Nami akan berangkat.

"Hai..hai.. Aku akan menunggumu, kapten." Nami melambaikan tangannya.

Begitu perahu Nami menjauh, Luffy berbalik dan menatap Zoro.

"Kau ingin berlatih?"

Zoro menyeringai.

OoO

Dua bulan kemudian . . . .

Piri~piri~piri~ Kacha!

"Moshi-moshi? Jicchan?"

Garp mengerutkan keningnya. Luffy bukanlah tipe orang yang akan menghubunginya lewat den den mushi.

"Ada apa, Luffy?"

Garp curiga. Luffy menghubunginya bukan lewat den den mushi biasa. Ia menghubunginya lewat den den mushi dari sebuah markas marine. Hanya saja Garp tidak tahu dimana tempat tepatnya.

"Aku berada di Shells Town sekarang."

"Lalu?"

"Aku hanya ingin memberitahumu kalau aku baru saja menghajar Kapten Morgan!" Suara cucunya terdengar begitu ceria.

"APAAA?"

"Karena itu, bisakah kau mengirim seorang kapten yang baru ke markas Shells Town? Pastikan kau mengirim orang yang tidak menyebalkan kali ini."

Klik.

Garp menggeleng-gelengkan kepalanya. Yah, Luffy adalah cucunya, jadi ia mungkin menurunkan beberapa perilakunya pada Luffy. Lagipula, Morgan memang sudah pantas untuk diganti.

OoO

"Apa kita akan singgah ke Orange Town?"

"Kita bahkan tak tahu dimana Orange Town itu, Zoro."

"Mungkin kita bisa bertanya pada orang-orang di kapal pink jelek itu?"

Alvida kalah beberapa bulan lebih awal dan Coby berhasil diselamatkan lebih cepat.

OoO

Luffy beruntung Coby bergabung bersamanya dan Zoro. Paling tidak Coby memiliki kemampuan navigasi, walaupun tidak sehebat Nami.

"Kemana kita setelah ini, Luffy-san?"

"Desa Syrup!"

Dan Coby menunjukkan jalannya.

Piri~piri~piri~ Kacha!

"Moshi-moshi?"

"Ya, Luffy?" Garp paling tidak bisa lega. Luffy kali ini menghubunginya dari den den mushi biasa.

"Aku dan Zoro menangkap seorang bajak laut di desa Syrup. Kau bisa menghubungi markas Marine terdekat untuk menjemputnya? Aku tak tahu nomor markas marine di dekat tempat ini. Dan jangan lupa, uang hadiahnya untukku!"

Klik.

Garp memijat pelipisnya. Ia mulai merasakan sakit kepala yang akan mendatanginya secara teratur di masa depan.

OoO

"Kenapa kita singgah di restoran ini, Luffy-san?"

"Aku ingin menjemput seorang teman, shishishi!"

Coby tak percaya. Ia mendengar tentang Baratie, dan menurut kabar restoran itu adalah milik seorang (mantan) bajak laut. Bagaimana mungkin Luffy-san memiliki teman disana? Ia sudah mendapatkan seorang teman di desa Syrup dan masih ada teman yang harus dijemputnya?

Tapi Coby tak bisa mengatakan apa-apa saat seorang koki berambut pirang sudah menunggu mereka disana.

"Akhirnya kau datang juga, Kapten."

Entah mengapa, Coby tahu bahwa Luffy-san lah yang dipanggil kapten oleh koki berambut pirang itu.

OoO

Piri~piri~piri~ Kacha!

"Ya Luffy?"

"Aku ingin uang hadiahku!"

Garp tersedak. "Apa lagi yang kau lakukan?"

"Aku mengalahkan Arlong!"

Garp tahu cucunya memang kuat, tapi hanya beberapa bulan setelah ia meninggalkannya ia sudah bisa mengalahkan Arlong. Kelihatannya Luffy juga mewarisi kekuatannya.

"Dan temanku juga menghajar kapten Nezumi."

"APAA?"

"Kami tak sengaja!" Luffy cepat-cepat menjawab teriakannya. "Aku kesal saat mengetahui dia selama ini sudah bekerja sama dengan Arlong dan membuat banyak orang menderita. Bukankah kau bilang kalau seorang marine tugasnya adalah menegakkan kebenaran, jicchan?"

Walaupun ia tak melihat langsung, Garp bisa membayangkan Luffy menatapnya dengan sepasang matanya yang polos dan penuh harapan. Memang menghajar langsung seorang kapten marine bukanlah cara yang tepat untuk menghukumnya, tapi Garp tak mungkin menghancurkan kepercayaan cucunya pada Marine, bukan? Jika Luffy kecewa, mungkin saja ia akan kembali memilih untuk jadi bajak laut.

"Aku paham. Aku akan mengirim kapal untuk menjemput mereka. Dimana kau sekarang, Luffy?"

"Ah, setelah ini aku akan menuju Grand Line, lalu mungkin akan singgah di Alabasta."

"Kapan kau akan ketempatku?"

"Hmmm . . . . . mungkin dua atau tiga bulan lagi?"

"Kau berjanji? Kau tak akan tiba-tiba berubah pikiran dan menjadi bajak laut kan?"

"Jicchan!" Suara Luffy terdengar frustasi di seberang sana. "Aku akan datang! Aku sudah berkata aku akan menjadi marine! Aku tak pernah melanggar kata-kataku!"

"Hahaha!" Garp tertawa. "Aku hanya ingin memastikan saja."

"Dan jicchan? Aku meninggalkan seorang teman bernama Coby. Maukah kau melatihnya? Dia sangat berbakat."

"Kita lihat saja nanti."

Klik.

OoO

Luffy, Zoro, Usopp, Sanji, dan Nami duduk bersama di dapur Merry-Go. Mereka dalam perjalanan menuju Grandline setelah sebelumnya singgah di Logue Town. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini mereka tidak terkena masalah karena mereka singgah dengan damai. Luffy bisa melihat tempat Roger dipenggal tanpa harus merasakan hampir dipenggal, Smoker tidak mengejar-ngejar mereka, dan Zoro berhasil mendapatkan dua pedang baru tanpa berhutang pada Nami (Zoro terlihat begitu bangga dengan pencapaiannya).

"Jadi, bagaimana rencana kita sekarang?"

Nami mengembangkan petanya diatas meja.

"Saat ini kita akan melewati Grandline. Artinya, kita tak lama lagi akan bertemu dengan Laboon dan singgah di Whiskey Peak."

"Ah." Sanji menyalakan rokoknya. "Apa menurutmu Vivi-chan sudah berada disana?"

"Menurutku ia sudah berada disana." Nami berkata dengan tegas. "Dia sudah menyusup di dalam Baroque Works selama dua tahun. Kita akan menyelamatkannya kembali, bukankah begitu, Luffy?"

"Yep." Luffy tersenyum lebar. "Dan kita juga akan menjemput Chopper."

"Kita akan singgah di Little Garden?"

"Tentu saja!" Luffy mengangguk. "Usopp pasti ingin bertemu dengan para raksasa itu."

Usopp menatap kaptennya dengan terharu.

"Bagaimana dengan Robin, Franky, dan Brook?" Tanya Sanji.

"Ini akan sedikit sulit." Nami menatap kaptennya. "Apa kau punya rencana, Luffy? Karena sudah pasti kita tak bisa membawa Robin dan Brook begitu saja. Mereka adalah buronan. Dan Franky sedang diawasi oleh para agen CP9."

"Hmm… sejujurnya aku berpikir untuk mengirim Robin ke Pasukan Revolusi setelah kita kembali dari Pulau Langit." Luffy memegang dagunya. "Dan kita bisa menyembunyikan Brook di kapal kita."

"Lalu kita akan menjemput Franky dan Brook tanpa Robin?"

"Kita tak punya pilihan." Luffy berkata dengan tegas. "Membawa Robin ke Water 7 bukanlah sebuah pilihan."

"Kau benar." Sanji setuju dengan kaptennya. "Tapi sebenarnya kita tak perlu ke Water 7 dan Thriller Bark."

"Kenapa?" Usopp bertanya dengan ekspresi lega. Walaupun dia sekarang adalah prajurit lautan yang gagah berani, tapi ia tetap tidak menyukai zombie.

"Kita tinggal mengirimkan pesan pada Franky dan ia bisa menjemput Brook tanpa masalah. Kurasa dengan kemampuannya yang sekarang, Brook bisa merebut bayangannya kembali dengan mudah."

"Bagaimana dengan bajak laut lainnya yang terperangkap disana?"

"Bagaimana dengan katana ku?"

Nami dan Zoro protes bersamaan.

"Ah." Sanji terdiam. Sejujurnya, ia tidak terlalu peduli pada bajak laut lainnya dan Brook bisa mengambilkan katana milik Marimo itu, tapi mengingat kaptennya-

"Tak bisa Sanji."

-Sanji sudah bisa menduganya.

"Kita akan tetap singgah di Water 7, untuk berjaga-jaga jika Franky membutuhkan kita dan setelah itu kita akan ke Thriller Bark untuk menjemput Brook dan katana baru Zoro."

"Jangan bercanda Luffy!" Usopp terlihat khawatir. "Bagaimana kita bisa mengalahkan Moria jika kita akan jadi marine dan secara teknis, Moria tidak melakukan sesuatu yang salah jadi jika kita menghajarnya maka kau akan terkena masalah." Usopp berkata panjang lebar.

"Jangan khawatir!" Luffy anehnya terlihat senang dan teman-temannya curiga. "Aku dan Zoro sudah bersiap untuk kemungkinan seperti ini." Ia pergi sesaat dan kembali membawa sebuah karung. Ia mengeluarkan isinya, dan didalamnya ada sembilan mantel merah.

"Ini untuk apa?" Nami mengambil salah satu mantel itu.

"Kita akan menyamar!" Luffy berkata dengan bangga. "Kita akan jadi gerombolan Mantel Merah!"

Nami, Usopp, dan Sanji menatap Zoro dengan tatapan menuduh. Zoro yang merasa ditatap langsung membela diri.

"Hei! Itu bukan ideku!"

"Tapi tetap saja kau harusnya berusaha menghentikannya! Atau paling tidak memilih warna yang berbeda!" teriak Nami.

"Apa boleh buat." Zoro mengangkat bahunya. "Apa kalian lebih suka warna kuning?"

Dengan begitu kesepakatan langsung dibuat.

Mantel merah jauh lebih baik.

OoO


Akhirnya, fic One Piece multi chapter ini di publish juga. R & R minna?