Disclaimer : I do not own anything. Fans obsession, not for commercial. Copyright belongs to Masashi Kishimoto-sensei, absolutely.

Warning : Alternative Universe, SasuFem!Naru, possible!OOC, confusing!EBI, weird!fluff-stuffs, possible!brain-crack, freak-time!life-basis, possible!over-imagination, and other standard warnings

Mungkin ada selipan jokes yang sudah kadaluwarsa. But, I hope you like it.

Enjoy Please~!

.

.

.

Menjadi Namikaze itu tidak enak.

—Eh, ralat. Lebih tepatnya, jadi Namikaze Kenji itu enggak enak.

Apa?! Mau protes, hah?! Mau Kenji bius sampai mati?!

Err…. Tolong jangan diambil hati. Kenji tak bermaksud untuk mengancam, sungguh. Dia hanya sedang sedikit sensi. Kata Ayah sih efek dari PMS.

Omong-omong, ada yang tahu PMS itu apa?

Kenapa jadi Namikaze itu tidak enak? Kalian tahu sendiri lah, bagaimana pamor keluarga Namikaze. Keluarga blasteran asal Amerika ini sangat dikenal khalayak ramai dengan berbagai apresiasi berikut decak takjub. Lahir dari keluarga ini, masyarakat jelas akan otomatis menggantung ekspektasi tinggi terhadap para penerusnya.

"—Seperti yang diharapkan dari Namikaze-kun—"

"—Namikaze-kun, bukankah seharusnya—"

"—Tidak aneh, kan? Namikaze-kun adalah Namikaze—"

Kenji enggak hidup untuk memuaskan kalian, kamvret! Mati saja sana!

Belum lagi fakta bahwa seonggok ayam kamvret berhasil membuat Bibi Naru tercinta tersandung cinta dan rela menanggalkan marga Namikaze untuk disubstitusikan oleh Uchiha. Iya, Uchiha yang enggak kalah seleb dari Namikaze itulho. Yang dikatakan hartanya tak akan habis untuk 999 turunan.

Omong-omong, Itu rumus dari mana ya, buat menghitungnya?

"—Ah, Namikaze-kun beruntung, ya. Tidak sekolah juga dompet pasti buncit—"

"—Namikaze-kun, kalau kerja nanti mau nerobos Uchiha atau balik ke Amerika dan bekerja di perusahaan Sarutobi? Tanpa melamar pun kau pasti sudah dapat posisi enak, ya. Asisten manajer, minimal?—"

"—Eh? Namikaze-kun ingin jadi dokter? Nanti langsung jadi kepala Uzu Hospital dong, ya?—"

Sekali lagi, Kenji ulangi.

MATI SAJA SANA!

Mereka tidak tahu bagaimana rasanya jadi Kenji, hiks. Kalau boleh memilih, ia pun ingin berkeliling dunia tanpa perlu memikirkan siksaan lahir-batin dari sekolah—terutama celotehan berisi pembulian terselubung dari penghuninya. Daripada merasa diisolasi seolah mereka adalah Pembuat Takut Monster Inc. dan dirinya seonggok kaos kaki bocah ingusan yang haram hukumnya untuk disentuh, lebih baik Kenji belajar otodidak dan meneliti berbagai kebudayaan di seluruh dunia. Toh, meski gaji ayahnya sebagai guru BK tak seberapa, bayaran Negara atas Hutan Buatan temuannya di masa remaja lebih dari cukup untuk membuat pria sinting itu berleha-leha sampai hari tua.

Tidak, kalian tidak salah baca. Kenji memang menganggap ayahnya laki-laki sinting.

Why? Yaa, siapa yang tidak akan beranggapan seperti itu? Paman Itachi Sang Mantan Jomblo Purbakala bisa menjadi saksi bagi pernyataan Kenji ini.

…Menjadi anaknya, jujur saja, NGEBATIN BANGET!

Contohlah saat Kenji baru saja pulang membawa oleh-oleh sertifikat olimpiade dan medali emas yang ke-sekian kalinya. Ketika seisi sekolah sebagian mendengus datar(terlalu biasa mendengar namanya dielukan), sebagian lain mendecih iri, dan sisanya dengan kamvretnya malah membuli—koneksi orang dalam, katanya; laki-laki yang mengaku sebagai ayah kandungnya itu malah memasang senyum meremehkan.

"Baru segitu saja sudah bangga. Seumuranmu, aku jauh lebih hebat."

Iya paham. Yang otaknya jenius keterlaluan mah beda. Ada songong-songongnya gitu.

KOK KZL YA! INI PAK TUA MAU DISUAPI SIANIDA?! BAGAIMANA CARANYA UNTUK MEMBUATMU BANGGA, PAK?! BERKELILING DUNIA DAN MENGUMPULKAN 7 BOLA NAGA?!

Lalu…meski suntikan biaya sehari-hari bisa dibilang tak terbatas selama Konoha masih berdiri; ayahnya ini cukup pelit soal uang saku. Sehari-hari Kenji hanya dibekali uang pas untuk kas mingguan kelas dan ekskul saja. Berhubung ongkos sudah tertutupi oleh jarak SMU Izanami yang tidak jauh dari rumah dan ia selalu makan siang dengan bekal yang disiapkan ibunya. Jadi, kalau ada pengeluaran tambahan, Kenji harus menghadap Sang Ayah dan menjulurkan tangan—meminta uang.

Di dalam sejarah keluarga(source by Uncle Konohamaru), Kepala Keluarga Namikaze memiliki kelakar unik jika anak meminta sesuatu. Hiruzen menuntut anaknya mengalahkannya dalam pertarungan suit gunting-kertas-batu jika ingin sesuatu. Jiraiya menuntut anaknya memberi referensi diksi untuk novel 'legendaris' Icha-Icha Paradise jika ingin sesuatu. Kakek Minato menuntut anaknya untuk mengalahkannya dalam duel PS jika ingin sesuatu. Terakhir Namikaze Kurama…menuntut anaknya, alias Kenji, untuk melaksanakan sesuatu jika ingin sesuatu.

Memijat kaki.

Mengurut badan.

Memeriksakan laporan.

Menguntit muridnya yang bermasalah.

Membuatkan kopi tiap jam tertentu.

Mencucikan kolornya.

Membersihkan lab.

Mencuci mobil.

Memotong rumput.

Oke, oke. Tanpa imbalan pun Kenji sebenarnya akan melakukan semua itu. Se-kamvret dan sesinting apapun seorang Namikaze Kurama, dia tetap orangtua Kenji juga.

Ngeselinnya itu, selama dia bekerja, Kurama menggelar karpet dan berbaring miring a la cover boy. Sesekali dia mengipasi wajahnya dengan lembaran uang yang Kenji minta. Bikin panas lihatnya. Iya, panas hati.

Rasanya, Kenji ingin menjerit. YAH! INI ANAKMU! BUKAN BABUMU!

Kalau dipikir-pikir, dari kecil pun Kenji sudah jago ngebatin, deh. Selama 4 tahun hidupnya di Hawaii, Kenji damai-damai saja. Dia cukup bahagia hanya berteman dengan Bibi Naru tecinta. Begitu Paman Konohamaru siap mengambil alih perusahaan dan keluarganya kembali ke Konoha—sebagian besar salah Paman Sasuke, ngeselin emang—Kenji mengerti arti hidup yang sebenarnya.

Dunia ini kezam. Kalian harus percaya.

Pertama masuk taman kanak-kanak, Kenji agak kesulitan untuk beradaptasi dengan teman-temannya. Pasalnya, tiap kalimat yang diucapkan olehnya seringkali bercampur-aduk dengan bahasa Inggris/Hawaii yang sudah jelas tidak akan dimengerti oleh bocah Konoha seusianya. Kalau bukan karena ibunya yang kebetulan mengajar di sana, mungkin guru-guru pun tidak mengerti apa yang ingin ia ungkapkan.

Masuk sekolah dasar, level rimba yang ditempati meningkat. Penghuninya lebih ganas, memang. Kenji sudah bisa berinteraksi penuh menggunakan bahasa Konoha, tapi sesekali tetap keluar bahasa asing yang ia kuasai. Terutama jika ia terlalu bersemangat. Hal ini membuat teman sekelasnya menganggap ia setengah matang. Diskriminasi dini pun diberikan. Keberadaan rambut pirang alaminya pun menambah bahan ejekan. Bukan hanya ia disindir kalau Konoha itu bukan tempat untuknya, malah dikatai anak hasil perselingkuhan pula. Gara-gara saat pertemuan orangtua, mereka melihat kedua orangtuanya yang berambut merah. Dan dengan penuh kekamvretannya, Sang Ayah tersenyum dan berkata bijak, "Jangan dengarkan mereka. Yang penting aku menyayangimu seperti anak sendiri."

Tak usah ditanya, tentu saja satu sekolah mencap paten kalau Namikaze Kenji memang anak selingkuhan.

BECANDAMU JELEK, YAH! JANGAN BERKATA SEOLAH AKU INI TIDAK LAHIR DARI BURUNGMU!

Jika sedang di rumah, Kenji merasa bukan menghadapi seorang lelaki yang seharusnya menjadi Ayah. Dia merasa memiliki adik kembar. Satu yang paling ngeselin, malah.

Mana ada Ayah mengajak anaknya bergulat hanya karena rebutan memegang remot TV? (Iya, pegang doang. Channelnya satu selera, kok.) Mana ada Ayah yang bertengkar dengan anaknya karena rebutan kentang goreng potongan terakhir? Mana ada Ayah yang merajuk tak mau keluar kamar karena anaknya ingin dimanja Ibu?

Mungkin hanya perasaan saja, tapi Kenji pikir ibunya jauh lebih mencintai ayahnya dibandingkan dirinya. Ya bagaimana Kenji tidak menganggap begitu? Sedangkan kalau dua laki-laki Namikaze itu bertengkar, yang ditegur untuk mengalah itu pasti dirinya.

INI YANG JADI AYAH SIAPA YANG KEKANAKKAN SIAPA, YA?!

Kenji ingin menangis. Kalau suatu saat nanti ia sudah habis kesabaran atas tingkah kamvret ayahnya—yang saban hari bikin dia ngebatin—dan mengajukan proposal untuk kabur dari rumah jika pria itu tak mau berubah, ibunya dengan senang hati akan mengusirnya saat itu juga. Kenji yakin. Seribu persentil.

Intinya, Namikaze Kurama adalah pria sinting. Mungkin Kenji lebih sinting? Karena, seniat apa pun menampik, nyatanya Kenji memang mengidolakan pria itu.

—Andai saja sikapnya tidak sesaklek itu, mungkin Kenji akan jujur mengutarakannya dan jadi fans nomor satu.

Iya, Paman Sasuke, iya. Kau boleh mencekik Kurama sampai kau puas. Kau memang sosok yang paling teraniaya selain Kenji. Dan…Tolong jangan salahkan kalau Kenji menuruni gen jahil ayahnya. Senormal apapun Kenji ingin bersikap, nyatanya dia memang lahir dari burung ayahnya.

Hal lain yang turut serta menjadi penyebab enggak enaknya jadi Namikaze Kenji adalah tubuhnya sendiri. Sebenarnya, pertumbuhannya cukup normal sampai ia kelas 6 SD—malah, ia tergolong anak laki-laki yang agak uhm pendek. Begitu masuk SMP, pertumbuhannya meroket. Sekarang saja di umur 15 tahun, kelas 1 SMU, tinggi badannya sudah mencapai angka 189,5 cm. Dengan semua aktifitas olahraganya, baik ekskul maupun hasil taruhan konyol dengan Sang Ayah, cukup untuk membentuk otot-ototnya jadi macam Bokuto Koutarou dari fandom sebelah. Wajahnya yang Cuma punya dua ekspresi, kalau tidak serius ya jahil, melengkapi segalanya. Tampang yang cukup, untuk membuatnya meraih sebuah panggilan spesial dari bocah-bocah ingusan yang menghuni tempat ibunya bekerja.

"OM KENJIIIIIIIIIIII~!"

Sepertinya Kenji mendengar ada sesuatu yang pecah. Iya, kokoronya.

"Hai, dek! Siapa yang mau main sama Kakak?"

Meski ia memberikan penekanan, nyatanya tak ada bocah yang peka keadaan kokoro Kenji ini sudah seperti apa.

"AKU OM!"

ANJIR! GUA ANAK SMU WOY! ORANGTUANYA MANA INI?! GUA MAU IZIN MUTILASI ANAKNYA, BOLEH?!

Yah, mungkin Kenji memang sedang PMS. Makanya sensi mulu belakangan ini.

…Omong-omong, Kenji masih belum paham.

PMS itu apa ya?

.

.

.

A sequel to "Yang Benar Saja"

Twin Trouble

Chic White Proudly Present

.

.

.

Om Telolet Om

Mau dilihat dari sisi manapun, Namikaze Kenji itu… Gaptek—alias : gaGAP berTEman dan berKawan. Oke, jangan salahkan dia yang lebih nyaman bercengkrama dengan penghuni kingdom animalia kelas insekta ordo Blattodea yang coklat, lucu, imut, dan menggemaskan itu. Daripada menghadapi manusia asli yang mayoritasnya ingin Kenji enyah dari hadapan mereka dan minoritasnya hanya terbungkam iri tanpa mau mengerti kerja keras Kenji sampai dapat membobol berbagai penghargaan dan beasiswa penuh di SMU Izanami seperti ini; lebih baik Kenji mojok di gedung auditorium lama tak terpakai dan bermain dengan Blattodea kesayangannya. Kalau Si Bebeb dalam mode terbang, barulah Kenji angkat kaki dari sana.

…Sekedar informasi, siapa tahu penjelasan di atas terlalu biologic. Blattodea itu sahabat karibnya ibu-ibu di rumah. Iya, Si Unyu yang punya panggilan akrab—Kecoak, Lipas, Cecunguk, dll.

Mungkin ia hanya akan bercengkrama dengan Si Unyu Blattodea selama tiga tahun penuh di Izanami, kalau saja Bibi Naru tidak peka akan niatnya menjadi anti-sosial—yang menghasilkan permintaan Paman Sasuke kepada Pengurus Klub Jurnalis untuk memisahkannya dengan Blattodea tersayang.

Kenji sempat galau. Bagaimana pun, Blattodea tersayang sudah setia membantunya balas dendam pada Anko-sensei dan Hota Iwaki-sensei. Ah, saudara dari Blattodea tersayang pun pernah menjadi perantaranya untuk 'berkenalan' dengan seisi sekolah, bonus memberinya pulang lebih cepat. Intinya, hubungan mereka benar-benar spesial. Kenji tidak mau berpisah. Tapi, mau bagaimana lagi. Gedung auditorium lama dan markas Klub Jurnalis itu cukup jauh jaraknya.

Bye-bye, Blattodea sayang~! Kenji akan selalu merindumu!

Bergabung bersama Klub Jurnalis… Kenji cukup menikmatinya. Anggotanya tidak lebih dari sepuluh orang dan semuanya tidak memandang dia sebagai Namikaze. Mereka semua mau mengenal Kenji dan tidak mempermasalahkan rekam jejak prestasinya yang memang membuat iri itu. Bahkan tak jarang mereka membulinya dalam canda.

Tidak heran sih. Salah satu syarat untuk diterima Klub ini adalah…berani menistai Uchiha Sasuke. Ini pasti Bibi Naru yang buat untuk kepuasan rohani. Jadi ya…tak ada kesenjangan sosial di sini. Kalian tahu sendiri, lah. Cuma orang sinting yang berani macam-macam dengan Uchiha.

Dalam waktu singkat, mereka bisa menjadi teman dekat. Kenji bahkan dapat kesempatan mengundang Blattodea kesayangannya untuk ikut bersenang-senang bersama mereka sewaktu-waktu.

Mendapati Kenji ini sebenarnya cukup asyik diajak berbicara kalau Gaptek-nya sudah ditendang jauh-jauh, Ketua Klub menempatkan anak itu di bagian BBT (Broadcast Break-Time). Di balik nick-name Blaver—alias : Blattodea Lover, Kenji menyapa dan bercengkrama dengan seisi sekolah.

"Halo, semua! Kembali lagi bersama Blaver—Blattodea Lover, di Broadcast Break-Time kesayangan kalian! Hari ini—"

Setiap hari, Kenji bersemangat untuk sekolah. Di kelas oke. Nilainya tetap aduhai. Waktu istirahatnya tidak lagi dihabiskan untuk berkencan dengan Blattodea tersayang. Ada kegiatan yang ia tunggu-tunggu sepulang sekolah. Ada teman untuk bercengkrama. Segalanya terasa sempurna.

Kehidupan Kenji di Klub Jurnalis damai-damai saja. Lalu semua berubah semenjak…om telolet om menyerang.

Om Telolet Om? Siapa sih, yang tidak tahu virus viral dari Wkwkwk Land itu? Yang semakin mendunia setelah banyak DJ menciptakan karya dari fenomena tersebut?

Pertama kali, Kenji iseng saja memutarnya saat siaran berlangsung. Suasana baru. Habisnya Kenji bosan dengan permintaan anak-anak yang banyaknya meminta lagu percintaan begitu.

Telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia…

.

Begini rasanya terlatih patah hati…Hadapi pedihnya terlatih disakiti…

.

Kau begitu sempurna… Di mataku kau begitu indah…

.

Tak pernahkah kau sadari akulah yang kau sakiti…

.

Tolong dikondisikan permintaannya, tidak baik untuk kokoro tuna asmara seperti Kenji.

Dari keisengan itu, muncullah rasa penasaran di benak para murid. Hanya butuh waktu satu hari hingga semua mengetahui asal-muasal 'Telolet' ini. Kemudian, inbox BBT penuh dengan permintaan pemutaran versi berbeda dari 'Telolet'.

Setiap hari. Pesan yang masuk isinya tak jauh berbeda.

"Request Telolet-by DJ ****."

Sebenarnya, Kenji tidak begitu keberatan. Toh, itu hak mereka untuk me-request. Mungkin Kenji hanya akan berakhir bosan, kalau saja bunyi inbox yang diterima tidak seperti ini :

Hari ini aku req Telolet DJ mas-mellow, ya! Telolet Om!

Teloleeeeeet! Kumau teloleeeeeet OM!

Telolet om, teloleeeet! Biar serasa dugem di sekolah. Lebih varokah hahaha

Om teloletnya ya om.

Om telolet om?

Om Blaver teloletnya om!

Iya, tahu. Mereka ini maksudnya ingin menunjukkan jati diri anak-anak jaman sekarang yang maunya ikut trendi. Yang viral mereka ikuti. Pesan mereka itu seolah menirukan ulahnya bocah-bocah di Wkwkwk Land yang senang mengangkat karton bertuliskan 'OM TELOLET OM' agar Sang Supir Bus membunyikan klakson khasnya. Enggak ada maksud sedikit pun untuk menyindir Kenji yang sering disangka om-om.

Iya tahu. TAPI INI KENJI BAPER WOI! TANGGUNG JAWAB!

Om Blaveeeeer! Teloletnya ya om.

That's it. Kokoronya tidak kuat. Apa ada yang tahu kamera di sebelah mana?

"I'M DONE WITH THIS FUCKING TELOLET!"

Sejak hari itu, seminggu setelah BBT memutar musik DJ 'Telolet' dengan repetisi penuh, Namikaze Kenji dinyatakan membolos sekolah.

.

.

.

Berita bolosnya Kenji sampai di telinga dua sepupunya. Didorong rasa khawatir, keduanya menyempatkan diri untuk berkunjung ke kediaman Namikaze. Hanya perlu waktu singkat agar Chiharu maupun Eiji bias menarik Kenji keluar dari kegiatan merajuk di kamarnya untuk bermain PS seperti biasanya.

Mereka tidak bertanya. Kenji mengira, kedua sepupunya itu sedang perhatian dan tidak berniat memaksanya untuk bercerita. Mereka setia menunggu sampai Kenji kuat hati untuk mencurahkan isi hatinya. Padahal, Chiharu dan Eiji memang tidak niat bertanya. Terlalu malas.

Tetap saja, Kenji yang sudah kelewat galau akhirnya bercerita juga.

"Eh, kalian tahu 'Telolet' dari Negara asalnya para readers kurang kerjaan itu gak?"

Chiharu dan Eiji yang kebetulan sedang kebagian melawan satu sama lain reflek menekan tombol pause. Keduanya menatap Kenji dengan kompak. Dua pasang mata kembar itu berkilauan.

"Yang sedang viral itu? Tentu saja tahu! Belakangan ini kita suka mendengarnya ya, Kak Ei?" Chiharu menjawab.

Eiji mengangguk semangat. "Pelayan di rumah juga sudah dua hari ini memutar remix 'Telolet' sambil membersihkan rumah."

Chiharu dan Eiji mulai membicarakan ulah pelayan di Mansion Uchiha, bahkan tertawa bersama. Sebuah ide berlabuh di kepala Chiharu. Anak itu mengusulkan, "Kak, bagaimana kalau semua cabang travelling Uchiha kita ganti klaksonnya jadi telolet?"

Eiji yang mendengarnya menopang dagu. Kepalanya terangguk-angguk setuju. "Ide bagus, Haru!"

Bisnis travel Uchiha itu destinasinya bukan hanya di dalam, namun di luar negeri juga. SMU Izanami saja diberi 3 unit khusus untuk kegiatan ekstrakulikuler. Jika semua klakson unitnya diganti dengan telolet, maka dipastikan virus omu teloletus omitus ini akan semakin mendunia. Kenji mendadak ingin mati sekarang juga.

"JANGAN LAH!"

Menerima respon panik beserta jeritan melengking seperti itu, Eiji dan Chiharu menatap sepupu mereka keheranan.

"Kenapa? Kan keren?"

KEREN NDASMU, DEK!

"Not you guys too! Huwaaaaa!"

"Lho? Kakak enggak suka?" Eiji inisiatif bertanya. "Unik lho Kak. Bukannya kakak ini suka yang berbau DJ ya?"

"Kalian…" Kenji menepuk puncak kepala sepupunya. Matanya menunjukkan tekad bulat dan semangat berjuang. Senyum di wajahnya bagai samurai yang hendak mempertaruhkan nyawa demi keadilan dan kemerdekaan dari kesengsaraan. "…tolong sampaikan pada Blattodea, kalau aku sangat mencintainya."

Chiharu dan Eiji hanya bisa cengo saat sepupu mereka berjalan gagah ke halaman belakang, tepatnya pohon besar yang ada di sana. Tangan kaosnya disingsingka—Oh, God. Lihat otot-otot kekar itu, tali tambang ditenteng, ikat kepala dipakai. Di mata Chiharu dan Eiji, background api membara di tengah medan perang dapat terlihat. Keduanya termangu takjub. Kakak sepupu mereka itu benar-benar keren, seperti Rambo.

…Setidaknya kekerenan itu bertahan hingga Kenji memanjat pohon dan menalikan tambang, membuatnya tergantung dengan ujung melingkar.

"Eh, Kak Eiji, itu bukannya simpul bunuh diri ya?"

"Dipikir-pikir, iya jug—WHOA! KAK KENJI! APA YANG MAU KAU LAKUKAN?!"

Blattodea… Ku sayang kamu!

"KAK KENJIIIIIIIIII, INI GAK LUCUUUU!"

.

.

.

Sebenarnya, Kenji berniat untuk lanjut mendekam di dalam kamar. Sayang sekali, keesokan harinya, Sang Ayah menyeretnya untuk ikut ke acara dari kampus tempatnya menimba ilmu dulu. Jalan-jalan alumni bersama keluarga mereka.

Sepanjang perjalanan menuju titik pertemuan, Kenji mengerucutkan bibirnya. Dia berhak untuk bertingkah kekanakkan sesekali, kan?

"Oke, cukup." Kenji terlonjak saat ayahnya menginjak rem mendadak. Bertemu pandang dengan mata merah ayahnya, Kenji makin suram. Ada dua bus pariwisata yang sudah setia menunggu; mereka telah sampai. "Sebenarnya kau ini kenapa?"

Kenji melotot songong. "Bukan urusanmu, Pak Tua!"

Kurama agak tersinggung. "Salah, ya, kalau aku khawatir pada putraku sendiri?"

"Salah! Aku pulang bawa prestasi pun bukannya bangga atau apa kau malah mengataiku cemen! Dan menambahkan kalau kau lebih hebat!"

"Itu memang kenyataan, kan?" Kurama menyeringai, mengangkat bahunya tak acuh. "Aku bangga kok."

"AYAH MANA YANG BANGGA SAMBIL MENGHINA?!" amuk Kenji tidak terima. Sungguh, Kenji sudah tidak kuat dengan cobaan ini, Tuhan.

"Ayahmu yang ganteng ini, lah!" Kurama ngakak seolah sudah tidak melakukannya selama ribuan tahun. Kenji sukses hipertensi. Anak itu maju, lalu menggunakan kedua tangannya untuk menjambak rambut merah Sang Ayah. "Ow, ow, ow, ow!"

Sara sudah mulai menampakkan sinyal-sinyal berbahaya, tapi Kenji tidak peduli. Anak itu mengguncang kepala ayahnya dengan sepenuh hati. Kokoronya ekstra nyesek, mamen. Punya Ayah sudah tahu anaknya sedang gegana bukannya dihibur malah ditambah-tambah.

"Oke, CUKUP! NAMIKAZE KENJI, KAU MAU AKU BOTAK, HAH?!"

"AKU TIDAK PEDULI KALAU KAU BOTAK! KAU MENGESALKAN!"

"INI BUKAN SIKAP SEORANG ANAK PADA AYAHNYA!"

"KAU PIKIR YANG KAU LAKUKAN ADALAH SIKAP AYAH PADA ANAKNYA, HAH?!"

"TIAP AYAH PUNYA CARANYA SENDIRI!"

"TIAP ANAK PUNYA RESPONNYA SENDIRI!"

Melihat anak dan suaminya saling jenggut rambut dan teriak-meneriaki, Sara rasanya ingin tertawa. Tentu saja ditahan. Bisa berlarut-larut kalau dua ayah-anak ini tidak dilerai sekarang juga. Wanita itu berdeham dan memasang mimik serius.

Keduanya spontan bungkam dan kembali ke posisi sewajarnya.

"Kenji, sudah berapakali Ibu bilang untuk tidak berteriak pada ayahmu?" tegur Sara. Anak yang dimaksud hanya memalingkan wajah dan menggumamkan permintaan maaf. Tersenyum tipis, Sara kembali pada suaminya. "Kalau kau memang khawatir pada Kenji, tunjukkan dengan benar. Padaku bisa bertanya macam-macam dan terlihat sekali kena son-complex-nya, tapi kenapa ke anaknya kau malah bersikap seperti ini, Ayah? Sampai kapan sikap ultimate-tsundere itu mau kau pelihara?"

Kenji menolehkan kepalanya—memandangi kedua orangtuanya secara bergantian. Anak itu menganga.

Ayah bisa blushing?

Dan… Apa kata ibunya tadi? Ayahnya kena son-complex? Ultimate-tsundere, katanya?

Saat dia bilang bangga…dia memang bangga? Bukan nyarkas? Mungkinkah ulahnya selama ini hanya untuk menyembunyikan perhatian yang sebenarnya?

Kenji terharu. Iya. Tapi tetap saja dongkol.

"Yuk, keluar!" ajak Sara. "Ada satu anak yang seumuran denganmu. Mungkin masuk fetish-mu? Kecil coklat imut begitu, kan?"

Kenji kembali mengerucutkan bibirnya. Ibunya senang sekali menggodanya akan kecintaannya pada Blattodea tersayang. Akan tetapi, sebagai anak yang baik dan penurut, Kenji membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Ibunya langsung memposisikan diri di sebelah kanannya, sedangkan Sang Ayah menyusul setelah memberikan kunci mobil pada petugas keamanan.

Kenji mengernyit heran saat ibunya melambaikan tangan dan menyahut, "Chairumi!"

"Sara-sensei!"

Seorang anak perempuan berlari menghampiri mereka. Anak itu mengenakan lapisan pakaian dengan gradiasi warna coklat. Di telinganya menempel earphone dengan warna serupa. Wajahnya yang baby-face tampak bersinar dengan senyum lebar di wajahnya. Malam yang gelap tiba-tiba terasa seterik tengah hari gara-gara senyum itu. Rambut pendek coklat bergelombangnya dipermanis oleh jepit rambut aqua yang nampaknya glow in the dark untuk menahan poni. Matanya bermanikkan coklat madu, manis dan hangat. Kenji membeku tak berkedip.

Panah arjuna telah sukses menikam hatinya pada pandangan pertama.

"…Boleh panggil Blattodea?"

Si gadis coklat atas-bawah memiringkan wajahnya lucu, tampak kebingungan. Inner-side Kenji pingsan, tak kuasa mendapat serangan ultimate-moe seperti itu.

Sara tertawa geli. "Nah, Chairumi-chan, ini Namikaze Kenji."

"Aku Reiko Chairumi, 15 tahun, salam kenal!" Chairumi tersenyum manis dengan mata menyipit. Inner-side Kenji pingsan kedua kalinya. "Om ini adiknya Om Kurama ya?"

Dianggap om-om oleh bocah itu satu perkara yang masih bisa disabari. Dianggap om-om oleh gadis coklat atas-bawah yang mendadak ia taksir sih lain ceritanya. Ia tidak tahu kalau dunia sekezam ini padanya.

Kenji KO seketika.

Neng Blattodea sayang, kenapa kau sekejam itu pada Abang Kenji?

Tentu saja, karena Namikaze Kurama adalah Ayah Terkamvret yang pernah terlahir di dunia, maka dia menjawab, "Ya, Rumi. Ini adik Om." Tak lupa disertai tawa ngakak berkepanjangan.

Kenji rasanya ingin mati.

.

.

.

"Asyik banget, ya, punya Ayah semacam Om Kurama."

Kenji menatap makhluk di sebelahnya seolah dia mengenalkan dirinya dengan nama Uvuvwevwevwe Onyetenyevwe Ugwemubwem Ossas.

Ketika gebetan dadakannya menganggapnya om-om sekaligus adik dari ayahnya sendiri, si Ayah yang dimaksud malah menyetujuinya dan menertawainya di depan umum begitu disebut asyik?

NDASMU.

"Jangan ngaco, kamu. 15 tahun hidupku penuh penderitaan gara-gara dia!" Kenji membalas nyolot.

Kenji memang berterima kasih pada penanggung jawab event ini yang membuatnya berakhir duduk di sebelah si gadis coklat atas-bawah. Akan tetapi, kalau tahu si gadis coklat atas-bawah akan berakhir membulinya seperti ini, Kenji memilih duduk di atas bus saja!

"Terdengar menyenangkan, lho! Orangtuaku kaku, sih!" Chairumi tertawa imut. Kali ini, Kenji menolak untuk terpesona. "Serius, tapi. Kenji kelihatan kaya om-om. Badanmu kekar dan ketinggian sih."

Kenji mendengus sinis. "Kamu aja yang terlalu kecil dan pendek."

"Om bisa ngeselin juga, ya."

Urat kekesalan Kenji menegang. Ini loli 150cm sampai kapan mau memanggilnya Om?

"Blattodea kamvret."

Hening. Si gadis coklat atas-bawah asyik memandang keluar jendela. Kenji mengalihkan pandangannya ke sekitar, lalu berakhir pada tas yang di bawa teman perjalanannya. Pemuda itu mengernyit heran melihat…Lho? Chairumi bawa apaan?

"Chairumi." Kenji memanggil. Hanya gumaman yang didapat sebagai jawaban. "Ngapain bawa tongkat baseball?"

"Jaga-jaga. Siapa tahu ada pembajakan bus." Ini jawaban yang didapat.

Pembajakan bus?

"Kau pemain baseball?" Kenji mengangkat sebelah alis matanya.

"Tertarik padaku?" Chairumi terkekeh pelan. "Maaf saja, aku tidak tertarik dengan om-om."

Kenji mendengus kesal, memutuskan untuk menarik keluar ponselnya dan menyelami timeline media social Klub Jurnalis. Tak lama waktu berselang, Chairumi mencolek pundaknya.

"Apa?" tanggap Kenji malas.

"Kau tahu telolet?" Kenji sesaat lupa bernapas. "Aku dengar di daerah sini beberapa bus sudah ganti klakson menggunakan telolet, lho!"

"…Lalu?"

Chairumi tiba-tiba terlonjak dari duduknya, memberikan ruang agar Kenji dapat mengintip keluar jendela. "Om, telolet! TELOLET!" Anak itu menujuk dengan semangat. "Dengar! Itu teloletnya, Om!"

Kenji meradang. "Am-om, am-om! GUA ANAK SMU, KAMVRET! KLAKSON AJA! GAK USAH TELOLET-TELOLET NAPA?!"

Ada yang punya death note? Tolong tuliskan nama Kenji ya.

.

.

.

Om Telolet Om—END

A/N

Salam rindu saya sampaikan kepada kalian fakir tawa sekalian yang tersesat di fanfic tidak jelas dengan isi berantakan ini. Karya absurd yang seringkali disalahkelompokkan ke genre humor, padahal saya gak niat gitu. Lol. Kalau ada opsi 'Slice of Life', maka itulah genre paling tepat. Kenapa saya bahas ini? Entahlah. Abaikan. :v

Oh ya. Maaf untuk kalian yang berteman dengan akun fb saya, yang tempo hari mungkin mendadak jantungan sewaktu saya menulis status "Chic White hiatus aja ya?". Terutama buat dedek Kurai no Hikari yang sempet ngambek. Sumpah dek, itu hanya sekadar troll belaka. :'v Maaf kalau berlebihan haha. Tahulah, ayam kamvret ini semakin stress semakin bikin hipertensi.

Btw, ternyata asyik juga menistakan jagoannya Kurama huahahaha. Ceritanya di sini Kenji agak kurang waras itu kalau jahilnya sudah kambuh saja. Dia sifatnya lebih condong ke ibunya.

Reiko (anak manis) Chairu(warna coklat) mi(melihat). I have a bad naming sense, I know. Lol.

Saya bingung mau ketik apa lagi, sumpah. Masih mabok soal dan rumus hahaha.

Langsung sesi jawab ripiu aja ya~

Cheonsa 19 : Menggregetkan adalah… itulho, anu :v

K1ller : Wohaha iya dong. Ini juga kilat kan? #bakarayamini

Ahiy : Syukurlah kalau terasa. Walau sebenarnya ini bukan ff humor haha. Ini sudah dilanjut. Maaf lama.

Khioneizys : Ku juga rindu padamu :* #baper Hahaha. Maaf kalau lama ya. Semoga tetap menghibur. Dan kali ini kita nistakan dulu jagoannya Kurama. Chapter depan baru kita balik lagi menistakan Papa Sasuke :v Aamiin. Trims doanya. Alhamdulillah masuk hihi.

Byakuren hikaru 83 : Hahaha. Kali ini biar Kenji yang unjuk gigi. Semoga tetap menghibur ya~ Thank you!

Nienx C'tebane : Haha terima kasih. Iya greget. Dan tergolong nekat juga haha. Ya mau bagaimana lagi. Sudah maso belajar sampai eneg sama bebeb sendiri(baca : Matematika), masa gak dinekatin daftar ke jurusan nganu xD Haha iya aamiin.

Krupuk 30 : Haha… Kali ini nistain jagoannya Kurama yak. Ch depan kita nistakan lagi Papa Sasu! HUAHAHAH! Terima kasih~

Ayanara 47 : wkwkwk iyaa. Oke siap. Sankyuu~

Dohchoco : Entar kepanjangan ah. Wakaka. Saya terlalu malas. #dirajamreader Okke~ Ini sudah lanjut yak. Maaf lama hahaha

Wu Jikyungie : Hahaha. Silakan. Eh, jangan kasian dulu sama Sasuke. Chapter depan dia masih kebagian penistaan. Habis, menistakan dia itu menyenangkan sih. Wakaka~ Semoga yang ini menghibur juga ya~

Hyull : Tak apa. Kau tidak gila sendirian kok. Pembaca lain juga sama gilanya ngahahaha #bakardiareader

AySNfc 3 : Wahaha tentu saja akan sangat menyenangkan mengenangnya xD

Naura : Haha terima kasih sudah menyukainya :D Semoga tetap suka ya~

Babyetayy : Oke-oke eti-san ^^ Haha semoga tetap menghibur ya~

Jasmine DaisynoYuki : Ku senang melihatmu senang wkwk. Iya ch kemarin mengharu biru. Nah, yang ini penistaan lagi. Semoga authornya tidak dituntut karena telah membuli chara sendiri yak. Wkwk

Miiwako : Huhuhu. Bikin baper ya. Yang ngetiknya aja baper pengen doki-doki kayak gitu juga. Tapi nanti. Belum siap mental :v

Erythrin : Hahaha maafkan ayam ini~ Ini sudah dilanjut yak. Semoga membayar kenyesekan chapter kemarin hihi.

Rurachi : Sekarang. Haha maaf terlambat. Ada begitu banyak halangan yang kalau diungkapkan hanya akan menjadi alasan. Yang penting udah up ya hahaha.

Yossshaaaa!

Terima kasih untuk dukungan kalian selama ini. Tak ada yang terlewat disebut kan? Yang review lewat pm saya bales lewat pm lagi ya hoho. Saya haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas doa dan dukungan kalian. Saya resmi diterima Matematika-Unpad. Tehee~ Sekarang udah bukan anak ayam lagi. Jadi ayam kampus #gakgitunak

Semoga tetap menghibur.

Sekian terimagaji.

Salam Petok,

Chic White

(Your Possible!Chic-ken*roosting*)