Kamisama no Inai Nichiyoubi © Kimihito Irie

Cover © Riinu id 1551139

Short-fict. With Ai and her father, Kizuna Astin.


Winter Dream

by Kanami Gakura


Sarung tangan coklat miliknya sudah sangat tebal, namun angin dingin yang berhembus tetap membuatnya menggigil. Mulutnya berusaha meniup-niup udara hangat ke telapak tangan sembari menggosoknya dan iris hijaunya kembali berkeliling di sekitar.

Jalanan terlihat sangat ramai karena ini adalah malam natal. Orang-orang berlalu sambil bergandemg tangan dan tak lupa disertai sebuah senyuman. Dan senyuman itu merambat, menghantarkan garis melengkung di bibir si gadis belia. Entah sudah berapa kali ia tersenyum di malam natal ini—hatinya terlalu bergejolak, berdebar kencang saat kembali mengingatnya.

"Menunggu lama, Ai?"

Dan suara dari belakang tubuhnya membuat ia berjengit. Garis lengkungan itu semakin lebar dan dengan cepat ia memeluk pria itu setelah matanya menangkap warna putih dengan iris crimson yang ia tunggu-tunggu.

"Otou-sama!"

Dan pria itu hanya dapat tersenyum saat putri kecilnya menerjang dengan sebuah pelukan hangat. Mata hijau itu bersembunyi di balik kelopak yang tertutup dan senyum masih mengembang saat tangannya kecilnya berusaha menggapai punggung besar si ayah.

"Hei."

Lalu netra hijau itu bertemu dengan iris merah darah.

"Kita berangkat?"

Sebuah anggukan antusias datang dari kepala berhelaian oranye lembut. "Hmm!"

Tawa menguar pelan dari bibir sang ayah. Akhirnya mereka berjalan meninggalkan taman kecil itu dengan sarung tangan yang menempel. Erat. Sebuah pegangan yang hangat. Dan Ai tak berhenti untuk mendongakkan wajahnya dari samping untuk bertatapan dengan iris darah yang disukainya disertai dengan senyumannya yang selalu terpasang.

Jalanan ramai menyambut dan pohon-pohon hias terdapat di sepanjang trotoar. Dinginnya malam natal tak lagi terasa saat dua tubuh itu berdempetan dengan mantel tebal yang menghalau suhu akhir tahun untuk membelai kulit. Dan Ai hanya dapat memejamkan mata sembari tersenyum saat merasakan hangatnya sarung tangan coklat itu disertai elusan lembut tangan besar si ayah di pucuk kepalanya.

Malam natal yang indah. Ia berjanji tak akan melupakan natal tahun ini dengan ayahnya.


xOx


Dengkuran halus itu memenuhi kamar yang temaram. Dadanya naik turun menandakan napasnya yang mulai teratur. Sedari tadi mata coklat Julie tak henti mengarah pada seorang gadis yang tertidur nyenyak di bawah selimut tebal. Pemanas ruangan sudah ia hidupkan untuk mengantisipasi dinginnya udara di musim dingin.

Lalu sebuah senyum yang menguar dari bibir tipis si gadis membuat pria berhelai coklat tua itu mengerutkan alis. Wajah anak itu tak lagi mengerang kesakitan saat flu musim dingin menyerang tubuhnya, sebaliknya wajah pucat itu kini berseri dalam tidur nyenyaknya. Binar kemerahan pun kini nampak di wajahnya yang tadi memucat.

"Otou-sama,"

Panggilan itu membuat mata Julie berkilat. Tanpa sadar tangannya yang mengenggam tangan gadis itu mengerat.

"Ai…."

Ini kali pertama ia mendengar gadis kecil itu menggumam dalam tidurnya. Dan panggilan itu… Julie berpikir bahwa ia merindukan mendiang ayahnya.

Mata coklat yang dimiliki Julie memandang sedih pada anak yang memejamkan mata itu. Dia hanya dapat berharap bahwa apapun yang terdapat dalam mimpi si gadis kecil ini adalah sebuah pengantar tidur yang manis, hingga menyebabkan wajah Ai berkilat senang dalam tidurnya.

Perlahan tangan besar milik Julie menyapu helaian oranye yang basah oleh keringat di atas bantal. Mengusap lembut pucuk kepala si gadis sebelum ia kecup dahi mungil itu sembari berbisik rendah, "Mimpi indah, Ai."