Catatan: Di bagian awal, tertulis "Akan ada 15 bagian. 1 prolog, 13 isi, dan 1 epilog." dan kukira hanya berisi SpecialShipping saja, ternyata, ada 16 (dengan bagian 3 dan 4 dari judul yang sama) dan ada FranticShipping-nya. Bukan masalah, karena tetap saja ini adalah apa yang kupikirkan tentang "Dear You".

Plus, inilah bagian terakhir dari cerita "Dear You". Proyek SpecialShipping-ku tahun ini, proyek 9 minggu dari hari pertama tahun 2016 sampai Hari Yellow. Sekaligus sosialisasi gerhana matahari 2016.

Nikmatilah bagian terakhir ini, selama persediaan masih ada (woy, malah ngiklan *dilaser*)

...

Bagian 16: Epilog

Red's POV

1 Maret 2016

"Asik! Terima kasih, Blue! Ini baru keren, kita akan melihat gerhana matahari total untuk pertama kalinya!" seruku.

"Wah, Red-san, belum pernah kau terlihat lebih bersemangat," kata Yellow.

"Tentu saja, aku selalu ingin tahu efek gerhana terhadap Pokemon-Pokemon-ku," kataku.

"Tee-hee, ideku cerdas, kan?" tanya Blue, yang memberikan senyuman puasnya. Green hanya tersenyum dengan kalem.

"Baru kali ini kau punya ide cerdas, gadis si**an," kata Green.

"Aaaahhh... Greeny, bisakah kau berhenti memanggilku begitu? Aku jadi sakit hati," kata Blue, pura-pura sedih.

"Terserah, gadis berisik," kata Green. Lalu aku melihat dexholder dari Johto datang.

"Aku sudah bilang, aku tak perlu bawa bikini ke sana, Gold!" seru Crystal.

"Lha, kau kan ingin melihat gerhana, harus pakai bikini biar greget!" seru Gold. Silver hanya terdiam, melihat tingkah drama suami istri tepat di sampingnya.

"Ayolah, jangan bercanda! Tak ada hubungannya antara gerhana matahari dengan bikini," kata Crystal.

"Crys benar. Blue berkata kalau kita akan melihatnya di tengah kota," kata Yellow, menjelaskan posisi mereka nanti.

"Oooohhhh..."

"Lalu aku pernah dengar dari pamanku, kesopanan di sana sangat dijunjung tinggi, jadi Blue, Crys, kalian butuh rok panjang," kata Yellow.

"Tidak masalah!" Blue menunjukkan tasnya yang penuh pakaian bervariasi, ternasuk rok panjang.

"Untung aku bawa celana longgar panjang. Aku dengar di sana juga panas," kata Crys. Lalu para dexholder Hoenn datang.

"POKOKNYA AKU MAU DI HUTAN AJA, TITIK!" seru Sapphire, protes, lagi.

"Kenapa denganmu? Kita sudah setuju akan menontonnya di kota, kenapa sekarang kau tidak mau?" tanya Ruby.

"Kak Wally, semoga kau terbiasa dengan tinggah 2 orang yang main mata terus-menerus di sana itu. Aku sudah terbiasa dengan mereka, jadi aku juga terbiasa kalau mereka main mata juga," kata Emerald.

"Ah, namanya juga mereka jatuh cinta," lalu 2 orang berwarna hijau itu tertawa. Lalu dexholder Sinnoh datang.

"Diamond! Sudah cukup makannya!" seru Pearl.

"Aku masih lapar," kata Diamond sambil makan biskuitnya lagi. Lalu, temannya memanggil mereka.

"Diamond, Pearl, tolong bawakan tas –" langsung...

"Siap, nona..." kata Diamond.

"Tukang ngatur..." kata Pearl. Akhirnya, Blue ambil kendali lagi.

"Oke, teman-teman, semuanya sudah kumpul? Ini akan menjadi perjalanan bersejarah kita. Jadi, bersiaplah untuk berangkat, 10 menit lagi pesawat akan terbang," kata Blue. Dan kami putuskan untuk bergerak, bersiap menuju ke pesawat.

Oke. Cerita ini dimulai saat aku dan teman-temanku berada di bandara untuk berangkat ke Indonesia. Aku harus berterima kasih pada Blue yang memberikan kami semua perjalanan gratis untuk ini. Plus, dengan kejadian gerhana matahari itu, aku bisa menambah data untuk Pokedex-ku.

Oke, langsung saja saat kami sudah ada di pesawat.

Gold terus melongo sampai tak sadar air liurnya mengalir deras karena melihat banyak pramugari yang menurutnya, menggoda selera. Crystal terlihat sangat iri dan langsung menutup matanya sangat lama.

Platinum tak ada di dekat sini. Dia bersama Diamond dan Pearl berada di ruang VIP. Kami sangat menghargai sikap kebangsawanannya, namun menurutku, seharusnya dia harus sesekali dekat dengan rakyat.

Ruby melihat ke luar dari jendela, kagum dengan pemandangan laut yang luas. Ternyata saat itu, kami melewati Pulau Mirage. Dan Sapphire mulai bertanya pada Ruby tentang kenangannya di tempat itu. Dan untuk pertama kalinya, saudara-saudara, Ruby mengaku kalau dia hanya pura-pura lupa. Itu, hanya untuk mendapatkan pukulan keras dari Sapphire sampai dia babak belur.

Sementara itu, Emerald akhirnya dapat menenangkan Crystal yang sangat cemburu itu, lalu mereka bercerita tentang Snor-ku dan Snorlax-nya. Aku juga ikut dalam perbincangan itu karena akulah yang punya Snor yang akhirnya dikawinkan dengan Snorlax-nya Emerald.

Setelah acara obrolan penerus generasi Pokemon selesai, aku kembali duduk dan melihat sekitar. Waktunya makan! Para pramugari datang membawa makanan yang lezat-lezat. Akhirnya Green dan Silver bergerak dari posisi hampir membatu mereka, dan aku lihat Wally juga menikmati makanannya. Dan orang di sampingku...

... dia masih tidur...

Aku bangunkan dia dan memberitahukannya bahwa ini waktunya makan. Dna tersenyum dan berterima kasih padaku, lalu kami juga ikut makan.

Perjalanan itu membutuhkan waktu 10 jam, dan saat kami datang, suasananya sudah agak gelap. Oke, kami berangkat pukul 10 pagi waktu Kanto, yang beda 2 jam dari tujuan kami. Dan kami datang ke tujuan jam 20 waktu Kanto, atau 18 waktu tujuan kami.

Setelah itu, dan urusan imigrasi dan lain-lain, sebuah bis langsung siap-siap membawa kami ke sebuah hotel di kota itu. Setelah kami sampai, Blue berbuat ulah dengan menentukan tempat tidur kami. Tapi untunglah Yellow mengingatkan bahwa ada aturan tersendiri tentang tempat tidur. Jadi, begini pengaturannya.

Aku – Green, Blue – Yellow, Gold – Silver, Crystal – Sapphire, Ruby dengan Emerald dan Wally, Diamond – Pearl, dan Platinum, sekali lagi, di kamar VIP.

Ya, mungkin itu dulu untuk hari ini. Ini hari yang melelahkan, kau tahu? Dan sebentar lagi, aku harus mulai berpikir tentang hadiah apa yang cocok besok-besok.

Hadiah ulang tahun untuknya, di kota Palembang...

2 Maret 2016

Kukuruuyuuuuuukkk!

Begitulah bunyinya. Bunyi yang membangunkanku di pagi pertamaku di Palembang. Aku tertidur pulas tadi, setelah semua hal yang terjadi di hotel tadi malam. Aku melihat Green sudah bangun terlebih dahulu, dan terlihat melatih tangannya dengan pura-pura bertinju dengan entah-makhluk-imajinatif-apa-yang-ada-di-otaknya-Green.

"Hei, Green. Kau sudah bangun dari kapan?" tanyaku, membuat posisi tubuhku duduk.

"2 jam yang lalu. Lihat jamnya, tukang tidur," lalu aku melihat jamnya. Eh?

"5 pagi? Lantas apa yang kaulakukan, bangun dari pukul 3 pagi?" tanyaku.

"Ya, bertanya dengan beberapa pegawai shift malam tentang apa yang terjadi 9 Maret besok. Kau tahu kan?" tanya Green. Aku mengangguk.

"Lalu, apa tanggapan mereka?" tanyaku.

"Semenjak berita gerhana itu tersebar ke seluruh dunia, banyak yang memesan hotel di kota ini dan kota-kota lain yang mengalami ketotalan. Kita termasuk beruntung karena bisa mendapatkan hotel di waktu yang sangat sempit ini. Aku harus berterima kasih pada Blue untuk itu," aku melihatnya tersenyum.

"Eh, Green? Kau baik-baik saja?" tanyaku. Dia mengangguk.

"Memangnya kenapa? Jarang mendengarku memakai dan mengatakan kata 'Blue'?" aku mengangguk. Green menarik napas dan berbicara lagi.

"Ya, entah kenapa manusia itu si**an, tapi tetap saja memiliki ide kocak. Hei, Gym Leader sepertiku juga punya hak mendapatkan hiburan, dan sepertinya Blue paham posisiku," lebih parah, aku melihat pipinya memerah. Green melihatku yang kaget. Lalu dia sedikit mendesah.

"Kapan kau akan sadar, Red? Ada orang yang menyukaimu di luar sana," kata Green.

Lha!? Kenapa sekarang malah aku yang jadi obyek pembicaraan? Dan kenapa pembicarannya seperti ini?

"Eh, apa maksudmu?" tanyaku. Green mendesah dan menggeleng kepalanya.

"Sepertinya benar apa yang dikatakan Blue. Kau menyukainya seperti teman yang sangat dekat, dan dia mencintaimu. Dan ada satu benteng raksasa yang menghalangimu untuk men—"

"Aku paham..."

Green's POV

"Tunggu, aku belum selesai bicara. Bagaimana kau bisa paham?" tanyaku.

"Aku sedang memikirkan hadiah yang tepat untuknya besok. Dan aku bisa tidur nyenyak karena melihat senyumannya setelah aku memberikan hadiah itu. Aku aku tak tahu hadiah apa yang pantas kuberikan untuknya," kata Red. Aku tersenyum.

'Sepertinya Tn. The Densest Champion of Kanto sudah sadar dan memulai untuk tobat,' pikirku.

"Oke. Dengarkan aku. Dia gadis hutan itu kan?" Red mengangguk.

"Senang memancing dan menggambar kan?" mengangguk lagi.

"Punya spesies Pokemon yang sama denganmu kan?" mengangguk lagi.

"2 tahun lebih muda daripada kau kan?" mengangguk lagi?

"Rambut panjang pirang, mata coklat, punya paman, punya kekuatan penyembuhan, kau selamatkan dari Dratini saat pertama kali bertemu, kau bopong saat kita membatu, dan—" aku melihat Red semakin memerah dan siap meledak.

"YAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! ITU DIA! SEMUA BENAR, ITU ADALAH DIA! ITU GADIS HUTAN VIRIDIAN YANG KUSELAMATKAN DARI DRATINI SAMPAI YANG KUBOPONG SAAT KITA MEMBATU! ITU..."

Eh? Kenapa sekarang dia diam?

Lalu, dia mulai bicara. Dan apa yang dia katakan ini akan masuk catatan yang tak akan bisa terhapus dari memoriku.

"Green, aku mencintai Yellow..."

Sementara itu...

Yellow's POV

KRIIIING! KRIIIING! Sepertinya ponselnya Blue berbunyi.

"Sebentar ya, Yellow?" lalu dia mengangkat teleponnya.

"Halo? Ya? A-apa? Benarkah? Oke, oke. Ya, siap! Dah, Greeny!" lalu aku melihat Blue tersenyum.

"Ada apa, Blue?" tanyaku.

"Ah, tak apa-apa. Hanya kirimanku yang datang ke rumahku. Karena aku tak ada, jadi pengirimannya akan diulang saat aku pulang," kata Blue. Tapi...

"Kenapa kau menyebut 'Green'?" tanyaku.

"Ayolah, memangnya di dunia ini yang bernama 'Green' hanya satu?" aku berpikir, lalu...

"Benar juga, hehehe... Jadi... bagaimana dengan masalahku?"

Oke, aku punya masalah.

Aku akan berulang tahun ke-17. Kau tahu kan, Sweet Seventeen? Sebenarnya, aku juga tak paham, tapi katanya Blue, saat kau berusia 17, banyak hal yang bisa kau lakukan yang sebelum itu belum bisa. Termasuk, masalahku kali ini.

Ini sudah 8 tahunan aku bertemu dengan Red-san. Terjebak dengan imajinasi tentang aku dan Red-san bersama selama itu membuatku pusing. Aku sangat kecewa dengan sikap Red-san yang menganggapku hanya teman biasa. Aku ingin saja langsung menyatakan perasaanku padanya, tapi...

Aku terlalu malu kalau aku dekat dengannya. Aku pasti selalu memerah karena malu. Aku juga tak berani mengungkapkannya, takut persahabatan kami hancur lebur berantakan.

Namun untung saja aku punya teman-teman yang baik. Blue, contohnya, selalu menyemangatiku saat aku bersama Red-san. Green pernah melatihku dan itu berguna saat aku mencari Red-san.

Tapi aku tahu, aku benar-benar tahu sekarang. Aku semakin tua dan besok usiaku 17 tahun. Aku tak bisa terjebak dalam fantasi kekanak-kanakanku terus-menerus. Aku harus berubah. Aku harus berani. Aku harus bergerak sendiri.

Semuanya, untuk mendapatkan Red-san secara utuh, keseluruhan, dan total.

Aku melihat Blue tersenyum lagi.

"Gampang. Aku punya firasat kalau si Tn. The Densest Champion of Kanto sudah memutuskan untuk menyadari perasaanmu, Yellow. Dan firasatku sangat kuat," kata Blue.

"Eh? Benarkah? Tapi..."

"Tapi kenapa? Ini kesempatan emasmu, Yellow! Kau bisa ungkapkan perasaanmu tepat di usaimu ke-17. Hidupmu akan menjadi suatu hal yang kaukenang, dan hari besok adalah puncaknya! Oh, ya kau tahu kenapa orang-orang di sini menamai pulau ini Sumatera? Karena artinya "Tanah Emas". Sebuah tanah dimana banyak kesempatan emas muncul. Yang kau harus lakukan adalah memanfaatkan kesempatan emas itu dan mendapatkan emasmu yang bernama Red!" seru Blue.

"Aku tahu, tapi... aku masih malu..."

"Malu apa lagi? Kau cantik, baik, berbakat, kuat, cerdas, pokoknya semua yang diinginkan laki-laki normal ada pada dirimu,"

"Tapi, tubuhku..."

Masih pendek dan belum "berkembang penuh"...

"Ahhhh... Red itu orangnya masa bodoh dengan hal itu," kata Blue.

"Benarkah?" tanyaku, tak percaya dengan apa yang dikatakan Blue.

"Bahkan dengan latihan dengan si mesum Gold di Gunung Silver, sifat Red masih sama dan baik. Memang saat itu dia hanya berfokus untuk menjadi yang terkuat. Tapi kau ingat kan kenapa dia ingin menjadi lebih kuat?" tanya Blue. Saat itulah aku sadar...

"Benar, dia ingin menjadi lebih kuat karena dia ingin menjadi Gym Leader di Viridian, lalu kau pernah bilang padaku kalau itu janji Red padamu kan?"

Aku hanya mengangguk malu, mengingat janji Red yang sepertinya masih dia jaga dengan baik.

"Inilah saatnya kau untuk memberinya imbalan karena telah menjaga janjinya. Walaupun dia gagal, dia juga pantas mendapatkan imbalan darimu," kata Blue. Akhirnya aku tersenyum dan mengangguk dengan yakin.

"Nah, itu baru Yellow. Aku mau makan. Kau ikut tidak?" tanya Blue.

"Aku ingin mandi dulu,"

"Oke, kutunggu di ruang makan. Jangan ketiduran di bak mandi lho..." kata Blue sambil tertawa, meninggalkan kamar. Aku juga terkekeh dan masuk ke kamar mandi.

Beberapa saat kemudian...

Aku sudah berada di ruang makan. Aku mengambil makanan yang ada di sana. Sebenarnya aku bingung ingin makan apa, karena makanannya banyak sekali. Lalu aku putuskan untuk memilih...

Nasi goreng dan teh hangat...

Aku melihat teman-temanku sudah selesai makan. Blue termasuk di antara mereka.

"Yellow, kau ketiduran lagi ya?" tanya Blue.

"Tidak, aku memang ingin menikmati mandiku saja, hehehe..." kataku.

"Untung saja makanannya belum habis. Tadi Diamond datang ke sini dan langsung mengambil 5 porsi nasi goreng, 8 tusuk sate, 3 mangkuk bakso, 4 mangkuk soto, 2 mangkuk pempek, dan 20 gelas jahe merah. Lihatlah sekarang nasibnya Diamond seperti apa," kata Wally sambil menunjuk ke arah Diamond yang duduk di pojok ruangan dengan rupa yang superlemas karena baru saja memakan Indonesia.

"Diamond, kau tak apa-apa?" tanya Platinum.

"Hanya kekenyangan, nona..." kata Diamond.

"Aduh, kan aku sudah bilang, sudah kuperingatkan untuk mengikat Diamond kuat-kuat agar dia tak makan banyak-banyak," kata Platinum pada Pearl.

"Habis dia kuat sekali, sekali lihat makanan, dia langsung menyedot apa yang dia lihat bagaikan lubang hitam," kata Pearl.

Dan aku hanya tertawa melihat Trio Sinnoh yang menikmati makanan Indonesia dengan cara mereka. Aku juga menikmatinya dengan caraku.

Memakannya.

Karena yang lain sudah selesai, mereka pergi untuk berkeliling. Itu juga perintah Blue.

"Oke, teman-teman! Kalian sekarang bebas berpetualang di kota ini. Jangan lupa kembali jam 7 malam!" seru Blue, lalu semuanya bubar. Meninggalkanku sendiri yang masih belum selesai makan.

Red's POV

Ruang makan sepi ya? Aku tak mendengar banyak suara dari sana. Kuharap makanannya masih ada.

Itu yang kupikirkan saat aku berjalan ke ruang makan. Dan benar saja, sepi. Tak ada orang di sana, tidak ada selain...

Meja, kursi, piring, gelas, sendok, garpu, wadah makanan, wadah minuman, botol saus, botol kecap, lantai, lampu, langit-langit, pintu, jendela, gorden, serbet, taplak meja, Yellow.

Yellow?

Kukucek mataku untuk memastikan tak ada yang salah dengan mataku. Dan saat aku melihat lagi, yang kulihat adalah...

Meja, kursi, piring, gelas, sendok, garpu, wadah makanan, wadah minuman, botol saus, botol kecap, lantai, lampu, langit-langit, pintu, jendela, gorden, serbet, taplak meja, Yellow.

Oke, mataku sehat. Berarti itu benar Yellow.

... dan dia tertidur, lagi?

Aku berjalan masuk ke sana, sekaligus mengambil makanan karena aku belum makan, dan mendekati Yellow yang ternyata benar-benar tertidur. Setelah aku meletakkan piringku di tempatnya, aku membangunkan Yellow.

"Yellow, hei, Yellow, bangun..."

Dia bergerak perlahan. Lalu meregangkan tubuhnya, dan saat dia membuka matanya dan mengarahkannya padaku...

DOUBLE BLUSHES!

Ya... aku dan Yellow langsung tersipu ...

"R-R-Red-san? Kau sedang apa?" tanya Yellow, agak terbata-bata.

"Errmm... makan? Aku lihat kau tertidur, jadi kubangunkan," kataku. Yellow langsung bertambah merah.

"Eeehh... benarkah? Maaf, Red-san! Aku tak sadar kalau aku tertidur," langsung menutup wajahnya karena saking malunya.

"Sudah, tak apa-apa. Eh, tunggu, wajahmu kotor," kataku. Mungkin karena dia tidur di atas piring makannya dan tak ada orang lain yang sadar sebelum aku. Lalu aku mengambil lap dari kantung celanaku dan mulai membersihkan wajahnya Yellow.

Yellow's POV

Red-saaannnn...

Dia membersihkan wajahku, dari dahi sampai dagu, bahkan dia merapikan rambutku, dan membelai pipiku. Red-saaannn... hentikan... kau bisa membuatku meledak...

"Kau manis sekali, Yellow..."

SYSTEM FAILURE! 06.49 UTC+7

Red's POV

Eh? Kenapa Yellow tiba-tiba pingsan? Ah, jawabannya nanti saja. Aku harus membawanya ke kamarnya sekarang.

Langsung saja aku membopong Yellow ke kamarnya, dan saat aku sampai ke kamarnya...

"Blue, Blue, kau ada di dalam? Yellow pingsan dan sekarang kubopong," teriakku. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan Blue muncul.

"Ayo masukkan dia, Red," kata Blue, membawaku dan Yellow ke dalam kamarnya.

Aku meletakkan Yellow dengan hati-hati di kasurnya. Blue terheran-heran.

"Red, kenapa tadi Yellow pingsan?" tanya Blue.

"Entah, tadi dia tertidur di ruang makan saat aku masuk. Lalu aku membangunkannya dan membersihkan wajahnya, dia pingsan," kataku.

"Itu saja?" tanya Blue, tambah heran.

"Sebenarnya setelah aku berkata 'Kau manis sekali, Yellow,', dia pingsan," kataku. Dan langsung saja Blue memasang muka biasanya... biasa?

"Ciiieeeeeeeeee...! Ternyata benar kata Green, Red sudah tobat!" kata Blue.

"Ya... aku mengaku... aku memang menyukai Yellow. Aku sudah bilang ke Green," kataku.

"Dan Green sudah bilang padaku. Entah apa Green juga menyebarkan hal ini ke teman-teman kita yang lain," kata Blue.

Sementara itu...

Green's POV

Aku sekarang sedang bersama Crystal, Silver, dan Gold. Kami sedang meneliti pergerakan Pokemon di Sungai Musi.

"Katanya kau ke sini untuk mengabari berita penting," kata Crystal, di tengah pengolahan katanya.

"Coba kutebak, ada tempat penari telanjang di sekitar sini?" tanya Gold, hanya untuk mendapatkan tendangan dari Crystal. Lalu mereka mulai bertengkar lagi.

"Jadi apa beritanya?" tanya Silver.

"Singkatnya, Red menyukai Yellow, dan Yellow menyukai Red, namun mereka saling tak sadar," kataku.

"Hmmm... Red suka Yellow itu yang membuatku tertarik karena aku sudah tahu kalau Yellow begitu. Dan seharusnya mereka saling mengungkapkan," kana Silver. Aku mengangguk.

"Dan waktunya besok. Di ulang tahunnya Yellow," kataku. Lalu kami melihat drama suami mesum dan istri cerdas itu lagi.

Kembali ke hotel

Blue's POV

"Ahh... aku jadi teringat sesuatu," kataku.

"Apa?" tanya Red. Lalu aku mengambil sebuah buku. Buku yang mengispirasi rencanaku, termasuk yang satu ini.

"Dear You?"

"Ya, ini buku yang isinya luar biasa. Ini bisa jadi hadiah yang cocok untuk ulang tahunnya besok," kataku. Lalu kami memandang Yellow yang masih tidur.

"Dan kau ingin memberikan buku itu padaku?" tanya Red, lantas aku sembunyikan buku itu.

"Enak saja, beli sendiri!"

"Dimana?"

"Toko peralatan astronomi! Ya di toko buku lah..."kataku sambil memukul jidatku sendiri. Red, kau memang sudah tak dense, tapi kau tetap bodoh dalam merencanakan hal itu...

"Baiklah, aku akan pergi ke toko buku dan mendapatkan buku itu!" kata Red, lalu dia keluar dari kamarku.

Aku hanya bisa mendesah sambil menggelengkan kepalaku. Lalu aku memalingkan pandangan ke sosok manusia yang tertidur itu.

"Yellow, kau akan memiliki suami yang sangat setia padamu, Tee-hee..." kataku. Lalu tiba-tiba Yellow mengigau, dan igauan itu yang membuatku kaget.

"Kau benar, Blue..."

Eh? Bocah ini mendengarkan kataku tadi ya?

...

Red's POV

Toko buku, toko buku, dimana aku harus mencari toko buku?

Aku sudah berjalan di sepanjang jalan di kota ini, mencari toko buku. Tapi sampai sekarang, jam 10 pagi, masih belum kutemukan.

Sekarang, aku sedang berada di dekat sungai besarnya, yang tertulis dimana-mana kalau namanya Sungai Musi. Dan mengejutkannya, aku menemukan teman-temanku yang lain di sana. Green, Gold, Silver, dan Crystal.

"Hai, teman-teman!" seruku. Gold langsung terlihat gembira.

"Hey, Senior Red! Bagaimana kau bisa kemari?" tanya Gold.

"Ya, aku sebenarnya mencari toko buku. Kalian tahu di mana ada toko buku di dekat sini?" tanyaku. Crystal langsung menjawabnya.

"Aku tahu. Sebelum kami ke sini, aku berhenti sejenak di toko buku. Senejak, karena Gold tak suka toko buku dan isinya," kata Crystal dengan nada sebal.

"Padahal buku di sana bagus, dan bahkan mereka punya buku tentang karakteristik Pokemon di sekitar sini. Hanya itu yang kubeli, lalu kami kemari untuk melihat apa yang ada di buku ini," tambahnya.

"Ya, kau tinggal lurus di sana, lalu kau belok kiri sekitar 200 meter, dan kau akan menemukan toko bukunya," kata Silver, menjelaskan posisinya.

"Wah, terima kasih, Silver," kataku.

"Ngomong-ngomong, kenapa kau ingin pergi ke toko buku?" tanya Green.

Waktunya menyalakan mode pembohong! Aku tak mau mereka tahu kalau aku mencari buku untuk hadiah untuk Yellow!

"Ummm... aku mencari buku yang sama dengan Crystal," kataku, berpaling ke arah sungai. Lalu tiba-tiba Green mendorongku.

"HEI, APA-APAAN INI, GREEN?" lalu aku melihat Green dengan tatapan gelapnya.

"Aku tahu kau berbohong, Red. Kau bukan Blue, juga bukan Ruby. Kau Red, The Densest Champion of Kanto yang pergi ke toko buku untuk mencari buku sebagai hadiah untuk—"

"CUKUP!" langsung aku memberontak dan lari ke arah toko buku itu.

Green's POV

Aku tahu pasti dia mencari buku itu... kau cerdas, Blue.

"Itu, Red kan? Tingkahnya bukan seperti Red yang kuhatu," kata Silver.

"Itu namanya salah tingkah, sering terjadi untuk orang yang jatuh cinta, dan dalam kasus ini—" langsung Gold terdiam. Aku tersenyum lagi. Aku melihat semuanya juga sadar.

"Kataku benar, kan?" tanyaku. Silver mengangguk. Gold dan Crystal bingung.

Sementara itu,

Red's POV

Hah...hah...hah... akhirnya sampai...

Akhirnya, aku sampai ke toko buku yang diberi tahu mereka tadi. Untung aku selamat dari pukulan Green atas kesalahanku menyembunyikan rahasia itu...

Atau mungkin Green sudah memberi tahu mereka...

Ahh... aku tak peduli tentang itu sekarang. Sekarang, waktunya mencari buku. Dengan uang cukup banyak, pasti buku itu bisa kubeli.

Aku lansung masuk ke toko buku itu. Dan pencarianku dimulai.

Sementara itu...

Ruby's POV

Aku melihat Green, Gold, Silver, dan Crystal kembali ke hotel, dimana aku saat itu sedang memperhatikan model pakaian di butik yang berada di dekat hotel. Aku saat itu melihat pakaian kuning di sana. Ada Sapph di sampingku, jadi aku minta pendapatnya.

"Hei, Sapph, bagaimana kalau pakaian kuning itu sebagai oleh-oleh?" tanyaku.

"Eh? Apa kau bilang? Aku kan sudah bilang aku lebih suka biru, Ruby!" cetusnya.

"Ya, yang modelnya seperti ini hanya ada yang kuning," kata Ruby. Lalu tiba-tiba Sapph seperti mendapatkan sesuatu di pikirannya.

"Eh, Ruby," katanya.

"Apa?" tanyaku.

"Aku heran dengan Senior Yellow. Dia kan suka Senior Red, kenapa dia tak ingin menyampaikan perasaannya saja?" tanyanya. Aku akhirnya ikut berpikir.

"Benar juga. Kalau itu karena dia terlalu muda, seperti yang kau lakukan di Pulau Mirage saat itu, tidak mungkin. Dia besok sudah 17 tahun," kataku.

Satu informasi, aku memang pura-pura lupa kejadian "itu" karena apa yang kusebut tadi. Dan setelah pertunjukkan Litleonids itu, aku mengaku dan aku rela dihajar habis-habisan selama 7 hari 7 malam oleh manusia yang satu ini, tapi sisanya, aku senang, dia senang, kami senang.

"Hmmm... lalu kenapa ?" tanya Sapph, lalu tiba-tiba...

"Mungkin dia terlalu malu untuk mengungkapkannya," kata pemilik butik.

"Err... maaf?" tanyaku.

"Aku pemilik butik ini. Aku juga dulu punya masalah seperti yang teman kalian itu rasakan," katanya. Sepertinya dia bisa membantu. Kami memutuskan untuk mendengarkan ceritanya.

"Suamiku dulu, saking terobsesinya untuk menjadi astrofotografer terbaik di dunia, sampai tak sadar perasaanku. Lalu aku juga terlalu malu untuk menyampaikannya,"

Sementara itu, Emerald dan Wally bertemu dengan suami si pemilik butik itu di dekat Jembatan Ampera, mempersiapkan alat untuk merekam gerhana matahari.

Emerald's POV

"Tinggal finishing, dan selesai!" katanya. Puas dengan hasil yang dia lihat.

"Ahh... syukurlah, selesai. Jadi seperti ini ya kalau ingin merekam gerhana matahari?" tanyaku.

"Yap! Aku tak menyangka ada anak yang suka merakit sesuatu seperti ini," katanya.

"Ya, dia memang punya kekurangan, namun kekurangannya itulah yang membuatnya lebih kuat dan tangguh," kata Wally.

"Ayolah, berhenti mengatakan itu," kataku.

"Nah, proses perekaman sudah dimulai. Sekarang, aku ingin menceritakan sesuatu pada kalian. Ini tentang istriku," katanya. Aku dan Wally duduk di sampingnya.

"Istriku sekarang adalah pemilik butik. Dia desainer baju yang sangat terampil. Dan kau tahu kenapa? Dia suka menggambar. Dan kau tahu apa yang dia suka gambar?" pipinya memerah saat dia ingin melanjutkan ceritanya.

"Dia suka menggambarku... saat itu memang aku tak terlalu peduli karena aku sedang berjalan menuju cita-citaku,"

Sambung-menyambung...

"Aku hanya bisa mengaguminya dari gambar yang kubuat,"

"Dia sangat pemalu, tapi sangat cantik. Rambut panjang terurainya, badan kecil rampingnya, sampai fakta bahwa dia 2 tahun lebih muda daripada aku,"

"Dia bahkan berani keluar malam-malam hanya untuk melihat gerhana bulan,"

"Oh, ya, aku lupa. Dia juga bagaikan kotak PPPK berjalan bagiku. Saat aku sakit, dia selalu ada untukku,"

"Aku pernah berjanji padanya kalau aku menemukan komet, akan kunamai dengan namanya,"

"Dan kalau dia benar-benar berhasil, aku akan membuatkannya baju khusus astrofotografi untuknya,"

"Dan 8 tahun yang lalu, aku berhasil menemukan komet, kuberi nama dengan namanya, dan IAU menyetujuinya,"

"Dan aku langsung membuatkannya baju. Dan saat pengukuran baju itulah..."

"Aku langsung memeluknya, dan melamarnya..."

"... aku langsung pingsan saat itu juga..."

Si pria mengambil napas.

"Kalian tahu, inilah pakaian yang dia jahitkan untukku," katanya. Aku dan Wally melihat kagum dengan baju itu.

"Wah... kisah kalian benar-benar..." Wally terlihat terharu dengan cerita itu. Aku? Tak jauh beda.

"Jadi teringat Senior Red dan Senior Yellow..." kataku.

"Siapa mereka?" tanya si pria itu.

"Teman kami, mereka juga ke sini. Mereka punya setengah cerita yang sama dengan bapak. Sayangnya..." kataku, lalu menundukkan kepala.

"Kenapa?" tanyanya.

"Mereka saling menyukai, tapi tak ada yang ingin memulai," lalu si pria tersenyum.

"Oh, itu? Tenang saja, waktu mereka pasti datang. Dan melihat keadaan di sini, waktunya dekat. Sangat dekat," kata si pria.

Kembali ke butik...

Sapphire's POV

"Ibu yakin waktunya dekat?" tanyaku.

"Sangat yakin. Aku yakin kalau suamiku juga akan berpikiran sama," katanya sambil tersenyum.

"Adakah sesuatu yang harus kami lakukan untuk menolog kedua teman kami itu?" tanya Ruby.

"Tidak... kalian tak perlu melakukan apa-apa. Biarkan mereka melakukannya secara alami. Mereka pasti akan bersatu, seperti aku dan suamiku, bahkan lebih baik lagi. Aku yakin itu," kata si wanita.

Sementara itu, di toko buku...

Red's POV

"Bu, ini bukunya," aku berhasil menemukan bukunya.

"'Dear You' ya? Pasti ini untuk ulang tahun orang yang kau sukai," dan pipiku memerah langsung.

"Tak perlu dijawab. Ekspresi tubuhmu sudah menunjukkan jawabannya. Harganya 70000 rupiah," lalu aku mengecek dompetku. Dan...

"Ups, maaf, uangku Yen semua," kataku, agak malu karena lupa pergi ke jasa penukaran mata uang.

"Tak apa-apa. Kami juga melayani pembayaran dengan semua mata uang asing. Kalau jadi Yen, berarti 590 Yen," kata si kasir. Lalu aku memberikan uangnya.

"Terima kasih, dan semoga berhasil dengan kisah kalian!" kata si kasir, dan aku hanya bisa menggaruk kepalaku, malu karena rahasiaku sepertinya akan tersebar di seluruh kota ini, sepertinya... hehehe.

"Terima kasih..."

Dan itu butuh waktu 2 jam untuk mencari buku itu. Sekarang kembali ke hotel dan makan.

Dan menyimpan buku itu untuk besok...

Di hotel...

"Red, dari mana saja kau? Kami menunggumu," kata Blue yang langsung menyambutku di ruang makan.

"Lha, katamu—" langsung dia menutup mulutku. Lalu dia berbisik padaku.

"Kau ingin membocorkan rahasiamu sendiri?"

"Ups..." lalu Yellow...

"Sudah, Blue-san, nanti Red-san kehabisan udara,"

"Oh, ya. Aku lupa!" lalu Blue melepaskanku dan kami berjalan ke meja makan. Aku tak lupa pula mengambil makananku: nasi dengan daging ayam, es teh, dan sayur pare.

Oke, langsung saja, aku duduk di kursiku, dan siap untuk makan. Saat akhirnya aku masukkan sayur pare ke mulutku, tiba-tiba, aku baru tahu rasa pare itu bagaimana.

"PAAHIIIIIIITTTTTT!" seruku sambil mencari sumber manis, bahkan sampai lupa kalau aku punya sumberku sendiri: es teh. Sampai...

"Ini, Red-san, minum!" seru Yellow, meminumkanku es tehnya. Aku langsung meminumnya, dan akhirnya rasa pahit di mulutku berangsur hilang. Dan aku melihat Yellow memasang muka khawatir.

"Red-san, seharusnya Red-san makannya pelan-pelan, terutama makanan yang baru saja kau kenal," kata Yellow. Aku hanya bisa menggaruk kepalaku.

"Hehehe... maaf, aku lapar sekali sih..." kataku, lalu keadaan kembali ke normal.

Tapi entah kenapa aku sangat menikmati keadaan tadi ya? Diberi minuman oleh Yellow...

"Ummm... Yellow, ..."

"Ya?"

"A-aku... ingin mengajakmu jalan-jalan berkeliling kota. Kau mau kan?"

Yellow's POV

Cium aku pakai Red-san, aku pasti bermimpi!

Red-san mengajakku jalan-jalan?

"Be-benarkah, Red-san? Kau mengajakku..." aku melihat Red-san mengangguk.

Aku merasa jantungku berdebar semakin cepat dan keras bagaikan, entahlah bagaikan apa, yang penting, aku begini karena...

Aku sangat senang diajak Red-san jalan-jalan... Yellow? Yellow?

"Yellow? Kau tak apa-apa?" aku keluar dari lamunanku karena Red-san memanggilku.

"Emmm,... ya, a-aku tak apa-apa, hehehe..."

"Syukurlah,... Ayo habiskan makanannya, agar kita bisa mulai," kata Red-san.

"Ya!" kataku, mengangguk tanda setuju dengan kata dari Red-san tadi. Lalu kami melanjutkan makan sampai makanannya habis.

Setelah itu, aku kembali ke kamar untuk mengambil sedikit keperluanku, beitu pula denganRed-san Lalu, saat akhirnya aku selesai, ternyata Red-san sudah menunggu di depan kamarku.

"Kau sudah siap, Yellow?" tanya Red-san. Aku mengangguk. Lalu kami berjalan keluar dari hotel.

Sementara itu...

Blue's POV

"Oke, kita harus susun rencana untuk membuat Red dan Yellow bisa bersama," kataku. Semua orang kecuali mereka berdua sekarang ada di atap hotel. Tenang, ada atapnya juga kok, jadi kami tak kepanasan.

"Errmmm... sebenarnya, Senior Blue, itu tak diperlukan," kata Sapphire.

"Eh? Ayolah, mereka tak bisa bersama kalau tak ada apapun untuk dipacu, dan aku akan menjadi katalis untuk mereka,"

"Katalis yang justru akan mengakibatkan ledakan yang tidak perlu. Aku sarankan kau dengarkan mereka dulu. Mungkin mereka punya ide bagus," kata Green. Aku sedikit terkejut dengan apa yang Green katakan, tapi, baiklah.

"Oke, kenapa, Sapphire?" tanyaku.

"Aku bertemu pemilik butik dekat sini, dia bercerita banyak hal tentang dia, suaminya, dan kisah cinta mereka," kata Sapphire.

"Wah, kami juga bertemu seorang fotografer dengan teleskop, menceritakan hal yang sama," kata Wally.

"Eh, jangan-jangan kalian bicara dengan suaminya si pemilik butik itu ya?" tanya Ruby. Emerald dan Wally mengangguk.

"Intinya adalah, kita tak perlu melakukan apa-apa untuk membantu mereka. Kita biarkan mereka untuk menyatu sealami mungkin. Aku langsung setuju dengan idenya karena yang alami memang lebih baik," kata Sapphire.

"Kita juga tidak seharusnya mengganggu privasi mereka. Aku kasihan pada Senior Yellow jika kisahnya terekspos ke publik. Aku membaca buku dan di sana aku bisa membuat kesimpulan bahwa Senior Yellow itu orang yang tak ingin muncul di muka umum, jadi kita biarkan saja dia. Selama dia di dekat Senior Red, dia akan baik-baik saja," kata Platinum, lalu meminum tehnya dengan gaya bangsawan.

"Jadi, kita hanya diam saja?" tanyaku.

"Tidak, yang kita bisa lakukan sekarang adalah mempersiapkan pesta untuk ulang tahunnya Senior Yellow. Aku yakin kita pasti bisa, walaupun sederhana," kata Ruby.

"Ya, kita bisa jadi bagian hiburannya!" seru Diamond yang masih saja makan.

"Hei, perasaan kau sudah makan pempek 3 mangkuk, sekarang kau makan lagi?" tanya Pearl. Sementara itu...

"Tunggu, aku masih bingung. Jadi, ternyata Senior Red dan Senior Yellow saling menyukai sekarang?" tanya Gold.

"Aduh, kenapa kau tak paham juga, Zona Goldilock? Masalahnya hanya mereka masih belum sadar, dan sepertinya mereka sedang berjalan untuk keluar dari sana," kata Crystal.

"Itu berarti misi kita satu sekarang. Membuat pesta ulang tahun yang tak terlupakan untuk Senior Yellow. Sebagai sesama penduduk Viridian, aku tahu apa yang dia suka selain Senior Red dan hobinya," kata Silver.

Aku suka adikku yang satu ini. Dia memberikan tema, dan temanya apa? Hutan. Dan kami berkoordinasi dengan hotel untuk mempersiapkan segala dekorasi yang berkaitan dengan hutan. Dan kami mencari hadiah yang cocok untuknya.

Ahh... paling tidak tugasku sedikit enteng sekarang. Ruby membuatkan pakaian untuk Red dan Yellow, Diamond dan Pearl sudah menggagas hiburan dan makanan, Platinum yang menjadi sponsor, dan yang lainnya menggagas hadiah, ditambah orang-orang hotel yang melakukan dekorasi dengan bantuan Emerald.

Sepertinya rencanaku batal, tapi tetap saja akan berakhir seperti yang kuperkirakan dalam rencanaku.

Sementara itu...

Red's POV

Aku dan Yellow sekarang sedang berjalan-jalan di pinggira Sungai Musi. Kami melihat kapal-kapal berkeliaran di sekitar sungainya. Kami juga melihat Jembatan Ampera.

Dan dari perjalanan, kami juga melihat benda yang sama terus.

"Hmmm... Red-san?"

"Ya, Yellow?"

"Sepertinya mereka sudah antusias dengan gerhana matahari itu," kata Yellow. Lalu aku melihat sekitar, cukup banyak poster dan spanduk yang berhubungan dengan gerhana matahari. Lalu aku mengangguk.

"Kau benar, Yellow," lalu aku dan Yellow memilih untuk berteduh di sebuah tempat yang orang di sana menamakannya warung makan.

Seperti restoran, hanya saja lebih sederhana dan lebih merakyat. Aku melihat Yellow yang tampak kepanasan.

"Kau ingin minum, Yellow?" tanyaku. Dan dia mengangguk.

"Kau ingin minum apa?" tanyaku. Lalu Yellow melihat sekitar dan memutuskan...

"Es jeruk sepertinya enak," katanya sambil tersenyum lemas karena kelelahan.

"Bu, es jeruk, dua," kataku.

"Siap, nak!" kata ibu penjual di warung itu.

"Makannya apa?" dia balik bertanya. Aku penasaran dengan suatu makanan. Benda bulat dengan sayuran di sekitarnya, mi, dan lain-lain. Ada tulisannya: bakso.

"Umm... bakso?" tanyaku.

"Oh, kalian turis ya?" tanya si penjual. Aku dan Yellow mengangguk. Langsung si penjual menyambut kami.

"SELAMAT DATANG DI PALEMBANG! KOTA SRIWIJAYA YANG INDAH DAN BERMARITIM KUAT INI SIAP MELAYANI SETIAP TAMU YANG DATANG! DAN INGAT, 9 MARET 2016 BESOK, PALEMBANG AKAN MENGALAMI KEGELAPAN TOTAL KARENA GERHANA MATAHARI TOTAL. JANGAN TAKUT, JANGAN KHAWATIR, KAMI PUNYA INI!" dia menunjukkan kacamata matahari pada kami.

"Wah, kacamata! Tapi, ini lapisan apa?" tanya Yellow.

"Itu filter matahari, bisa membuatmu melihat matahari tanpa terasa silau," kata seorang laki-laki di samping kami, dia memakai pakaian yang terlihat seperti petualang dengan teleskop di sampingnya.

"Oh, begitu ya?"

"Kalian ingin coba?" tanya ibu penjual itu. Kami mengangguk.

"Tolong ya, pak. Bapak ajarkan mereka cara menggunakan kacamata ini," kata ibu itu.

"Ya, bu. Baiklah, kalian berdua. Sambil menunggu bakso kalian datang, akan kutunjukkan kalian bagaimana cara menggunakan kacamata ini," kata si pria.

Lalu kami keluar, melihat sekitar. Langitnya cukup cerah hari ini.

"Nah, pakai kacamata kalian seperti kalian memakai kacamata biasa," kata si pria. Dan apa yang terjadi berikutnya...

"Red-san, aku tak bisa melihat apa-apa," kata Yellow.

"Sama, Yellow," kataku

POV-nya si pria astrofotografer tadi...

'Red? Yellow? Bukankah itu orang yang dikatakan 2 orang itu tadi ya? Jangan-jangan ini orangnya,' pikirku. Namun aku memutuskan untuk melanjutkan latihan mereka.

"Oke, sekarang lihatlah ke matahari, dan beri tahu aku apa yang kalian lihat," kataku. Tentunya untuk mencari matahari saat kau tak bisa melihat apa-apa yaitu dengan merasakan panas dari matahari itu sendiri, semakin panas, semakin pas kau menghadap matahari.

Yellow's POV

"Red-san! Red-san! Kau lihat lingkaran jingga itu?" kataku, berhasil melihat benda lingkaran itu.

"Oh, ya, itu ya yang namanya matahari?" tanya Red-san.

"Nah, kalian berhasil melihat matahari untuk pertama kalinya," kata si pria. Lalu dia tertawa.

"Tentunya tanpa merasa silau, hehehe..."

"BAKSONYA SIAP!" aku mendengar teriakan dari warung, sepertinya baksonya Red-san sudah siap.

"Oke, ayo kembali ke warung," kata si pria. Kami kembali ke warung dan akhirnya Red-san dapat menikmati bakso yang dia pesan.

"HMMM! ENAK! ENAK! YELLOW, KAU HARUS COBA!" kata Red-san, terlihat senang sekali.

"Hehehe, sepertinya turis kita baru pertama kali makan bakso," kata si pria. Aku juga tertawa mengetahui kalau aku juga belum pernah makan bakso.

"Nah, Yellow. Kusuapi baksonya," Eh?

Red-san ingin menyuapiku makanannya, kata Blue, cerita 'saling menyuapi' di tempat ini hanya terjadi secara resmi saat...

PERNIKAHAN...

Wajahku langsung memerah merona... tapi aku juga tak bisa menolak bakso dari Red-san, jadi...

Akhirnya, Red-san menyuapiku dengan sebuah bakso kecil.

POV-nya si pria astrofotografer

'Lihatlah, Jenar, mereka seperti kita waktu muda...' pikirku,melihat laki-laki muda yang menyuapi perempuan muda itu sambi menepuk dada kiriku dimana emblem namaku berada.

Rekta

Lalu aku melihat pulau itu. Dan aku langsung mendapatkan ide.

"Hei, kalian lihat pulau di sana?" tanyaku. Dua orang itu melihat ke arah pulau itu, dan mereka mengangguk. Si penjual itu juga melihatnya.

"Oh, Pulau Kemaro itu ya pak?" aku mengangguk. Dan entah kenapa, idenya si penjual itu sama dengan ideku.

"Kalian harus ke sana, nak. Di sana bagus sekali," sembari aku menuliskan sesuatu di secarik kertas. Dan saat aku selesai menulis, si penjual memulai ceritanya.

Zaman dahulu kala, ada seorang pangeran dari Tiongkok bernama Tan Bun An. Dia ingin berdagang di kota ini, jadi dia meminta izin kepada raja. Sang raja setuju kalau dia memberikan sebagian keuntungannya untuk kerajaan, dan dia sanggup.

Setiap si pangeran memberikan keuntungannya kepada sang raja, dia melihat sang putri, Siti Fatimah. Pada akhirnya, mereka saling mencintai. Sang pangeran akhirnya memberanikan diri untuk melamar sang putri. Sang raja setuju dengan syarat sang pangeran membawakannya 9 guci berisi emas. Dia bersama sang putri lalu pergi ke Tiongkok, mempertemukan sang putri dengan orang tuanya sang pangeran.

Kemudian, mereka kembali ke sini. Sudah ada 9 guci itu, dan untuk mengelabuhi bajak laut, emasnya disembunyikn di bawah tumpukan sawi busuk. Namun sang pangeran tak tahu kalau emasnya ada di sana, dan saat dia melihat gucinya berisi sawi busuk, dia langsung saja membuang guci itu, dan saat dia tahu ada emas yang tercecer dari guci yang dia buang itu, dia terjun ke sungai untuk mengambil emas itu lagi.

Salah satu pengawalnya juga ikut terjun. Mereka berdua tak pernah muncul lagi. Ini membuat sang putri sangat khawatir. Pada akhirnya, karena cintanya pada sang pangeran, dia memutuskan untuk terjun terjun, ada kalimat yang ia katakan.

"Jika ada tumpukan tanah di tepian sungai ini, berarti itu kuburan saya,"

Dan benar saja, beberapa hari kemudian, ada tumpukan tanah di tempat sang putri terjun, dan semakin lama, semakin besar, sampai membentuk sebuah pulau. Pulau itulah yang dinamakan Pulau Kemaro.

"Kemaro, dalam Bahasa Indonesia mirip dengan 'kemarau', dan memang unik karena pulau itu tak pernah kebanjiran bahkan walaupun sungainya meluap hebat," kata si pria.

"Dan di sana, ada sebuah pohon yang menjadi perlambang cinta sejati. Konon, siapapun yang menuliskan nama mereka di pohon mereka, hubungan mereka akan langgeng," kata si penjual.

"Hei, itu bukan konon lagi, entah kenapa, aku pernah menuliskan namaku dan nama istriku di sana, dan sekarang, kami masih bersama dan bahkan siap punya anak ketiga, kuharap tulisannya masih ada. Kalian cobalah tulis nama kalian di sana, mungkin nasib kalian akan seberuntung, eh, bukan, lebih beruntung daripada kami," kata si pria.

Yang bisa kami berdua lakukan adalah memerahkan pipi. Sepertinya memang kisah kami sudah tersebar ke seluruh kota, lalu aku merasa tanganku dipegang oleh sesuatu.

Tangannya Red-san...

"Yellow, besok, akan kubawa kau ke Pulau Kemaro," kata Red-san, dengan suara meyakinkannya. Dan aku bisa melihat 2 orang di sekitar kami terlihat kaget, lalu senang.

Aku hanya terdiam dan tersentuh.

Aku tak pernah menyangka, Red-san, yang selama ini bodoh di depanku, sekarang telah berubah.

Aku... aku... aku tak bisa menahannya lagi...

Aku ingin menangis, menangis bahagia karena akhirnya, Red-san paham perasaanku padanya...

Red's POV

"Red-saaaaannn..." dia masih memelukku dan masih menangis. Aku hanya bisa tersenyum dan memeluknya balik, sekaligus menenangkannya.

"Sudah, sudah, Yellow. Maaf kalau aku selama ini dense di depanmu. Aku tak tahu ternyata ini juga yang kurasakan selama ini," kataku.

"Red-san..."

"Ya?"

"Kau janji akan mengajakku ke Pulau Kemaro besok?" tanya Yellow. Lalu kuhadapkan Yellow sehingga dia bisa melihat wajah meyakinkanku.

"Ya, aku janji," kataku. Lalu, aku kembali perjalanan.

"Oke, ayo kita lanjutkan perjalanan kita! Masih banyak tempat untuk dijelajahi," kataku.

"Ya!" angguk Yellow yakin.

"Oke, lovebirds, ini kartu namaku. Maaf, kalau hanya kertas biasa, tapi suatu saat kalian akan membutuhkannya," kata si pria. Kertasnya tertulis

"Kepada Red dan Yellow

Teruslah berjuang. Kalian berhak bersama, terlihat dari apa yang terjadi kali ini. Kalian tahu? Nama kami dan nama kalian memiliki arti yang sama. Jadi, tak akan heran kalau nanti nasib kalian akan seberuntung kami, dan justru kami yang akan iri kalau nasib kalian lebih baik dari kami. Semoga kalian tetap rukun sampai kalian sampai ke singgasana surga.

Rekta dan Jenar"

Kami berdua tersenyum, dan akhirnya setelah membayar, aku dan Yellow meninggalkan warung.

"Terima kasih, Pak Rekta!" seru kami, melanjutkan perjalanan.

"Hati-hati di jalan!" serunya.

Dan perjalanan kami di Palembang berlanjut.

Dan perjalanan cinta kita dimulai, Yellow. Memang kita belum resmi sekarang, namun paling tidak, kita sudah tahu kalau kita saling mencintai.

Besok, adalah waktu yang tepat. Kita akan bersatu di sana, Yellow...

Sorenya...

Blue's POV

Aku melihat jam. Sekarang sudah jam 17.44. Aku sudah bilang tadi kembali ke hotel jam 19.00. Semuanya kembali ke hotel, kecuali 2 orang itu.

"Ya, lebih baik aku biarkan saja mereka dulu. Pasti mereka sedang berkencan atau yang mirip dengan itu," kataku. Lalu aku melihat Green mendekatiku. Aku hanya berdiri di depan gerbang hotel sambil melihat Green mendekat.

"Sedang apa kau?" tanya Green.

"Menunggu mereka berdua?" kataku. Aku melihat Green tersenyum.

"Ahh... mereka sudah besar, tak perlu kau menunggu mereka. Lagipula, kalau ada preman yang datang ke mereka, mereka tak tahu berhadapan dengan siapa. Sang Petarung," kata Green. Lalu akhirnya aku dan Green memilih masuk ke hotel kembali.

Sementara itu...

Diamond's POV

Asik, uji makanan lagi! Indonesia memang banyak makanannya! Tadi ada, sekarang ada, besok pasti ada juga! WAAAAHHHH! RASANYA INGIN PINDAH KE SINI!

Tapi, nona nanti bagaimana...

Ah, kenapa aku malah berpikir itu sih?

"Dia? Kau ingin makan makananmu atau tidak?" tanya Pearl, mengeluarkanku dari alam pikirku.

"Oh, yayaya! Aku makan!" dan aku langsung mengambil 4 tusuk sate.

"Emmm... Diamond, seharusnya kau tidak mengambil banyak sate itu. Itu sate kambing. Aku pernah membaca kalau terlalu banyak sate kambing dapat membuatmu hipertensi," kaua Nona.

"Eh? Benarkah? Ini, Pearl! Coba 2 tusuk," kataku, memberikan 2 tusuk satenya pada Pearl.

"Eh, kau benar-benar memberikannya padaku?" tanya Pearl.

"Lebih baik aku kelaparan daripada mati terkena serangan jantung. Aku kasihan nanti yang membantumu dan Nona nanti siapa," kataku. Dan mereka berdua terpana.

"Wow, kau sehat kan?" tanya Pearl. Aku mengangguk.

"Aku baru tahu, semua makanan ini memiliki keuntungan dan keburukan, dan keburukan itu muncul saat kau memakannya terlalu banyak. Dan saat keburukan itu muncul, semua orang pasti menangis. Aku tak ingin orang-orang menangis karena kebodohanku. Aku ingin membuat mereka tertawa," kataku.

"Karena kau seorang komika?" tanya Nona.

"Bukan hanya itu. Tapi karena aku memang ingin membahagiakan orang yang kucintai," kataku sambil menatap Nona sesekali.

"Dia..." Pearl dan Nona kembali terpana. Lalu...

"Sudahlah, ayo makan lagi!" seruku. Aku rasa apa yang kukatakan sia-sia saja, hehehe...

Dan tentang preman yang dikatakan Blue tadi, itu jadi kenyataan...

Red's POV

"Wah, sudah sore. Yellow, ayo kita pulang," kataku. Yellow mengangguk. Dan di tengah perjalanan, tiba-tiba...

"Wah, wah, wah, ada sejoli sedang jalan-jalan di wilayah kita nih..."

"Siapa kalian?" teriakku. Lalu 5 orang dengan tampang mengerikan muncul.

"Yellow, tetap di belakangku," Aku sudah mempersiapkan posisi menyerangku. Dan untungnya aku membawa Pokemon-ku.

"Kamu tak tahu siapa kami?Kami adalah Preman Mutilator Sadis, senang memutilasi. Hey, gadis pirang, bersiaplah, laki-lakimu akan kami potong-potong tepat di depanmu. Kau akan jadi gila dan kau tahu akibatnya, HAAAAAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!" itu pasti pemimpin dari para preman ini.

Aku merasa Yellow memegang bajuku lebih kencang.

"Yellow, jangan khawatir, mereka hanya menggertak," kataku. Lalu mereka melanjutkan gertakan mereka.

"Kecuali kau memberikan gadis pirang itu pada kami, kau bebas," kata si pimpinan, lalu mereka tertawa lagi. Dan tiba-tiba aku mendapatkan ide.

"Yellow, Pika dan Chuchu..." kataku.

"Aku paham, Red-san," kata Yellow. Dan akhirnya kami memutuskan untuk memasang posisi penyerangan.

"Wah, menarik, ternyata si gadis ini nakal juga! Dia bisa jadi target empuk, bos!" seru anak buahnya. Dia tersenyum.

"Jangan remehkan Yellow! Ayo keluar,Pika!" seruku dan Pika keluar dari Pokeball-nya.

"Chuchu, kau juga keluar!" seru Yellow. Semua preman itu nampak kaget.

"Makhluk apaan itu? Seperti tikus saja!" lalu mereka tertawa lagi.

Di tengah tertawaan mereka, sepertinya Yellow memiliki ide.

"Red-san, pegang tanganku. Aku akan mentransfer energiku, lalu kita lepaskan Megavolt," kata Yellow, sedikit mengagetkanku, karena butuh level besar untuk mengubah kekuatan 100000 V menjadi Megavolt. Tapi Yellow dengan kekuatan dari Hutan Viridian-nya pasti bisa melakukannya.

Aku bersyukur punya Yellow di sampingku

Akhirnya aku menggenggam lengan Yellow, dan level Pikachu kami naik pesat menjadi 96. Cukup untuk Megavolt. Dan mereka masih tertawa. Saatnya untuk mengakhiri semuanya.

"Pika!"

"Chuchu!"

"MEGAVOLT!"

Oke, sekarang pelajaran fisika. Jika ada dua sumber listrik dipasang secara seri, maka hasilnya adalah 2 kali sumber listrik itu. Contohnya, jika ada 2 baterai 1,5 volt dipasang seri, maka terbentuklah sumber listrik 3 volt.

1 Megavolt sama dengan satu juta volt. Jika 2 Pikachu menyerang secara seri, maka hasilnya adalah serangan 2 Megavolt.

Kulit manusia memiliki hambatan tertinggi satu Megaohm. Dan menurut Hukum Ohm, arus listrik yang akan diderita para preman itu adalah 2 Ampere. Lebih dari 100 miliAmpere dan itu cukup untuk membunuh semuanya.

Karena itulah, setelah menyerang, Red dan Yellow langsung lari bersama Pikachu mereka.

Beberapa saat kemudian...

"Fiuh, itu tadi hampir saja ya, Yellow," kataku.

"I-iya, Red-san," lalu aku merasa dia memegangku lebih erat lagi.

"Yellow?" tanyaku.

"Aku... aku tak kuat membayangkan kalau kau di... di... " aku tersenyum, ternyata dia masih takut dengan kata-kata mereka tadi.

"Yellow, selama kita bersama, tidak ada yang akan terluka. Aku jamin itu," kataku, lalu untuk menenangkannya, aku mencium pipinya.

Yellow's POV

Rasa takut itu tadi semuanya musnah hanya karena satu ciuman di pipi kananku saja...

Red-san, kau cerdas sekali...

Malamnya…

Aku dan Red-san pulang ke hotel, dan ternyata kami agak terlambat. Dan sekali kami masuk ke hotel, kami disambut. Bukan dengan keramahan dari petugas hotel, tapi kemarahan dari Blue.

"KALIAN DARI MANA SAJA? IHAT SEKARANG JAM BERAPA? INI SUDAH JAM 20, ALIAS JAM DELAPAN MALAM! KENAPA KALIAN BISA SETERLAMBAT INI?" Oke, ini saatnya untuk menjelaskan apa yang terjadi.

"Ummm, kami bertemu preman tadi, lalu Red-san dan aku mengalahkan mereka dengan menyetrum mereka…" kataku. Langsung saja Blue memasang wajah lega.

"Fiuh, untung saja ada kedua Pikachu itu bersama kalian. Kalau tidak, kau bias tinggal nama…" kata Blue. Lalu dia memasang muka senang.

"Oke, karena aku tahu kalian selamat, ayo kita nonton film bersama!" seru Blue.

"Umm… Blue, sebenarnya kami belum makan," kata Red-san.

"Sama, Blue…" kataku.

"Berarti kalian makan sambil nonton film!" seru Blue. Dia sudah membawa beberapa kotak pizza di belakang punggungnya.

"Eh, itu untuk kami?" Tanya Red-san.

"Bukan, ini sudah kosong. Masih ada di ruang kumpul, pergilah sekarang sebelum Diamond memakan semuanya," kata Blue. Lalu aku dan Red-san memilih untuk cepat pergi ke ruang kumpul.

Namun sepertinya Red-san punya rencana lain…

Dia menarikku pergi dari tempat tujuan asal kami ke tempat lain.

"Uhh… Red-san, kita mau kemana?" tanyaku.

"Hehehe… ke atas," katanya, sepertinya sedikit malu.

"Eh? Ke atas? Untuk apa?" tanyaku. Lalu kami sampai ke lift, dan kami masuk. Red-san memencet tombol untuk lantai paling atas. Kemudian, dia memandangku dengan wajah lelahnya yang tersenyum.

"Mewujudkan keinginanku, melihat bintang-bintang denganmu,"

Dan itu cukup untuk membuat otakku berhenti bekerja.

Akhirnya kami sampai ke lantai atas. Oh, ya. Hotel kami adalah hotel tertinggi di kota ini, dengan 18 lantainya, kami langsung bias melihat seluruh kota. Dari lampu jalanan, lampu kapal, sampai Jembatan Ampera yang bersinar di malam hari.

Dan saat itulah kami menyadari sesuatu.

Di kota besar, bintang-bintang tak banyak terlihat…

"Yah… Yellow, aku minta maaf…" kata Red-san Aku langsung bingung.

"Kenapa kau minta maaf, Red-san?"

"Aku lupa kalau langit tak terlalu banyak bintangnya di kota," katanya, terlihat sedih.

"Tak perlu sedih, Red-san. Lebih baik sedikit bintang daripada tidak, seperti lebih baik punya harapan walaupun kecil daripada tidak sama sekali," kataku sambil tersenyum dan melihat langit. Red-san akhirnya ikut tersenyum.

"Kau benar, Yellow," katanya, lalu dia berbaring di alas beton di bawahnya.

"Ahh… benar-benar hari yang melelahkan ya, Yellow. Kita mencari matahari bersama, bertarung melawan para preman bersama, dan sekarang…"

"Kita melihat langit bersama. Hehehe, entah kenapa aku merasa ini hanya mimpi," Aku melihat Red-san tersenyum, lalu dia mendekat padaku dan mencium keningku. Aku langsung terdiam karena apa yang dilakukan Red-san tadi.

"Red-san… kau…"

"Ini bukan mimpi, Yellow. Dan kalau ini mimpi, aku akan bermimpi denganmu sampai kita terbangun," kata Red-san. Aku tahu ini bukan mimpi, dan rasanya seperti berada di antara mimpi dan kenyataan.

Ada satu hal untuk membuktikan teoriku.

Aku mendekatkan kepalaku ke Red-san, dan aku menutup mataku, bersiap untuk apapun yang akan terjadi.

"Uhh… Yellow? Tunggu dulu," kata Red-san. Eh? Dan itu belum terjadi.

"Kenapa, Red-san?" dia memasang wajah sedih sekarang.

"Ini belum waktunya. Ini belum waktunya, Yellow," aku akhirnya juga memasang wajah sedih.

"Kenapa, Red-san? Kita sudah tahu sekarang, kenapa tak sekarang?" tanyaku, sedikit memaksa. Lalu Red-san tersenyum.

"Wah, Yellow kecil sekarang sudah besar ya…" goda Red-san.

"Ahhhh…. Red-san! Aku serius!" cetusku, agak marah dengan tingkahnya. Lalu dia menepuk kepalaku.

"Simpan itu untuk besok, oke?" tanyanya, dengan sedikit wink untukku.

"Kau kan besok ulang tahun, apa lagi ke tujuh belas. Aku ingin memberikanmu hadiah terspesial untukmu besok, termasuk 'itu'," lanjutnya.

Dan saat aku sadar itu, aku akhirnya bisa tersenyum kembali.

"Hehehe… maaf, Red-san, aku terlalu terburu-buru. Ayo tidur," kataku. Red-san setuju. Dan akhirnya kami kembali ke kamar kami masing-masing.

Saat kami sudat sampai, kami berpisah. Ya, kami kan punya tempat tidur berbeda…

"Selamat malam, Red-san…"

"Selamat malam, Yellow…"

Di kamar, POV netral…

Mungkin sekarang kita masih berpisah. Namun aku yakin, besok kita akan bersatu. Dan besok adalah permulaannya.

Dan besok, adalah akhir dari awal, dan awal dari akhir…

Dan kita akan hadapi semua, bersama…

Tapi untuk sekarang, …

Good night, my honey blonde…

Good night, my crimson hero…

Di mimpinya Yellow...

Yellow's POV

Aku sedang berjalan-jalan dengan Red-san di bukit indah yang sedang berbunga banyak. Aku bisa ke sana karena Red-san yang mengajakku kesana.

"Yellow! Ada bukit yang bagus di sana. Ayo kesana!" aku melihat bukitnya, lalu aku mengangguk senang seperti anak kecil.

Sampailah aku di sini. Berjalan-jalan dengan Red-san, memandang alam sekitarnya. Bukan hanya itu, kami juga main kejar-kejaran, petak umpet, sampai menebak tulisan yang ditulis di punggung. Dan kemudian saat kami lelah, kami hanya merebah di padang rumput di dekat bagian berbunga bukit itu. Padang rumput dengan sebuah pohon besar sebagai penyejuk.

"Yellow, kau senang kan hari ini? Bisa bermain petak umpet, kejar-kejaran, dan apapun yang kau mau, dan yang terpenting, kau melakukannya dengan orang yang kaucintai?" tanya Red-san. Aku jelas sangat-sangat senang.

"Ya, Red-san, aku saaaaangat senang! Red-san juga senang kan, bermain denganku?" tanyaku.

"Ya! Ternyata bermain dengan Yellow sangat menyenangkan! Juga melelahkan, aku mau istirahat. Kalau kau mau, kau boleh tidur di sampingku," kata Red-san. Eh?

"Benarkah, Red-san?" tanyaku. Dia tersenyum.

"Tentu saja, Yellow, silakan," kata Red-san. Akhirnya aku dan Red-san tidur di bawah pohon besar itu, dengan wajah senang tercetak jelas dalam tidur kami, pertanda kami sangat senang dengan apa yang terjadi hari ini.

Dan saat kami terbangun, kami tak sadar ternyatanya langitnya sudah merah sendu, mataharinya akan terbenam di gunung biru.

"Wah, Yellow! Lihatlah mataharinya!" aku melihat mataharinya, dan takjub dengan pemandangan matahari terbenam yang indah di gunung yang biru dan langit yang merah sendu.

Tanpa kusadari, Red-san mengajakku pulang.

"Yellow, ayo kita pulang, sudah malam," kata Red-san, dan aku mengangguk.

"Ya, Red-san!" jawabku dengan senang dan gembira.

Pada akhirnya, aku dan Red-san turun bersama dari bukit itu melalui sebuah jalan setapak. Dia merangkulku dari belakang dengan tangan kirinya, membuatku tersipu. Dan saat itulah kami melangkah lebih jauh untuk kembali pulang.

Di perjalanan, sepertinya Red-san melihat sesuatu.

"Yellow, kau disitu sebentar, aku akan kembali," kata Red-san. Lalu dia mengambil sebuah bunga di sana, dan kembali dengan wajah yang senang. Juga sedikit merah, mungkin karena dia agak malu. Padahal aku tak beda jauh dengannya.

"Ini untukmu," lalu dia menaruh bunga itu di telingaku, bunga berwarna ungu, sesuai dengan warna langit sekarang. Aku semakin memerah dan senang dengan Red-san.

"Terima kasih, Red-san..." kataku.

"Sama-sama, Yellow," kata Red-san dengan senyuman. Lalu kami melanjutkan perjalanan pulang.

Kembali ke dunia nyata...

Blue's POV

"Anak ini sepertinya sedang bermimpi sangat indah sampai aku bisa mendengarkan suara igauannya, jelas sekali," kataku, baru saja selesai dari kamar mandi, dan aku mendengar Yellow berkata sendiri dalam tidurnya terus menerus.

"Terima kasih, Red-san..." dan dia memeluk gulingnya dengan sangat erat. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah manusia yang sedang dimabuk asmara yang satu ini.

"Sepertinya dia membayangkan kalau dia memeluk Red. Tee-hee. Kufoto aaahhhh..."

ADEGAN BERBAHAYA! JANGAN DITIRU! MEMFOTO DARI LANGIT-LANGIT TANPA PENGAMAN SANGAT BERBAHAYA. Dasar, Blue ngawur...

Sementara itu, di mimpinya Red yang ternyata adalah lanjutan mimpinya Yellow...

Red's POV

Aku dan Yellow sudah sampai rumah. Dan ternyata suasananya sudah malam.

"Yellow, duduk dulu yuk? Kau pasti lelah berjalan jauh," kataku. Aku melihat Yellow yang agak lemas karena dia memang kelelahan setelah perjalanan dari bukit berbunga itu.

Aku juga duduk di sampingnya, menemaninya dalam istirahatnya. Dan aku melihat bintang-bintang. Mereka sangat cerah dan bersih, bahkan sampai garis dari galaksi dapat terlihat jelas. Dan itu memunculkan ide di otakku.

"Yellow, lihatlah bintang-bintang itu," kataku. Langsung Yellow melihat bintang-bintang itu.

"Lihatlah bagaimana mereka bersinar untukmu," Yellow menutup matanya, membayangkan kata-kataku.

"Dan apapun yang kau lakukan, ya... semuanya 'kuning',"

Kuning, warna dari kegembiraan, keceriaan, optimisme, dan, ahhh... semua ada dalam dirimu, Yellow...

"Aku datang, menulis lagu untukmu dan hal-hal yang kau lakukan. Kau tahu apa namanya, Yellow?" lalu aku melihatnya hanya menggelengkan kepalanya di hadapanku. Lalu aku mencium keningnya.

"Namanya...'Kuning',"

"Lalu, aku ambil giliranku, dan apapun yang telah dilakukan, semuanya 'kuning',"

"Semuanya! Bersenang-senang, sampai sekarang, kita melakukannya bersama, dan kita sama-sama senangnya. Ya kan, Yellow?" tanyaku. Yellow mangangguk.

"Ya, Red-san!" lalu kulanjutkan kata-kataku.

"Aku rela kalau harus berenang jauh atau melompat jauh, kalau untukmu. Itu semuanya pantas, karena kau 'kuning',"

"Aku juga menggambar garis untukmu. Ya, menggambar garis... hehehe... dan semuanya kuning, aku tak punya pewarna warna lain, hehehe..." kataku, lelucon kecil...

"Hehe... bagaimana bisa kau kehabisan warna lain?" tanya Yellow.

"Aku tak kehabisan, hanya lupa kubawa, karena saat aku melihat warnamu, hanya kau yang kuingat, Yellow..." kataku. Dan Yellow mulai menangis. Aku tahu ini bukan tangisan kesedihan, ini adalah tangis bahagia.

"Dan kau tahu? Kulitmu, sampai ke tulangmu, semuanya berubah menjadi sesuatu yang indah. Dan kau tahu?" Yellow menyeka air matanya dan bertanya lagi.

"Apa itu, Red-san?" tanya Yellow.

Di luar mimpi...

Green's POV

Untung saja kamar ini memiliki 2 ranjang. Coba kalau satu, pasti aku sudah jadi sasaran peluknya si Red, yang sepertinya sedang bermimpi indah atau apapun itu namanya. Dan aku nanti akan dikira homoseksual dan Blue pasti akan membenciku.

Dan sepertinya dia ingin berkata sesuatu.

"Kau tahu Yellow? Aku sangat mencintaimu,"

Yellow's POV, dalam tidurnya, direkam Blue...

"Aku juga mencintaimu, Red-san..."

Ya, benar, satu hari yang indah dimulai dari mimpi yang indah.

3 Maret 2016

Red's POV

Aku membuka mataku. Akhirnya aku menyelesaikan deretan mimpi terindah dalam hidupku. Aku tak menyangka kalau mimpi indah itu benar-benar membuat tubuhku segar.

Lalu aku merasa ada sesuatu yang menghalangi pandanganku. Sebuah benda putih yang menutupi wajahku. Dan saat akulihat, ternyata itu adalah secarik kertas dengan tulisan...

"Daftar kegiatan hari ini. Kau harus mengikuti daftar ini atau aku akan beri tahu semua orang di Palembang kalau kalian bermesraan di atas hotel kemarin malam,"

"Eh? Siapa yang menulis ini?" lalu aku melihat tulisan di bagian bawah kertas itu. Dan seperti perkiraanku...

"Blue? Sial... ayolah, aku benar-benar tak mau—"

"TIDAAAAAAAAAAAKKKKKK!" aku mendengarkan orang berteriak. Dan aku tahu itu suaranya siapa.

Itu suaranya Yellow...

Yellow's POV

"AKU TAK MAU, BLUE-SAN! AKU TAK MAU!" seruku, mengetahui bahwa seluruh manusia di Palembang akan tahu rahasiaku kalau aku tak mengikuti instruksi kegiatan yang dia buat untuk hari ini.

"Ahh... kau harus mengikutinya, kalau tidak, aku akan tetap menyebarkan video ini ke seluruh Palembang. Aku lihat banyak videotron, pasti masyarakat akan tertarik," kata Blue.

"Tapi, kau lupa kalau mereka melihatku dan Red-san, mereka pasti mencari kami dan menjebloskan kami ke penjara, lalu mereka akan mencarimu juga. Kita tak akan pernah kembali ke sini lagi, Blue-san!" seruku.

"Mereka akan mencari kalian saja, aku kan punya Ditto..." kata Blue, lalu tiba-tiba...

BAAANGG!

Pintu kamar kami terbuka. Dan yang kulihat adalah ...

"Red-san?" tanyaku.

"Yellow, ayo keluar," kata Red-san.

"Eh, ada apa?" tanyaku. Langsung saja Red-san menarikku. Aku bisa melihat tatapannya. Itu adalah salah satu tatapan yang jarang sekali kulihat, dan sama sekali tak mau kulihat.

Tatapan kemarahan...

"APA MAUMU, BLUE? KAU INGIN MENGATUR HIDUP KAMI, HAH? KAU MELIHAT KAMI BEGITU DAN KAU INGIN MELAPORKAN INI SECARA TAK LANGSUNG KE POLISI? SEBENARNYA APA YANG KAUPIKIRKAN, BLUE? TIDAK! KAMI TAK AKAN MENGIKUTI RENCANAMU! KAMI SUDAH PUNYA RENCANA KAMI SENDIRI! DAN SATU HAL..." dia mendekat ke Blue, mengambil kamera dari tangan Blue yang hanya bisa diam tak percaya akan apa yang dia lihat, dan mengeluarkan kartu memori dari kameranya.

"Kau tak akan pernah mengirimkan video itu kepada siapapun. Kalau masih punya cadangannya, hapus semuanya! Kalau aku tahu ada video kami menyebar di dunia ini, entah dengan media apa..." lalu dia pergi. Dan dia memberikan tatapan terakhirnya pada Blue yang tak bisa berbuat apa-apa.

"Aku tak akan bisa menjamin kau akan menikmati gerhana matahari..."

Aku dan Blue sontak kaget. Apakah ini benar-benar Red-san? Namun sebelum aku bisa berpikir apa-apa, Red-san menarikku dan keluar dari kamar, dan dengan satu penutupan keras di pintu, dia selesai.

Blue's POV

'Itu tadi... tadi... Red kan?' pikirku, masih terguncang... Aku tak menyangka Red akan sangat marah dengan rencanaku. Lalu aku mendengar ada yang membuka pintu. Dan saat aku melihat siapa yang membuka pintunya...

"Blue, apa kau sekarang sadar?" tanyanya langsung. Dan aku tak dapat menahannya lagi. Aku berlari ke arahnya dan...

"GREEEEEEEEEENNNNNNN!" seruku sambil menangis.

Green's POV

Ini benar-benar di luar ekspektasiku. Ternyata kemarahan Red bisa membuat Blue yang si**an ini menangis di pelukanku. Aku butuh waktu untuk menenangkannya.

"Green! Aku menyesal! Aku menyesal menganggu mereka!" seru Blue. Akupun mengelus rambutnya untuk menenangkannya.

"Ya, secara teknis ini memang kesalahanmu. Kau merekam itu dan ingin memberikannya ke videotron? Apa mau mereka? Kalau mereka mau, pasti kau yang akan dikejar dan kita semua akan kesusahan," kataku. Dan aku merasa dia memelukku lebih erat.

"Apa... apa... apa yang harus kulakukan, Green?"

"Kau harus minta maaf kepada mereka berdua. Kalau mereka tidak kembali lagi sebelum waktunya, pesta kejutannya akan kacau, dan kita akan kesusahan juga. Kau harus mencari mereka," kataku. Lalu aku melihat Blue yang masih menangis.

"Oke, kutunggu sampai emosimu tenang dulu," dan aku terus mengelus rambutnya Blue.

Sementara itu...

Yellow's POV

Aku dan Red-san sekarang berada di tepian sungai. Aku bisa melihat wajahnya Red-san masih membentuk pola kemarahan, namun juga sedikit kesedihan.

"Red-san?" panggilku. Dia tak menjawab. Aku jadi khawatir karena pasti dia memikirkan tindakannya terlalu dalam. Lalu tiba-tiba, Red-san akhirnya bicara.

"Yellow, maafkan aku. Aku tak seharusnya marah seperti tadi. Aku hanya takut, takut kalau kita dipenjara karena video itu, rasanya seperti saat kita membatu saat itu. Aku hanya ingin kau aman dari itu, Yellow. Aku tak ingin kau terjebak masalah yang tak dapat kau atasi sendiri,"

Lalu, tiba-tiba aku melihat Red-san...

"Tapi apa, Yellow? Apa yang kulakukan di sana tadi? Apa aku seperti orang yang ingin melindungimu? Aku lebih seperti orang bodoh yang tak ingin mainannya diambil. Dan aku marah sambil membentak di depan 2 perempuan?"

... dengan air mata yang terus mengalir, dia berdiri dan berteriak.

"LAKI-LAKI MACAM—"

Aku tahu apa yang ingin dia katakan, jadi aku langsung memeluknya.

Red's POV

"Yellow, kenapa—" aku terkejut karena Yellow tiba-tiba memelukku.

"Tidak apa-apa, Red-san..." dia mencoba tersenyum untukku.

"Tapi dari semua tindakanku pagi ini, apa pantas aku di sampingmu?" tanyaku. Lalu aku ingin menjawabnya, tapi tiba-tiba...

"Kau sangat pantas, Red," jawab seseorang di beberapa meter di belakang kami. Ada 2 orang di sana, dengan wajah senang.

"Blue?" aku tambah kaget.

"Maaf telah membuatmu marah. Aku memang tidak seharusnya mengancam kalian untuk mengikuti rencanaku. Sekali lagi, aku minta maaf," kata Blue. Lalu aku melepaskan pelukanku dari Yellow dan mendekat ke Blue. Yellow dan Green juga mendekat, bersiap untuk apa yang terjadi. Saat aku sudah di depannya...

"Aku juga minta maaf, Blue. Tak seharusnya laki-laki membentak perempuan seperti aku tadi. Teman-teman, bagaimana kalau..." aku berpikir.

Apa yang bisa kulakukan untuk mengenang ini?

"Bagaimana dengan pelukan persahabatan?" tanya Yellow. Akhirnya aku bisa tersenyum lagi.

"Aku setuju," kata Green. Dan akhirnya, aku dan Blue saling tatap, dan dia mengangguk. Dan akhirnya, kami berpelukan.

Rasa negatif pagi itu, musnah dengan satu pelukan 4 orang. Dan rasa positif terbit bagaikan matahari, tepat kali ini.

"Dalam persahabatan dan percintaan, konflik cenderung lebih sering terjadi," kata seseorang yang ternyata adalah...

"Pak Rekta?" dia datang. Tapi sejak kapan...

"Aku juga sering mengalaminya dengan istriku, tapi kami pasti bisa menyelesaikannya, dan bisa tertawa lagi, seperti kalian kali ini," katanya.

"Siapa dia, Red?" tanya Blue.

"Astrofotografer, temanku. Namanya Pak Rekta. Dia yang memberikan kami motivasi untuk..." pipiku memerah saat aku membayangkanku dan Yellow.

"Menjadi lebih baik daripada kami," seorang perempuan yang muncul di belakangnya.

"Dan, ini isrtinya, kan?" tanya Green.

"Ya, perkenalkan, aku Jenar," katanya.

Lalu beberapa saat kemudian, kami berkumpul untuk sarapan bersama. Pak Rekta dan Bu Jenar bercerita tentang masa lalu mereka, yang mana mirip dengan cerita kami sampai saat ini, lalu ada yang membuat Pak Rekta heran.

"Wah, kalian sedang pesta tidur ya? Sampai-sampai kalian ke sini masih dalam posisi memakai piyama kalian, hahaha..." lalu kami melihat pakaian kami, dan benar saja, kami masih memakai piyama. Sontak saja kami semua tertawa.

"Kenapa kita tidak menyadarinya ya?" tanyaku.

"Entahlah, pasti karena luapan emosi tadi," kata Blue.

"Red-san, kenapa kau ingin mengajakku keluar padahal masih pakai piyama?" tanya Yellow, aku langsung malu mendengar pertanyaan ini. Sisanya tertawa.

"Oh, ini ya yang namanya Red dan Yellow, my crimson astrophotographer?" tanya Jenar pada suaminya.

"Ya, itu mereka, my honey desinger." Kata Rekta. Lalu kami teringat.

"Oh, ya. Kami lupa berkenalan. Aku Red. Ini Yellow, ini Green dan ini Blue. Kami dari Kanto," kataku.

"Jepang ya? Tapi kalian lancar berbahasa Indonesianya," kata Jenar.

"Ya, kami diajarkan terlebih dahulu di kedubesnya," kata Yellow.

"Berapa lama kalian belajarnya?" tanya Rekta.

"2 bulan, karena memakai alatnya teman kami, Emerald, alatnya bisa membuat mengopi pikiran utama antarorang," kata Green.

"Oh, Emerald, yang pendek dan rambutnya unik itu ya? Tak kusangka dia hebat juga merakit alat-alat itu," kata Rekta.

"Ya, dia memanfaatkan kelemahannya dalam bagian tinggi untuk membuat alat yang bisa membantunya, dan akhirnya membuat alat yang berguna untuk semua," kataku.

"Kalian kesini untuk apa?" tanya Jenar.

"Mengamati gerhana matahari," kata Blue.

"Ditambah dengan menambah data untuk Pokedex tentang efek gerhana terhadap Pokemon," kataku.

"Oh, kalian pemilik Pokedex ya? Aku pernah mendengar ada sebagian dari mereka yang membatu," kata Jenar.

"Itu kami dulu, lalu Emerald menemukan Jirachi dan membuat harapan untuk membebaskan kami," kata Blue.

Sisanya adalah pembicaraan umum dan sekali kali untukku dan Yellow, tutorial melihat matahari dengan kacamata mataharinya. Dan kali ini melihat mataharinya dengan teleskopnya. Karena kata Pak Rekta proses perekaman mataharinya selesai, jadi kami bisa melihat mataharinya dari teleskopnya.

Akhirnya setelah itu, kami memutuskan untuk pulang.

"Terima kasih, Pak, Bu. Kami kembali ke hotel dulu!" seruku.

"Jangan lupa, 9 Maret, mampirlah kemari, kita lihat gerhana matahari bersama!" seru Pak Rekta. Dan akhirnya kami pulang.

Di hotel,...

Gold's POV

Aku dan beberapa temanku sedang mempersiapkan bagian penataan akhir untuk pesta ulang tahunnya Yellow. Dan kau tahu? Aku benci idenya Blue.

"Ayolah, Crys, masa aku harus membawa benda ini juga?" tanyaku.

"Ini permintannya Blue, kalau kau tak mau, dia bisa membocorkan rahasia kita tentang kejadian tadi malam," kata Crys. Kau mau tahu apa yang terjadi? Kau tak perlu tahu, nanti kau akan ditendang Crys seperti aku. Dan kau tahu apa yang kubawa?

Setroli kue raksasa bertingkat dengan lilin kecil dengan rupa Senoir Red dan Senior Yellow di atasnya.

Tak boleh jatuh, tak boleh kotor, dan yang paling penting tak boleh biarkan Diamond menggigit kuenya sebelum Red dan Yellow selesai dengan bagiannya.

"Oke, sedikit lagi, Gold, sedikit lagi..." paling tidak Crys memerintahku dengan lembut sekarang.

"Dan, stop! Oke, sudah pas, Gold. Kita bisa istirahat—"

Langsung kusandarkan kepalaku di pundak kirinya Crys, berusaha menghilangkan kelelahan dengan cara senikmat mungkin...

"EEEEHHHH! GOLD, PINDAH!" dan kubalas dengan pelukan dari belakang.

"Gold, jangan di sini! Malu aku..." aku tak peduli. Asalkan dengan si perempuan superserius ini, aku bisa senang.

"Hei, kenapa kalian tak pindah ke kamarnya Crystal saja? Sapphire sedang mengatur dekorasi, jadi kalian, kau tahu?" tanya Silver.

Dan aku setuju dengan idenya Silver, dan langsung membawaku dan Crys ke kamarnya.

Silver's POV

"Aku kan hanya bercanda..." kataku, tak menyangka Gold akan seserius ini.

"Itu berarti kau tak tahu bedanya bercanda atau bukan, atau mungkin Gold yang tak tahu..." kata Ruby di belakangku, menata troli dengan kain dekorasi.

"Ahhh... dasar Gold..." kataku, sambil menepuk jidatku.

Sementara itu...

Crystal's POV

"Untung saja kau tidak serius tentang itu," aku bersyukur Gold tidak membawaku ke kamarku, tapi ke lobi hotel. Tapi, kenapa ke lobi hotel?

"Gold, untuk apa kita kesini?" tanyaku.

"Jalan-jalan! Kita kan sudah selesai dengan persiapan pestanya, jadi kita bisa santai..." kata Gold. Dasar Gold, selalu cari kesempatan...

Lalu kami mendengar suara orang gembira di pojok sana. Dan itu membuatku heran.

"Gold, apa itu?" tanyaku. Lalu Gold mencium bau yang lezat.

"Demonstrasi memasak. Ayo lihat!" lalu Gold menarikku lagi. Dan saat kami mendekat, kami langsung terbelakak karena yang melakukan demonstrasi itu adalah...

"Diamond? Kau sedang apa di sini?" tanyaku.

"Ho, Gold! Crystal! Kalian tepat waktu! Kalian sedang melihatku sedang memasak nasi goreng kapal selam!" dan kami terbelakak lagi. Bukan hanya karena nama makanannya yang aneh, tapi juga karena yang menontonnya adalah koki-koki hotel.

Terlihat bahwa Diamond membuat pola itu dari nasi biasa yang kemudian digoreng dan diberi bentuk kapal selam. Lalu gilanya, dia menuangkan nitrogen cair pada nasi itu dan menggorengnya lagi. Hasilnya adalah nasi gorengnya memiliki sensasi panas-dingin-pedas yang unik.

Sementara itu...

Di dalam ruangan pesta...

Silver's POV

"Oke, persiapan selesai! Kita siap untuk kejutannya. Kita harus memasukkan Yellow jam 12 siang, namun secara rahasia. Anggap ini adalah hutan seperti Viridian. Lalu giring dia ke sana, dan saat selesai, kita beri puncak acaranya," kataku, sambil menunjuk bagian tinggi dari ruangan itu yang dianggap sebagai bukit tinggi.

"Cerdas, Silver! Dan aku jadi tahu rasanya mempersiapkan pesta. Jika saja Diamond tidak ketahuan oleh staf koki di sini tadi..." kata Platinum agak sedih.

"Sudahlah, Nona Berlitz. Jangan sedih terus. Diamond pasti kembali," kata Sapphire.

"Oke, sekarang kita menyebar untuk menuntun mereka kesini," kataku.

"Mereka?" tanya Wally.

"Aku tak hanya akan menggiring Yellow, tapi dengan Red. Kita semua tahu kan?" tanyaku. Semuanya mengangguk.

"MENGERTI!" lalu mereka semua menyebar. Dan aku kembali ke kebiasaanku.

"Akhirnya bisa istirahat..." kataku, duduk di balik pohon buatan.

Rencana dimulai. Pertama, memisahkan Green dan Blue dari Red dan Yellow. Eksekutor misinya adalah Ruby dan Sapphire.

Neutral POV

"Green, Blue, aku boleh tanya sesuatu, tapi hanya kalian berdua saja," tanya Sapphire.

"Ya, kami ingin bertanya tentang 'koneksi' kalian," kata Ruby. Lalu Blue berkata kepada Red.

"Red, kami ke sana dulu. Kalian langsung saja ke hotel," kata Blue.

"Oke. Ayo, Yellow," kata Red.

"Ya, Red-san!" kata Yellow, lalu mereka kembali ke hotel.

Rencana pertama, sukses. Rencana kedua, biarkan mereka mempersiapkan diri mereka. Makan, mandi, segala macam. Itu terserah mereka.

Red's POV

"Yellow, kita kesini lagi jam 8, oke?" tanyaku.

"Oke, Red-san. Aku juga mau mandi. Aku lelah setelah apa yang terjadi hari ini," kata Yellow.

"Sama. Sampai nanti, Yellow," kataku. Lalu kami masuk ke kamar kami masing-masing. Dan pada jam 8 pagi, aku keluar dari kamarku.

"Ahhh... segarnya mandi pagi. Aku ingin memanggil Yellow ahh..." kataku, berjalan ke kamarnya Yellow. Setelah aku sampai disana, aku panggil dia.

"Yellow, kau sudah selesai?" tanyaku. Dan dari dalam, Yellow menjawab.

"Sedikit lagi, Red-san," kata Yellow. Dan beberapa saat kemudian, dia selesai.

Aku memakai pakaianku yang biasa, kecuali hoodie-ku karena cuaca di sini yang panas. Sementara Yellow memakai pakaiannya yang biasa, tapi entah kenapa setiap kali aku melihatnya dengan pakaian itu, dia tetap terlihat cantik.

"Wah... Yellow... kau..." Yellow hanya bisa tertawa kecil saja.

"Ayo, Red-san," kata Yellow. Aku mengangguk, dan berjalan dengannya.

Rencana kedua, sukses. Rencana ketiga, Gold dan Crystal yang sudah ada di daerah demonstrasinya Diamond akan mengajak Red dan Yellow untuk menonton demonstrasinya bersama. Lalu Gold dan Crystal pergi diam-diam. Lalu Diamond yang ada di sana akan menunjuk mereka berdua untuk mencoba makanan buatannya.

Gold's POV

"Gold, mereka datang, siap-siap!" seru Crys. Aku mengangguk. Lalu aku mendekati mereka.

"Senior Red! Senior Yellow! Sini!" seruku, memanggil mereka.

"Ada ada, Gold?" tanya Red.

"Diamond akan melakukan demonstrasi masak. Lebih baik kalian lihat," kataku. Lalu akhirnya kami berjalan ke kursi yang tersedia. Di sana, Crys sudah menunggu.

"Ah, Gold, Senior Red, Senior Yellow, kalian tepat waktu. Masakannya hamper selesai," kata Crys.

Diamond's POV

"Tadaaa... ini dia, Nasi Goreng Kapal Selam ala Diamond! Karena saya baik hati, saya akan memberikan sepiring besar nasi goreng ini untuk dua orang yang beruntung," kataku. Lalu aku mengamati sekitar, melu=ihat apakah mereka sudah ada. Dan ternyata sudah.

"Ha! Bagaimana dengan laki-laki berkaos hitam dan perempuan berbaju kuning yang di sana?" tanyaku. Aku menunjuk ke Red dan Yellow. Mereka sempat menengok ke segala arah untuk memastikan siapa yang maju. Lalu...

"Kami?" tanya Red.

"Ya, kau dan gadis di sampingmu, silakan kemari dan coba makananku," kataku. Lalu mereka berpindah dari posisinya untuk menuju tempatku.

Setelah mereka sampai dan duduk di belakang makananku, ...

"Nah, silakan menikmati!" seruku.

Yellow's POV

Sebenarnya aku sudah yakin kalau makanan buatannya Diamond itu enak, tapi kalau bersama Red-san, kenapa sepertinya rasanya akan lebih luar biasa enaknya?

Aku mengambil satu bagian kapal selam dari piring itu, dan memasukkannya ke mulutku. Dan...

"Hmmm... Red-san, kau harus coba ini. Rasanya unik," kataku.

"Benarkah? Kebetulan aku juga lapar," kata Red-san, mengambil bagiannya lalu memakannya juga. Dan reaksinya ternyata sama denganku.

"Kau, kau benar, Yellow. Rasanya enak!" seru Red-san, lalu kami lanjut makan sementara yang lain bertepuk tangan kepada Diamond.

Ternyata, tak perlu 10 menit, nasi gorengnya sudah tinggal satu suapan, dan itu berada di sendokku, dan aku tak kuat makan lagi.

"Red-saaaannn... aku tak kuat..." kataku lemas.

"Mungkin... mungkin aku bisa muat satu sendok lagi... tapi tanganku sudah lemas... boleh kau suapi aku?" tanya Red-san, pipiku langsung merona, tapi aku langsung mengangguk pelan.

Perlahan aku menggerakkan tanganku, membawa sendok berisi nasi itu ke Red-san, lalu dengan sekali lahapan, Red-san memakan nasi itu.

"Yellow, terima kasih, ya..." Red-san memberikan senyuman lemasnya padaku, akupun tersenyum. Dan kami terus di sana. Aku tahu ini sedikit memalukan, namun aku dan Red-san akhirnya memutuskan untuk terbawa tidur di sana.

Rencana ketiga sukses. Rencana keempat, bawa mereka secara diam-diam ke ruang pesta.

Beberapa saat kemudian...

Aku terbangun. Aku mencoba untuk melihat sekitar, yang kulihat pertama kali adalah sebuah wajah. Wajah yang sangat kukenal. Wajah orang yang kucintai.

Wajahnya Red-san.

"Red-san, Red-san, bangun, Red-san..." lalu akhirnya Red-san membuka matanya, menunjukkan mata merahnya yang indah.

"Yellow? Kita dimana?" tanyanya. Lalu aku baru sadar kalau aku berada di suatu tempat dengan banyak pohon, namun hanya pohon buatan. Beberapa suara yang muncul juga terdengar tak alami dan terpantul-pantul sesuatu.

"Kita pasti ada di suatu kamar," kata Red-san. Aku hanya bisa mengangguk. Lalu tiba-tiba ada cahaya yang menyinari satu bagian kamar itu, tepatnya di bagian tertinggi.

Aku dan Red-san memutuskan untuk bergerak ke sana, menuju tempat tertinggi itu. Dan saat kami sudah ada di puncak tempat itu, tiba-tiba...

Semua lampu menyala, ruangan menjadi terang, dan terbuktilah teori bahwa kami ada di dalam ruangan. Lalu tiba-tiba orang-orang keluar dari tempat persembunyiannya sambil mengatakan hal yang sama

"SELAMAT ULANG TAHUN, YELLOW!" seru semua yang di sana, bahkan termasuk Red-san.

"Hehehe... selamat ulang tahun, Yellow," katanya, sambil mengelus rambutku.

"Red-san... semuanya..." aku tak dapat menahan luapan kegembiraan yang ada pada diriku, dan akhirnya aku menangis bahagia di depan mereka. Dan untunglah Red-san ada di sampingku dan langsung memelukku untuk menenangkanku.

"Sudah, Yellow. Kau pasti saking bahagianya sampai menangis kan? Tak apa-apa..." kata Red-san.

"Te-terima kasih, Red-san. Terima kasih semuanya telah membuat acara spesial ini," kataku.

"Ini semua untuk sesama penduduk Viridian," kata Silver. Semuanya tersenyum.

"Tiga kali bersorak untuk Yellow dari Hutan Viridian!" seru Red-san.

HIPHIP, HOREEE! HIPHIP, HOREEE! HIPHIP, HOREEE!

Dan berikutnya, Diamond tiba-tiba muncul di belakang kami.

"Yellow, kupersembahkan hadiah spesial dari kami untuk ulang tahunmu," lalu troli dengan kue raksasan muncul. Aku dan Red-san langsung terbelakak dengan ukuran kuenya. Tapi yang membuatku lebih terbelakak lagi adalah lilin di atasnya.

Untungnya bukan lilin itu yang dibakar, tapi 17 lilin biasa di pinggiran kuenya. Dan pada saat itulah Diamond menyadari sesuatu.

"Oh, ya! Aku lupa tentang tingginya Yellow! Terus bagaimana kau meniup lilinnya?" tanya Diamond, dan aku melihat Red-san tersenyum.

"Yellow, aku akan mengangkatmu," kata Red-san.

"Red-san, kau tak per –WAAAAA!" aku belum selesai bicara dan Red-san sudah mengangkatku sampai cukup tinggi menjangkau lilin.

"Red-san, kau yakin bisa tahan saat aku meniup 17 lilin ini?" tanyaku.

"Tenang saja, aku sudah berlatih di Gunung Silver, dan inilah buktinya," kata Red-san, tersenyum di bawahku.

"Buat harapanmu, Yellow!" seru Blue dari kejauhan. Oh, ya, hampir saja aku meniup lilin tanpa mengharapkan apapun.

Seharusnya ini jadi rahasiaku, tapi karena aku tak suka menyimpan rahasia, atau notabene semuanya sudah tahu rahasiaku, maka inilah harapanku.

Dapat hidup bahagia bersama Red-san sampai ke surga...

Lalu Red-san membantuku berpindah dari satu lilin ke lilin yang lain sampai akhirnya semua lilin habis ditiup. Semua bertepuk tangan gembira.

Lalu, aku menjangkau lilin di tengah, dan mengambilnya.

"Red-san, aku sudah selesai," kataku. Lalu dia kami melihat rupa lilin kami.

"Lucu, hehehe..." kata Red-san. Aku hanya bisa tersenyum.

Lalu, kami makan bersama. Kami duduk di lantai kamar itu sambil memakan kue itu. Bayangkan saja, 14 orang memakan kue raksasa itu, kami semua pasti akan kekenyangan. Akupun merasakan itu, dan Red-san selalu ada untuk membantuku.

"Yellow, kalau kuemu tak habis, berikan saja padaku," katanya. Aku hanya mengangguk.

"Terima kasih, Red-san," kataku.

Red's POV

Akhirnya semua rangkaian pesta sudah selesai, dan aku siap untuk rencanaku sendiri.

"Yellow, ayo pergi," kataku. Yellow mengangguk.

"Hei, kalian mau ke mana?" kata Blue. Lalu kami berdiri. Aku dan Yellow saling tatap, lalu saling mengangguk.

"KENCAN!"

Dan semuanya terbelakak dengan jawaban kami, bahkan setelah kami keluar.

Di luar, aku dan Yellow tertawa.

"Kau lihat reaksi mereka? Aku tak menyangka mereka bisa sekaget itu, mengetahui kalau kita akan kencan," kataku.

"Sebenarnya aku juga kaget, Red-san. Tapi itu juga yang kuharapkan," kata Yellow.

"Lha, itukah yang kau harapkan tadi?" tanyaku, kaget. Dia menggeleng.

"Harapanku lebih besar daripada itu. Dan ini langkah pertamaku," kata Yellow, memeluk lengan kiriku. Aku menggeleng sambil menghadap Yellow.

"Langkah pertama kita..."

Dan Yellow tersenyum cerah. Aku? Tak jauh beda.

Lalu kencan kami di Palembang dimulai. Kami berkeliling ke tempat wisata andalannya kota itu, dan semuanya kami foto selfie. Aku berterima kasih pada bapak itu yang mengajari kami selfie juga, selain melihat matahari.

Dia juga berkata sebenarnya ada alat yang bisa membantuku berfoto, namun kami memilih untuk memakai tangan kami sendiri, karena lebih enak untuk pemula selfie seperti kami.

Foto pertama, di Jembatan Ampera. Aku memeluk Yellow di kiriku dan tangan kananku memotret. Latar belakangnya adalah jalanan di jembatan dan orang-orang sekitar.

Yang kedua, di Sungai Musi. Aku memotret Yellow yang melihat sungai. Dan aku tepat memotretnya saat air menciprati tubuhnya. Saat Yellow melihatnya...

"AAAHHHH, RED-SAN! HAPUS FOTONYA!" dan aku hanya bisa tertawa.

"Ayolah, Yellow, kau tetap cantik walaupun kau terciprat," dan Yellow langsung menyikutku. Aku berusaha menghindar dari sikutannya, tapi apa daya aku kena juga.

Tapi aku tetap menyimpan fotonya.

Foto berikutnya diambil saat kami berada di Taman Hutan Wisata Punti Kayu. Dan kami paling banyak berfoto di sini.

Foto pertama menggambarkan Yellow yang melihat ke arah atas.

Foto kedua menggambarkanku yang tertidur di bawah pohon.

Foto ketiga menggambarkan Yellow yang mulai menggambar. Aku heran dari mana dia mendapatkan buku gambar itu.

Foto keempat menggambarkanku yang bertemu dengan Pokemon trainer lokal dan bertarung dengannya.

Namun ada satu foto yang membuatku ingin menggantungkannya di rumahku.

Itu adalah fotoku dan Yellow yang saling memandang di bawah pohon pinus besar.

Aku butuh bantuan orang lain untuk memfoto ini. Tapi tetap saja...

"Red-san, bolehkah aku menaruhnya di kamarku?" tanya Yellow.

"Aku akan melakukan hal yang sama, Yellow..." kataku sambil tertawa. Lalu kami pergi ke tempat terakhir sebelum kami pulang. Ke tempat yang disarankan oleh bapak itu.

Pulau Kemaro.

Setelah perjalanan dengan speedboat, akhirnya kami sampai ke pulau itu. Aku turun lebih dulu agar aku bisa menuntun Yellow dengan aman.

"Pelan-pelan, Yellow, aku memegangmu," kataku. Dan akhirnya Yellow sampai ke sampingku lagi. Akhirnya kami berjalan ke daerah di mana pohon yang dikatakan keramat itu berada. Dan saat kami datang kesana, kami langsung melihat tulisan yang agak menakutkan.

"Yang coret/tulis nama di pagar jadi setan," kata Yellow. Aku tersenyum.

"Sepertinya masyarakat ingin melindungi pohon itu," kataku.

"Apa maksudmu, Red-san?" tanya Yellow.

"Seperti aku melindungimu dari preman, dan kau yang melindungi Pokemon itu dari bahaya. Mereka ingin melindungi aset berharga tempat ini, salah satunya pohon ini. Mereka tak ingin pohon ini rusak karena terus ditulisi. Juga..." lalu aku berdiri di depan Yellow dan menatapnya dengan lembut.

"Ada orang yang menulis nama mereka di batu. Lama-kelamaan batunya melapuk dan tulisannya hilang. Ada orang yang menulis nama mereka di pasir. Satu tiupan angin saja, hilang dengan mudah. Ada orang yang menulis nama mereka di pohon. Pohon akan bertumbuh dan mengaburkan tulisan mereka. Kau tahu dimanakah mereka menuliskan nama mereka, Yellow?"

"Di hati mereka masing-masing kah, Red-san?"

"Ya. Dan lebih tepatnya lagi, di hati kita, karena kau tahu siapa orang yang kita bicarakan?"

"Kita?"

Yellow's POV

Lalu Red-san memelukku, di angin sore yang bertiup lembut dan menenangkan, dan aku mengeratkan pelukanku juga. Kemudian, Red-san menatapku dengan senyuman hangatnya. Dan jarak di antara kami semakin dekat sampai akhirnya...

Aku dan Red-san akhirnya bisa merasakan bibir masing-masing untuk pertama kalinya. Kami mencpba untuk merasakan semua bagian bibir kami. Semakin lama semakin dalam sampai akhirnya kami mengakses lidah kami bersamaan. Saking dalam, hangat, dan nikmatnya sampai kami menghiraukan apapun di sekitar kami.

Dunia terasa hanya milikku dan Red-san...

Dan akhirnya, kami kehabisan udara dan memutuskan untuk mengakhiri sesi ini. Kami tersenyum senang sambil terengah-engah. Dan akhirnya, kami mengucapkan kalimat ajaib yang telah kami tunggu seumur hidup kami.

"I love you, my honey blonde, Yellow..."

"I love you too, my crimson hero, Red..."

...

Malamnya, kami di atap hotel lagi...

"Yellow, aku punya hadiah untukmu," lalu aku melihatnya mengambil sesuau dari tasnya. Dan ternyata yang dia keluarkan adalah...

"Dear You?" tanyaku. Lalu aku membaca halaman pertamanya.

Dear You, Amarillo del Bosque Verde

Yours, Red

Lalu aku membaca bagian berikutnya.

Dear You

By Red

Karena hanya di hatimu aku ingin berhenti (mencintai). Pada segalaku, cinta tak kutakar lagi.

Telah kubaca tanda dari segala gerak hatimu. Kuberkaca jak jera; agar menjadi kita, suatu ketika.

Aku mecintaimu di luar pemahaman. Selasai!

Dan aku bahagia.

Cukup!

Dan kubaca halaman berikutnya lagi, sebelum pada akhirnya...

"Ahh... Yellow, sebenarnya aku sendiri belum membaca buku itu. Bolehkah aku membacanya juga?" tanya Red-san. Akupun tersenyum.

"Bagaimana kalau kita baca bersama?" tanyaku. Wajah Red-san bercampur antara malu dan senang.

"Itu ide hebat, Yellow!" seruku. Lalu kami membaca halaman berikutnya bersama.

PRO-LOVE:

#Dearyou: Di Ruang Tunggu untuk Cinta

Suatu ketika di RUANG TUNGGU UNTUK CINTA, Rindu dan Harapan pernah duduk bersama. Saling menggenggam jemari erat; mematri janji di atas keakuan perasaan yang merunduk pada keteduhan, juga cita-cita penyatuan.

Kini, di RUANG TUNGGU UNTUK CINTA, Rindu malah membuang wajahnya. "Aku takut terluka lagi!" lirih ucapannya.

Di balik kelelahannya, Rindu itu masih ingin bertemu dengan Harapan yang telah ia tinggalkan. Harapan yang awalnya menumbuhkan tunas rindu bersemi dan merindang daun. Harapan itulah yang selalu menanak getarnya untuk terusmengeja rindu dan tanpa henti mencari majikannya: Cinta!

"Di mana alamatnya?"

DI RUANG TUNGGU UNTUK CINTA, Rindu menghela bisu dan merasakan sendat di dadanya. "Di sini!"

Harapan menuntun Rindu rebah di dadanya.

"Di sini, kita menanti!"

Dan saat aku, aku sudah merebah di atas dadanya Red-san, bagaikan kasur empuk yang enak dibuat tidur, dan aku dan Red-san sudah terbiasa dengan itu.

Lalu kami membaca daftar isinya. Lalu Red-san bertanya.

"Kau ingin membacanya bersamaku?" tanya Red-san. Aku hanya tersipu dan mengangguk.

Pada akhirnya, kami membaca bagian demi bagian dari buku itu. Dari bagian pertama tentang cinta secara umum sampai bagian terakhir dimana seseorang harus berpisah. Kami membaca sampai habis ketika di halaman terakhir, muncul secarik kertas yang tidak menyatu dengan kertas lain. Kertasnya lebih tebal juga.

"Red-san, apa itu?" tanyaku.

"Aku juga tak tahu, Yellow, tapi jelas itu pasti bagus," kata Red-san sepertinya cocok untuk mengobati rasa sedihku setelah membaca bagian terakhir.

Dan benar saja, ada tulisan di sana. Sebuah kartu cinta yang memiliki tulisan seperti ini.

Dear you, cinta memang sederhana. Tapi aku memilih luar biasa memaknai jatuhnya; jatuh cinta kepadamu.

Dan kami tersenyum lagi. Dan saat itulah aku dan Red-san mengantuk, bersamaan. Kami terdiam sebentar, lalu kami tertawa pelan.

"Wah, sepertinya kita sudah lelah..." kataku.

"Kau benar, Yellow," kata Red-san. Dan akhirnya Red-san menuntunku ke kamarku. Dan dalam perjalanannya, dia bernyanyi lagu tidur untukku.

Yellow bobok, oh... Yellow bobok...

Kalau tidak bobok disetrum Chuchu...

Bagian itu membuatku tertawa pelan, karena bagian itu lucu. Lalu dia melanjutkan nyanyiannya.

Yellow bobok, oh... Yellow bobok...

Kalau tidak bobok disetrum Chuchu...

Mari bobok, Yellow-ku sayang...

Kalau tidak bobok disetrum Chuchu...

Mari bobok, Yellow-ku sayang...

Kalau tidak bobok disetrum Chuchu...

Dan dia bernyanyi sampai akhirnya di kamar kami. Waktunya kami berpisah. Setidaknya untuk saat ini.

"Good night, my honey blonde, Yellow..."

"Good night, my crimson hero, Red..."

Dan kami masuk ke kamar kami masing-masing.

POV-nya Red dan Yellow...

This is the happiest day of my life...

Happy birthday, Yellow...

I love you...

Forever...

Bagian 16 selesai. Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah mengizinkanku menyelesaikan fic ini. Juga kepada semua orang yang telah memberikanku ide untuk fic ini, lalu kepada Moammar Emka dengan buku yang menjadi inspirasi fic ini.

Dan secara khusus, aku berterima kasih kepada semua orang yang membuatku memiliki pengalaman hidup berharga yng dapat kumasukkan dalam fic ini, juga untuk seseorang di luar sana, seorang FranticShipper (namun juga SpecialShipper) yang telah bertukar pikiran denganku sehingga muncul ide yang akhirnya bisa kutuangkan dalam fic ini.

Aku minta maaf jika banyak typo di fic ini, juga kalau banyak kesalahan yang menyinggung hati siapapun yang membaca fic ini. Itu semua hanya fiktif belaka.

Walaupun aku berharap sebagian cerita ini bisa menjadi kenyataan...

Sekian dariku kali ini. Mungkin aku akan hiatus agak lama karena terjebak dengan kehidupan manusia, namun saat ide muncul, akan kucoba untuk kutuangkan dalam fic-fic yang berikutnya.

Dear You, Proyek Specialshipping 2016, proyek 9 minggu dari 1 Januari 2016 sampai 3 Maret 2016, dinyatakan selesai.

*Bagi yang memperhatikan, ternyata ini juga fic Pokemon Bahasa Indonesia terbesar di dunia. Tak kusangka aku bisa membuat fic sebesar ini*

Happy birthday, Yellow.

RWD, keluar.