JUST AN UNUSUAL LIFE

DISCLAIMER:

Hyouka © Honibu Yonezawa

This story came from my wild mind

And inspirated by a story at another fandom

WARNING:

GaJe, OOC, Typo, alur cerita kacau (kaya Authornya),

jauh dari judul, dan lain sebagainya.

Jika anda mengalami pusing, mual, mata merah dan berkunang - kunang,

dan gejala lainnya, segera klik tombol back atau close browser anda,

dan segera pergi ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.

DON'T LIKE BUT DON'T BLAME


.

.

.

.

.

CHAPTER 1

Disuatu hari, disebuah sekolah menengah atas di kamiyama, suasananya terasa damai. Murid - murid belajar dengan tenang, namun...

"HAAAAAAAAAAAAAH!"

Seorang pemuda beriris hijau berteriak memecahkan keheningan, pemuda yang berada diatas atap gedung sekolah tersebut membuat semua murid sekolah tersebut heran. Setelah pemuda itu berteriak sekeras-kerasnya, dia duduk diujung gedung sambil meremas rambutnya.

Pemuda yang rupanya bernama Oreki Houtarou tersebut kelihatannya sedang frustasi dengan apa yang sedang dia alami.

Oreki Houtarou's Pov

Ada apa denganku?

Kenapa selalu aku?

Kenapa aku tidak bisa menolaknya?

Kenapa aku selalu memikirkannya?

Kenapa aku tak bisa melupakan matanya itu walau hanya untuk sedetik saja?

Dan kenapa aku aku selalu merasa senang jika dia tersenyum setelah rasa keingintahuannya aku penuh?

Oh Kami-sama, apa yang salah denganku?

Aku hanya seorang pemuda yang hidup 'Berwarna abu - abu' dan tak ingin menyia - nyiakan energinya hanya untuk hal - hal yang tak berguna

Kenapa aku harus merasakan hal ini?

Kenapa?

Kenapa?

"KENAPAAAA?!"

Normal's Pov

Dan sekali lagi,

Oreki Houtarou membuat semua murid sekolah heran, sampai ada beberapa murid keluar dari kelas hanya untuk mencari tahu siapa yang berteriak untuk yang kedua kalinya. Beberapa dari mereka ada yang terkejut dan ada yang heran, mereka melihat Oreki yang duduk diujung gedung sekolah sambil meremas rambutnya.

"Senpai...? apa yang kau lakukan disana...? turunlah...!" Seorang siswi tahun pertama berteriak menyuruhnya untuk turun, namun diacuhkan begitu saja.

Banyak yang meneriakinya untukl turun dari sana, namun Oreki membiarkannya karena dia tidak sedang ingin bunuh diri. Lalu beberapa guru datang keluar dari dalam sekolah karena seorang siswi melaporkan hal tersebut.

"Houtarou...! Turunlah dari situ...!" Seorang guru yang merupakan wali kelas Oreki Pak Kobawa menyuruh Oreki untuk turun dari atas gedung, namun dihiraukan begitu saja olehnya.

" Apa yang harus kulakukan untuk memecahkan masalah ini...?" Gumam Oreki sambil meremas sedikit rambutnya.

Setelah menyadari bahwa pemandangan dihadapannya dipenuhi oleh semua murid sekolah yang berkerumunan dilapangan, Oreki segera berdiri dan langsung pergi menuju ruang klub sastra kasik aga ia bisa tidur disana sejenak.

Skip Time...

Setelah beberapa menit Oreki berjalan dari atap gedung sekolah, akhirnya Oreki sampai dihadapan ruang klub klasik. Dia langsung saja membuka ruang klub tersebut,

namun...

.

.

.

.

TO BE CONTINUE