Naruto was belongs to Masashi Kishimoto

.

.

.

Mellow Rainbow proudly present...

FANTASTIC TUNE

With: AU/a bit OOC/School-life

Cover isnt mine, the artist is unknown, but I get this from Pharaboot

Hope you like the story!

.

.

.

"Hai hai, selamat datang! Siap melihat apa yang akan terjadi berikutnya padamu?"

Pukul enam kurang limabelas menit dan matanya mendelik ke arah layar ponsel. Bersembunyi di balik selimut putih tebal bercorak bunga berwarna ungu, apa yang meneranginya sekarang hanyalah cahaya dari ponselnya.

Kini genap sudah hari keempat sejak ia pertama kali membukanya, bukan untuk mengecek kontak masuk ataupun e-mail yang rutin ia terima, tetapi mengecek sebuah aplikasi yang sedang marak dibicarakan semenjak beberapa bulan yang lalu bernama Fantastic Tune.

Ide dari aplikasi ini sama layaknya ramalan bintang, ramalan nama, ramalan pasangan, dan sebagainya sehingga darimana pun dilihat ini hanyalah bualan orang-orang untuk bersenang-senang.

Awalnya beberapa kelompok menganggapnya sebagai bahan lelucon, tetapi tak disangka-sangka app itu menunjukkan kebenaran hingga presentasi kenyataannya terjadi mencapai tujuh puluh persen bahkan lebih.

Darisanalah kehidupan para remaja mulai berubah hingga 180 derajat. Ada yang mulai memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya karena yakin akan berhasil, ada yang menyatakan bahwa dirinya berhasil melewati nasib sial, ada juga yang bahkan menyatakan telah berhasil mendapatkan sahabat-sahabat baru meskipun awalnya hanya sebagai kutu buku. Semua berkat ramalan serta saran dari Fantastic Tune.

"Hee, ramalan tentang pasangan? Baiklah, mari kita lihat tentangnya hari ini!"

Seorang anak kecil dari ras Elf dalam avatar chibi yang menggemaskan terlihat duduk bersila memproses ramalan tentang dirinya hari ini. Gadis itu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan diri lagi. Hingga sesaat bunyi ping dari ponselnya membuat tenggorokannya serasa tersedak.


Hasil untuk, Hyuuga Hinata!

Wah gawat, hari ini dia akan muncul tepat di hadapanmu tapi kamu malah tak punya bahan pembicaraan

Maka dari itu, kamu harus benar-benar mengharapkan kedatangannya hari ini dan dia akan jadi yang pertama membuka topik

Semoga sukses!

Hint: Libra dengan Tipe B

Lucky Item: Bola Basket


Hinata menarik dalam-dalam napasnya yang terasa berat, dipaksakannya untuk sesegera mungkin menenangkan diri. Bagaimana jika hal ini benar terjadi? Bagaimana jika ia benar-benar bertemu dengan orang itu? Terlebih lagi bagaimana jika ini hanya lelucon belaka dan ia terlanjur terlalu mempercayainya.

Seluruh pikirannya kacau, jemarinya menutup ponsel flip itu dan kembali berkutat dalam gumpalan selimutnya sampai akhirnya terdengar teriakan dari lantai bawah.

"Onee-chan, nanti terlambat!"

"Iya," sahutnya dengan suara sedikit serak.

Panggilan sang adik pertanda bahwa ia benar-benar harus bergegas. Jika memang benar kebenarannya akan mencapai tujuh puluh persen bahkan lebih maka ini saatnya pembuktian.

Hinata menaruh handuk di atas kepalanya dan menuruni tangga menuju lantai satu. Selesai membasuh tubuhnya ia keluar dan kembali ke kamarnya, mengenakan seragam Konoha Gakuen miliknya, dan kembali menuruni tangga menuju ruang makan.

"Hanabi-chan, yang ini sepertinya tidak bisa dimakan," kata Hinata dengan lembut dan sang adik berjalan mendekat.

"Um, sepertinya begitu. Warnanya agak berbeda dengan yang Hinata-nee sering masak." Hanabi pun mengangkat piring berisikan telur dadar berwarna hitam kecoklatan itu.

"Otou-san?" tanya Hinata.

"Belum pulang. Katanya masih ada tugas di kantor jadi lembur. Aku yakin lagi-lagi ketiduran di kantor," jawab Hanabi yang kemudian menyuap salad di piring makannya.

"Begitukah." Hinata tersenyum sembari memiringkan kepalanya.

Peran sang Ayah sebagai single parent tidaklah mudah. Semenjak kepergian ibu Hinata ia harus bekerja ekstra untuk menghidupi mereka bertiga, sehingga Hinata bisa sedikit memahami waktu dimana sang Ayah lupa memberi perhatian lebih pada anak-anaknya bukan karena ia tidak mencintai mereka berdua.

"Kalau Hanabi sendiri?" tanya gadis bersurai indigo itu lagi.

"Tidak mau ikut. Aku tidak terlalu suka dengan kegiatan itu. Selain itu juga tidak diwajibkan semua murid harus mengikutinya dan Konohamaru juga tidak datang!" jawab Hanabi beruntun sampai akhirnya ia salah tingkah mengingat keceplosan di bagian akhirnya.

"Hm, aku mengerti," lanjut Hinata sembari tersenyum lembut.

"J-Jangan salah paham, O-Onee-chan. I-Ini tidak ada kaitannya dengan yang itu a-atau yang itu," potong Hanabi cepat membuat Hinata tertawa kecil.

"Aku tadi bilang aku mengerti 'kan?" Hinata bangkit dan menautkan tasnya lalu mengelus puncak kepala sang adik. "Jaa, Ittekimashu!"

"I-Itterashai!" ucap Hanabi dengan wajah sedikit bersemu sambil membereskan piring-piring itu.

.

.

.

"Hufffftttttt!"

Gadis itu menelungkupkan kepalanya di lipatan tangannya menahan kekecewaan yang begitu mendalam. Yah, benar saja perasaan itu sungguh membuatnya kesal. Bahkan meskipun ia sudah mengambil kelas sore masih belum ada sesuatu apapun yang muncul. Terlebih lagi ia sudah mengharapkan kedatangan orang itu dengan sepenuh hati, meski begitu tak ada yang terjadi.

Sosok yang digambarkan FT tidak pernah muncul sejauh ini, apapun itu ia tak pernah ditempatkan dalam posisi dimana ia sampai kehabisan kata-kata karena terpesona atau apalah namanya.

"Kau kenapa, Hyuuga-san?" tanya seorang gadis berambut pendek warna merah muda yang tengah mengangkat setumpuk buku paket Biologi.

"Haruno-san!" Hinata menatap lurus wajah teman kelasnya Haruno Sakura dengan pandangan kecewa nan tak berdaya.

"Kau ada masalah?" tanya Sakura lagi dan Hinata mengangguk kecil sembari menunjukkan ponselnya pada gadis itu.

"Oh, jadi tentang FT ya. Mungkin app itu dibuat hanya sebagai bahan candaan, kau tahu 'kan banyak cara untuk bersenang-senang salah satunya mengunduh aplikasi semacam itu. Lagipula mereka juga sering bilang apa yang terjadi hanya sampai tujuh puluh persen saja," jawab Sakura panjang lebar membuat Hinata makin kecewa.

"Ya ampun, kalau kau memang menganggap hal itu benar-benar akan terjadi kenapa tidak coba cari di ruang olahraga. Bukankah disana tempat mereka menyimpan berbagai macam bola." Sakura menaikkan sedikit pegangannya karena buku-buku itu mulai terasa berat.

"B-Benar juga! Kenapa tidak terpikirkan hal semacam itu?" Hinata sejenak terpana dan bergegas berlari meninggalkan Sakura yang masih termanggu memandangi punggung gadis itu.

Suara tapak kakinya sedikit menggema di koridor sunyi itu. Cahaya senja yang masuk menembus tiap jendela menerangi langkahnya membelok turun menuju ruang olahraga. Tak berapa lama kemudian ia tiba di depan ruangan yang ia tuju. Napasnya yang sedikit tersengal ia atur sebisa mungkin, sesaat sebelum ia mengetuk pintu—

Pintu itu bergeser terbuka dan seorang pria berambut raven yang tengah memegang sebuah bola basket di tangan kirinya terkejut mendapati keberadaan Hinata yang muncul tiba-tiba di depan pintu.

"Uchiha-san!" ucap Hinata dengan lulus tanpa sadar sedikitpun.

Sedikit sulit dipercaya baginya, ah benar ia bukan hanya terpana tapi mungkin sulit menerima kenyataan di hadapannya sekarang ini. Seorang Uchiha Sasuke, sang ketua OSIS, seorang yang selalu menjajaki peringkat teratas, terlebih lagi populer di kalangan wanita, berdiri di hadapannya sebagai salah satu sosok yang digambarkan app Fantastic Tune.

"Bukankah kau Hyuuga Hinata. Murid kelas 1-B yang ikut kegiatan siswa-siswi berprestasi November lalu?" Suara baritone itu terdengar agak datar baginya.

Hinata menelan ludah saat mendengar Sasuke jadi yang pertama membuka topik pembicaraan.

"B-Benar senpai, a-ah …, U-Uchiha-senpai," jawab Hinata terbata-bata.

"Belum pulang? Kau masih ada kegiatan klub?" tanya Sasuke lagi dan Hinata hanya bisa menggeleng.

"T-Tidak h-hanya saja ... a-ano ... e-etto U-Uchiha-senpai apa zodiak dan golongan darahmu?" tanya gadis itu balik dengan spontan, membuat Sasuke sedikit terkejut.

"Oh jadi kau salah satu yang memakai aplikasi candaan itu. Sepertinya kau ingin memastikan apakah orang dalam ramalan itu aku." Sasuke memijit sedikit keningnya tak habis pikir.

"U-Um …," jawab Hinata dengan wajah bersemu.

"Tentang pertanyaanmu tadi jawabannya Leo. Golongan darahku AB," lanjut Sasuke singkat dan situasi tegang itu pun terasa ringan kembali bagi Hinata.

"B-Begitu rupanya. M-Maaf sudah mengganggumu dengan pertanyaan bodoh semacam ini, Senpai." Hinata memaksa tersenyum dan meninggalkan Sasuke tanpa sepatah kata apapun lagi.

Pria itu menatap Hinata di kejauhan dan kembali masuk ke dalam ruangan, sementara Hinata berjalan cukup pelan menikmati waktu pulang sekolah yang sebenarnya bisa ia nikmati lebih dini jika tidak dihabiskan untuk melakukan hal bodoh semacam ini.

.

.

.

Kali ini lagi-lagi mengecewakan. Apa benar aplikasi ini memang hanya digunakan untuk candaan? Tujuh puluh persen kenyataan mungkin hanyalah bualan yang dibuat-buat.

Hinata terus menatap sedih bayangnya yang tercetak di dinding mengiringi derap langkahnya, ingin rasanya menangis tapi itu terlalu memalukan dilakukan di tempat seperti ini—sungguh bodoh, lagipula kenapa ia harus menanggapi ini dengan begitu serius.

"Kau harus benar-benar mengharapkan kedatangannya ... dan dia akan jadi yang pertama membuka topik. Pernyataan itu tidak bisa dimengerti, malah itu tidak ada sangkut pautnya samasekali," ucap Hinata lemah sembari terus melangkah penuh kecewa.

Ia menyisir koridor menuju gerbang keluar sebelah barat dan melewati lapangan basket. Didengarnya suara bola menyentuh ring beberapa kali namun ia mengacuhkannya begitu saja, dua tiga kali terdengar sampai akhirnya tak ada lagi suara. Ia terkejut saat melihat bola jingga kemerahan itu ternyata bergulir dan singgah di ujung kakinya, menghentikan sejenak langkahnya.

"Oi nona, bisa kau ambilkan bola itu?"

Keterlaluan, itulah satu kata yang menancap dalam pikiran Hinata saat ini. Pria itu benar-benar tidak mengerti kalau sekarang dirinya sedang dalam masa sensitif. Hinata menghela napas panjang, mencoba mendinginkan pikirannya, dan mengalah. Diambilnya bola itu dan dibawanya menuju sumber suara.

Cahaya senja sedikit menyilaukan pandangannya, hingga ia berada dalam jarak tertentu ia bisa melihat dengan jelas wajah pemanggilnya. Seorang pria berambut pirang dengan kulit tan menatapnya lurus ke dalam iris ametisnya, sesaat mereka bertukar pandang namun Hinata tak begitu mempedulikannya dan menyerahkan bola itu.

"Sebenarnya kau cukup melemparnya balik. Tidak perlu mengantarnya sampai seperti ini," ucap pria itu dan mood Hinata makin menurun drastis.

"Sama-sama," balas Hinata ketus, membuat pria itu tertawa kecil.

"Ah, aku lupa. Terima kasih, nona. Ngomong-ngomong wajahmu terasa tidak asing, kau pasti adik kelasku 'kan?" tanyanya balik namun Hinata yang masih larut dalam kekecewaan tak langsung menjawabnya.

"Kecewa, ah terlihat sekali dari ekspresimu kau sedang kecewa berat. Kenapa? Pacarmu meninggalkanmu?" lanjutnya sedikit menggoda hingga akhirnya emosi Hinata pun pecah.

"Berhenti berkata apapun seolah kau mengerti. Aku—" Hinata terhenti saat pandangannya sekarang benar-benar mengunci bibirnya.

Pria itu terus tersenyum menggodanya meski mungkin pria itu sebenarnya tahu kalau dirinya sekarang sedang kesal. Hinata menatapnya agak lama, kini perhatiannya mulai tertuju pada tangan kiri pria itu yang tengah merangkul sebuah bola basket.

Hinata memandang kembali wajahnya dan iris biru safir itu pun mulai tertutup kelopak mata berlapiskan suara tawa riang.

"Sebenarnya kau ini kenapa, nona?" tanyanya lagi dengan nada bingung dan sedikit sisa tawa.

"Haa … HAA?! A-Ano s-senpai apakah kamu baru saja membuka topik pembicaraan?" tanya Hinata balik dengan nada polos, sontak saja tawa pria itu kembali pecah.

"Haha, ya ampun. Apa kau tidak pernah diajak bicara oleh teman sekelasmu? Ya, aku sekarang sedang mengajakmu bicara dan topik pembahasannya adalah apa yang sebenarnya terjadi denganmu? Kepalamu terbentur? Apa kau kesulitan mendengar?" ucap pria itu beruntun membuat pipi Hinata merona merah, menahan perasaan betapa malunya ia saat ini.

"S-Senpai, b-b-bisa beritahu aku … mmn, a-apa golongan darahmu … a-ah, k-kalau kau tak keberatan zodiakmu juga!" pinta Hinata lagi dan tawa pria itu berganti menjadi senyuman licik.

"Jadi begitu. Sekarang aku tahu apa yang terjadi denganmu dan kemana arah pembicaraan ini!" Pria itu menggigit telunjuk kanannya agak lama kemudian menunjukkannya ke arah Hinata.

"Nih, cek sendiri ini golongan apa!" Ia menunjukkan jemarinya yang sedikit berdarah.

"S-Senpai!"

Terkejut atas jawaban itu Hinata tak lagi bisa berkata apapun. Ia hanya sontak berlari dan meraih tangan pria itu lalu mengemut telunjuknya yang berdarah. Entah kenapa ia sendiri tak begitu mengerti, tubuhnya terasa bergerak sendiri. Kenapa pria ini lebih memilih melukai dirinya sendiri ketimbang menjawab pertanyaan sepele semacam itu. Diluar dugaan—tidak, tapi lebih tepatnya benar-benar mengejutkan.

"J-Jangan lakukan hal seperti itu tahu! Kamu membuatku kaget. Beruntung lukanya tidak dalam," teriak Hinata sambil mengecek telunjuk pria itu, syukurlah lukanya cepat menutup.

Hinata termenung dan baru menyadari kalau bola basket tadi telah terlepas entah kapan—memantul dan bergulir menjauh. Sang kakak kelas terlihat tidak mempedulikannya samasekali. Pria itu malah memandang jauh ke arah lain sembari menutupi sebagian wajahnya yang agak memerah dengan pergelangan tangan kirinya.

"Senpai, dengar tidak kalau orang sedang bicara?" tanya Hinata lagi.

"Dengar kok, tidak perlu berteriak seperti itu!" jawabnya.

Keduanya saling diam agak lama, bingung apa yang ingin dilakukan atau apa yang ingin dibicarakan lagi. Sesaat kemudian Hinata pun mulai berani memandang kembali wajah pria itu, memperhatikan gurat wajahnya yang terlihat juga kehabisan kata-kata. Pria ini beberapa menit yang lalu bertingkah mengesalkan, beberapa menit kemudian bertingkah mengejutkan, dan kini malah diam tanpa kata—pribadinya sungguh sulit untuk ditebak.

"Namamu?"

"E-Eh?" Hinata tersadar, pria itu kembali membuka pembicaraan.

"Aku belum tahu namamu," lanjutnya lagi.

"A-Ah, Hyuuga Hinata, kelas 1-B. Senpai sendiri?" tanya Hinata balik.

"Uzumaki Naruto, kelas 2-A. Salam kenal!" Ragu-ragu tapi pria itu benar-benar mengulurkan tangannya, membuat Hinata tertawa kecil—mungkin ini pertama kalinya bagi orang ini mengajak berkenalan seorang gadis.

"Salam kenal!" Hinata menyambut tangan itu, menjabatnya dengan satu senyuman.

"Ne—Hyuuga-san, soal pertanyaanmu tadi, jadi kau juga salah satu orang yang menggunakan aplikasi itu?" tanya Naruto

"Umn!" Hinata mengangguk perlahan dan Naruto hanya menggeleng kecil.

"Mungkin sebaiknya jangan terlalu berharap dengan aplikasi semacam itu, walaupun sebenarnya memilih percaya atau tidak itu keputusanmu sih. Hanya saja kalau yang dikatakan malah tak sesuai kenyataan, siapa yang ingin kau salahkan?" terang pria itu lagi dan Hinata menunduk agak lama.

"Uzumaki-senpai bukan orang pertama yang mengatakannya," sahut Hinata, Naruto pun berjalan mendekat dan mengusap puncak kepala gadis itu.

Angin kala sore itu berhembus semilir. Tatapan gadis itu membesar menyadari Naruto baru saja membungkuk, membisikkan beberapa kata di telinganya, hingga kemudian mereka terdiam sampai suasana menjadi cukup senyap.

"Benarkah?" tanya gadis itu penuh harap.

"Ya." Naruto tersenyum lebar dan menunjukkan tanda 'V' dengan dua jarinya.

"B-Baiklah kalau begitu!" Hinata tersenyum senang dan melangkah pergi, tetapi belum beberapa meter jauhnya ia berbalik kembali dan memanggil Naruto. "Senpai, kamu belum memberitahuku jawabannya!"

Naruto tersenyum tipis dan berteriak balik, "Libra! Golongan darahku B!"

Saat itulah dadanya terasa ingin meledak, nyaris sulit mempercayainya tapi entah mengapa ia senang sekali. Kecewa karena ia terlalu berharap, ia malah dipertemukan dengan seorang yang penuh kejutan.

"Arigatou ne!" sahut gadis lavender itu dengan satu tawa lepas.

.

.

.

TBC


Mohon kesan, kritik, dan sarannya ya...

Nantikan juga chapter depannya, akan dibuat lebih fluffy..., thehe :D