Naruto belongs Masashi Kishimoto-sama :D


FANTASTIC TUNE

"Chapter 02"

.

.

.

Naruto menatap tak percaya makhluk yang kini berada di hadapannya sekarang. Baiklah, ia baru saja melakukan sebuah dosa yang tak termaafkan. Sementara gadis itu terus memandanginya dengan wajah polos, menghiraukan situasi mereka saat ini.

Orang yang lalu-lalang menatap keduanya terutama Hinata, ya benar Hinata. Mereka terpesona dengan penampilan gadis itu, bukan karena make up yang ia pakai tapi style yang ia pilih benar-benar—

"Pffft, bodoh sekali, hahaha…," ucap Naruto yang kemudian tertawa terbahak-bahak.

Ya, sungguh benar-benar bodoh.

Hinata kembali memiringkan kepalanya menatap Naruto. Apa yang sebenarnya terjadi? Gadis lavender itu sedang melakukan apa yang ia suruh kemarin. Ia memikirkan itu semua sambil terus menghiraukan tatapan orang yang lalu-lalang, memandanginya.

"Kau sadar apa yang kau pakai?" tanya Naruto dan Hinata mengangguk dengan wajah polos.

"Kigurumi. Ramalannya bilang aku harus pakai kigurumi saat menemuimu, Uzumaki-senpai," jawab Hinata sedikit semangat, gadis yang tengah memakai kostum kelinci ungu raksasa itu sekarang seakan-akan melompat sambil berteriak ganbatte—sontak Naruto kembali tertawa lepas.

"Ikuti aku, kouhai!" Naruto bergegas menyeret Hinata mengikutinya.

Keduanya tiba di sebuah toko pakaian, Naruto masuk menemui salah seorang kenalannya. Tentu saja ia tak mengharapkan sambutan hangat dari temannya itu dan benar saja, selintas setelah ia melihat Naruto dan Hinata masuk, ia tersedak asap rokoknya sendiri—tertawa terbahak-bahak.

"Ino, bisakah kau berikan dia pakaian?" tanya Naruto singkat, gadis ponytail itu masih mencoba menghapus tawanya.

"Baiklah, baik. Ikuti aku, nona!" lanjut Ino sambil terus mencoba menahan tawanya.

Ino kembali keluar beberapa saat kemudian. Ia kembali ke meja dan menghisap rokoknya. Beberapa kali ia memandangi wajah Naruto sebelum akhirnya ia kembali tertawa.

"Biar kutebak, apa itu efek aplikasi yang baru-baru ini sedang populer?" tanya Ino namun Naruto hanya membuang muka, pria itu juga masih mencoba menahan tawa.

Ino menghembuskan asap rokoknya dengan mulus sebelum mulai tersenyum, "Kau bilang apa padanya?"

"Kubilang aplikasinya bohong. Hasilnya pasti nihil jika kau menekan tombol scan-nya berulang-ulang. Tapi aku bertaruh akan kencan dengannya jika ia memang berani mencoba, meski ramalan itu bohong ataupun membuatnya menyuruh melakukan hal yang bodoh," jawab Naruto sembari menggeleng kecil tak habis pikir. "Aku kalah telak."

"Sudah …," ucap Hinata yang kemudian keluar dari ruang ganti.

Naruto bersiul dan Ino pun tertawa kecil sebelum mulai mematikan rokoknya. Kemeja pita dipadu dengan rok pendek dan kaus kaki putih selutut membuat gadis itu mulai tampak seperti manusia kembali. Ino menuntun Hinata duduk dan mulai memasangkan sepasang sepatu bot timberland ukuran sepergelangan kaki padanya.

"A-Ah! Kumohon, tidak usah repot-repot," pinta Hinata yang merasa tidak enak melihat Ino sampai berjongkok dan memasangkan sepatu buatnya.

"Tidak apa-apa. Kau tahu, penampilan adalah segalanya bagi seorang wanita. Berjanjilah kau tidak akan lagi turun ke jalanan sembari memakai kigurumi, ya." Ino tersenyum memandangi wajah Hinata yang merona merah.

"T-Terima kasih," jawab Hinata pelan dengan suara cukup serak.

Ino berjalan kembali menuju mejanya dan menulis kuitansi pembelian lalu menyerahkannya kepada Naruto. Pria itu kaget melihat jejeran angka nol di kertas itu, sedangkan Ino hanya meleletkan lidahnya sembari tersenyum jahil.

"Itu sudah kupotong setengah harga. Anggap saja upah hiburan pagi ini," lanjut Ino dan Naruto hanya bisa menghela nafas.

Keduanya pun keluar dari toko pakaian dan menuju bis yang kebetulan singgah di salah satu halte dekat situ. Cukup beruntung, ia dan Hinata menemukan satu tempat kosong. Naruto pun duduk dekat jendela dengan Hinata yang ada di sampingnya.

Hinata masih melirik Naruto yang tenang memandangi dunia luar, lewat perantara jendela bis. Mereka berhenti dan turun di halte tujuan. Sebuah taman bermain yang besar di kota mereka—Konoha Playland.

"Aku sudah janji 'kan?" ucap Naruto singkat, Hinata yang awalnya diam mulai tersadar.

"Eh … E-EH? T-Ta-Tapi kupikir kamu hanya bercanda, Uzumaki-senpai." Hinata memalingkan pandangannya dan menutupi sebagian wajahnya yang merah dengan tangan kirinya.

"Baiklah bercanda atau tidak, kau menang. Jadi kau mau aku melakukan apa, kouhai?" tanya Naruto dengan satu senyuman.

"S-Soal itu …," Hinata terdiam dan memainkan kedua telunjuknya.

"Es krim."

"Ppfffftttt!"

Lagi, gadis ini benar-benar menghiburnya. Naruto kembali tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan yang kekanak-kanakan itu dan membuat wajah Hinata kembali bersemu.

"M-Memangnya salah kalau minta es krim?" tanya Hinata sedikit menyentak, malu sekali.

"Tidak, aku hanya tidak menduganya. Kau tahu Hinata, sesuatu akan menyenangkan saat kau benar-benar tidak menduga hal itu akan terjadi." Naruto menghapus sedikit air mata di pelupuk matanya dan menggenggam pergelangan tangan gadis itu.

"Ikut aku!"

.

.

.

"Aku yang sekarang tidak lebih dari sosok dari masa lalumu. Aku akan punya banyak waktu di dunia sana."

Naruto memakan sedikit popcorn yang ia beli. Sementara para penonton fokus ke film di layar teater, ia malah fokus memandangi raut wajah Hinata. Gadis itu sedang mendalami cerita, atau mungkin dia sedang terseret masuk dalam ceritanya.

"Aku bisa menunggumu sepuluh atau bahkan seratus tahun lagi. Karena itu, kau tidak perlu menyusulku terlalu cepat…."

Seketika air mata Hinata menetes melihat ketulusan karakter wanita dalam film tersebut. Ia mengigit sedikit kuku jarinya, terus tenggelam dalam penjiwaan karakter tersebut. Naruto hanya tertawa kecil sembari menyodorkan tisu ke arahnya.

"Bodoh, aku juga tidak berniat menyusulmu dalam waktu dekat … terima kasih … karena sudah bersedia menungguku."

Tak ayal lagi, adegan terakhir dan kata-kata karakter pria membuat Hinata berlinangan air mata. Naruto kembali tertawa dan menyodorkan lagi satu tisu pada gadis itu. Hinata mengelap ingusnya yang sedikit meler dan juga matanya yang basah.

Lampu kembali menyala dan film itu pun selesai.

Naruto dan Hinata pun keluar dari teater tersebut, mereka berjalan ke salah satu bangku taman dan duduk sejenak menenangkan diri, setidaknya Hinata sekarang perlu ruang untuk bernafas.

"Filmnya bagus sekali, senpai." Hinata masih sedikit terisak membuat Naruto menggeleng kecil.

"Kau tidak menyangka itu akan terjadi 'kan? Maksudku, jika aku dalam kondisi itu aku mungkin bertindak egois dengan melompat masuk, bunuh diri dan semacamnya agar tidak ada yang memisahkan kami," lanjut Naruto dan Hinata hanya mengangguk.

"Hei, kita bahkan belum mencoba semua wahananya. Bagaimana sih kau ini?" Naruto tertawa menghibur Hinata, gadis itu mengusap kedua pelupuk matanya dan mengangguk.

Keduanya menghabiskan sekian banyak waktu mencoba ragam wahana taman bermain hingga sore menjelang. Berfoto bersama karakter Anime, juga makan es krim—tentu saja, es krim.

Tanpa Hinata sadari keduanya mulai bergandengan tangan menapaki cahaya senja menuju pintu keluar. Namun, perlahan Naruto melepaskan gandengan tangannya dari Hinata dan sontak membuat keduanya terhenti.

"Hei, sebelum kita pulang … aku ingin mencoba melakukan suatu hal yang cukup bodoh," ucap Naruto dengan tersenyum agak kecut.

Ia berjalan mundur lima langkah hingga Hinata dan dirinya saling berhadapan. Hinata mulai berhenti menyantap es krim vanilla miliknya dan memperhatikan Naruto.

"Buka aplikasinya, Hyuuga-san. Cari tahu apa yang akan aku lakukan dalam lima langkah!" lanjut Naruto lagi sambil tersenyum jahil.

Hinata mengambil ponselnya dan membuka aplikasi FT lalu menekan tombol pilihan fast scan.


Bagus, dia sudah mulai tertarik padamu.

Pertahankan!


Wajah Hinata bersemu merah, tak tahu kenapa rasanya ia mulai gugup. Apa yang sebenarnya Naruto rencanakan? Sesaat setelah Naruto kembali melangkah ia mulai kembali menekan tombol fast scan.


Lagi, kau harus bertahan!

Salah gerak sedikit saja kau akan kehilangan dia.


Hinata menelan ludahnya, ia memejamkan matanya dan masih hanyut dalam kebingungan tentang apa yang sebenarnya akan Naruto lakukan. Ia kembali menekan tombolnya sesaat setelah Naruto melangkah lagi.


Hampir.

Sedikit lagi kau akan mendapatkannya.

Teruslah berusaha! Kau pasti bisa memilikinya.


Seketika itu pula ingin rasanya ia banting ponselnya hingga hancur lebur, tak ada maksud sedikitpun baginya untuk mendapatkan Naruto, apalagi sampai memilikinya. Rasa gugupnya semakin menjadi-jadi, andaikata organ tubuhnya itu buatan manusia pasti sudah lepas sekarang. Naruto seolah menghiraukan keadaannya dan melangkah maju, kini jarak mereka sungguh sangat dekat. Gadis itu memaksakan tangannya yang sedikit gemetar buat memencet tombol ponselnya.


Kau beruntung.

Dia akan melakukan sesuatu yang merubah hidupmu.


Seketika itu pula ia menggenggam erat ponselnya dan memeluknya sembari menunduk. Tenangkan diri sejenak! Aplikasi ini masih punya kemungkinan gagal tiga puluh persen, pikirnya. Tapi, mengingat situasi sekarang apa yang akan terjadi? Apa yang akan Naruto lakukan hingga bisa merubah hidupnya?

Ragam pertanyaan menghujani pikiran Hinata. Rasanya sesak sekali ketika gugup, penasaran, takut, bercampur dalam dadanya. Naruto melangkah lagi hingga mereka berhadapan namun jemari Hinata terdiam.

"Tekan lagi," pinta Naruto dengan lembut, namun gadis itu sungguh tak mampu menggerakkan jarinya.

"Kalau kau tekan lagi kau mungkin tahu apa yang akan terjadi," lanjut Naruto namun Hinata masih membeku.

Hati kecilnya jelas mengatakan ia tidak ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, atau mungkin lebih tepatnya ia tidak ingin aplikasi ini yang memberitahunya. Ia ingin mengetahuinya secara langsung tentang hal bodoh apa yang akan pria itu lakukan.

Mungkinkah? Apakah Naruto akan menciumnya?

Hinata memejamkan mata bahkan sedikit menangis saat ia mulai merasakan hembusan nafas lembut pria itu di area wajahnya. Pikirannya serasa dipenuhi jutaan kunang-kunang, momen seperti ini terjadi terlalu cepat, sulit baginya jika harus menerima ini sekarang.

"Naruto-kun …," decitnya spontan dan air matanya pun menetes jatuh.

"Lihat? Kau tidak ingin benar-benar tahu apa yang akan terjadi 'kan?" bisik Naruto di samping telinga Hinata.

Pria itu mengangkat wajahnya dan tersenyum jahil. Jutaan kunang-kunang yang tadinya memenuhi pikiran Hinata seolah terbang berhamburan ke segala arah, membuat ia mampu kembali berpikir jernih.

"Bisa kita pulang sekarang? Itu bis terakhir lho," ajak Naruto lagi.

"Jahat! Jahat sekali! Benar-benar …, hiks ugh … Uzumaki-senpai jahat sekali!" Tangis Hinata pun pecah, ia berjalan sesengukan sembari memukul pelan pundak Naruto, pria itu mengaduh beberapa kali dan terus tertawa tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

.

.

.

"Masih marah?" tanya Naruto seiring jalannya mereka berdua.

Hinata hanya diam dan terus mengusap bagian pelupuk matanya yang basah, harusnya pria itu bisa sedikit lebih peka melihat keadaannya seperti sekarang ini. Memangnya wanita mana yang merasa senang setelah mendapat perlakuan semacam itu dari seorang pria.

Di sisi lain, tanpa Hinata sadari guratan senyum di wajah Naruto mulai terhapus, sesekali ia meremas dadanya yang terasa sesak, dan mulai sebisa mungkin menjauhkan pandangannya dari gadis itu.

Sesaat setelah langit mulai gelap, lampu-lampu jalanan di sekitar mereka pun perlahan mulai menyala. Sedikit banyak serangga malam mulai berdatangan mengerubungi lampu-lampu yang mereka lewati, tiang demi tiang.

"Disini," ucap Hinata sembari berhenti di salah satu rumah, tanda mereka sudah tiba.

"Kalau begitu aku pulang dulu ya, kouhai!" balas Naruto dengan sedikit senyum yang ia paksakan.

"T-Tunggu, Uzumaki-senpai!" tahan Hinata, sesaat kemudian Naruto berbalik.

"A-Apa kita masih bisa saling sapa di sekolah?" tanya Hinata, membuat Naruto terdiam agak lama.

Angin malam lewat membawa hawa dingin dan senyap. Bahkan suara riuhnya kota di kejauhan bisa terdengar sebab keadaan mereka sekarang terlampau sepi. Perlahan sebuah firasat seolah terukir dalam benak Hinata, garis ekspresi pria itu memberitahunya mungkin ini akan jadi pertemuan terakhirnya dengan Naruto sebagai dua orang yang saling kenal.

"Maaf sepertinya tidak," balas Naruto singkat dengan satu lagi senyuman yang ia paksakan.

"T-Tapi kenapa?" tanya Hinata lagi dengan cemas, tepat di sudut hatinya ia berharap apa yang Naruto ucapkan sekarang hanyalah candaan.

Naruto pun tertawa kecut lalu menatap lurus ametis gadis itu. "Kau mau jawaban jujur atau bohong?"

Hinata meremas genggamannya di pagar setinggi bahu yang kini memisahkan mereka dan memberanikan diri buat memandang balik Naruto dengan mata berkaca-kaca. "Berhentilah bercanda!"

"Aku melakukan ini karena kalah taruhan, tidak kurang dan tidak lebih." Naruto tersenyum kecut memandangi wajah Hinata yang seolah terus memaksanya buat bertahan.

Rasanya lebih sesak ketimbang apa yang ia rasakan di taman bermain tadi. Naruto mengatakannya dengan nada serius seolah itu benar-benar akan terjadi. Tidak, ia tidak ingin jawaban itu. Ia ingin Naruto tertawa lalu berkata padanya bahwa ia tengah berbohong.

"A-Aku akan lakukan apapun. Kumohon, berhenti bersikap seolah kita tidak akan saling mengenal lagi. Rasanya sesak sekali tahu!" teriak Hinata.

Naruto menghela nafas. Kesabarannya benar-benar sudah habis. Ia tak bisa lagi menahan diri buat kembali berjalan mendekat dan memeluk kepala Hinata, menjatuhkan gadis itu di bahunya. Hinata terkejut dan berusaha mendorong tubuh Naruto lewat celah pagar namun pelukannya yang erat seolah melepas rasa sesak yang tadi sempat menghampiri benak gadis itu—dorongan tangannya pun mulai melemah.

"Hapus aplikasinya!" bisik Naruto singkat.

Ia hanya diam, tak merespon kata-kata pria itu. Seolah Naruto akan segera melepasnya jika ia menjawab, bibirnya terkunci dan tubuhnya memaksanya untuk tetap diam.

"Aku tidak ingin ramalan tentang laki-laki lain keluar, jadi hapus aplikasinya selagi yang ditunjukkannya masih diriku." Kembali ia berbisik dan kali ini dengan penuh hasrat.

Benar-benar tanpa ampun. Hinata tersenyum mendengar kata-kata dari Naruto dan menjatuhkan dagunya dengan pasrah di bahu pria itu. Masih dalam pelukannya yang hangat, aroma jeruk sedikit tercium dari lehernya—memberikan kesan yang amat nyaman bagi Hinata. Mengapa Naruto bisa bertindak seegois ini? Apakah karena laki-laki itu menginginkannya? Memikirkannya saja membuat hati Hinata mulai berbunga-bunga. Tapi mungkin tidak seharusnya ia berharap setinggi itu, seperti ini saja baginya mungkin sudah cukup.

Baginya Naruto sungguh penuh kejutan.

Lucu, baik, meski kadang juga mengesalkan, dan yang lebih tidak adil membuat ia merasa sesak hanya dengan jauh dari pria itu.

"Kamu sungguh hanya memikirkan dirimu sendiri. Menyebalkan!" ucap Hinata pelan dengan nada kecewa bercampur lega, bahkan ia mulai sedikit menangis.

Keduanya diam, merasakan kehangatan yang masing-masing pihak berikan. Di bawah naungan langit gelap, juga senandung hewan malam, pelukannya terasa nyaman meski pagar besi menghalangi tubuh keduanya bersentuhan.

"Bisa kita seperti ini sedikit lebih lama lagi?" bisik Naruto lagi, gadis itu hanya berdehem kecil mengiyakan.

"Tapi jangan terlalu lama ya," bisik Hinata lemah, Naruto hanya tertawa kecil.

"Kenapa?"

"Ayahku mau lewat dan kamu menghalangi jalan, senpai."

Naruto melepas pelukannya dengan amat perlahan dan menatap datar Hinata. "Katakan kau bercanda!"

"Okaerinasai, Otou-san!" sambut Hinata pada Hiashi yang sedari tadi berdiri di belakang Naruto.

"Okaerinasai, Otou-san!" ucap Naruto reflek sembari melangkah ke samping dan membungkuk.

Hiashi menatap datar Naruto dan membuahkan satu jitakan tepat di kepala pria itu. "Sejak kapan aku setuju jadi ayahmu?"

Hinata melambai kecil ke arah Naruto, bersamaan dengan Hiashi yang mulai masuk ke dalam rumah. Wajah pria itu begitu merah menahan malu yang teramat sangat—gadis itu kali ini benar-benar sukses mengerjainya. Beberapa saat kemudian Hinata kembali keluar.

"Kita belum bertukar alamat e-mail." Hinata mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya ke arah Naruto.

"Kau benar-benar keterlaluan," balas Naruto tersenyum tipis yang kemudian juga mengeluarkan ponselnya dan mendekatkannya ke arah ponsel Hinata.

"Berjanjilah jika aku—"

"Iya, iya. Lagipula aku tidak bisa lagi jauh darimu, 'kan?" potong Naruto yang masih sedikit kesal sebelum kemudian memberikan satu senyuman yang tulus pada Hinata.

"Terima kasih, untuk hari ini."

.

.

.

"Hai hai, selamat datang! Siap melihat apa yang akan terjadi berikutnya padamu?"

Hinata bergegas membuka ponselnya dan tertawa kecil melihat pesan di dalamnya. Sakura yang tengah membersihkan mejanya menggeleng kecil dan tersenyum tak habis pikir saat melewati Hinata.

"Apa ramalannya bagus? Sepertinya kau senang sekali," tanya Sakura dan Hinata pun menggeleng.

"Nada dering pesan masuk. Hasil rekamanku sendiri lho," jawab Hinata dengan satu senyuman sembari menunjukkan ponselnya.

"Kau berhenti memakainya?" Sakura memiringkan sedikit kepalanya dan Hinata pun terdiam.

"Kurasa …, membiarkan semuanya jadi kejutan akan lebih menarik. Aku tidak ingin benar-benar tahu apa yang akan terjadi selanjutnya." Hinata pun berdiri dan bergegas menuju seorang pria yang tengah menunggunya di depan pintu kelas mereka.

"Aku berangkat lebih dulu ya, Haruno-san!" ucap Hinata dengan semangat dan Sakura pun melambai kecil sembari tertawa tanda ia mengerti.

"Kau tidak malu kita pulang bersama?" tanya Hinata dan Naruto berpikir sejenak.

"Kurasa aku mulai malu sekarang. Baiklah, kau pulang sendiri ya!" balas Naruto yang mulai berjalan lebih cepat.

"Eh? Jahat sekali!" Hinata meremas bagian belakang baju seragam pria itu, menahannya, dan keduanya pun mulai tertawa.

Sesaat mereka bertukar pandang sebelum berjalan beriringan kembali. Seperti ini pun rasanya tak apa, biarkan hal menarik selanjutnya jadi kejutan. Naruto menautkan kelingkingnya dengan kelingking gadis itu hingga keduanya pun mulai berjalan bergandengan.

"Bagaimana jika kita kencan lagi besok? Selanjutnya aku akan benar-benar menciummu, lho."

"E-EH?"

Baiklah, mungkin ia harus melihat ramalan untuk besok.

.

.

.

END


Mohon kesan, kritik, dan sarannya yaa…

Terima kasih, sudah berhadir di karya ini.

Nantikan juga karyaku selanjutnya yaa… :D