Um, hello, again?

Sebelumnya saya ingin menyampaikan beberapa hal, terutama bagi para author dan readers dari angkatan 2012 dan ke belakangnya. He-he-he.

Oke dulu—Oktober 2015—saya submit fic yang judulnya "Lupa" dan bilang kalau saya kangen sama FFn. Dan sekarang sudah Juli 2016 HAHAHA maafkan saya, kesibukkan dunia nyata menyita banyak waktu. Dan sekarang lagi libur super panjang, jadi, yah, saya ingin kembali ke sini.

Anyway, saya udah ada di sini dari tahun 2009 dan menelantarkan beberapa fic Bleach salah satunya adalah Time Traveler yang terakhir update tahun 2012... wah, sudah 4 tahun! #ditimpuk mungkin kalian sudah lupa dengan ceritanya. Sebenarnya, saya juga sudah lupa. #LOHLOH Um, mohon maaf, tapi ini serius. Saya lupa dulu saya mau kayak gimana plotnya, karena saya sepertinya tidak pernah menulis plot sebelumnya... Akan tetapi, saya akan berusaha untuk menamatkan fic itu. Namun, sekarang sedang berusaha mencari kembali feel dalam menulis daaan tada. Saya menulis fic ini.

Jadi, bagi kalian para readers dan author yang memang mengenal saya sejak dulu, jangan khawatir. Dan bagi yang belum kenal saya, salam kenaaal! Mohon bimbingannya ya, karena saya tahu tulisan saya sangat jauh dari kata sempurna :')

Well, I present you my very first multichap fic in a long time:


Anacampserote
a fic by ariadneLacie

.

Disclaimer : BLEACH by Kubo Tite

Warning : AU, (mungkin) OOC, don't like then—review, tell me what's on your mind!


Chapter 1

"Not A Fairytale"


"Rukia, selamat pagi."

Wajah mungil nan bulat yang ber-rona seputih porselen itu mengernyit dari balik tudung sweater berwarna peach -nya. Setelah mengeluarkan lenguhan selama beberapa detik, kedua bola matanya perlahan membuka. Memperlihatkan iris mata berwarna amethyst. Oh, tentu saja bukan sindrom alexandria genesis. Rukia dulu nyaris menganggapnya begitu ketika mengetahui sindrom mata berwarna violet itu, tetapi sepertinya itu hanya mitos. Namun, tidak menutup fakta bahwa pemilik iris seindah itu bisa dibilang satu berbanding satu milyar di dunia ini.

Langit di luar masih gelap, namun semburat matahari sudah terlihat di ufuk timur jalan tol yang lengang. Jam di dasbor menunjukkan pukul 05.00. Mobil yang dikemudikan oleh pria di sampingnya itu melaju dengan cepat namun mulus, rasanya Rukia tidak akan terbangun jika tidak dibangunkan oleh pria berambut oranye itu. "Hm? Bahkan kita masih jauh dari kata sampai, Ichigo... kenapa membangunkanku?"

Ichigo memutar bola matanya. "Teganya kau meninggalkanku menyetir sendirian ketika aku memberikanmu tumpangan di pagi buta, bagaimana jika aku mengantuk?" protesnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.

"Oh? Jika dari awal kau tidak tulus untuk memberiku tumpangan ya sudah! Jangan mengajakku pulang lalu sok ide dengan pergi di pagi buta untuk mengejar kelas sesi satu!" cerocos Rukia pedas.

"Ya paling tidak aku kan sudah membebaskanmu dari biaya bensin dan tol," balas Ichigo tidak mau kalah.

Rukia mendengus. "Yasudahlah, Tuan. You're the boss here." Katanya sambil memalingkan wajah ke luar jendela. Cahaya-cahaya lampu mobil dari berlawanan arah melewati mereka dengan kecepatan yang terasa jauh lebih cepat dari mereka, sebelum akhirnya menghilang ditelan kegelapan. Matahari masih enggan naik ke permukaan cukup tinggi untuk memberikan cahaya penerangan yang cukup.

Ini adalah hari Senin di pertengahan bulan Maret, yang artinya para mahasiswa tentu saja tidak sedang dalam periode liburan. Namun, untuk sebagian perantau—seperti Ichigo dan Rukia—mereka bisa menggunakan weekend sebagai ajang pulang kampung. Jarak kampus dan kampung halaman mereka hanya satu jam setengah jika ditempuh menggunakan mobil pribadi dan kecepatan maksimum—sekitar 140km/jam. Tentu saja, tanpa macet.

Sebagai orang yang lebih dari sering dalam menyombongkan kemampuan mengemudinya, Ichigo sering kali mengajak Rukia untuk kembali di hari Senin pagi. Meskipun mereka sama-sama memiliki kelas di sesi satu—pukul 8 pagi. Alhasil mereka akan berangkat sekitar pukul 4 pagi dari rumah. Jika jalanan lancar, mereka akan sampai pukul 6 pagi. Masih banyak waktu untuk kembali ke kosan dan melakukan hal-hal.

Namun, tentu saja meskipun berangkat di pagi buta, jalanan menuju Tokyo adalah sesuatu yang jauh dari kata lengang.

Mereka akan menemui barisan truk-truk ketika sampai di tol KM65. Kemacetan ini bukanlah macet yang membuatmu tak bisa bergerak sama sekali, namun akan menahanmu kurang lebih 30 menit. Atau lebih jika kamu tidak beruntung. Karena itulah, mereka sebisa mungkin pergi sepagi mungkin. Dalam kepulangan mereka kurang lebih 4x terakhir, mereka selalu sampai pukul 07.30 di kampus.

Rukia kembali menguap dan nyaris tertidur kembali. Pria berambut jingga di sampingnya itu baru saja mengatakan bahwa dirinya kesepian jika ditinggal Rukia tidur. Namun, kenyataannya ia sama sekali tidak mengajak Rukia mengobrol. Apa sih, maunya?

"Ichigo, jika kau tidak berniat mengajakku berbicara aku akan—"

"Halo? Sudah bangun?"

Tanpa Rukia sadari, salah satu tangan Ichigo telah terlepas dari kemudi dan beralih memegang sebuah handphone keluaran terbaru berwarna hitam. Elegan dan mulus. Tentu saja, seorang putra sulung Kurosaki Corp. tidak akan mungkin melewatkan handphone dengan teknologi tercanggih itu.

Tunggu, bukan! Bukan itu masalahnya saat ini. Ah, siapakah gerangan yang pria itu telepon? Tentu saja bukan lain dari...

"Baiklah, Senna. Aku akan menghubungimu lagi nanti siang. Jaga dirimu baik-baik, oke? Maaf kampusku belum libur. Ya, aku menyayangimu."

Telepon itu pun ditutup. Rukia sudah sejak tadi memalingkan wajahnya ke jendela, menelan kembali kalimat yang baru saja akan dikatakannya lalu memejamkan matanya. Pura-pura tertidur.

"Apa? Baru saja ditinggal 5 menit dia sudah tidur lagi... Hhh, yasudahlah." Ichigo bergumam frustasi, namun tidak nampak berniat untuk membangunkan gadis itu.

Rukia tetap memejamkan matanya meskipun rasa kantuknya sudah hilang sempurna. Ia baru saja mengenal Ichigo selama 6 bulan, namun mereka nyaris seperti sudah mengenal satu sama lain sejak lahir. Gadis alexandria itu tidak pernah kehabisan akal ataupun mati gaya dalam bercanda dengan pria jingga yang nyaris selalu berada di sampingnya itu. Hanya satu hal yang selalu membuatnya bingung untuk bereaksi.

Jika sudah berurusan dengan seorang gadis bernama Senna.

Tidak, tidak. Bukan karena Kuchiki Rukia menyukai seorang Kurosaki Ichigo. Hanya saja, karena tepatnya ia merasakan firasat yang aneh di antara mereka. Firasat... entahlah.

Ah, kalian pikir ini kisah cinta klise tentang dua orang yang saling mencintai dan menjalani kehidupan sehari-hari bersama lalu menikah tadaa it's a happy ending?

Sepertinya tidak.

.

.

"Umm, senangnya ya bisa menghabiskan masa tua di jalan bersama seorang Kurosaki Ichigo."

Rukia memutar kedua bola matanya. Wanita berambut emas dengan kecantikan yang luar biasa itu hanya terkekeh ringan lalu kembali berkutat dengan make-upnya. Sementara Rukia sibuk menarik koper yang rasanya beratnya melebihi dirinya sendiri itu. "Daripada meributkan hal itu, KENAPA KAU BISA ADA DI KAMARKU?"

Rangiku Matsumoto, sempat berkenalan dengan Rukia ketika masih di SMA namun lulus lebih dulu karena mengikuti kelas akselerasi, merupakan teman seperjuangan Rukia dalam menjalani kehidupan jahanam the-so-called-best Fakultas Ekonomi Todai ini. Sebenarnya sebagian besar faktornya adalah kebetulan, namun mungkin karena didorong mereka berasal dari kampung halaman yang sama juga, akhirnya mereka berteman dekat. Dipertemukan kembali ketika daftar ulang dan ternyata memiliki kamar kosan yang bersebelahan, ya, hal itu cukup untuk membuat mereka bertemu tiap hari.

"Yo, Rukia! Kau perlu bantuanku?"

Mengejutkannya, ada satu manusia yang sama-sama mengalami nasib seperti Rangiku di dalam hidup Rukia. Seorang pria berambut jingga dan mata yang sewarna dengan musim gugur. Kebetulan lagi, baru saja mengantarnya kembali dari kampung halamannya dengan mobil pribadinya. Dan lagi-lagi kebetulan, kamarnya berseberangan dengan kamar Rukia. Meskipun, berbeda gedung.

"Lompat saja ke sini seperti kucing liar Ichigo, tapi aku tidak akan membukakan jendela untukmu!" sambar Rukia pedas sambil menutup gorden kamarnya dengan kasar. Entah apa yang membuatnya segusar itu.

"Kalian baru saja bertengkar?" Rangiku yang sejak tadi sibuk memoleskan lipstick sambil menaruh cerminnya dan mendongak.

"Ah... tidak. Bukan hal besar." Rukia menjatuhkan dirinya di atas kasur lalu menarik nafas dalam-dalam. Ia juga bingung dengan sikapnya tadi. Kenapa ia merasa kesal sekali dengan Ichigo? Apakah karena telepon tadi pagi? Apa? Kenapa ia harus marah? Ichigo baru saja menelepon kekasihnya demi Tuhan, tidak ada yang salah dengan telepon tadi pagi!

"Rukia, Rukia... kembali ke kenyataanmu, ya?" gumamnya pada diri sendiri.

.

.

To Be Continued


HUFF. Setelah berbagai kontemplasi antara "publish gak ya... pembukanya kayak gini atau gimana ya... wah kok rasanya ga sreg ya..." yang memakan waktu cukup lama dari yang saya bayangkan, akhirnya saya memutuskan untuk publish fic ini di... H-5 lebaran? Ahahaha :'))

Karena masih chapter pertama dan masih percobaan, saya memutuskan untuk nggak panjang-panjang dulu bikinnya. Semoga terhibur, ya?

Kritik dan saran dengan me-review? Tons of love and thanks from yours truly, ariadne.