HAIII hampir semuanya protes tentang saya yang salah menulis tahun di chapter sebelumnya-dan sekarang saya sudah edit, terima kasih, minna-san.

Ya, hm, tanpa banyak prakata, here is the next chapter!


Anacampserote
a fic by ariadneLacie

.

Disclaimer : BLEACH by Kubo Tite

Warning : AU, (mungkin) OOC, don't like then—review, tell me what's on your mind!


Chapter 2

"One Truth About Her."


"Rukiaaa! Syukurlah aku menemukanmu."

Rukia menoleh dan mendapati seorang wanita berbadan sintal tengah berlari ke arahnya. Rambutnya yang bergelombang melambai-lambai, menarik perhatian para pria yang tengah bercengkerama di selasar kampus. Sementara sang gadis mungil yang nyaris tidak memiliki 'aset' selain kedua mata indahnya hanya bisa memperhatikan fenomena di depannya dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Rangiku? Ada apa?"

"Apanya yang ada apa! Bukankah kau janji untuk menemaniku menonton pertandingan futsal antar himpunan?" Rangiku mengerucutkan bibirnya.

"Oh! Ya ampun, maaf aku benar-benar lupa. Jadi, kapan pertandiangannya?"

"Sekarang, Rukia sayang. Untuk apa aku sampai berlari-lari mengejarmu?" Tanpa basa-basi lagi Rangiku menarik lengan mungil Rukia menuju gymnasium.

"Eh, tunggu! Paling tidak izinkan aku membeli makan siang dulu, itu penting untuk pertumbuhan!"

"Aku yakin hormon pertumbuhanmu akan terangsang melihat senpai-senpai tampan itu bermain bola dengan kerennya." Rangiku tidak menggubris protesan Rukia dan tetap menarik sahabat mungilnya itu. "Dan lagipula, bukankah kau seharusnya memberi semangat pada Ichigo-mu itu?"

"Eh?"

.

.

Suasana gymnasium cukup ramai. Terdengar sorakan dari para supporter—yang mayoritas adalah mahasiswi—mengelukan nama para senpai yang katanya tampan itu. Minggu ini adalah minggu di mana para himpunan bertanding futsal, Rukia yang notabene anggota dari himpunan Manajemen nyaris melupakan hal itu. Ia berhenti menonton pertandingan olahraga sejak lulus SMA.

Sebenarnya, Rangiku dan Rukia berada di jurusan yang berbeda. Otomatis mereka juga berada di himpunan yang berbeda. Namun, Rangiku menyukai seseorang yang berasal dari himpunan Rukia sehingga ia sangat bersemangat pada pertandingan hari ini. Rukia yang tidak menyukai siapa-siapa sama sekali tidak tertarik.

"Kyaaa! Kau keren sekali Ichigo-kun!"

"Kyaaa! Bazz-B melihat ke arahku!"

"Ggio kun nampak sangat hot ketika berkeringat!"

Rukia tidak habis pikir pada pernyataan cinta buta yang dilontarkan oleh para mahasiswi itu. Ia pun mengajak Rangiku untuk duduk di tempat anggota himpunannya berkumpul. Toh, hari ini himpunan Rangiku tidak bertanding.

"Rukia-chan! Dari mana saja dirimu?" seorang laki-laki bertampang rubah menegurnya. Rukia mengernyit heran. Sejak kapan kehadirannya—yang bukan siapa-siapa di sini—dibutuhkan?

Tepat saat itu juga, yang sepertinya hanya kentara bagi Rukia, Rangiku merona sedikit. Tidak seperti ketika ia tengah membicarakan pria-pria tampan lain dengan heboh. Jika ia sudah berhadapan dengan Ichimaru Gin, wanita itu seakan mati gaya. Ah, atau mungkin hanya menjaga imej? "Ah, Ichimaru-senpai, tapi aku tidak ingat memiliki tugas dalam pertandingan hari ini—"

"Tanpamu, Kurosaki tidak berkutik! Ayo semangati dia sedikit!"

"Hah?"

Rangiku menyikut lengan Rukia keras. Tanpa melihat sedikit pun, Rukia sudah tahu bahwa sahabatnya itu tengah mengeluarkan ekspresi mengejek. Suatu perubahan mood yang luar biasa dari sebelumnya. Namun, meskipun sudah dibilang seperti itu sekalipun ia tidak berniat untuk menghabiskan suaranya demi pria yang baru saja membuatnya gusar kemarin. Oh, apakah dirinya masih memikirkan hal sepele itu?

"KUROSAKI! KUCHIKI RUKIA SUDAH DATANG DAN MELIHATMU, KAMU PASTI BISA MEMENANGKANNYA KAN?"

Jantung Rukia nyaris copot mendengar teriakan menggelegar yang ditambah dengan bantuan sebuah toa. Sarugaki Hiyori, wakil ketua himpunan, nampaknya sangat berapi-api untuk memenangkan pertandingan ini.

Gadis itu pun memusatkan perhatiannya pada satu sosok laki-laki yang tengah berlari di tengah lapangan. Rambut oranyenya nampak agak lepek karena keringat. Wajahnya juga sudah memerah dan bersimbah keringat. Ya ampun, ia tampak agak mengenaskan. Kenapa ia tidak meminta time-out dan berganti dengan pemain cadangan?

Lagi-lagi mendapat kejutan, Ichigo berhenti dan menoleh ke arah para anggota himpunan. Kedua mata musim gugurnya—meskipun jauh, Rukia dapat mengetahuinya dengan pasti—bertemu dengan amethyst-nya. Jantung Rukia rasanya melewati satu detakan. Pria itu baru saja tersenyum padanya, seakan mengatakan, 'serahkan padaku!'

Pertandingan itu berakhir dengan skor 4-2 untuk jurusan Manajemen. Ichigo berhasil memasukkan dua gol, terhitung sejak Rukia hadir di tempat.

.

.

Meskipun sering dibilang mahal, kantin Fakultas Ekonomi Todai tidak pernah sepi pengunjung setiap harinya. Entah karena perut yang lapar tidak bisa dibohongi atau memang kondisi moneter para mahasiswa Fakultas Ekonomi memang selalu di atas rata-rata. Arsitekturnya merupakan sebuah kantin terbuka yang menghadap danau Todai. Mengusung tema rumah panggung, kantin tersebut sebagian besar terbuat dari kayu dan terdiri dari dua lantai.

Rukia tidak terlalu suka untuk nongkrong di kantin fakultasnya itu. Pertama, karena asap rokok tidak pernah absen di sana. Kedua, karena ia lebih sering memasak di kosan. Sebagai seorang gadis perantau yang berasal dari keluarga dengan perekonomian rata-rata, ia tidak ingin memberatkan kakaknya dalam biaya hidupnya. Karena itu, ajakan untuk merayakan kemenangan himpunan mereka dengan makan siang bersama langsung ditolaknya tanpa berpikir panjang. Lagipula, Rangiku sudah meninggalkannya karena ia ada kelas lain.

"Maaf, aku harus segera kembali ke kosan. Ada tugas menunggu, untuk besok dan banyak sekali!" Rukia membuat alasan yang meyakinkan Hirako-senpai untuk melepasnya pulang tanpa makan bersama mereka.

"Begitu? Ambisius sekali ya dirimu. Baiklah, terima kasih sudah memompa semangat Ichigo hari ini, Rukia-chan. Semangat mengerjakan tugasmu!" tanpa bertanya lebih lanjut, ketua himpunan Manajemen itu melepas Rukia untuk pulang ke kosannya. Rukia membalasnya dengan senyuman lalu pergi tanpa pamit lebih dulu pada yang lain.

Ichigo hanya memperhatikan kepergian sahabatnya itu tanpa berkomentar lebih lanjut.

.

.

Ting!

Baru saja merebahkan tubuhnya yang entah kenapa merasa lelah luar biasa di atas kasur, handphone Rukia berbunyi. Dengan malas ia meraih handphone-nya itu dari atas meja dan melihat pesan dari siapa yang masuk. Melihat nama pengirimnya, dahinya mengernyit. "Ichigo?"

From: Kurosaki Ichigo

To: Kuchiki Rukia

Kenapa kau tidak ikut merayakan kemenanganku?

Apa? Kemenangannya katanya? Seingatnnya yang menggolkan bukan hanya Ichigo saja.

From: Kuchiki Rukia

To: Kurosaki Ichigo

Aku sedang berhemat. Tidak mungkin ada anak manajemen yang rela mau mentraktir kalian semua hanya demi kemenangan konyol itu.

Rukia sudah berniat untuk memejamkan matanya barang satu atau dua jam ketika handphone-nya berbunyi lagi.

From: Kurosaki Ichigo

To: Kuchiki Rukia

Lalu kau melewatkan makan siang, begitu?

Jari-jari Rukia mengetik dengan cepat dan hanya menjawab dengan dua kata singkat.

From: Kuchiki Rukia

To: Kurosaki Ichigo

Aku memasak.

Berniat untuk mengabaikan dering handphone-nya dan pergi tidur saja, kali ini handphone-nya malah berbunyi pertanda ada panggilan telepon. Seingatnya, orang yang mungkin meneleponnya hanyalah kakaknya. Ada apa gerangan di siang bolong begini?

Kurosaki Ichigo is calling.

Manik violet itu menatap dengan nanar pada layar handphone-nya. Ada apa gerangan pria itu meneleponnya? Bukankah ia tengah berada di sebuah perayaan? Tak kunjung menemukan jawaban, Rukia pun mengangkat teleponnya.

"Halo?"

"Temani aku belanja ke supermarket sore ini, ya?"

"Eh?"

.

.

Ichigo hanya pernah dua kali mencicipi masakan sahabatnya yang bermata violet itu, namun itu cukup untuk membuatnya terkesima. Sebuah creampuff ketika mereka baru awal-awal berkenalan, dan beberapa kue kering yang baru-baru ini Rukia bawakan setiap ia mengantarnya dari Tokyo ke Karakura. Katanya, itu sebagai tanda terima kasih karena mau direpotkan. Namun, ia tidak menyangka bahwa setelah merantau pun gadis itu masih suka memasak.

Kemampuan moneter Ichigo bisa dibilang jauh di atas rata-rata. Dia bisa saja makan mewah setiap hari tanpa harus memusingkan bagaimana jatah uang sakunya ketika akhir bulan. Ayahnya yang direktur Kurosaki Corp. dengan saham di mana-mana itu akan dengan senang hati mengirimnya uang tambahan. "Yang terpenting anak laki-lakiku tumbuh sehat dan makanannya terjaga! Hahaha!" begitu, katanya.

Karena itu, agak aneh sebenarnya ketika ia mendapatkan inspirasi untuk mencoba memasak sendiri. Tampaknya, gadis yang baru dikenalnya beberapa bulan ini telah memberikan pengaruh yang cukup besar di dalam hidupnya. Bahkan melihatnya dengan tekun tengah memilih telur saja membuatnya berdecak kagum.

"Kenapa kau diam saja Ichigo? Tidak tahu cara memilih telur?" Rukia yang merasa diperhatikan pun menoleh dan mendapati pria berambut oranye itu hanya diam saja dengan kedua tangan di dalam saku.

"Uhh—"

"Oke, oke, aku pilihkan untukmu." Rukia menampilkan ekspresi mencemooh yang mengatakan 'dasar pria' menurut Ichigo. Namun apa dikata, ia memang tidak tahu apa yang harus dilakukan!

Rukia menyerahkan plastik yang hampir penuh oleh telur pada Ichigo lalu mengambil plastik kosong lain. Tangannya yang mungil dipadu dengan jemarinya yang lentik bergerak lincah di atas tumpukan telur. Membalik satu demi satu telur. Beberapa ia kembalikan ke tempatnya, beberapa ia masukan ke dalam plastik.

"Sebenarnya, hanya perlu memilih mana telur yang bersih, Ichigo," katanya. Ichigo yang memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar pun mencoba mengambil satu telur. Diperhatikannya baik-baik lalu disodorkannya pada gadis yang masih asyik memilih telur.

"Ini?" tanyanya ragu.

"Itu masih termasuk kotor, Ichigo. Coba contoh punyaku ini," kata Rukia sambil memamerkan telurnya yang bersih. Ichigo mengerucutkan bibir.

"Aku tidak akan kalah!"

.

.

Kegiatan belanja mereka berlangsung lebih lama dari yang Rukia perkirakan. Sebagian besar dihabiskan dengan mengajari Ichigo bagaimana cara memilih sayur dan buah-buahan yang benar dan perdebatan tentang bumbu masak. Ichigo juga membeli berbagai peralatan dapur karena ia sama sekali belum pernah memasak di kosannya.

"Sebenarnya kau berniat memasak apa, sih?" tanya Rukia kesal. Rasanya mereka sudah setengah jam berputar di bagian bumbu masakan.

"Mungkin filet ayam... dengan tepung. Terdengar enak dan sederhana untuk pemula sepertiku," jawab Ichigo polos.

"Lalu kenapa kau memegang berbagai jenis bumbu kari di tanganmu?"

Ichigo menatap beberapa bungkus curry mix di tangannya dengan tampang yang seakan mengatakan 'tapi aku juga ingin memasak kare!'. Rukia hanya geleng-geleng kepala. "Jika kau memang berniat membuatnya, beli saja. Akan tetapi, sayang sekali kalau kau membelinya hanya untuk dipajang di kamar."

"Senna sangat menyukai kare, aku ingin membuatkannya," kata Ichigo akhirnya. Namun, ia kembali meletakkan curry mix tersebut ke dalam rak.

"Ohh..."

"Hei! Sepertinya aku sering melihat ini di dapur rumahku. Hm, lebih baik merica atau lada hitam?" Ichigo menyodorkan dua buah botol bumbu ke depan wajah Rukia—yang tanpa ia sadari—air mukanya sudah agak berubah.

"Merica saja, lebih berguna menurutku. Menurutku, sih," jawab Rukia asal.

"Begitu? Senna juga bilang merica merupakan komponen yang penting. Baiklah." Ichigo menaruh botol lada hitam lalu meletakkan merica di dalam keranjang. Rukia sudah berbalik dan berjalan duluan, setelah menggumamkan bahwa mereka juga seharusnya membeli bawang-bawangan.

"Kuchiki-san? Kurosaki-kun? Berbelanja bersama?"

Langkah Rukia terhenti mendengar namanya dipanggil. Di depannya berdiri seorang laki-laki yang tengah bermain handphone. Rukia nyaris heran kenapa ia berhasil menyadari keberadaannya sebelum menabraknya. "Mizuiro?" dari belakang Ichigo menyahut sebelum Rukia sempat memberi respon.

"Eh?! Ichigo?! Ya ampun pasangan suami istri tengah berbelanja bersama?" dari belakang Mizuiro muncul Keigo—teman Ichigo di kampus—dan nampak sangat antusias.

Jika dipikir-pikir, memang Rukia dan Ichigo seperti tengah melakukan kegiatan berbelanja pasangan suami istri yang baru menikah. Dikarenakan Ichigo baru pertama kali akan memasak di kosannya, ia membeli peralatan dapur seperti panci, pisau, penggorengan, dan lain-lain. Seakan mereka berdua tengah melengkapi dapur rumah mereka.

Sebelum menimbulkan kecurigaan yang tidak perlu, Rukia menyela Keigo yang hendak mengomentari lebih lanjut. "Ah, aku hanya menemani bocah ini untuk belajar memasak. Kasihan sekali dia jika tidak ditemani, bisa-bisa hidupnya berakhir dengan masak mie instan sepanjang tahun!"

"Hei!" Ichigo protes.

"Baiklah, Asano-san, Mizuiro-san, kami permisi dulu, ya?"

Rukia pun langsung mengambil langkah seribu sambil menarik tangan Ichigo.

.

.

"Phew, terima kasih Rukia! Kau penyelam


at hidupku." Ichigo berjalan di samping Rukia sambil menenteng seluruh kresek belanjaan mereka. Rukia bersikeras membawa miliknya sendiri, namun Ichigo merasa kejantanannya akan dipertanyakan jika membiarkan gadis mungil itu ikut membawa belanjaan.

"Mungkin kau harus menggajiku perbulan untuk membantumu dalam segala hal di dunia perkuliahan ini," jawab Rukia sambil tersenyum jahat.

"Hm, tumpangan gratis setiap kita pulang memangnya belum cukup?"

"Ya ampun, aku hanya bercanda, Ichigo!" Rukia tertawa. Tawanya yang renyah bergema di sepanjang pelataran parkir motor.

Hening kemudian. Keduanya seakan tengah sibuk dengan pikiran masing-masing. Atau mungkin memperhatikan langit yang entah kenapa terasa lebih terang dari biasanya? Padahal rembulan malam ini hanya menyembul sedikit. Seakan malu-malu untuk menguping dari balik awan. Akan tetapi, jumlah kerlap-kerlip bintang mungkin memang terlihat lebih banyak dari biasanya.

"Kau akan menjadi istri yang baik, Rukia." Ichigo memecah keheningan. Rukia mendongak, menatap kepala berambut oranye yang tiba-tiba mengeluarkan sekian dari kalimat yang selalu berhasil membuat hati gadis itu pilu.

"Oh?" Rukia pun merespon sekedarnya, kembali menatap jalanan. Sebentar lagi mereka akan sampai ke tempat motor Ichigo diparkir.

"Yup. Kau jago masak, kau baik, kau pintar. Yah, pria yang menikahimu pasti beruntung."

"Ha-ha. Sayangnya, aku tidak akan menikah, Ichigo."

"Eh?"


To be Continued


Belakangan ini perhatian saya banyak sekali tersita dengan berbagai hal lain. Proyek menulis yang lain, kegiatan kepanitiaan, daily life problem, karena itu saya mohon maaf jika chapter ini terdengar aneh dan kurang mengalir :')) Di chapter ini juga kejadian yang ada masih seputar Rukia-Ichigo, tapi untuk chapter-chapter selanjutnya saya ingin mencoba untuk meng-eksplor karakter-karakter lain juga, so, bear with me, please?

Balasan untuk yang tidak login:

arachan: HAHAHA iya maafkan saya, itu harusnya 2016...

vine: Halo-halo salam kenal! Ya itu memang fenomena paling sering dalam kegiatan kuliah wuahaha. Wah kamu perantau juga seperti Rukia dan Ichigo? Semangat ya, kehidupan merantau sangat memberikan pelajaran yang berharga jadi worth it kok :')) terima kasih!

Review?