Kiznaiver bukan punya saya tentunya

Tapi ceritanya punya saya :v


Setelah hiatus tanpa alasan beberapa lama. Saya kembali dengan fandom yang baru. Di fandom ini saya liat minim banget persediaan ffnya. Maklum karena anime baru mungkin.

Saya tau ff saya agak abstrak dg plot klise. Tapi saya hanya ingin sedikit menghiasi fandom ini.

/kok formal bngt seh?


.

.

RnR?

.

.


Jari-jemariku merapikan surai merahku yang semula berantakan akibat aktivitas yang berlebihan. Helaan napasku terhempas kasar. Tanganku kini bertautan dengan tas sekolah dan hendak membawanya pulang bersamaku. Namun tautan itu terlepas saat aku melihatmu berlari di tengah-tengah hujan. Ya, hari ini hujan.

"Kacchon!" Aku sadar jika kau tidak mungkin mendengar seruanku dengan jarak yang jauh apalagi hari ini langit tengah merintih.

Kuputuskan untuk mengejarmu. Awalnya ragu untuk menyerahkan tubuh pada hujan namun akhirnya aku berlari memecah hujan hingga tercipta cipratan-cipratan. Dingin sekali rasanya. Aku memeluk diriku sendiri lalu mengedarkan pandanganku.

"Nori-chan!"

Kutangkap suaraku. Tapi mengapa kau harus memanggil nama gadis itu? Aku berjalan perlahan menuju belakang sekolah karena beberapa detik yang lalu kudengan seruanmu yang datang dari sana. Lalu atensiku menemukanmu.

"Ka-"

"Aku mencintai Nori-chan!"

Eh?

Apa aku salah dengar?

Terasa gemuruh di dalam dadaku. Tanganku yang semula menjaga suhu tubuhku kini terjuntai lemas. Kini tubuhku didominasi oleh emosiku. Sesosok gadis dengan surai biru berdiri memunggungi Kacchon.

"Nori-chan." gumam pemuda itu dengan suara yang hampir hanyut oleh air hujan. Beberapa detik kemudian sang gadis dengan wajah minim ekspresi itu terjatuh ke dalam pelukan pemuda itu.

Dan aku di sini menyaksikannya dengan hati yang retak dalam satu hentakan. Aku masih mampu menahannya karena aku tidak ingin menjadi pengganggu diantara mereka. Walau faktanya aku menyukai pemuda itu namun seluruh perasaannya ia tumpahkan pada gadis bersurai biru.

Lalu di sini aku bisa apa? Hanya membiarkan hujan menghanyutkan air mataku. Yang tersakiti hatiku namun mengapa seluruh tubuhku yang mati rasa? Aku enggan melangkahkah tungkaiku. Ah, lebih tepatnya aku tak mampu menggerakkan tubuhku.

Kucoba menenangkan nafasku di tengah-tengah rintihan langit lalu meyakinkan hatiku untuk melangkah mundur. Bukan mundur untuk menyerah, namun mundur untuk merelakan. Apa pemikiranku tampak klise? Apa dengan puing-puing hati ini aku masih bisa berfikir sejernih air hujan?

Di dalam ketenangan yang kuciptakan, tersembunyi sebuah rintihan. Aku hancur. Hati ini berseru ucapkan segala pedih. Hati ini menangis tumpahkan segala rasa sakit. Air mata yang tersembuyi di balik air hujan mengalir membawa perasaanku.

Beberapa saat setelahnya hujan berhenti dan sisakan aku yang masih berselimut air hujan. Masih terasa dingin namun kuharap perasaanku padanya dapat menguap seiring dengan keringnya air hujan.

Diluar dugaan. Masih saja terasa dingin dan perasaan itu kian mencabikku. Jika perasaan yang pedih ini mampu mengeluarkan darah mungkin saat ini aku sudah mati kehabisan darah. Masih dengan mata yang membengkak aku mengganti pakaianku dengan pakaian olahraga. Tidak mungkin aku kembali ke rumah dengan pakaian basah seperti itu.

Namun di ujung koridor kutemukan dirimu. Dengan tatap hampa ini kuteliti penampilanmu. Basah. Mungkin karena kau hujan-hujanan dengan gadis itu seperti drama di televisi. Gerakan tubuhmu menghentikanku. Dengan pasrah aku menurutimu tanpa melihat kembali ke arahmu.

Kau yang berdiri di depanku. Aku sudah memutuskan jika kau tinggalkah kenangan manis yang akan kukubur di dasar tubir. Indra pengelihatanku enggan menatapmu. Kutatap lantai yang basah karena tetesan air dari suraimu yang basah.

Dengan nada ragu kau sebuh namaku. "Chidori."

Aku menunggu kalimat selanjutnya yang akan kau ucapkan. Namun aku tak ingin menunggu lama-lama. Raga ini terlalu lemah untuk merasakan pedih lagi.

"Matamu kenapa?" Tanganmu hendak menyentuh pundakku, namun dengan kasar kutepis tanganmu. Kau tampak tersentak.

"Aku harus pulang sebelum hujan kembali mengguyur kota ini." Dengan nada stabil kuucapkan kalimat bodoh itu. Dengan sisa kekuatan ini aku mencoba untuk melangkah dan berlari.

Tungkaiku menginjak kubangan air hingga timbul cipratan yang membasahi celanaku. Bersamaan dengan itu, air mata ini kembali menerobos pertahananku.

Aku berlari sekuat tenaga. Meski langkahku tidak stabil dan mungkin saja aku terjatuh namun yang aku inginkan hanyalah berlari. Berlari dan berharap perasaanku tertinggal di bawa langit kelabu yang dingin.

Dengan nalar yang mulai jernih. Dengan napas yang mulai tenang. Walau hati masih terdapat goresan-goresan tipis namun aku akan selalu menatap ke depan. Aku akan selalu diam di bawah langit pagi cerah yang hangat dan menghindar dari langit dengan warna mati yang dingin.

Jikalau serpihan kenangan itu masih terselip di rongga-rongga kosong di dalam sana mungkin akan kubuat dia menguap karena hangatnya matahari pagi.

Tapi di sini aku tetap mengalunkan kata terima kasih padamu yang bersedia menjadi selembar kenangan untukku.


Kenapa kelas ini begitu ribut?!/plak

Maklum sy bikinnya pas lagi di kelas :'v

Maaf jika kurang memuaskan dan terima kasih karena sdh berkenan meluangkan waktu untuk membacanya/kok kyk penutup pidato?

-shiori