.

.

.

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Story by Icha-Icha Fairy

Part 1

enjoy


.

Saat musim semi tiba, bunga-bunga bermekaran dalam melodi cinta.

Seseorang melumpuhkan hatimu, di antara orang-orang yang tak berarti apa-apa..

Seperti kau tertarik padanya, bertanya apa ia juga tertarik padamu?

menaruh perasaan pada seseorang, begitu rasanya...

.

Lalu... tiba saat sesuatu datang mengubahmu...

Kau harus menerima siapa dirimu

Berani menengok ke dalam hatimu

Sesungguhnya... apa yang ada di dalam sana?

.

.

.

WUSSSH...

SRAK...!

Sosok hitam terbang di atas awan. Kecepatannya cukup tinggi saat ia menerjang lebih rendah dan menerobos masuk di antara deretan ladang jangung. Ia terbang tidak terarah... sesuatu sedang mengejarnya di belakang. Tiba-tiba sebuah ledakan terjadi. Sosok itu terlihat jelas ketika ia menghantam daratan cukup keras. Tanaman jagung di sekitarnya tebakar oleh api.

Malam itu, bulan sabit bersinar dalam keheningan malam desa Konohagakure, sinarnya cukup memperjelas apa yang baru saja terjadi. Seorang pria tersungkur lemah, tubuhya penuh luka. Ia memiliki bola mata berwana merah, sorot matanya tajam menatap sesuatu yang sedang mendekatinya.

"Menyerahlah..." ucapan itu terdengar dari seorang pria. Ia memiliki mata yang sama. Merah dan tajam. Kedua sayap membentang dari sisi punggung pia itu. Wajahnya samar dalam remang-remang sinar rembulan.

"Hentikan Itachi..." pria yang terluka itu memohon.

"Kau pantas mendapatkannya." sosok yang disebut Itachi itu menciptakan api hitam dengan satu tangannya. "Teruslah hidup, Sasuke."

"Tidak!" seru Sasuke. Tubuhnya begitu lemah sehingga ia tidak bisa melawan.

Itachi menghempaskan telapak tangannya pada permukaan tanah. Api dengan cepat menjalar pada ladang jagung dan membentuk sebuah tanda cukup besar. Sasuke kesakitan, teriakannya begitu keras membelah keheningan malam.

.


.

Greenoch

.

"Cinta menyatukan semua tujuan waktu"

.

.

Semilir angin menerpa paras jelita seorang gadis remaja yang duduk di tepi jendela kamar. Rambut merah mudanya bergerak lembut dalam untaian mahkota sepanjang leher. Goresan pensil miliknya terukir lincah di atas lembar kertas saat gadis itu menggambar setangkai bunga mawar.

Senja hadir, kemuning sinarnya menerobos ke dalam sebuah kamar beraksen pedesaan yang yaman, dinding-dinding batu bata membatasi ruangan berukuran sedang itu. Salah satu sisi dinding kamar disekat dengan tumpukan gelondong kayu, dipenuhi oleh tempelan sketsa, menggambarkan hasil imajinasi dari seorang gadis bernama Haruno Sakura.

Gadis itu menghentikan gerakan tangan saat kesekian kalinya angin kembali berhembus. Sakura memandang ke luar jendela, sorot matanya tertuju pada dua tupai yang berdiri di atas pagar bambu. Lihatlah.. Kedua tupai itu tengah berusaha membuka satu biji kenari bersama-sama. Teduh hijau bola mata Sakura terpaku, menjadikan kedua binatang itu sebagai pusat pandangan dimana pikirannya terbang ke tempat lain.

"Apa yang kau lihat?" seorang gadis masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu. Lamunan Sakura buyar, sesaat ia menoleh ke arah belakang, tampak seorang gadis bersedekap sambil berjalan menuju ranjang Sakura, parasnya cantik, ia memiliki rambut pirang dikucir kuda.

"Aku ingin mendengar ketukan, Ino." ucap Sakura, ia kembali memusatkan perhatiannya pada buku sketsa.

"Knok... Knok... apa ada orang di dalam? oh... ada seorang gadis sedang melamun." gadis bernama Ino itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang berlapis spray putih. Ino mulai menatap langit-langit kamar hingga kemudian ia berbalik dan memandang punggung Sakura.

"Satu khayalan baru untuk memenuhi dinding kamarmu huh?" tanya Ino.

"Kau bahkan belum melihatnya." Sakura menghapus goresan pensil lalu mengibas-ngibaskan sisa hapusan itu sambil meniupnya.

"Lihat, seseorang tidak tahu bahwa dirinya sudah diabadikan. Kamarmu mirip seperti gallery." mata Ino mengedar, memperhatikan semua sketsa yang tertempel pada sebagian besar dinding kamar itu. Hampir seluruh sketsa yang Sakura buat menggambarkan seorang pria yang sama.

"Bagaimana jika memperlihatkan semua koleksimu ini padanya?"

"Inooo..." Sakura langsung menoleh dan Ino pun tersenyum tipis.

"Menurutku Gaara akan takjub melihat ini." satu kesimpulan dapat diambil ketika melihat raut wajah Ino menggoda Sakura.

"Dia tidak akan melihatnya." emerald Sakura tertunduk malu.

"Jika begitu, semua ini sia-sia." sahut Ino.

"Tidak!" bantah Sakura, "Aku hanya..." suaranya pun menghilang.

"Sebuah kisah tidak akan terjadi jika kau tidak memulainya."

"Ino, aku seorang gadis, aku bukan pria."

"Haa..." Ino membuang nafas. "satu saingan penggemar Gaara tersisihkan..." gadis itu melipat tangan, menjadikannya sebagai bantalan kepala. Sakura terdiam dan hanya memandang Ino.

"Jumlah peserta baru yang akan ikut upacara pembersihan tahun ini lumayan banyak. Para gadis tidak sabar menanti hari itu. Mereka selalu menyebut-nyebut nama Gaara..." Ino mengerling. Perhatian Sakura langsung terpusat , wajahnya menyiratkan antusias yang mendalam.

"Sepertinya kau akan melewatkan kesempatan tahun ini lagi, kesempatan di usia sembilan belas mu..." Ino tersenyum, menditeksi raut wajah Sakura yang berusaha tetap tenang.

"A-aku ikut!" Sakura pun bangkit dari kursi, tangannya yang mengepal menunjukkan tekad, sama seperti sorot matanya yang penuh keyakinan.

"Kau yakin? Kau tahu betul tempat apa yang akan kau kunjungi... kukira paman sudah menyiapkan alasan untuk ketidak ikut sertaanmu..." Ino bangkit dari tidurnya.

"Tidak. Kupikir sudah saatnya aku ikut berpasitipasi." Sakura mengerling ke arah lain, semburat merah terpancar di wajahnya.

"Wooah, demi cinta?" Ino menyeringai. "Katakan ideku brilian..." Ino bersedekap. Sakura terdiam dan memalingkan wajah ke arah Ino. "Hmmm? bagaimana?" Ino menggerakkan kepala, menghadapkan telinganya condong ke depan. "Saatnya perkenalan..."

"Inoooo..." Sakura tersipu malu.

"Perkenalkan, namaku Haruno Sakura. Aku menyu..."

"Inoooo...!" Sakura langsung melompat dan menerjang Ino. Kedua gadis itu bergulat di atas ranjang sambil terkekeh.

.


.

Keesokan harinya. Mentari mulai menampakkan cakrawala saat ayam berkokok. Burung-burung beradu kicau dalam heningnya subuh. Kabut menyelimuti ribuan pohon cemara yang mendominasi desa itu. Gemericik air sungai yang merdu, embun yang menetes di setiap dedauan. Sebuah desa bernama Konohagakure. Dikelilingi oleh pegunungan dan hutan. Desa yang cukup luas, hamparan ladang jagung dan gandum menyelimuti tempat itu. Penduduk desa memulai kegiatan mereka. Para petani pergi ke ladang, pengembala domba membawa pasukannya menuju padang rumput, ketukan lumbung padi saling bersautan, menjadi irama yang khas untuk memulai segala aktifitas.

Sakura terbangun, pandangannya mengarah pada jendela beberapa detik sampai ia beranjak turun dari ranjang. Semilir angin menyambut Sakura saat ia membuka jendela. Hari ini cukup sejuk, musim dingin sudah berakhir dan bunga-bunga bermekaran indah dalam musim semi. Sakura berjalan keluar kamar, ia menuruni anak tangga menuju dapur. Rumah Sakura sederhana, tidak kecil namun juga tidak begitu luas. Rumah dengan aksen tratidional pedesaan yang kental, sebagian besar bangunannya terbuat dari kayu dan bebatuan, atapnya terbuat dari jerami tebal yang mengerucut membentuk segitiga, atap langitnya tinggi, cahaya masuk dari kaca jendela yang terbuka di ruang tengah, seluruh ruangan dilapisi lantai kayu. Sakura menggeser pintu dan melangkah memasuki dapur, ia mendekati tungku dan berjongkok, mengambil korek lalu menghidupkan api pada tumpukan kayu bakar yang sudah disiapkan. Hawa pagi yang terasa sejuk membuat Sakura betah berdiam diri di depan percikan api yang mulai menyala. Gadis itu terpaku memandang tungku. Hari ini..., ada sesuatu yang spesial di hari ini. Sakura pun bangkit, meletakkan panci berisi beras merah di atas tungku lalu menutupnya dengan penutup kayu, ia meletakkan bongkahan batu besar di atas penutup panci lalu beranjak dari dapur.

Sakura hidup berdua bersama sang ayah, ia anak tunggal dan tidak memiliki saudara, ibunya meninggal dunia saat ia dilahirkan. Ayah Sakura membesarkan putrinya seorang diri. Ayah Sakura bekerja sebagai pembuat roti, ia membuka toko kecil di samping sisi rumahnya, bangunannya menjadi satu dengan rumah mereka.

"Kuharap ini terakhir kali kau akan menaikkan harga Chouza..." seorang pria setengah baya bertanya pada seorang pedagang gandum. Pria itu memiliki rambut cokelat menyerupai bintang laut, dia adalah ayah Sakura, wajahnya tenang saat memperhatikan Chouza memindahkan dua karung gandum dari gerobak dorong. Keduanya berdiri di depan halaman rumah.

"Percayalah Kizashi, kami mengalami masa panen yang tidak lancar musim ini." pedagang itu meletakkan karung di samping ayah Sakura. "Kabar baiknya adalah, kami masih bisa menyelamatkan apa yang tersisa, khualitasnya tetap sama. Kelezatan roti buatanmu akan selalu terjamin." Chouza melepas topi jeraminya dan mengibas-ngibaskan topi itu mengarah pada wajahnya. Memiliki badan gemuk membuat pria setengah baya itu mudah berkeringat.

"Kau benar, dan kabar baiknya... aku harus menaikkan semua harga roti buatanku." ucapan Kizhashi membuat Chouza tersenyum simpul.

"Bukan hanya ladang gandum, Jagung pun mengalami gagal panen." ucap Chouza.

"Jagung?" sebelah alis Kizashi terangkat, "Kukira hanya petani labu yang mengeluh soal ladang mereka..." Kizashi menarik-narik lembut ujung kumisnya.

"Kau belum tahu kabar terbaru..?" tiba-tiba Chouza merendahkan suara dan ekspresinya berubah serius..., sedikit serius karena mimik wajahnya tidak terlalu tegang juga.

"Semalam..., beberapa orang yang berpatroli melihat makhluk itu terbang di wilayah selatan." suara Chouza kian lama semakin rendah sehingga Kizashi menggerakkan kepalanya ke depan.

"Makhluk? makhluk apa?" tanya Kizashi, ia menarik kepalanya kembali.

"Ssshhhhhtt..." Chouza menggerakkan satu jarinya ke depan mulut dan ayah Sakura semakin penasaran. "Orang-orang mengatakan ini ada hubungannya dengan gagalnya panen jagung, kau tahu tanda yang terbentuk di ladang labu bukan? tanda itu sama dengan tanda yang ditinggalkan di ladang jagung hari ini, begitu pula di ladang gandum kami..."

"Lalu apa hubungannya dengan makhluk yang kau bicarakan?" Kizashi semakin penasaran.

"Semalam, sebelum ladang jagung rusak, seseorang melihat makhluk dengan ciri-ciri sama terbang melewati sungai, sosoknya hitam penuh bulu..., seperti bulu..." mata Chouza mengarah ke atas, menerawang seperti apa makhluk itu untuk dideskripsikan. "Ah! bulu bebek! seperti bulu bebek!" seru Chouza, spontan ia membungkam mulutnya sendiri.

"Bulu bebek?" alis Kizashi terangkat kembali, "Maksudmu seekor bebek terbang dan merusak hektaran ladang jagung? bebek jenis apa dia?"

"Hei...pelankan suaramu kizashi..." wajah Chouza waspada pada sekitar mereka.

"Lalu kenapa kau seperti takut saat membicarakan bebek itu?" tanya Kizashi.

"Itu karena orang-orang berpikir makhluk itu adalah penjaga Greenoch.."

"Hmmm..." wajah Kizashi tenang memikirkan sesuatu."

"Kau benar, tapi belum pasti jika itu adalah seekor bebek, aku hanya mengira-ngira saja. Ada yang mengatakan bahwa bentuknya juga menyerupai manusia kelelawar..."

"Kelelawar?"

"Ayaaaaah...!" Sakura memanggil dari balik jendela toko roti. Obrolan terpotong, Kizashi dan Chouza serempak menoleh. "Sarapan akan segera dingin...!" seru Sakura, ia melambaikan tangan ke arah Chouza begitu pula sebaliknya.

"Aku datang..." sahut Kizashi, Sakura langsung beranjak dari jendela.

"Putrimu semakin dewasa Kizashi, wajahnya kian cantik seperti ibunya..." puji Chouza. "Bersiaplah menyambut tamu pria di balik pintu rumahmu..." candanya.

"Ya, aku menantikan saat itu..." Kizashi tersenyum simpul sambil mengulurkan beberapa lembar uang pada Chouza.

"Baiklah, saatnya mencari nafkah kembali..." ucap Chouza, "Ah benar! ini hari spesial bukan? apa Sakura ikut upacara suci tahun ini?"

"Entahlah, aku akan mendengar jawabannya saat sarapan nanti..." Kizashi mengangkat dua karung gandumnya. "Terimakasih Chouza, sampai jumpa..."

"Sama-sama! sampai jumpa..." Chouza beranjak menuju gerobak sapinya.

.

.

"Baunya lezat... apa yang kau masak sayang?" Kizashi menghampiri meja makan dan menarik kursi.

"Bubur beras merah kesukaan ayah." jawab Sakura, ia menuangkan bubur ke atas piring Kizashi.

"Ah, Sakura... hari ini..."

"Aku akan ikut." potong Sakura. Perhatian Kikazhi langsung terpusat pada puterinya, "Aku sudah memikirkan ini dan aku memutuskan untuk ikut." Sakura tersenyum tipis.

"Tapi sayang..." Kizashi tampak keberatan. Sakura mengangguk dan menarik kursi makan. "Bahkan kita belum membicarakannya sayang, ini terlalu mendadak."

"Aku akan baik-baik saja ayah..." Sakura duduk dan mengangkat sedoknya, "kau tidak perlu mengkhawatirkanku." sambung gadis itu. Kizashi tidak mengatakan apapun, ia hanya memandang putrinya.

"Kulihat kalian berdua membicarakan sesuatu yang serius, apa yang paman Chouza katakan?" Sakura mengalihkan topik pembicaraan.

"Ah..., itu soal ladang labu, kejadian yang sama dengan ladang-ladang lainnya." jawab Chouza. "Mereka mengatakan makhluk itu menyerupai seekor bebek. Ah... bukan.., mungkin kelelawar..."

"Mungkin itu roh halus..." ucap Sakura, "yang sedang kelaparan..." sambungnya sambil berdengus geli.

"Kau pikir begitu?" sahut Kizashi, "Semoga dia tidak mengunjungi toko kue kita.." ucapan Kizashi membuat Sakura tertawa. "Sayang, jika kau tetap ingin pergi..."

"Ayah..." potong Sakura, "Tidak akan terjadi apapun padaku, percayalah..."

Kizashi terdiam dan memikirkan persetujuannya. "Baiklah, kau bisa pergi."

"Aku tahu ayah akan mengijinkanku." Sakura mengembangkan senyumannya. "Suatu hari aku akan pergi dan tahun ini adalah saatnya."

"Kau akan membutukan beberapa masker, ayah menyimpannya di kotak obat." ucap Kizashi kemudian. "Pastikan kau tidak..."

"Aku tahu ayah..., sesuatu yang kuperlukan sudah siap." Sakura bangkit dari kursi dan mencium pipi Kizashi.

"Hei, sarapanmu..." tegur Kizashi saat putrinya melangkah pergi meninggalkan meja makan.

"Kusisakan untuk kelelawar itu ayah..." sahut Sakura, ia berlari mengarungi tangga dan Kizashi hanya menggelengkan kepala.

.

.

Pukul delapan pagi, semua remaja berkumpul di lapangan desa Konoha. Beberapa orang yang terlibat dalam pengurus tampak sibuk menyiapkan keperluan untuk membawa lebih dari seratus muda-mudi menuju tanah Greenoch, sebuah tempat suci yang terletak di perbatasan Konohagakure. Menurut kepercayaan desa, Greenoch adalah tempat spesial bagi para malaikat dan roh saat turun ke bumi. Tempat itu dianggap suci. Secara turun-temurun, tradisi membersihkan Greenoch melibatkan seluruh remaja desa. Para muda-mudi yang belum terikat dalam tali pernikahan berkewajiban membersihkan tempat itu setiap tahunnya. Hal ini wajib dilakukan sebagai bentuk penghormatan bagi para leluhur. Usia para peserta pembersihan suci meliputi remaja maksimal berumur lima belas tahun hingga orang dewasa.

Tahun ini adalah tahun pertama Sakura mengikuti upacara pembersihan. Bertahun-tahun lama sebelumnya ia selalu ijin untuk tidak ikut serta. Penduduk mengatakan..., konon para remaja yang tidak pernah menginjakkan kaki mereka di tanah Greenoch untuk upacara pembersihan akan sulit mendapatkan jodoh dan kurang beruntung di dalam kehidupannya. Mitos itu dipercaya penduduk setempat tapi Kizashi tidak memperdulikan apa yang mulai digosipkan penduduk sekitar tentang putrinya, saat Sakura tumbuh dewasa hingga saat ini ia menginjak usia sembilan belas tahun.

Pagi ini, sosok Sakura yang ikut serta dalam kegiatan pembersihan membuat orang-orang yang berkumpul di lapangan terkejut. Tidak sedikit dari mereka mencuri pandang ke arah Sakura yang berdiri disamping Ino, gadis itu mengenakan baju hijau berlengan panjang dipadu celana krem dengan ujung yang dimasukkan ke dalam sandal boot kulit setinggi betis, ia juga membawa tas rangsel kulit berukuran sedang. Sakura mengenakan masker yang tebuat dari kain katun, masker itu menutupi sebagian besar wajahnya sehingga sorot emerald dan rambut merah muda Sakura paling mencolok di antara kerumunan orang.

"Kau menjadi pusat perhatian di tahun pertamamu." bisik Ino.

"Kurasa kaulah yang menjadi pusat perhatian." sahut Sakura, kedua tangannya bertopang pada tali tas. Emerald-nya mengedar, menangkap beberapa sorot mata yang tertuju pada mereka.

"Bukankah dia anak pemilik toko roti Haruno?" seorang pria dengan tato di kedua pipinya berbicara pada seorang pria di hadapannya, pria dengan rambut merah menyala itu memiliki sorot jade yang tajam dan tenang, parasnya yang tampan menjadikan ia sebagai pusat perhatian para wanita, pria itu adalah Sabaku Gaara.

DEG

Emerald Sakura langsung mengalih ketika ia mendapati Gaara tengah memandang ke arahnya, kedua tangan gadis itu menyengkram erat tali tasnya. Ino memperhatikan dan ia menoleh ke arah Sakura, ekspresi wajah gadis merah muda itu membuat Ino tersenyum simpul.

"Dia melihat ke arahmu..." bisik Ino.

"Aku tahu itu." sedikit semburat merah terpancar pada pipi Sakura, gadis itu berusaha tenang, sekelibat perhatiannya tertuju ke arah Gaara kembali, pria berambut merah itu melanjutkan obrolannya dengan Kankuro.

"Itu Kankuro. kakak tertua Gaara." jelas Ino.

"Aku tahu itu.." sahut Sakura.

"Oh maaf, aku lupa... Kau tahu segalanya tentang Gaara." ucap Ino. Sakura hanya melirik dan tidak menyaut lagi.

"Huaaaaaaah..." selang beberapa detik seorang pria menghampiri, ia menguap lebar di samping Sakura, membuat gadis itu langsung menoleh, di saat bersamaan pidato kepala desa dimulai dan peserta upacara pembersihan memusatkan perhatian mereka.

"Naruto..." panggil Sakura. Pria dengan rambut jabrik kuning itu menampakkan dirinya dengan wajah kantuk, cairan bening terkumpul di kedua ujung matanya.

"Ah, dia tidak membangunkanku..." gumam Naruto, sorot pandangnya tertuju pada kepala desa yang sedang berpidato di depan. Kepala desa itu memiliki warna dan model rambut sama dengan Naruto, bahkan obsidian bola mata mereka yang secerah langit biru.

"Minato-sama tidak punya waktu membangunkan anak sepertimu..." celetuk Sakura.

"Sebaiknya kau kembali di bawah selimut tebalmu." timpal Ino. Naruto tidak menanggapi perkataan mereka, sorot matanya sayup-sayup saat ia dan Minato yang tak lain adalah ayahnya saling memandang dari kejahuan.

"Kau melupakan ini.." Naruto menyodorkan kotak bekal pada Sakura. "Paman menitipkan ini padaku di jalan, isinya sudah berkurang satu. Terimakasih." ucap Naruto. Sakura memasang wajah malas sambil menyaut kotak bekalnya, kemudian ia melambaikan tangan pada Naruto, memberi isyarat Naruto untuk mendekat.

"Hmm?" Naruto mendekatkan telinga dan Sakura membisikkan...

"BANGUN! BODOH!"

Mata Naruto langsung melebar, nyawanya terkumpul dalam hitungan detik. Semua orang menoleh ke arah mereka. Minato yang masih berpidato melirik ke arah sumber suara. Sakura terpaku dan ia tersenyum kaku di balik maskernya. Malu.

"Suaramu lebih mengerikan dari ibuku..." omel Naruto, perhatian orang-orang kembali tertuju pada pidato kepala Desa. Naruto dan Sakura saling beradu mulut dengan nada pelan namun penuh penekanan, interaksi yang terlihat di antara mereka menunjukkan betapa akrabnya kedua orang itu. Naruto adalah sahabat Sakura sejak kecil, ayahnya, Namikaze Minato menjabat sebagai kepala desa Konohagakure. Orang mengatakan bahwa Naruto mewarisi wajah serta sikap enerjik ibunya, Uzumaki Kushina.

"Hi...hi...hi..."

Gerombolan gadis yang berada di barisan belakang terkekeh ringan, mereka berbisik-bisik sambil melihat ke arah Gaara yang berdiri tidak jauh di depan mereka. Suara para gadis itu membuat Sakura menoleh, emerald-nya tertuju pada seorang gadis yang berdiri di tengah-tengah, gadis itu memiliki paras yang cantik, ia memiliki dua mata lebar dan indah, rambutnya bewarna ungu, terurai lembut sepanjang pinggang.

"Dia Yugao Uzuki..." bisik Ino pada Sakura. Naruto ikut menoleh sambil mengusap telinga yang perih karena baru saja Sakura menjewernya. Perhatian beberapa pria juga tertuju pada para gadis itu, tepatnya pada Yugao. Sosoknya membuat Sakura tidak berpaling. Yugao tersenyum saat Gaara kebetulan menoleh ke belakang, pandangan kedua orang itu bertemu. Sakura memperhatikan mereka dari kejahuan, begitu pula Naruto. Tampaknya.. raut wajah Naruto tidak menunjukan rasa pesona pada sosok Yugao, pria itu menoleh ke arah lain dan mendapati seorang gadis anggun tengah mencuri pandang ke arahnya, gadis berambut panjang itu langsung mengalihkan pandangannya saat mata mereka bertemu. Naruto pun hanya menautkan alisnya.

.

.

Sebelum berangkat, semua peserta upacara pembersihan mendapatkan sehelai tali merah. Mereka wajib mengikatkan tali itu pada pergelangan tangan mereka masing-masing. Tali merah tersebut sudah diberkati sebelumnya oleh ahli spiritual sehingga para peserta terhindar dari mara bahaya. Kemudian mereka dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok beranggotakan lima orang. Mereka membagi area yang harus dibersihkan oleh setiap kelompok setibanya di Greenoch. Sakura berharap ia dan Gaara masuk ke dalam kelompok yang sama tapi sayang keberuntungan tidak berpihak padanya, gadis itu masuk ke dalam kelompok yang sama dengan Naruto dan Ino. Anggota lainnya adalah pria berbadan gemuk yang tengah asik mengunyah roti, dia adalah Chouji, putra dari pedangang gandum Chouza, dan yang terakhir seorang pria berkulit putih pucat, tipe pendiam yang selalu tersenyum. Naruto mengenal pria itu, ia menyebut nama Sai saat menyapanya. Sai tampak perduli walau raut wajahnya berbanding terbalik dengan apa yang terlihat.

Perjalanan dimulai, semua peserta menempuh perjalanan kaki menuju Greenoch. Lokasi tempat itu berada di dataran tinggi perbatasan desa Konoha, mereka melewati padang rumput dan mengarungi jalan bebatuan yang cukup menanjak. Pemandangan desa semakin terlihat dari atas sana.

"Sakura! Ino!" seorang gadis berlari di antara barisan peserta, gadis itu langsung merangkul bahu Sakura dan Ino dari belakang.

"Tenten..." sahut Ino, "Aku tidak melihatmu saat kita berkumpul di lapangan..."

"Mim-mimpiku sangat nyenyak, fu..fu...fu..." nafas gadis bercepol dua itu memburu, Naruto dan beberapa pria berjalan persis di belakang mereka.

"Aku tidak percaya saat melihat sosok merah muda ini, jadi... apa yang merasukimu?" tanya Tenten.

"Menurutmu?" tanya Ino, bola matanya bergerak ke arah samping. Sakura hanya terdiam, pandangannya lurus ke depan, memandang bahu tegap Gaara yang berjalan bersama rekan-rekannya. Tenten pun mengangguk paham.

"Hei! lihat itu! ladang jagung yang mereka bicarakan!" Chouji berseru, ia menunjuk ladang jagung yang terlihat beberapa ratus meter dari tempat mereka. Beberapa orang menoleh dan beberapa orang melanjutkan langkah mereka. Sakura dan lainnya yang berjalan di barisan belakang ikut berhenti. Pandangan mereka tertuju pada hektaran ladang jagung yang terbentang pada dataran rendah itu. Terlihat sebuah pola yang membekas bisa terlihat dengan jelas dari atas sana. Sebuah tanda berbentuk tiga bulatan dengan kilatan garis yang mengelilinginya. Tanda itu membekas dengan ukuran lumayan besar, warna hitam yang terlihat pada tanda itu terbentuk dari tanaman jagung yang terbakar hangus. Siapa yang sengaja melakukan hal ini? emerald Sakura terus terpaku, mengingat pembicaraannya dengan Kizashi saat sarapan pagi. Apa benar...

"Mereka mengatakan makhluk itu datang sebagai bentuk rasa kekecewaannya." ucapan salah seorang pria terdengar. "Kau tahu kan, upacara pembersihan terlambat dilaksanakan tahun ini..."

"Kalian percaya kabar itu?" sahut Sai, pria itu berdiri tepat di samping Naruto. "Kita mengalami kendala karena cuaca bukan, hujan deras selalu datang dua pekan ini..."

"Ayahku mengatakan beberapa orang melihat makhluk itu melintas di kawasan barat." ujar Chouji.

"Hei! kalian! jangan berhenti di tengah-tengah barisan!" seru salah pemandu dari kejauhan. Beberapa orang yang berjalan di depan menoleh ke belakang, salah satunya Gaara. Mereka yang sempat berhenti pun melanjutkan langkah kembali.

"Ayo Sakura..." Ino menepuk pundak gadis itu, lamunan Sakura terpecah dan ia melangkah kembali. Suara tumpang silir terdengar dari gerombolan pria di belakang selama perjalanan.

"Aku yakin makhluk itu pelakunya, ayahku juga menceritakan hal yang sama..." ucap salah satu pria.

"Seperti apa wujudnya?" tanya seorang gadis.

"Wujudnya menyeramkan... ia memiliki sepasang bola mata berwarna merah..."

"Kalian ingat cerita tentang penjaga Greenoch kan? suatu hari dewa mengirim utusan untuk menjaga tempat itu..." ujar yang lainnya. "Kakekku mengatakan, Ketika kita tidak menjaga Greenoch dengan baik, penjaga itu akan datang memberi peringatan pada penduduk desa."

"Ayolah... kau mempercayainya?" sahut Naruto. Sakura menyimak perbincangan mereka, ia menoleh ke arah samping, penampakan ladang jagung itu masih terlihat. "Bagian itu hanyalah dongeng, mereka selalu menceritakannya pada setiap anak kecil..." celetuk Naruto.

"Jika benar begitu, kenapa kau ikut upacara pembersihan?" tanya yang lain.

"Jika kita tidak terikat tradisi, mungkin aku masih tidur nyenyak di atas ranjangku saat ini." jawab Naruto. "Bukannya aku tidak menghormati para leluhur, aku hanya tidak setuju dengan dongeng yang mereka tambahkan tentang Greenoch. Maksudku untuk sesuatu yang belum pernah..."

PUK!

Seseorang menghentikan ocehan Naruto dengan mendaratkan sebuah buku tepat di atas kepalanya.

"A! Kakashi-san!" seru Naruto,

"Apa yang kau bicarakan, percepat langkahmu..." tegur Kakashi, pria itu melewati Naruto dan lainnya dengan langkah santai, pembawaannya tenang, wajahnya tertutup masker dan itu menjadi ciri khas pria itu. Rambutnya yang berwarna perak dengan potongan mencuat ke atas menandakan identitasnya. Kakashi menjadi ketua pemandu upacara pembersihan suci setiap tahun, usianya jauh lebih tua dari para peserta lainnya.

.

.

Satu jam perjalanan berlalu, barisan depan muda-mudi Konoha menghentikan langkah mereka di hadapan sungai berukuran kecil. Permukaan air sungai itu begitu jernih sehingga ikan-ikan kecil telihat sedang berenang mengikuti arus air. Serentak barisan menyebar, pandangan mereka menuju ke segala arah, memandang pepohonan yang tampak dari wilayah depan tanah suci saat mereka tiba di perbatasan Greenoch.

Pepohonan rimbun mengisolasi tempat itu menjadi hutan di tengah padang savana yang luas. Sungai kecil yang mengitari Greenoch bak cincin yang menjadikan batas antara tanah sakral dan Konoha. Aura yang dipancarkan di lokasi tersebut begitu berbeda ketika angin menggoyangkan ribuan dedauan di sana. Terdapat dua pohon beringin besar di seberang sungai, akarnya yang menjalar ke segala arah menunjukkan betapa tuanya usia pohon tersebut.

Seorang ahli spiritual berdiri di paling depan. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan biksu-sama atau penjaga kuil. Penampilan biksu itu mengenakan kain bewarna putih yang dililitkan pada tubuhnya. Rambut pria setengah baya itu dicukur botak. Ia melilitkan tasbih pada tangan kirinya. Sang biksu lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam sungai. Air menenggelamkan kakinya hanya sebatas bawah lutut. Biksu itu berdiri dan sejenak terdiam. Kemudian ia bergerak naik ke atas daratan. Semua peserta pembersihan mengikuti apa yang dikakukan sang biksu. Dimulai dari deretan terdepan. Mereka melepas alas kaki kemudian melangkah ke dalam sungai. Hal itu dilakukan sebagai bentuk penyucian diri sebelum memasuki tanah sakral. Sakura begitu antusias, gadis itu menikmati setiap prosesi dengan serius dan rasa takjub.

Semua peserta melewati garis pembatas Greenoch dengan tertib. Kemudian Kakashi mendekat dan ia berdiri di hadapan pohon beringin yang merupakan jalan masuk utama ke dalam Greenoch. Kedua pohon itu dihubungkan dengan tali tambang berukuran besar, talinya saling mengikat di antara batang bagian atas. Tiga ikatan jerami tergantung pada tali itu. Tampak lumut menjalar di sekitarnya, menunjukkan berapa lama tempat itu tidak dirawat.

Kakashi menyalakan tiga batang dupa dan menyerahkannya pada biksu. Suasana menjadi hening ketika satu diantara mereka membunyikan lonceng sebanyak tiga kali.

"Ssshhh... aku selalu merinding pada tempat ini..." gumam Naruto, pria itu berdiri di samping Sakura sambil menggosok-gosok lengan kirinya.

"Ada apa? cerita dongeng itu membuatmu takut?" ejek Sakura.

"Kau bercanda..." Naruto tersenyum kecut

"Apanya yang bercanda?" Tiba-tiba seorang pria berdiri tepat di belakang Naruto dan Sakura, wajah pria yang memancarkan aura pelik itu membuat keduanya tersentak kaget.

"Ya-yamato-san..." serempak Naruto dan Sakura mengelus dada, Sai yang berdiri di samping Naruto hanya tersenyum, Ino melirik pria itu dan entah mengapa ia tidak berkedip.

"Senang melihatmu Sakura..." pria bernama Yamato itu tersenyum, usianya setara dengan Kakashi, begitu pula dengan status bujang mereka. "Kita akan saling bekerja sama..." sambungnya. Kelopak matanya yang lebar membuat bulu kuduk Naruto semakin merinding, seperti aura roh misterius yang sedang ia rasakan.

"Ah.., apa kau menjadi penanggung jawab wilayah kami?" suara Naruto rendah, ia dan lainnya yang berdiri di tengah-tengah kumpulan peserta itu tidak mengikuti doa dengan baik. Yamato tersenyum dan mengangguk, Naruto pun langsung memalingkan wajah dan mengikuti alur doa yang kunjung usai itu. Pandangan Sakura lalu mengedar, ia menangkap sosok Gaara yang berdiri di sisi depan. Perhatiannya terus terpusat pada pria itu sampai bunyi lonceng terdengar, menandakan doa selesai.

Secara bersama-sama mereka memasuki tanah Greenoch. Beragam pepohonan meneduhkan wilayah itu, matahari menerobos masuk melalui sela-sela dedaunan. Tidak sedikit pohon berukuran raksasa tumbuh di sana, liukan dari berbagai jenis batang pohon saling menyekat ke segala arah. Inilah Greenoch... Langkah kaki rombongan semakin jauh ke dalam. Suasana tempat itu menyajikan pemandangan yang berbeda dari apa yang tampak di luar. Sangat asri, berbagai tanaman di seluruh dunia tumbuh di sana. Warna hijau sangat mendominasi. Kalian bisa melihat bunga-bunga liar mewarnai tempat itu. Tanaman hijau menjalar pada akar pepohonan yang saling menggantung, kupu-kupu beterbangan ria, berbagai siulan burung memecah keheningan, komplotan lebah bersiaga untuk menggigit siapa saja yang mengusik kerajaan mereka. Semoga tidak ada yang bernasib buruk ketika membersihkan tempat ini. Lirik Naruto, pria itu sedang memandang tanaman enceng gondok sebesar keranjang rotan.

"Huwaaah...teduhnya..." suara tumpang silir terdengar. Menikmati keindahan menjadi bagian yang tidak terlewatkan ketika memasuki Greenoch. Tapi bagaimana pun juga, tempat ini adalah tempat suci sehingga aura mistis menyelimuti tempat yang sunyi itu, apalagi untuk seseorang yang baru pertama kali datang berkunjung, seperti Sakura yang tengah mengedarkan pandangan ke penjuru sisi. Rasa gugup dan penasaran sudah menjalar dalam benaknya selama perjanan, kini... apa yang terlihat oleh kedua matanya adalah sesuatu yang mengesankan.

"Hachii...!"

Bersin Sakura terdengar. Naruto pun mengalihkan pandangan dari enceng gonjok dan menoleh.

"Apa yang kau lakukan? pakai maskermu..." tegur Ino ketika melihat Sakura tidak mengenakan masker, gadis itu pun langsung memasang kembali masker yang tergantung pada lehernya.

"Baiklah! dengarkan semuanya!" seseorang pemandu berseru dan semua perhatian tertuju padanya, pria itu memberitahukan beberapa petunjuk serta peringatan tentang hal-hal yang tidak boleh mereka lakukan selama berada di Greenoch. Salah satunya adalah merusak tumbuhan di sana. Mereka hanya diperbolehkan mencabut rumput liar yang menganggu tanaman lain, membersihkan dedaunan kering yang menumpuk serta sampah yang menghambat aliran sungai ataupun sampah yang datang orang-orang tidak bertanggung jawab saat mengunjungi Greenoch. Tidak dipungkiri bahwa tempat itu tampak takterawat, upacara pembersihan suci hanya dilakukan sekali dalam setahun, dalam hari yang sudah ditentukan oleh para sesepuh dan ahli spiritual desa Konohagakure, hari di saat musim semi, sebelum bulan purnama penuh akan terjadi pada malam harinya, pada saat para malaikat dan roh turun ke bumi dan mengunjungi Greenoch.

Setelah mengulangi beberapa peringatan sama yang selalu diucapkan setiap tahunnya itu, para peserta upacara berpencar ke dalam kelompok masing-masing. Setiap wilayah yang sudah ditentukan akan ditangani oleh lima kelompok. Sakura cukup beruntung karena kelompoknya masuk ke dalam wilayah yang sama dengan kelompok Gaara, ya... setidaknya ia masih dapat menjangkau sosok itu walau dari kejauhan. Senyuman Sakura mengembang dari balik masker dan semangat gadis itu meninggi, ia pun menepuk pundak Naruto dan mengatakan...

"Saatnya bersih-bersih!"

Raut wajah Sakura berubah lima menit kemudian, saat dimana ia melihat wilayah yang harus mereka bersihkan. Tampak bunga-bunga bermekaran indah di sana, Jika dibandingkan dengan sisi lain, bunga-bunga yang tumbuh di area itu jauh lebih banyak. Sakura menelan ludah dan Naruto yang berdiri di sampingnya pun melirik.

"Butuh tambahan masker?" tanya Naruto.

"Hachii...!" Sakura bersin.

Satu jam berlalu sejak mereka mulai kerja bakti. Masing-masing kelompok menyebar menuju wilayah yang sudah dibagikan. Setiap wilayah dijaga oleh saorang pemandu dan Yamato bertugas mengawasi wilayah Sakura dan lainnya. Bermacam-macam peralatan kebersihan yang mereka bawa dari rumah digunakan. Selain itu, tidak sedikit pula yang memilih tidak menggunakan alat bantu karena alat terbaik sudah diciptakan pada tubuh kita. Dengan sekali tarik, tangan Sakura mencabut rumput liar di hadapannya sampai ke akar, gadis itu melakukannya dengan kekuatan penuh walau kondisinya saat ini mulai buruk. Gadis itu sering bersin dan cairan ingus mulai keluar dari hidungnya. Ah... ada seseorang yang tampak santai dari sekelompok kesibukan di sini, jika orang bertanya apa tugas dari seorang pemimpin upacara pembersihan, jawabannya adalah duduk santai dan mengawasi, seperti Kakashi yang tampak asik membaca buku di atas pohon.

Sakura menghempaskan rumput pada tumpukan sampah miliknya yang tidak sebanding dengan tumpukan sampah milik Naruto yang tidak kunjung meninggi, pria kuning itu tampak tidak bersemangat mengumpulkan semua sampah, ia menyaut beberapa daun kering secara asal tak jauh dari tempat Sai mencabut rumput dengan santai. Sedangkan Chouji, pria gemuk itu lebih banyak menyantap ubi kering daripada mengangkat sampah. Tidak ada yang bisa diajak berkomunikasi karena Ino sibuk membersihkan sisi lain, begitu pula dengan Tenten yang tergabung ke dalam wilayah berbeda. Sakura lalu menoleh ke arah lain, beberapa wanita tengah asik mengobrol. Tidak ada topik penting selain membicarakan orang lain, mereka lebih sering memandang para pria yang tengah memamerkan otot saat menebang beberapa cabang pohon yang mengering. Salah satunya pria berambut aneh di sana itu..., perhatikanlah gigi berkilaunya saat menebar pesona di sekitar para gadis. Silau? ya... lebih menyilaukan dari matahari yang kian naik ke atas singgasana. Sakura pun menghela nafas..., kemudian gadis itu menoleh, memandang Gaara dari kejahuan, tampak pria itu sedang mengangkat tumpukan ranting kering. Ingin menyapa walau tak sampai, seperti ada jarak di antara mereka. Dekat di hati namun jauh di mata.

Sakura pun memilih menyendiri dan berpindah tempat beberapa meter menjauh dari kelompok, ia berdiri di dekat semak-semak yang lebat, gadis itu berjongkok dan mengumpulkan daun kering di sekitarnya. Kosentrasi Sakura terpusat sampai tiba-tiba terdengar seorang wanita berteriak. Sakura menoleh, tampak beberapa orang sedang bercanda gurau, seorang pria tengah menakuti Yugao dengan seekor ulat bulu. Gaara datang menahannya ketika Yugao meminta perlindungan. Sakura terus memandang ke arah mereka sampai PUK! sesuatu jatuh tepat di atas kepala gadis itu. Emerald Sakura bergerak ke atas, tanganya menggapai sesuatu dan mendapati seekor lintah sebesar jari jempol menggeliat pada kedua jarinya.

"HIYAAAA...!" Sakura melompat dan langsung melempar lintah itu ke sembarang arah. Sang Lintah terbang bebas dan DAK! Langkah kaki Sakura tersandung akar pohon saat gadis itu spontan melangkah mundur. Sakura terjengkal ke belakang, tubuhnya terhempas pada tumbuhan menjalar dan membentur tanah lumayan keras.

Gelap

"HIYAAA...!" serempak gerombolan wanita yang sedang bergosip histeris, suara nyaring mereka membuat beberapa orang menoleh, termasuk Naruto dan Sai. Ternyata sang lintah hinggap cantik pada lengan salah satu di antara mereka. Sang Lintah pun kembali terlempar ke sembarang arah, ia terhempas ke tanah dan sialnya terinjak Yamato yang berlari melihat keadaan. Berakhir...

.

.

Mata Sakura terbuka, perlahan cahaya masuk dan spontan kelopak matanya menyipit, menantang cahaya yang menyorot dari sela-sela dedauan pohon. Sakura pun berkedip, perlahan penglihatannya menjelas. Dedauan bergerak saat angin semilir berhembus. Apa yang terjadi? aku tidak sadarkan diri? pertanyaan itu keluar saat Sakura berusaha mengingat apa yang menimpanya beberapa saat lalu. Kepala terasa pusing, gadis itu tidak bergerak dan masih mengumpulkan kesadarannya. Sakura masih memandang pepohonan sampai bunyi sesuatu terdengar dan sekelibat banyangan hitam bertengger di atas dahan pohon mucul dan lalu menghilang dengan cepat.

DEG!

Mata Sakura terbuka sempurna, gadis itu langsung bangkit dengan kepala mendongak ke atas, memastikan apa yang baru saja ia lihat. Tadi itu apa? tidak ada jawaban lain yang spontan muncul di kepala Sakura selain...

SREK!

DEG!

Sakura langsung menoleh ke belakang, terdengar bunyi semak belukar yang bergerak tak jauh beberapa langkah darinya. Suasana hening mengiringi detak jantung Sakura yang perlahan mulai memacu cepat. Seekor Binatang. ya... mungkin itu tupai atau sejenisnya, sesaat Sakura mengingat sang Lintah, benar... binatang melata itu yang membawanya pada kesialan ini. Tunggu... kenapa suasana begitu sunyi? Sakura langsung menoleh ke depan, mempertajam indra pendengarannya untuk memastikan bahwa masih ada orang-orang di Greenoch. Gadis itu bangkit, rintihannya terdengar saat menopang tubuh dengan kedua tangan. Sakura berdiri dan langsung mengibas-ngibaskan pakaiannya yang sedikit kotor, ia menunduk dan menemukan sesuatu yang tidak asing.

Percikan darah

Tercecer pada permukaan daun yang mengering. Sakura pun merunduk, memastikan apa yang ia lihat., emerald-nya mengikuti jejak darah yang menuju semak belukar tak jauh dari tempat ia berdiri. Jantung Sakura kembali berdegup dan semakin kencang. Penasarannya menjadikan ia berani untuk melihat apa yang ada di balik semak-semak itu. Perlahan Sakura melangkah, lebih mendekat dan semak itu bergerak kembali. Sakura berhenti, sorot matanya tajam memperhatikan ke arah...

SREK.. SREK... SREK...

DEG!

Seekor tupai keluar. Serontak Sakura menghela nafas lega. Imajinasinya tentang sosok penghuni Geenoch salah. Ia pun kembali mendekat dan membelah semak-semak. Sesuatu menyambut pandangan Sakura begitu ia menerobos masuk. Setangkai bunga mawar putih terlihat. Bunga itu tumbuh seorang diri, dikelilingi rerumputan yang meninggi. Batangnya tegak penuh duri dengan kelopak mawar yang mengatup. Sakura terpaku, dari ribuan bunga yang tumbuh di Greenoch, setangkai mawar ini begitu menarik baginya, kelopaknya yang putih bersinar di bawah sorotan sinar matahari yang menerobos masuk. Perlahan Sakura mendekat dan berlutut, mengamati mawar itu lebih dekat. Sesuatu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata ketika tiba-tiba saja air mata Sakura menetes.

"Hm?" Sakura menyeka air mata. Tidak mengerti mengapa suasana hatinya berubah sendu. Gadis itu mengingat seseorang... seseorang yang amat berarti baginya. Perlahan tangan Sakura bergerak, ingin rasanya menyentuh kelopak mawar itu, semua kenangan masa lalu kembali dalam sekejap. Sakura membuka masker, tidak perduli dengan kondisinya saat ini, gadis itu mencium kelopak mawar. Matanya terpejam saat menghirup aromanya dalam-dalam. Perasaan nyaman menjalar di dalam dada.

"Hei..."

Seseorang datang dan Sakura tersentak kaget, gadis itu menoleh. Gaara berdiri beberapa langkah di belakangnya, mata mereka bertemu dalam keheningan. Ada yang lebih mengejutkan sejauh ini. Sabaku Gaara, pria itu ada di hadapnnya dan sekejap Sakura terpaku.

"Semua orang mencarimu.." ucap Gaara.

"Ah... ya..." Sakura bingung harus menjawab, mencari? gadis itu menjadi yakin bahwa ia tidak sadarkan diri cukup lama.

"Apa yang kau lakukan? seharusnya kau tidak memisahkan diri dari areamu bukan?" Gaara mendekat dan Sakura pun menjadi gugup.

"Itu... a-aku..." begitu sulit mengucapkan kalimat ketika jade Gaara menatap ke arahnya. "Aku terjatuh dan... ah lihat! bunga ini indaah..." Sakura menoleh ke belakang, suaranya melemah ketika mendapati bunga mawar itu tiba-tiba menghilang. Emerald Sakura melebar, tidak mempercayai ini.

"Bunga?" Gaara ikut menengok, tidak ada bunga di sekitar mereka. Tempat bunga mawar tumbuh sebelumnya tergantikan oleh rerumputan.

"Menghilang..." pandangan Sakura mengedar, "Bunganya menghilang..., aku yakin bunga itu ada di sini..." Sakura menunjuk tempat tumbuhnya mawar itu.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Gaara, spontan Sakura langsung menoleh dan menatap pria itu. "Kau mengatakan kau terjatuh." sambung Gaara.

"Ah, ya, aku terjatuh." Sakura meraba tengkuknya. "Sepertinya aku tidak sadarkan diri." Kepala gadis itu terasa berat dan pusing.

"Kepalamu membentur sesuatu?" tanya Gaara.

"Hem.." Sakura mengangguk, "Tapi aku baik-baik saja... Hachi..!" Sakura kembali mengeluarkan bersin. Gadis itu langsung mengenakan maskernya kembali.

"Ayo, orang-orang menunggumu..." Gaara mengulurkan tangannya dan tersenyum. Perlakuannya begitu hangat sehingga pipi Sakura memanas.

"Hm? Ada apa?" tanya Gaara ketika Sakura sekejap membisu, perhatian gadis itu terpusat pada tangan Gaara yang masih mengulur. Sakura lalu menoleh kembali ke belakang, penasaran menjalar di dalam kepala, kemana perginya mawar itu?

"Bunga itu tadi ada di sini.." gumam Sakura.

"Naiklah..." Gaara berjongkok, mempersilahkan Sakura untuk naik atas ke punggungnya.

.

.

Suasana hening menyelimuti keduanya. Emerald Sakura melirik pria yang sedang dipeluknya dari belakang itu. Jarak mereka begitu dekat, begitu hangat, bisa melelehkan bongkahan es tapi tidak secepat hati Sakura yang mulai mencair saat ini. Kenapa dengan pria ini? apa perlakuan lembutnnya sama terhadap semua gadis? seperti ia membela Yugao? apa ini hanya mimpi? Sakura langsung menggelengkan kepala dan menampar sebelah pipinya. Bunyi 'Pak' membuat Gaara menoleh ke samping.

"Ada apa?" tanya Gaara. Sakura langsung menggeleng.

Sakura menjeda pikirannya sejenak. "Dimana semua orang?"

"Beberapa orang berkumpul di pusat, mereka kelompokmu. Sisanya sedang menuju ke telaga suci. Yamato-san menugaskan beberapa pria untuk mencarimu."

"Ma-maaf. Aku tidak bermaksud merepotkan kalian..." sahut Sakura.

"Kau menghilang cukup lama, aku sudah memastikan tempat aku menemukanmu sebelumnya, tapi kau tidak ada di sana." terang Gaara, spontan Sakura memasang wajah tidak mengerti. "Lalu aku mendengar suara di balik semak-semak dan menemukanmu." sambung Gaara.

"Kurasa aku tidak sadarkan diri di tempat itu, jika saja kau beranggapan aku sedang berkeliaran, itu tidak benar. Aku tidak mengerti bagai..."

"Tidak masalah." potong Gaara, pria itu tersenyum simpul. "Yang terpenting bahwa kau baik-baik saja, teman-temanmu mengkhawatirkanmu."

Sakura terdiam. Tidak ada kata lain yang ingin ia ucapkan selain, "Terimakasih... Gaara..." kalimat itu terucap begitu pelan dengan semburat merah terpancar di pipi.

"Jadi, ini tahun pertamamu?" tanya Gaara.

"Hem." Sakura mengangguk. Suasana hening sejenak ketika Gaara tidak membalas jawaban Sakura.

"Kau terlihat tidak sehat." ucap Gaara kemudian.

"Ya.., hidungku tidak begitu bersahabat dengan udara luar."

"Itu sebabnya kau terus bersin selama perjalanan." sahut Gaara. Sakura cukup tersipu Gaara mempehatikannya. Ini memang seperti mimpi.

"Hem..." Sakura mengangguk, di saat bersamaan mereka tiba di lokasi dimana Naruto dan lainnya menunggu. Ino dan Tenten langsung berlari menghampiri mereka.

"Gara-san aku bisa turun sekarang." bisik Sakura,

"Kau yakin bisa berdiri?" tanya Gaara. Sakura mengangguk dan Gaara pun merendahkan tubuhnya. Sakura lalu bergerak turun.

"Sakura! Kemana saja kau? Kami semua mengkhawatirkanmu..." Ino mencengkram kedua bahu Sakura cukup kencang lalu memeluk gadis itu, di saat bersamaan Ino juga melirik Gaara yang berdiri di samping mereka. Yamato memutus seorang pemandu lain menghampiri para pria yang tengah mencari Sakura, beberapa di antara mereka adalah Naruto dan Sai. Sakura menjelaskan apa yang terjadi secara singkat, berbagai pertanyaan ditujukan padanya tapi keterbatasan waktu mengharuskan mereka untuk segera bergabung dengan yang lain di telaga suci saat beberapa pria kembali.

"Jadi, sejak kapan kalian begitu dekat?" bisik Ino. Pandangan Sakura menuju pada Gaara yang berjalan di depan bersama Yamato dan para pria lainnya.

"Dia menggendongmu." Tenten terkekeh ringan dan pipi Sakura merona.

"Kau sangat merepotkan, kukira kau ditelan bunga rafflesia arnoldii..." sahut Naruto, pria itu berjalan di belakang mereka. Sakura langsung menoleh dengan wajah cemberut.

"Kau.." tunjuk Sakura, "kau sendiri tidak serius mengerjakan tugasmu. Bahkan aku bisa menghitung jumlah rumput yang kau cabut."

"Aku tidak akan begitu berguna jika saja kau tidak berkeliaran dan menghilang. Setidaknya ucapan terimakasih darimu sangat berharga." balas Naruto. ia dan Sakura pun beradu mulut kembali. Tenten dan Ino memilih diam, keduanya memasang wajah malas sambil mendengar ocehan keduanya, Sai yang berjalan di paling belakang hanya memasang wajah tenang, ia memperhatikan Sakura dan Naruto yang terus berbalasan sampai mereka tiba di lokasi telaga suci.

.

"Dengar..., kau..." kalimat Sakura terputus ketika pandangan gadis itu tertuju pada telaga.

Terpaku.

Begitu banyak hal yang menakjubkan ia saksikan hari ini. Tidak menyangka bahwa Greenoch memiliki tempat yang indah. Telaga itu berukuran sedang dan bundar. Terdapat satu pohon Sakura tumbuh di tengah-tengah telaga itu, tepat berada di atas daratan kecil di tengah telaga. Anyaman jerami mengikat kain kotak hitam-putih yang membungkus bagian tengah batang pohon Sakura. Beberapa lonceng diikatkan mengitari tali jerami itu. Kilauan permukaan air memperindah suasana di sana. Semua peserta upacara duduk mengitari tepi telaga. Yamato menghampiri Kakashi dan melaporkan keadaan. Sakura dan lainnya ikut bergabung dengan peserta lainnya. Sorot mata tertuju pada gadis itu tidak terkecuali Yugao yang juga ikut memandang dalam ketenangan. Beberapa orang mengetahuinya dan sebagian besar tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada Sakura.

Mereka menunggu upacara doa dimulai. Usai membersihkan Greenoch, para peserta berkewajiban berdoa untuk kesejahteraan desa Konoha. Telaga adalah pusat terpenting di Greenoch. Air suci telaga mempunyai banyak manfaat, mata airnya mengaliri sebagian besar perkebunan Konoha sehingga tanah mereka begitu subur. Selain itu, air telaga juga dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tidak diperbolehkan bagi siapapun melintasi telaga dan menuju daratan kecil di tengahnya. Konon.., pohon Sakura yang tumbuh seorang diri itu menjaga mata air telaga tetap mengalir dan menumbuhkan berbagai macam tumbuhan di sana.

Perhatian Sakura terus tertuju pada pohon tersebut. Merasa bahwa tenaganya kian melemas. Gadis itu memikirkan tempat ini, tempat dimana sesuatu yang aneh terjadi padanya. Sakura menjadi yakin bahwa Greenoch bukanlah tempat sembarang dan tidak mustahil bahwa makhluk yang dibicarakan penduduk desa ada hubungannya. Emerald Sakura lalu mengalih, sekali lagi ia dan Gaara saling memandang secara kebetulan, pria itu duduk cukup jauh darinya. Keduanya serempak mengalihkan pandangan dan Sakura tersenyum tipis, menjadikan pohon Sakura sebagai tatapan kebahagiannya ketika angin cinta berhembus... menerbangkan puluhan kelopak Sakura ke udara.

Matahari mulai bergerak ke arah barat. Sang biksu mulai memimpin doa sesuai kepercayaan. Suasana begitu sakral selama proses tersebut. Semua orang menunduk dan duduk bersimpuh melipat kaki. Beberapa kali Naruto menguap dan ia tidak menyadari seorang gadis yang sama tengah memperhatikan ke arahnya. Tidak sedikit pula dari mereka merasakan kantuk, ditambah angin semilir yang terus berhembus. Upacara doa sudah berjalan selama dua puluh menit. Nafas Sakura memburu, kondisi tubuhnya semakin lemas. Keringat dingin keluar dari dahi lebarnya. Ino maupun Tenten yang duduk di sebelah gadis itu tidak menyadari karena mereka terhanyut ke dalam doa. Sakura mengangkat wajah, melihat ke arah pohon di tengah telaga. Suara ketukan tempurung kelapa terus terdengar saat ayat-ayat kepercayaan Shinto dibacakan. Suara ketukannya menjadi satu bersama sorot mata Sakura yang semakin terpusat, pandangan gadis itu tidak berpaling hingga sekelibat sosok hitam muncul dari balik pohon di tengah telaga.

DEG!

Emerald Sakura berdenyut. Sosok itu menghilang ketika Sakura mengusap kedua mata. Kemana perginya? Sakura pun mengedarkan pandangan ke segala arah. Memburu jejak sosok itu, memastikan apa yang dilihatnya benar-benar nyata atau semua ini hanyalah imajinasinya saja.