.

.

.

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Story by Icha-Icha Fairy

Part 16

enjoy


.

Malam hari. Sakura menanggalkan seluruh pakaiannya di tepi rawa, ia masuk ke dalam air, membersihkan diri setelah beberapa hari tidak melakukannya. Di sana.., ia menempati rawa yang biasa Sasuke gunakan untuk menyendiri menikmati malam. Tidak ada yang berubah dari tempat itu. Indah. Kata yang tepat ketika Sakura mengunjungi rawa itu untuk kedua kalinya. Menikmati pesona Grenooch di malam hari, berendam di antara kelopak teratai yang bersinar bersama taburan kunang-kunang, merasa menjadi permaisuri semalam, aroma melati yang ditebarkan para elf membuatnya rileks. Sakura melihat langit, gugusan bintang membentuk aliran sungai di atas sana. Tidak ada batasan, langit adalah tempat pertemuan rindu. Ketika ia membayangkan wajah orang-orang yang berarti baginya... dan berharap mereka pun melakukan hal yang sama.

Salah satu elf mendekati Sakura, menaruh sekuntum paulownia pada pundak gadis itu. Sakura mengambilnya, memandang bunga itu sejenak lalu menghirupnya. Aromanya... membawanya kembali pada angin senja, membuatnya berkelana di saat-saat yang mendebarkan, ketika ia terjebak sepasang onyx kelam yang begitu memikat, merasakan sentuhan sepuluh jari tangguh di kedua pipinya..., mengulang kembali kalimat yang membisik di telinga

'Jika itu bisa membuatku selalu bersamamu..., aku akan menanggung semuanya...'

Sakura..., tenggelam di dasar gejolak rasa. Kedua pipinya memanas. Musim semi yang hangat..., datang kepada siapa saja meski ia sedang tidak menunggu.

Sakura menyentuh bibirnya, merasakan pautan Sasuke yang masih membekas. "Aku..." gumam gadis itu, memandang ke arah elf malu-malu. "Entahlah..." ia menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air. Mengingat Sasuke membuat seisi kepala menjadi panas dan menegang. Mencoba mengartikannya, hingga ia sendiri dibuat kebingungan. Kemana arti debaran ini harus ditempatkan?

Para elf menghindar ketika kepala Sakura muncul dari permukaan air, menarik oksigen setelah lupa bagaimana caranya bernafas di dalam sana. Gadis itu mengusap wajah. "Sebaiknya aku kembali sebelum Sasuke mencariku." hanya menyebut nama itu saja membuatnya kembali berdebar, bagaimana ia harus melewati malam ini? sesaat Sakura mengurungkan niatnya. "Mungkin beberapa waktu lagi..." ia enggan keluar dari dalam air. Tiba-tiba, para elf di sekitarnya bergerak hiperaktif.

"Ada apa?" tanya Sakura, merasakan sesuatu yang tengah mendekatinya. Gadis itu menoleh ke belakang..., dan mendapati Sasuke sudah ada di depan mata.

Nyata

Mata Sakura melebar, memandang pria di hadapannya. Terkejut hingga ia tidak berkutik sedikitpun. Sudah terjadi. Rasa malu meleburkan wajahnya yang memadam, ketika Sasuke terlanjur melihatnya apa adanya, sama seperti ia melihat pria itu.

"Sasuke..." suara Sakura melemah, tak dapat menandingi detak jantung yang menderu.

Mereka, saling memandang dalam kebisuan. Para elf menyingkir, menyebar dan bersembunyi di balik dedaunan. Tersisa Kunang-kunang yang masih beterbangan di sekitar rawa, setia menjadi lentera di dalam kesyahduan malam.

Sasuke pun mendekat, memperpendek jarak di antara mereka. "Kau selalu pergi tanpa sepengetahuanku..." satu tangannya menangkup pipi Sakura, menghantarkan gelombang panas hingga sekejap Sakura menahan nafas. Perlakuan Sasuke padanya, terasa hangat dari sebelumnya.

"Ba-bagaimana aku memberitahumu..." Sakura gugup, bertahan menatap mata sang raja malam. "Kau tidak ada di telaga sewaktu aku tersadar. Tapi serigala sudah kuberitahu sebelumnya..." segera ia memalingkan muka, memperhatikan teratai putih di sampingnya. "Aku ke sini untuk membersihkan diri..." kedua pipinya menghangat.

Sasuke pun bergerak maju, membuat Sakura serontak mundur dan menjadi semakin gugup ketika tangan pria itu meraih pinggangnya, menarik tubuhnya dengan sekali hentakan, membuat jarak mereka menipis. Tatapan Sasuke mengunci, membisu bersama dentuman jantung Sakura yang tak tahu kapan habisnya, bisa saja terjadi dalam waktu dekat ini ketika ia mulai kehabisan nafas. Ada perasaan mendamba yang berdengung lembut di balik kulit gadis itu. Namun, sulit untuk memastikan bahwa apa yang berbisik di dalam hati benar adanya. Tubuh Sakura pun bergerak dengan sendirinya, melakukan perintah nurani, ia menyentuh wajah Sasuke, bergerak menuju pipi, dagu dan bahu pria itu.

"Setiap hari, aku ingin mengatakan sesuatu yang tidak kuketahui tentang dirimu. Sesuatu yang membuatku selalu bertanya-tanya...tidak perduli betapapun kecilnya. Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu."

"Tidak perlu..." Sasuke meraih tengkuk Sakura. "Cukup satu hal yang perlu kau tahu..." ia menyondongkan tubuhnya dan mengalungkan sesuatu. "Aku milikmu." membisikkan kalimat terakhir, menyampaikan sesuatu yang terlalu dalam hingga Sakura hanya bisa terdiam. Memikirkan artinya..., celah kosong yang tak berpenghuni di dalam hati pun perlahan terbuka.

Sasuke melepas rengkuhannya dan bergerak mundur, memberi kesempatan Sakura menengok apa yang melingkar di leher gadis itu.

"Ini..." menyentuh kalung pemberian Kizashi yang jatuh tadi pagi.

"Sesuatu yang berharga bagimu..." Sasuke meneruskan kalimat Sakura.

"Kau mengambilnya? bagaimana bisa?" bahkan ia belum memberitahu dimana lokasi kalung itu terjatuh. Berfikir bahwa Sasuke mencarinya selama ia tidak sadarkan diri.

"Naiklah." pria itu membalikkan badan, "Kau bisa kedinginan jika berendam terlalu lama..." dan Sakura pun langsung menahan lengan Sasuke, ia mendekat, mengarahkan tubuh Sasuke untuk berbalik padanya. Berkali-kali, pandangan mereka bertemu bagai dua kutub yang saling menarik. Sakura meraih tangan pria itu, membawa telapak punggung Sasuke menuju bibirnya, dengan lembut ia pun mengecupnya. Tidak ada yang layak diberikan untuk mengucapkan kegembiraan dari lubuk hati. "Terimakasih..." ia melempar senyuman terhangat.

Tiba-tiba, tangan Sasuke mengambil kuasa, menarik tangan Sakura hingga gadis itu tersentak ke depan. Percikan api, menyala di balik tubuh mereka yang berdempetan. Sasuke mendekatkan wajahnya, menyapa bibir Sakura penuh ketegasan, pautannya bagaikan racun, menyebar cepat ke pembuluh nadi Sakura, berdesir di dalam darah, meruntuhkan dinding-dinding pembatas yang menyekat antara hati dan akal sehat gadis itu.

Ciuman mereka singkat, Sasuke menarik bibirnya. Namun, Sakura tak ingin berakhir, ada desakan di dalam diri untuk meminta lebih. Gadis itu maju dan menyatukan bibir mereka kembali. Terhipnotis bagai sihir tak berkesudahan, antara sadar dan bimbang, ia hanya ingin melakukannya. Perasaan yang sulit dijelaskan, berbicara melalui lidah yang saling bertautan. Membesarkan api di dalam diri, hingga air telaga terasa hangat.

Kemudian, Ciuman mereka terputus, memburu oksigen dengan kening yang menyatu. Saling menerpa nafas tanpa mengatakan apapun. Ada sesuatu yang menarik diri Sakura kembali, ia gugup, takut dan tidak mengerti. Racun telah menjalar di sekujur tubuhnya, berusaha menangkal apa yang tidak terlihat, namun begitu terasa di dalam dada yang membara.

"Aku akan menunggumu di telaga." Sasuke menarik dirinya, ia berbalik dan pergi meninggalkan Sakura yang melebur ke dalam semua rasa.

Gadis itu berendam untuk beberapa saat, ia bergerak menuju tepi rawa setelah merasakan air rawa kembali dingin di tubuhnya. Sakura menyapu sekeliling tempat, mencari dimana terakhir kali ia meletakkan gaunnya di atas bebatuan. Kemana perginya gaun itu? Satu elf datang menghampirinya, menunjuk dimana mereka menjemur gaun berlumuran darah Sasuke itu. Sakura pun melihat ke atas, gaunnya basah dan berkibar-kibar di antara dahan pohon yang tinggi.

"Bagus..." gumamnya dengan wajah pasrah. "Apa aku harus berendam di dalam rawa ini sepanjang malam?" tanyanya pada elf, peri itu menjawab dengan gelengan kepala. "Lalu apa? gaun itu satu-satunya yang ku punya..."

Elf itu menunjuk ke arah kawanannya yang datang, mereka membawa sekumpul daun dan bunga. Lalu meminta Sakura keluar dari rawa, gadis itu tidak mengerti apa yang akan mereka lakukan hingga keajaiban kecil terjadi. Tidak, sesuatu yang menakjubkan.

Mereka merangkai dedauan pada tubuh Sakura, membalutnya dalam gaun tanpa lengan sepanjang lutut, ranting tumbuhan yang mengakar menutupi pundak gadis itu hingga bagian gaun belakang. Sihir elf membuatnya sempurna. Hijau kekuningan, menjadi warna pelengkap bagi mahkota merah muda Sakura. Kupu-kupu yang menebar di gaunnya menjadi sentuhan terakhir. Kemudian mereka merias rambut Sakura, membiarkannya terurai, menyampirkan kedua sisi rambut depannya ke bagian belakang yang dililit dengan ranting pohon. Para elf terpanah, memandang sekuntum bunga di musim semi.

.

.

Sementara itu,

Sekelompok orang menginjakkan kaki mereka di ujung lereng pegunungan. Seorang pria tua, tersenyum di balik topi capingnya, ia berdiri di antara empat pria bercadar, tongkat di tangan kirinya meliuk-liuk lebih tinggi dari tubuhnya yang pendek dan setengah membungkuk.

"Ketemu..." ia memandang Greenoch di tengah lembah, terlihat jelas di depan mata setelah kemarin Sasuke menghancurkan dinding mantra tak kasat mata milik Hiruzen.

"Jadi inikah hutan sakral milik Konoha?" salah seorang pria terpaku, belum pernah melihat kawasan tersembunyi itu setelah ditugaskan melakukan pencarian selama bertahun-tahun. Malam ini, keberuntungan ada di pihak mereka.

"Benar apa kata Raikage dan lainnya..., Konoha menyembunyikan tempat ini dengan kekuatan mistis..." ucap pria lainnya.

"Ebizo-sama..., apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya pria ke-tiga.

"Tunggu apa lagi? ayo kita lihat apa yang ada di dalam sana..." salah satu dari mereka mendahului dan

WUSSSSH!

Langsung terpental ke belakang.

Di saat bersamaan, Hiruzen merasakan sesuatu yang membuatnya menegang. "Tidak mungkin..." terkejut melihat bola kaca di hadapannya berubah menjadi hitam pekat.

"Toha!" ketiga pria suna bergegas menghampiri rekannya yang terpental itu, memeriksa kondisi Toha yang tidak sadarkan diri seketika. "Ebizo-sama..." salah satunya menoleh, pak tua dalam balutan jubah itu mendekati mereka.

"Bodoh..." kata Ebizo, "Tempat ini dilindungi banyak mantra." salah satu yang tersisa setelah Sasuke menghilangkan beberapa mantra utama, Hiruzen bahkan membuat pelindung hingga mengitari lereng Greenoch.

"Apa dia akan baik-baik saja?"

"Dia tidak akan sadarkan diri dalam waktu dekat." Ebizo melangkah melewati mereka.

"Lalu bagaimana?" salah satu pria bertanya pada dua rekannya. "Apa kita harus menggendongnya?"

"Tinggalkan dia di sini." Ebizo berhenti dengan tongkat yang mengacung ke arah Greenoch. Terdiam untuk beberapa saat ketika raut wajahnya berkonsentrasi. "Mantra yang luar biasa Hiruzen..." Ia membuka capingnya, memperlihatkan wajahnya yang berkeriput dengan kumis menjulur hingga dagu. "Tapi, sekuat apapun sebuah mantra, akan melemah seiring waktu berjalan." Ebizo menyeringai.

.

.

Sosok serigala muncul dari balik tumbuhan yang mengitari kawasan telaga suci, ia menghentikan langkah dan terpaku, memandang seorang gadis yang berjalan menghampirinya. "Gaun yang indah..." hampir saja ia lupa bahwa Sakura satu-satunya gadis di dalam hutan itu.

Sakura menunduk malu. "Elf yang membuatnya..." ia berputar, memperlihatkan keseluruhan gaun itu pada Serigala, "Apa aku terlihat aneh?"

"Kau tampak menyatu bersama alam." melihat bagaimana elf membuat gadis itu memukau, keduanya terdiam sampai emerald Sakura berpindah, melihat ke arah dedaunan di belakang serigala.

"Sasuke menunggumu."

"Aku..." gadis itu menunduk... "Sedikit takut.."

"Ada hal di dunia ini yang tak dapat kau hindari." ucap serigala. Sakura pun mengangkat wajah dan melihatnya.

"Apa itu?"

"Pertemuan."

Serigala bergeser ke kanan, mempersilahkan Sakura untuk melanjutkan langkahnya, gadis itu mendekat dan berhenti di sampingnya, ia pun menoleh, "Ada beberapa hal yang ku khawatirkan." ucapnya, "Salah satunya saat aku mulai merasa nyaman di dekatnya."

"Kenapa kau tidak memastikannya sendiri?" Serigala mengerling, melihat raut tanya gadis itu. "Tentang apa yang kau khawatirkan, pastikan kau mempunyai alasan." ia pun melangkah pergi.

"Alasan..." gumam Sakura, menyentuh dadanya yang mulai berdegup kencang. Ia pun membelah dedaunan dan masuki wilayah telaga suci.

Di sana, Sasuke tengah menunggunya, berdiri sambil memandang pohon Sakura yang ada di tengah telaga. Pria itu menoleh, terpaku pada seorang gadis yang memetakan pandangannya cukup lama. Senyum Sasuke samar dan mempesona walau hanya sekejap. Ia pun mengulurkan tangan, menyambut gadis musim semi dalam balutan alam yang indah. Malu-malu Sakura meraih tangan pria itu, mereka bertemu dan saling memandang. Seekor kupu-kupu di gaun Sakura tebang mendekati Sasuke, mempersembahkan sekuntum gadis yang siap mekar padanya.

"Aku..." Sakura malu-malu, bingung merangkai kata ketika Sasuke terus memandangnya. "Aku ingin terjaga semalaman..." ia pun mengutarakan keinginannya. Sasuke tidak mengatakan apapun, ekspresinya yang tenang lebih dari cukup untuk menggambarkan bahwa ia menikmati kebersamaan mereka.

"Lalu..." kemudian suara Sakura meragu, "Entah sampai kapan aku bisa menikmati malam, saat dimana aku merasa lega dan juga khawatir. Tapi..." ia menjeda ucapannya dan menatap Sasuke. "Selama aku bersamamu, tidak ada yang perlu kutakutkan bukan?"

"Tentu." Sasuke mendekatinya, merangkul pinggul Sakura dari belakang, kemudian jubahnya terlepas, satu sayapnya tumbuh dan merenggang. Ia pun membawa tubuh Sakura, memisahkan pijakan kaki mereka dari permukaan rerumputan, melayang... Keduanya terbang ke atas. Sakura pernah merasakan ini di dalam mimpinya, ketika ia terbang di atas permukaan Greenoch, tepat di atas telaga suci, merasakan takjub yang sama hingga ia tak dapat berkata.

Sasuke lalu melepas rengkuhannya, membuat Sakura terkejut karena ia melayang dengan sendirinya. Kedua tangan mereka merentang bersamaan, "Aku..." mata Sakura melebar, takjub ketika gaun yang ia kenakan tiba-tiba bersinar, memancarkan cahaya hijau dari ratusan elf yang bersembunyi di balik dedaunan yang menutupi tubuhnya. Angin semilir pun berhembus, memanggil ribuan kunang-kunang dari dalam Greenoch, cahaya mereka menyebar ke langit, begitu indahnya... memantulkan gemerlap sinar pada kedua emerald Sakura yang berpijar.

"Apa itu..." para pria suna beserta Ebizo melihat ke atas, cahaya hijau yang mengumbar di atas permukaan Greenoch menghentikan langkah mereka mendekati batas suci.

Ebizo tersenyum, "Ada sesuatu yang menarik di dalam hutan ini..."

Sakura terpesona, senyum bahagia mengukir raut wajahnya. Ia menoleh ke samping dan menatap wajah Sasuke. Jemari mereka bersentuhan lembut dan saling menyapa, merasakan perlindungan dari telapak tangan yang lebar dan kuat. "Kau..." Sakura berucap, "Yang tidak kukenal sebelumnya..." memasuki kedua onyx Sasuke yang berkilat-berkilat, "Apa alasanmu?"

Pria itu mengikat, melalui sentuhan jemarinya yang berkuasa, mengisi sela-sela kekosongan Sakura. "Aku.., tidak punya alasan." jawabnya. "Sampai aku tahu untuk apa aku harus tetap bertahan..., aku ingin selalu melindungimu."

"Mengapa?" Sakura menginginkan jawaban yang jelas, jawaban yang dapat mengalahkan logika ketika hatinya tidak lagi sepaham. "Mengapa kau harus melakukannya?"

Sasuke menatap gadis itu lebih dalam. Menyampaikan rasa tanpa kata, mengingat saat-saat dimana Sakura membagi kekuatan padanya, saat itulah jiwa mereka saling terhubung, membuka banyak pintu hingga bagian terdalam. "Karena itulah alasan aku ada." melontarkan satu-satunya jawaban yang tersisa.

Sejenak Sakura terdiam, "Tidak mudah bagiku melupakan apa yang sudah tergores di dalam hati..." menyinggung sosok pria yang begitu diingatnya. Sabaku Gaara.

"Cepat atau lambat, kau akan melupakannya." ucapan Sasuke terdengar yakin di telinga Sakura.

"Mengapa?" tanya gadis itu. "kau tidak tahu isi hatiku..."

Sasuke terdiam untuk sesaat, "Apapun itu..., tidak akan mengubah takdirku..."

"Takdir?" Sakura mengingat ucapan serigala, "Apa yang kau maksud adalah pertemuan kita?"

"Lebih dari itu..." jemari Sasuke mengerat, menunjukkan keyakinanya melalui sentuhan yang tegas.

"Apa yang lebih berarti dari sebuah pertemuan?" tanya Sakura.

Satu tangan Sasuke menangkup pipi gadis itu dan menjawab, "Ikatan."

"Kalau begitu yakinkan aku..." tatapan Sakura menuntut. "Bahwa semua ini berarti..."

Sasuke, langsung mendaratkan ciumannya. Meyakinkan Sakura di antara langit dan seluruh isi Greenoch, menjadikan ribuan kunang-kunang sebagai saksi atas kesungguhan yang nyata. Perasaan asing, kini mengental bagai tetes nila yang jatuh ke permukaan susu. Menyebar dengan cepat, menempati ruang-ruang kosong di dalam tubuh Sakura. Menjelaskan arti melalui pautan bibir mereka yang seolah berbicara.

'Mengapa... aku begitu berdebar-debar? merasa seperti jatuh ke dalam jurang terdalam, aku... merasakan cinta yang tulus, yang keabadiannya tak dapat terkikis waktu. Dan aku.., merasakan kepedihan terdalam, berjalan di antara orang-orang yang menunggu. Wahai waktu sang mempertemukan, Seberapa dalam ikatan yang dapat kau buat pada setiap detik ku bersamanya?

Tiba-tiba, Sasuke menarik bibirnya, merasakan kehadiran beberapa orang ketika serontak ia menoleh ke arah lain. Ebizo dan lainnya telah melewati batas suci Greenoch.

"Ada apa?" Sakura ikut menoleh.

"Beberapa orang..., empat..." Sasuke bisa merasakan jumlahnya. "Mereka sedang menuju ke dalam hutan."

Kekhawatiran langsung menyambar. "Apa mereka orang-orang Konoha?"

"Tidak, setiap orang di Konoha diselimuti matra Hiruzen dan aku bisa merasakannya." mantra yang mengikat mulut setiap penduduk Konoha.

"Lalu siapa?" Sakura menjadi was-was. Sasuke tidak menjawab apapun dan ia membawa gadis itu turun kembali masuk ke dalam hutan, di saat bersamaan serigala tiba di telaga suci.

"Sasuke..."

"Aku tahu..." pria itu menurunkan Sakura hingga memijak permukaan tanah. "Kau tetap di sini bersama para elf. Jangan berpikir untuk pergi kemanapun." ketegasannya menekan perintah pada Sakura. Ia pun bergegas bersama serigala.

Namun, "Tunggu..." Sakura ingin mengejar mereka tapi kaki gadis itu tak dapat bergerak, ia terkunci oleh para elf yang ada di balik gaunnya, menahan gadis itu untuk tidak pergi sesuai perintah Sasuke.

.

.

Kekhawatiran melanda ketika Hiruzen masuk ke dalam rumah Minato. Langkahnya tergesa menelusuri teras sampai ia bertemu Kushina.

"Apa yang terjadi Hiruzen-sama.." merasakan perihal buruk melihat raut wajah nenek itu.

"Dimana Minato?"

"Mereka mengadakan pertemuan di balai desa."

Hiruzen mendesah, "Ini benar-benar gawat..." ia melangkah kembali menuju pondoknya. "Panggil dia! dan kau datang ke pondokku setelah itu!" perintahnya tidak bisa menunda, Kushina langsung berlari meninggalkan rumah.

.

.

Ebizo dan ketiga pria Sunagakure memasuki wilayah Grenooch.

"Hutan ini..., menyeramkan..." salah satu dari mereka mengedarkan pandangan. Greenoch tampak begitu gelap dan mencekam di bagian luarnya. Sasuke dan Serigala muncul dari kegelapan di sepanjang jalan masuk. Serempak para pengunjung itu berhenti dan bersiaga, mengeluarkan senjata mereka.

"Se-serigala..." untuk pertama kalinya melihat bayangan seekor serigala berukuran besar, erangannya menundukkan nyali salah satu di antara mereka, kecuali Ebizo, ia tenang dan berdiri di belakang.

"Si-siapa di sana?!" jarak pandang mereka terbatas, Sasuke dan serigala berhenti di kejauhan, Hanya terlihat dua bayangan hitam disertai sepasang bola mata merah yang menakutkan.

Jakun salah satu pria suna bergerak ketika ia menelan ludah. "Apa itu?" ia sedikit melangkah mundur.

"Apa mau kalian?" suara Sasuke terdengar.

"Tunjukkan dirimu." sahut Ebizo. "Wahai makhluk penghuni tempat ini..."

"Makhluk?" serempak ketiga pria suna menoleh ke belakang. Terkejut ketika Ebizo menyebutkan kata makhluk.

Serigala lalu mendekat dan menampakkan dirinya. Ia mengerang, menggertak keempat pria itu untuk pergi dari Greenoch.

"Kukira serigala sebesar ini sudah tidak ada lagi..." gumam salah satunya, siap melontarkan serangan jika Serigala tiba-tiba menerkam mereka.

"Pergi dari sini..." perintah Sasuke, ia masih berdiri di tempatnya.

"Aku tidak takut dengan makhluk sepertimu.." Ebizo mengertak dan mengacungkan tongkat saktinya ke depan.

WUUUUUUSHHHH...

Angin pun bertiup kencang. Tanpa menunda Sasuke mengeluarkan kekuatannya, membuat keempat pria itu terpental jauh hingga terkapar di halaman luar Greenoch. Sasuke pun menghampiri mereka, menampakkan diri di samping Serigala.

Ebizo bangkit dengan bantuan tongkatnya, "Tak kusangka..." nadanya tertantang. Melihat wujud Sasuke dengan jelas. "Kukira makhluk sepertimu hanyalah mitos semata..., makhluk setengah kelelawar..."

Ketiga pria suna itu terkejut, menelan ludah mereka mentah-mentah.

"Pergi dari sini." usir Sasuke.

"Bagaimana jika kami menolak?" tantang Ebizo.

Sasuke melepas jubahnya, Kuku-kukunya pun memanjang, satu sayapnya keluar, mulutnya menghitam dengan dua taring yang tampak tajam, memperlihatkan wujud aslinya. Ia melangkah maju dan pertempuran tak lagi terelakkan.

Ebizo mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya, tali senar yang mengikat tiga bandul lonceng berukuran kecil, "Aku lawanmu..." ditujukan untuk Sasuke, gemerincing lonceng itu menderu, mengganggu pendengaran Sasuke seketika. Ebizo pun mengeluarkan jurus mantra, berupa bola api sama seperti milik Hiruzen.

"Sasuke!" seru serigala ketika bola api itu berhasil mengenai lengan Sasuke. Hendak menolong namun tindakannya terhadang tiga pria suna. Serigala pun mengerang dan melipat wajah bengisnya.

"Sejujurnya aku takut padamu." salah satu dari mereka berucap. "Mengingat cerita orang-orang, tentang serigala pemangsa manusia terakhir yang terbunuh..., tak kusangka, serigala sejenismu masih tersisa.." ia mengayunkan pedangnya dan mengambil satu langkah maju.

"Kesempatan bagus." sahut pria lainnya, "Kita akan mendapatkan banyak uang jika berhasil menjual kepalanya." lontaran itu membuat serigala mengerang benci. Mengingat bagaimana istrinya diperlakukan oleh kebrutalan manusia. Mengorek luka lama, hingga saat ini, rasanya masih menyayat hati. Bersamaan, ketiga pria itu pun maju dan menyerang, menggunakan pedang, meluncurkan tombak, dan salah satunnya ada yang membidikkan panah, dengan gesit serigala menghindar, benda-benda itu terlalu mudah baginya.

Di sisi lain, serangan balik tertuju pada Ebizo. Kibasan kuku jari Sasuke mengeluarkan angin tajam yang mengarah cepat padanya, namun kakek itu selamat, melindungi bagian tubuh vitalnya menggunakan topi caping walau celana yang ia kenakan terobek di bagian depan, mengeluarkan darah dari beberapa luka sayatan ringan bersamaan dengan terpotongnya rumput di sekitar tepat ia berdiri.

"Kau makhluk yang kuat." Ebizo menurunkan capingnya dan menyeringai. "Dan kau tidak serius menghadapiku."

"Aku tidak punya alasan melawanmu, tapi manusia sepertimu tidak akan pergi dari sini jika tidak mendapat pelajaran.."

"Hutan ini begitu berarti untukmu, atau ada sesuatu yang kau lindungi?"

"Bukan urusanmu."

Ebizo tersenyum garang, "Apa Konoha yang memerintahmu?"

"Aku tidak tunduk pada manusia."

"Tapi kau akan tunduk padaku."

Sasuke langsung mengeluarkan serangan lagi. Ebizo melompat dan menghindar, lalu mengeluarkan carikan kertas bertuliskan mantra. Serangan bertubi-tubi pun memburu Ebizo, pak tua itu berlari sambil menyebarkan kertas matranya mengelilingi Sasuke. Kemudian ia menggumamkan kalimat, seketika kertas itu mengeluarkan api dan Sasuke terperangkap di dalamnya, mencoba melarikan diri dari atas namun ada sesuatu tak kasat mata menyengat hingga permukaan kulit Sasuke mengeluarkan asap.

"Kau tidak akan bisa lari kemanapun." Ebizo masuk ke dalam lingkaran api dan siap bertarung. "Tanah, api, dan udara. Tiga elemen ini mengepungmu."

.

.

Aku harus pergi dari sini." Sakura gelisah, merasakan firasat buruk selama ia menunggu di telaga. Para elf mencoba menghalangi namun gadis itu tak lagi mau menurut. Tidak ada pilihan lain, elf pun mengambil tindakan, mereka menggerakkan tanaman rambat yang ada di gaun Sakura, membuatnya menjalar dan membelenggu gadis itu hingga tubuhnya tidak dapat melangkah, seketika Sakura jatuh di tempat.

"Apa yang kalian lakukan!" Ia terkejut dan marah. "Lepaskan aku! aku ingin tahu keadaan mereka." menggeliat, berusaha melepaskan diri, semakin ia memaksa, jeratan tumbuhan itu kian menguat. Sakura melihat jubah milik Sasuke yang tergeletak di tepi telaga, memikirkan cara, ia pun berhenti melawan.

"Baiklah..." ucapnya, mempertimbangkan berapa banyak jumlah elf yang tengah mengawasinya, tidak begitu banyak, karena para peri yang lain kembali ke penjuru Greenoch untuk melakukan tugas di malam hari. "Aku tidak akan pergi kemanapun." kata Sakura. "Aku akan menurut jadi ku mohon lepaskan ikatanku." janjinya tidak menimbulkan respon yang berarti, para elf ragu melepas jeratan tubuh Sakura. "Ayolah..., kalian tidak mempercayaiku?" jelas tidak ada yang percaya ketika perintah Sasuke jauh lebih penting.

"Baiklah, begini saja..." gadis itu memilih opsi lain, "Kalian boleh mengikat kakiku, tapi kumohon..., lepaskan bagian atas tubuhku, aku susah bernafas, dadaku sesak..." rintihannya membuat para elf sedikit berdiskusi. "Aku berjanji, aku akan menuruti perintah Sasuke, aku tidak akan meninggalkan telaga ini." tapi rayuannya tidak membuahkan hasil. Sakura pun memasang wajah cemberut. "Baiklah jika itu mau kalian." ia berdengus kesal, "Saat Sasuke kembali ke sini, aku akan melaporkan padanya jika kalian sudah memperlakukanku secara kasar." Kata-kata itu efektif, berhasil membuat para elf sedikit khawatir. "Aku benar-benar tidak nyaman, kalian membuatku sulit bernafas..." tampaknya, jauh lebih meresahkan jika Sasuke percaya akan tuduhan itu nantinya.

Setelah melakukan sedikit diskusi, akhirnya elf pun menuruti perintah Sakura. Mereka melepas jeratan di bagian atas tubuh gadis itu. Akan tetapi, elf sangat waspada, mereka tidak akan membiarkan tangan Sakura bebas begitu saja.

"Tunggu!" seru gadis itu sebelum kedua tangannya terikat. "Tolong ambilkan jubah Sasuke." pintanya. Sebagian elf pun mengambil jubah itu, mengangkat bersama-sama dan memberikannya pada Sakura. "Tolong selimuti bagian kakiku." permintaannya dipenuhi, mereka melilit kedua tangan gadis itu. "Ah tunggu!" Sakura menginterupsi lagi. "Ada yang aneh, apa kalian bisa memeriksa urat nadiku?" pintanya, "Setelah kalian menjeratku, dadaku terasa tidak enak, jantungku juga berdebar-debar." Ia mengulurkan satu tangan di atas paha, "Coba dengarkan, sepertinya ada yang aneh..." Sakura menunjuk titik nadinya. Salah satu elf mendekat dan menempelkan telinganya. Peri itu menggeleng, tampaknya tidak ada masalah.

"Coba kalian dengar lebih teliti, jantungku berdetak tidak normal," satu tangannya menyentuh dada dengan raut wajah sakit. "Kuminta kalian dengarkan satu per-satu..."

Para elf pun berkumpul di atas paha Sakura, bergiliran memeriksa nadi gadis itu.

Ini saatnya!

Kesempatan tercipta. Dengan cekatan Sakura menyaut sisi ujung jubah Sasuke dan menjaring semua elf yang berkumpul tepat di atas pahanya. Terkurung. Para peri itu panik, cahaya mereka berputar-putar tidak karuan di dalam jubah Sasuke sementara Sakura berusaha mencabut tanaman yang melilit ujung kakinya.

"Lepaskaaaaan..." seru Sakura sambil menarik tanaman itu sekuat tenaga. Berhasil. gadis itu bebas dan langsung berdiri. "Maafkan aku..." ia melintir ujung kain lebih erat lalu menindihnya dengan batu. "Aku akan kembali." Sakura berlari meninggalkan telaga, sekejap ia berhenti dan merobek bagian bawah gaunnya agar dapat bergerak lebih lincah.

.

.

Serigala mengerang, menangkis tombak yang mengarah padanya dengan kedua taring, lalu melempar tubuh pemegang tombak itu hingga terpental beberapa meter jaraknya. Sama seperti dua kawannya yang mulai kehabisan daya. Sekejap serigala menoleh ke arah lingkaran api, pertarungan Sasuke dan Ebizo masih berlangsung di dalam sana, tanda hitam di leher Sasuke mulai muncul dan itu pertanda buruk. Serigala hendak mendekati lingkaran api tapi salah satu pria suna kembali menyerang. Tidak ada habisnya, jika mau, serigala bisa mencabik kepala mereka satu-persatu namun ia tidak melakukannya. Terus menghindar dan membuat ketiga lawannya kewalahan sendiri menghabiskan waktu yang cukup lama, ia pun mulai kehabisan kesabaran. Serigala mengaung dan langsung menerkam pria suna yang mendekatinya, menjabik betis pria itu hingga suara teriakan terdengar di penjuru lembah.

Daging manusia, rasanya seperti ini...

Serigala menelan daging itu. Seketika Kedua pupil matanya mengecil, sesuatu datang menerjang dirinya. Rasa Lapar, mengoyak hasrat yang lama ia takhlukan, bersemayam dan hanya tertidur, hingga malam ini... ia melolong dan terbangun. Naluri sang pemangsa, menyebar ke seluruh darah dan menutup sejatinya. Setiap kutukan memiliki resiko, manusia tidak hanya satu wujud.

Sasuke langsung menoleh ke luar lingkaran, merasakan sesuatu yang buruk. Kelengahannya menciptakan kesempatan Ebizo untuk menyerang, bola api langsung menghampirinya dan Sasuke bergerak cepat untuk menghindar.

Tidak mengingat apapun, Serigala menekut wajah bengisnya, sorot matanya membidik santapan di hadapannya, ingin mencicipi sekali lagi kenikmatan yang baru saja ia rasakan, pria suna itu merangkak mundur dengan kaki berdarah-darah, menggoda rasa dahaga yang tengah membara.

"Ja-jangan..." ia memohon pada serigala yang berjalan mendekatinya, yang mengerang dan menampakkan dua taring tajam siap mencabik. Teriakan pun terdengar ketika Serigala menerkam mangsanya, Ebizo dan Sasuke serontak menoleh bersamaan.

Berusaha menyelamatkan teman, pria lain merangkak dan meraih busur yang tergelak tak jauh darinya. Anak panah pun terlepas dan mengenai tubuh serigala. Binatang itu mengerang dan melolong keras, melemparkan tatapan marah pada si pemanah. Sementara itu, pria yang telah digigitnya merangkak kabur dengan berlumuran darah di tangan, usahanya sia-sia karena ia langsung dilahap mentah-mentah, tubuhnya terkoyak oleh taring tajam. Dua pria suna lainnya terpaku di tempat melihat bagaimana tubuh kawannya tercerai-berai, salah satu dari mereka kembali memanah dengan tangan gemetaran, mengenai tubuh serigala sebanyak dua kali namun binatang itu tidak juga tumbang.

SRAAK!

Sasuke terdampar di permukaan tanah, asap muncul di sekujur tubuhnya setelah ia mengambil celah untuk melarikan diri dari atas.

"Menyerahlah!" seru Ebizo, "Jika kau mau, aku tidak akan memusnahkanmu. Tapi dengan satu syarat, kau harus tunduk padaku."

"Seperti itulah sifatmu, hasrat manusia yang tidak ada batasnya."

Ebizo tersenyum garang, "Tentu saja kami berbeda, kami bisa menjadi apapun yang kami inginkan."

Sasuke mengernyit, menahan luka kutukannya yang kian sakit setiap ia mengeluarkan lebih banyak kekuatan. Kemunculan tanda segel di leher semakin memperburuk kondisinya. Akan tetapi, Sasuke tidak punya pilihan lain ketika mendengar jeritan pria di luar lingkaran api. Serigala tidak terkontrol, ia akan benar-benar kehilangan jati diri jika tidak dihentikan.

Wajah Sakura kaku ketika ia muncul dari dalam hutan, melihat pemandangan mengerikan yang tengah terjadi di depan mata. Serigala, menjadi pusat perhatiannya, rasa takut menggetarkan langkah gadis itu. Dimana Sasuke? melihat lingkaran api yang besar, kilatan listrik tampak dari sana. Gawat. Sesuatu yang buruk akan terjadi.

Ebizo menghentakkan tongkatnya dan api biru muncul di ujung benda itu. "Kau bahkan tidak sanggup menahan kekuatanmu sendiri."

Aliran listrik di tangan kiri Sasuke kian membesar, seketika tanda hitam di lehernya menyebar dengan cepat, menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

Ebizo pun mengangkat tongkatnya. Membidik Sasuke seperti melempar tombak. "Kau akan berakhir malam ini!" tongkatnya melesat cepat.

"Sasuke!"

Tiba-tiba Sakura muncul dari lingkaran api.

dan..

Tongkat Ebizo mendarat tepat di tengah dadanya.

Kedua mata Sasuke melebar, Sakura yang berdiri tepat di hadapannya langsung terpental dan menubruknya. Ebizo pun terkejut, darimana datangnya gadis itu?

"Sakura!" amarah langsung membakar Sasuke, aliran petir yang hebat menyelimuti seluruh tangan kanan pria itu. Sebelah sisi tubuhnya mendekap Sakura dan ia pun meninju permukaan tanah.

"Arrrghhhhhhhhh!"

Seketika aliran listrik menyebar... menumbangkan semua orang di dekatnya. Ebizo tersengat, begitu pula dengan serigala, ujung kakinya menginjak tanah ketika ia menerkam pria suna terakhir, sisa listrik menyengatnya dan ia pun jatuh seketika. Bukan hanya mereka, makhluk hidup di sekitar tempat itu pun ikut terkena dampaknya. Semut, belalalang, Ikan-ikan di dalam batas suci, mati seketika.

Ebizo sekarat, ia tersungkur dengan dagu menopang pada tanah. Dalam ambang kesadaran ia memandang Sasuke yang mendekat, sisa listrik melumuri dua ujung jari pria itu. Lingkaran api di sekeliling mereka menyusut dan menghilang, bibir Ebizo bergerak, menggumamkan kalimat mantra.

"Kau, akan mati." amarah terpancar dari sorot mata Sasuke yang tajam.

Sementara itu, kedua bola mata serigala kembali normal, ia tersadar dalam keadaan lemah, mempertanyaakan apa yang baru saja terjadi sambil memandang Sasuke dari tempat ia terkapar. Tidak ada daya untuk bergerak ataupun memanggil, menyaksikan Sasuke yang berjongkok di hadapan kepala Ebizo, lalu menempelkan kedua ujung jarinya tepat di tengah kening pak tua itu, satu sengatan listrik membuat Ebizo tidak lagi bergerak dan serigala pun menutup kedua mata.

.

.

Sasuke menggendong tubuh Sakura menuju telaga suci, berbagai macam binatang penghuni Greenoch ikut membantunya, menarik tubuh serigala menggunakan akar pohon mengingat beban lima kali lipat lebih berat dari tubuh manusia. Sesampainya di sana, Sasuke membawa Sakura ke tengah telaga, merendam tubuh gadis itu dalam dekapannya. Hujaman tongkat Ebizo membuat cekungan yang cukup dalam serta luka bakar di tengah dada Sakura, mengira gadis itu tidak akan bertahan namun detak nadi Sakura masih mengepak dalam degup yang samar.

Para elf di sekitar telaga berkumpul, begitu pula dengan mereka yang telah membebaskan diri dari kurungan jubah Sasuke. Para peri itu menjerat tubuh Serigala menggunakan akar rambat sehingga dapat mengambang di dalam air telaga. Masih ada harapan untuk hidup setelah melihat kondisi Serigala yang juga diambang kematian.

"Sakura..."

Sasuke terus memandang wajah gadis itu, hingga kemudian ia bergerak menyatukan kening mereka dan menyalurkan sisa energinya. Melakukan apapun agar Sakura dapat kembali membuka mata. Suara Sasuke, masuk ke dalam alam bawah sadar Sakura, kata-kata itu bergema berulang kali. Menghidupkan api kehidupan yang rapuh.

Tangisan bayi terdengar. Terbelalak merasakan kegelapan dunia. Secerca sinar menyambut kedua mata yang perlahan membuka. Menghirup udara dunia yang berbeda. Bagaimana wangi darah, dan juga.., aroma keringat yang begitu ia kenal, Semua menjadi satu menyambut indra penciumannya. Segala macam suara, terdengar jelas di kedua telinga.

"Anakku..."

Suara lembut itu memanggilnya, merasakan belaian penuh kasih sayang pada permukaan kulit ketika setetes air jatuh membasahi pipinya. Ia pun berhenti menangis, merasakan gumpalan daging yang masuk ke dalam mulutnya, dan bagimana rasa air susu ketika ia mulai menghisap.

"Putriku..."

Ia mendengar suara seorang pria. "Putriku yang jelita..." membelai lembut kepalanya. "Nama apa yang pantas untuknya?"

Suasana menghening ketika tidak lagi terdengar suara. Angin, bertiup lembut..., membawa aroma wangi ketika sentuhan lembut kembali membelai kepala...

"Sakura."

Namanya pun disebut.

"Mebuki, bertahanlah..." tiba-tiba suara ketakutan datang. "Tsunade-sama..." pria tadi memanggil nama seseorang. Merasakan sesuatu yang hilang, membuat tangis Sakura pecah, ia pun diangkat, dipisahkan dari tubuh yang memberinya makan ketika lahir ke dunia.

"Mebuki...! mebuki...!"

Kedua mata Sakura terbuka, melihat dunia dengan jelas ketika wajah Sasuke menyambut kesadarannya. Di dalam keheningan mereka saling memandang. Tak ada kalimat dari mulut Sasuke ketika ia membelai lembut kening Sakura. Bersyukur mereka dapat berjumpa kembali. Hingga perlahan tangan Sakura mengangkat, mengetuk kening pria itu dengan senyum samar, memandang sepasang onyx memancarkan kelegaan yang dalam.

"Apa kau tahu?" suara Sakura terdengar pelan dan lemah. Ia pun menangkup pipi Sasuke dan terdiam sejenak, "Aku bermimpi.., saat aku terlahir ke dunia..." mengatakannya dengan wajah bahagia. "Rasanya sama, saat aku dapat kembali melihatmu..."

Sasuke, langsung memeluk Sakura, mengusap belakang kepala gadis itu dalam dekapan yang erat. Ketakutan yang terpancar, membuat Sakura tak ingin lagi menayakan alasan, mengapa ia begitu nyaman berada di dekatnya.

.

.

Satu hal tersisa di wilayah lereng bebatuan menuju lembah Greenoch, Pria suna yang ditinggalkan kawanannya itu akhirnya tersadar, mengingat kejadian terakhir ketika ia terpental saat melangkah menuruni lereng. Ia pun bangkit dan langsung merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Terpusat pada rasa terperih, pria itu terkejut, melihat sayatan simbol-simbol yang tidak ia mengerti di permukaan kulit tangannya. Darimana simbol-simbol itu ia dapatkan? mempertanyakan keberadaan Ebizo dan tiga rekannya, hingga ia melihat ke arah Greenoch di tengah lembah.

Pria itu, tercengang, berdiri kaku di depan batas suci setelah ia menuruni lereng. Kedua bola matanya bergetar, melihat hal mengerikan di antara kabut malam yang menyelimuti wilayah Greenoch. Ketiga kawannya tewas terbunuh, dan juga... bagaimana dua di antara tubuh mereka tercabik-capik. Ketakutannya bertambah ketika melihat jasad Ebizo. Apa yang sudah terjadi? seketika pria itu melangkah mundur, aura mistis dari dalam Greenoch memadamkan nyalinya. Melihat sekejap simbol-simbol di tangannya, tahu apa yang harus ia lakukan, pria itu pun lari terbirit-birit meninggalkan lembah.

.

.

Dini hari. Udara dingin kian menusuk kulit, Sakura terbaring di sisi Sasuke, Elf tengah merawat pria itu, daun obat melumuri tubuh penuh luka yang ia didapatkan saat bertarung dengan Ebizo. Sasuke tertidur, begitu pula serigala yang masih terendam di pinggiran telaga suci. Sakura bangkit, duduk dan memandang ke arah sana, sampai saat ini serigala belum juga tersadar, mengingat apa yang terjadi padanya, bagaimana serigala menyerang manusia membuat Sakura merasa takut. Membayangkan bagaimana jika hal serupa terjadi padanya, bukan saja kutukannya, kehilangan jati diri adalah sesuatu yang lebih menakutkan daripada apapun.

Sakura pun menoleh, menyentuh lengan Sasuke yang dingin. Perhatiannya mengalih pada beberapa elf yang mengganti daun obat pada luka di tubuh pria itu. Melihat kutukan Sasuke yang kian melebar sejak pertama kali mereka bertemu.

"Maafkan aku." ucapannya ditujukan kepada elf, bentuk mereka serupa sehingga Sakura tak tahu siapa saja yang terkurung di dalam jubah Sasuke ketika ia meninggalkan telaga. "Jika aku tidak melakukannya..., mungkin Sasuke..." tak ingin melanjutkan kalimatnya, tidak sanggup membayangkan apa jadinya jika Ebizo melukai pria itu. Salah satu elf mendekati Sakura dan menyentuh pipih gadis itu, seakan mengatakan semua baik-baik saja, tak ada yang perlu mengkhawatirkan.

Sakura tersenyum dan memandang ke arah telaga kembali. Terpaku cukup lama, mengingat mimpi ketika tubuhnya terendam di dalam sana. Merasakan kehangatan yang tak akan ia lupakan, bagaimana rasa ketika ia menghisap susu dari puting ibunya, kelembutan, dan juga kasih sayang kedua orang tuanya. Sakura bersyukur, bisa merasakan itu semua walau hanya sebatas mimpi, rasanya... begitu nyata.

Tiba-tiba...

Lamunan Sakura pecah. Satu burung gagak hinggap di hadapannya, mereka saling memandang hingga suara gagak lainnya terdengar di sekitar wilayah telaga. Satu-persatu... burung-burung itu hinggap di sekitar pepohonan dan juga rerumputan, jumlah mereka yang banyak membuat Sakura merasakan firasat tak enak.

"Apa yang kalian inginkan?" gadis itu waspada, bergeser mendekati Sasuke lebih rapat, melindunginya jika saja gagak di sekitar mereka melakukan sesuatu, mengingat malam dimana koloni burung itu pernah menyerang Sasuke di atas atap rumahnya dulu.

Akan tetapi,

Gagak-gagak itu tidak bergerak. Sakura cukup penasaran dan juga khawatir, hingga sesaat kemudian Kabut pun datang, membatasi penglihatan gadis itu di antara cahaya elf yang bertambah jumlahnya. Sakura menyipitkan mata dengan leher menegang. Merasakan situasi mencekam yang hadir di sekitarnya. Hingga akhirnya kesenyapan telaga suci pun mengiringi kemunculan sesosok pria dari balik kabut. Tidak, bukan... dia bukan manusia, Sakura terpaku ketika melihat kedua sayap membentang dari tubuh pria itu. Di tambah, dua bola mata merahnya. Sama seperti milik Sasuke.

"Si-siapa kau?" kegugupan menyelimuti Sakura ketika sosok itu mendekatinya, menampakkan wujud di hadapan gadis itu hingga Sakura terdiam kaku, tidak berkutik karena sekejap tubuhnya terasa begitu dingin ketika melihat wajah Itachi.

.

bersambung :)

.

.

PS

Hallo guys :)

Cerita Greenoch hold dulu sampai chapter 16 karena chapter2 selanjutnya akan sangat mengganjal ginjal jika bersambung terlalu lama Hahaha

Rencananya, Saya ingin mempublish versi originalnya di wattpad (ichaichafairy) terlebih dahulu kemudian versi sasusaku di fanfiction baru akan dilanjutkan kembali mengikuti update-an versi original. Sebisa mungkin, akan saya usahakan untuk tidak membutuhkan waktu yang lama. Kalau pun ternyata membutuhkan waktu lebih dari perkiraan, mohon untuk dimaklumi guys..., tidak ada alasan lagi selain kegiatan saya yang padat. Menulis adalah kegiatan di waktu senggang jadi saya harus memprioritaskan yang lain dulu. Jadi, jika muncul pertanyaan seperti

'Kapan update-nya?'

'Lama sekali update-nya author bodoooh!'

'Duh, ente ngapain aja sih thor? update dong plisss, buruaaaaaan...'

.

Guys..., sabar..., tarik nafas..., minum air putih dulu..., tarik nafas lagi..., tenangkan pikiran..., lalu ingatlah kembali alasan saya di atas.

Ok?

ok dong...

Mari kita berdoa agar semuanya lancar hingga cerita ini tamat. Terimakasih atas dukungannya. Semoga hari kalian selalu menyenangkan.

Salam cinta

- Icha Icha Fairy -