Title: Our B―

Cast: Johnny Seo; Jaehyun Jung; Taeyong Lee

Pairing: JohnYong ; JaeYong

Rating: M

Warning:

MxM. Mature content. NC21. PWP. Threesome. Raped. Forced Sex. Humiliation. Curse. Alternative Universe. Out of character. Typo everywhere.

Standard declaimer applied


Mereka sudah berteman lama. Tidak, teman bukan kata yang cocok untuk menggambarkan hubungan ketiganya. Tiga kingka yang bersaing diam-diam demi kepopuleran. Seo Johnny, Lee Taeyong, Jung Jaehyun.

Johnny akan selalu menyombongkan statusnya sebagai kapten klub basket di depan Jaehyun yang juga ada di klub yang sama, Taeyong di lain pihak akan menyombongkan kemampuan menari dan flirtingnya untuk menggoda para gadis―mencoba mempermalukan keduanya di depan gadis manapun yang terlihat tertarik pada dua temannya. Jaehyun sebenarnya bisa membalas dengan menyombongkan prestasi akademik dan kemampuan menyanyinya. Tapi menurutnya itu terlalu kekanakkan. Dia selalu jadi pihak penengah dan paling bisa menahan diri, setidaknya sampai sekarang.

Jaehyun itu tenang, baik, ramah―namun berbeda kasus jika ada orang yang mengusik dan membuatnya benar-benar marah. Dia bisa jadi lebih mengerikan dari binatang buas.


Telepon Jaehyun berdering. Dari Johnny.

"Hei, ada apa?" Jaehyun menjawab, menyeringai. "Bukannya kau masih kesal karena aku jadi MVP di pertandingan kemarin?"

"Sialan, berisik." jawabnya.

Biasanya, permainan basket adalah pertandingan antara dua tim yang saling bertanding. Tapi lain hal jika berurusan dengan Jaehyun dan Johnny. Memang tidak ada perjanjian tertulis, tapi orang yang mencetak skor lebih banyak di pertandingan adalah pemenangnya, bisa menjadikan hal itu sebagai bahan olok-olok untuk pihak lainnya hingga pertandingan berikutnya. Ingat, mereka teman namun saling menjatuhkan. Kedunya berhasil membawa nama sekolah menjuarai turnamen musim panas dengan kemenangan menakjubkan, tapi sang kapten malah merasa kesal dan marah-marah karena bukan dirinya yang menjadi MVP. Jaehyun ingin sekali meninjunya yang terus mengoceh tentang Jaehyun yang tidak akan bisa menjadi MVP tanpa dirinya, dan hanya kebetulan beruntung.

Kali ini pun, si Seo kembali mengoceh lagi di telepon hingga Jaehyun panas. AC mobilnya sedang rusak dan itu tidak membuat semuanya lebih baik.

Jaehyun memutar mata. "Ada apa sialan? Kalau tidak penting kututup."

Dari jalur telepon Jaehyun mendengar barang-barang dibanting.

"Si sialan itu menggoda gadisku!"

Jelas yang dibicarakan Johnny adalah teman mereka yang lain, Lee Taeyong. Harus ia akui, kelakuan temannya satu itu juga cukup membuatnya jengkel. Taeyong sudah gila, karena baru-baru ini ia membuat rencana untuk mengencani tiap gadis cantik dan populer di SOPA sebelum lulus. Mengencani disini juga termasuk meniduri mereka.

Ini adalah rutinitas dari ketiganya, untuk saling membicarakan satu pihak yang tidak mereka sukai dengan pihak lainnya. Hubungan pertemanan mereka memang terlalu rumit. Ketiganya sama-sama munafik, mengetahuinya dengan baik, tapi masih bisa berteman.

Johnny sepertinya sudah tidak tahan dengan kelakuan si Lee. Bukan sekali dua kali gadis incarannya, yang berusaha ia dekati, justru malah berakhir menjadi kekasihnya―lalu dicampakkan dalam waktu satu minggu kemudian dengan begitu mudahnya. Harga diri Johnny yang terlalu tinggi pasti merasa terinjak-injak.

Lee Taeyong perlu diberi pelajaran.

"Apa rencanamu?" tanya Jaehyun. Johnny tidak diperuntukkan berfikir cerdas, mungkin rencananya adalah berusaha mendapatkan gadis yang lebih cantik dan lebih populer lagi.

"Aku tidak akan mengatakan rinciannya sekarang. Tenang saja aku sudah mengurusnya. Datang ke apartemen jam tujuh, oke, Jaehyun?"

Di apartemen Johnny? Hal macam apa? Apa Johnny berniat memberi pelajaran dengan tindak kekerasan? Jangan bilang dia mau membunuhnya…itu terlalu ekstream!

Jaehyun tidak mau ikut campur. Tapi tak ada yang bisa dilakukannya saat ini. Ia baru putus dengan kekasihnya―Chaeyeon. Mantan kekasihnya itu gadis pertama yang mendapat keseriusannya dan meski tak mau mengakui, Jaehyun merasa hancur karena patah hati. Dia butuh hiburan, dan terlibat dengan rencana Johnny akan menyenangkan. Ia tak sabar juga untuk memberi sedikit pelajaran pada seorang Lee Taeyong agar tidak terlalu banyak bertingkah.

Jaehyun masuk ke apartemennya, melihat jika ini masih jam lima. Tersisa dua jam hingga waktu yang disepakati.

"Oke aku datang jam tujuh."


"Ada apa Jaehyun? Aku sedang sibuk."

Johnny tentu tak ingin mengundang Taeyong sendiri, dia menyuruh Jaehyun melakukannya. Terpaksa ia menelpon teman-nya itu. Tapi sialan yang menyambutnya malah suara Taeyong yang seperti sedang terengah tepat di telinganya dan suara tak senonoh lain―jeritan seorang wanita yang sudah seperti pelacur.

"Taeyong-oppahh… terus… a-ah! ah…"

Sialan Jaehyun jadi keras.

"Apartemen Johnny. Jam tujuh."

Telepon cepat-cepat ditutup.

Jaehyun menurunkan tangannya untuk mengusap tonjolan di balik kain celana. Ya tuhan, dia horny. Sudah sejak terakhir kali ia menyentuh dirinya sendiri―karena selalu ada kekasihnya Chaeyeon yang membantunya mengatasi hal seperti ini. Tapi kini, mereka sudah berpisah dan Jaehyun harus mengurus ini sendiri.

Jaehyun merasa sekujur tubuhnya panas minta dipuaskan. Ia melepas bajunya, melemparkannya ke sisi tempat tidur. Menyentuh tubuhnya sendiri. Tangannya turun ke bawah, mengusap perut berabsnya yang seksi. Mantan kekasihnya itu bagaimana bisa memutuskan Jaehyun? Tidak ada satu hal pun yang kurang darinya.

"Ohh…"

Tangannya menyusup dalam celana, memegang benda yang setengah keras itu dengan tangannya. Dia tak tahan lain. Ditariknya celananya turun, hingga penisnya terbebas. Cairan precum sudah menghiasi bagian kepalanya. Dikocoknya benda itu perlahan, mengerang nikmat sambil terus menaikan tempo hingga penisnya semakin membesar dan keras. Benda kebanggaannya itu sudah teracung sepenuhnya.

"Ahh, oh, oh, yeah…" Suara gesekan kulit licin terdegar, membuat Jaehyun semakin dekat. "Cum… ahh!"

Benda ditangannya berdenyut, sebelum menunpahkan benih berupa cairan putih di perut dan dada Jaehyun. Tubuhnya ambruk di atas kasur. Jatuh tertidur setelah menikmati sensasi perilisannya.


Hal berikutnya yang Jaehyun tahu adalah dirinya yang mendapatkan panggilan telepon. Johnny lagi.

"Where the fuck are you?"

Itu yang didengarnya saat mengangkat telepon dengan setengah sadar. Masih dalam situasi mencoba mengumpulkan nyawa. Jaehyun menggosok matanya, melihat jam hampir setengah enam. "Apa?" suaranya serak.

"Jaehyun aku meneleponmu sejak sepuluh menit lalu. Kemana saja kau, dumbass?"

"Sorry. Aku akan ke sana sebentar lagi setelah mandi."

"Cepat sialan. Atau aku akan datang dan menyeret bokongmu dengan paksa ke sini."

Jaehyun langsung bangun, mengutuk Johnny karena menutup telepon begitu saja tanpa membiarkannya bicara dulu. Cepat-cepat ia mandi, memastikan tubuhnya bersih dari cumnya sendiri yang mulai mengering, memakai baju, dan keluar menuju pintu. Sudah hampir malam sekarang, matahari hanya tersisa sedikit di langit. Apartemen Johnny tidak jauh, hanya beberapa blok dari apartemennya. Jadi Jaehyun santai saja dengan perjalanannya. Kaca mobil dibiarkan turun, membiarkan angin menyapu rambut hitamnya yang masih basah.

Begitu sampai, Jaehyun langsung masuk, menyuruh penjaga yang memarkirkannya.

Apartemen Johnny bisa dibilang lebih besar dan mewah dari milik Jaehyun meski keduanya sama-sama hanya tinggal sendiri. Johnny selalu membual jika itu karena ia lebih mampu darinya dan butuh tempat untuk pesta. Si sialan itu memang.

Jaehyun memencet bel dan pintu cepat dibuka. Johnny langsung menyuruhnya masuk ke dalam. "Akhirnya kau datang juga. That shitty brat sudah datang dari tadi dan membuatku lebih jengkel dari biasanya. Tapi aku punya sesuatu untuk membalasnya."

"Dan apa itu?" tanya Jaehyun.

"Kau akan tahu nanti. Tenang, hanya ada kita di sini. Tak akan ada yang mendengar teriakannya." Johnny tertawa sinting. Jaehyun hanya mendengus. Jangan bilang jika Johnny benar-benar akan memukuli Taeyong sampai setengah mati?

Mereka masuk ke dalam. Taeyong sudah di sana, duduk di sofa dengan malas. Hanya dengan melihatnya saja Jaehyun merasa jengkel juga. Temannya itu terlihat kacau namun sialannya seksi, mungkin tak sempat merapikan diri setelah seksnya beberapa saat lalu? Dia mendongak santai, matanya sedikit sayu dan malas, "Yeah, Jaehyun sudah di sini. Jadi ayo lakukan apapun ini dengan cepat. Apa yang kau mau, Youngho? Aku ada janji kencan setelah ini."

Taeyong memang selalu memanggil Johnny dengan sebutan Youngho.

"Benar..." jawab Johnny. Ia pergi duduk di samping Taeyong dan menyimpan tangannya di bahunya, merangkulnya dari samping sambil menyeringai. Jaehyun duduk di hadapan mereka, diam saja melihat tingkah Johnny. "Siap untuk bersenang-senang?" tanyanya pada dua teman-nya.

"Ya, terserah. Sekarang singkirkan tanganmu dariku." kata Taeyong.

Johnny tidak bergerak.

"Kau tau, Yongie? Kau sudah bertindak seperti pelacur murahan akhir-akhir ini. Mengencani dan meniduri banyak jalang? Bahkan wanita yang seharusnya milikku. Aku tahu kau sengaja melakukannya."

Taeyong mengangkat alis dan menatap Johnny yang menyeringai. "Jangan salahkan aku. Jalang itu lebih memilihku daripada kau. Setidaknya ia punya selera tinggi untuk memilih teman tidur." Taeyong memandang remeh.

"Nah, whatever. Karena itu tidak akan terjadi lagi." Kata Johnny.

"Apa?" herannya.

"You've been acting like a little bitch lately, I figured it's time to treat you like one, Yongie." Bisiknya. "Bitch don't have sex with other bitches. No, bitch beg to have sex with real men, like me."

"Apa yang coba kau katakan, Youngho?"

Taeyong tak mengerti kali ini, karena Johnny mengatakannya dalam bahasa inggris. Jaehyun yang tahu jelas maksudnya mulai merasa tak nyaman. Ia tak menyangka akan jadi seperti ini, ia pikir Johnny pasti hanya bercanda. Jaehyun bertanya-tanya sampai seberapa jauh temannya itu akan melakukan ini.

"Maksudku adalah, kau jadi jalangnya di sini, sayang. Sekarang berlututlah dan mulai bekerja. Pakai mulutmu untuk memuaskanku."

"APA? KAU GILA! TIDAK!" kata Taeyong. Dia mencoba berdiri, tapi Johnny menahannya di tempat. Meski benci untuk mengakuinya, tapi Taeyong tahu ia tidak akan mampu melawan Johnny seberapa keras punmencoba. Johnny terlalu kuat untuk dilawan, bahkan hanya dengan melihat perbedaan tubuh mereka. Taeyong tidak lemah, jangan lupakan jika dia juga laki-laki. Tapi dibandingkan dengan Johnny yang tinggi-besar, itu lain cerita.

"Kau ingin aku memberimu blowjob? Kau bajingan gay sakit!" Taeyong tertawa remeh. "Kau pasti merasa iri karena aku bisa mendapatkan blowjob luar biasa dari wanita-wanita itu. Benarkan, Yongho?"

Johnny menampar Taeyong keras di wajahnya. "Diam."

Taeyong marah, ia mencoba melepaskan pegangan Johnny di tubuhnya hingga tubuhnya merosot ke lantai. Tapi Johnny menahan bahunya, menekannya hingga punggungnya bersandar di kaki sofa. Tubuhnya sendiri dibuat berlutut, hingga selangkangannya kini tepat di depan wajah Taeyong. Menggesekkannya perlahan ke atas dan kebawah. "Aku tahu kau akan menikmati ini, Yongie ku sayang."

Kedua tangan Taeyong mencoba mendorong tubuh Johnny menjauh. "Kau― benar-benar bajingan― sakit! Youngho brengsek― b-berhenti sialan!"

Jaehyun bangkit dengan gugup. "Johnny, hei, hentikan."

Wajah Taeyong berubah merah, terlihat kesulitan bernafas.

"Tidak akan, dude. Aku tidak bercanda dengan ini. Aku sudah bosan melihat tingkahnya. Kita harus memberinya pelajaran. And i want you to join me, Jay."

"Kau ingin aku… apa?" syoknya.

"Membantuku menyadari tempatnya."

Jaehyun merasa pening tiba-tiba."Dengar. Kurasa ini terlalu berlebihan―"

"Ya!" Taeyong menimpali cepat. "Apa yang kau pikirkan, Youngho? Jaehyun, cepat bantu aku menyingkirkan bajingan gila ini!"

Jaehyun mulai bergerak untuk melakukan itu, tapi ragu-ragu saat Johnny menampar Taeyong di pipi lebih keras lagi. Ini akan jadi jauh lebih buruk jika Jaehyun tak menghentikannya.

"Kau tidak akan membantunya, Jaehyun." Kata Johnny, tenang.

Jaehyun mencibir. Johnny boleh jadi kuat, tapi ia masih bisa melawannya. Dia akan membawa Taeyong dan membuat mereka berdua keluar dari sini, dari situasi abnormal ini. Meski ia tidak terlalu menyukai tingkahnya, Taeyong masih teman-nya. Jaehyun mendorong tubuh Johnny, dan anehnya tubuh itu malah menyingkir begitu saja dengan mudahnya. Jaehyun tak ambil pusing, menarik tangan Taeyong untuk segera pergi.

"Taeyong tidur dengan Chaeyeon."

Langkah kaki Jaehyun berhenti. Ia berbalik melihat Johnny yang menyeringai padanya.

"Apa kau tahu? Dia meniduri Chaeyeon-mu itu sebelum datang ke sini."

Apa?

Jaehyun bisa memikirkan apapun saat mendengar itu. Kemudian, ia mulai berfikir jika tidak mungkin Chaeyeon-nya akan melakukan itu. Dia pasti sama terlukanya seperti Jaehyun setelah mereka putus, sama hancurnya. Karena ia tahu Chayeon, meski gadis itu yang memutuskannya, ia tahu mantan kekasihnya itu masih mencintainya. Jaehyun yakin…

Tapi kemudian kilas balik mengenai percakapannya terakhir kali di telepon dengan Taeyong kembali terngiang. Ia menyadari jika suara wanita itu terdengar familiar…

"Taeyong-oppahh… terus… a-ah! ah…"

Otak Jaehyun mendidih. Pegangan tangannya terlepas begitu saja, berbalik menarik belakang rambutnya dengan keras. "Fuck. Bajingan kau Lee Taeyong! Kau menidurinya?! Kekasihku?!"

"Dia bukan kekasihmu lagi―!"

Pipinya merah. Jaehyun menamparnya keras di wajah. Merasa benar-benar marah. Ini benar-benar sudah keterlaluan. Mungkin temannya ini memang pantas untuk diperlaukan seperti itu. Direndahkan hingga serendah-rendahnya. Seperti jalang.

Jaehyun berdecih. "Persetan! Johnny benar. Orang sepertimu memang harus diberi pelajaran."

Taeyong mundur menjauh setelah menyadari jika kini, Jaehyun sama sekali tak akan membantunya. Dua lawan satu. Rasa takutnya membuatnya mencoba kabur menuju pintu depan. Sial! Dikunci! Johnny tertawa. Mengejarnya di belakang. Ia berusaha menghindari agar tidak tertangkap tapi Johnny lebih cepat, tangannya ditarik kasar dan tubuhnya langsung dihempaskan lagi ke sofa. Johnny menindihnya di atas, tak bergerming meski Taeyong meronta-ronta hingga lelah dan tak bisa lagi melawan.

"Sudah lelah, babe?" Johnny menyeringai senang.

Sialan! Sialan! Sialan!

Sebelah kaki Jaehyun naik ke sofa, terlipat di sisi kepala Taeyong, sementara sebelah lagi tersimpan di sisi sofa. Posisi ini membuat selangkangannya kini tepat di depan wajah itu, sementara Johny mundur menduduki kakinya agar tak bisa bergerak,menahan tanganny juga. Jaehyun membuka resleting celananya.

"Apa yang… apa yang kau lakukan… Jaehyun?" katanya. Dia sudah menangis menyedihkan sekarang.

"Sudah saatnya mulutmu bekerja. Aku pastikan kau akan mencintai tiap inchinya."

Jaehyun menarik penis besarnya keluar dari celah celana. Menampar-namparkan benda itu ke wajah Taeyong yang menyerhit-nyerhit jijik. Fuck. Dirinya bukan gay, tapi ini bisa membuatnya bangun. Diakui atau tidak, penisnya akan semakin keras tiap kali bersetuhan dengan kulit mulus dan rupawan milik temannya itu. Jaehyun bahkan mengusapkan cairan precumnya di sana. Jaehyun tak bisa menahan diri.

"Kumohon berhenti… berhenti… berhenti…"

Mata itu tertutup rapat, memelas.

Satu fakta lain mengenai pertemanan mereka, adalah rasa puas tiap kali merasakan dominasi atas pihak lain. Di hadapannya ini adalah teman sekaligus saingannya, terlihat tak berdaya dan menyedihkan. Pasrah di dominasi, terbaring disana membiarkan Jaehyun menampar wajahnya dengan penis besarnya. Fuck. Ini menyenangkan.

"Ini adalah apa yang harus kau pertimbangkan sebelum meniduri kekasih orang lain, Lee Taeyong."

"Ja-jaehyun―mmmph!"

Teriakannya teredam, menolak akan benda yang kini mulai mengisi mulutnya. Penis Jaehyun didorong masuk begitu saja dalam mulut kecil dan hangat itu. Rasanya sangat nikmat hingga Jaehyun menginginkan lebih. Taeyong meronta semakin kuat.

Persetan! Aku akan menghancurkanya.

Dia punya kesempatan untuk tak berakhir seperti ini, tapi dia sendiri yang membuang kesempatan itu dengan meniduri Chaeyeon dan sialnya Jaehyun mengetahuinya. God, Jaehyun ingin sekali mencekik lehernya saat ini hingga temannya itu mati kehabisan nafas. Tapi kemudian ia menyadari jika ada cara yang lebih menyenangkan untuk membuatnya kehabisan nafas.

"Bantu aku membuatnya menungging." Jaehyun berujar datar pada Johnny. Teman-nya itu terdengar sedikit terkejut, tapi menyetujui dengan senang hati. Saat ia bangun, Taeyong langsung mencoba mengambil kessempatan untuk kabur. Tapi keduanya menangkap dan kembali menahannya tetap di tempat.

"Lepaskan aku brengsek!"

Wajahnya kembali mendapat tamparan keras dari Jaehyun.

Johnny tertawa puas. "Kau tahu, dia belum terlihat seperti jalang sesungguhnya dengan semua pakaian-pakaian sialan ini." ujar Johnny sambil mulai melepas paksa celananya.

"Stop! S-stop!"

Jaehyun tak mendengar. Larut dalam kesenangannya sendiri yang kini merobek paksa pakaian teman-nya itu. Memastikan merusak semua yang tersentuh olehnya hingga benda itu tak bisa digunakan lagi. Setelah itu ia membuka celananya sendiri, menurunkannya hingga sebatas paha. Jaehyun harus mengakui jika ia terkesan dengan tubuh Taeyong yang putih dan mulus, sepertinya ia berusaha keras membentuk tubuhnya hingga terlihat hot. Tidak terlalu berotot namun kencang. Shit. Jaehyun semakin terangsang.

Jaehyun menarik tangan Taeyong hingga ada di atas lengan sofa. Kepalanya di posisikan sempurna untuk siap dimasuki penisnya, yang kini sudah lebih keras dari sebelumnya. Jaehyun berjanji akan mem-fuck mulut ini hingga pemiliknya kehabisan nafas.

"Mmh! Mmh!"

Tapi meski begitu ternyata Taeyong tak menyerah semudah itu. dia menutup mulutnya rapat-rapat hingga rahangnya menegang saat Jaehyun mencoba memasukkan penisnya. Tapi ini tak menghentikan Jaehyun. Ia menarik kasar bagian belakang kepala Taeyong hingga mendongak. Jaehyun membuat kontak mata dengan Johnny, yang tampaknya bisa membaca pikirannya. Tangan Johnny mulai memberi spanking. Suara kulit menampar kulit terdengar menggema keras.

Taeyong menggigit bibirnya sendiri, mulai menangis. Rasanya menyakitkan tiap kali telapak tangan besar Johnny bersentuhan dengan kulitnya. Tak tahan, akhirnya ia membuka mulutnya, meratap. "Please, sto—"

Jaehyun mengisi mulut itu dengan penisnya sebelum kalimatnya selesai. "Fuck. Yeah… Ini yang kau maukan, jalang? Ahh yeah… take it baby… ohh…"

Jaehyun menghentakan penisnya ke dalam sejauh mungkin. Tak peduli jika Taeyong laki-laki, Jaehyun akan tetap memuji mulutnya dalam memuaskan penisnya. Ini hangat, licin, dan ketat. Jaehyun terus mendorong masuk-keluar penisnya itu dengan beringas, menggeram nikmat tiap kali. Dia bisa merasakan kepala penisnya menyentuh sesuatu yang lebih ketat, bagian belakang mulutnya. Ia mulai menekankan ujung penisnya ke tenggorokkan Taeyong. Tapi sebelum bisa memasukkan semuanya, ia merasakan dorongan keras.

"U-huk, uhuk!" Taeyong terbatuk hebat dengan air liur yang menuruni dagunya saat Jaehyun menarik penisnya mundur, menyisakan kepalanya saja di bibir luar.

"Yongie, babe, kau benar-benar terlihat seperti cockslut sekarang." Johnny mengejek dari belakang. Daritadi ia diam menonton keduanya, memainkan penis besarnya sendiri, sesekali menggesekkannya dengan belahan pantat Taeyong yang masih ia mainkan dengan meremasnya. Atau menamparnya sesekali. Johnny juga bukan gay. Tapi dia horny.

Jaehyun sendiri matanya mulai kabur. Sudah lama sejak blowjob terakhirnya, ada untuk beberpa alasan, ia harus akui jika ini adalah yang terbaik. Mungkin karena efek darinya yang bisa mendominasi Taeyong hingga seperti ini yang membuatnya lebih horny dari biasanya.

"Fuck."

Jaehyun kembali menyodok dengan cepat, masuk lebih dalam dari sebelumnya. Tangannya tersimpan di kepala Taeyong, menarik rambut hitamnya, memaksanya maju saat Jaehyun mendorong pinggulnya agar penisnya bisa masuk lebih jauh.

Mouth fucking. Deep Throating.

"Mmph!"

"Ah, fuck! Fuck! Fuck!"

Regangan tenggorokkan yang membungkus penisnya bisa membawanya sampai, tapi Jaehyun belum ingin mengakhirinya. Ia menarik kembali separuh penisnya. Menahannya diposisi itu. Taeyong tak mengeluh, mungkin karena merasa lega karena mulutnya yang sedari tadi diperkosa akhirnya mendapat waktu untuk istirahat.

"Lihat aku." tuntut Jaehyun.

Taeyong melakukannya. Mata hazelnya yang basah bertemu dengan Jaehyun, takut. Jaehyun menyeringai, meludah tepat di wajah itu. "Kau sudah jadi jalang sepenuhnya sekarang. Bagaimana rasanya?"

Taeyong merasakan penghinaan ini bisa membuatnya membunuh dirinya sendiri.

"Mmph…"

Dia mencoba menggumamkan sesuatu. Tapi dengan setengah penis Jaehyun masih dalam mulutnya, yang terdengar hanya suara tidak jelas. Jaehyun tahu jika dia mulai kesulitan bernafas, tapi dengan segaja ia malah mendorongnya sedikit lebih dalam. Wajah Taeyong sudah merah, perlahan berubah ungu. Dia memandang liar sekitarnya, meronta untuk menarik diri. Jaehyun menahannya kuat tetap disana. "Lihat aku! Atau aku akan membiarkanmu terus seperti ini!"

Taeyong menurut, merasa kalah. Tapi masih mencoba memprotes dengan bergumam.

"Mmphh….hhhh."

"Ah… Fuck!"

Jaehyun merasa dinding-dinding mulut itu berkedut nikmat tiap kali Taeyong berusaha bicara. Jaehyun ingi merasakannya lebih lama, namun menarik penisnya keluar. Tidak semua, hanya hingga Taeyong bisa mengambil nafasnya.

Johnny tertawa keras menikmati semua itu. "God job, Jay!" Siapa yang menyangka Jaehyun yang tenang, baik, dan ramah bisa memberikan humiliation semacam itu. Benar kata pepatah, orang yang seperti itu akan jauh lebih mengerikan dari binatang buas saat marah.

Johnny memainkan tangannya pada paha dalam Taeyong, memberikan kecupan kecil di punggungnya."Tapi kau salah tentang satu hal." Johnny membuka bajunya, benda itu membuatnya panas. Bentuk tubuhnya yang terbentuk bagus terpampang di depan Jaehyun, membuatnya menelanludah. Tangan besarnya memegang ke dua sisi pinggul Taeyong. Penis besarnya yang sudah benar-benar teracung bergesakan dengan celah pantatnya. Membuat Taeyong mengerang lemah seperti kucing betina. "Yongie kita belum menjadi jalang sepenuhnya. Tapi tenang saja aku akan membuatnya sempurna sebentar lagi."

"Yo-youngho…"

Jaehyun tahu apa yang akan terjadi, dan ia merasa prihatin untuk Taeyong. Penis Johnny panjang dan besar, sedikit lebih besar dari ukurannya. Dan Johnny akan memasukkan benda itu ke lubang pantat Taeyong yang kecil, ketat, sempit, dan dia yakini belum pernah dimasuki. Pikiran warasnya menyuruhnya menghentikan semua ini, tapi dia masih larut dalam nafsu dan tujuan untuk menghancurkan Taeyong. Jaehyun memutuskan untuk ikut menanggalkan sisa pakaiannya juga, karena ini semakin panas.

Saat Jaehyun menarik penisnya, Taeyong lalu berteriak panik. Kepalanya menoleh ke belakang untuk memandang Johnny sememelas mungkin. Air matanya jatuh begitu saja. "Jangan! Kumohon jangan lakukan ini! Maaf! Maafkan aku! Aku akan melakukan apapun yang kalian inginkan… tapi jangan ja-jangan lakukan itu… Kumohon…"

"Kau tampak menyedihkan, Yongie baby." kata Johnny. "Kau mendapatkan apa yang kau inginkan. Don't pretend as if you don't like it. Aku tahu penismu semakin keras saat kau dipaksa menservice penis Jaehyun tadi. Siapa bajingan gay sakit sekarang, hum?"

"A-aku… aku―"

Tidak ada yang bisa ia katakan. Taeyong mencoba untuk memohon pada Jaehyun melalui tatapan matanya ketika dia mendekat, tapi itu hanya membuat Jaehyun malah jauh lebih ingin menghancurkannya. Mengacaukannya hingga kehilangan pikirannya karena menginginkan penisnya.

"Sudah terlalu terlambat untuk itu, bukan begitu, John?"

"Exactly."

Jaehyun mendorong penisnya kembali ke dalam mulut Taeyong, dan kali ini dia bahkan tidak menolak. What a slut. Jaehyun yakin jika Taeyong menikmati ini, namun berusaha keras menyelamatkan mukanya. Dasar Tsundere.

"Take it slut, ngh!" geram Jaehyun sambil kembali mem-fucking mulut itu dengan kasar.

Di sisi lainnya, Johnny mulai bosan menggesekkan penisnya di belahan pantat Taeyong. Dengan tak sabar ia mulai mendorong benda keras itu ke lubang pantat Taeyong yang ketat sebagai hidangan utama. Jaehyun memastikan penisnya terkubur jauh di dalam tenggorokannya ketika ia mulai berteriak kesakitan saat dimasuki tanpa persiapan apapun oleh Johnny. Jaehyun bisa merasakan tiap getaran pita suaranya itu di penisnya. It's feels amazing!

"Hnggghhhh! MMMMMMPPH! NGGGGHHHHHHH!"

"Fuck! teruss…"

"Ohh!" Johnny menggeram nikmat. Lubang kecil milik Taeyong itu menjepitnya kuat. "Fuck. Tight ass. Yongie baby, you love it, right? Ahh. Damn! This hole is so good. Sshh..."

"Mmph! Oh! Mmph! Mmph!"

Gerakan mereka berirama. Jaehyun yang mem-fuck lubang atas Taeyong sementara Johnny mengambil lubang bawahnya. Dari erangan nikmat yang Jaehyun dengar, mulut bawahnya pasti terasa sama atau bahkan jauh lebih nikmat dan ketat di banding mulut atasnya. Fuck. Jaehyun ingin merasakannya juga!

Ritme mereka bertahan selama beberapa menit, sebelum terganggu oleh dering telepon. Jaehyun mengenali nada dering itu tak lain dan tak bukan adalah milik Taeyong. Jaehyun memutuskan untuk menjawabnya. Masih enggan menarik keluar penisnya dari mulut Taeyong tapi tetap melakukannya.

Bae Irene.

Jaehyun tahu nama itu. Gadis bertubuh sempurna dengan rambut ash purple. Salah satu dari gadis yang sering diberi title goddess karena kecantikannya.

"Jawab teleponmu, Taeyong."

Johnny menyeringai ketika Jaehyun selesai mengatakan ini.

"T-tapi―" Taeyong tergagap.

Jaehyun cepat-cepat menggeser tombol hijau dan membuatnya dalam mode loudspeaker. Johnny mendorong penisnya masuk hingga membuatnya terkejap sebelum menjawab. "H-halo?"

"Um, halo? Taeyong?"

"Hai... um." Ia menggigit bibir. Jaehyun memandangnya tajam. "Maaf, Irene. A-aku tidak bisa bertemu denganmu... ma-ah!-malam ini."

"Apa? Kenapa? Aku sudh menunggumu…"

"Aku hanya hnghh… sedang... s-sibuk." Taeyong menjawab lemah.

"Sibuk?"

"Ya, sibuk!" Taeyong menjawab dengan cepat. "Aku sedang―AAHH!" Sebelum dia selesai menjelaskan, Johnny sudah kembali melesakkan penis besarnya, membuatnya menjerit seperti jalang. Jaehyun memutuskan menyusul, mengikuti jejaknya dan mulai mem-fucking mulutnya lagi. Benda persegi itu dibiarkan tergeletak tanpa dimatikan di atas sofa.

Slap-slap!

"Mmph!"

Slap-slap!

Membiarkan Irene mendengar jelas suara kotor dari dua penis yang keluar-masuk memenuhi kedua lubangnya. Taeyong bisa gila!

"…Suara apa itu?"

Itu adalah suara terkejut dari seberang setelah satu menit diisi hening. Sambungan telepon terputus kemudian.

Jaehyun ingin menuntuskan penghinaannya dengan menyemburkan cum di mulut Taeyong, memaksa menelan semuanya.

"Shit. Ini terasa jauh lebih baik dari bayanganku! Hh-ah! Ouh! Fuck!"

"Ouh, yess! Terus ketatkan lubangmu ini, babe!"

"Hngh…"

Setiap hentakan mereka semakin kasar, liar, tak beritme. Sudah tak mempedulikan hal lain. Keduanya larut dalam kenikmatan luar biasa yang didapat dari tubuh Taeyong. Mengerang nikmat sambil mempercepat gerakan. Taeyong tak bisa melakukan apa-apa lagi selain menerima perlakuan kedunya dengan tubuh kelelahan dan sakit.

"Hng… mm… ahh…."

Jaehyun menyodokkan penisnya sedalam mungkin, membawanya keluar lalu mendorong lagi dan lagi. Perutnya terisi sensasi familiar, dengan dua sentakan terakhir cairan panasnya dari penisnya menyembur dalam mulut Taeyong.

"OUHHH!"

Sekali. Dua kali. Tiga kali. Terus menyembur memenuhi mulut Taeyong, yang kini terbatuk hebat karena tersedak oleh cairan cum. Jaehyun mengerang nikmat. "Telan!" perintahnya.

Taeyong menelannya susah payah sambil terbatuk. "U-uhuk, uhuk!"

Mata Jaehyun menutup. Penisnya yang semi-keras masih menyodok perlahan sambil menikmati sisa-sisa kenikmatannya. Ini adalah salah satu orgasme terbaik yang pernah Jaehyun alami.

Johnny tidak jauh di belakang Jaehyun. "Persetan! Fuck. Taeyongie baby, kau mungkin kehilangan kesempatan untuk meniduri Irene. Tapi akhirnya kau mendapatkan apa yang selalu kau inginkan, bukan?"

Johnny menampar pantat bulat Taeyong lalu mem-fuck lubangnya lagi tanpa ampun, mengejar enjakulasinya. Dia menggeram rendah saat merasa hampir tiba, "Ouh! Take my cum, slut!"

Slap! Blast!

"YOUNGHOOO!"

Taeyong menjerit keras merasa lubangnya dipenuhi cairan panas. Tubuhnya melengkung.

Jaehyun terkejut, Taeyong cum saat itu juga, di sofa Johnny. Dia cum tanpa menyentuh dirinya sama sekali. Murni karena ransangan di dua lubangnya. Tubuhnya pasti menikmati semua perlakuan kasar Jaehyun dan Johnny yang bisa dibilang… memperkosanya?

Johnny terus memompa penisnya perlahan di pantat Taeyong, memastikan semua cairan mengisi bagian dalam lubangnya. Ia menarik keluar penisnya semenit kemudian.

Taeyong runtuh kelelahan, tanpa kata, dipermalukan, di sofa.

"Yongie baby. See? Kau memang jalang. Lubangmu penuh dengan cum bercampur darah. How slutty." Bisik Johnny seksi di telinganya. Sebelum berhigh five ria dengan Jaehyun.

Jaehyun tidak tahu harus merasa bagaimana, yang jelas dia puas. Dibaliknya tubuh Taeyong dengan paksa, diposisikan duduk agar bersandar pada dada Johnny sambil meringis sakit. Jaehyun maju mengecup pelan bibir yang bengkak akibat ulahnya itu. Menyeringai, "Bersiaplah karena kita baru saja mulai."

"Yeah." Johnny setuju, memainkan rambut Taeyong dan mengecup pelipisnya. "Mulai sekarang dan seterusnya, kau adalah milik kami. Lee Taeyong, kau dengar? You're our bitch."

Taeyong terlalu lelah untuk menjawab.


END


Maybe, bakalan ada lanjutannya. Kalo, banyak yang suka.