Promosi. Yuk baca fic kolaborasiku yang berjudul 'A LIAR', dijamin pasti suka! haha. Okay, enjoy.

.

.

"Loh nak, kok sudah pulang?"

Tanya Nyonya Kim ketika ia melihat putra tunggalnya yang pergi sekitar 30 menit lalu sudah kembali dengan wajah yang terlihat begitu mengerikan.

"Dia kabur"

"Pfftt" Nyonya Kim berusaha untuk menahan tawanya sebelum suara tawanya memenuhi ruang tamu yang cukup luas itu.

Mingyu memutar bola matanya ketika melihat reaksi ibunya itu.

"Ya tuhan, aku benar-benar penasaran dengan calon mantuku itu" Kata Nyonya Kim, masih tertawa.

"Lupakan. Sepertinya anakmu ini akan jadi perjaka seumur hidup"

"Hush! Tidak boleh bicara sembarangan seperti itu. Dia hanya butuh waktu, nak" Sebuah pukulan ringan mendarat di bahu Mingyu, "Tidak bisa seperti ini"

"Apa?"

"Aku besok akan menemui keluarganya" Jawab ibu Mingyu. Sudah membulatkan tekad kalau ia besok harus bertemu dengan calon besannya.

"Jangan aneh-aneh, ma. Aku mohon" Kim Mingyu memiliki firasat yang tidak enak. Ibunya ini pasti akan membuat masalah yang besar.

Tapi kalau nyonya Kim sudah membulatkan tekadnya, tidak akan ada yang bisa menghalanginya. Banjir dan badai pun akan ia lewati hanya untuk bertemu dengan orang tua Wonwoo besok.

Mingyu hanya dapat berdoa, kalau ibunya ini tidak akan mempermalukannya di depan keluarga Wonwoo. Hanya itu yang ia harapkan.

"Beritahu Wonwoo kalau aku ingin bertemu dengan ibunya besok saat jam makan siang"

"Ia tidak akan setuju"

Nyonya Kim memberikan pandangan mematikan kepada anaknya itu, "Coba bilang dulu!"

Mingyu menggelengkan kepalanya. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Wonwoo. Tidak lebih dari satu menit, ia sudah mendapatkan jawaban dari soulmatenya. Wonwoo menentang keras ide tersebut. Seperti yang sudah ia duga.

"Ia tidak mau"

"Paksa"

"Bagaimana caranya?"

"Gunakan nada dommu!"

Mingyu melotot. Apa ia harus menggunakan nada domnya hanya untuk hal seperti itu?! Tapi perkataan ibunya itu bak titah raja, jadi…

"Hei, Wonwoo" Sapa Mingyu setelah soulmatenya mengangkat panggilan yang ia buat setelah bergumul selama beberapa detik.

"Kim Mingyu, aku tidak yakin ini adalah ide yang ba-"

"Sekarang kau bilang ke orang tuamu kalau ibuku ingin bertemu besok saat jam makan siang. Tanyakan apakah mereka keberatan atau tidak. sekarang" Ya, Mingyu baru saja menggunakan nada domnya.

"Kau-" Wonwoo menghela nafas begitu panjang, "Tunggu sebentar"

Mingyu menggigit bibir bawahnya, ia merasa bersalah dan rendah karena sudah menggunakan nada dom yang Wonwoo tidak sukai itu. Tapi ia tidak punya pilihan lain, kan?

"Mau bertemu dimana?" Tanya Wonwoo.

"Hmm.. Nanti aku akan beritahu tempatnya, sekarang yang terpenting adalah orang tuamu mau apa tidak?"

"Iya mereka mau" Jawab Wonwoo.

"Oke" Mingyu mengangguk.

Tut-

Mingyu melihat ke layar ponselnya. Wonwoo memutuskan panggilannya begitu saja?!

Gawat, apa Wonwoo marah?

Pasti.

.

Di sisi lain, sebuah keheningan memenuhi kamar tidur milik sepasang soulmate yang hanya dapat memperhatikan putra mereka.

"Apa kau yakin, nak? Kita bisa membatalkannya kalau kau tidak ingin" Tanya Jaejoong dengan penuh kekhawatiran.

Pertemuan keluarga? Tentu itu adalah hal yang sangat berat untuk Wonwoo.

"Tidak apa-apa" Jawab Wonwoo setelah ia berpikir sejenak.

Cepat atau lambat hal itu akan terjadi, kan?

Mungkin lebih cepat lebih baik. Wonwoo maupun Mingyu masih belum memiliki perasaan apa-apa, kalau memang hubungan mereka terlihat mustahil di mata orang tua Mingyu maka mereka dapat menghentikannya dari awal.

-Di restoran Shining Diamonds, hanya ibuku dan ibumu-

Ibu…

Wonwoo melihat kearah Jaejoong sebelum ia membaca pesan yang baru saja dikirim oleh soulmatenya, "Di restoran Shining Diamonds, hanya ibuku dan ibumu"

"Baiklah" Jaejoong mengangguk.

"Hmmm… terima kasih" Kata Wonwoo sebelum ia meninggalkan kamar milik kedua orang tuanya itu.

Wonwoo khawatir dan takut, ia tidak bisa tidur malam itu.

"Tidak apa-apa, Jeon Wonwoo. Ini demi kebaikanmu juga" Kata Wonwoo kepada dirinya, berusaha untuk meyakinkan kalau pertemuan itu yang akan membantunya untuk memutuskan apa yang harus ia lakukan kedepannya.

Iya, itu adalah hal yang terbaik.

.

.

.

Seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang begitu modis dan berkelas memasuki restoran yang tidak kalah mewah. Ia kemudian duduk di sebuah kursi dalam sebuah ruangan VIP yang harus dipesan terlebih dahulu.

Nyonya Kim melihat kearah jam yang berada di pergelangan tangannya. Ia datang 10 menit lebih awal. Ia pun mengeluarkan cermin kecil dari tasnya untuk memastikan penampilannya. Ia ingin terlihat berkelas namun tetap rendah hati di depan calon besannya itu.

Tak lama setelah itu, pintu ruangan VIP tersebut kembali dibuka.

"Jaejoong?" Mata nyonya Kim membesar ketika ia melihat sesosok pria yang sudah lama ia tidak jumpai itu.

Jaejoong pun memiliki eskpresi yang sama, terkejut dan senang.

"Jaejoongie! Ya ampun, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini!" Nyonya Kim memeluk temannya itu dengan erat. Berbagai macam memori yang selama ini dilupakan muncul kembali di benak keduanya.

"Jadi… kau ibu dari Kim Mingyu?" Tanya Jaejoong.

Nyonya Kim menganggukkan kepalanya sebelum ia mengingat sesuatu, "Jaejoong… bukankah soulmatemu itu Jung Yunho?"

Jaejoong tersenyum kecil, tahu betul kemana pembicaraan ini mengarah, "Iya"

"Tapi…" Nyonya Kim segera menyadari apa yang sebenarnya terjadi tanpa perlu penjelasan dari siapapun.

"Jeon Wonwoo?" Tanya nyonya Kim untuk memastikan kalau memang nama keluarga dari calon menantunya itu adalah Jeon walaupun tidak ada yang pernah memberitahunya.

"Dunia sempit, yah" Kata Jaejoong dan tentu saja nyonya Kim setuju.

Siapa yang akan menyangka kalau putra tunggalnya akan berpasangan dengan anak dari si Jeon itu.

Nyonya Kim mungkin belum mengenal Wonwoo, tapi ia yakin betul kalau ia akan sangat menyayanginya.

.

.

.

Di sisi lain, seorang pemuda dengan sepasang mata rubah hanya dapat merasa khawatir. Ia kerap melihat kearah jam dinding sekolahnya.

"Jam setengah satu, mereka sedang apa?" Kegelisahan Wonwoo terlihat begitu jelas. Kedua kakinya sedari tadi tidak bisa berhenti bergerak.

Tiba-tiba, ia dapat merasakan sebuah getaran dari ponselnya yang berada di atas meja. Ada pesan dari Mingyu.

-Kau selesai jam 5 sore, kan?-

-Iya-

-Temui aku selesai kelas, kita harus pergi ke suatu tempat-

-Kemana?-

-Hei Kim Mingyu, kemana?-

-HEI!-

Tidak ada jawaban setelah itu. Saat waktu luang, Wonwoo juga berusaha untuk menghubungi Mingyu tapi soulmatenya itu tidak membalas pesan maupun mengangkat telponnya.

Dengan kegelisahan yang tidak kian berkurang, kelas terakhirnya pun selesai. Ketika ia keluar dari kelas, ia melihat Mingyu berdiri sekitar 10 meter darinya. Mingyu kemudian berjalan pergi dan Wonwoo pun mengikutinya dari belakang.

Setelah mereka berada di tempat yang sepi, Wonwoo akhirnya berani memanggil nama soulmatenya itu.

"Kim Mingyu kita mau kemana?" Tanya Wonwoo dengan nada yang agak sedikit kesal karena dari tadi siang ia sudah dicueki.

"Makan malam" Jawab Mingyu, "Berempat"

"Berempat? Dengan siap-" Wonwoo menghentikan dirinya sendiri ketika ia sadar siapa saja empat orang itu.

Tanpa pilihan lain, Wonwoo hanya dapat mengikuti soulmatenya. Mereka berdua pergi diantar oleh sopir yang sudah nyonya Kim siapkan.

Setelah sekitar 20 menit, mereka akhirnya sampai di sebuah restoran yang khusus menyajikan makanan Korea dengan kualitas terbaik. Wonwoo jadi semakin gelisah.

"Tenang saja, Ibuku orang yang baik"

Wonwoo melirik kearah Mingyu, sebetulnya perkataannya barusan itu tidak membantu sama sekali. Tapi setidaknya ia berterima kasih atas informasinya itu.

Keduanya kemudian diantarkan ke sebuah ruangan khusus oleh pelayannya. Namun, mereka tiba-tiba mendengar suara tawa yang tidak asing di telinga mereka masing-masing.

Wonwoo dan Mingyu saling memandang satu sama lain. Apa betul yang tertawa barusan itu orang tua Mingyu dan Wonwoo. Apa mereka sudah sedekat itu hingga bisa tertawa lepas begitu?

"Silahkan" Pelayan tersebut membuka pintu ruangan itu dan pemadangan di depan Wonwoo dan Mingyu cukup membuat keduanya terkejut.

"Oh, kalian sudah datang" Kata Jaejoong ketika melihat keduanya berdiri di depan pintu.

"Kalian datang disaat yang tepat! Ayo cepat masuk dan pilih apartemen yang kalian sukai"

"Apartemen?" Kim Mingyu menaikkan alisnya. Matanya tertuju kepada beberapa lembar kertas yang berada di atas meja restoran tersebut.

"Iya" Nyonya Kim tersenyum lebar, "Kami memutuskan kalau kalian berdua harus tinggal bersama secepatnya. Ya, mungkin minggu depan"

"Hah?!"

.

.

.

.

Karena chapter ini jadinya panjaaaaaaaaaaang banget, jadinya aku potong jadi 2 bagian. Di bagian ini memang gada meanienya dan juga agak boring tp next chapter akan ada banyak meanie momentnya.

Sebetulnya aku udah mau nulis tentang mereka yg akan tinggal satu rumah dari chapter lalu, tapi Junhui harus dimunculin dulu haha Setiap scene itu bukan cuma filler di fic ini. Jadi, ingat baik-baik setiap kejadian yaaa haha

Maaf yah kalau it's getting boring, but please believe me. Everything will get better and better in the future. Especially after they live together.

Hubungan jaejoong dan nyonya Kim juga akan diceritakan di episode selanjutnya.

YEAY. REVIEW PLEASE3

Jangan lupa baca juga 'A LIAR' yaaa~ hehe