Micah dan Toy

DISCLAIMER: Rune Factory 3 dan Harvest Moon: Hero of Leaf Valley bukan punya aku, tapi cerita ini buatan aku.

WARNING: Garing, hati-hati Typo, gaje, dsb.

Genre: Humor, Adventure

Rated: K+

.

Chapter 3: Gerbang

.

.

*Kilas balik chapter sebelumnya*

Hilangannya Micah membuat penduduk Sharance menjadi panik. Kepanikan memuncak karena Micah tidak ditemukan di berbagai dungeon, bahkan rumahnya sendiri. Penyebabnya adalah ramuan kuno yang tidak sengaja Marian temukan. Sekarang semuanya tahu kalau Micah sudah berada di dimensi lain, jadi percuma saja mereka mencari. Mayor Sharance, Wells, berencana mengumpulkan beberapa orang yang bersukarela untuk mengembalikan Micah pulang ke Sharance. Carlos, Carmen, Gaius, Raven, Shara, Daria, Karina, dan Marian pergi untuk menjalankan misi ini. Namun sialnya, ketika mereka telah menemukan Micah di Leaf Valley, Marian meninggalkan penawarnya di Sharance. Jadi mereka semua terjebak di Leaf Valley.


*Plaza, Leaf Valley*

"Maksudmu, kita benar-benar terjebak di sini?" tanya Carlos panik. Marian hanya menganggukan kepala dengan ekspresi putusasa.

Seketika Toy mendapat ide cemerlang.

"Micah, tadi kau bilang, kau bisa ke sini karena teleportasi, kan?" tanya Toy kepada Micah.

"Ya, memangnya kenapa?"

"Kenapa kita tidak membuat gerbang teleportasi saja?" saran Toy. Semuanya berpikir kalau itu ide bagus, namun belum ada di antara mereka yang setuju. "Aku pernah membaca salah satu buku yang di sarankan Dia. Buku itu membahas tentang gerbang teleportasi."

"Tapi itukan hanya buku sci-fi. Belum tentu teorinya berhasil," ucap Dia.

"Tenang saja, aku percaya ini akan berhasil. Lagi pula, aku tahu siapa yang bisa mewujudkan teori itu."


*Florist / Item Shop, Leaf Valley*

*Tok* *Tok* *Tok*

Toy mengetuk pintu toko Louis. Louis pun keluar dari toko.

"Ya?" Louis pun mendapati segerombolan orang sedang berada di depan tokonya.

"Um, kenapa banyak orang di sini?" tanya Louis heran.

"Maaf mengganggumu, Louis. Tapi aku punya sebuah permintaan. Apa kau keberatan?" pinta Toy.

"Tentu saja tidak, Apa itu?"

"Kau pernah bilang, kalau kau ingin membuat gerbang teleportasi, kan. Jadi aku ingin kau menyelesaikan projectmu itu," ucap Toy.

"Hm, ini memang sedikit mengejutkan. Aku kira kau membawakan beberapa turis untuk mampir ke sini, hahaha," ucap Louis bergurau. "Tapi jika itu yang kau inginkan, aku bisa saja membuatnya. Memangnya mau kau buat apa?"

Toy pun menjelaskan semua kejadian yang ia alami.

"Ah, itu buruk. Jadi kau ingin aku membuatkan gerbang teleportasi untuk mereka?" tanya Louis, Toy menganggukkan kepala.

"Baiklah kalau begitu, beruntung aku baru saja menyelesaikan teorinya. Tapi aku butuh beberapa bantuan untuk menyelesaikannya, karena aku kekurangan alat dan bahan yang diperlukan," ucap Louis.

"Aku akan membantumu," ujar Charles.

"Woah, terima kasih, Charles. Ini bantuan besar. Tapi aku juga butuh bantuan lain untuk mengumpulkan bahan-bahannya."

"Kami akan membantu," ujar Micah.

"Apa kalian yakin?"

"Tentu saja."

"Terima kasih. Kalau begitu aku memerlukan sepuluh moonlight stone, satu ruby, lima blue rock, dua puluh lumber, dua milk gold, dua puluh ikan jenis apa saja, dan sebuah serum," ucap Louis.

"Serum?" tanya Toy.

"Ya, sejenis ramuan yang berguna untuk menembus dimensi," jelas Louis.

"Ramuan?" ucap Marian. "Hehe, jika ada sesuatu yang membutuhkan ramuan, serahkan saja padaku."

"Tapi kau kan belum tahu ramuan yang seperti apa," ucap Louis.

"Tenang saja, aku sudah mengetahui cara kerja sistem teleportasi pada tubuh kami. Jadi aku sudah tau ramuan seperti apa yang diperlukan," jelas Marian kegirangan.

"Baguslah kalau semua sudah lengkap. Tapi milk gold dan ikan itu untuk apa?" tanya Toy. Louis tersenyum.

"Tentu saja, untuk makanan kita semua," ucap Louis.

Semuanya sweatdrop mendengarnya.

"Um, soal itu... aku akan berusaha membuatnya," ucap Dia.

"Um, Dia. Bagaimana jika kau membantu hal yang lain?" Toy merasa tidak enak dengan yang lain. Dia terlihat murung karena ucapan Toy.

"Baiklah," Dia murung.

"Dia, bagaimana jika kau membantuku, maksudku kami, untuk mengumpulkan lumber?" Kurt berusaha membuat Dia senang kembali.

"*Ehem*" Joe berdeham di dekat Kurt untuk menggodanya. Kurt menatap Joe sementara.

"Tapi aku tidak ahli dalam menebang pohon. Itukan butuh tenaga yang besar dari laki-laki sepertimu," ucap Dia.

"Tidak juga. Aku akan membantu," ucap Kurt. Joe pun berjalan sedikit menjauh dan tertawa kecil di sana. Kurt memandangnya dan wajah Kurt menjadi sangat merah.

"Kurt benar, Dia. Jika kau tidak bisa menebang pohon, kau bisa membantunya untuk membawakan lumber. Tapi jangan memaksakan dirimu," ujar Toy.

"Um, baiklah. Kalau begitu urusan makanan akan aku serahkan kepada Gina," ucap Dia menerima saran Toy.

"Baiklah! Ayo kita kumpulkan bahan-bahannya!" Marian terlihat sangat bersemangat.

"Tapi sekarang sudah mulai gelap. Lebih baik kita cari tempat untuk menginap," ucap Micah. Marian kecewa.

"Aku akan menyiapkan tempat untuk kalian menginap," usul Dia.

"Tapi sepertinya Clove Villa tidak akan cukup untuk menampung mereka semua," ucap Joe setelah selesai tertawa.

"Bagaimana jika yang laki-laki akan tinggal di tempat Toy dan yang perempuan di Clove Villa?" ucul Micah.

"Aku tidak keberatan," ucap Toy. Gaius dan Carlos menerima saran Micah.

"Baiklah, ayo kita pergi!" ucap Daria.

Mereka semua meninggalkan area Florist / Item Shop. Louis pun menutup tokonya karena sudah jam tutup dan mempersiapkan alat-alat untuk membuat gerbang teleportasi. Tetapi sebelum semuanya bubar, Marian meminta Micah dan Toy untuk membantunya mengumpulkan semua jenis tanaman di Leaf Valley. Ini berguna untuk meneliti tanaman manakah yang cocok untuk dibuat ramuan. Micah dan Toy menerimanya. Mereka bertiga mengumpulkan semua tanaman di Leaf Valley malam-malam dan selesai sebelum jam sebelas malam.

Di pagi harinya, tepatnya jam enam. Micah dan Toy sudah bangun. Ini memang sudah kebiasaan para petani untuk bangun pagi dini hari.

"Toy, apa aku bisa membantumu merawat kebun?" ujar Micah.

"Boleh saja, ini bantuan besar," ucap Toy.

"Tidak usah seperti itu. Aku kan juga punya kebun."

"Baiklah kalau itu maumu. Sepertinya kau memang sudah mengerti cara merawat kebun, akan aku pinjamkan peralatannya," Toy meminjamkan watering can miliknya kepada Micah.

Micah pun menerimanya dan mengisinya di sumur sebelah rumah Toy, ia menyirami semua tanaman di kebun. Micah terlihat sangat berpengalaman dalam urusan merawat kebun. Tak lama kemudian, Micah selesai menyirami tanaman.

"Kurasa ini cukup," ucap Micah. "Hey, bagaimana jika aku merawat hewan-hewan juga?" usul Micah.

"Tak apa jika kau mau. Mari ikut aku!" Toy dan Micah berjalan ke arah kandang.

Kandang pertama yang mereka masuki adalah kandang ayam.

"Wah, kau juga menjinakkan Cluckadoodle?" ucap Micah.

"Clock... apa?" Toy tidak mengerti ucapan Micah. Micah pun teringat kalau ia berasal dari dunia yang berbeda, jadi penamaan hewan-hewan yang ia kenal juga berbeda.

"Um, maksudku... apa nama hewan ini?"

"Ini ayam."

"Ayam? Terdengar sedikit aneh."

Toy hanya menggaruk kepalanya karena ucapan Micah tadi. Mungkin yang Toy pikirkan sekarang adalah 'bukankah nama Cluckadoodle lebih aneh?'

Setelah Micah selesai berkenalan dengan hewan yang disebut 'ayam' itu, Ia pun memberi pakan ayam-ayam milik Toy dan mengambil telur-telurnya. Micah memberikan telur-telur tersebut kepada Toy dan Toy memberikan Micah sebuah telur sebagai ucapan terima kasih.

Selanjutnya mereka mendatangi kandang kuda dan sapi. Ketika Toy membuka pintu kandang, Micah terkejut melihat hewan-hewan yang Ada di sana.

"T-Toy! Itu hewan apa?" Micah terlihat sedikit terkejut sambil menunjuk ke salah satu hewan yang biasa kita kenal dengan sebutan 'kuda'.

"Itu kuda."

"Ku-kuda?"

"Um, Micah... kau tidak takut, kan?"

"Tentu saja tidak, aku hanya terkejut."

"Baiklah kalau begitu, bagaimana jika kau yang menyikat mereka sedangkan aku mengambil susu sapi?"

"Baiklah."

Toy pun meminjamkan sikatnya kepada Micah. Mereka berdua segera melaksanakan tugasnya masing-masing. Namun sebelum mereka memulainya, Gaius datang.

"Oh, jadi kalian di sini," ucap Gaius.

"Ada apa, Gaius?" tanya Micah.

"Bukan hal yang terlalu penting, aku hanya ingin memastikan kalau area tambang berada di depan perusahaan Funland, kan?"

"Bagaimana kau tahu?"

"Aurelia yang memberitahukannya kepadaku kemarin."

"Ya, tempatnya memang di sana. Apakah kau sudah memiliki hammer?" ucap Toy.

"Aku selalu membawanya, tapi aku berfirasat jika Raven akan ikut. Aku tidak memiliki dua hammer," ucap Gaius. "Apa di villa ada hammer?"

"Sepertinya tidak. Bawa saja milikku," Toy meminjamkan hammer miliknya yang tergeletak di kandang sapi dan kuda.

"Terima kasih," Gaius menerimanya.

Gaius pun meninggalkan area kebun Toy dan pergi ke Mine Entrance.


*Mine Entrance*

Kebetulan Gaius bertemu dengan Raven dan seorang pria yang sedang bersama Raven. Gaius pun mendatanginya.

"Hai, maaf sedikit mengganggu suasana. Bolehkah aku tahu siapa namamu?" tanya Gaius kepada pria itu.

"Tak apa, kami hanya berdiam di sini seharian. Aku Rudolph, yang mengelola goa ini," balas pria itu.

"Oh, kalau begitu bolehkan kami mengambil beberapa ore di goa ini?" tanya Gaius.

"Tak apa, aku sudah mendengar semuanya dari Charles. Silahkan lakukan sesukamu."

"Terima kasih."

"Gaius, apa kau membawa dua hammer?" tanya Raven.

"Ya, aku sudah tahu kalau kau memang tidak membawanya," Gaius memberi palu Toy kepada Raven. "Tapi hati-hati, itu milik Toy."

Raven hanya menganggukan kepalanya. Gaius dan Raven pun masuk ke dalam goa setelah mendapat tips menambang dari Rudolph.


*Maple Lake*

Di hari yang masih terbilang pagi, sudah terlihat tiga orang yang hobi memancing. Carlos, Carmen, dan Joe. Mereka bertiga sudah menyiapkan pancingan terbaik mereka.

"Kali ini, aku pasti akan mendapatkan yang terbanyak," ucap Carlos.

"Kau juga harus melihat kualitasnya, Carlos," ucap Joe.

"Tentu saja, kualitas menjadi nomor satu. Tapi siapa yang mendapatkan 'Si Nomor Satu' terbanyak, dia lah yang terbaik," ucap Carmen.

Kemampuan mereka memancing sangatlah hebat. Masing-masing dari mereka setidaknya sudah mendapatkan sepuluh catfish dalam sekejap. Tak lama kemudian, datanglah seorang gadis cantik yang mengurus Sunny Garden Cafe.

"Um, maaf mengganggu. Ini sedikit makanan untuk kalian dari kakekku," ucap gadis tersebut.

"Oh, terima kasih Katie," balas Joe.

"Sepertinya kalian sedang sibuk memancing, ya. Memangnya tidak bosan?" tanya Katie.

"Tentu saja tidak," ucap Carlos.

"Kebanggaan tersendiri jika bisa mendapatkan yang terbaik," sambung Carmen.

Katie masih saja tidak mengerti kenapa banyak sekali yang menyukai memancing. Joe menatap Katie dengan pandangan seperti ingin mengatakan 'kan, sudah ku bilang ini menyenangkan.', namun Katie hanya memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti.

"Apa kau mau bukti, Katie?" tanya Joe.

"Bukti apa?"

"Kalau memancing itu sangat menyenangkan."

"Hm, sepertinya...," belum juga Katie menyelesaikan ucapannya. Ia sudah ditarik oleh Joe agar tangannya menggenggam pancingan. "Eh, Tu-tunggu dulu!"

"Sekarang pegang ini kuat-kuat dan...," Joe membimbing Katie dari belakang sambil memegang kedua tangan Katie dengan tangannya untuk melempar kail umpan ke danau. Kail umpan tersebut pun terlempar cukup jauh dan tercebur ke danau.

"Sekarang kau hanya tinggal menunggunya," ucap Joe yang terlihat seperti sedang memeluk Katie dari belakang.

"S-sampai kapan?" Katie terlihat gugup karena tingkah Joe yang seperti memeluknya.

Tiba-tiba pancingan Katie bergerak.

"Ah, aku dapat ikan!" ujar Katie.

"Tarik Katie! Tarik!" Joe membantu Katie. Seketika Carlos dan Carmen ikut membantu Katie. Perlawanan cukup menegangkan, tapi ikan itu tak bisa bertahan lama. Akhirnya Katie mendapatkan ikan pertamanya. Catfish yang cukup besar, memecahkan record Joe sebelumnya.

"Hasil yang bagus untuk seorang pemula," ucap Carlos.

"Wah, kau memiliki bakat untuk ini, Katie. Jika kau mau, akan ku ajari lebih dalam tentang memancing," ucap Carmen.

"Hehe, kau memang hebat, Katie!" lanjut Joe.

Katie hanya memandang mereka bertiga dengan wajah polosnya. Ia terlihat innocent karena tidak paham ucapan mereka bertiga, bahkan ia masih tidak tahu keseruan memancing itu di mana.


*Clove Villa*

"Apa kau akan ikut mencari lumber, Dia?" tanya Shara.

"Ya, mau bagaimana lagi," balas Dia.

"Kenapa tidak membantuku mencari tanaman?" Shara menunjukkan selembar kertas yang Marian buat untuk Shara. Daftar tanaman untuk membuat serum.

"Bukannya kau sudah bersama Daria?"

"Iya, sih. Tapi kan lebih cepat jika kita mencarinya bertiga."

"Tapi aku sudah bilang kalau aku akan membantu Kurt dan yang lain."

"Akan aku sampaikan, nona Dia," tiba-tiba seorang gadis pelayan berkacamata ikut dalam pembicaraan.

"Gina?" ucap Dia kepada gadis tersebut, Gina.

"Menurutku menebang pohon adalah tugas berat untuk nona. Anda lebih baik ikut Shara," ucap Gina.

"Baiklah kalau begitu. Shara, aku akan ikut," ucap Dia. "Gina, jangan lupa untuk membuatkan makanannya, ya."

"Baik nona Dia."

Akhirnya Dia, Daria, dan Shara pergi meninggalkan Clove Villa beserta orang-orang di dalamnya, terutama Karina dan Marian yang masih tertidur pulas. Marian kelelahan karena telah memeriksa banyak jenis kandungan dalam tanaman-tanaman di Leaf Valley.


*Woody's Carpentry area*

"Mana, Dia?" ucap Micah yang sudah menyelesaikan tugasnya di kebun Toy.

Tiba-tiba Gina datang.

"Semuanya, maaf. Nona Dia tidak bisa ikut. Ia sedang mencari tanaman untuk serum bersama Shara dan Daria," ucap Gina.

"Bukannya itu tugas Marian?" ucap Micah.

"Marian kelelahan karena meneliti kandungan tanaman yang diperlukan untuk serum, jadi ia tertidur sampai sekarang," jelas Gina.

"Baiklah, apa kita bisa berangkat?" ucap Woody. Semuanya setuju.

Micah, Toy, Kurt, dan Woody berangkat mencari lumber, sedangkan Gina kembali ke villa.

Semua orang sedang berusaha mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat gerbang teleportasi, bahkan ada juga yang sedang membuat makanan untuk menambah tenaga orang-orang yang sedang mengumpulkan bahan-bahan. Memang, beberapa selang waktu istirahat Gina memberikan makanan sedap hasil tangkapan Joe, Carlos, dan Carmen kepada semuanya. Tak terasa waktu sudah petang, mereka bekerja dengan keras sampai lupa akan waktu. Akhirnya mereka semua kembali berkumpul di Plaza.

"Apa semuanya sudah lengkap?" tanya Charles.

"Sepertinya begitu," balas Carlos.

"Tunggu! Kita melupakan serumnya," ucap Shara.

"Kemana Marian? Karina juga tidak ada," ucap Micah.

"Um, sepertinya mereka masih tertidur pulas," ucap Dia.

"Jadi bagaimana dengan serumnya? Kita tidak bisa pulang tanpa itu," ucap Micah.

"Tenang saja, kalian masih bisa menginap sehari," ucap Louis.

"Rangka gerbang sudah selesai, tinggal melengkapinya dengan bahan yang kalian temukan," ucap Charlos. Semuanya memberikan hasil kerja mereka. "Ini tidak akan memakan banyak waktu. Kalian boleh kembali untuk beristirahat, melihat kami, atau membantu kami bekerja."

Semuanya memutuskan untuk membantu, namun ada juga yang meninggalkan Plaza untuk beristirahat. Duapuluh menit kemudian, gerbang tersebut sudah selesai. Hanya tinggal memasangkan serum di tempat yang disediakan. Karena serumnya belum jadi, mereka hanya bisa menunggu sampai esok.

"Yosh, akhirnya selesai," ucap Louis. "Sekarang kita hanya tinggal menunggu serum dari Marian. Kalian bisa menginap di leaf valley sekali lagi."

Semuanya mengangguk dan meninggalkan Plaza.

"Shara, tanaman ini mau ditaruh di mana?" tanya Dia.

"Taruh saja di dekat meja Marian," ucap Daria.

"Ya, boleh saja. Jadi ketika ia bangun, serumnya sudah selesai," ucap Shara.

Sesampainya di villa, Dia, Daria, dan Shara meletakkan tanaman serum di dekat meja kerja Marian. Terlihat Marian sedang tertidur di mejanya. Lalu mereka semua tidur mengakhiri hari.


*11.00 P.M. Clove Villa*

"Ugh, kepalaku pusing," keluh Marian. Marian pun melihat keadaan sekitar.

"Sudah berapa lama aku tidur?" Marian mengecek kalender di dekatnya. Ia menyadari kalau, ia telah tertidur seharian.

"Oh tidak, sudah jam sebelas malam," seketika siku Marian menyenggol tanaman serum yang telah dikumpulkan Shara dan kawan-kawannya.

Marian pun menyadari kalau pembuatan gerbang teleportasi sudah selesai, jika tidak harusnya tanaman ini tidak ada di mejanya. Menyadari hal ini, Marian segera menyelesaikan serumnya. Ia hanya memerlukan waktu duapuluh menit untuk menyelesaikan serumnya. Ketika sudah selesai, ia teringat akan janjinya membawa semua penduduk Sharance pulang. Karena terburu-buru. Ia berlari keluar villa menuju plaza.

Sesampainya di plaza, ia mendapati gerang teleportasi yang sudah jadi. Hanya tinggal serum ini sebagai pengaktifnya. Sesaat sebelum Marian meletakkan serum di tempat yang ia temukan, ia berpikir untuk menunggu pagi menjelang. Menunggu semua siap lalu mengaktifkan gerbang. Namun seketika ia berubah pikiran. Ia berencana untuk mengaktifkan gerbangnya dan pergi ke Sharance seorang diri. Ia akan memberitahu Wells karena telah berhasil menemukan Micah. Meminta maaf kepada nenek Marjorie karena meninggalkan ramuan penawarnya dan membawa seluruh penduduk Sharance pulang. Namun Marian terlalu terburu-buru.

Ia sangat terpaku akan tanggungjawabnya. Ia pikir semua penduduk di Sharance akan khawatir dan berputusasa karena ia telah meninggalkan ramuan penawarnya, sehingga tidak dapat kembali ke Sharance.

Marian meletakkan serumnya dan mengaktifkan gerbangnya. Gerbangnya aktif seketika. Jantung Marian berdegup kencang. Ia merasa sangat senang karena bisa kembali pulang. Tapi sebelum ia memasukkan sebelah kakinya ke dalam gerbang, sebilah pedang terayun keluar menyerang Marian. Untungnya Marian dapat menghindar. Terlihatlah High Orc yang keluar dari gerbang. Marian terkejut dan panik, ia ingin berteriak minta tolong tapi tidak bisa. Tak lama, muncul monster-monster yang lain seperti Giant Beetle, Elephant, Onion Ghost, Orc Rider, Leaf Ball, Ant, dan Orc Hunter dalam jumlah yang cukup banyak.

Marian pun berlari terbirit-birit ke villa. Ia membangunkan semua teman-temannya yang sedang tertidur.

"Bangun semua! BANGUN!" teriak Marian.

"Ng, ada apa?" tanya Shara yang masih setengah sadar.

"I-itu... Plaza... g-gerbang... mo-mon...," ucap Marian terbata-bata.

"Tenang dulu Marian, tenang. Jelaskan semuanya perlahan. Sebenarnya ada apa?" ucap Shara. Marian pun berteriak.

"ADA MONSTER KELUAR DARI GERBANG!" Semua terkejut.

"APA!?" semuanya berteriak sampai Karina terbangun dari tidurnya.

"*whoam* Ada apa?" Karina masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, Leaf Valley dalam bahaya! Kita harus menyelematkan semuanya!" ujar Shara.

"Kalau begitu, pertama kita harus membangunkan Micah dan yang lain," usul Daria. Semuanya mengangguk setuju.

"Baiklah ayo!" semuanya mempersiapkan peralatan tempurnya dan bersiap ke rumah Toy. Karina masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

"Hey, tunggu! Apa tidak ada seorang pun yang mau menjelaskan semua ini?" tanya Karina.

"Uh, habislah aku! Aku memang pembawa masalah," keluh Marian yang putusasa.


TBC

*fiuuh..* akhirnya selesai chapter ini. Gimana? Gimana? Makin seru atau... sangat seru(maksa).

Sedikit spoiler chapter berikutnya, genrenya bakal sedikit action. Yah, karena ini Rune Factory 3 masa ada senjata tapi ga dipake? Wuahhahahahahah... (gaje).

Jangan lupa RnR please

Lanjut (The Last Chapter) Chapter 4: Micah dan Toy