Mingyu Sunbaenim

.

.

.

Cast:

Meanie, Seoksoo, Junhao, Jeongcheol, Soonhoon, Verkwan, Dino

Other cast jika dibutuhkan nanti

.

Summary:

Jeon Wonwoo, siswa baru Pledis SHS yang baru bisa melanjutkan pendidikannya akibat putus sekolah harus dihadapkan dengan sunbaenim menyebalkan di hari pertama orientasi sekolahnya. Bagaimanakah Wonwoo menjalani hari-harinya di sekolah?

.

.

.

Kejadian dua hari lalu yang menurut Wonwoo dan Mingyu memalukan itu masih membekas di ingatan keduanya. Wajah mereka bak udang rebus setelah insiden mari-menatap-resleting-celana-Wonwoo-oleh Mingyu itu. Selama dua hari pula Mingyu enggan menjadi pendamping kelompok bagi kelompok Wonwoo. Hari kedua orientasi Mingyu harus menghadiri rapat OSIS se-kota Seoul mewakili Seungcheol dan hari ketiga ia tidak ingin bertemu Wonwoo. Ia digantikan oleh Hong Jisoo, senior tingkat akhir di Pledis. Hong Jisoo berwajah manis seperti malaikat, hatinya juga cantik secantik parasnya, saking cantik hatinya ia rela menjadi selir Choi Seungcheol si ketua OSIS yang punya 3 pacar termasuk dirinya itu. Namun tidak dengan perkataannya. Kadang ia bisa seenaknya menyuruh Wonwoo yang ketua kelompok itu menemui Mingyu entah karena Jisoo lupa membawa absensi kelompok, sampai mengumpulkan laporan harian ataupun mengumpulkan barang-barang tugas mereka. "Jeon Wonwoo, bawa ini pada Mingyu! Aish, kenapa aku yang mengerjakan ini semua? Kemana Mingyu, setahuku sudah tidak sibuk!" Itu salah satu gerutuan yang keluar dari bibir Jisoo. Dan Wonwoo tidak suka Jisoo membuatnya bertemu dengan Mingyu.

Jisoo tidak seburuk itu sebenarnya, hanya saja ia pecinta keadilan dan kedamaian. Terutama jika sudah berdiam diri di ruang OSIS yang ber-AC itu. Baginya itulah kedamaian, ia bisa menghabiskan 30 menit istirahat untuk mengunci diri di ruang OSIS, alasannya sih meditasi, untuk menenangkan diri dari pelajaran yang membosankan, tapi sebenarnya dia ingin tidur ditemani semilir angin yang dikeluarkan AC. Lagipula ia adalah sekretaris OSIS, tugasnya mengurus administrasi orientasi dan administrasi OSIS. Jisoo tidak ada tugas untuk ikut sebagai pendamping kelompok yang sewaktu-waktu berjemur di lapangan karena si ketua OSIS Choi Seungcheol mengajak siswa baru untuk mencoba senam kebugaran jasmani tepat pukul 12 siang. Jisoo benci panas! Belum lagi AC di ruangan tidak berfungsi, hanya ada kipas besar di tengah langit-langit kelas yang membuat Jisoo mual. Jadi bagi Jisoo ini tidak adil. Supaya adil, sisa tugasnya sebagai pendamping kelompok tetap diserahkan pada Mingyu.

"Jeon Wonwoo!", panggil Jisoo setelah menemukan salah satu kertas berwarna pink di sela-sela tugas meringkas kegiatan mereka.

"Ne, sunbaenim, ada apa?" Wonwoo ragu-ragu menghampiri Jisoo. Perasaannya tidak enak.

"Siapa yang membuat surat cinta dengan kertas berwarna pink? Aku suruh kau mengumpulkan tugas ringkasan, kenapa kau juga mengumpulkan surat cinta?" Jisoo berkata dengan nada yang sangaaaaat manis, saking manisnya Wonwoo sampai pusing, siapa pula yang mengirim surat cinta?

"Saya cari tahu siapa sunbaenim." Wonwoo mengambil surat itu dari tangan Jisoo dan seniornya itu memberikannya lalu menyuruhnya kembali duduk.

"Dengar semuanya! Seperti yang aku katakan, aku hanya membantu Mingyu menjadi pendamping kelompok kalian. Besok kalian akan kembali pada Mingyu. Besok kalian sekolah dengan membawa sapu, ember, dan juga sarung tangan karet. Kita akan bersih-bersih halaman sekolah. Mengerti semuanya?" Jisoo memberi pengumuman terakhirnya pada kelompok ini. Mau tidak mau besok Mingyu harus menjalani tugasnya.

"Mengertiiiiii!" Sahut seluruh siswa baru di kelompok tersebut.

"Ah, untuk Lee Seokmin! Datang ke ruang kedisiplinan! Aku akan memberikanmu ciuman! Setelah aku laporan pada Seungcheol bahwa kau mengirimkan surat cinta padaku!" Jisoo yang sudah ada di samping Seokmin menatapnya lalu mengedipkan matanya nakal. Seokmin langsung kejang-kejang, eh tidak sampai, hanya berbunga-bunga. Demi apa dia akan dicium Jisoo Sunbaenim tapi dengan ancaman pukulan telak dari pacar Jisoo setelah ia mengirimkan surat cinta berwarna pink itu? Oh, rupanya Seokmin tidak peduli bahwa sunbaenim cantik ini sudah ada yang punya dan dia adalah pacar ketiga dari sang ketua OSIS.

"Jeon Wonwoo, bawa tugas dan ramyun yang kalian bawa ini ke ruang kedisiplinan. Ruang OSIS sudah penuh jadi barang-barang ini taruh saja di sana." Nah kan, Jisoo menyuruh Wonwoo menemui Mingyu lagi. Wonwoo sudah lemas hari ini. Sejak kemarin ia menemui Mingyu 3 kali sehari. Sudah seperti minum obat saja.

.

.

.

Tok.. tok.. tok..

Wonwoo mengetuk pintu ruang kedisiplinan. Tak ada sahutan dari dalam sana, jadi Wonwoo membuka pintunya. Gelap. Itulah yang dilihat Wonwoo sekarang. Gorden ruangan itu tertutup rapat dan lampu juga dimatikan. Wonwoo dengan segala keterbatasan penglihatannya karena mengidap minus itu membenarkan kacamata bulatnya mencari-cari saklar di tembok dekat pintu masuk.

Tak!

Wonwoo menemukannya. Lampu ruangan itu menyala terang benderang. Wonwoo segera mengangkat barang bawaannya yang berupa kantong plastik besar berisikan ramyun, karena tugas mereka hari ini membawa 2 pak ramyun. Sedangkan tugas ringkasannya diapitnya di ketiak kanannya sedari tadi. Wonwoo menaruh ramyun itu di tempat yang sudah ada barang-barang bawaan siswa lainnya sejak kemarin. Kemudian ia hendak menaruh tugasnya di meja Mingyu. Hanya ada satu meja di sini, dan itu meja kekuasaan Mingyu. Wonwoo mendesah lega Mingyu tidak ada saat ini, sejak kemarin saja dia hanya mengambil absensi kemudian menyerahkannya lagi pada Mingyu tanpa bicara. Kaki Wonwoo melangkah menjauh dari meja Mingyu kemudian tersandung sesuatu.

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!

Wonwoo berteriak heboh, ia melihat ke bawah ternyata ada sepasang lengan yang menjuntai di bawah meja. Sampai-sampai pengurus OSIS datang ke ruang kedisiplinan. Asal tahu saja ruangan itu konon ada penghuninya namun Mingyu tidak percaya dan menggunakan ruang itu untuk ruang kedisiplinan dan menolak ruangan kedisiplinan sebelumnya yang terletak di sebelah perpustakaan.

"YA! ADA APA?" Choi Seungcheol dan pengurus OSIS lain yaitu Soonyoung, Junhui, Jeonghan, Doyoon, Jisoo dan Jihoon masuk ke ruangan itu dengan panik. Jisoo bahkan membawa Salib besar yang tadinya tergantung di tembok ruang OSIS dan alkitab. Sedangkan Wonwoo sudah gemetaran tidak berani beranjak dari sana. Jari telunjuk kanannya menunjuk ke kakinya. Seungcheol dan yang lainnya melihat ke arah yang ditunjuk Wonwoo.

"Cheol-ah, lihat ke sana!" Jeonghan, sang wakil ketua OSIS sekaligus pacar kedua Seungcheol itu mendorongnya ke arah Wonwoo.

"Yah! Soonyoung-ah, kemari!" Seungcheol memanggil Soonyoung, anggota OSIS yang bermata sipit dan berpipi bulat menyerupai hamster yang memukul kepala Wonwoo saat sedang merenung di taman di hari pertama.

Keduanya menarik tangan yang menjuntai itu dan menemukan Mingyu yang lelap tertidur atau malah pingsan di bawah meja. Sedangkan Wonwoo sudah diamankan oleh Junhui. Syukur itu Jun, anak dari Heechul, jadi Wonwoo tidak risih dipeluk erat lalu digendong ke ruang kesehatan. Hmmm… Modus Jun.

"Mingyu-ya! Kim Mingyu! Apa kau mati?" Seungcheol mencoba menepuk-nepuk pipi Mingyu namun remaja dengan tinggi kelewat batas itu tidak terbangun. Sedangkan Jisoo sudah beberapa kali berkata "Amen" dengan beberapa doa dari ayat-ayat alkitab yang dibawanya, mungkin Jisoo menanti mukjizat Tuhan agar Mingyu bisa bangun.

"Minggir kalian semua! Jeonghan-ah, periksa apa ada obat-obatan atau tali, atau hal lainnya yang mencurigakan di sekitar sini!" Perintah Doyoon, pacar pertama dari Seungcheol sekaligus ketua Tim Palang Merah Remaja di Pledis SHS. Wajar jika jiwa penyelamatnya keluar di saat seperti ini.

Sementara Doyoon memeriksa tekanan darah, denyut jantung, denyut nadi, nafas dan lain sebagainya dari seorang Kim Mingyu, Seungcheol dan Jeonghan panik mencari sesuatu yang mencurigakan seperti obat penenang, obat bius, tali, pisau dan yang lainnya. Sementara Jihoon, satu-satunya pengurus OSIS yang sering salah disangka siswa baru karena tubuhnya yang menyerupai bocah Junior High School itu hanya memutar-mutar gitar yang dari tadi dibawanya, memikirkan kapan waktu yang tepat menyadarkan Mingyu dengan cara memukulkan gitar itu ke kepala Mingyu. Kasihan gitarnya rusak? Tenang, ayahnya adalah pengusaha pabrik gitar, ada ratusan gitar di rumahnya, tinggal ambil saja.

"Doyoon-ah, tidak ada obat-obatan atau hal lain yang mencurigakan. Bagaimana Mingyu bisa seperti ini?" Jeonghan mulai menangis, seumur hidupnya dia diperlakukan seperti putri raja di rumahnya walau dia ini laki-laki, dan tidak pernah melihat hal-hal semacam percobaan bunuh diri.

"Mingyu hanya tidur. Semuanya normal, sepertinya dia tidak tidur beberapa hari. Saking lelapnya dia jadi seperti orang pingsan. Hanya tekanan darahnya yang rendah." Doyoon membereskan peralatan P3Knya, lalu menendang kaki Mingyu karena kesal telah dibuat panik.

"Ya Tuhan, apapun itu kesalahan Mingyu, maafkanlah, bukakanlah matanya jika ia belum akan kau ajak pergi ke surgaMu. Sadarkanlah Mingyu kami ya Tuhan. Amen." Jisoo memanjatkan doanya yang terakhir, kemudian melirik Seungcheol dan Soonyoung, memberi kode untuk memindahkan Mingyu ke ruang UKS.

.

.

.

Sementara itu di ruang UKS…

"Sssst, sudah menangisnya, cupcupcup, aku di sini Wonu sayang, kalau kau menangis aku bilang apa pada eomma. Sudah ya sudah. Sayaaaang~" Jun masih memeluk Wonwoo yang masih terisak dan mengelus kepalanya. Sesekali pemuda keturunan Cina-Korea itu mengecup puncak kepala Wonwoo, mencuri kesempatan menghirup wangi apel dari rambut lembut milik Wonwoo. Dan sepertinya Wonwoo tidak sadar kalau dia sedang digrepe-grepe oleh Junhui, kakak angkatnya yang playboy tingkat kecamatan ini. Junhui itu tukang modus, dia sadar dirinya tampan, makanya dia sering memanfaatkan keadaan pada gadis-gadis ataupun uke di sekolahnya.

"Hiks, Jun-ah, aku tidak melakukan apa-apa pada hiks Mingyu. Aku bertemu dia sudah seperti itu. Aku tidak membunuhnya. Huweeeeeeee~~" Tangis Wonwoo pecah lagi. Wonwoo takut, dia takut jika nanti dia akan dituduh macam-macam oleh seisi sekolah kalau ada apa-apa terhadap Mingyu.

"Ssssttt…. Aku di sini, aku percaya padamu. Kau tidak pernah menangis selama ini, tapi hari ini melihatmu hari ini begini rasanya ada yang aneh." Jun melepas pelukannya, berganti menangkup kedua pipi Wonwoo lalu menghapus air mata adik angkatnya itu dengan kedua ibu jarinya.

"Hiks, aku juga tidak tahu kenapa aku menangis. Hiks… Jun-ah, eommoni pasti marah padaku. Hiks… Aku.. A-aku takut…" Wonwoo memeluk lagi Jun yang ada dihadapannya sampai suara Jihoon terdengar di depan pintu ruang UKS.

"Yah, Wen Junhui! Lepas pelukanmu bantu Soonyoung dan Seungcheol mengangkat bayi raksasa itu!" Jihoon masuk ke UKS, menyibakkan tirai yang menutup ranjang kosong di samping ranjang yang ditempati Wonwoo. Jun langsung melompat membantu mengangkat kaki panjang Mingyu lalu membaringkannya di ranjang pasien.

.

.

.

"Jisoo sunbaenim! Jisoo sunbaenim! Aku dataaaang!" sementara itu Lee Seokmin, pemuda dengan senyum lebar bak cengiran kuda dan otaknya agak bergeser itu sedang celingukan di ruang kedisiplinan yang kosong. Anak ini menagih janji ciuman yang dijanjikan Jisoo rupanya. Seokmin oh Seokmin, Jisoo saja lupa dengan janji itu. Selamat menunggu!

.

.

.

"Jadi begitu ceritanya?" Seungcheol menginterogasi Wonwoo sebagai satu-satunya saksi mata dalam kejadian pingsannya Mingyu. Wonwoo sudah menceritakan kejadian sebenarnya, termasuk ia yang sudah tiga kali menemui Mingyu dalam keadaan baik-baik saja dari pagi hari karena Mingyu juga sempat memberi hukuman beberapa siswa baru di lapangan sekolah.

"I-iya sunbaenim. Begitu kejadiannya. Aku sungguh tidak melakukan apa-apa pada Mingyu Sunbaenim." Wonwoo menunduk, semua mata tertuju padanya. Semuanya juga mengangguk mengerti tentang keadaan Wonwoo dan menyuruhnya berhenti menangis.

"Cheol-ah, aku butuh bantuanmu!" Doyoon memanggil Seungcheol, dia sendiri sedang melepas kancing seragam sekolah Mingyu. Sepertinya Doyoon ingin memeriksa Mingyu lebih lanjut, mengingat sekarang sudah ada dokter UKS di sana. Dokter bermarga Park itu memeriksa Mingyu dengan seksama, memasang infus dan mengatakan Mingyu hanya kelelahan.

Wonwoo membantu merapikan pakaian Mingyu dan sepatunya, tiba-tiba ada lipatan kertas yang jatuh dari saku kemejanya. "Sunbaenim! Aku menemukan sesuatu!" teriaknya.

Jihoon membaca isi kertas itu lalu tertawa keras. Merasa ada yang aneh, Jun merebut kertas itu kemudian membacanya dilanjutkan dengan tertawa juga. Seungcheol dan ketiga pacarnya penasaran jadi mereka membacanya bersama, mereka juga tertawa. Sedangkan Soonyoung?

"Sayang, berhenti tertawa atau aku tusuk kau semalaman hari ini!" Soonyoung mengancam Jihoon yang langsung berhenti tertawa. Dia tidak mau ditusuk semalaman, itu sakit!

"Wonwoo-ya, dia menyukaimu!" Jun menepuk-nepuk bahu Wonwoo, sedangkan yang ditepuk hanya kaget. Wonwoo tahu Mingyu menyukainya, tapi apa hubungannya dengan pingsannya Mingyu?

"Ini, bacalah. Tetaplah di sini sampai Mingyu sadar, kami akan ke ruang OSIS untuk rapat kegiatan bakti sosial. Pengurus lain menunggu." Seungcheol menyerahkan kertas itu pada Wonwoo yang langsung diambilnya.

"Cheol-ah, aku bolos rapat! Aku ada janji dengan siswa baru di ruang kedisiplinan! Aku harus menghukumnya karena dia nakal!" Jisoo yang rupanya mengingat janjinya bersama Seokmin merengek manja dan berkedip genit pada Seungcheol. Mau tak mau sang ketua OSIS itu mengijinkan pacar ketiganya itu pergi. Jisoo jarang minta sesuatu padanya, jadi Seungcheol akan mengabulkan apapun yang dimintanya. Seungcheol lemah pada kedipan mata pacar-pacarnya.

Sepeninggal senior-seniornya, Wonwoo membuka kertas di tangannya. Dia sangat penasaran isinya apa. Apakah Mingyu mengidap penyakit parah? Atau ini surat pengakuan cintanya yang waktu itu? Perlahan jari lentiknya membuka lipatan kertasnya. Dibacanya perlahan untaian kata yang ada di surat itu.

Jeon Wonwoo, cintaku… Karenamu aku tidak bisa tidur. Sejak pengakuan cintaku padamu, aku merasa seperti pengecut. Aku tidak bisa menatap wajahmu. Kau datang kemari, menghancurkan pertahananku, tapi aku hanya bisa bersikap dingin denganmu. Begitu pula denganmu. Kau menyerahkan tugas-tugasmu tanpa bicara denganku. Ini menyiksaku. Sungguh.

Jeon Wonwoo, sayangku… Aku sudah tiga hari tidak makan, memikirkan dirimu. Aku ingin makan yang manis, sepertinya bibirmu cocok untuk jadi makananku. Eeiii, aku bicara melantur, kau saja tidak menjawab pernyataan cintaku. Hahahaha… Mungkin iya, hubungan kita akan selalu jadi sebatas guru privat dan murid, sunbae dan hoobae. Kalau bisa aku ingin kita jadi suami-istri, biar lebih enak. Hahahaha… Bicara apa lagi aku ini!

Jeon Wonwoo, separuh jiwaku, entah berapa kali aku memukul meja dan menampar diriku sendiri hari ini. Entah kenapa, kau jadi tambah manis dengan seragam sekolah. Kelak, kita lulus dari sekolah ini, aku dan dirimu kuliah, kemudian bekerja, aku akan melamarmu. Melamarmu jadi pendamping hidupku. Selamanya bersamaku. Menghabiskan sisa usiaku bersamamu. Menua bersama. Berdua. Dengan atau tanpa keturunan. Karena aku tahu resiko menikahi laki-laki. Tidak apa-apa, adikku Minseo bisa melahirkan keturunan, bisa kita adopsi saja. Atau kau mau mengadopsi dari panti asuhan? Kita bisa merawatnya bersama. Berbagi cinta kita berdua padanya. Membesarkannya menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara Korea kita yang tercinta ini.

Wonwoo sayang, aku lelah… Aku rasanya ingin tidur… Jika aku tidak bangun, aku harap kau menemukan kertas ini dan membacanya…

Dari aku yang mencintaimu sejak hari pertamaku di tempat les… Kim Mingyu…

Wonwoo melipat kertas itu lagi. Ini surat cinta. Pantas saja senior-seniornya itu tertawa. Ini kali kedua Wonwoo dipermalukan oleh selembar surat pengakuan dari Mingyu. Jika tidak ada Dokter Park, ingin rasanya Wonwoo menendang Mingyu hingga terjatuh dari ranjang. Sia-sia ia menangis di pelukan Jun hari ini.

.

.

.

TBC

Haaaaiiiii~~ Hollaaaa~~ Ketemu lagi dengan Ahjumma ini… Ini udah agak panjang ya, semoga kalian suka. Terima kasih untuk semua review kalian. Yang favoritin dan follow cerita ini juga. Aku baca semua review kalian buat jadi semangatku ngelanjutin ini. Hehehe… Sampai jumpa lagi chapter depan.. ^^