2.1

Lelaki manis bermata rubah masih terdiam didalam kamarnya, dia hanya menghembuskan nafas dan menatap langit-langit kamar. Situasi yang baru saja terjadi itu membuat dadanya terasa meledak, sakit, tetapi membuatnya merasa senang, rasanya dia bahkan tidak memahami hal tersebut. Namun, dia tau, kalau hal yang baru saja terjadi karena Mingyu, yang melakukannya karena menyayangi dirinya, ya, seperti itulah yang dikatakan oleh Mingyu.

Memejamkan mata dengan pelan, dan membayangkan kembali yang terjadi. Sungguh, lelaki bernama panjang Jeon Wonwoo tersebut sangat dibuat pusing karena kejadian yang menimpanya sekitar 2 jam yang lalu sebelum dia bisa berbaring tidak tenang dikasurnya. Saat mengingat kembali dia merasa aneh, pipinya bahkan seperti panas, dan bernafas aja seperti tertahan.

Suara ketukan pintu terdengar, dan Wonwoo dengan otomatis melihat kearah pintunya.

"Siapa..?" tanya Wonwoo lembut dan cukup keras.

"Ini eomma, sayang.." eomma Wonwoo, Kim Jaejoong yang menjawabnya, dan tentu saja Wonwoo kaget, akhirnya setelah seminggu, orang tuanya pulang juga.

"Sebentar eomma, aku ingin mencuci mukaku sebentar…" jawab Wonwoo, pria manis itu merasa pipinya sangat panas tanpa dia pahami alasannya, karena itu dia bergegas ke kamar mandi di dalam ruang tidur miliknya dan mencuci mukanya agar lebih segar. Setelah merasa segar, Wonwoo membuka pintu kamarnya, dan Jaejoong sudah berdiri dengan senyuman yang mengembang di wajahnya, dia sama sekali tidak menepis rasa rindunya pada Wonwoo, terutama Wonwoo adalah anak kecil manis yang sangat kuat dimatanya.

Setelah menatap Wonwoo cukup lama, Jaejoong menghampiri Wonwoo dan memeluk tubuh kecil Wonwoo dengan cukup erat. Dia sangat merindukan anaknya, namun saat Jaejoong sedang melepaskan rindunya, Jaejoong merasa tubuh Wonwoo yang suhunya cukup hangat.

"Apa kamu main keluar Wonwoo-ya?" tanya Jaejoong sembari memegang kening Wonwoo kecil, dan Wonwoo hanya bisa menundukan kepalanya, dia takut di marahi oleh eomma nya, dia tau tubuhnya lemah dan tidak bisa sembarangan bermain. Hanya saja, sekali ini saja, Wonwoo ingin melakukannya dengan Mingyu. Kemudian Wonwoo mengangguk kecil dan mengigit bibirnya.

"Eomma sudah bilang bukan nak? Kamu tidak bisa bermain terlalu banyak diluar, dan lihat sekarang, tubuhmu jadi hangat begini.." Jaejoong menggendong tubuh Wonwoo, dan membaringkan Wonwoo keatas kasur King size miliknya, menyelimuti tubuh Wonwoo dan bergegas menuju dapur untuk mengambil kompres untuk Wonwoo. Jaejoong duduk disamping Wonwoo yang terlihat pucat, sungguh, dada Jaejoong terasa sesak saat melihat anaknya sendiri sakit seperti ini.

"Eomma sudah berhenti bekerja, sekarang eomma akan menjagamu dan kakakmu dirumah, jadi kalian tidak hanya berdua lagi dirumah, jangan begini lagi nak, mengerti?" Wonwoo mngangguk pelan, Jaejoong meletakkan alat kompres diatas kening hangat Wonwoo, mengambil obat dan minuman diatas meja, lalu membuat Wonwoo duduk agar bisa meminumnya. Jaejoong bukannya jahat pada anaknya, hanya saja, dia sangat khawatir tentang kesehatan Wonwoo yang tidak bisa diprediksi.

Flashback

Saat itu matahari sedang sangat terik karena berada tepat diatas kepala, Wonwoo dan Seulgi pergi bermain keluar rumah, mereka pergi ketaman, karena merasa bosan, dan tentu saja karena ajakan anak-anak yang ada di daerah rumahnya. Wonwoo kecil tentu saja bahagia karena bisa bermain dengan teman-temannya bersama hyungnya.

"Wonwoo-ya, aku sedang membuat pasir berbentuk es yang sering kita makan!" teriak Seulgi dengan senyuman yang merekah, tentu saja Wonwoo kecil tidak mau kalah, dia juga membangun istana pasir es yang besar untuk mengalahkan hyungnya. Teman-teman hyungnya belum hadir disana, sehingga Wonwoo dan Seulgi hanya bermain berdua bersama.

"Hei kalian sedang apa?" seorang pria kecil yang dikenal bernama woozy datang dan menghampiri Wonwoo dan Seulgi yang sedang asik bermain ditaman.

"Kami sedang membuat istana es dengan pasir!" jawab Seulgi yang masih juga mengeruk pasir di dekatnya untuk membuat hal itu, tentu saja Wonwoo hanya membalas dengan anggukan.

"Aku membawa bola untuk kita mainkan, ayo kita main! Tapi tunggu Soonyoung datang dulu ya, tidak seru kalau Cuma kita bertiga yang main" ajak Seunghoon pada Wonwoo dan Seulgi, kedua anak kembar itu hanya mengangguk dan Seunghoon yang melihat keseruan mereka berdua akhirnya juga ikut membantu membuat pasir.

"Heiii~~ aku datang!" teriak Soonyoung sembari berlari mengelilingi mereka dengan antusias.

"Akhirnya kau datang juga! Baiklah ayo kita main!" mereka berempat bermain bola dengan seru, Wonwoo menjadi penyerang, dan berlari dengan cepat, sementara Seulgi menjadi kiper yang menjaga gawang yang dibuat mereka dengan menggunakan sepatu mereka, Seulgi terus berteriak dan memberikan Wonwoo semangat untuk memasukkan gol pada tim lawan yang merupakan Soonyoung dan Seunghoon, namun tiba-tiba saja Wonwoo terjatuh dan memegang dadanya, seperti orang kesakitan, tentu saja Seulgi dan 2 anak lainnya panik melihat hal tersebut. Seulgi langsung berlari dan mendekati Wonwoo.

"Wonwoo-ya!" Seulgi melihat Wonwoo yang sudah berkeringat dingin pada kening dan meremas dadanya dengan erat, Seulgi langsung merangkul Wonwoo dan temannya juga ikut membantu Wonwoo dengan sisi yang satunya, Wonwoo tampak sangat pucat, bersyukur ada eomma mereka dirumah, karena eommanya sedang libur kerja saat itu, Jaejoong yang melihat kedua anaknya yang datang dengan di iringi temannya begit, tentu saja sangat kaget.

"Apa yang terjadi nak!" tanya Jaejoong kaget, dan langsung menggendong Wonwoo kecil, melihat Wonwoo yang terlihat kesulitan bernafas, Seulgi dan temannya hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan keadaan Wonwoo. Jaejoong langsung bergegas menuju kotak obat, namun sama sekali tidak ada obat sesak nafas disana, akhirnya Jaejoong berlari menuju klinik terdekat dan mendapatkan obat yang disebut dengan inhaler untuk membantu Wonwoo bernafas, Wonwoo sudah lebih baik, namun tidak menghentikan sesak nafas Wonwoo, akhirnya Jaejoong memilih untuk kembali kerumah dan pergi kerumah sakit untuk mengetahui apa yang terjadi pada anaknya.

Sementara kembarannya Wonwoo hanya bisa duduk dirumah, Seulgi meminta temannya untuk pulang dan berterimakasih sudah membantunya, dia hanya anak berumur 5 tahun yang tidak tau apa-apa untuk membantu saudaranya, dan hanya bisa berdoa dengan tangisannya yang tidak berhenti. Bagaimanapun, Seulgi adalah kembaran Wonwoo, melihat kembarannya sakit, tentu saja dia juga merasakan hal yang sama. Seulgi melihat eommanya menggendong Wonwoo yang tampak tidak membuka matanya, dan Jaejoong mengambil kunci mobilnya untuk membawa anaknya kerumah sakit, dan Seulgi hanya menunduk dan semakin sedih melihat Wonwoo.

Flashbackend

"Tidurlah Wonwoo, kamu harus istirahat, dan besok jangan bermain dulu.., eomma akan menelfon gurumu, untuk mengatakan kamu sakit dan tidak sekolah dulu" Wonwoo hanya mengangguk dan berbaring, memejamkan matanya, Jaejoong kemudian mencium kening anaknya, dan mematikan lampu kamar, keluar dengan hati-hati. Sementara Wonwoo membuka kembali matanya, Wonwoo tampak sedih, dia merasa sangat lemah, padahal hanya ke taman sebentar, dan air matapun jatuh tanpa dia sadari.

Pagi kini sudah menyambut, dan Wonwoo masih berbaring dengan lemah dikasurnya, demamnya belum juga turun, dan Wonwoo jadi malas untuk bangun. Syukurnya, eomma Wonwoo sudah berada dirumah dan tidak bekerja lagi, Wonwoo kira, eomma dan appa nya pulang, nyatanya hanya eomma nya saja yang berada dirumah, sang appa masih di luar negri dalam rangka kerja sama. Terdengar suara pintu terbuka, dan tentu saja Wonwoo langsung melihat siapa orang tersebut yang tidak lain adalah kembarannya sendiri.

"Wonwoo-ya, gwenchana?" tanya Seulgi dengan wajah khawatirnya, Seulgi naik keatas kasur dan memegang kening, ya, mungkin Seulgi paham karena terkadang jika eomma nya tidak ada, dia yang mengecek suhu tubuh Wonwoo.

"Aku masih demam hyung?" tanya Wonwoo pada hyung nya, dan Wonwoo melihat Seulgi mengerutkan keningnya, tanda belum yakin dan masih menempelkan punggung tangannya pada kening Wonwoo.

"Sepertinya masih, istirahat ya, jangan main lagi, nanti aku yang akan mengatakan pada Mingyu, kalau kamu sakit Wonwoo-ya" Seulgi merapatkan selimut yang ada pada tubuh Wonwoo, dan turun dari kasurnya, serta melambaikan tangannya.

Sangat menyedihkan, bahkan dia baru saja bermain dengan Mingyu, dan sekarang dia harus menerima larangan keras untuk keluar dari eomma nya. Wonwoo hanya bisa menghela nafasnya dan merasa kesal dengan tubuhnya yang lemah.

Dengan langkah kecilnya, Seulgi menghampiri Mingyu yang sudah siap menunggu didepan rumahnya untuk berangkat bersama. Mingyu tersenyum dan seperti mencari-cari sosok lain yang memang seharusnya juga bersama Seulgi.

"Mingyu-ya, Wonwoo, dia sedang tidak enak badan, jadi kita hanya berangkat berdua saja" jawab Seulgi, memenuhi pertanyaan besar Mingyu yang mencari keberdaan Wonwoo.

"Wonwoo hyung sakit? Tapi kemarin dia masih sehat saat jalan sama Mingyu, kenapa Wonwoo hyung jadi sakit begitu.." Mingyu heran, pasalnya saat bersama Mingyu semalam, Wonwoo masih sangat segar bugar, Mingyu kemudian menepuk keningnya, Mingyu baru menyadari jika dia sudah mengajak Wonwoo ketaman, dan Wonwoo sendiri mengatakan kalau Wonwoo tidak boleh lama-lama berada ditaman, terutama jika cuacanya kurang baik.

'Tidak mungkin kan kalau Wonwoo hyung sakit karena aku menempel bibir agar hyung tidak nangis?' Mingyu bergumam dalam hati, dan tidak sadar jika ada Seulgi yang terus diam dan memerhatikan Mingyu yang tampak gelisah sendiri.

"Kau kenapa Mingyu-ya?" tanya Seulgi heran, mereka berdua berjalan, namun Seulgi tidak paham, kenapa Mingyu seperti bicara sendiri tapi mulutnya sama sekali tidak mengeluarkan suara.

"A-ah, haha, maaf hyung, aku hanya sedang berpikir sendiri saja.." jawab Mingyu diselingi dengan senyuman kecil yang canggung, dan mereka melanjutkan perjalanan hingga kesekolah dengan suasana yang tidak berubah.

Anggap saja Mingyu sangat egois, tapi hari itu dia sangat ingin cepat pulang dan segera menjenguk Wonwoo hyung nya, dan melihat keadaan Wonwoo hari itu. Maklumi saja, Wonwoo dan Mingyu tidak punya ponsel, entah bagaimana kedua orang tua Wonwoo dan Mingyu sama-sama punya pendirian yang sama masalah ponsel, mereka masih kecil, karena itu tidak diberikan ponsel pintar sama sekali, takut prestasinya merosot.

Sesuai yang ditunggu oleh Mingyu, akhirnya bell sekolah berbunyi, dan Mingyu langsung bergegas menenteng tasnya, setelah memberikan hormat pada guru, dan berlari keluar dari Sekolahannya menuju kea rah rumahnya, tentu saja dia bukan mau pulang, tapi mau berbelok kerumah Wonwoo.

Sesampainya dirumah Wonwoo, Mingyu langsung memencet bell, dan tidak seperti biasanya yang menyambut Mingyu adalah Jaejoong, eomma dari Wonwoo, Jaejoong tidak mengenal Mingyu, namun tetap dia buka, karena Jaejoong hafal seragam yang dipakai oleh Mingyu sama seperti seragam anaknya. Jaejoong tersenyum dan melihat Mingyu yang terengah dipenuhi keringat seperti habis berlari.

"Ada apa nak? Apa mencari seseorang?" tanya Jaejoong dengan lembut. Mingyu mendongak pada Jaejoong yang tepat didepan pintu, lalu mengambil nafas banyak.

"Aku mau bertemu Wonwoo hyung, ahjumma, aku teman sekolah, sekaligus tetangga baru, rumahku disebelah sana" Mingyu dengan polos menunjuk kearah rumahnya dan kembali menatap Jaejoong.

"Apa aku bisa menjenguk Wonwoo hyung, aku tidak membawa apa-apa, tapi apa boleh ahjumma?" Jaejoong tertawa pelan.

"Tentu saja boleh, Wonwoo baru saja bangun, tadi dia tidur karena obat, dan sekarang ada dikasurnya sedang membaca buku, ayo masuk, ah namamu siapa nak?" Mingyu tersenyum.

"Namaku Mingyu, Kim Mingyu.., ahjumma.." jawab Mingyu, lalu Jaejoong membiarkan Mingyu masuk karena ia mengatakan kalau dirinya tau kamar Wonwoo, dan sudah pernah main ke rumahnya, Mingyu berjalan ke lantai dua, ruang tidur Wonwoo, tentu saja Jaejoong tidak lupa menyiapkan makan untuk anak kecil yang merupakan tamu untuknya dan Wonwoo.

Membuka pintu kamar Wonwoo pelan, Mingyu melihat dan mengintip apa yang sedang Wonwoo lakukan, dan benar kata eomma nya Wonwoo, dia memang sedang membaca buku. Mingyu langsung masuk dan menutup pintunya, lalu berdiri disamping kasur Wonwoo yang cukup tinggi.

"Hyung~" panggil Mingyu pada Wonwoo, dan yang dipanggil tidak bergeming, menatap buku dengan serius. Mingyu memanyunkan bibirnya kesal.

"Hyung~ Wonwoo hyung~" panggil Mingyu lagi, dan kali ini Wonwoo melihat ke arah Mingyu, dan Wonwoo tampak kaget dengan kedatangan Mingyu.

"Kenapa kamu bisa disini Mingyu?" tanya Wonwoo langsung to the point.

"Memangnya Mingyu tidak boleh menjenguk hyung?" Mingyu menunduk sedih, dan Wonwoo tersenyum.

"Tentu saja boleh.." Wonwoo meletakkan bukunya di sebelah kanannya, dan melihat kearah Mingyu.

"Jangan menunduk sedih begitu Mingyu-ya, hyung tidak apa kok, karena sudah istirahat" Mingyu melihat kearah Wonwoo.

"Hyung, aku boleh naik keatas kasur kan?" Wonwoo mengangguk, dan Mingyu langsung naik begitu saja ke atas kasur.

"Mingyu-ya, kamu baru pulang sekolah, harusnya ganti baju dulu, bau tau!" pria manis itu menutup hidungnya, dan yang di katai bau malah hanya bisa manyun.

"Aku sudah tidak sabar mau menjenguk hyung, makanya aku sehabis pulang segera kesini" Wonwoo bersandar pada kepala kasur miliknya, dan Mingyu juga mengikutinya disisi kiri. Mingyu baru menyadari, wajah Wonwoo sangat pucat, dan tubuhnya tampak terengah.

"Apa sangat sakit hyung?" Mingyu menatap wajah Wonwoo yang tidak menatapnya, namun karena Wonwoo merasa Mingyu melihat kearahnya, akhirnya Wonwoo mengalah dan melihat kearah Mingyu.

"Tentu saja aku sudah tidak merasa sakit, lihat saja.." Wonwoo menggerakkan tubuhnya, seolah dia sehat, dan tidak lama, Wonwoo langsung memegang dadanya.

"H-hyung, isshh, kalau sakit tidak usah bilang sehat!" memegang bahu Wonwoo, dan Wonwoo hanya diam, dia tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya dari Mingyu.

"Maaf gyu.." Wonwoo menunduk, dia menyesal.

"Hyung, appa ku adalah seorang dokter, dan aku sering melihatnya memeriksa pasien di Rumah sakit, mau aku periksa, seperti yang appa lakukan tidak?" Mingyu tersenyum lebar, dan Wonwoo melihat kearah Mingyu.

"Benarkah? Memangnya bagaimana?" Mingyu mendekat, dan memegang baju Wonwoo.

"Hei! Yak! Kau mau apa!" Wonwoo menahan tangan Mingyu yang ingin membuka baju dan celananya.

"Sini hyung biar aku periksa, hyung~" Mingyu masih terus menarik baju dan celana Wonwoo, sampai mereka berdua tidak sadar jika badan mereka sudah saling bertindihan karena pemaksaan yang dilakukan oleh Mingyu.

"Hyung untuk tau keadaan pasien, appa memintanya untuk membuka baju..yaak hyung!" Wonwoo menggelengkan kepalanya, dia tidak mau Mingyu melihat badannya, dia malu, dan Mingyu yang seorang pemaksa tentu saja masih berusaha membuka baju Wonwoo. Suara Jaejoong mengintrupsi mereka berdua.

"Heii, nak, Mingyu.., Wonwoo.." tentu saja akhirnya, Mingyu berhenti melakukan pemaksaan pada Wonwoo, dan tersenyum canggung pada Jaejoong yang menghentikan niat Mingyu untuk mengecek keadaan hyung nya itu.

"Maaf ahjumma, aku hanya ingin membantu Wonwoo hyung, karena aku sering melihat appa memeriksa pasiennya, jadi aku mengikuti appa saat memeriksa pasiennya.. dan ingin membantu Wonwoo hyung" Mingyu menunduk dalam, Jaejoong tersenyum, dalam hatinya, dia kaget melihat anak usia 8 tahun seperti Mingyu sangat cerdas dan berhati mulia.

"Tidak apa, asal jangan di ulang lagi ya Mingyu-ya, karena Wonwoo butuh istirahat.." Jaejoong mengacak pelan rambut Mingyu, dan memberikan makanan yang sudah disiapkan olehnya untuk Mingyu, dan memegang bubur untuk di berikan untuk Wonwoo. Jaejoong duduk disamping kanan Wonwoo. Wonwoo merasa sangat bahagia, dia merasa seperti mimpi, eomma nya ada disampingnya dan yang lebih membahagiakannya, dia baru mendapatkan sahabat baru yang sangat menyenangkan, senyuman Wonwoo terus saja tidak berhenti saat melihat eomma nya dan Mingyu bercanda dengan lepas, Wonwoo juga tidak berhenti ikut tersenyum karena mereka.

-TBC-

Aku bakal bales review ya nanti dichapter selanjutnya

Maaf belum bisa balas disini, makasih banget yang udah dukung cerita ini

Fav, follow dan review

Aku tunggu ya~

Sampai jumpa dichapter depan~