Breath

Part 1

Hazel milikmu membuatku lupa bagaimana hari berjalan.

.

Surai brunete mu yang terhempas angin adalah hal terindah selain wajah bak bidadarimu yang tertimpa cahaya bulan.

.

Adakah yang tega menyakiti makhluk seindah dirimu?

.

Chanyeol tersenyum tatkala obsidiannya menangkap keberadaan Baekhyun, tepat saat ia tiba di kantin universitas.

Baekhyun tampak mengantri memesan makan siang bersama teman-temannya. Sepertinya jam kuliah pria mungil itu berhasil membuat perutnya kosong hingga meraung minta diisi.

Hingga tak berapa lama, pria mungil itu berjalan dengan nampan makan siang yang sudah berhasil ia dapatkan dan beralih duduk bersama teman-temannya.

Chanyeol memilih tempat duduk dimana ia dapat memandangi Baekhyun tanpa harus membuat pria mungil itu terganggu.

Tak

Suara nampan yang beradu dengan meja kantin membuyarkan pandangannya sesaat.

Tanpa mengalihkan tatapannya Chanyeol sudah tau siapa yang melakukan itu.

"Tidak bisakah kau sedikit lebih manusiawi, Kai?" Chanyeol berujar dan sedikit melirik sahabat tan nya itu yang justru terkikik geli.

"Come on, man. Aku hanya meletakkan nampan ini dan kau sensitif sekali. Seperti perempuan pms saja hahaha." Kai menunjuk nampan yang berisi dua porsi kimbab, segelas ice americano juga coffe latte, lalu tertawa sangat puas mengenai lelucon tentang bagaimana sensitifnya sahabat bertelinga lebarnya itu.

"Ya, terserahmu lah. Omong-omong terimakasih sudah membelikan makan siang untukku." Chanyeol mengambil seporsi kimbab dan segelas americano dari nampan itu.

Selagi menyantap kimbab yang menjadi makan siangnya hari ini, matanya tak terlepas dari sosok mungil yang berada tak jauh darinya yang tampak sedang berbincang dan tertawa sesekali.

Kai yang sedikit bosan sebab sahabat bertelinga lebarnya itu tak berkata sepatah kata pun, akhirnya ia pun memperhatikan kemana arah pandang sahabatnya itu.

Manik kelam milik Kai menangkap sosok yang sejak tadi menjadi objek pandang sahabatnya.

"Hey, bung. Kau masih mengikutinya?" Kai berucap dan berhasil mendapatkan fokus sahabatnya, Chanyeol.

"Jika yang kau maksud itu Baekhyun, maka ya jawabanku untuk pertanyaanmu itu." Chanyeol beralih memandang objek yang setahun ini menjadi favoritnya.

"Come on, man. Kau tampan, mapan, berkharisma, dekati saja si Byun itu. Aku yakin kau tidak akan ditolak. Kau ini, mengapa betah sekali menjadi seperti stalker selama ini."

"Aku tidak takut ia akan menolakku, aku hanya tidak ingin mengganggunya asal kau tau." Chanyeol memakan kimbabnya yang nyaris habis dengan mata yang masih terkunci pada Baekhyun.

"Apa perlu ku dekati si Byun itu, agar kau bertindak, huh?"

"Jangan bercanda, Kai. Berhentilah berujar omong kosong. Jangan ganggu Baekhyun." Chanyeol meletakkan sumpitnya dan beralih menegak ice americano-nya.

Hingga detik berikutnya ia menyadari, tumben sekali sahabatnya yang berkulit tan itu tak menanggapinya.

Ia pun menoleh dan hanya mendapati semangkuk kimbab yang sudah habis tanpa keberadaan orang yang menyantapnya, siapa lagi kalau bukan Kai.

Obsidian miliknya membulat sempurna tatkala mendapati Kai yang kini sudah duduk tepat disamping Baekhyun.

"Apa perlu ku dekati si Byun itu, agar kau bertindak, huh?"

Seperti kaset rusak, ucapan Kai beberapa menit lalu terputar di kepalanya. Sial, ia kecolongan.

Tungkai kakinya yang jenjang melangkah menuju sahabat tan nya berada. Sebenarnya ia yakin tak yakin akan melakukan ini-menghampiri kai yang tepat disamping Baekhyun. Tapi bayangan mengenai Kai yang membeberkan mengenai dirinya, membuatnya melangkah hingga akhirnya berada tepat disamping Kai.

"Kai, apa yang kau lakukan?" Chanyeol berbisik pada sahabatnya itu, tidak mempedulikan teman-teman Baekhyun yang menatapnya heran sejak tadi.

"Ah, kau disini rupanya." Kai berujar seraya menepuk lengan Chanyeol.

"Baekhyun, kenalkan ini temanku Park Chanyeol." Kai dengan santainya berujar seperti itu. Sementara Chanyeol, obsidian miliknya membulat sempurna tatkala Baekhyun beralih menatapnya.

"Halo, aku Baekhyun. Senang berkenalan denganmu." Baekhyun menjulurkan tangannya seperti hendak menjabat, disertai lengkungan indah yang sialnya berhasil mengacaukan kinerja jantung pria tinggi bertelinga lebar dihadapannya.

Chanyeol menatap pahatan Tuhan yang kini sedang tersenyum untuknya. Un-tuk-nya. Kinerja jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat berhasil membuat aliran darahnya mengalir tak kalah cepat pula.

Baekhyun hendak menarik tangannya sebab Chanyeol tak menyambut uluran tangan atau bahkan merespon perkataannya.Namun, tiba-tiba saja dinginnya kulit menyapa tangannya.

"Hey! Katakan sesuatu!" Kai yang tadi menarik tangan Chanyeol hingga kini berjabat dengan tangan Baekhyun yang terlihat lebih mungil mulai kesal.

"Ah, senang berkenalan denganmu juga hm Baekhyun-ssi."

Sungguh, Chanyeol tak pernah membayangkan ia akan berada sedekat ini dengan Baekhyun, orang yang selama ini diikutinya.

Biasanya ia berjarak beberapa meter dari pria mungil itu, memperhatikannya dari jarak pandang yang sekiranya tak mengganggu.

Tapi sekarang, bahkan ia merasakan bagaimana halus dan lembutnya tangan mungil itu.

"Tidak usah terlalu formal, Kai bilang kita seumuran, cukup panggil aku Baekhyun saja." Baekhyun melepaskan jabatan tangan itu sebab ia juga sebenarnya tak kaah gugup.

"Baiklah, kalau begitu Baekhyun-ah." Detak jantung miliknya semakin tak terkendali kala ia menyebut nama pria mungil dihadapannya yang lagi-lagi menampilkan senyumannya hingga deretan gigi putihmya yang rapi itu terlihat.

"Maaf, apa kau sedang sakit?" Chanyeol ingin merutuki dirinya. Sial, bisa-bisanya mulutnya berkata seperti itu.

"Maafkan aku jika lancang, hanya saja suhu badanmu sedikit tidak biasa." Chanyeol menambahkan perkataanya sebab Baekhyun menatapnya dan tak berujar sepatah katapun.

"Ah, aku tidak sakit atau memiliki riwayat penyakit apapun. Suhu badanku memang begini, sedikit lebih hangat beberapa derajat dari orang-orang pada umumnya, sebab itu aku selalu membawa ini kemanapun." Pria mungil dihadapannya itu menunjukkan benda yang selama ini terlihat terkalung di lehernya. Sebuah AC portable berwarna hitam dengan tali senada yang terlihat kontras dengan warna kulitnya.

"Yaaa mengapa aku diabaikan seperti ini." Kai membuat kedua insan itu tersadar dan mendapati teman-temannya yang menatapnya dengan senyuman geli.

"Nah, Baekhyun aku rasa aku dan si caplang ini masih memiliki kelas usai makan siang. Kalau begitu aku pergi dulu, terimakasih Baek." Kai dan Chanyeol pun melangkah pergi setelah berpamitan pada pria mungil itu juga teman-temannya.

"Bagaimana? Senang berkenalan secara resmi dengan orang yang selama ini kau ikuti?"

"Sialan kau! Ku bilang jangan ikut campur, apa-apaan tadi itu. Bagaimana nanti kalau aku tidak bisa mengikutinya lagi sebab ia menyadari serta mengenaliku." Ujar Chanyeol sedikit kesal.

"Harusnya kau bersyukur aku membantumu, siapa tau kau bisa lebih dekat dengannya." Kai menepuk pundak Chanyeol.

"Tidak, terimakasih. Aku akan tetap pada jalanku." Chanyeol meninggalkan Kai begitu saja.

"Dasar keras kepala, masih saja ia ingin menjadi seperti stalker." Kai menggeleng-gelengkan kepalanya selagi menatap punggung Chanyeol yang semakin menjauh, lalu ia melangkah menuju parkiran hendak pula. Sebenarnya mengenai kelas setelah istirahat itu, ia sedikit berbohong.

.

~Breath~

.

Pukul empat sore, Chanyeol sudah mendudukkan dirinya disalah satu kursi penonton di stadion mini kampusnya yang biasa dipakai anak-anak klub bola berlatih.

Ia duduk di kursi ketiga dari belakang dari total deretan kursi di depannya, ia rasa posisinya sekarang sudah bagus agar tak disadari keberadaannya untuk bisa melihat Baekhyun yang tergabung dalam klub bola kampusnya menjalani latihan sore itu.

Kaki mungilnya menggiring bola disertai helaian surai brunete nya yang menari-nari dihembus angin. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung menghiasi wajah angelicnya. Hingga tanpa ia sadari hari beranjak semakin malam dan latihan sore itu pun usai setelah hampir dua jam berlangsung.

.

~Breath~

.

Chanyeol kini sudah berada di dalam bus hijau yang seperti biasa akan membawanya pulang. Ia duduk dikursi paling belakang, tak ingin si mungil bersurai brunete yang berada satu bus dengannya menyadari keberadaannya.

Hingga tak berapa lama bus terhenti, dan Baekhyun turun laku melangkah menjauh untuk pulang ke rumahnya.

"Selamat beristirahat, Baekhyun-ah." Chanyeol bergumam setelah bus kembali melaju, hingga melewati Baekhyun yang berjalan disisi jalanan.

"Aku pulang." Kaki mungilnya melangkah memasuki pintu utama rumah minimalis yang menjadi tempat tinggalnya.

Seperti biasa, tidak ada sambutan hangat seperti bagaimana yang biasa ia lihat di drama-drama yang ditayangkan televisi. Dimana seorang ibu akan menghampiri dan menyambut anaknya yang baru saja tiba di rumah setelah melewati hari yang panjang.

Baekhyun tau, hal itu tampak mustahil baginya. Terlebih ketika ia melangkah menaiki tangga dan melihat ibu, ayah serta adik perempuannya sedang menyantap makan malam mereka tanpa menghiraukan keberadaan Baekhyun yang tadi berjalan melewati ketiganya.

Baekhyun baru saja selesai membersihkan dirinya dengan mandi beberapa menit lalu. Ia rebahkan tubuh mungilnya diatas ranjang yang sedari tadi seolah memintanya untuk segera berbaring disana.

Pikirannya melayang, membayangkan betapa beruntungnya menjadi adik perempuannya yang selalu mendapat kasih sayang dari orang disekitarnya. Tidak seperti dirinya, bahkan ibu dan ayah seperti menganggapnya tak ada.

Sudah pukul sepuluh malam, dua jam sudah berlalu sejak kepulangannya dari kampus. Sebenarnya ia ingin sekali memejamkan matanya dan tertidur lelap, tapi perutnya yang meraung minta diisi mau tak mau membuatnya melangkah keluar kamar untuk makan.

Rumahnya sudah tampak gelap, sepertinya ibu, ayah juga adiknya sudah terlelap sejak beberapa saat lalu.

Baekhyun duduk di meja makan, membuka tudung saji yang sialnya nampak kosong. Ia pun membuka kulkas dan lemari yang sialnya lagi sama. Ia juga tak mendapati makanan atau sebungkus ramen instan yang selalu ia nantikan namun tak pernah ada, sebab ibunya tak pernah membeli makanan instan seperti itu.

Jadi, ia melangkah kembali menuju kamarnya dan keluar dengan jaket tebal yang membungkus tubuh mungilnya. Kali ini ia tak membawa serta AC portable miliknya sebab ia rasa udara malam sudah cukup dingin.

Langkah kecilnya membawa ia ke salah satu minimarket diujung jalan. Ia bersyukur ada minimarket yang terletak tak jauh dari rumahnya. Tak apalah ia harus berjalan beberapa ratus meter, jika ia bisa mengisi perut kosongnya yang sudah meronta sejak tadi itu, sungguh bukan masalah besar baginya.

Satu cup ramen dengan asap mengepul kini sudah berada ditangannya, sama seperti malam-malam sebelumya dengan lahap ia menyantap ramen yang panas itu dan sesekali meniupnya agar tidak terlalu panas dan tidak membuat lidahnya sakit esok hari.

Setelah menghabiskan ramen instan itu dan meneguk habis sebotol air mineral, Baekhyun kembali ke rumah. Sesekali ia mengusap perut datarnya yang sedikit mengembung karena makan malam instannya itu.

"Maafkan aku Tuhan, lain kali aku akan memakan makanan yang lebih sehat." Baekhyun berucap setelah ia sampai di kamar dan membaringkan dirinya lalu beranjak memejamkan manik hazelnya.

.

.

Tebece

.

A/n: holaaa holaaa chapt 1 update, kemaren itu prolog ya gengs. So gimana dengan chap ini? Ku sebenernya kasian dibagian akhir, ga tega Baekhyun bernasib begitu. Stay strong baekhyuneee. Eak eak hahahaha. Sekali lagi, jangan lupa review ya teman-teman. Luv u!!

Big Love

Pizzahun