"Jongin-ah, jangan nakal ya? Eomma akan berkunjung sebulan sekali."

Itu adalah janji sang Eomma tiga, empat, uh mungkin lima tahun yang lalu? Entahlah, yang Jongin ingat hanyalah bualan orang tuanya yang berjanji akan berkunjung setelah membuang dirinya ke rumah Kakek dan Neneknya di Busan.

Setelah bertahun-tahun menunggu dengan sabar, akhirnya Jongin mulai menyerah untuk berharap, dan mulai melupakan janji palsu orang tuanya.

"Jonginie, jaga diri nde? Hyung pasti menelpon Jonginie setiap malam agar Jonginie tidak ketakutan."

Kalimat itu juga berusaha Jongin lupakan, kalimat Hyung yang hanya terpaut usia satu tahun darinya namun memiliki sejuta keuntungan dibanding dirinya.

Ah tidak, mungkin dia yang beruntung. Beruntung karena hidup bersama kakek dan nenek yang menyayanginya dan memberikan Apa yang tidak orang tuanya berikan.

"Jongin, bangun nak, nanti kamu telat sekolah." Seorang wanita dengan usia yang tak muda itu mengelus rambut Jongin pelan, berusaha membangunkan cucunya yang masih tertidur dengan nyenyak.

"Nek, Jongin gak mau masuk sekolah." Jongin kembali menutupi wajahnya dengan selimut tebal, udara dingin membuatnya malas untuk beraktifitas.

"Cucu nenek bukan pemalas, Jongin." Taeyon -Nenek Jongin- menaikkan nada bicaranya, bagaimanapun sekolah nomor satu, dan ia tidak bisa mentolerir jika cucunya itu ingin membolos.

"Nek, Jongin gak mau diejek lagi, gak mau denger kata-kata yang bikin Jongin makin benci sama mereka disana, Jongin gak mau nek." Jongin lempar selimut yang nutupi kepalanya. Dia tatap mata Neneknya tanpa takut kena marah.

Taeyeon balas natap mata indah itu, meskipun rasanya ada ribuan jarum waktu dia lihat mata Jongin yang penuh kesedihan, tapi ia tetap lihat mata itu makin dalam. Taeyon bukan gak tahu apa yang Jongin alami selama sekolah, tapi Jongin harus bisa lewati semua cobaan yang dia alami sendirian.

"Nenek tahu, tapi nenek yakin kamu lebih kuat dari mereka. Biarin merek mau bilang apa, yang penting kamu percaya kalo Eomma sama Appa kamu bakal jemput kamu kesini."

"Kapan nek? Jongin anak yang dibuang, itu bener. Kalau Eomma sama Appa gak buang Jongin, mereka gak akan lupa buat jenguk Jongin, mereka gak akan lupa buat ucapin selamat ulang tahun, dan mereka gak akan lupa buat ambil rapor setiap semester." Taeyon mendesah pelan, pembicaraan paling sensitif yang paling dia hindari harus diselesaikan secepatnya. Jongin gak boleh salah sangka, seenggaknya Jongin harus tetap punya pikiran positif.

"Jongin dengerin nenek, kakak kamu itu punya imun lemah, dia gampang sakit karena dulu Eomma kamu gak bisa kasih ASI ekslusif, mungkin Eomma kamu cuma takut kamu kekurangan kasih sayang karena mereka lebih fokus ke Taemin," ucap Taeyon yang malah membuat hati Jongin makin sakit. Jadi, maksudnya gara-gara Jongin hadir di perut Eommanya, kakaknya sakit?

"Nenek sama aja, Jongin pikir Nenek ngerti perasaan Jongin."

Jongin beranjak dari kasurnya, masuk ke kamar mandi dan gak perduli sama ucapan neneknya tadi. Apa Jongin gak boleh ngeluh sedikitpun? Neneknya tahu keadaan dia, tapi kenapa gak paham sama kemauan dia? Jongin cuma mau ketemu Eomma, Appa, sama Taemin Hyungnya. Udah, itu aja.

0o0o0o0o

0o0o0o0

0o0o0o

0o0o0

Jongin berjalan lurus tanpa mandang kanan kiri, kepalanya sedikit menunduk menolak tatapan jijik yang terarah ke dia. Seharusnya Jongin udah biasa sama keadaan ini, tapi nyatanya gak ada kata terbiasa buat Jongin. Bullying yang dia alami sejak sekolah dasar gak bisa buat Jongin merasa terbiasa.

Alasannya sepele, Jongin anak yang dibuang orang tuanya. Anak yang gak diinginkan keluarganya. Itu menurut mereka, orang-orang sok tahu yang gak punya hati. Anak-anak kecil yang seharusnya berteman harus berubah jadi tukang bully karena hasutan orang tua mereka yang gak mau anaknya berteman sama anak yang dibuang kaya Jongin.

Akhirnya, entah berapa lama Jongin sekolah dengan keadaan kaya gini. Entah kenapa juga selalu ada orang yang menyebarkan informasi kalau Jongin itu anak yang dibuang. Belum lagi setiap pembagian rapor yang selalu diambil neneknya, hal itu membuat semua orang semakin yakin kalau Jongin memang anak yang dibuang.

"Jongin-ssi, sebentar lagi pembagian rapor. Apa orang tua loe tahu? Loe selalu meraih peringkat pertama, tapi orang tua loe gak pernah datang. Jangan-jangan mereka gak perduli sama peringkat loe lagi." Salah satu siswa berpenampilan urakan itu menghadang Jongin, memaksa Jongin berhenti dan mendengar kalimat cemoohan yang menyakiti hatinya.

"Appa dan Eomma sibuk, mereka kerja dan cari uang. Yang penting ada nenek yang jaga Jongin."

"Sibuk? Sibuk ngurus anak emasnya kan, ngaku aja lah, loe bukan akan yang mereka mau. Mereka buang loe karena loe yang bikin kakak loe itu jadi penyakitan."

"Terus kenapa kalo aku anak yang dibuang? Masalah buat kalian semua? Semua gak ada urusannya sama kalian." Jongin berusaha nahan amarahnya, selama ini Jongin memang gak pernah dapat kekerasan fisik. Tapi ucapan lebih bisa menyakiti hati. Rasanya kenyataan yang udah Jongin usahakan lupa itu semakin nyata.

"Tentu itu jadi urusan kita, loe merusak citra sekolah. Juara umum tapi gak punya orang tua, itu memalukan."

"Terserah kalian mau bilang apa. Ya, aku anak yang dibuang, gak disayang, gak dianggap. Terus aku harus gimana, puas kalian?"

Jongin natap semua orang yang ada di sekelilingnya, berusaha terlihat kuat meskipun sebenarnya air mata udah di ujung. Sekeras apapun usaha Jongin buat mengabaikan semua omongan mereka, Jongin tetap gak bisa menyangkal kalau rasa sakit itu semakin menumpuk. Dia gak bisa nutup telinga gitu aja, apa yang mereka omongin sama kaya yang dia pikirkan.

0o0o0o0o0

0o0o0o0o

0o0o0o0

0o0o0o

"Taemin, kamu lagi sakit nak, keluar sayang." Yoona -Ibu Taemin- mengetuk pintu kamar anaknya khawatir, sudah hampir setengah hari anaknya mengurung diri di kamar.

"Eomma, aku gak akan keluar sampe Eomma mau jemput Jongin." Suara Taemin terdengar serak dari dalam kamarnya, kondisinya memang sedikit kurang baik saat ini. Flu dan batuk memang sangat mudah menyerang tubuhnya yang lemah imun.

"Tapi sayang, kondisi kamu gak bagus. Nanti kalau kamu udah mendingan kita jemput Jongin." Yoona kembali membujuk anak sulungnya dengan sabar sembari menunggu sang suami pulang.

CKLEK

Taemin membuka sedikit pintu kamar dan menatap ibunya sangsi, sudah ribuan kali ibu cantiknya itu berjanji, dan ribuan kali juga janji itu tak dipenuhi.

"Eomma janji? Kasian adek, dia pasti kangen. Taemin juga kangen Jongie, Eomma."

Yoona mengelus rambut Taemin sayang, dia senang kalau ternyata Taemin masih sayang sama adiknya meskipun terpisah lebih dari dua belas tahun. Ternyata jarak gak mengikis rasa sayang antar saudara. Atau justru mengikis rasa sayang orang tua pada anaknya.

0o0o0o0o0o

0o0o0o0o0

0o0o0o0o

0o0o0o0

"Nek, nenek bisa ambil rapor Jongin kan?" Jongin yang sudah siap dengan seragamnya bertanya penuh harap, kali ini gurunya menekankan seluruh murid untuk membawa serta orang tuanya dalam pengambilan rapor akhir semester.

"Nenek coba telepon Eomma kamu ya, kamu gak usah pikirin apapun," kata Taeyeon lembut.

"Nenek gak usah telepon mereka, percuma. Eomma sama Appa pasti lebih milih ambil rapor Taemin Hyung yang lebih bagus dari Jongin. Pasti gitu, gak usah ngarepin mereka."

"Kamu gak boleh gitu sayang-"

"Kenapa? Jongin bener, nek. Mereka gak inget sama Jongin, mereka cuma punya Taemin Hyung, Jongin bukan siapa-siapa mereka. Nenek gak usah ngehibur Jongin, gak mempan."

Jongin langsung pergi meninggalkan Taeyeon yang hanya bisa menatap nanar punggung Jongin yang semakin mengecil dan menghilang dari pandangannya. Ia tahu bagaimana Jongin kecil merindukan keluarganya, memandangi handphone setiap hari, bahkan menyebut nama mereka semua setiap malam. Ia tahu bagaimana Jongin melewati masa kecilnya yang jauh dari orang tua.

Sebesar apapun cinta yang Taeyeon dan suaminya berikan pada Jongin, tetap akan berbeda dengan apa yang Taemin dapatkan disana.

"Yoona-ya, datanglah sebelum terlambat, Jongin sudah berada pada batasnya."

TBC

cerita ini dipublikasikan juga di akun wattpad gomsewoo. gomsewoo is me:'