War and Peace by Leo Tolstoy and filmed by BBC One (for the BBC version). I don't take any material advantage by writing this story.

Based on the BBC version. I haven't read the book yet.


Andrei merasakan Natasha belum melepas kecupan di punggung tangannya. Ia ingin menariknya menjauh. Tangannya dipenuhi oleh luka-luka, noda darah yang sudah kering, dan debu yang menempel lekat karena keringat. Kecupan yang masih bertahan di sana menyiratkan bahwa gadis itu tak keberatan dengan semua itu.

Air mata yang sudah muncul sejak gadis itu memasuki kamar yang gelap dan pengap tersebut masih mengalir. Bibirnya masih berbisik, "Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf, aku tidak tahu apa yang aku pikirkan saat itu." Sementara Andrei masih mengatup bibirnya. Sakit yang menusuk seluruh tubuhnya pun membuat ia sulit bicara.

Andrei mencoba untuk membuat matanya tetap terbuka. Tak ada jaminan bahwa ia akan mampu membuka mata lagi setelah memejamkannya lama, apalagi dengan kondisi tubuh yang seperti ini. Berdiri saja tidak sanggup. Duduk adalah siksaan. Berbaring tak meringankan kesakitan. Untuk bernapas saja harus perlahan, agar otot perutnya tidak tertarik dan menyebatkan nyeri yang harus dipikul lagi.

Gadis yang tengah menangisi penyesalannya inilah latar belakang dari lukanya. Marya benar, seharusnya ia tidak pergi ke medan perang dengan kepahitan yang menyelubungi. Akibatnya, seruan sekutunya untuk menunduk ketika ada granat yang dilempar tentara perancis pun diabaikan. Yang ia lakukan justru berdiri tegak, menatap asap yang keluar dari granat, mendengar desisan peringatannya, dan menunggunya sampai meledak.

Ia kehilangan keinginan untuk melanjutkan hidup karena Natasha. Natasha melakukan kesalahan. Natasha meninggalkannya demi lelaki sialan yang mengajaknya kawin lari yang Andrei yakini tak benar-benar mencintai Natasha. Ia berpikir dirinya tak akan pernah bisa memaafkan Natasha. Ia tak akan mau.

Prinsipnya patah sekarang juga. Ia sadar diringa pun salah. Ia meninggalkan Natasha terlalu lama dan ia sendiri yang menyatakan bahwa dirinya tidak mengikat Natasha selama dirinya tak menginjak tanah Rusia. Ia menyakiti Natasha dengan tak memaafkannya. Mereka saling menyakiti satu sama lain dan tak ada satu pun yang bisa memperbaiki hal tersebut.

Bahkan jika Andrei diberi kesempatan untuk sembuh, mereka tak akan bisa bersama lagi. Natasha mungkin akan berakhir seperti istrinya dulu, yang kurang ia perhatikan, yang ia anggap menyebalkan, yang ia tinggalkan demi perang di Austerlitz dalam keadaan hamil.

Ia mengatakan Natasha tidak perlu meminta maaf. Yang salah adalah dirinya. Ia membisikkan kata cinta dengan segenap usaha dan upaya menahan rasa sakit fisik yang timbul karenanya. Air mata Natasha semakin tumpah. Dan setelah melihatnya, entah mengapa dia sudah tak bisa menahan matanya untuk tetap terbuka. Kelopak matanya terasa berat sekali. Ia tak berusaha untuk tetap membukanya. Ia pasrahkan pada apa yang tubuhnya pinta. Suara isakan Natasha masih terdengar dalam kegelapan. Kemudian mengecil, menjauh, nyaris hilang, sempat terdengar lengkingan keras yang pilu atas ketidakrelaan, hingga ia tak mendengar apa-apa lagi.