Prince of Tennis disclaimer by Konomi Takeshi-sensei
Based on Princess Hours series (Korean version)
Blue Bird in the Cage
by Rin Shouta
Rate : T
Genre : R
omance, Drama, Family, Angst

Pair : Perfect Pair (Tezuka Kunimitsu x Fuji Syusuke)

Warning : AU, OOC, typos, etc. Gak nyontek banget, disesuaikan dengan kondisi karakter dan keinginan Author-sama. :^) Don't like, don't read. I've warned you, 'kay?


#1 Prolog


Rumah Sakit Pusat Distrik Kanagawa...

Hari sudah berubah menjadi petang ketika seorang pemuda berperawakan feminim memarkirkan sepeda mini warna biru mudanya di tempat parkir khusus sepeda. Setelah menjagang standar sepedanya, ia mengunci ban belakang karena takut sepedanya akan dicuri (meski kemungkinannya cukup kecil). Kunci dengan gantungan berbentuk salah satu karakter Sanrio kemudian masuk ke dalam saku celana jeans. Tas biru tua bermotif karakter yang sama itu digendong ke bahu kanan, sementara tangan kiri meraih sekantong plastik putih dari keranjang sepeda.

"Sore, Fuji-kun," sapa salah satu pegawai rumah sakit yang berada di belakang meja kasir.

"Ah, sore, Hanazono-neesan!" balas pemuda itu ceria.

"Wah, Fuji-kun datang lagi." Kali ini seorang dokter muda ber-name tag Sano Kamiya yang menyapa.

Fuji Syusuke menjulurkan lidah. "Suka-suka, dong~" Tawa pelan terdengar dari dokter tersebut. Ia pun undur diri dan pergi menuju elevator. Sebelum pintu tertutup, Fuji membantu seorang pasien wanita tua masuk ke dalam. Dengan senang hati, ia juga mengantar pasien itu ke ruangannya. Saat Fuji sampai di ruangan yang dituju, pemuda tersebut memberi salam dengan nada ceria dan sukses membuat pemilik ruangan kaget.

"Jii-chaaan! Syusuke datang untuk menemani lagi~"

"...jangan buat pria tua ini jantungan dong, Syu-chan."

Ia duduk di atas kursi dekat kasur Fuji Kousuke, kakeknya yang masih hidup. Sang kakek tersenyum lemah lalu kembali menerawang jauh keluar jendela. Fuji mulai menyiapkan piring bersih, kemudian memotong buah apel yang ia bawa tadi.

"Syusuke, apa kau percaya kalau kau sudah dijodohkan bahkan sebelum kau lahir?"

Pertanyaan mendadak dari Kousuke membuat Fuji berhenti dan menatapnya. "Dijodohkan? Bukan Neesan?" tanya pemuda itu balik seraya kembali memotong apel.

Kakeknya tertawa. "Umur mereka jadi terlalu jauh. Kau yang cocok dengannya."

Kali ini Fuji yang tertawa. Sebenarnya ia tidak percaya, tapi tidak ada salahnya mendengar apa yang ada dipikirkan sang kakek seperti yang biasa dirinya lakukan tiap ia berkunjung.

"Apa aku pernah bertemu dengannya?" tanya Fuji lagi.

Kousuke menerima piring berisi buah apel yang sudah dipotong lalu memakan satu potongan. Terdengar komentar, "Manis," untuk rasa buah apel yang ia makan sebelum menjawab pertanyaan sang cucu kesayangan.

"Hmm, seingatku saat kalian masih bayi? Pokoknya sudah lama sekali."

"Seumuran?" Rasa tertarik dan penasaran terdengar jelas di sana.

Pria tua itu hanya mengangguk. Tangan keriputnya bergerak secara perlahan untuk menyuap potongan apel lagi. Ia tersenyum pada Fuji yang masih memancarkan pandangan penasaran. "Sekarang dia terkenal loh, kau pasti tahu keluarga Tezuka, kan?" tanya Kousuke sambil menyipitkan kedua matanya hingga tak terlihat bola matanya.

Dua alis terangkat dan ekspresi bingung menjadi jawabannya. "Tezuka?"

Sang kakek menghela napas. "Tidak perlu dipikirkan. Pasti dia sudah lupa."

Melihat ekspresi Kousuke yang tampak sedih, Fuji jadi berpikir untuk mengembalikan mood baik kakeknya. "Ah! Apa Jii-chan kenal Nanase Chiaki-baasan?"

"Na—huh? Kau bicara tentang siapa?"

"Itu loh, nenek yang ada di ruang sebelah."

"Oh, pasien baru? Jii-chan tidak kenal."

"Eeeeeh... kukira Jii-chan kenal."

~ PROLOG END ~

Ini baru prolog. Sengaja pendek. :') Saya belum bisa lanjutin LLS dalam waktu dekat. Perkiraan bisa fokus lanjutinnya bulan Februari. Ini aja saya curi-curi waktu buatnya wwwww! Dan yap. Ini Princess Hours TezuFuji version. Cuma para kakeknya masih hidup dan bukan berlatar istana. Lebih jelasnya akan ada di chapter selanjutnya. XD

Mohon bersabar, ini ujian. #plak

Bye, bye!

CHAU!