Hyungseob pikir percuma.

Apa gunanya menghabiskan waktu selama seharian penuh bersama Woojin jika pada akhirnya keduanya harus kembali berpisah?

Meskipun pada akhirnya ia patuh, untuk satu hal. Ia bersedia untuk menerima ajakan Woojin untuk berjalan-jalan menghirup udara segar di taman pusat kota. Woojin sendiri merasa udara yang ia bagi bersama Hyungseob terlalu buruk, dan menyesakkan. Dalam satu makna, secara konotatif.

Keduanya berdampingan, berjalan beriringan. Waktu yang begitu singkat mereka habiskan hanya dengan saling diam. Tidak ada sentuhan fisik. Bahkan sepatah katapun. Woojin telah bersedia melakukan apapun untuk Hyungseob hari ini. Ia menanti sebuah aba-aba, tetapi tidak ada satu katapun yang Hyungseob ucapkan. Ia tidak sebegitu berkonsentrasinya pada setiap langkah kaki yang ia buat hingga seakan-akan ia mengabaikan Woojin yang berada di sisinya.

Ia hanya terlalu sibuk memikirkan cara lain agar Woojin bisa benar-benar mengubah pikirannya. Satu hari itu tidak cukup. Terlalu kurang malah. Apa yang kira-kira harus ia lakukan agar Woojin bersedia untuk secara paripurna kembali ke dalam dekapannya?

Tapi bahkan sebelum ia menemukan sesuatu di dalam otaknya, ia sudah lebih dulu dikejutkan seseorang berseragam resmi mencengkeram sepasang pergelangan tangannya dan memborgolnya di balik tubuhnya. "Hei! Apa yang terjadi?!" Yang kemudian ia dan Woojin yang tak kalah dibuat terkejut itu melihat orang-orang berseragam lainnya tahu-tahu sudah berdiri dengan gagah mengitari keduanya.

"Anda ditahan atas tuduhan penculikan dan penyanderaan." Salah satu dari pihak kepolisian yang berdiri tepat di hadapan Hyungseob berkata. Yang ditahan membulatkan sepasang mata kecilnya.

Bagaimana mungkin hal ini bisa berlanjut pada masalah hukum?

Kemudian satu sosok muncul dari balik tubuh-tubuh tegap para pria berseragam itu.

Kali giliran Woojin yang membulatkan kedua matanya. "Eomma?"

Nyonya Lee tersenyum miring. Satu jenis ukiran bibir yang biasanya akan disemat orang-orang pemilik kelicikan atau niat buruk. Tapi senyuman ini wanita itu tunjukkan sebagai tanda kepuasan bahwa ia telah berhasil membela sebuah kebenaran. "Kau pikir aku akan membiarkan cucuku menghilang dan menantu kesayanganku tersiksa?"

Woojin tahu jawabannya. Tapi masalahnya, bagaimana bisa ibunya tahu tentang semua ini? Bahkan sampai mendatangkan para polisi itu kemari?

Lalu bagaimana dengan satu hari penuh yang ia janjikan untuk Hyungseob, pria yang meronta di dalam penahanan polisi, saat ini?

Lupakan semua itu.

Woojin merasa terlalu lega bercampur senang sekarang.

Tidak ingin membuang waktu yang berharga terlalu lama, mereka segera menyelesaikannya.

Polisi membawa Hyungseob masuk ke dalam mobilnya, meminta ia untuk penjadi petunjuk jalan menuju tempat kejadian perkara. Woojin memasuki mobil ibunya yang kemudian wanita itu menjalankan kendaraannya untuk mengekor mobil polisi yang mendahuluinya.

"Ke mana kita akan pergi?" Woojin bertanya pada sang ibu yang mengemudi di sampingnya.

"Tentu saja kita akan menyelamatkan anak dan istrimu. Bukankah keduanya telah menghilang terlalu lama? Bukankah kau sangat rindu dan khawatir pada mereka berdua?" Nyonya Lee tidak sedikitpun mendistraksi fokus pada jalanan lumayan lengang yang ia belah bersama beberapa mobil polisi di sore hari yang cerah ini.

Merasa begitu kagum pada ibunya, Woojin tersenyum lebar. Wanita ini benar-benar adalah seorang pahlawan dalam segala hal.

Hanya bertenggat beberapa menit, mereka semua sampai.

Sebuah bangunan kecil seperti rumah yang telah lama tidak berpenghuni. Tempat itu tampak begitu buruk dan gelap.

Jadi Jihoon dan Jiwoo dibawa ke dalam tempat seperti ini? Yang benar saja?

Woojin akan membuat perhitungan pada Guanlin setelah ini.

Tapi melihat kembali polisi-polisi itu, ia jadi ingat. Bahwa mereka yang akan menanganinya secara langsung.

Satu polisi menjaga Hyungseob di dalam mobil, sisanya mengepung bangunan itu. Dan sisa lainnya memasukinya. Woojin dan ibunya tidak ketinggalan untuk ikut melakukannya.

"Jiwoo!" Woojin spontan meneriakkan nama sang putri ketika melihat bayi itu menangis sendirian di atas sofa butut ruang tengah yang benar-benar tidak layak huni. Wajah bayi itu basah dan memerah. Sepertinya, tidak, bisa dipastikan kalau ia sudah dibiarkan menangis terlalu lama. Bahkan dibiarkan tidak meminum ASI ibunya dalam waktu yang lama.

Jihoon terlalu sibuk mengurusi hal lain sehingga tidak memiliki waktu untuk menyusui anaknya.

Nyonya Lee segera meraih cucunya, membawanya dengan hati-hati ke dalam gendongannya. "Astaga cucuku. Aku di sini sayang."

"Sialan!" Woojin geram. Jiwoo baru saja menatap indahnya dunia selama satu bulan, dan bayi rapuh itu sudah harus merasakan sebuah musibah pada awal-awal masa kehidupannya?

"Aku harus segera mencarikan susu untuknya. Kau, selamatkanlah Jihoon. Aku akan menemuinya nanti." Ibu Woojin memberi aba-aba. Woojin mengangguk mengerti. Ia mengikuti para polisi itu untuk menggeledah setiap ruangan. Mencari probabilitas Jihoon berada sementara sang ibu membawa Jiwoo keluar sana.

"Jihoon!" Giliran nama itu yang Woojin serukan ketika akhirnya ia menemukan sosok pemilik nama itu di dalam sebuah kamar tidur berukuran kecil. Kondisinya sungguh buruk. Jihoon yang terkulai lemas dengan tubuh telanjang bulat dan hanya ditutupi sehelai kain selimut hingga sebatas pusarnya.

Secara spontan Woojin menaiki tempat tidur itu dan membawa Jihoon ke dalam pangkuannya. Ia menepuk-nepuk salah satu pipi tembam Jihoon untuk menyadarkannya. Jihoon sedikit tersadar. Benar-benar hanya sedikit. Matanya membuka sayu, terlalu berat untuk sekedar menggerakkannya.

Beberapa menit yang lalu Guanlin masih berada bersama Jihoon. Namun begitu mendengar suara sirene dari mobil polisi, ia segera melarikan diri.

Tapi bangunan kecil itu telah dikepung. Jadi pada akhirnya polisi berhasil menangkapnya.

Woojin menggenggam telapak tangan Jihoon. Tangan lainnya mendekap tubuh ringkih itu begitu erat. Woojin baru saja kehilangan belahan jiwanya ini selama beberapa hari. Tapi apa yang ibunya katakan di mobil tadi itu benar. Bahwa ia telah kehilangan Jihoon terlalu lama. Karena terasa demikian. Dan dari suhu tubuh tidak biasa Jihoon yang bisa Woojin rasakan, Woojin meyakini bahwa saat ini Jihoon terkena sakit demam.

Apa saja yang telah Guanlin lakukan pada Jihoon sehingga Jihoon menjadi seperti ini memangnya?

Woojin tidak mengerti. Tapi dilihat dari apa yang terjadi, sedikit ia bisa menerkanya.

Tenang saja. Sepasang penjahat muda bernama Lai Guanlin dan Ahn Hyungseob yang telah membuat kekacauan besar itu akan segera ditahan di balik jeruji. Sementara pihak kepolisian menyusun jadwal untuk hari pengadilan. Yang kemungkinan besar sidang itu akan Woojin dan Jihoon menangkan, dan kedua penjahat itu bisa dipastikan mendekam di dalam sel penjara dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

Dan setelah itu, Woojin dan keluarga kecilnya bisa hidup dengan tenang.

Yah, ia harap.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

Makasih buat yg udah ninggalin jejak di chap sebelumnya:

ChocoCookies.3129 | Always2park | fatiarwindy

NaeSarangHoonie | jhoon | guest

Lianlee | Park Jihoon | wannable

2park | authornim | UjinJiun

Special thanks to:

Little sweetrara | meimei | seolhanna97

Tong | bjleeyeol | Bunsso

Littlemeonk

Well, secara jumlah emang hit target review. But genuinely, yg review cuma kurang dari sepuluh. Sisanya, aku ga ngerti maksud isi komennya apaan. Dan mungkin satu orang yg sama nulis di kolom review dengan berbagai nama yg berbeda. Sebegitu ga sabarnya kah baca lanjutan cerita ini? Hmmm aku hargai itu. Sekali lagi, makasih buat usahanya.

Skrg aku baru bener bener bisa memaklumi kalo platform ini makin sepi, karena di platform sebelah jauh lebih rame. Tapi aku tetep lanjut ini. Bikin target review pun percuma, karena keadaan ffn buat ff kpop udah ga kek dulu lagi. Begitu juga dengan keadaan aku. Aku kerja full senin sampe jumat pergi pagi pulang malem. Sabtu beberes rumah, minggu main dan istirahat. Aku lanjut cerita ini pun nunggu ada mood dan curi curi waktu. Aku sayang sama ff ini, jadi ingin tetep aku lanjutin sampe akhir. Buat ff sebelah bakal aku hapus karena aku gamau nambah utang. Ada pandeep di sana, otp ku yg lain selain 2park. Jadi rasanya aku ingin pindahin pandeep ke sini. Tapi gimana caranya ya? Er... adakah yg suka pandeep di sini? Maafin aku, sejujurnya aku lebih prefer pasangan itu dibanding winkdeep. Aku penganut baejin uke, ehe. Dan aku bisa membuatnya demikian di sini kalo dia kembali jadi salah satu pemegang peran penting dalam hidupnya jihoon. Rasanya aku ga percaya aku bisa bikin dia jadi seme di awal awal chap ckckck.

Maaf ini pendek. Karena waktu luang yg aku punya juga sangat pendek, you know that. Jadi aku pikir lebih baik begini, aku nyicil dikit dikit daripada ga lanjut samsek yekan? Soalnya kalo ngarep aku nulis lebih panjang gatau kapan taun bisa up ini.

Aku bakal tetep bikin next target, karena aku ngerasa itu udah jadi adat buatku ke ff ini. Selanjutnya, 728 ya? Santai aja. Kita jalani aja. Gosah buru buru. Aku bakal tetep lanjut ini kok. Kan aku udah janji. Dan aku udah punya gambaran buat chap depan lagian. Cepat atau lambat pasti aku ketik. Entah itu dua bulan, empat bulan, tujuh bulan, atau berapa lamapun itu, pasti aku ketik.

Btw, ada yg nerima prahara?

Gimana kalo jihoon hamil anak guanlin?

Sampe jumpa di chap depan.

Jangan lupa review ya. Tell me how you actually think abt this chappie!

Bhai.