Welcome to Our Planet

Boboiboy Galaxy © Animonsta Studios

Crossover

Happy Tree Friends © Mondo Media

.

Summary: Kapal luar angkasa tak sengaja terhisap oleh sebuah lubang misterius. Boboiboy dan kawan-kawan terjebak disebuah planet asing, yang bahkan Fang yang merupakan alien pun tidak pernah mengetahui keberadaan planet ini sebelumnya.

Rated: T+ atau mungkin M untuk adegan Gore?

Warn: OOC, OC, Typo dimana-mana, berantakan, gaje, abal, Semi AU!, BL, Slash, HTF Human ver, dll..

.

.

.

.

Suara sirine peringatan bergema diseluruh penjuru ruangan dengan nyaringnya, menandakan jika pesawat yang saat ini Fang kendalikan berada dalam bahaya.

"Fang, bagaimana?"

"Aku sedang berusaha!"

Beberapa puluh kilometer di depan sana terdapat sebuah lubang yang sangat besar, tengah menghisap material luar angkasa apapun yang berada di dekatnya- dan kini Fang sedang berusaha agar pesawat mereka tidak ikut terhisap kedalamnya.

"Sial!" Rutuk Fang saat layar dihadapannya menunjukkan jika pesawat mengalami 95% kerusakan mesin.

Lampu-lampu mulai meredup, goncangan pada pesawat pun semakin kuat seiring mendekati lubang misteruis tersebut. Dan mereka semua hanya bias berdoa agar tetap selamat, sebelum akhirnya tertelan sepenuhnya.

.

.

Seorang wanita bersurai biru gelap ikal sepinggang yang diikat dengan kunciran berhias bunga 'Petunia' tengah asyik menyirami bunga dipekarangan belakang rumahnya. Suara debuman dan tanah yang bergetar hebat berhasil membuat wanita tersebut terlonjak kaget.

"A-apa itu barusan?" wanita itu bertanya-tanya dengan iris violet dengan rambutnya menatap tempat yang ia yakini asal dari kekacauan beberapa detik yang lalu.

Tanpa pikir panjang wanita itu berlari ke sumber suara, beberapa menit kemudian ia sampai ke lokasi tujuan-sebuah lapangan amat luas- dapat ia lihat sebuah kapal luar angkasa yang cukup besar yang rusak disana-sini dan juga adanya aliran-aliran listrik yang membuatnya tak berani mendekat.

"Ah… aku harus mencari seseorang untuk membantuku."

.

.

Baiklah… kini Boboiboy, dan yang lain tengah berkumpul di ruang tamu disebuah rumah yang sungguh sangat rapih, bersama dengan sang tuan rumah dan seorang pemuda yang terlihat seumuran dengan mereka. Terdiam memahami situasi yang kini menimpa mereka.

"Jadi… kami harus tinggal di planet ini sampai kapal luar angkasa kami selesai diperbaiki?"

Suara Boboiboy memecah keheningan, irish caramel miliknya menatap wanita bersurai biru tua dan pemuda bersurai biru muda yang menatap mereka serius.

"Ya kira-kira seperti itu. Dilihat dari begitu besar kerusakan yang ada, kupikir cukup lama untuk memperbaikinya seratus persen," Jawab sang surai biru muda sambil memperbaiki posisi kacamatanya.

"Syukurlah kalian tidak apa-apa," Ujar sang surai biru tua dengan lembut.

Yah.. mau tidak mau mereka memang harus menetap di planet asing ini.

"Tapi… kami harus tinggal dimana..," Gumam Yaya pelan namun masih tetap bisa di dengar dengan semua orang.

"Untuk itu… sebaiknya kalian tinggal dirumahku,"

"Benar. Sebaiknya kalian tinggal dengannya, kalau disini..," Wanita tersebut terdengar ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya dan akhirnya ia biarkan menggantung begitu saja.

"Sebelum itu nama kalian siapa?"

Semuanya langsung menatap Fang membuat sang pusat perhatian menjadi risih. "Kenapa? Salahkah?"

Wanita berambut biru tua itu tertawa pelan mendengarnya, sedangkan pemuda berambut biru muda itu tersenyum kecil. "Benar juga, kita belum memperkenalkan diri, namaku Sniffles dan wanita ini Petunia," "Salam kenal~"

Sebuah tawa terdengar membahana membuat semua pandangan kini tertuju pada sang empunya tawa, Gopal.

"Sniffles? Petunia? Aduduh nama macam apa itu," Gopal masih saja tertawa sambil menghapus air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

"Ish kau ni Gopal."

Suara tawa langsung berubah menjadi ringisan sakit tatkala Boboiboy tanpa segan menyikut perut pemuda bertubuh gempal disampingnya itu. Boboiboy tersenyum meminta maaf, tapi Petunia dan Sniffles sama sekali tak tersinggung hingga tak mempermasalahkannya.

"Nama-nama penghuni di planet ini sama seperti kami, aneh dan menggelikan," Ujar Sniffles masih tersenyum ramah. Sedangkan Petunia tertawa pelan mengiyakan. "Bagaimana dengan kalian?"

"Aku Boboiboy."

"Fang."

"Gopal."

"Yaya."

"Ying."

"Dan aku Ochobot."

"Baiklah kupikir sudah cukup dengan perkenalannya. Bagaimana jika kita langsung ke rumahku saja? Kak Petunia sudah tidak tahan," Sniffles mendengus pelan begitu mendengar tawa wanita yang lebih tua darinya itu, tak memberi penjelasan lebih lanjut pada mereka.

.

.

Kini mereka berjalan menuju rumah Sniffles- bagaimana dengan kapal luar angkasa mereka? Sudah lebih dulu dirumahnya jawab Sniffles begitu ditanya.

"Apa kau seorang jenius?" Yaya penasaran karena Sniffles memakai jas putih lab.

Surai biru muda itu bergoyang pelan seirama dengan anggukan kepala, "Entahlah.. Tapi yang pasti aku satu-satunya ilmuwan disini, hanya aku yang bisa membantu kalian."

"Oh iya, tadi kenapa kau bilang kalau Kak Petunia tidak tahan?" Ying akhirnya membuka suara.

"Oh itu.. Kak Petunia mengidap OCD dan penampilan kalian yang cukup berantakan seperti itu tentu saja membuatnya tak tahan melihat kalian," Jelas Sniffles.

Mereka terdiam. Rupanya Petunia seorang pengidap OCD, membuat mereka-minus Fang- meneguk ludah karena mengingat insiden Mama Zila.

"O-oh begitu..,"

Mereka mulai kembali menikmati sekeliling mereka. Tidak seperti planet yang sudah-sudah planet ini Pemandangannya sama sekali tidak ada ubahnya dengan bumi- tumbuhan, hewan, serangga, bahkan mataharinya pun sama persis dengan bumi.

"Tempat ini tenang sekali," Ujar Fang tanpa sadar.

Tiba-tiba saja langkah Sniffles terhenti entah karena mendengar kalimat Fang atau karena mereka mau masuk ke kota-pusat aktivitas- membuat mereka mau tidak mau ikut menghentikan langkah.

"Ada apa?" Boboiboy menatap Sniffles tidak mengerti terlebih saat sosok itu berbalik dan menatap mereka khawatir.

"Aku lupa memberitahukan hal penting pada kalian," Sniffles menatap mereka khawatir, "Pusat kota adalah tempat yang berbahaya. Semakin banyak orang disatu tempat semakin besar pula resikonya."

"Kalau soal bahaya tenang saja, kami sudah biasa dengan hal itu," Ujar Ying terdengar jengah.

"Tenang saja, kami bisa melawan jika dalam bahaya- Berkat Ochobot, kami punya kekuatan super," Setuju Boboiboy sambil mengusap Ochobot yang berada di pelukan Fang.

"T-tapi..."

"Tenang saja, Sniffles," Yaya menepuk pelan pundak Sniffles membuatnya menghela napas berat. 'Tetap saja..'

"Baiklah, mari kita lanjut," Meskipun begitu Sniffles berdoa dalam hati agar mereka tidak bertemu hal buruk menuju rumahnya.

'BLAAARR'

Baru saja ia berdoa namun sepertinya dewi fortuna enggan mendengarnya.

Boboiby terkejut mendengar ledakan besar tadi, bahkan tanah ikut bergetar akibat ledakan tersebut. "S-suara apa itu?!"

Lagi-lagi Sniffles menghela napas berat, "Itu sudah biasa di planet ini."

"Boboiboy! Mari kita ke sumber ledakan! Siapa tahu ada yang terluka dan membutuhkan pertolongan," Ujar Yaya dan mendapat anggukan dari yang lain.

"Oke, ayo kita kesana!"

"T-tunggu- jangan ke-" Ucapan Sniffles terpotong olehnya sendiri karena Boboiboy dan yang lainnya langsung berlari tanpa mengindahkan kalimatnya dan membuatnya terpaksa mengejar mereka "Hey!"

Rupanya ledakan tadi berasal dari salah satu restoran yang cukup besar, api berkobar begitu besar, dan terlihat bercak darah dimana-mana begitupula potongan-potongan tubuh.

Eh? Potongan tubuh?

"HIIII!" Langsung saja Gopal berteriak jijik begitu sadar adanya sebuah lengan di dekat kakinya.

Mengalihkan pandangan dari restoran terbakar itu, mereka melihat banyak mayat yang bergeletakan di sekitarnya- yang tidak mungkin karena ledakan barusan. Hey lihatlah mayat mayat itu! Tubuh yang terpaku di dinding dengan dada tertanam jam dinding, tubuh yang termutilasi, tubuh yang tergantung dipohon dengan kawat menjerat leher, tubuh yang seluruh organ dalamnya bercecer dimana mana-

"Astaga! Apa-apaan ini?!" Fang benar-benar terkejut akan apa yang dilihatnya, dan ia yakin teman-temannya sama terkejutnya dengan dirinya.

"Inilah yang kumaksudkan tadi.."

Mereka yang masih terkejut dengan pemandangan di hadapan mereka, refleks menoleh kearah Sniffles yang tersenyum sedih kearah mereka.

"Selamat datang di planet kami, dimana kematian adalah hal yang kami rasakan setiap harinya."

.

.

.

.

.

.

Tbc or End?

A/N: Halooooooo saia penghuni baru dan nekat memulai dengan fic crossover mueheheheh /slap

ini akibat menonton ulang HTF disaat saia juga lagi seneng-senengnya baca fic BoyFang- dan terciptalah fic gaje ini /slap

maklumi jika ada typo dan kata yang kurang mengenakan disana-sini-

oke-

sampai ketemu di chap selanjutnya~